Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[96] Angelus I – Red Arrival (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Hari berganti layaknya sebuah halaman baru. Namun, bagi Odo itu bukanlah sebuah lembar kosong. Susunan agenda yang harus dilakukan, beberapa keperluan yang harus dirinya capai, dan momen transisi rencana yang ditunggu akhirnya datang. Semua itu telah mengisi lembar baru sang pemuda, bahkan sebelum hari dimulai.


 


 


Tepat seperti yang telah dirinya perkirakan, hari tersebut rombongan ekspedisi dari Kota Mylta datang. Pada pagi hari menjelang siang. Masuk melewati gerbang utama, lalu disambut oleh beberapa pejabat penting seperti Wakil Walikota dan Kepala Prajurit setelah tahu kedatangan mereka.


 


 


Namun, kedatangan rombongan dari Mylta tersebut sedikit berbeda dengan apa yang Odo perkiraan. Mengingat kembali beberapa hari lalu dan merasa telah membantai banyak monster selama perjalanan ke Rockfield, seharusnya ekspedisi pembasmian yang dipimpin oleh Lisiathus Mylta akan berjalan lebih ringan. Tanpa luka parah pada rombongan prajurit, atau bahkan korban jiwa.


 


 


Seakan mengkhianati harapan Odo, mereka malah datang dengan kondisi yang memprihatinkan. Layaknya pedagang yang kocar-kacir kabur dari monster, hampir semua prajurit yang dipimpin Lisia penuh perban dan menderita luka-luka. Ada yang ringan, bahkan sampai luka berat dan membuat mereka harus berbaring di atas wagon.


 


 


Zirah yang dikenakan para prajurit dari Mylta tersebut kebanyakan penyot, beberapa ada yang tampak rusak parah, lalu ada yang dipenuhi bercak darah yang melekat kuat pada pelat pelindung. Kebanyakan pedang yang mereka bawa tidak layak digunakan lagi, lalu sebagian besar sepenuhnya sudah tidak bisa dipakai dan diletakkan dalam tong kayu di atas wagon.


 


 


Dari rombongan yang secara keseluruhan berjumlah tidak lebih dari lima puluh orang tersebut, hanya delapan ekor kuda dan dua wagon saja yang tersisa. Di tengah ekspedisi, mereka sempat disergap beberapa kali oleh monster.


 


 


Lalu, hal tersebut membuat mereka kehilangan banyak persediaan dan alat transportasi. Hasilnya perjalanan memakan waktu lebih lama dari perkiraan, sebab sebagian harus bergantian berjalan kaki.


 


 


Sedikit berbeda dengan perlakukan yang diberikan kepada para pedagang korban penyerangan monster selama perjalanan, rombongan dari Kota Mylta diperlakukan sangat ramah oleh pemerintah Rockfield.


 


 


Meski samar-samar memberikan tatapan meremehkan saat melihat kondisi para prajurit Mylta, beberapa pejabat penting di Rockfield segera memandu mereka masuk ke perkotaan dengan ramah. Lalu, mereka pun diantar menuju gereja untuk memastikan bahwa tidak ada sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno yang menempel. Menerapkan protokol yang sudah menjadi kebijakan pemerintah kota.


 


 


Setelah diperiksa dan satu persatu diciprat air suci, orang-orang Mylta dipandu ke barak dan dipersilahkan untuk beristirahat. Di sana juga mereka mendapat perawatan dari tabib dan biarawan Pihak Religi, lalu diberikan pelayanan selayaknya oleh orang-orang barak.


 


 


Untuk beberapa perwira bagian administrasi, petinggi, dan pejabat dari Mylta, mereka diberikan tempat yang berbeda dari para kadet dan prajurit. Sebuah penginapan yang terletak di kompleks barak, biasa disewakan secara penuh kepada mereka para tamu yang datang dalam jumlah banyak dari luar kota.


 


 


Karena sekarang Keluarga Stein sedang menerima tamu lain, Lisia dan Agro pun diperlakukan serupa dengan petinggi dan perwira tersebut. Menetap pada penginapan yang terletak satu kompleks dengan barak, diberikan kamar dengan kualitas yang tidak jauh berbeda dari lainnya.


