Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[107] Serpent VII – Saraḷa Aastitva (Part 01)


__ADS_3

 


 


Kelangsungan hidup yang mudah, setiap makhluk berakal pasti pernah mendambakan hal tersebut. Baik itu dalam hal menumpuk harta maupun mengejar mimpi dan ambisi, sebuah kemudahan selalu didambakan orang-orang.


 


 


Namun, kenyataan yang ada tidaklah semanis tetes madu untuk sang Ratu. Kemudahan hanyalah sebatas ilusi dalam kehidupan, karena semua kenyamanan yang didapatkan seseorang sebenarnya merupakan hasil perjuangan orang lain.


 


 


Anak-anak dari keluarga makmur yang menyantap sarapan dengan lahap, lauk daging dan sayuran sebagai pendamping, lalu menenggak susu segar dengan leluasa. Saat mereka merasa kenyang, tanpa rasa bersalah anak-anak itu menyisakan makanan dan membuangnya.


 


 


Anak-anak kecil tersebut tidak tahu bahwa itu semua merupakan hasil kerja keras orang lain, jerih payah seseorang yang bahkan tidak mereka kenal. Membuat sifat polos tampak kejam karena ketidaktahuan.


 


 


Pakaian yang dikenakan oleh sebuah keluarga kecil, rumah yang disinggahi, listrik yang dikonsumsi, dan seluruh fasilitas yang digunakan mereka juga merupakan hasil dari usaha orang lain. Sesuatu yang sulit untuk didapatkan seorang diri.


 


 


Orang-orang yang namanya tidak dikenal oleh khalayak, jerih payahnya hanya dihargai dengan lembaran kertas yang diberi nilai. Terperangkap dalam sebuah sistem finansial yang dinamakan perekonomian, dikekang oleh lingkup sosial serta batasan yang mengakar.


 


 


Tetapi, sayangnya hal seperti itulah yang membuat dunia tetap berjalan. Karena keterbatasan sumber daya, waktu, dan kemampuan, sebuah tatanan yang tidak setara harus dipertahankan dengan seadil-adilnya.


 


 


Dahulu pernah dilakukan rangkaian penelitian keji sebagai pembuktian enigma sosial tersebut. Mengadaptasi eksperimen yang seharusnya hanya diterapkan pada tikus, uji coba dilakukan kepada suatu masyarakat untuk mencari jawaban dari teka-teki tersebut.


 


 


Eksperimen tersebut cukup sederhana. Sebuah masyarakat diisolasi dalam sebuah lingkungan yang memadai, berjumlah belasan individu dari berbagai macam ras. Tanpa dibekali bahasa, tatanan, atau bahkan peraturan untuk mengatur tatanan sosial.


 


 


Dalam lingkungan yang dibatasi, setiap individu mulai saling berinteraksi dan membuat hierarki. Mereka dengan sendirinya memilih pemimpin, membuat bahasa kesatuan, dan bahkan menciptakan nilai serta moral untuk menciptakan tatanan sosial.


 


 


Seiring berjalannya waktu, jumlah mereka pun terus bertambah dengan cepat. Lingkungan yang memadai membuat orang-orang tersebut tidak pernah merasakan tekanan, bebas berkembang tanpa takut dengan ancaman dari luar.


 


 


Namun, perkembangan yang sangat cepat itu memunculkan banyak permasalahan. Kepadatan penduduk membuat sumber daya tidak lagi mencukupi, menciptakan kesenjangan, lalu pada akhirnya merusak moral serta nilai masyarakat yang ada di dalamnya.


 


 


Orang-orang dalam masyarakat tersebut mulai saling membeda-bedakan. Menggolongkan sesama berdasarkan warna kulit, rambut, mata, maupun keturunan. Menganggap golongan mereka paling superior, lalu pada akhirnya sebuah diskriminasi pun tercipta.


 


 


Saling menundukkan, berselisih demi mendominasi sumbar daya yang terbatas. Mengobarkan peperangan dan saling membunuh, hanya karena tidak ingin berbagi dengan yang lain.


 


 


Pada proses regresif tersebut, kepunahan massal datang layaknya matahari terbit. Kurang dari setengah waktu yang mereka gunakan untuk berkembang, peradaban tersebut hancur seakan tidak ada memiliki arti.


 


 


Benar-benar musnah, lenyap tanpa sisa bersama punahnya ras-ras yang dulu berkuasa. Tidak yang tersisa dari masyarakat tersebut, kecuali puing-puing kehancuran dari sejarah mereka yang memalukan.


 


 


Uji coba tersebut diselenggarakan di Dunia Sebelumnya, tepatnya pada salah satu cabang semesta yang telah dihapus demi kepentingan ilmu pengetahuan. Digelar dalam rangkaian penelitian yang dilakukan oleh 101 Entitas. Sebuah eksperimen untuk mengetahui tingkah-laku makhluk sosial dalam mencapai tingkat evolusi tertentu.


 


 


Kesimpulan dari penelitian tersebut sangatlah sederhana, yaitu sebuah fakta bahwa manusia tidak jauh berbeda dari tikus. Tanpa bimbingan sifat serakah akan menguasai, kebodohan menjadi penyebab utama dari kehancuran makhluk berakal.


