Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[107] Serpent VII – Saraḷa Aastitva (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Setiap pertemuan memiliki arti, lalu perpisahan pun bisa memberikan makna meski itu hanya sekadar berpapasan. Dalam sebuah kehidupan yang dijalani semua orang, dua hal tersebut akan selalu menemani mereka sampai akhir perjalanan.


 


 


Tertawa-ria bersama di bawah langit cerah, menangis kesepian dalam dinginnya malam gelap, atau bahkan berbagi penderitaan dalam sebuah musibah. Semua itu memiliki arti, lalu makna mengikuti setelah waktu berlalu dan momen tersebut dikenang kembali.


 


 


Meski dunia telah berganti dan waktu yang sangat panjang berlalu, Odo Luke tetap menghargai semua itu. Memberikan makna kepada semua pertemuan dan perpisahan yang telah terlewat, mendekap semua kenangan tersebut meski tidak sempurna dan penuh lubang.


 


 


Tepat setelah keluar dari dalam Pohon Suci, pemuda rambut hitam tersebut langsung terperangah. Dengan tanpa alasan kaki berjalan di atas rerumputan hijau, menyadari sensasi asri yang cukup membuatnya merasakan nostalgia.


 


 


Pemandangan yang pemuda itu lihat mirip seperti dongeng, kisah tentang pertemuan penebang muda dengan Dewi Danau di dalam sebuah hutan. Tentu saja itu merupakan cerita mistis yang memiliki pesan moral sederhana, tentang karma karena tindakan serakah dan tamak.


 


 


Namun, bukan hal tersebut yang membuat Odo terkejut. Tepat setelah membuka kedua mata, pemandangan yang tampak di hadapannya sangat berbeda dari ingatan. Pemuda itu segera melihat sekeliling, memperlihatkan mimik wajah cemas seakan sedang mencari seseorang.


 


 


“Apa-apaan reaksi berlebihan itu, engkau sedang pura-pura lagi?” Sembari menggandeng Alyssum dan berjalan mendekat, Leviathan menepuk pundak pemuda itu dari belakang dan menyampaikan, “Kita sudah membicarakannya tadi, bukan? Realm ini telah berubah, tepatnya berkembang dan naik ke tingkat dimensi yang lebih stabil.”


 


 


“Ini bukan sekadar naik ….”


 


 


Sejenak menarik napas dalam-dalam, Odo Luke berusaha mencerna situasi yang ada. Berusaha memahami perubahan drastis yang terjadi pada Dunia Astral, lalu melakukan kalkulasi untuk memastikan beberapa hal terkait susunan dimensi pada Realm tersebut.


 


 


Perubahan itu bisa dikenali dengan sangat mudah, baik itu secara visual ataupun melalui udara yang menerpa kulit. Baik itu Pohon, dedaunan, rerumputan, dan bahkan seluruh tanaman yang dulunya memiliki warna Hue Saturation telah lenyap.


 


 


Sebagai gantinya, berbagai macam tanaman yang biasa tumbuh di Dunia Nyata sepenuhnya mengisi hutan di sekitar Pohon Suci. Cemara berjejer rapi dengan dedaunan yang terlihat rimbun, diselingi oleh beberapa oak, jati, serta mahoni yang tampak masih muda.


 


 


Rerumputan yang sebelumnya sedikit runcing berganti menjadi alang-alang, melambai halus saat tertiup angin dengan bunga putih layaknya helai bulu. Tumbuh tidak lebih tinggi dari betis, sedikit lembap dan masih basah karena sisa-sisa embun.


 


 


Lumut pada bebatuan dan batang pohon, jamur di sekitar pepohonan, dan bahkan sampai bunga pun terlihat seperti tanaman dari Dunia Nyata. Benar-benar mirip, tanpa sedikitpun ciri untuk pembeda.


 


 


Tanah berwarna kecokelatan, sedangkan bebatuan gelap agak keabu-abuan. Ciri dan identitas Dunia Astral seakan telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh semua hal itu.