 


 


Sebenarnya pihak Rockfield ingin segera melakukan pembicaraan kerja sama setelah rombongan Mylta datang. Namun saat melihat kondisi mereka, sang Wakil Walikota segera mengurungkan niatnya dan sementara menunda pembahasan kerja sama dalam bidang perdagangan. Ia memiliki beberapa alasan untuk tidak segera mengajukan pembicaraan, salah satunya adalah karena tidak ingin membuat kesan seakan Rockfield memerlukan bantuan dari Mylta.


 


 


Menunggu lawan untuk menunjukkan kelemahan dan tidak sabar, lalu memberikan serangan untuk mendapatkan keunggulan dalam kerja sama. Itulah cara yang ingin digunakan oleh Fritz Irtaz dalam sebuah negosiasi kali ini.


 


 


Di sisi lain, orang-orang Mylta pun tidak bisa dengan mudah meminta sesuatu. Mereka sebagai tamu memiliki harga diri tersendiri. Setelah dipinjamkan tempat, Argo Mylta dan bawahannya memutuskan untuk menunggu respons dari pemerintah Rockfield.


 


 


Pada momen saling menunggu tersebut, yang pertama kali tidak sabar adalah pihak Mylta. Pada saat hari semakin sore, hampir semua orang-orang penting dalam rombongan Mylta pergi ke tempat sang Wakil Walikota Rockfield. Untuk mengangkat pembicaraan yang telah menjadi tujuan serta alasan mereka datang ke Kota Pegunungan tersebut.


 


 


Namun seakan tidak memedulikan rencana milik Kepala Keluarga Irtaz ataupun keputusan Kepala Keluarga Mylta, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung mendatangi penginapan di kompleks barak. Tempat yang disewakan kepada rombongan Mylta yang datang pagi ini.


 


 


Tanpa sepengetahuan orang-orang Rockfield ataupun memberitahu Lisia dan Agro terlebih dahulu, Odo Luke mendatangi tempat tersebut. Tidak memedulikan tatapan dari lalu-lalang orang yang pernah melihatnya saat duel dan mulai membicarakan di belakang, ia dalam tujuan sangat jelas melangkahkan kaki menuju tempat itu.


 


 


Berdiri sendirian di depan penginapan pada kompleks dekat barak, pemuda rambut hitam tersebut mengetuk pintu depan beberapa kali. Ia berpenampilan cukup rapi, mengenakan celana hitam panjang dan kemeja putih dirangkap rompi merah


 


 


Mengetuk dan mengetuk, tidak peduli dengan tatapan orang yang lewat atau bahkan kecurigaan penjaga kota serta prajurit yang berpatroli. Meski ketukan perlahan berubah menjadi menggebrak pintu, tidak ada seorang pun yang berani menghentikan pemuda itu.


 


 


Bagi mereka yang melihatnya ketika duel penentuan, sosok tersebut tampak memancarkan aura menakutkan. Meski wajah tampak ramah, namun tingkah yang dilakukan layaknya seorang berandalan. Menggebrak pintu semakin keras, hal tersebut membuat beberapa orang yang lewat di depan penginapan menoleh dengan cemas.


 


 


Sebelum ada penjaga atau prajurit yang menegur, dari dalam suara menyahut, “Siapa?! Kenapa kalian kasar sekali?! Kalian tahu penginapan ini sekarang ditempati siapa, bukan?! Atau ini perlakukan yang pantas diperikan oleh orang-orang Rock⸻?!”


 


 


Sebelum perkataan tersebut selesai, orang yang menyahut membuka pintu penginapan. Ia seketika membisu saat melihat siapa yang menggedor-gedor pintu, lalu sedikit terperangah dengan mulut terbuka.


 


 


Orang yang membukakan pintu adalah Lisiathus Mylta. Ia memiliki rambut merah terang dan bergelombang, tanda belum ditata dengan benar dan baru saja bangun. Ia menatap lurus dengan mata merah darah, lalu kulit pucat perempuan itu tampak bening saat terpapar sinar.


