
.
.
.
.
Malam bulan purnama, Amavasya⸻ Fase di mana rembulan menunjukkan wujud sejati, memantulkan cahaya mentari yang datang dari sisi lain.
Purnacandra dan Krsna Paksa, simbol penyucian dan peleburan dosa. Pembersihan batin yang merepresentasikan siklus reinkarnasi makhluk.
Banyak kepercayaan yang menyakralkan malam purnama, menjadikan momen tersebut sebagai pantangan ataupun peringatan atas sesuatu.
Tidak sedikit pula fenomena yang terjadi hanya pada saat momen tersebut, contohnya seperti pasang surut air laut secara ekstrem karena pengaruh perubahan gravitasi.
Bulan dapat melambangkan determinasi dan kapasitas sebuah jiwa, merepresentasikan siklus dan awal yang baru. Kelahiran dan kematian yang terus terulang dalam lingkaran semu.
Momen sakral yang singkat, awal dan akhir serempak jika dilihat dari sudut berbeda. Inkarnasi cahaya dan harapan saat malam datang. Petunjuk arah untuk mereka yang tersesat.
Namun, petunjuk tidak menjamin kejelasan dalam hidup. Uluran tangan selalu datang terlambat, muncul setelah peristiwa terjadi dan hanya bersifat memperbaiki.
Layaknya peraturan, itu dibuat setelah musibah terjadi. Supaya tidak terulang kembali di kemudian hari, dijadikan contoh dan peringatan.
Karena itulah, pada akhirnya purnama hanyalah sebuah pengingat. Menyampaikan pesan bahwa cahaya tidaklah abadi, kelak akan padam dan membawa kegelapan kembali.
“Sudah lama sekali diriku tidak menyaksikan purnama ….”
Angin malam berhembus menerpa tubuh Helena dengan lembut, mengibarkan rambut hitam miliknya yang sebagian telah memutih. Gaun merah yang ia kenakan pun sedikit terangkat, memperlihatkan kaki mungilnya yang tampak rapuh.
“Dulu ada yang pernah berkata cahaya rembulan bisa membuat seseorang menjadi sentimental,” ujar perempuan itu seraya mengulurkan tangan kanan ke atas, seakan ingin meraih bulan di langit malam. “Diriku rasa itu tidak sepenuhnya salah ….”
Dewi Penata Ulang tersebut berdiri pada balkon, membiarkan pintu kamar terbuka lebar dan memperkenankan angin sejuk masuk. Menikmati malam purnama dari ruangan yang terletak pada lantai dua istana.
Keramaian kota sedikit mengalihkan perhatiannya. Lalu-lalang penduduk, gemerlap lampu yang bersaing dengan gugusan bintang, serta kelabu peradaban.
Kerajaan Moloia bukanlah sebuah utopia, melainkan distopia. Meski berhasil menerapkan sistem tatanan sosial yang sempurna, mereka terlalu banyak menyingkirkan nilai kemanusiaan. Sangat bergantung pada kebijakan yang dikeluarkan oleh mesin kalkulasi.
Distopia tidak hanya merujuk pada tatanan masyarakat yang dipenuhi ketakutan dan kekacauan, kriminalitas, ataupun mengalami regresi moral. Hal tersebut juga dapat mengacu pada sebuah tempat yang kehilangan nilai kemanusiaan.
Tingkat kriminalitas Kerajaan Moloia memang sangat rendah. Namun, bukan berarti kejahatan di negeri tersebut sedikit. Mereka hanya menganggap wajar hal itu.
Menghapus riwayat hidup seorang pengkhianat, doktrin ideologi dan dogma kepercayaan penduduk, pemberatan tuduhan untuk kepentingan publik, serta pengendalian usia produktif yang selektif.
Kejahatan-kejahatan tersebut dianggap wajar oleh masyarakat Moloia. Dilaksanakan secara terstruktur, direncanakan matang-matang, dan dieksekusi dengan rapi.
