Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[113] Flamboyan Akhir Zaman II - Uncrowned King (Part 02)


__ADS_3

Suasana tegang mengisi ruangan, dibumbui dengan tatapan tajam dari masing-masing pihak. Tepat setelah identitas Yue Ying terungkap, semua orang di meja tamu segera bangun dari tempat duduk dan menjauh.


Orang-orang dari pihak Rockfield segera berlari ke belakang Jonatan, lalu berniat mengandalkan Kepala Prajurit tersebut untuk melindungi mereka. Tubuh mulai gemetar karena cemas, panik membuat mereka tidak bisa berpikir jernih, dan ketakutan pun mulai tampak pada raut wajah.


Meski sebelumnya orang-orang itu tidak membela Jonatan, mereka langsung meminta perlindungannya saat merasa terancam. Tanpa rasa malu ataupun bersalah, murni karena ingin selamat dan keluar dari Mansion hidup-hidup.


Sebagai seorang Kepala Prajurit, pria dengan gelar kesatria itu sama sekali tidak keberatan. Ia berdiri tegap di depan mereka, lalu mengangkat pedangnya dengan gagah dan sukarela menjadi perisai hidup. Menatap tajam tanpa gentar sedikit pun.


“Menjauhlah!” Jonatan mengaktifkan Inti Sihir, menyalurkan Mana menuju pedang dua tangan miliknya dan mulai memasang kuda-kuda. Sedikit merendahkan posisi pinggang dan melebarkan kaki, lalu mengarahkan ujung pedang lurus ke depan layaknya sebuah tombak. “Jika tidak menyerah, kalian akan merasakan keganasan teknik pedang ku ini!!” ancam pria itu dengan suara lantang.


“Menggelikan sekali ….” Yue Ying langsung tersenyum lebar, lalu menertawakan pria itu dengan ekspresi angkuh. Mengangkat tangan kiri dan menunjuk lurus, perempuan rambut merah darah tersebut sekilas memberikan tatapan tajam sembari berkata, “Keterampilan senjata Anda adalah tombak, bukan? Oh, wahai Tuan Kesatria buangan! Memangnya engkau bisa apa dengan pedang itu?!”


Meski meremehkan, perempuan yang juga dikenal sebagai Jenderal Selatan itu malah memperkuat sihir barikade. Menambah lapisan dinding tak kasatmata, lalu menepuk pundak Mao Lie dan menyuruh pria gendut itu bangun dari tempat duduk.


“Apakah dia kuat, Nona Ying?” tanya pedagang itu dengan nada sopan. Ia segera bangun dari tempat duduk dan berlindung di belakang sang Jenderal, lalu menatap ke depan dengan wajah sedikit berkeringat. “Dia hanya Prajurit Elite yang diturunkan pangkatnya oleh Raja Gaiel, bukan?” tanyanya untuk memastikan.


“Tepat sekali, dia Prajurit Elite ….” Yue Ying menjawab dengan singkat dan jelas. Mengeluarkan talisman dari lengan pakaian, perempuan rambut merah darah itu lekas menyiapkan mantra sembari bertanya, “Sebelum kita bertarung, bolehkah saya memastikan sesuatu?”


“Apa itu?” Jonatan segera menegakkan posisi tubuh, lalu merapatkan kedua kaki dan mengangkat pedang sampai setinggi kepala. Menyelesaikan proses manifestasi, ia menyelimuti senjatanya dengan teknik pemadatan Mana sederhana. “Engkau ingin menyerah?” tanya pria itu dengan niat memprovokasi.


“Apakah hanya ada kalian di Mansion ini?” Yue Ying mengaktifkan sihirnya. Menciptakan struktur formula mistis menggunakan kertas talisman, lalu bersiap melancarkan serangan secara frontal. Dengan tatapan cemas, perempuan rambut merah darah itu kembali memastikan, “Bukankah seharusnya dia ada di Kota ini?”


“Dia?” Jonatan tidak terlalu paham dengan apa yang dia maksud.


Tidak peduli lagi dengan ucapan musuh, pria rambut merah kecoklatan itu langsung mengambil posisi menyerang. Dengan menarik pedangnya ke belakang, lalu mengayunkannya ke depan layaknya sebuah cambuk.


Dalam hitungan kurang dari satu detik, Mana yang telah dikumpulkan pada bilah pedang berubah bentuk dan memanjang. Meliuk-liuk layaknya ular berbisa, lalu menyambar dengan tajam.