 


 


Layaknya seorang pejabat pada umumnya, perempuan itu mengenakan seragam militer dengan dominasi warna hitam. Dengan tambahan arung tangan kulit dan sepatu bot tinggi.


 


 


Perempuan rambut merah tersebut berdiri dengan tegak meski tampak lelah. Pada pinggangnya yang ramping, melingkar sabuk dengan sebuah pedang yang pola unik pada sarung.


 


 


“Sore, Nona Lisia ….” Odo melebarkan senyum tipis. Tanpa menunggu izin dari perempuan rambut merah tersebut, pemuda itu segera melangkah masuk ke dalam penginapan dan kembali berkata, “Saya senang Nona bisa sampai ke sini dengan selamat.”


 


 


“Hmm, semua ini berkat Tuan Odo yang membersihkan para monster terlebih dahulu. Sisa kawanan monster yang kami lawan di sekitar rute perdagangan tidak terlalu kuat ….”


 


 


Mendengar perkataan seperti itu, alasan Odo mendatangi Lisia semakin kuat. Berhenti setelah masuk beberapa langkah, Putra Tunggal Keluarga Luke menoleh dengan tatapan sedikit kesal. Memancarkan aura mengintimidasi, pemuda rambut hitam itu menekan, “Selama perjalanan ekspedisi, kalian menjadi serakah?”


 


 


Lisia seketika tersentak dan gemetar, lalu dengan cepat paham alasan Odo mendatanginya sekarang bukanlah untuk memuji ataupun sebatas mengucapkan selamat. Mengingat kembali saat ini semua orang di penginapan sedang pergi berdiskusi dengan pemerintah Rockfield, ia paham bahwa pemuda itu datang dengan tujuan jelas dan telah memilih waktu baik-baik.


 


 


“Ka-Kami tidak bermaksud seperti itu ….”


 


 


Lisia semakin gemetar dalam rasa bersalah. Rombongan yang datang dengan kondisi menyedihkan, perempuan rambut merah tersebut merasa itulah yang membuat Odo terlihat marah. Berusaha tegas dan menunjukkan wibawa sebagai Walikota Pengganti, ia mengangkat wajah dan perlahan menatap lurus lawan bicara.


 


 


Mengumpulkan keberanian, Lisia dengan lantang menyampaikan, “Ini kesalahan saya karena tidak bisa meyakinkan Ayahanda! Saat melihat banyak sekali sarang monster yang telah binasa sebelum kami basmi …, beliau dan orang-orang lain tidak bisa percaya. Mereka mengira semua itu ulah monster yang sangat kuat, masih berkeliaran dan bisa membahayakan rute perdagangan.”


 


 


“Jadi, mereka berpikir ingin membasminya selama perjalanan?” Odo menghela napas dengan resah. Bisa memahami alur yang ada setelahnya, pemuda itu kembali menebak, “Lalu, saat mencari jejak-jejak monster tersebut kalian malah keluar dari rute perdagangan dan disergap monster?”


 


 


Tebakan Odo sangat tepat. Dalam hitungan detik, wajah Lisia berubah memerah dan langsung memalingkan pandangan. Merasa malu pada diri sendiri, karena memang hal tersebut terdengar sangat bodoh dan menyedihkan.


 


 

__ADS_1


“I-Itu benar ….” Lisia menatap malu. Dalam rasa sesal, ia pun menyampaikan, “Meski tidak ada korban jiwa, namun para kadet sebagian besar mungkin sangat trauma. Pada akhirnya kami juga datang lebih lama dari perkiraan ….”


 


 


Mendengar hal semacam itu, Odo memasang mimik wajah tidak peduli. Sedikit menghela napas, ia segera menghapus ekspresi marah. Menatap datar dan fokus, pemuda itu kembali bertanya, “Yang menyergap kalian monster jenis apa?”


 


 


“Eh?”  Lisia terkejut saat melihat perubahan ekspresi yang sangat cepat tersebut. Sedikit memalingkan pandangan, ia dengan nada sedikit cemas menjawab, “Kawanan Hatuibwari. Mungkin, mereka monster sama dengan yang menyerang Mylta waktu itu ….”