Bahkan perang sipil yang sempat pecah pun tidak dapat mengubah fundamental mereka. Malah dijadikan sebagai contoh buruk oleh pemerintah, sebuah fakta bahwa kebebasan berpendapat hanya akan mendatangkan konflik merugikan.
Menghapus riwayat hidup seorang pengkhianat diperlukan untuk menjaga stabilitas lembaga, bila perlu keluarga mereka juga harus disingkirkan. Supaya pemberontakan tersebut tidak diteruskan oleh keturunan ataupun kerabat.
Doktrin ideologi dan dogma juga diperlukan untuk mengontrol perilaku masyarakat. Menjaga keberlanjutan kekuasaan, mempertahankan otoritas setiap pemangku kepentingan. Mencegah munculnya gagasan baru yang dapat merusak stabilitas pemerintah.
Pengendalian usia produktif dibutuhkan untuk menjaga kinerja sumber daya manusia. Menyingkirkan yang tua, memberdayakan pemuda, dan mendidik anak-anak. Memaksimalkan manusia sebagai aset yang dibutuhkan untuk memajukan negara.
__ADS_1
Pada akhirnya, distopia dan utopia hanyalah masalah persepsi.
Jika dilihat dari persepsi realistis, kondisi tersebut merupakan bentuk tatanan masyarakat yang paling mendekati sempurna. Pemanfaatan sumber daya dilakukan secara maksimal. Negara memiliki nilai kesatuan, masyarakat dianggap sebagai komponen penting untuk merealisasikan tujuan, dan pemerintah berfungsi untuk menjaga kondisi tersebut.
Namun, jika dilihat dari persepsi idealis, kondisi itu sangat jauh dari kata sempurna. Tidak ada kebebasan di dalamnya, hanya ada efektivitas dan efisiensi proses untuk mencapai tujuan. Sebuah kesempurnaan yang terstruktur, harmoni mengekang.
Paling tidak, Helena tidak bisa menyebut Kerajaan Moloia sebagai utopia. Tempat tersebut hanyalah komponen, jauh dari kata sempurna atau bahkan superior.
“Jika ada tempat yang bisa disebut utopia, maka itu pasti bahtera miliknya.” Helena menghela napas, berhenti mengulurkan tangan kanan dan tertegun. Ia sejenak memejamkan mata, mengenang masa lalu dan perlahan tersenyum tipis. “Mahakarya yang diriku hancurkan karena rasa dengki ….”
“Utopia, ya? Ternyata kau cukup sentimental,” ujar seorang pria dari arah pintu masuk. Tanpa mengetuk, ia melangkah masuk sembari lanjut berkata, “Aku rasa bahtera tersebut bukanlah mahakarya, tentu saja kota ini juga bukan! Tidak ada kata sempurna dalam sebuah ciptaan, karena kekurangan selalu diperlukan untuk perkembangan.”
“Engkau tahu, diriku juga seorang perempuan, loh.” Helena berbalik, memberikan tatapan datar dan lanjut berkata, “Paling tidak ketuk dulu sebelum masuk, Richard ….”
“Sudah, kamu saja yang tidak dengar ….” Pria rambut pirang tersebut terhenti di tengah kamar, sekilas melempar senyum tipis dan menggoda, “Seorang gadis memandang rembulan dengan ekspresi sedih, mengenang masa lalu dan merana di malam hari! Sungguh momen yang sangat puitis, bukan?”
“Sarkasme?” Helena sekilas menurunkan alis, kembali menatap rembulan dan lanjut bertanya, “Engkau datang kemari hanya untuk membuat diriku kesal? Terima kasih ….”
“Tentu saja bukan!” Richard berdecak risau, lalu menggelengkan kepala dan berjalan mendekat. Setelah sampai di balkon, ia bersandar pada pagar pembatas sembari menatap curiga. “Ada sesuatu yang ingin aku pastikan,” ujarnya seraya tersenyum kecut.
“Tentang rencana kita? Atau pemuda itu?” Helena melirik, sekilas memperlihatkan ekspresi lelah bercampur enggan. “Katakan saja, diriku tidak keberatan ….”
