Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[85] Dekadensi Kota Rockfield II – Arti bangsawan (Part 04)


__ADS_3

Aroma asri daerah pegunungan, udara lembap berhembus dingin di antara celah-celah bangunan dengan arsitektur yang didominasi oleh susunan batu. Suara angin yang berhembus mengisi kesunyian malam, menggantikan serangga ataupun suara hewan-hewan kecil yang biasa ditemui di pojok perkotaan.


Dalam kesunyian tersebut, Odo dengan santai melangkahkan kaki di atas jalan anak tangga yang terbuat dari susunan. Pemuda dengan kemeja rangkap rompi merah tersebut melihat sekeliling dengan jelas. Tidak seperti saat siang, ketika malam Kota Rockfield tampak jelas tanpa ada kabut yang menghalau jarak pandang.


Sembari menuruni anak tangga, Putra Tunggal Keluarga Luke menatap ke atas dan sesaat terdiam menikmati pemandangan gugusan bintang musim panas. Di langit tidak ada awan yang menutupi, titik-titik cahaya tersebut mengelompok membentuk seperti garis terang vertikal yang tenggelam di ujung cakrawala.


Untuk sesaat, Odo sejenak menghentikan langkah kaki dan duduk di atas anak tangga. Pemuda itu menarik napas dalam-dalam, menikmati suasana yang ada sembari nostalgia dengan kehidupan di Dunia Sebelumnya. Sejenak terdiam, raut wajah yang sebelumnya menikmati suasana berubah tampak sedih dengan cepat.


“Kalau tidak salah, Adikku lumayan suka dengan bintang, ya? Dia bahkan sampai meminta teropong untuk hadiah ulang tahun. Yah, meski pada akhirnya ketika beranjak SMA dia sudah tidak tertarik lagi. Kalau masih hidup dan melihat ini, kira-kira⸻”


Perkataan Odo terhenti, mulutnya seketika tertutup rapat karena tidak bisa membayangkan dengan baik. Meski dirinya tahu pernah melihat gugusan bintang bersama sang Adik di Dunia Sebelumnya, namun tetap saja itu hanyalah seperti menonton sebuah kisah dari orang lain. Ia sama sekali tidak merasa pernah melakukan hal tersebut.


Terlebih lagi, sampai sekarang bahkan Odo tidak bisa mengingat wajah atau bahkan nama adiknya.


Berhenti mengingat kenangan yang membuatnya merasa frustrasi dan kesal, Odo kembali berdiri dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Menyusuri Kota Pegunungan, melihat ke kanan dan kiri sembari mencari informasi untuk bisa menggunakan Spekulasi Persepsi secara maksimal.


Tetapi tidak seperti yang diharapkan, pemandangan Kota Pegunungan saat malam lebih parah dari perkiraan awal. Itu tak jauh berbeda dengan kondisi Mylta saat akhir tahun lalu, ketika malam tampak suram karena diisi oleh mereka orang-orang yang tersingkirkan dari masyarakat.


Gelandangan tanpa rumah, berkeliaran di sepanjang jalan utama dan bermalam di gang-gang sempit di antara bangunan yang ada. Itu tampak lebih parah daripada Mylta karena mereka berkeliaran di jalan utama, tanpa adanya penjagaan yang memadai saat malam dan cukup tinggi berpotensi melakukan tindak kejahatan.


Tidak seperti gelandangan Kota Pesisir yang sebagian besar terdiri dari imigran gelap dan merupakan Demi-human, di Rockfield orang-orang tanpa rumah tersebut kebanyakan adalah manusia murni yang sebagai besar adalah penduduk asli kota. Itu jelas-jelas tampak miris sebab para pedagang yang berasal dari luar bahkan mendapatkan tempat yang lebih layak dari mereka.


Harta dan status, tentu saja Odo paham bahwa hal-hal tersebut yang membuat perbedaan. Tidak ada pelayanan tanpa harta, tidak ada penghormatan tanpa status. Itulah sebuah fakta yang ada di masyarakat secara umum.


Memang ada hal seperti menghormati orang berilmu ataupun bijak, namun tentu saja tidak ada yang mau menghormati gelandangan yang hanya dianggap sebagai sampah masyarakat. Paling tidak, itulah yang terjadi di Kota Pegunungan.