 


 


Lisia memberikan lirikan cemas, ingin bertanya apakah monster itu juga dikendalikan oleh Odo atau tidak. Seperti waktu rencana kebohongan pemuda itu saat di Mylta. Namun karena hasil yang ada sekarang memang kesalahannya sendiri, perempuan itu tidak berani menanyakan hal tersebut karena takut terdengar seperti menyalahkan orang lain.


 


 


“Asal Nona tahu, aku hanya bisa memanipulasi monster saat berada di Mylta.” Odo menyadari kecurigaan Lisia. Menghela napas dan memperlihatkan rasa kesal, pemuda itu dengan ketus menjelaskan, “Lagi pula, ada batas jarak dan itu bukan berarti aku bisa dengan bebas memanipulasi mereka.”


 


 


“Be-Begitu, ya …. Maaf sudah mencurigai Tuan Odo.” Lisia menganggukkan kepala, menarik napas lega setelah mendengar penjelasan tersebut.


 


 


Sebelum melanjurkan pembicaraan, Odo Luke menunjuk ke arah pintu dan memberikan isyarat kepada Lisia untuk menutup pintu. Sebab beberapa orang di luar mulai menoleh dengan tatapan curiga. Sebagian besar dari mereka berasal dari barak, terdiri dari beberapa prajurit dan penjaga yang berbisik-bisik.


 


 


Setelah menutup pintu, Lisia segera berbalik dan dengan heran bertanya, “Ngomong-omong, Tuan Odo. Anda datang kemari ingin membicarakan hal apa? Anda datang bukan hanya untuk menegur saya soal itu, bukan?”


 


 


“Aku butuh sedikit bantuan.” Odo bersandar pada dinding lorong penginapan. Sembari meletakan tangan ke dagu, pemuda rambut hitam itu dengan tegas memastikan, “Sejauh mana Nona tahu kondisi di Rockfield?”


 


 


“Eh?” Lisia sedikit tersentak. Bagi perempuan itu yang baru saja sampai tadi pagi, tentu saja dirinya tidak terlalu tahu tentang kondisi Rockfield.


 


 


Melihat gelagat tersebut, Odo menghela napas panjang dan berkata, “Sudahlah. Kita ke kamar Nona dulu dan bicara. Kira-kira orang-orang di sini akan kembali jam berapa?”


 


 


“Kalau pembicaraan berjalan lancar, saya rasa nanti malam mereka baru pulang.”


 


 


“Bagus, kita punya banyak waktu.” Odo segera berbalik. Seakan pemuda itu sudah tahu di mana letak kamar Lisia pada penginapan tersebut, ia berjalan lebih dulu. Sembari melirik kecil, ia dengan nada menekan memastikan, “Ngomong-omong, kenapa Nona tidak ikut mereka? Anda baik-baik saja, bukan?”


 


 


“Saya baik-baik saja, kok …. Tuan Odo tidak perlu cemas.”


 


 


Perkataan itu adalah kebohongan. Menggunakan kekuatan Penglihatan Jiwa, Odo melihat kobaran api kehidupan pada diri Lisia tampak padam. Tanda bahwa kondisi perempuan itu sedang tidak dalam kondisi prima.


 


 


“Nona tak perlu memaksakan diri,” ujar Odo dengan ringan. Meski berkata seperti itu, ia tetap tidak mengurungkan niat untuk melakukan pembicaraan. Melangkahkan kaki, menuju kamar Lisia meski belum diberitahu letaknya.


 


 


Naik ke lantai dua penginapan, berjalan di lorong dan melewati beberapa ruangan. Penginapan itu sendiri bisa dikatakan cukup berkelas, sebab memiliki kesan arsitektur barok yang kuat dan terdapat beberapa interior mewah. Sesuatu yang biasa ditemui pada kediaman bangsawan seperti lukisan, hiasan pedang dan perisai, serta beberapa lampu hias pada langit-langit dan dinding.


 


 


Tanpa bertanya satu kali pun, Putra Tunggal Keluarga Luke sampai di depan salah satu kamar dan berhenti. Ia segera menoleh ke arah Lisia, seakan meminta perempuan rambut merah tersebut membukakan pintu.