Satu lapisan sihir barikade berhasil ditembus dengan mudah, namun terhenti pada lapisan kedua. Menyadari kelemahan sihir pelindung musuh, Jonatan langsung melebarkan kaki kanan ke depan. Menarik napas dalam-dalam, lalu kembali mengayunkan pedangnya sebelum dinding barikade terbentuk lagi.


Menyerang berulang kali dari sudut yang sama, berniat menghabisi lawannya sebelum sihir penyerangan selesai dirapalkan. Melangkah maju dan terus mengayunkan tombak layaknya cambuk tajam, mempertahankan teknik pemadatan Mana menggunakan seluruh stamina yang ada.


Strategi itu sangat wajar digunakan saat melawan penyihir. Terus menyerang sebelum musuh selesai merapalkan mantra, menguras seluruh stamina dan menghabisi lawan dalam sekali gempur. Jika cara tersebut gagal, apa yang menunggu di akhir pertarungan hanyalah kekalahan.


Lapisan kedua sampai kelima berhasil ditembus Jonatan, ia terus melangkah maju sebanyak ayunan senjatanya. Dengan teliti menunggu momen yang tepat, lalu menyimpan sedikit stamina untuk menerjang sihir barikade dan melancarkan serangan mematikan.


Sayang sekali, waktu tidak berpihak kepadanya. Tepat saat Jonatan mengambil langkah ketujuh, Yue Ying telah selesai merapalkan sihir untuk menyerang balik. Perempuan itu mengarahkan talisman ke depan, lalu melepaskan sihir atribut api mematikan layaknya sebuah meriam.


“Anda memang hebat, Tuan Jonatan ….” Yue Ying sedikit menunjukkan rasa hormat. Dari pada mengincar kepala dan langsung menghabisi Jonatan, perempuan itu sedikit menggeser sasaran sembari lanjut berkata, “Tidak saya sangka Anda mampu merusak seluruh lapisan barikade milikku.”


Sihir api tingkat lanjut langsung melesat keluar dari talisman. Struktur yang ada di dalamnya mirip seperti sihir bola api biasa, namun memiliki susunan Rune perubahan sifat yang kompleks. Semua itu terkumpul pada satu titik, lalu dipadatkan menggunakan teknik dasar manipulasi bentuk Mana.


Meriam api dengan tingkat kepadatan tinggi itu menghantam tubuh Jonatan. Tepat pada bagian kanan perut, langsung mengoyak daging dan tulangnya sampai hancur. Meninggalkan lubang selebar kepalan tangan orang dewasa.


Tidak berhenti, sihir meriam api tersebut terus melesat kencang setelah menembus sasaran utama. Melewati orang-orang yang berlindung di belakang Kepala Prajurit, lalu meledak saat menabrak dinding dan membuat mereka semua terpental.


Magdala dan Rosaria terpelanting ke arah yang sama, membentur perabotan dan langsung pingsan. Luka bakar mereka tidak terlalu parah, kobaran api yang membakar pakaian pun padam beberapa detik setelah ledakan.


Berbeda dengan kedua orang puritan tersebut, Oma dan Agathe terkena dampak ledakan secara langsung. Tubuh suami-istri itu terlempar sampai keluar ruang tamu, kulit dan daging mereka pun sebagian besar melepuh. Berubah menghitam dan terkelupas layaknya terpapar radiasi.

__ADS_1


Hampir seisi ruang tamu luluh-lantak. Kursi, meja, dan perabotan yang terkena dampak ledakan hancur berserakan. Serangan itu tidak meninggalkan kobaran api ataupun lubang bekas ledakan, namun hangus tampak jelas pada lantai dan dinding ruangan.


“Sialan …! Kau … jala … ng!”


Jonatan berlutut lemas. Meski terluka parah dan terkena dampak ledakan secara langsung, pria itu tidak langsung tumbang dan masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Luka bakar membuatnya tidak mengalami pendarahan parah. Tetapi, rasa sakit yang luar bisa perlahan memudarkan penglihatan.


Lapisan Mana kemerahan yang menyelimuti pedang perlahan memudar dan lenyap. Terlepas dari genggaman tangan sang kesatria, lalu jatuh ke lantai dan retak. Benar-benar rusak setelah digunakan secara berlebihan.


Kesatria itu akhirnya tumbang, ambruk ke lantai dengan posisi tengkurap. Meski masih bernapas, jantungnya berdetak sangat pelan dan hampir berhenti. Mata perlahan tertutup, lalu napas pun semakin melemah.