 


 


Merasakan perubahan yang ada melalui kulit, Odo segera paham bahwa aliran Ether pun ikut terpengaruh. Udara tidak lagi kaya dengan Mana, semuanya terasa hambar. Seakan energi kehidupan yang melimpah telah tersebar secara penuh, lalu digunakan untuk menata ulang susunan dimensi Realm tersebut.


 


 


Sekitar beberapa ratus meter dari tempat Odo berdiri, sebuah danau terlihat dengan ukuran yang cukup besar. Sebuah tempat yang sebelumnya tidak ada dalam ekosistem Pohon Suci. Sedikit ditutupi pepohonan rimbun dan akar-akar pohon, lalu menjadi tempat berkumpul dan minum beberapa Roh Tingkat Atas berbentuk hewan.


 


 


Meski ekosistem sepenuhnya telah berubah, penghuni yang ada di Teritorial Pohon Suci tidak terlalu terpengaruh. Mereka masih memiliki bentuk hewan dengan tanda-tanda tumbuhan pada tubuh, lalu sebagian ada yang cenderung mirip seperti manusia.


 


 


Saat melihat mereka baik-baik saja, untuk sesaat Odo merasa lega. Paham bahwa dampak pertarungan tidak terlalu mempengaruhi bangsa Roh di sekitar Pohon Suci. Tetapi ketika dirinya sedikit mendongak dan melihat langit, rasa lega tersebut seketika sirna.


 


 


Lubang hitam pada batas dimensi yang hancur memang telah lenyap. Langit terlihat sangat normal dan cerah, bahkan sumber cahaya berupa matahari terlihat sangat jelas dari tempatnya berdiri.


 


 


Saat tubuhnya merasakan paparan hangat sang mentari, Odo lekas mengambil satu kesimpulan terakhir. Paham bahwa Realm baru yang sempurna telah tercipta, sebagai cerminan kecil dari Dunia Nyata yang telah ada.


 


 


“Dewi sialan itu, dia tidak hanya sekadar memperbaiki Dunia Astral!! Ini … sepenuhnya Rekonstruksi? Atau malah … sebatas Restorasi?” benak Odo dengan cemas.


 


 


Segera memejamkan kedua mata dan menyebarkan Mana ke sekitar, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menyadari inti perubahan yang terjadi. Itu terjadi pada aspek-aspek yang tidak kasatmata, cenderung mencangkup konsep struktur Dunia.


 


 


“Distorsi spasial telah lenyap?” Odo segera menoleh ke belakang, menatap Leviathan dengan wajah pucat dan bertanya, “Roh Tingkat Rendah juga tidak ada di mana-mana? Kenapa?”


 


 


Mendengar pemuda itu bertanya tanpa rasa bersalah, Leviathan langsung mengerutkan kening dengan sangat kesal. Berhenti menggandeng Alyssum dan menghampiri Odo, Putri Naga lekas menarik kerah rompi pemuda itu dengan kencang.


 


 


“Memangnya pelaku berhak bertanya seperti itu, huh?! Jangan berlagak bodoh lagi!!”


 


 


Perempuan muda tersebut memancarkan aura sihir yang sangat kuat, iris mata violet miliknya berubah pipih seperti reptil. Mengepalkan tangan kencang-kencang, ia langsung mengayunkan tangannya dan hendak memukul wajah Odo.


 


 


“Hentikan!!” Alyssum menahan tangan Leviathan, memeluknya dengan erat dan kembali meminta, “Tolong jangan pukul Papa ….”


 


 


Melihat ekspresi sedih Roh Kecil itu, amarah Leviathan langsung padam. Meskipun mengurungkan niatnya untuk memukul Odo, namun tetap saja sang Putri Naga tidak bisa menyembunyikan kebencian yang meluap. Ia menatap tajam ke arah sang pemuda, menggertakkan gigi layaknya pemangsa yang siap menerkap kapan saja.


 


 


Ekspresi tersebut cukup untuk membuat Odo memahaminya, baik itu tentang persepsi Leviathan ataupun amarahnya yang harus diarahkan kepada seseorang. Hal tersebut tidak bisa dibendung oleh kalimat ataupun penjelasan, hanya bisa dihilangkan dengan pembalasan.