 


 


Perempuan dari Keluarga Mylta tersebut sesaat terdiam, memperlihatkan ekspresi terkejut karena Odo bisa menebak letak kamarnya dengan sangat tepat. Meski pemuda itu belum pernah bertanya soal itu. “Apa Anda pernah datang ke penginapan ini?” tanya perempuan itu memastikan.


 


 


 


 


“Be-Begitu, ya ….” Lisia sedikit memperlihatkan ekspresi takut bercampur senang, merasa bahwa pemuda itu serba tahu tentang dirinya.


 


 


“Sudahlah ….” Odo pada akhirnya membuka pintu kamar Lisia yang tidak terkunci. Tanpa meminta izin, pemuda rambut hitam tersebut mengajak, “Ayo kita masuk dan bicara, ini bukan berarti kita punya banyak waktu.”


.


.


.


.


 


 


Lampu gantung hias di tengah langit-langit, lantai keramik dengan pola unik khas arsitektur barok, sepasang sofa dan sebuah meja, serta sebuah cermin besar di sudut ruangan. Kamar tersebut memang memiliki aksen yang biasa ditemui pada kamar bangsawan. Namun, pada beberapa aspek itu tidak bisa disebut megah.


 


 


Terburu-buru untuk dipakai, itulah kesan kuat pada kamar tersebut. Debu masih terlihat pada kusen jendela, di bawah ranjang, serta beberapa sudut lain. Seprai dan gorden tampak sedikit kusam, pada meja di depan sofa pun tidak terdapat camilan yang biasanya disediakan oleh penginapan kalangan atas.


 


 


Meski demikian, memang kamar penginapan itu cukup layak untuk tamu pemerintah dari kota lain. Bukan untuk lingkup bangsawan sekelas Baron, namun dalam standar pejabat kota. Selain itu, letak penginapan cukup strategis karena dekat dengan barak. Memudahkan dalam hal pengawasan dan pengamanan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan.


 


 


Di dalam kamar, Lisia dan Odo menatap satu sama lain dengan serius. Sang perempuan duduk di pinggiran ranjang, sedangkan pemuda duduk pada sofa sembari menoleh ke arah tempat tidur.


 


 


Jendela dibuka lebar, membiarkan angin dan sinar redup menjelang senja masuk ke dalam ruangan. Saat mereka diam sesaat, suara-suara dari luar pun samar-samar terdengar. Meski kamar jendela kamar tidak secara langsung menghadap ke jalan.


 


 


Daripada disebut menjelaskan, pembicaraan yang berlangsung di antara mereka lebih cenderung seperti menyampaikan sebuah tugas.


 


 


Odo memang memberitahu Lisia tentang kondisi Rockfield, menjabarkan beberapa kejadian beberapa hari lalu, dan menyampaikan posisi Keluarga Stein saat ini. Ia juga menyampaikan tentang potensi perang dengan Kekaisaran dan hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Namun, semua itu hanyalah sebuah pembuka untuk pemuda itu meminta sesuatu dari sang perempuan.


 


 


Setelah menyampaikan semua hal yang diperlukan, Putra Tunggal Keluarga Luke menutup penjelasan dengan berkata, “Kurang lebih seperti itu. Jadi, sekarang ini seharusnya Keluarga Stein memiliki pengaruh paling besar di Kota Pegunungan.”


 


 


Setelah mendengar hal seperti duel, kondisi Kepala Keluarga Stein yang sebelumnya sempat jatuh sakit, dan beberapa hal lain, Lisia hanya bisa memberikan tatapan bingung. Perempuan tersebut tampak kelelahan karena baru saja sampai setelah perjalanan panjang, membuatnya tidak bisa mencerna dengan baik hal-hal rumit seperti itu.


 


 


Namun, setelah menarik garis besar Lisia segera menyederhanakan, “Intinya Tuan Odo membantu Keluarga Stein mengembalikan pengaruh mereka, bukan? Lalu, sekarang ini merekalah yang paling berpengaruh. Tidak seperti tahun kemarin di mana kubu dibagi dua, antara Pejabat Lama dan Pejabat Baru.”