Saat Odo berjalan sembari melihat ke arah mereka, para gelandangan itu menatap balik dengan sorot mata kelaparan. Terlihat layaknya serigala pada musim dingin yang ingin menerkam siapa saja demi sebuah makanan untuk mengisi perut.


Putra Tunggal Keluarga Luke itu tidak menggubris mereka, hanya memberikan ekspresi datar dengan rasa tidak peduli dengan nasib orang-orang tersebut. Meski Rockfield masih masuk ke dalam Wilayah Luke, namun Odo tidak memiliki rasa ikatan yang kuat pada tempat tersebut. Ia tidak memiliki alasan untuk ikut campur secara langsung dan memperbaiki kondisi yang ada.


Di tengah langkahnya menuruni anak tangga menuju balai kota, salah satu gelandangan berdiri menghadang. Ia membawa sebuah belati dengan gagang kayu yang tampak kusam, lalu menodongkan itu sembari memasang ekspresi penuh nafsu merampas.


Odo menghentikan langkah kaki, hanya menatap datar dan malah menghela napas dengan resah. Melihat orang tua dengan berewok urakan itu hendak melakukan kejahatan, sang Putra Tunggal Keluarga Luke malah memasang ekspresi malas seakan dirinya telah tahu latar belakang pria tua tersebut.


“Apa-apaan ekspresi itu, bedebah!”


Gelandangan tersebut langsung mengangkat belati, lalu berlari ke arah Odo dan menusukkan itu ke arah perut. Namun sebelum mengenai sasaran, Putra Tunggal Keluarga Luke menahannya dengan telapak tangan. Ujung belati runcing tidak bisa menembus sarung tangan pemuda itu, benar-benar terhenti dan digenggam dengan kencang sampai gelandangan tersebut tidak bisa menarik kembali belati itu.


“Kau sedang sial, Pak Tua ….”


Odo menggenggam pergelangan gelandangan tersebut dengan tangan kiri, lalu menekan erat pada bagian sendi dan memaksanya melepaskan belati. Setelah berhasil merebut belati tanpa usaha keras, ia menjatuhkannya ke atas anak tangga.


“Tch!”


Gelandangan itu hendak meloncat ke belakang dan menjauh. Namun sebelum bisa melakukan itu, dengan cepat Odo langsung membungkam pria tua tersebut dan mengangkat tubuhnya dengan mudah.


“Tubuhmu sangat ringan, ya ….”


“ENGG!!!”


Gelandangan itu meronta-ronta, kakinya benar-benar terangkat dari tempat berpijak dan dicengkeram erat oleh Odo. Sebelum pria tua itu bisa mengangkat tangan untuk memukul orang yang mencengkeram wajahnya, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung melemparkan gelandangan tersebut ke dalam gang yang ada di pinggir jalan.

__ADS_1


Tumbuh kurus pria tua itu membentur tumpukan kayu dengan keras, menggeliat kesakitan tanpa bisa segera bangun dan napasnya langsung terengah-engah. Di usianya yang sudah cukup tua, dilempar seperti itu dan jatuh dengan posisi punggung mendarat lebih dulu sangatlah menyakitkan.


Beberapa gelandangan lain yang melihat kejadian tersebut mulai ketakutan, mengurungkan niat untuk memalak pemuda rambut itu dan segera berlarian bersembunyi di dalam gang-gang yang lain.


Melihat pria tua yang dilemparnya tidak segera bangun dan masih menggeliat, Odo sedikit cemas dan merasa telah melakukan hal yang berlebihan hanya untuk membuat gelandangan tersebut jera. “Yang benar saja, aku tidak mau membunuh hanya karena masalah sepele,” ujarnya seraya berjalan mendekati pria tua tersebut.


Sembari berjongkok dan meletakkan telapak tangan ke atas perut gelandangan yang terkapar kesakitan itu, Odo langsung menggunakan Aitisal Almaelumat untuk mengatur ulang informasi tubuh pria tua itu ke kondisi prima. Gelandangan tersebut pun berhenti menggeliat, benar-benar terkejut karena rasa sakit yang dirinya rasakan sebelumnya benar-benar hilang layaknya sebuah ilusi.


“Apa … yang terjadi? Apa yang kau lakukan?” tanya pria tua itu dengan bingung.


