
Tanpa pikir panjang dan mengerti bahwa Arca bukanlah lawan yang mudah, Letnan Dua Pasukan Peri tersebut menghentikan perapalan sihirnya di tengah proses. Ia langsung mengonversi energi yang terpusat di ujung senapan, lalu mengambil cartridge dari salah satu saku rompinya.
Seketika energi yang terkonversi tersebut memadat di dalam cartridge dan berubah menjadi peluru sihir. Rune yang melayang di sekitar selongsong senapan pun mengalami Shift fungsi dengan cepat, dari penstabil menjadi booster dari senapan.
Memasukkan cartridge dan mengisi senjatanya dengan peluru, Laura langsung menodongkan laras M1 Garand ke arah Arca. Tanpa ragu Elf tersebut menarik pelatuknya dan menembakkan peluru sihir.
Menyadari serangan tersebut dari ancang-ancang sang Elf, Arca membuka halaman lain dari Et in Caelesti. Tepat sebelum sihir mengenai tubuhnya, sebuah distorsi ruang terjadi di sekitarnya dan proyektil sihir pun berbelok tajam tanpa mengenainya.
Namun saat baru melewati Arca sejauh beberapa puluh meter, tiba-tiba peluru tersebut meledak dan memencarkan gelombang kejut ke arahnya. Membuat tubuh Arca terdorong semakin tinggi. Datangnya hentakan dari arah bawah membuatnya tidak bisa melakukan antisipasi, ia hanya bisa melakukan akselerasi dan meloncat menggunakan udara yang dipadatkan.
“Gawat, ledakannya terlalu kuat!”
Tubuh Arca semakin terdorong ke atas, membuatnya tidak bisa bergerak bebas meski bisa memanipulasi udara yang menyentuh tubuhnya. Melihat Laura telah membidik akurat dan bersiap menarik pelatuk lagi, Arca segera memanipulasi daya dorong dari bawah dan mengubahnya menjadi daya tarik.
Suara tembakkan kembali terdengar, proyektil sihir pun melesat dengan kecepatan tinggi dan tempat mengarah ke arah dada Arca. Namun pada selisih milidetik, daya dorong yang diubah menjadi daya tarik membuat posisi Putra Sulung Keluarga Rein tersebut tidak stabil dan pada akhirnya berputar kacau di udara.
Dalam putaran tidak beraturan tersebut, proyektil dengan sihir penetrasi kuat hanya menyerempet tipis bahu kanannya dan melesat lurus sebelum pada akhirnya menghilang setelah melesat sejauh 500 meter dari moncong senapan.
Arca memadatkan udara dengan tangan kirinya dan dijadikan pegangan, menstabilkan kembali posisi tubuhnya dan berpijak di udara. Membuka halaman lain dari Et in Caelesti di tangan kanannya, pemuda rambut pirang tersebut dengan lantang berteriak, “HAAAA!!!” Resonansi suara dimanipulasi melalui kemampuan penguasaan, lalu diubah menjadi tombak suara yang melesat lurus ke arah Laura.
“Sihir suara? Bukannya dia seorang Native Overhoul?”
Suara memang tidak bisa ditangkap oleh mata Laura. Namun berkat sihir sensor yang masih aktif, ia dengan jelas bisa melihat perubahan getaran kuat di udara yang bergerak mendekat. Mengepakkan sayapnya, ia langsung menaikkan ketinggian dan dengan mudah menghindar.
“Jangan pergi kau!”
Arca membuka halaman lain Et in Caelesti. Setelah itu, ia segera mengambil tanah dan pasir dari saku yang sebelumnya dia bawa dari permukaan. Menyebarkannya ke udara, tanah dan pasir tersebut berubah menjadi jarum runcing dalam jumlah puluhan. Memaui resonansi di udara, ia pun memanipulasi momentum dan vektor jarum-jarum tersebut.
Dengan sangat akurat, jarum-jarum tanah dan pasir melesat ke arah Laura dan mengincar senjatanya. Menyadari ketidakwajaran yang ada, seketika Prajurit Peri tersebut paham bahwa kemampuan Arca memang bergantung pada buku yang dipegang pemuda itu.