 


 


“Nona juga pernah mendengar pembagian itu?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Tentu saja tahu!” Lisia melipat kedua tangan ke depan. Sedikit mengerutkan kening dan tampak kesal, perempuan rambu merah tersebut mengeluh, “Tahun kemarin …. Waktu mengurus perpindahan administrasi Suku Klista! Saya sangat kewalahan karena kondisi kota sudah tidak stabil setelah insiden kemunculan Raja Iblis Kuno, loh!”


 


 


“Oh, benar juga.” Odo sedikit memalingkan pandangan, lalu memasang wajah seperti sedang mengingat-ingat dan kembali berkata, “Nona tahun kemarin ke sini, ya.”


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke pura-pura lupa dengan hal tersebut untuk membuat alir pembicaraan. Menarik napas dalam-dalam, pemuda rambut hitam itu menyandarkan tubuh ke sofa dan sekilas memperlihatkan ekspresi lelah. Seakan-akan dirinya jenuh dengan semua hal yang harus diselesaikan.

__ADS_1


 


 


Melihat ekspresi seperti itu, Lisia semakin paham dengan semua hal yang Odo lakukan di Rockfield. Tidak ingin membuang kebaikan yang telah diberikannya, perempuan rambut merah tersebut segera duduk dengan tegak. Meletakan tangan kanan ke dada dan menatap penuh rasa percaya diri.


 


 


“Jika Tuan Odo perlu sesuatu, dengan senang hati saya akan membantu.”


 


 


Untuk beberapa alasan, ekspresi dan sikap Lisia tampak sedikit berubah. Paling tidak, Odo merasa perempuan itu berbeda jika dibandingkan dengan dirinya sebelum berangkat ekspedisi.


 


 


Menggunakan Spekulasi Persepsi, iris mata Putra Tunggal Keluarga Luke sekilas berubah hijau. Setelah beberapa kesimpulan didapat dan cukup membuatnya puas, ia perlahan melebarkan senyum tipis dan menatap lurus ke arah Lisia.


 


 


“Kalau begitu, aku akan langsung meminta sesuatu dari Nona ….” Odo meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan dengan posisi telapak tangan terbuka. Sembari melebarkan senyum tipis dan menatap datar, pemuda itu dengan jelas meminta, “Bisakah Nona membuat sebuah drama kebohongan lagi untukku?”


 


 


Lisia tersentak, teringat kembali dengan insiden penyerangan monster di gerbang masuk Kota Mylta. Memikirkan korban jiwa yang ada pada saat itu, perempuan rambut merah tersebut langsung memberikan tatapan muram. Merasa tidak nyaman dengan topik baru yang akan dimulai.


 


 


“Anda … ingin menumpahkan darah lagi? Jika itu memang diperlukan …, saya rasa … tidak masalah.”


 


 


Meski setuju, suara Lisia terdengar sangat cemas dan tidak percaya. Perlahan memalingkan pandangan, perempuan rambut merah tersebut memperlihatkan mimik wajah yang tampak sangat sedih dan tertekan.


 


 


Bukan kepada orang-orang yang telah meninggal karena drama kebohongan sebelumnya. Tetapi, lebih cenderung sedih dan cemas kepada Odo karena terus mengambil langkah seperti itu.


 


 


Seakan memahami isi hati Lisia, sang pemuda menarik napas dalam-dalam dan menjelaskan, “Aku tidak akan melakukan hal semacam itu lagi. Kebohongan kali ini menyangkut persiapan perang, untuk mengecoh mata-mata dan informan Kekaisaran di kota ini.”


 


 


Lisia sedikit tersentak, segera mengingat kembali penjelasan Odo sebelumnya tentang potensi peperangan yang semakin dekat. Merasa cemas karena Wilayah Luke bisa saja digempur oleh dua negeri sekaligus, wajah perempuan rambut merah itu mulai memucat.