 


 


Apapun alasannya, di mata Leviathan pemuda itu adalah pelaku kejahatan. Sumber malapetaka yang menimpa Keluarga Naga Agung, inkarnasi dari kekacauan yang melanda seluruh dunia. Pemicu kiamat yang melenyapkan peradaban pada masa lampau.


 


 


Karena itulah, kebencian itu takkan hilang sampai terbalas. Meskipun kakaknya berkata bahwa Odo Luke bukanlah musuh, persepsi Leviathan tetap tidak akan berubah dengan mudah.


 


 


“Aku tahu kau membenci diriku ….” Odo menarik napas dalam-dalam, berusaha tenang dan berlagak dingin di hadapan Leviathan. Mengambil peran layaknya orang dungu yang tidak berperasaan, ia perlahan melebarkan senyum tipis sembari berkata, “Itu adalah pilihanmu, aku tidak punya hak untuk melarangnya. Namun ….”


 


 


“Namun apa?”


 


 


Leviathan tidak menurunkan tekanan sihirnya. Hal tersebut menarik perhatian beberapa Roh Tingkat Menengah dan Atas, membuat suasana di sekitar tempat tersebut menjadi tegang dan menyudutkan Odo.


 


 


“Bisakah kau menjawab pertanyaanku?” Pemuda rambut hitam itu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, menunjuk lurus ke arah langit dan memperlihatkan mimik wajah serius. Sembari memancarkan aura sihir tipis, dengan nada tegas dirinya memastikan, “Apakah kau tahu cahaya apa yang ada di atas itu?


 


 


“Cahaya?” Leviathan mendongak, menatap langit yang Odo tunjuk dan menjawab, “Tentu saja matahari, sungguh pertanyaan konyol! Engkau sedang membuat muslihat lagi?!”


 


 


“Matahari?” Odo sedikit memiringkan kepala. Memasang mimik wajah cemas, ia dengan nada tegas kembali bertanya, “Tepat di dalam Realm ini memangnya ada matahari?”


 


 

__ADS_1


“Apa yang aneh? Waktu di dalam sudah diriku katakan, bukan? Dunia Astral mengalami pergeseran tingkat dimensi, jadi Realm ini⸻!”


 


 


Perkataan Leviathan terhenti, merasa telah melewatkan hal yang sangat penting dan lekas menatap Odo dengan pucat. Hal itu seharusnya sangat sederhana, mudah disadari dan terlihat dengan sangat jelas.


 


 


Karena telah tertidur di dasar Laut Utara dalam waktu lama, persepsi Putri Naga melenceng dan membuatnya melewatkan hal penting tersebut.


 


 


Meski ada bulan yang tampak saat malam, Dunia Astral seharusnya memiliki matahari. Cahaya yang terpancar dari langit saat pagi adalah refleksi dari dimensi yang lebih tinggi. Dengan kata lain, itu hanyalah sisa-sisa cahaya yang merembas melalui batasan kluster Realm.


 


 


Memang ada beberapa momen ketika matahari tampak jelas di Dunia Astral. Namun, itu hanyalah refleksi dan terusan cahaya dari Dunia Nyata. Bukan karena sang mentari benar-benar ada di dalam Realm para Roh tersebut.


 


 


Karena itulah, matahari yang terlihat di Dunia Astral seharusnya menjadi sesuatu yang abstrak. Tidak bisa memapar daratan dengan suhu hangat yang jelas, sebab terhalau oleh beberapa lapisan dimensi dan tingkat informasi.


 


 


Tetapi, sekarang sinar mentari benar-benar memapar daratan para Roh. Suhu hangat tersampaikan dengan sangat jelas, sinarnya juga bisa dinikmati seluruh makhluk yang ada. Memberikan efek yang sangat mirip dengan matahari di Dunia Nyata.