“Oh, rupanya pedang itu hanya pajangan!” Yue Ying tersenyum ringan, lalu menatap lawannya yang telah tumbang dan memuji dengan tulus, “Tuan memang berbakat. Hanya dengan aksesoris Anda berhasil menembus sihir barikade milikku ….”


Jenderal Selatan segera mengeluarkan talisman dari lengan pakaian, lalu kembali membentangkan sihir barikade. Sama seperti sebelumnya, itu terdiri dari delapan lapis dinding tidak terlihat. Masing-masing hanya berjarak beberapa sentimeter, memiliki ketebalan yang bervariasi.


“Nona Muda terlalu berlebihan ….” Dari balik puing-puing perabotan kayu, seorang prajurit yang sebelumnya memberikan laporan kepada Jonatan segera bangun. Sembari membersihkan tubuh dan melepaskan helm besi, pria itu lekas memberikan tatapan kesal dan berkata, “Memangnya kita perlu membuat drama seperti tadi? Maksud saya, lihatlah tempat ini! Kacau balau …!”


Prajurit yang melapor itu adalah bawahan Yue Ying yang menyamar. Mengenakan zirah dan helm pasukan Kota Rockfield, lalu bertugas menyampaikan laporan palsu untuk membuat kepanikan dalam ruang perundingan.


“Tentu saja perlu!” Dengan tangan kiri, Jenderal Selatan sekilas mengangkat tongkat Gohei sampai setinggi mulut. Menyembunyikan senyuman licik sembari menjelaskan, “Kita tidak boleh setengah hati saat menipu, sebuah kebohongan harus dilakukan sampai tuntas. Jika perlu, buat itu menjadi kenyataan pahit untuk mereka ….”


“Apa … yang kalian lakukan?” ujar Ri’aima. Perempuan itu berdiri kaku di luar ruang tamu, menatap pucat dengan tubuh gemetaran. Menyaksikan kejadian itu dari dekat.


Mendengar suaranya, Yue Ying segera menoleh bersama Mao Lie dan Penyamar. Menatap terkejut, mereka sekilas bingung harus melakukan apa.


Dalam rencana penyerbuan, pihak Kekaisaran juga telah menetapkan perempuan itu sebagai sasaran penangkapan. Mereka ingin menjadikannya sebagai boneka politik, lalu digunakan untuk bahan negosiasi dan ancaman. Menjadi tameng hidup supaya Felixia tidak bisa langsung menyerbu Rockfield setelah diduduki.


Yue Ying segera mengambil langkah, kemudian memberikan tatapan tajam sembari mengintimidasi dengan tekanan sihirnya. Memikirkan hal lain untuk mengorek informasi, ia kembali mengeluarkan talisman dan menyiapkan struktur sihir.


“Hey, kamu!” Yue Ying memasukkan perempuan rambut biru pudar tersebut ke dalam sihir barikade, tepat pada lapisan ke lima jika dihitung dari luar. “Lihat kemari! Engkau ini Putri Sulung Keluarga Stein, bukan?” tanyanya untuk memastikan.


“Berani …!” Tidak mampu menyeret kedua orang tuanya, Ri’aima segera bangun sembari memberikan tatapan tajam. Perlahan menghunuskan pedang dan mendekat, ia tanpa pikir panjang langsung menebas sembari berteriak, “Beraninya kau melukai Ayahanda dan Ibunda!”


Ayunan terhenti saat mengenai salah satu lapisan sihir barikade, suara nyaring seperti benturan besi pun terdengar menggema di ruangan. Memecah kesunyian mencekam, lalu digantikan oleh teriakan amarah yang berkobar.


“Cobalah untuk tenang, gadis kecil ….” Yue Ying menunjuk lurus, lalu menggunakan sihir dalam skala sedang untuk menciptakan gelombang kejut.


“Apa yang⸻?! Ukh!”


Ri’aima langsung terlempar ke belakang, melayang sampai membentur lemari hias di ujung lobi. Kacanya pecah, lalu beberapa perabot yang dipajang pun jatuh menimpa tubuh perempuan itu. Tidak gentar ataupun ragu, ia segera bangkit sembari menggenggam erat pedangnya. Berlari menuju anak tangga untuk bersembunyi dan menyusun strategi.


“Sekali lagi saya salah menilai orang, ternyata Anda cukup tangguh …!” Yue Ying berjalan keluar dari ruang tamu, lalu menginjak tubuh Agathe yang terkapar di lantai untuk memprovokasi. Sembari melihat sekeliling, perempuan rambut merah darah tersebut langsung mengancam, “Keluarlah! Jika kamu memang masih ingin melihat wanita ini utuh!! Atau mungkin, sebaiknya Oma dulu yang saya habisi?”