 


 


“Kalau tidak salah, Anda pernah bilang bahwa Kerajaan Moloia akan menyerang dalam waktu dekat, bukan?” Lisia menatap dengan tajam, dipenuhi rasa cemas dalam benak. Merasa tidak ingin percaya dengan firasatnya sendiri, perempuan rambut merah tersebut segera memastikan, “Apa …penyerangan ini ada kaitannya juga? Perang dengan Kekaisaran terjadi hanya karena keputusan Raja Gaiel, ‘kan? Hanya untuk mempertahankan kedaulatan, bukan untuk memulai kembali masa Perang Besar?”


 


 


“Entahlah ….” Odo kembali bersandar. Memperlihatkan ekspresi sedikit muram, ia dengan nada lesu menjawab, “Aku tidak bisa memprediksi sampai sejauh itu. Entah ini untuk memulai peperangan panjang atau bukan, kita tidak akan tahu sampai itu datang. Paling tidak, kita tahu bahwa Raja Gaiel sudah membuat keputusan untuk mempertahankan kedaulatan secara penuh jika perang pecah. Karena itulah persiapan perang sudah dimulai sejak musim semi.”


 


 


“Itu … benar juga.”


 


 


Lisia memperlihatkan mimik wajah cemas, gelisah dan tidak nyaman dengan hal yang masih abstrak tersebut. Saat mengira kondisi mulai tenang dan Mylta perlahan kembali menuju masa kejayaan, kabar potensi perang yang menjadi semakin pasti terdengar seperti badai besar di telinganya. Tiba-tiba mengetuk pintu rumah yang sudah hangat, lalu dalam waktu dekat angin akan mendobrak bersama dengan sambaran-sambaran petir.


 


 


Perang bukanlah hal yang menyenangkan, jika bisa Odo pun ingin memilih jalan lain untuk penyelesaian konflik. Namun, dirinya juga tahu hal tersebut pasti akan lebih sulit daripada menundukkan lawan dengan kekuatan.


 


 


Perang bukanlah masalah antara individu, namun negeri dengan negeri. Karena itulah, hal tersebut hanya bisa dilakukan jika kedua belah pihak mau memberikan toleransi dan duduk bersama di meja diskusi.


 


 


Tetapi, tentu saja itu adalah hal mustahil mengingat Kekaisaran memiliki alasan yang berbeda untuk mengobarkan perang. Bukan untuk mempertahankan kedaulatan, namun dengan dalih untuk membelok momentum perang sipil ke luar dan menjadikan negeri lain sebagai musuh bersama. Secara garis besar, itulah alasan Kekaisaran memulai perang dengan negeri tetangga.


 


 


Di mata Odo, alasan tersebut memang terdengar masuk akal. Mengingat peperangan melawan Moloia tidak berjalan dengan baik di Pulau Barat, Kekaisaran ingin mengubah haluan dengan memperluas wilayah ke sisi lain. Untuk membuat moral prajurit semakin bersatu, dalam melawan musuh bersama dan benar-benar meniadakan perang sipil yang sering terjadi selama perdamaian.


 


 


Ketika memikirkan hal tersebut, Odo kembali merasakan firasat tidak nyaman terkait alasan masuk akal tersebut. Hal itu membuatnya terdiam lebih lama, lalu dengan muram meletakkan tangan ke depan mulut dan bergumam, “Aku rasa ini benar-benar ditunggangi kepentingan Kaisar itu. Lagi pula, kenapa Kekaisaran tidak fokus saja melawan Moloia? Kenapa malah mempersiapkan penyerangan ke Felixia? Apa ini juga ada kaitannya dengan hal lain?”


 


 


Mendengar gumam tersebut dengan cukup jelas, Lisia memberikan tatapan heran. Menatap lurus, ia meletakan kedua tangan ke atas tempat tidur untuk menyangga tubuh. Sembari mendongak, ia dengan nada resah berkata, “Bukankah itu karena untuk menghentikan perang sipil mereka? Untuk menyelesaikan masalah internal, mereka malah melibatkan negeri lain! Sungguh tidak tahu malu!”


 


 


“Yah, itu wajar bagi negeri yang menduduki negeri lain.” Odo menghela napas. Mengingat-ingat kembali sejarah di Dunia Sebelumnya, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada seakan tidak peduli berkata, “Negeri yang besar itu belum tentu memiliki sistem pemerintah yang baik. Layaknya sebuah perahu, semakin besar maka akan semakin sulit untuk dikendalikan. Itu harus memiliki layar yang sesuai, nakhoda yang berpengalaman, dan rute tujuan yang jelas. Jika salah satunya tidak bekerja dengan baik, maka bisa saja perahu karam saat berlayar.”