 


 


“Apa diriku salah mengambil kesimpulan?” Amarah yang mengisi benak Leviathan tergantikan oleh rasa takut. Sembari menutup mulut dan memalingkan pandangan, Putri Naga itu dengan gelisah bergumam, “Kalau bukan pergeseran dimensi, lantas apa yang terjadi? Jangan bilang kalau Dunia Nyata dan Dunia Astral menyatu?!”


 


 


“Dunia tidak menyatu, masing-masing Realm punya kluster dimensi yang tidak bisa dibantah batasannya.” Odo menurunkan tangannya. Meletakkan telunjuk ke kening, pemuda rambut hitam tersebut dengan nada angkuh menyampaikan, “Kalaupun menyatu, keduanya akan hancur dan dunia baru akan tercipta dengan konsep yang sangat berbeda.”


 


 


“Kenapa engkau bisa seyakin itu?” Putri Naga menyipitkan tatapan, merasa tidak nyaman dengan alur pembicaraan yang berlangsung. Setelah menarik napas dalam-dalam, dengan nada tegas wanita muda itu bertanya, “Engkau tahu itu dari mana?”


 


 


Perlahan Leviathan melangkah mundur, memberikan tatapan curiga yang bercampur dengan takut. Penyesalan seketika membuat benaknya menjadi keruh, merasa bahwa membiarkan Odo keluar dari Pohon Suci adalah sebuah kesalahan fatal.


 


 


“Dulu pernah ada gudang arsip yang menyimpan data penelitian semacam itu.” Odo tersenyum tipis, lalu berbaik dari lawan bicara dan menatap ke arah danau. Sembari melipat kedua tangan ke belakang, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Di antaranya ada yang menjelaskan tentang efek gravitasi terhadap lapisan dimensi. Pada beberapa folder lain, ada juga yang membahas batasan kluster dimensi dan Realm.”


 


 


“Gudang … arsip?”


 


 


Hal tersebut bukanlah hal aneh bagi bangsa Naga Agung. Sistem arsip untuk menyimpan hasil penelitian, pengetahuan umum, atau bahkan catatan sejarah juga pernah digunakan oleh Keluarga Naga Agung.


 


 


Namun, tetap saja perkataan Odo terdengar sangat gila bagi Leviathan. Hal seperti penelitian terhadap kluster dimensi, Realm, efek gravitasi, atau bahkan konsep dunia sangat tidak mungkin untuk dilakukan.


 


 


Itu adalah sebuah kodrat yang tidak bisa dilanggar, sebab pada dasarnya semesta yang bisa ditinggali oleh seseorang hanyalah satu. Meskipun ada semesta lain yang bisa diamati, kontak ataupun interpretasi hampir mustahil untuk dilakukan.


 


 


Dijelaskan secara sederhana, penelitian yang mencangkup hal-hal tersebut takkan pernah bisa direalisasikan. Itu karena eksistensi semesta saling memengaruhi, lalu eksperimen semesta juga berarti mempermainkan seluruh entitas yang ada di dalamnya.


 


 


Jika penelitian tersebut benar-benar pernah dilakukan, eksperimen yang berlangsung pasti juga mencangkup tentang penghancuran dan penataan ulang semesta. Sebuah tindakan yang benar-benar mendekati konsep Kemahakuasaan.


 


 


“Apa kau penasaran?” Odo kembali menghadap ke arah wanita muda tersebut. Sembari melempar senyum tipis, ia mengacungkan telunjuk ke depan mulut sembari menawarkan, “Kalau mau, aku bisa memberimu pengetahuan dari arsip itu.”


 


 


“Huh!” Leviathan mengendus ringan. Melipat kedua tangan ke depan dan memalingkan pandangan, wanita muda tersebut dengan ketus mengelak, “Untuk apa diriku butuh pengetahuan tabu? Membawa petaka saja!”


 


 


 


 


“A⸻!” Putri Naga langsung tersentak, wajahnya seketika memucat dan enggan untuk menatap lawan bicaranya. Segera memalingkan pandangan, dengan suara pelan wanita muda tersebut balik bertanya, “Bicara apa engkau ini …, memangnya apa yang harus diperbaiki? Dunia Astral memang telah berubah, namun tidak ada yang salah dari tempat ini.”