Tidak menghindar dan hanya mengulurkan tangan kiri ke depan, Laura menepis semua jarum tanah dengan pelindung yang sebelumnya dirinya gunakan untuk menahan panas sihir radiasi. Namun, apa yang dilakukannya tersebut adalah kesalahan.
Resonansi kekuatan ⸻ Dengan menggunakan Et in Caelesti, Arca memang hanya bisa memanipulasi objek yang secara langsung pernah bersentuhan dengan kulitnya. Namun, bukan berarti setelah tidak bersentuhan objek tersebut akan lepas dari kemampuannya. Selama dirinya tidak menutup atau mengganti halaman buku, kekuatannya pada sebuah objek bisa terus aktif jika dirinya menghendaki.
Jarum-jarum tanah yang hancur setelah menabrak pelindung Laura mulai memadat kembali, lalu membentuk jarum-jarum lain dan siap mengincar Elf tersebut dari arah 360 drajat. Tetapi seakan tidak memedulikan semua jarum yang siap mendarat di tubuhnya, Laura malah menodongkan senapannya dan bersiap melancarkan sihir lainnya.
Serangan dari kedua kubu pun berhenti, sadar bahwa keduanya berada di posisi seperti saling menodongkan benda tajam ke leher masing-masing. Arca mengerti bahwa dalam jarak tersebut tidak memiliki ruang untuk mengelak seperti sebelumnya, sedangkan Laura dengan jelas tahu bahwa dirinya tidak bisa memasang sihir pelindung yang kuat untuk menghalau semua jarum setelah menarik pelatuk karena fokus distribusi Mana akan terbagi.
“Bisa engkau jelaskan mengapa tiba-tiba menyerang diriku?” tanya Laura sembari berusaha membuat Arca lengah. Paham bahwa kemampuan Putra Sulung Keluarga Rein itu sebagai Native Overhoul memiliki banyak variasi dan sangat berbeda dari yang dirinya tahu dari beberapa informan, ia mempertimbangkan ancaman tipe kemampuan serangan lainnya dan ingin mengorek informasi dengan kembali bertanya, “Bisa kita hentikan dulu dan berbicara? Pasti ada kesalahpahaman di sini⸻!”
“Diamlah ….”
__ADS_1
Arca langsung membalik halaman lain Et in Caelesti, lalu mengubah kembali jarum-jarum menjadi tanah dan butiran pasir yang tersebar di udara. Pada detik yang sama, Laura menarik pelatuk dan menembakkan proyektil sihir penetrasi ke arah Arca.
Dibaliknya halaman buku memang membuat kekuatannya yang terpasang pada jarum dan tanah pasir hilang. Namun, sebagai gantinya kemampuan untuk memanipulasi ruang yang ada di sekitar tubuhnya kembali. Proyektil yang melesat ke arahnya pun berbelok, melengkuk tajam dan sama sekali tidak bisa menyentuhnya seakan memang ada gelombang magnetik yang terpancar darinya.
“Sama seperti tadi?” benak Laura sembari menarik pelatuk dan menembak Arca lagi.
Suara decit terdengar keras. Untuk ketiga kalinya, proyektil kembali menukik dan tidak mengenai sasaran. Paham efek penetrasi tidak efektif untuk menyerang Putra Sulung Keluarga Rein tersebut, ia mengubah struktur sihir senjatanya dan mengganti mantra pada peluru sihir.
Melihat perubahan posisi menembak Laura yang tampak seperti memusatkan beban untuk menahan hentakan ke belakang, Arca samar-samar sadar kalau serangan selanjutnya akan berbeda. Berdiri di atas udara yang dipadatkan dan berancang-ancang, pemuda rambut pirang tersebut menunggu pergerakan sembari bersiap meloncat.
“Sihir Peledak, Bomber!”
Lingkaran sihir muncul di ujung moncong senapan Laura. Lalu, saat pelatuk ditarik dan proyektil menabrak lingkaran sihir tersebut, mantra yang ada di dalamnya terserap dan memperlambat lajunya.
Menyadari ada yang janggal dengan sihir tersebut, Acara segera meloncat menghindar sembari memadatkan udara di lengan kanannya untuk dijadikan perisai. Tepat seperti tebakannya, proyektil sihir yang melesat tersebut tiba-tiba meledak tepat saat berada di ketinggian yang sama dengan Arca.