“Dasar licik …!” Ri’aima langsung terpancing, tanpa pikir panjang ia keluar dari bawah anak tangga dan menunjukkan dirinya. Menjatuhkan pedang, lalu mengulurkan kedua tangan ke depan sebagai tanda menyerah. Sembari menatap murka, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan lantang mencela, “Daripada burung, kau lebih pantas disebut rubah!”


“Anda tahu, Nona Ri’aima! Ini sia-sia! Kalian sudah kalah!” Yue Ying untuk sementara menonaktifkan sihir barikade. Tidak menurunkan kewaspadaan, perempuan rambut merah darah tersebut berjalan mendekat sembari mengarahkan talisman. Ia bersiap untuk menembakkan sihir meriam kapan saja, lalu dengan suara berat bertanya, “Sekarang jawab pertanyaan saya! Di mana orang itu?!”


“Orang … itu?” Ri’aima menatap bingung. Sembari memalingkan tatapan, ia dengan nada heran balik bertanya, “Kalian mencari seseorang⸻?”


“Jawab saja!” bentak Yue Ying. Ia segera mengangkat tongkat Gohei, lalu memukul wajah perempuan itu sampai bibir bawahnya robek. Sembari menarik rambutnya, Jenderal Selatan dengan kesal berkata, “Dengar baik-baik, sundal! Kamu tidak punya hak untuk bertanya! Sekarang cepat jawab! Di mana Putra Tunggal Keluarga Luke itu bersembunyi?! Dia pasti ada di kota ini!!”

__ADS_1


“Tu-Tuan Odo?” Ri’aima tersenyum tipis. Ia meludahkan darah ke lantai, lalu mulai tertawa ringan sembari menjawab, “Kamu salah tempat, Nona Burung Kecil …! Dia sudah tidak ada di kota ini⸻!”


“Tidak usah bohong!” Yue Ying kembali memukulnya dengan sangat keras, tepat mengenai perut dan langsung membuat perempuan itu jatuh meringkuk. “Kamu tahu, diriku tidak pandai menginterogasi! Cepat jawab sebelum diriku membunuhmu!” ancam sang Jenderal sembari menginjak kepalanya.


“Uwakh⸻!!” Ri’aima tiba-tiba muntah. Pukulan tadi tepat mengenai organ vital miliknya, membuat asam lambung naik dan mengeluarkan isi perut. Tidak gentar, ia membalas Yue Ying dengan tatapan tajam dan menjawab, “Kalian takkan pernah menemukan Tuan Odo! Rasakan! Rencana kalian sia-sia!”


“Dasar sundal! Karena inilah saya benci bangsawan …!” Yue Ying menyalurkan Mana ke dalam tongkat Gohei, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi dan bersiap meremukkan kepala Ri’aima. “Mati saja kau bedebah!” teriaknya seraya mengayunkan tongkat.


Namun, itu terhenti sebelum mengenai sasaran. Tepat sebelum wajah Ri’aima dihantam tongkat sampai hancur, Jenderal tiba-tiba mematung dengan keringat dingin bercucuran. Wajahnya langsung memucat, gigi gemeretak, dan bulu kuduk pun berdiri.


“Kenapa, huh?! Kamu takut membunuh diriku?!” Ri’aima tanpa pikir panjang langsung memprovokasi, ia tidak merasakan ada sesuatu yang janggal. Mengira lawannya hanya ragu.


“Diamlah!! A-Apa itu tadi? Seekor Naga? Kenapa bisa⸻?!” Jenderal Yue Ying segera melepaskan perempuan tersebut. Melangkah mundur, Ia lekas menoleh ke arah Mao Lie dan Penyamar sembari memerintahkan, “Lari! Kita harus kabur dari sini sebelum terlambat!”


“Kenapa panik seperti itu, Nona Muda? Apa ada masalah?” Penyamar berjalan mendekat. Ia kembali mengenakan helm prajurit Kota Rockfield, mengira akan ada pasukan kerajaan yang datang menerobos. “Mereka baik-baik saja, ‘kan? Kalau pasukan Felixia sampai datang kemari, regu kita yang ada di luar bisa-bisa dibantai,” ujarnya dengan cemas.


“Biarkan saja mereka masuk!” sambung Mao Lie. Ia segera berjalan menuju sang Jenderal, lalu dengan penuh keraguan lanjut menyarankan, “Daripada mereka mati sia-sia di luar! Jumlah kita terlalu sedikit! Kabur adalah pilihan paling tepat! Tujuan awal kita sudah tercapai! Sisanya serahkan saja kepada Tuan Fai!”