 


 


“Aneh sekali ….” Odo menyeringai tipis. Memperlihatkan mimik wajah suram dan menatap tajam, pemuda rambut hitam tersebut kembali bertanya, “Kalau begitu, untuk apa kau membantu Alyssum? Bahkan sampai meminjamkan kekuatanmu untuk mempertahankan ekosistem Pohon Suci ….”


 


 


“Apa yang engkau bicara⸻?!”


 


 


Sebelum Leviathan membuat alasan untuk menyembunyikan fakta tersebut, Odo berbalik dan menunjuk ke arah danau. Ia tidak berkata apa-apa, hanya melempar senyum tipis seakan ingin menyampaikan sesuatu dengan itu.


 


 


“Tak perlu mengelak,” ujar Odo Luke dengan tegas. Seraya berhenti menunjuk dan memasang wajah sedih, ia dengan lemas menyampaikan, “Aku akan membantu. Lagi pula, Dunia Astral menjadi seperti ini karena salahku juga.”


 


 


“Memangnya engkau tahu apa soal kondisi di sini?” Leviathan berjalan mendekat. Menatap pemuda rambut hitam itu dari dekat, dengan mimik wajah kesal ia menegaskan, “Diriku masih tidak percaya dengan engkau! Bukannya memperbaiki, bisa-bisa semuanya malah tambah rusak!”


 


 


“Aku tahu ….” Odo menyipitkan tatapan. Berhenti tersenyum dan sepenuhnya memasang wajah serius, ia dengan nada sedikit sendu berkata, “Karena perubahan kondisi spasial dan struktur dimensi, setiap ekosistem di Dunia Astral takkan bisa lagi melahirkan Roh Tingkat Rendah. Jika dibiarkan begitu saja bangsa Roh bisa punah, lalu dunia ini perlahan akan memasuki fase hibernasi sampai dihuni makhluk lain.”


 


 


“Pemilihan kata yang berlebihan ….” Putri Naga menjauhkan wajah. Seraya memasang ekspresi meremehkan, dengan nada tidak percaya wanita muda itu berkata, “Bangsa Roh punya jangka hidup yang sangat panjang. Meskipun yang engkau katakan benar, masalah itu baru akan muncul ribuan tahun kemudian! Bukan sekarang!”


 


 


“Lantas kenapa terburu-buru?” Odo kembali berbalik dari lawan bicara, menatap ke arah langit seraya berkata, “Setelah tahu kondisinya lebih parah, kau langsung memucat seperti itu ….”


 


 


“Omong kosong!”


 


 


Pancaran sihir Leviathan semakin kuat. Dalam radius sepuluh meter lebih dari tempatnya berdiri, kandungan air pada seluruh tumbuhan mulai terserap. Berkumpul dan melayang ke udara layaknya gelembung, memancarkan sinar biru terang layaknya gumpalan energi.


 


 


Seraya menunjuk lawan bicaranya, wanita muda tersebut membentak, “Lagi pula, semua ini terjadi karena engkau⸻!!”


 


 


“Ini memang salahku,” sela Odo tanpa rasa takut. Berjalan mendekati Leviathan, ia melewati semua gelembung tanpa gentar sedikitpun. Berdiri tepat di hadapan sang Putri Naga dan mendekatkan wajah, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas berkata, “Sepenuhnya ini adalah kesalahanku.”


 


 


“Eh?”


 


 


Leviathan tidak bisa membalas, tubuhnya langsung gemetar dan tanpa sadar malah melangkah mundur. Gelembung yang mengelilinginya pun pecah, kandungan air tersebut jatuh ke tanah dan kembali diserap oleh tumbuhan di sekitar.


 


 


“Situasi ini adalah salahku.” Odo sedikit menjauhkan wajah. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada, pemuda rambut hitam tersebut dengan lapang berkata, “Karena itulah, aku ingin membantu kalian.”