“Nama pemuda itu Odo Luke, ‘kan?” Richard berhenti bersandar. Ia sekilas menatap ke arah kota, lalu dengan nada cemas lanjut memastikan, “Apakah dia benar-benar pemuda itu? Apa yang membuat kau yakin?”
“Ah, lagi-lagi meragukan diriku ….” Helena tersenyum kecut, lalu tertawa ringan dan meremehkan kekhawatiran itu. “Kesampingkan asli atau bukan, itu sudah tidak penting lagi.”
“Apa maksudmu?” Perkataan itu sedikit membuat Richard terkejut. Ia segera berbalik menghadap lawan bicaranya, lalu memberikan tatapan tajam dan memastikan, “Itu sangat penting, ‘kan? Jika dirinya bukan pemuda yang kita incar⸻?”
“Situasinya telah berubah!” Helena menyela. Ia sejenak menghela napas, lalu mengerutkan kening dan lanjut menyampaikan, “Barusan dia membagi eksistensinya ….”
“Tentu saja bisa ….” Helena menarik napas dalam-dalam. Ia meletakkan kedua tangan ke atas pagar pembatas, lalu memandang rembulan dan mulai menjelaskan, “Dengan memisah sebagian Aeons dan Daath, eksistensi suatu entitas dapat dibagi menjadi beberapa fragmen.”
“Serius? Itu memungkinkan?” Richard sedikit meragukan hal tersebut. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu kembali meninjau hal itu dan bergumam, “Berarti dia ingin menjebak kita dengan yang palsu?”
“Tidak ada salinan dalam metode tersebut ….” Helena meluruskan. Kembali menghela napas, perempuan rambut hitam tersebut dengan resah menegaskan, “Semuanya asli.”
“Untuk apa dia melakukan hal semacam itu?” Richard menelan air liur dengan berat. Ia sekilas memalingkan pandangan ke arah kota, lalu memperlihatkan gelagat cemas dan lanjut bertanya, “Mengapa harus sekarang?”
“Pertanyaan bagus, Richard!” Helena mengernyit, sekilas memperlihatkan ekspresi kesal dan menyindir, “Diriku juga tidak tahu, makanya sedang dipikirkan sekarang! Terima kasih sudah bertanya! Engkau sungguh pintar sekali!”
“Kau sedang kesal, ya?” Sindiran itu tidak mengusik Richard. Ia malah tersenyum puas sembari bertolak pinggang, lalu membusungkan dada dan berkata, “Dibuat santai saja! Tak perlu tegang! Kita masih unggul, ‘kan?”
“Bagaimana diriku tidak kesal?!” Helena mengentakkan kaki, ia langsung menunjuk lawan bicaranya sembari membentak, “Padahal diriku sudah susah payah mengumpulkan serpihan jiwanya supaya utuh! Eh, malah dipecah lagi!”
“Hmm ….” Richard berhenti bergurau, ia sejenak menghela napas dan mulai memperlihatkan ekspresi serius. “Bukankah itu sedikit aneh? Apa dia benar-benar membagi eksistensi?” tanyanya seraya melirik heran.
“Dari persepsi teman, kira-kira apa yang sedang pemuda itu incar?” Helena balik bertanya, berusaha menahan rasa kesal dan menghela napas. Sembari menundukkan kepala, ia kembali meninjau hal tersebut dan bergumam, “Kenapa dirinya sampai mengambil risiko semacam itu? Jika diriku menyerangnya sekarang, dia bisa langsung kalah, loh.”
“Ya, kurasa itu jelas jebakan ….” Richard mengangguk. Berhenti bertolak pinggang dan kembali bersandar pada pembatas balkon, pria rambut pirang tersebut dengan nada resah menyampaikan, “Kemungkinan besar dia sebenarnya tidak membagi eksistensinya, hanya membuat decoy untuk mengincar tujuan utama.”
“Decoy? Maksud engkau ….” Helena merombak ulang hipotesis yang ada, lalu menarik spekulasi lain dan memastikan, “Pembagian eksistensi itu hanyalah umpan? Sebenarnya dia sedang merencanakan sesuatu yang berbeda? Mengincar hal lain?”
