
.
.
.
.
Tidak berdaya, hanya bisa bergantung pada orang lain dan menerima kebaikan. Bahkan sampai sekarang, dalam benak Lily’ami hal tersebut masih tertanam kuat dan tidak bisa lepas.
Dalam rasa takut saat berhadapan dengan ajal, waktu itu ia memang tidak ingin mati dan meminta pertolongan. Meski seharusnya sudah menerima takdir untuk menutup kehidupannya.
“Paman ….” Suara anak perempuan berusia delapan tahun tersebut keluar dengan sangat pelan, dipenuhi kecemasan dan tampak jelas pada mimik wajah.
Kediaman Keluarga Quidra, itulah tempat Lily’ami berada sekarang. Mansion yang terletak di Distrik Perekonomian dan Pertambangan, tidak terlalu jauh dari sudut prostitusi.
Pada salah satu kamar yang diberikan oleh Keluarga Quidra, anak perempuan itu duduk di atas tempat tidur dengan penuh rasa gelisah. Tidak nyaman dengan suasana sunyi yang ada, merasa tertekan dengan dekorasi barok yang tampak mewah.
Meski lampu kristal menyala terang pada langit-langit dan ruangan tampak begitu indah terpapar sinar, ia tidak bisa menikmati semua itu. Gaun indah yang biasa dikenakan oleh kalangan atas terasa tidak cocok di kulitnya, membuat anak perempuan tersebut sedikit gatal dan menambah kegelisahan.
Kesunyian menyelimuti, membuat tubuh Lily’ami gemetar ketakutan dan teringat kembali momen mengerikan di tengah hutan. Ditinggalkan oleh kedua orang tua angkat, lalu hampir dimangsa oleh para monster.
Melipat kedua kaki ke depan, anak perempuan itu meringkuk dan memasukkan wajah di antara sela-selanya. Terdiam membisu, tanpa melakukan apa-apa sejak pagi sampai malam tiba.
Sebelum Ferytan pergi untuk melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Odo Luke, pria tua tersebut memang telah berpesan kepada Lily’ami untuk menunggu di Mansion. Namun karena rasa tidak nyaman yang menyelimuti, anak perempuan itu hanya berdiam diri di dalam kamar sepanjang waktu.
Bahkan setelah sarapan, anak perempuan itu tidak lagi mendapatkan makan atau berbicara dengan orang lain. Karena Mansion baru saja kembali ditinggali kemarin, tempat tersebut masih belum mempekerjakan pelayan.
Perawatan memang tetap dilakukan selama penyitaan oleh pihak pemerintah kota. Namun setelah dikembalikan ke Keluarga Quidra, semua orang yang bekerja di tempat tersebut langsung ditarik. Mereka akan diatur kembali secara administrasi, lalu dipertimbangkan apakah tetap dipekerjakan lagi atau tidak.
Selain itu, dari pagi sampai malam tiba Mitranda disibukkan dengan tumpukan perkamen yang datang dari pihak pemerintah kota. Entah itu berkas-berkas tentang pengembalian tanah dan bangunan Mansion, sampai surat serta laporan yang harus diurus terkait pekerjaan administrasi barak.
Bahkan sampai Racine kembali dari beberapa pertemuan dan pesta para pejabat, pekerjaan tersebut juga masih belum selesai. Setelah membersihkan tubuh dan hari menjelang malam, Putri Bungsu Keluarga Quidra tersebut membantu pekerjaan sang Ibu.
__ADS_1
Mereka terlalu fokus mengurus berkas, sampai-sampai lupa bahwa di Mansion ada seorang anak yang perlu diperhatikan. Terus berdiam diri di ruang kerja, lalu benar-benar melupakan keberadaan Lily’ami.
Di dalam kamar dengan aksen dekorasi barok, Lily’ami sejenak menarik napas ringan. Dengan mata setengah terbuka, anak perempuan rambut merah delima tersebut turun dari atas tempat tidur. Ia melepaskan bando dengan hiasan kain berbentuk bunga camellia, lalu membuat rambut ikal terurai sampai melebihi pundak.
Menatap refleksi dirinya pada cermin besar di sudut ruangan, Lily’ami merasa penampilan seperti itu lebih cocok dengannya. Tanpa pernak-pernik, tampak sedikit urakan dengan pakaian yang terlipat karena dibawa tidur.
Saat senyum melebar pada wajahnya, perut tiba-tiba berbunyi. Ia langsung memasang mimik cemberut, sedikit membungkuk dan meletakkan kedua tangan ke depan perut.
Rasa lapar sudah tidak bisa dibendung lagi. Layaknya anak kecil biasa yang tidak bisa menahan hal seperti itu, Lily’ami pada akhirnya melangkah ke arah pintu dan keluar dari kamar.
Kegelisahan lenyap dengan cepat seiring dengan rasa lapar yang semakin kuat. Tanpa memikirkan suasana tidak nyaman yang mengusiknya sejak pagi, anak perempuan itu berjalan menyusuri lorong dan memeriksa satu persatu ruangan yang ada. Mencari dapur di antara belasan pintu, untuk mendapatkan makanan yang bisa menghilangkan rasa lapar.
Namun saat dirinya mencari, salah satu pintu yang Lily’ami buka adalah ruang kerja. Tempat Racine dan Mitranda berada, tampak sibuk mengerjakan perkamen yang menumpuk di atas meja mereka.
Racine tampak mengenakan piyama putih berbahan tipis dan longgar, lalu pada bagian leher terdapat pita untuk mengencangkan. Memalai sandal tipis pada kedua kaki yang kurus, benar-benar tampak sudah siap tidur meski masih mengerjakan laporan di atas perkamen.