Ledakan yang setara dengan satu kabung kecil mesiu tersebut membuat perisai udara Acara hancur, lalu kobaran api yang sekilas terpancar membakar lengan pakaian dan sedikit kulit tangan kanannya. Tubuh pemuda itu pun terdorong, namun daya ledakan tidak cukup untuk membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Berpijak dengan stabil di atas udara yang dipadatkan, Arca segera menatap lurus Laura yang masih memiliki keunggulan ketinggian sekitar beberapa puluh meter darinya. Melihat perubahan struktur sihir dan tanda-tanda pengaktifan lingkaran sihir seperti sebelumnya, pemuda rambut pirang itu segera menyadari bahwa sihir peledak tersebut bisa digunakan berkali-kali oleh musuhnya.
Sembari berancang-ancang menghindar dan menciptakan perisai padatan udara pada tangan kanan, Arca menganalisa dan dalam benak berkata, “Padahal senjatanya kecil seperti itu, tapi apa-apaan daya ledak tadi? Dalam pengetahuanku senjata api tidak sekuat itu! Apa kombinasi dengan sihir meningkatkan kekuatannya? Untuk Elf yang berasal dari Moloia, kenapa juga dia bisa memiliki jumlah Mana sebanyak itu?”
Tidak memberikan ruang seperti sebelumnya, Laura mengubah pola struktur sihir senjatanya dan menambahkan pola lain pada mantra. Lingkaran sihir pertama muncul sebagai mantra peledak, lalu di depannya muncul kembali lingkaran lain dengan efek peningkatan penetrasi untuk menambah akselerasi.
Pelatuk ditarik. Dalam satu tembakkan tersebut, proyektil menambrak dua lingkaran sihir dan kedua efek di dalamnya pun tertanam ke dalamnya. Kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya membuat Arca tidak bisa menghindari tembakkan tersebut, ia pun segera memasang perisai udara di tangan kanan untuk menahan.
Tetapi, efek penetrasi dengan mudah menembus perisai dan proyektil tepat mengenai bagian bahu kanan Arca. Itu tembus sampai ke belakang, lalu saat beberapa meter balu meledak dan membakar punggungnya yang tanpa perlindungan.
Daya ledak yang ada membuat tubuhnya terangkat ke udara. Rasa sakit luar biasa dari luka bakar yang dideritanya membuat Acar sekilas kehilangan kesadaran, sampai buku di tangan kirinya tertutup dan pengaruh kekuatan Et in Caelesti pun lenyap.
Buku yang sudah tertutup setelah digunakan kemampuannya akan secara otomatis menghilang dan kembali ke The Ritman Library. Tidak memiliki cara untuk mempertahankan ketinggian, Acara pun terjun bebas dengan posisi terbentang ke atas.
Tidak membuang kesempatan tersebut, Laura kembali membidik dan kali ini mengaktifkan mantra sihir penetrasi secara terpusat untuk menghabisi Arca. Tetapi sebelum menarik pelatuk, dirinya sekilas melihat posisi jatuh Arca menuju ke arah atap bangunan Gereja Utama.
Paham kalau Arca jatuh ke tempat tersebut dengan kondisi sekarat pasti akan menimbulkan kepanikan berlebihan dan berujung kacaunya rencana, Laura menonaktifkan sihir penetrasi yang sudah siap. Ia mengambil bayonet dari belakang pinggang, lalu memasangnya di ujung senapan dan mengaktifkan sihir vibrasi untuk meningkatkan daya penetrasi.
“Tch! Kenapa juga harus jatuh ke sana!”
Meski samar-samar dirinya sadar bahwa ada kemungkinan Arca masih belum kalah sepenuhnya dan sedang merencanakan sesuatu, Laura tetap melesat cepat ke arah pemuda itu dan mengacuhkan keunggulan ketinggian dalam pertempuran di udara. Menodongkan bayonet ke depan, ia memakai senapan layaknya sebuah tombak.
Sekilas Acara tersenyum tipis seakan telah membaca tindakan yang akan diambil Elf tersebut. Mengaktifkan The Ritman Library dan mengambil Grimoire lain, kali ini dirinya menggunakan Buku Hukum, Ferman.