“Ya, begitulah! Namun, ada juga kemungkinan seperti menjadikan hal tersebut sebagai jebakan lain ….” Richard mengangkat bahu, lalu memperlihatkan ekspresi tidak yakin dan lanjut menyampaikan, “Membuat lawan berpikir bahwa spekulasi mereka benar, lalu menjebak mereka supaya tidak bisa melawan balik. Dia sering menggunakan trik semacam itu.”
__ADS_1
“Ah, diriku paham. Dia memang begitu ….” Helena merenung, tersenyum kecut saat mengingat masa lalu. “Kalau udah benci sama orang pasti bakal kejam banget.”
“Ngomong-omong, kenapa dia bisa membagi eksistensinya?” Richard kembali meragukan hal tersebut, ia sekilas memperlihatkan ekspresi heran dan mengangkat alis. “Bukankah dia itu Singularitas Tunggal?” tanyanya memastikan.
“Hmm, hal itu juga masih diriku pertanyakan.” Helena meletakkan tangan ke depan mulut, sejenak memalingkan pandangan dan bergumam, “Jika sifatnya tunggal, mengapa bisa dibagi seperti itu? Lagi pula, kenapa jiwanya pecah saat menyeberang kemari?”
“Apa itu benar-benar dibagi?” Richard mempersempit perkiraan yang ada. Ia sejenak menahan napas, lalu dengan ekspresi ragu lanjut bertanya, “Bukan dipisah?”
“Dipisah? Maksudnya dia ….” Helena mulai menyadari sesuatu.
“Jiwa sang Pemuda, entitas unik yang kita kenal dari Dunia Sebelumnya! Sang Singularitas Tunggal!” Richard berdiri tegak. Sembari menatap tajam, ia dengan tegas memastikan, “Dia yang sedang kita incar, ‘kan? Bukan orang lain ….”
“Benar, dia yang kita incar!” Helena memalingkan wajah, kembali mempertimbangkan aspek tersebut untuk melihat masalah dari perfektif yang berbeda. “Memangnya ada yang salah?” tanyanya dengan bingung.
“Apa dia benar-benar pemuda yang kita kenal?”
“Sebentar⸻! Maksudmu ….” Helena langsung terperangah saat menyadari hal tersebut. Ia segera berbalik, meletakkan tangan kanan ke kening dan bergumam, “Sang Pemuda hanya memisah Odo Luke dari konstruksi jiwa?! Bukan membagi eksistensi, namun hanya memisah?! Memangnya itu mungkin?! Lagi pula, bukankah mereka individu yang sama?!”
“Hmm, ini hanya pendapat ku, sih. Bukan fakta ….” Richard memperlihatkan ekspresi tidak peduli. Seakan hanya ingin membuat Helena gelisah, pria rambut pirang itu dengan santai berkata, “Jika dia benar-benar pemuda yang aku kenal, itu sangat memungkinkan.”
“Tidak, ini cukup masuk akal. Buktinya si Mahia juga mampu menyusup ke dalam jiwanya, bersemayam dan membimbing Odo Luke sampai titik ini.” Helena menurunkan tangan dari wajah, kembali menatap lawan bicaranya dan berkata, “Jika ada celah, pasti itu pada jumlah jiwa yang ditanamkan pada dirinya!”
“A-Ah, kau benar ….” Richard terkejut, tidak mengira Helena akan memperlihatkan reaksi seperti itu. Tampak cemas, gemetar dengan wajah sedikit memucat. “Memangnya ada berapa? Itu … jiwa yang ditanamkan,” ujarnya seraya memalingkan pandangan.
“Selain Mahia, ada juga homunculus untuk mengikat konstruksi jiwa, Putri Naga, dan eksistensi Raja Iblis Kuno yang sudah memudar!” Helena mulai menghitung, memeriksa kembali jumlah entitas yang ada pada Alam Jiwa milik Odo Luke. Namun, pada saat itu dirinya baru menyadari ada sesuatu yang janggal. “Sebentar! Rasanya ada yang tidak beres!”