Berbeda dengan Putrinya, Mitranda masih mengenakan pakaian yang sama sejak pagi. Berupa gaun tanpa lengan berwarna biru tua, lalu sarung tangan hitam panjang sampai siku dan riasan pada wajah pun masih tampak tebal. Layaknya seorang wanita yang akan mendatangi sebuah pesta.
Kedua mata perempuan rambut pirang pudar tersebut terbuka lebar. Tertiup angin malam yang masuk melali jendela yang terbuka, rambut panjang sebahu miliknya sedikit bergelombang dan sekilas menutupi wajah cemas.
Rasa bersalah, itulah yang dirasakan Racine Quidra. Sebagai seorang anak dalam Keluarga Quidra, perempuan rambut pirang pudar tersebut paham arti dari sebuah perhatian yang harus diberikan kepada anak-anak.
Segera menghampiri dan berlutut di depan Lily’ami, perempuan rambut pirang pudar tersebut segera memegang kedua pundak anak tersebut dan bertanya, “Apa kamu sudah makan?”
Meski ditanya seperti itu, Lily’ami hanya bisa terdiam. Tidak berani menatap langsung mata Racine, merasa sangat asing dan mulai gemetar dalam rasa takut.
Merasakan tatapan Racine semakin kuat, pada akhirnya anak perempuan tersebut mulai berkaca-kaca seakan ingin menangis lepas. Wajah mengerut seperti kain kusut, lalu ingus sedikit keluar.
Racine sedikit terkejut saat melihat mimik wajah seperti itu, lalu pada saat yang sama langsung panik. Kedua alis naik bersama kening yang mengerut, tampak bingung harus berkata apa.
Sebagai putri bungsu ia tidak tahu cara menghadapi anak kecil. Bola mata bergerak ke kanan dan kiri, tangan melambai-lambai kacau tanpa berani memegang Lily’ami lagi.
__ADS_1
Melihat tingkah canggung yang Racine perlihatkan, Mitranda tersenyum kecil. Sedikit lega karena beberapa saat yang lalu Putrinya tersebut selalu memperlihatkan ekspresi cemas, tampak memaksakan diri. Baik dalam pekerjaan ataupun kewajibannya sebagai orang yang memikul gelar Knight.
Di tengah momen tersebut, seakan tiba-tiba muncul Ferytan Loi hadir di antara mereka. Berdiri di belakang Lily’ami, pria tua tersebut bertanya, “Apa yang sedang kalian lakukan?”
Racine seketika terkejut, sampai jatuh dengan pantat mendarat di lantai. Menatap pria yang benar-benar menyembunyikan hawa kehadirannya, perempuan rambut pirang pudar tersebut hanya bisa terkesima.
Pada saat yang sama, Mitranda juga tersentak karena tidak menyadari kehadirannya sampai pria tua tersebut berbicara. Dalam benak, ia merasa bahwa pria tua itu mengalahkan Prajurit Elite bukan karena sebatas permainan politik saja. Namun, merupakan pencapaian dari kemampuan yang dimiliki.
“Ti-Tidak apa-apa, Tuan Ferytan.” Racine segera berdiri, lalu memperlihatkan rasa bersalah dan menyampaikan, “Hanya saja …, kami sepertinya lupa dengan keberadaan anak Anda. Mungkin, ia belum makna sejak sarapan tadi pagi.”
“Anak?” Ferytan merasa ada sebuah kesalahpahaman. Sembari meletakan tangan ke atas kepala anak perempuan di hadapannya, pria tua tersebut dengan tegas menjelaskan, “Karena sepertinya Nona Racine salah paham, jadi biar saya luruskan dulu …. Lily’ami bukanlah anak kandung saya, namun ia sudah saya anggap sebagai keluarga.”
“Berarti sudah seperti Putri sendiri, bukan?” tanya Racine seakan-akan ingin menekankan.
“Bukan ….” Ferytan menatap datar. Bersikeras tidak ingin menganggap Lily’ami sebagai anaknya, pria tua tersebut menyampaikan, “Asal Nona tahu, dia ini sudah seperti keponakan saya. Lagi pula, Lily’ami juga memanggil saya dengan sebutan Paman. Karena itu, tidak mungkin saya menjadi ayahnya.”
Logika semacam itu membuat Racine menyipitkan mata, menghela napas ringan dan menyerah pada hal seperti itu. Mengingat kembali bahwa anak kecil yang dibicarakan belum makan sejak sarapan, Putri Bungsu Keluarga Quidra segera menatap lurus.
“Ngomong-omong, Tuan Ferytan dan Lily’ami mau makan dulu?”
Pertanyaan tersebut membuat sang pria tua terdiam. Ia dengan cepat mengingat kembali pesan yang Odo titipkan sebelumnya. Menghela napas sekali, pria tua itu memasang senyum tipis menjawab, “Baiklah, sekalian kalian berdua istirahat. Dan juga, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kalian.”
“Bicarakan?” Racine sedikit memiringkan kepala.
“Hmm ….” Ferytan mengangkat telunjuk kanan, lalu dengan mimik wajah serius menjawab, “Ini pesan yang Tuan Odo titipkan untuk Nona Racine dan Nyonya Mitranda. Mungkin hal tersebut bisa membuat kalian berdua sedikit lebih tenang ….”
Apa yang dikatakan pria tua tersebut membuat Racine tertegun. Kedua mata terbuka, wajah memperlihatkan ekspresi cemas bercampur rasa takut.
Mitranda yang awalnya tak ingin ikut makan malam segera berubah pikiran, meletakan pena ke atas meja dan melangkah keluar dari balik meja kerja. Benar-benar memperlihatkan mimik wajah ingin mendengar pesan yang Odo Luke titipkan.
ↈↈↈ
__ADS_1