Tetapi, Odo tidak menjawab pertanyaannya. Sang pemuda kembali berdiri dan berpaling, lalu meninggalkan gelandangan itu dan melanjutkan perjalanan menuju balai kota tanpa melirik sedikitpun.


Dengan diisi rasa penasaran, gelandangan segera bangun dan mengejar sang pemuda. “Kenapa kau menyembuhkan ku?!” tanyanya dengan lantang.


Odo tetap tidak memedulikan pria tua itu, benar-benar acuh tanpa menghentikan langkah kaki atau sekadar menoleh. Terus berjalan, menuruni anak tangga dalam langkah kaki yang tidak terlalu cepat.


Sang gelandangan hanya bisa menatap bingung, benar-benar tidak mengerti apa yang telah terjadi. Ia meletakkan tangan ke dada dan memeriksa beberapa bagian tubuh lain, lalu kembali benar-benar memasang mimik wajah bingung.


Odo memang menyembuhkan sang gelandangan. Namun, itu tidak hanya sekadar luka yang didapat karena dilemparkan olehnya. Memar dan lebam, penyakit ringan, dan bahkan sampai letih yang sebelumnya sudah ada dihilangkan dari tubuh pria itu dan digantikan oleh kondisi prima.


Sebab itulah, sang gelandangan hanya bisa menatap heran dan mengira kalau pemuda itu menggunakan sihir pemulih kepadanya. Meski dirinya telah memulai dengan niat buruk, gelandangan tua tersebut tidak mengira akan mendapatkan kebaikan seperti itu oleh orang yang baru pertama kali dirinya temui.


“Apa … dia bukan dari kota ini? Kalau tidak salah, katanya juga ada pedagang lain yang datar siang tadi. Apa dia juga seorang pedagang?” Gelandangan berbalik, menatap ke arah jalan di mana tempat pemuda sebelumnya datang. Dengan suara dipenuhi rasa ragu ia bergumam, “Tapi, bukannya dia datang dari arah kediaman Keluarga Stein?


.


.


.


.


Terpapar lampu kristal yang berjejer bersama bangunan-bangunan yang ada, lantai marmer tampak berkilap memantulkan sinar. Udara yang lembap membuat permukaan marmer memantulkan bayangan dengan cukup jelas, merefleksikan bangunan megah yang ada di tempat tersebut layaknya sebuah cermin.


Odo seketika terhenti melihat pemandangan yang tampak bagaikan sebuah mahakarya seni tersebut, merasa sangat disayangkan jika semua keindahan itu rusak karena gejolak politik yang ada. Membuka telapak tangan ke depan, pemuda rambut hitam itu memasang senyum tipis dan dalam benak memutuskan.


“Aku masih memiliki waktu sampai akhir musim panas nanti ….” Odo menurunkan tangannya, berhenti tersenyum dan sembari mengingat semua masalah ia pun bergumam, “Ordoxi Nigrum sudah aku percayakan kepada Arca dan Nanra, Lisia juga sudah bisa mengurus Kota Pesisir bersama Argo. Apa yang perlu aku lakukan hanya mengamati sampai batas waktu, lalu pergi ke Dunia Astral dan mengurus masalah Leviathan.”


Odo kembali terdiam, dalam kepala ia menyusun ulang semua prioritas yang ada untuk mempersiapkan diri dari gelombang ancaman yang bisa datang kapan saja. Memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja dilakukan oleh sang Dewi Penata Ulang, pergi jauh ke Kota Pien’ta dan melaksanakan kewajiban sebagai seorang bangsawan memang memiliki risiko tinggi.


Kediaman Luke bisa saja diserang, Kota Mylta dapat menjadi incaran karena berbatasan langsung dengan laut negeri tetangga. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu, rasa cemas menyelimuti benak Odo dan tidak membiarkannya tenang. Merasa selalu kurang dalam menyiapkan penanganan, menginginkan rencana yang lebih matang.


Jauh di dalam benaknya, Odo pun mulai mengharapkan bidak yang lebih. Mengumpulkan kekuatan dan rekan untuk menutupi semua kekurangan yang dimiliki. Demi bisa mempertahankan semua yang ada di tangannya sekarang.