 


 


“A-Apa yang engkau bicarakan?” Leviathan semakin tidak percaya. Sembari menggandeng Alyssum dan menjauh dari sang pemuda, ia dengan gemetar segera menolak, “Tidak perlu! Orang sepertimu tidak bisa dipercaya! Pasti engkau merencanakan hal mengerikan lagi!


 


 


“Reyah dan Vil selamat, bukan?” Odo mengulurkan tangannya seakan ingin mengajaknya ke suatu tempat. Memperlihatkan mimik wajah tenang tanpa sedikitpun kebohongan, Putra Tunggal Keluarga Luke itu memastikan, “Kalau tidak ada di sini, berarti mereka sedang berusaha memperbaiki Dunia Astral, ‘kan? Mengingat sumber masalah berasal, kemungkinan besar mereka sekarang ada di sekitar Laut Utara ….”


 

__ADS_1


 


Itu terlalu tepat untuk disebut tebakan, membuat Leviathan merinding dan sadar bahwa Odo Luke memang merupakan sebuah penyimpangan. Seakan-akan pemuda tersebut adalah wujud dari Kemahatahuan itu sendiri, sosok singularitas hidup yang bisa mengetahui segalanya.


 


 


“Sebenarnya engkau itu siapa?” Leviathan berhenti menggandeng Alyssum. Berusaha tenang dan menatap dingin, wanita muda tersebut kembali berkata, “Hanya dalam beberapa menit setelah keluar dari Pohon Suci, kenapa bisa engkau tahu semua itu?”


 


 


“Entahlah ….” Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, pura-pura tidak tahu dan balik bertanya, “Iblis? Dewa? Manusia? Atau mungkin mahluk primal? Kira-kira aku ini apa di matamu?”


 


 


“Iblis ….” Leviathan tanpa ragu menjawab. Seraya menajamkan tatapan, ia dengan serius menegaskan, “Bagiku, engkau adalah inkarnasi Iblis.”


 


 


“Kalau begitu, layaknya iblis aku akan menawarkan perjanjian.” Odo bertepuk tangan satu kali. Melebarkan senyum layaknya orang lick, dengan nada bercanda pemuda itu berkata, “Aku akan memperbaiki Dunia Astral, kubuat struktur ekosistem bekerja kembali supaya Roh Tingkat Rendah bisa terlahir lagi. Namun, sebagai gantinya engkau harus memberikan sesuatu yang setimpal.”


 


 


“Huh!?” Leviathan langsung mengerutkan kening. Merasa dipermainkan, ia langgung menunjuk lawan bicara sembari membentak, “Tadi engkau bilang ini kesalahanmu, bukan?! Engkau jelas-jelas sudah mengakui kesalahan!! Kenapa diriku harus membayar?!”


 


 


“Ini dan itu berbeda.” Odo memalingkan pandangan. Pura-pura masa bodoh dengan permasalahan yang ada, ia dengan raut wajah cengengesan berkata, “Lagi pula, jika kau tidak ikut campur mungkin perbaikan Dunia Astral akan lebih mudah. Sungguh! Kau sama merepotkannya dengan Seliari!”


 


 


“Huh?!” Leviathan dengan mudah terpancing layaknya ikan kelaparan. Berjalan mendekat dan menunjuk dari dekat, Putri Naga itu dengan kesal membentak, “Sekarang malah menyalahkan diriku?! Apa-apaan engkau ini!”


 


 


“Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, hanya mengatakan yang sebenarnya.” Odo sejenak menarik napas ringan. Ingin membuat suasana sedikit memanas, pemuda rambut hitam tersebut tersenyum tipis dan menyampaikan, “Semburan napas nova yang melubangi batas Realm dan menghancurkan distorsi spasial. Asal kau tahu, dampaknya itu lebih parah dari apa yang kalian pikirkan.”


 


 


“Apa … yang engkau bicarakan?” Leviathan tertegun. Meskipun paham dengan apa yang Odo sampaikan, benaknya tidak ingin menerima hal tersebut.