“Bukan …! Pancaran sihir tadi bukan manusia!”


Yue Ying mengeluarkan lusinan ketas talisman dari lengan pakaian, lalu melemparnya. Semua itu melayang-layang di udara dan mulai membentuk sebuah struktur mistis. Dengan cepat dirinya kembali mengaktifkan lapisan sihir barikade, lalu pada saat bersamaan menyusun struktur sihir penyerangan dan membidik pintu utama.


“Sihir?” Mao Lie mulai waspada. Ia segera mencengkeram kaki Ri’aima, lalu menyeret perempuan itu menuju anak tangga untuk disembunyikan. Berniat menjadikannya sandera jika situasi tidak menguntungkan. “Nona Muda, apakah itu Odo Luke?” tanya pria gendut itu untuk memastikan.


“Tuan Odo⸻?!” Ri’aima sempat meronta, namun wajahnya langsung dihajar Mao Lie sampai hampir pingsan.


“Saya tidak tahu!” Yue Ying lanjut menyusun struktur talisman dan Rune, menyiapkan belasan mantra sihir penyerangan tipe api supaya bisa dilepaskan secara beruntun. Ia juga memadatkan sihir barikade, lalu memperluas sensor supaya tidak disergap dari belakang. Sembari memejamkan mata dan meningkatkan konsentrasi, perempuan rambut merah darah tersebut lekas menambahkan, “Itu mungkin! Kalau tidak salah, dia memang punya aura Naga Hitam! Namun, pancaran tadi rasanya … sangat aneh!”


“Eh, sebentar⸻!” Penyamar segera berbaring di lantai, tepat di sebelah Oma dan Agathe. Pura-pura menjadi korban, berniat untuk kabur saat ada kesempatan. “Tch! Ah, ini menyusahkan! Aku tidak ingin mati muda!” keluhnya sembari memejamkan mata, menahan napas, lalu memperlambat detak jantung untuk menyempurnakan penyamaran.


“Hey! Kenapa kamu malah ingin selamat sendiri!” Kedua mata Yue Ying langsung terbuka lebar, tampak kesal saat melihat pria itu pura-pura pingsan.  Mengerutkan kening, ia perlahan mengarahkan lingkaran sihir ke arah sang Penyamar sembari mengancam, “Cepat ambil pedang⸻!”


Sebelum ucapan Yue Ying selesai, tiba-tiba sebelas lembar talisman yang disimpan di dalam lengan pakaian terbakar. “A-Apa yang terjadi?!” ujarnya seraya melempar itu ke lantai.


“Kertas mantra itu ….” Mao Lie langsung menyadarinya. Sembari membungkam mulut Ri’aima dengan kencang, pria gendut itu segera berlutut dan bersembunyi di bawah anak tangga. Sembari memikirkan rencana, dengan wajah pucat pedagang itu bergumam, “Seluruh bawahan Anda yang berjaga di luar, mereka sudah …!”


Tidak peduli mereka siap atau belum, pintu utama Mansion perlahan terbuka. Sembari membawa seorang perempuan di punggungnya, Putra Tunggal Keluarga Luke melangkah masuk ke dalam lobi. Ia lekas mengamati sekeliling dan terhenti, sekilas memperlihatkan ekspresi kesal, lalu melebarkan senyum kaku seolah sedang menahan amarah.


“Tempat ini kacau sekali ….” Sembari melanjutkan langkah kaki, pemuda rambut hitam tersebut mulai melebarkan senyum ramah. Menyembunyikan gelora amarah, lalu perlahan menajamkan tatapan sembari bertanya, “Untuk apa Kaisar Leben mengirim kalian kemari? Supaya bisa dibunuh oleh ku?”


Mengambil napas sejenak, Odo mengangkat pedang hitam pada tangan kanannya. Tidak menurunkan Leviathan, pemuda itu lanjut menodongkan ujung bilah dan menusuk lapisan terluar sihir barikade.


Layaknya mentega, dinding tak kasat mata tersebut langsung meleleh. Perlahan kobaran api mulai menyala merah gelap, lalu dalam hitungan detik membakar satu lapisan sihir barikade. Kobaran api juga menyambar perabotan, lantai, dan langit-langit.


Sebelum membakar seisi ruangan, Odo segera menonaktifkan Hariq Iliah. Bersama hembusan angin kencang, kobaran api langsung diserap oleh pedang hitam.


\============================


__ADS_1


__ADS_2