“Meski aku sudah menahan penggunaan Mana, tetap saja itu diserap oleh Mahia dan yang tersisa hanya sedikit. Jika seperti ini terus, aku tidak bisa menyiapkan cadangan Mana tepat waktu.” Dengan pikiran yang keruh, pemuda rambut hitam itu mengangkat kedua tangannya lurus ke atas layaknya orang aneh. Wajah pemuda itu berubah muram, lalu dengan nada kesal mulai mengeluh, “Meski aku menghisap Ether dan memprosesnya menjadi Mana, tetap saja semua itu akan dipakai langsung oleh Mahia. Sebenarnya apa yang ingin anak itu lakukan dengan semua Mana tersebut?”


“Entahlah,” suara Seliari menggema di dalam kepala Odo. Dengan nada yang terdengar kesal, sang Putri Naga Agung kembali berkata, “Dia hanya diam. Aku sebelumnya sempat meminta Jiwa Homunculus yang ada di dalam tumbuh dirimu untuk membobol pengekang di sini. Tetapi, itu bahkan tidak berarti. Dia benar-benar memproses semua Mana itu di pusat paling dalam Inti Sihirmu.”


“Mavis yang Asli?” tanya Odo memastikan. Sembari menurunkan kedua tangan, ia memperjelas pertanyaan, “Apa dia juga memiliki wewenang di dalam Alam Jiwa?”


“Yang memproses sebagian besar komponen pohon besar di sini adalah dia. Awalnya diriku ini mengira kalau jiwa dari makhluk buatan itu memiliki otoritas yang sama setelah menggantikan Mahia sebagai operasional sihir kalkulasi milik engkau. Namun, sepertinya secara otoritas memang Mahia lebih tinggi. Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu, Odo? Ini tumbuh diri engkau loh ….”

__ADS_1


Perkataan sang Putri Naga sedikit membuat Odo tersinggung, membuat pemuda rambut hitam tersebut mengerutkan kening. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan mulut dan sedikit menundukkan kepala, ia mulai memikirkan cara untuk mengatasi masalah tersebut.


Memiliki keterbatasan dalam penggunaan Mana sangatlah memberikan kendala, terutama saat nanti melakukan penaklukan Leviathan. Karena itulah, Odo sendiri ingin segera mengembalikan kemampuan sihirnya sebelum melakukan penaklukan.


Namun sebelum Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mendapatkan cara, Spekulasi Aktif dengan sendirinya karena stimulasi dari luar. Odo segera menoleh ke arah bangunan Gereja Utama berada, melihat seorang wanita berpakaian biarawati berjalan keluar sembari membawa lentera di tangan.


“Ah, sepertinya aku tepat waktu,” gumam Odo saat melihatnya.


Odo kenal dengan perempuan itu, dia adalah Pendeta Wanita yang waktu siang sempat mencipratkan air suci untuk para pendatang dari luas Kota Rockfield. Sejenak menarik napas dalam-dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun berjalan mendekat sembari memanggil, “Nona Pendeta! Tunggu sebentar!!”


Perempuan yang memakai kerudung tersebut menoleh, menatap heran pemuda yang memanggilnya malam-malam. Mengarahkan lentera yang dibawa ke arah orang yang menghampirinya, sang pendeta wanita tersebut baru bisa mengenali pemuda itu.


“Anda yang tadi siang ….” Sang Pendeta Wanita menurunkan lentera, sedikit membungkuk hormat dan kembali berkata, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Pedagang?”


Odo berhenti di hadapan wanita bermata biru terang tersebut. Tidak seperti orang-orang dari Keluarga Stein yang sudah tahu bahwa dirinya adalah Putra Tunggal Keluarga Luke, Pendeta Wanita tersebut mengenal Odo hanya sebagai pedagang karena laporan yang diberikan penjaga gerbang.


“Permisi …. Meski kita sudah bercakap tadi siang, namun kita belum tahu nama masing-masing.” Odo menarik kaki kanan ke belakang, lalu sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada ia mulai sedikit membungkukkan tubuh ke depan. Kembali berdiri tegak, pemuda rambut hitam itu pun bertanya, “Boleh saya tahu nama Anda, Nona Pendeta?”


Melihat gestur sopan yang biasa dirinya lihat dari kalangan bangsawan, secara refleks Pendeta Wanita pun memberikan salam dengan hormat. Ia menarik kaki kanan ke belakang, lalu sedikit mengangkat ujung gaun hitamnya dengan tangan kiri dan membungkuk ringan penuh kesan anggun.