 


 


“Apa … Felixia sudah memiliki semua itu?”


 


 


Pertanyaan Lisia membuat Odo terdiam. Tidak ingin menjawab hal sensitif tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke menghela napas ringan dan berkata, “Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraan ini saja dan kesampingkan itu dulu.”


 


 


“Ah? Benar juga ….” Lisia menatap dengan bingung, baru sadar pembicaraan telah melebar dari topik utama. Meletakan telunjuk ke depan bibir, perempuan rambut merah tersebut berkata, “Tadi Tuan Odo ingin melakukan drama kebohongan, bukan? Kali ini, kebohongan seperti apa yang ingin Anda buat? Lalu, untuk siapa kebohongan tersebut?”


 


 


Perkataan Lisia sedikit membuat Odo tersinggung, hal tersebut seakan melabeli pemuda itu sebagai pembohong. Namun, ia tidak bisa mengelak karena apa yang dilakukan memang seperti itu. Putra Tunggal Keluarga Luke hanya menghela napas ringan untuk membuang rasa tersinggung.


 


 


“Saya ingin Nona membohongi para pedagang di kota ini, untuk mengecoh informan yang ada di antara mereka.”


 


 


“Informan? Pedagang?” Lisia duduk dengan tegak, menatap bingung dan memperlihatkan mimik wajah seakan meminta penjelasan.


 


 


Setelah itu, Odo dengan hati-hati menjelaskan rencana yang telah dirinya siapkan. Menyampaikan susunan kebohongan yang harus dilakukan oleh Lisia, lalu waktu pelaksanaan dan sampai kapan hal tersebut harus dipertahankan.


 


 


Semua kebohongan yang akan dibuat juga akan menyangkut bawahan perempuan itu yang datang ke kota. Melakukan hal yang mencolok untuk memancing perhatian para pedagang, lalu membuat informan-informan yang ada di antara mereka berspekulasi.


 


 


Itu tidak jauh berbeda dengan rencana yang pernah dibicarakan Odo dengan Sistine kemarin malam. Secara garis besar, kebohongan yang akan dibuat adalah memberikan informasi palsu seakan orang-orang Mylta menjalin kerja sama militer dengan Rockfield. Untuk menyetir asumsi pihak Kekaisaran dan membuat mereka waspada dalam skala berlebihan.


 


 


Namun sedikit berbeda dengan rencana awal, Odo juga meminta Lisia dan rombongannya untuk segera kembali setelah para pedagang Kekaisaran pergi dari Rockfield. Mengingat kondisi Mylta yang sekarang ini sedang rapuh, pemuda itu tidak ingin menahan Lisia dan Agro lama-lama di Kota Pegunungan.


 


 


Selain itu, Putra Tunggal Keluarga Luke juga menambahkan beberapa hal terkiat kebohongan yang harus dibuat Lisia. Tidak hanya mencangkup kerja sama urusan militer untuk membuat Kekaisaran waspada, namun juga menyebarkan kabar bahwa Mylta dalam waktu dekat akan mengirimkan pasukan bantuan dalam jumlah tidak sedikit. Untuk menjamin kebohongan utama yang dibuat.


 


 


ↈↈↈ


\=============


Catatan Kecil :


Fakta 053 (Jawaban) :Setelah Perkembangan Semesta, barulah muncul tingkat dimensi lain / realm lain / dunia lain) yang dipaparkan dalam Fakta 051. Kemunculan tingkat dimensi lain membuat dimensi (atau dunia / realm) yang telah ada lebih awal naik secara tingkat informasi (perkembangan dimensi).


Dimensi yang baru muncul memiliki pengaruh gravitasi yang lebih rendah, karena itu waktu berjalan lebih cepat dari tingkat dimensi yang telah ada lebih awal. Proses kemunculan tersebut terus terjadi sampai yang terakhir tercipta adalah Alam Kematian.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2