 


 


“Sejauh yang aku tahu, efek semburan nova itu sangatlah mematikan….” Odo menarik napas dalam-dalam. Sembari mengacungkan telunjuk dan meletakkannya ke kening, Putra Tunggal Keluarga Luke itu lanjut menjelaskan, “Bahkan, Kemahakuasaan milik Dewi Helena tidak bisa memulihkan semuanya secara penuh.  Kerusakan yang ada malah ditimpa dengan susunan informasi lainnya, seperti menambal benda rusak dengan perekat.”


 


 


“Huh!” Leviathan mengendus kasar. Memalingkan pandangan dan mulai gemetar, dengan nada tidak percaya ia mengelak, “Engkau pikir diriku akan percaya? Omong kosong! Itu pasti hanya muslihat! Iblis memang suka menipu!”


 


 


“Muslihat, ya ….” Odo menyipitkan mata, ingin meluruskan kesalahpahaman yang ada dengan menyampaikan kebenarannya. Namun, ia mengurungkan niat tersebut karena paham itu hanya akan berakhir percuma. Seraya melempar senyum miris, sang pemuda dengan pasrah berkata, “Terserah kau sajalah.”


 


 


Leviathan terkejut melihat ekspresi seperti itu, begitu pula Alyssum yang berdiri di sebelahnya. Mereka lekas paham bahwa Odo sudah lelah dengan pembicaraan dan semua masalah yang ada, hanya ingin menyelesaikannya dan segera pergi.


 


 


“Kalau boleh bertanya, diriku ingin memastikan sesuatu.” Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Leviathan kembali mendekat sembari menatap tajam. Ia menunjuk lurus lawan bicaranya, lalu dengan nada penuh rasa ragu bertanya, “Kenapa … napas nova bisa sangat mematikan? Diriku tahu itu mematikan, namun mengapa itu bisa sampai merusak susunan dunia secara permanen?”


 


 


“Bagaimana menjelaskannya, ya ….” Odo memperlihatkan mimik wajah malas. Muak dengan pembicaraan yang terkesan berputar-puar, dengan nada enggan pemuda itu lekas menjelaskan, “Asal kau tahu, napas nova milikmu itu sangat mirip dengan Api Penyucian. Bisa menghancurkan seluruh informasi, bahkan menghapus riwayat kehancuran sehingga tidak bisa dipulihkan.”


 


 


“Api Penyucian? Riwayat kehancuran? Bicara apa engkau ini?”


 


 


Leviathan tidak bisa memahaminya dengan jelas. Meski samar-samar maksudnya bisa ditangkap, hal tersebut terlalu abstrak dan sukar diterima akal sehat.


 


 


“Sudah ku duga tidak paham ….” Odo menghela napas dan memaklumi hal tersebut. Setelah memikirkan kalimat yang lebih sederhana, pemuda rambut hitam tersebut menunjuk ke depan sembari lanjut menjelaskan, “Intinya, apa yang ingin aku katakan hanya satu. Jangan pernah menyemburkan napas nova lagi. Jika kau melakukannya, mungkin Dunia Astral pasti akan hancur. Itu bisa mempengaruhi susunan dunia lain dan mendatangkan kiamat.”


 


 


“Tanpa engkau bilang pun diriku tidak akan menggunakan itu lagi.” Leviathan sedikit mengerutkan kening, merasa penjelasan itu tidak menjawab pertanyaan. Sembari melipat kedua tangan ke depan dada, Putri Naga itu dengan cemas menyampaikan, “Waktu itu, Ayunda juga pernah melakukan hal serupa dan benar-benar mendatangkan kiamat bagi Dunia Nyata. Peradaban yang dibangun bangsa Naga Agung, semuanya lenyap tanpa sisa ditelan luapan cahaya.”


 


 


“Sebentar!” Odo sedikit terkejut. Berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan Putri Naga, ia mendekatkan wajah sembari memastikan, “Kesadaranmu kembali sejak saat itu? Bukannya itu sudah lama sekali …?”