__ADS_1
Membuka salah satu halamannya, ia dengan suara lirih bergumam, “Diriku adalah hakim yang adil. Hukuman Pertama atas sidang ini ditetapkan, atas penyerangan dan percobaan pembunuhan, diriku jatuhkan hukuman mati, gantung.”
Tepat pada saat masuk dalam jangkauan kemampuan Buku Hukum, tiba-tiba tali gantung dari dimensi lain muncul dan mencekik leher Laura. Efek dari hukum kausalitas (sebab-akibat) yang menjadi dasar dari kekuatan Ferman benar-benar meningkatkan kekuatan tali gantung yang menjerat leher Laura. Momentum saat dirinya melesat tajam ke bawah membuatnya tidak bisa membuat antisipasi, lalu malah menambah daya cekik dan seketika membuat kesadarannya menghilang untuk sesaat.
Manifestasi Prajurit Peri pun lenyap, koneksi dengan Dunia Astral terputus karena kesadarannya melayang dan perlahan sayap tujuh warna di belakang punggungnya terurai. Pada saat yang bersamaan, Arca segera menutup Buku Hukum, lalu menghilangkan tali yang menjerat leher Laura dan memasukkan buku kembali ke Realm miliknya.
Tanpa membuang waktu, Arca mengeluarkan catatan putih sebagai akses ke Realm The Ritman Library. Ia meludahi buku tersebut dan menyobeknya, lalu memutar posisi tubuh dan menghadap ke bawah. “Buka akses!” teriaknya sembari membuang buku catatan dengan sampul putih di tangannya.
Buku lenyap terbakar api biru. Tepat di udara, dimensi seketika retak dan rantai keluar menjerat tangan kanannya. Itu membuat momentum jatuhnya terhenti, namun pada saat yang sama membuat persendian tangannya lepas karena tiba-tiba berhenti di udara dan merasakan sakit luar biasa.
Laura yang masih belum sadarkan terus jatuh melewatinya, lalu jatuh di sekitar halaman depan Gereja Utama. Dengan keras tubuhnya menghantam permukaan, mendarat pada bagian bahu kiri terlebih dulu. Beberapa tulang rusuknya juga patah, tangan kanan belok ke arah yang salah dan kepala mengalami sedikit pendarahan.
Meski jatuh di atas tanah dengan rerumputan, namun tetap jatuh dari ketinggian sekitar 100 sangatlah fatal. Bahkan untuk seorang Elf sekalipun. Itu cukup untuk membuat tulang-tulangnya patah dan organ dalamnya rusak.
Arca perlahan turun menggunakan rantai yang sebenarnya memiliki fungsi untuk menarik lawan ke Realm miliknya. Menepakkan kaki di permukaan dan berdiri beberapa meter dari tempat Laura terkapar, pemuda rambut pirang tersebut menonaktifkan kemampuan buku catatan putih dan berlutut di atas tanah menahan rasa sakit pada tangan kanannya. Perih pada luka bakar di punggung pun membuat kesadarannya seakan hampir melayang.
“Sialan, ini benar-benar di luar rencana. Huh, paling tidak dengan ini kemenangan sudah di tanganku ….”
Ia perlahan mengangkat wajah, lalu mulai berdiri dan mengulurkan tangan kiri ke depan. Pada detik itu juga, Buku Kehidupan, Leben of Larca, muncul di tangannya. Halaman dengan sendirinya terbuka, lalu kemampuan dari buku tersebut pun aktif.
Aura hijau tua pada buku dengan cepat menjalar ke tubuh Arca, lalu secara bertahap meningkat kemampuan pemulihannya. Pertama yang sembuh adalah luka bakar di tangan, lalu punggung, dan terakhir adalah tulang yang lepas dari sendinya. Meski tidak sepenuhnya sembuh, namun rasa sakit yang dirasakan Arca memang dengan jelas berkurang.
“Ini memang menyebalkan. Hal menyakitkan memang menyebalkan. Aku lebih suka menyakiti daripada disakiti,” gumam Arca sembari menutup buku dan menatap datar Elf yang terkapar di hadapannya. Dengan nada kesal dirinya pun berkata, “Kamu masih hidup, bukan? Tak perlu pura-pura mati! Kalau kamu memiliki kemampuan sihir dan manipulasi Mana seperti itu, seharusnya luka seperti itu tak cukup untuk membunuhmu! Dasar monster! Lagi pula …, kalau mau pura-pura mati paling tidak lepaskan senjatamu!”