“Perkenalkan, saya Rosaria Aria. Pendeta sekaligus kepala biarawan dan biarawati di Kota ini. Senang bertemu dengan Anda.”


“Saya⸻” Odo terhenti sebelum memberitahu namanya sendiri, paham bahwa lebih baik tidak membongkar identitas secara langsung kepada perempuan itu. Dengan nada yang terdengar sedikit kaku, pemuda rambut hitam tersebut lanjut memperkenalkan, “Saya adalah Nigrum, seorang Kepala Perusahaan Ordoxi Nigrum dari Kota Pesisir.”


“Tuan Nigrum, ya? Nama yang cukup unik,” ujar Rosaria sembari tersenyum kecil. Pendeta Wanita itu berhenti membungkuk hormat, lalu menurunkan gaun dan berdiri tegak seraya menatap dengan sorot mata sedikit bingung. “Lalu, ada keperluan apa Tuan Nigrum memanggil saya?” tanyanya memastikan.


“Ah, ini soal kejadian tadi siang. Karena Nona Ri’aima terlalu tergesa-gesa, hanya saya saja yang tidak diberikan air suci. Sedangkan teman-teman saya sudah diberi semua ….”


Rosaria mengingat kembali kejadian tadi siang. Memang pada saat itu Odo tidak sempat dicipratkan air suci, lalu diajak pergi langsung oleh Ri’aima dengan alasan tamu kehormatan keluarga bangsawan. Karena hal tersebut, Pihak Religi sendiri tidak bisa berkomentar dan hanya bisa membiarkan meski tahu ada potensi bahwa sang pemuda bisa saja membawa unsur yang tidak diinginkan ke dalam kota.


“Apakah Anda malam-malam datang hanya untuk itu?” Rosaria benar-benar terkesima. Sebagai orang yang sangat taat dalam kepercayaan, melihat pedagang yang disiplin terhadap hal seperti itu sangatlah jarang. Sembari mendekat dan menatap langsung mata Odo, perempuan dengan pakaian biarawati itu berkata, “Kalau begitu, mari masuk ke gereja! Saya akan mengambil Aspergilum untuk mencipratkan air suci kepada Anda!”


“Aspe …. Apa?”


Odo melangkah ke belakang, merasa telah terlalu berlebihan memancing perempuan itu dengan perkataan dusta. Mengingat kepribadian para orang puritan yang begitu menyilaukan baginya, Putra Tunggal Keluarga Luke itu memalingkan pandangan dengan sedikit terganggu.


Melihat ekspresi tersebut, Rosaria baru menyadari bahwa dirinya terlalu dekat dengan pemuda itu. Ia segera mengambil dua langkah mundur, lalu menundukkan wajahnya yang memerah. Untuk menghilangkan rasa malu yang menguasai, perempuan dengan mata biru tersebut menjelaskan, “Aspergilum …. Itu alat untuk mencipratkan air suci, berbentuk tongkat pendek dengan bola perak yang berlubang-lubang di ujungnya.”


“Ah, semacam gayung?”


“Bukan gayung!” bentak Rosaria dengan lantang. Namun saat matanya kembali bertatapan dengan Odo, wajah perempuan itu seketika kembali memerah dan langsung memalingkan pandangan.


“Be-Benar juga, itu tentu saja bukan gayung. Maaf ….”


“Tidak apa-apa …, Anda tidak perlu meminta maaf.” Rosaria segera berbalik ke arah Gereja Utama, lalu sembari melirik malu-malu mengajak, “Mari kita ke dalam. Mungkin yang lain sudah tidur, namun kalau ruangan Panti Umat selalu terbuka untuk semua orang.”


Meski seorang puritan yang taat, gelagat Rosaria yang malu-malu layaknya seorang perempuan yang suka menggoda pria. Menyadari ada yang aneh dengan hal tersebut, Odo sedikit mengerutkan kening dan bergumam, “Apa Seliari meningkatkan kadar pheromone milikku?”


“Hmm?” Rosaria menghentikan langkah, lalu sembari menoleh kembali bertanya, “Apa Anda mengatakan sesuatu?”


“Tidak apa, ayo pergi ….”

__ADS_1


ↈↈↈ


__ADS_2