 


 


“Hmm ….” Leviathan mengangguk ringan. Balik menatap lawan bicara, dengan nada sedikit kesal wanita muda itu menjelaskan, “Tepatnya setelah terpapar napas nova Ayunda. Namun, sayangnya sang Dewi langsung memasang belenggu lain dan menjadikan kami berdua budaknya.”


 


 


“Kami?” Odo kembali terkejut, samar-samar merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan.


 


 


“Mariana, yang termuda di antara kami bertiga,” jawab Leviathan ketus. Setelah menghela napas ringan, ia menggelengkan kepala sembari berkata, “Jujur saja, diriku tidak tahu tentang kondisinya sekarang. Meski Kutukan Kegilaan perlahan melemah karena semburan Ayunda, dia sama sekali tidak melawan dan langsung tertangkap penduduk kayangan.”


 


 


“Walah!” Odo menghela napas kasar, memalingkan pandangan dan bergumam, “Entah mengapa aku tahu alur semacam ini?”


 


 


“Hmm? Alur?” Leviathan sedikit terusik.


 


 


“Aku pernah membicarakan hal seperti ini dengan Seliari.” Odo sedikit memasukan bibirnya ke dalam mulut. Sembari memalingkan pandangan, dengan nada resah pemuda itu berkata, “Entah mengapa, ujung-ujungnya dia malah minta bantuanku untuk menyelamatkan kau.”


 


 


“Be-Berarti setelah ini engkau mau menyelamatkan Adinda?!” tanya Leviathan dengan penuh rasa berharap.


 


 


“Enggak! Capek!” Odo menjawab dengan cepat. Memperlihatkan mimik wajah malas dan sangat enggan, pemuda rambut hitam tersebut dengan ketus berkata, “Kau tahu, masalah yang harus ku selesaikan masih banyak. Mungkin tahun depan baru bisa ….”


 


 


“Ugh! Sudahlah!” Leviathan seketika kecewa. Memalingkan pandangan dan memasang mimik wajah cemberut, Putri Naga itu dengan kesal berkata, “Naif sekali diriku sampai-sampai mau meminta bantuan Iblis sepertimu! Sudahlah! Diriku tidak butuh bantuan makhluk semacam engkau! Diriku akan menolong Mariana sendiri!”


 


 


“Kau punya sifat yang aneh, ya ….” Kening Odo berkedut ringan saat mendengar ucapan tersebut. Sembari meletakkan tangan ke dagu dan mengamati, pemuda rambut hitam itu menyinggung, “Padahal kau punya penampilan kalem dan bermartabat, tapi kenapa kok dalamnya begitu?”


 


 


“Odo Luke! Engkau tidak pernah melihat cermin, ya?!” Leviathan lekas menunjuk kasar dengan tangan kanan. Seraya meletakkan tangan kiri ke pinggang, Putri Naga tersebut dengan lantang berkata, “Yang punya penampilan ramah tapi tidak sesuai dengan sikap bukan hanya diriku! Dasar iblis berkedok bocah!


 


 


“Ah, kau tidak mengelak.” Odo tersenyum kecut, merasa kalau sifatnya yang terus terang sedikit menyusahkan.


 


 


“Tentu saja tidak!” Leviathan berhenti menunjuk. Melempar senyum penuh rasa percaya diri, wanita muda itu dengan tegas menyampaikan, “Asal engkau tahu, Putri Naga ini tidak akan pernah menyangkal diri sendiri!”


 


 


“Sungguh bikin iri ….” Odo menghela napas ringan. Sekilas memalingkan pandangannya ke samping, sembari memelankan suara pemuda itu berkata, “Diriku takkan pernah bisa bicara seperti itu, apalagi dengan penuh rasa percaya diri.”


 


 


“Kenapa? Pesimis?” sindir Leviathan.


 


 


“Entahlah ….” Odo melempar senyum kecut. Tidak menjelaskan hal tersebut, dengan mimik wajah sedih pemuda itu menjawab, “Hanya saja, aku sudah tidak bisa lagi menyukai diriku sendiri. Ini menyedihkan memang ….”


.


.


.


.


 

__ADS_1


 


__ADS_2