“Benar juga. Yah, jujur diriku tak terlalu bisa akting.”
Sayap tujuh warna seketika terpancar terang dari belakang punggung Laura, lalu mengangkat tubuhnya yang sudah tidak karuan ke udara dengan sihir gravitasi. Partikel dari Dimensi Astral mulai terserap masuk ke tubuh melalui perantara tersebut, lalu menjadi suplai Mana melimpah untuknya.
Dengan cepat dan pasti proses penyembuhan dimulai. Tangan yang patah dalam hitungan detik kembali pulih seakan tidak terjadi apa-apa, lalu organ dalam pun kembali seperti semula dan pendarahan di kepalanya pun terhenti. Itu bukanlah regenerasi murni dari kemampuan tubuh, melainkan sebuah suplai Mana eksternal yang digunakan untuk menggantikan organ yang rusak. Dengan kata lain, sel-sel yang sudah tidak berfungsi atau rusak di dalam tubuhnya akan tereliminasi dan diganti dengan yang baru oleh partikel tujuh warna di belakang punggungnya.
Seakan kerusakan yang diterima tubuhnya hanyalah sebuah lelucon, Laura dengan santai tersenyum tipis dan berkata, “Seperti yang engkau lihat, luka seperti itu tidak cukup untuk membunuh diriku. Jika engkau ingin membunuh diriku, seharusnya engkau membawa satu atau dua penyihir dengan atribut kegelapan untuk mengunci akses Dunia Astral milikku.”
“Huh, terima kasih atas sarannya …. Jelas saja dari tadi kau memiliki Mana melimpah, ternyata kau menggunakan suplai eksternal, ya. Apa itu sihir khusus ras Elf?” Arca tersenyum kecut, lalu sembari memunculkan buku Buku Perang 36 Belli di tangannya, ia pun bersiap untuk memulai ronde baru pertarungan. Dengan nada sarkasme ia berkata, “Aku punya satu kenalan penyihir dengan atribut tersebut, tapi sayangnya dia mungkin sedang sibuk mengurus rekanmu. Yah …, diriku rasa tak perlu untuknya datang membantu.”
“Sombong sekali, persis seperti rumornya. Putra Sulung Keluarga Rein yang ditakuti para bangsawan Felixia, huh! Sayang sekali engkau harus mati di sini! Seharusnya bangsawan memerintah saja dari belakang meja, tak perlu terjun ke lapangan dan mempertaruhkan nyawa.” Laura mengangkat senapannya ke depan, lalu sembari menyiapkan telunjuknya ke pelatuk ia bertanya, “Dalam jarak ini seharusnya engkau tidak bisa menghindar. Terlebih lagi, kemampuanmu sudah sampai pada batasnya, bukan?”
“Kamu sangat jeli.” Acara sekilas mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu menjatuhkan Buku Perang ke atas rerumputan dan kembali berkata, “Kalau aku menyerah, apa kau akan mengampuni nyawaku?”
“Sayang sekali, sekarang diriku ini tidak ada niat seperti itu. Aku perlu membunuhmu dan kembali menyiapkan Parva Nuclear ⸻! UGHK!!”
Sebelum Laura menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba sebuah pedang menghujam punggungnya sampai tembus ke dada. Darah muncrat ke tanah, mulutnya memuntahkan darah dan tanpa bisa melawan balik ia pun dibuat berlutut. Senjata yang selalu dirinya genggam selama pertarungan lepas dari tangan dan tubuhnya pun mulai lemas dan gemetar. Dengan satu tusukan pada bagian vital, itu benar-benar merusak jantungnya yang merupakan pusat sirkulasi sihir seorang Elf dan membuat koneksi ke Dunia Astral kali ini benar-benar terputus.
__ADS_1
“Ceroboh sekali, di wilayah musuh kamu sangat yakin kalau lawanmu bertarung sendirian?” Arca seketika menyeringai lebar, mulai berjalan mendekat dan kembali berkata, “Kerja bagus, Logi …. Aku senang kemampuanmu saat masih menjadi pembunuh bayaran belum luntur.”