“Bagaimana dengan Raja Iblis Kuno? Sepertinya dia mencurigakan ….” Richard kembali menatap lawan bicaranya, sedikit mengerutkan kening dan berkata, “Sebelum sampai ke tangan Odo Luke, Aitisal Almaelumat dipegang olehnya, ‘kan? Bisa saja dirinya merencanakan sesuatu sebelum menyatu dengan jiwa pemuda itu.”
“Atau dia membuat jiwa baru, menggunakan sang Pemuda sebagai basis ….” Helena menarik kesimpulan. Ia kembali mengentakkan kaki kanan sampai lantai balkon retak, lalu terkekeh dan menggigit ibu jari dengan kesal. “Sama seperti Mahia, bocah itu juga membenci diriku! Tidak aneh kalau dia membelot!”
“Eh?” Richard terkejut, segera melangkah mundur dan masuk ke kamar. “Tenanglah! Jangan merusak fasilitas istana, di bawah ada taman, loh”
“Ini seperti kasus A.I. berubah menjadi Jiwa Buatan!” Helena membentak. Ia sempat mengangkat kakinya dan hendak mengentak lantai, namun terhenti dan segera menarik napas dalam-dalam. Berusaha menenangkan diri sembari bergumam, “I-Itu tidak mungkin! Butuh kebangkitan penuh untuk merealisasikan hal tersebut!”
“Kebangkitan penuh? Berarti ….” Richard kembali curiga, merasa masih ada sesuatu yang Helena sembunyikan darinya. Seraya melangkah keluar, pria rambut pirang tersebut dengan penasaran bertanya, “Kebangkitan pemuda itu ada tahapannya⸻?”
“Nama!” Helena langsung menoleh, lekas berjalan menuju Richard dan menarik kerahnya dengan kasar. “Coba sebut namanya!!
“Hah, nama? Bukankah itu kau kekang?” Richard melepaskan tangan perempuan itu dengan kasar, sekilas memperlihatkan ekspresi kesal sembari merapikan pakaian. “Cih! Kalau butuh doang ngotot! Kalau disebut bisa kena semacam sensor, ‘kan? Untuk apa?! Padahal itu bukan kata jorok ….”
“Kalau dia benar-benar sudah bangkit, pasti namanya juga ikut terlepas!” Helena menarik napas dalam-dalam, mulai menyesal karena turun dari Kayangan terlalu cepat. Tidak mempertimbangkan hal tersebut sebelum meninggalkan singgasana ilahi. “Sudah! Sebut saja!!” bentaknya dengan frustrasi.
“….”
Tanpa pikir panjang Richard langsung menyebut nama tersebut, dengan suara lantang dan dipenuhi kecemasan. Namun, itu tidak terkena sensor seperti sebelumnya. Benar-benar terdengar jelas, tanpa ada satupun huruf yang salah.
“A⸻!” Helena terbelalak, melangkah mundur dengan tubuh gemetar. “Ti-Tidak mungkin! Dia sudah bangkit?! Indikator itu ….”
“Wow, serius?” Richard ikut terkejut. Tidak memperlihatkan ekspresi cemas, ia malah melempar senyum meremehkan dan meledek, “Hah! Berarti dia akan mengalahkan kau lagi? Padahal baru saja dimulai⸻!”
“Lantas mengapa dunia ini masih utuh?” ujar Helena dengan bingung. Ia tidak peduli dengan ejekan Richard, hanya memperlihatkan tatapan heran sembari lanjut bergumam, “Jika dia sudah bangkit, kenapa kita masih ada di sini?”
“A-Apa yang kau bicarakan? Mana mungkin dia ingin menghancurkan dunia!”
__ADS_1
“Seharusnya dia ingin mengembalikan dunia ini ke bentuk semestinya, ‘kan?” Helena mendekatkan wajah. Seraya menatap kosong, perempuan rambut hitam tersebut dengan penuh ketakutan kembali bertanya, “Jika memang dirinya sudah bangkit, kenapa kita masih utuh?”
ↈↈↈ