 


 


Sejak kesimpulan tersebut didapat, 100 Entitas mulai berani ikut campur masalah di cabang semesta lain. Terkadang datang sebagai sosok Dewa-Dewi, Iblis, atau bahkan entitas asing sebagai pembimbing makhluk lain.


 


 


Namun, tetap saja mereka tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan. Meski memiliki banyak data dari berbagai macam observasi, tidak ada satu pun yang bisa digunakan untuk menyelamatkan dunia.


 


 


Meneliti permasalahan, mengambil spesimen baru, lalu mengujinya dan mendapatkan kesimpulan. Hal tersebut terus berulang tanpa membuahkan hasil akhir. Selama miliaran tahun lebih, bahkan sampai bintang dalam gugusan padam satu persatu.


 


 


Dalam proses penelitian yang seakan tanpa akhir tersebut, salah satu di antara mereka menyadari sebuah fakta sederhana. Layaknya sendok dalam mangkuk cereal, para peneliti pada dasarnya bukanlah seorang pengguna.


 


 


Meski mereka memiliki ilmu pengetahuan dan data yang melimpah, semua itu hanya didapat tanpa bisa digunakan dengan tepat. Terbengkalai karena tidak ada satu pun inovator dalam kelompok mereka, lalu pada akhirnya melewati tenggang waktu karena perubahan yang terus berlangsung.


 


 

__ADS_1


Sebuah kesalahan fatal yang telat mereka sadari. Namun, pada saat yang sama menjadi titik balik untuk semakin dekat dengan kebenaran. Sejak itulah sebuah topik baru ditambahkan ke dalam agenda 101 Entitas.


 


 


Mencari sebuah singularitas hidup untuk bahan penelitian, lalu menjadikannya anggota terakhir sebagai nakhoda dalam kapal mereka. Sebuah titik balik yang menuntun 101 Entitas itu menuju tempat sang pemuda.


 


 


Mengarungi lautan kehampaan, menyusuri waktu yang sangat panjang, dan bahkan harus melewati jalan penuh penderitaan. Perlahan mulai berharap dan sifat realistis pun terkikis, lalu pada akhirnya mereka memilih untuk menyerahkan semua impian kepada perempuan itu.


 


 


Sosok yang kelak memperkenalkan dirinya sebagai Dewi Helena, seorang peneliti yang memiliki pandangan unik dan eksentrik. Entitas dengan sifat bermasalah, memiliki gambaran individu antara idealis, melankolis, dan realistis.


 


 


Meskipun semua langkah yang diambil penuh dengan perhitungan, setiap tindakannya cenderung berisi angan-angan layaknya pemimpi. Karena itulah, sosok tersebut digambarkan sangat penuh dengan kontradiksi.


.


.


.


.


Purnama bersinar terang, memapar daratan beserta semua isinya dengan cahaya putih kebiruan. Memperlihatkan dedaunan oak dan cemara, lalu beberapa hewan nokturnal yang masih berkeliaran di antara pepohonan.


 


 


Di antara rimbunnya pepohonan, rombongan kendaraan diesel berangkat dari arah kastel Nihil. Membawa beberapa peneliti, perwira militer, lalu Putri Ulla dan seorang perempuan rambut hitam yang baru saja mereka jemput.


 


 


Sorot terang lampu kendaraan dalam kegelapan malam, dapat dilihat dari tempat jauh dan tampak seperti jajaran bintang dalam hamparan hutan. Bergerak cukup cepat, tanpa hambatan melewati jalan utama yang menjadi penghubung antara negara Polis.


 


 


“Seluruh umat manusia sebaiknya musnah saja, mereka hanya tumor bagi dunia.”


 


 


Kalimat tersebut terlalu kasar untuk memulai pembicaraan, terlontar dari mulut lembut seorang perempuan berkulit pucat. Sembari duduk di kursi belakang jip retro, ia pun membiarkan rambut hitamnya terurai lepas bagai tirai pentas. Menikmati hembusan angin malam dengan kulitnya.


 


 


Bergelombang layaknya lautan hitam, lalu sekilas memancarkan partikel merah darah yang berasal dari mikroorganisme Monophobia. Memproses ribuan informasi dari lapisan Ether tipis di udara, digunakan sebagai sumber informasi kalkulasi internal miliknya.


 


 


Suara mesin diesel terdengar jelas, meski begitu tatapan Helena tidak berpaling dari gugusan bintang. Seakan-akan sedang merindukan sesuatu, mengingat kembali masa lalu yang takkan pernah bisa kembali.


 


 


 


 


Duduk di sebelah pria pirang tersebut, Putri Ulla sedikit melirik cemas saat melihat mereka tidak akur. Setelah menghelah napas panjang, ia pun kembali melihat truk yang melesat di depan mereka. Sedikit cemas dengan jarak yang ada, perempuan rambut ungu tersebut segera menyarankan, “Hati-hati, Pak Richard …. Sepertinya kita sedikit terlalu dekat⸻ugh!”


 


 


Peringatannya terlambat, mobil jib mereka menyenggol truk di depan sampai sedikit oleng. Hampir keluar dari jalan, terguncang cukup keras dan bahkan menyenggol pepohonan. Meski hanya menabrak beberapa ranting, tetap saja itu cukup untuk membuat Putri Ulla terkejut.


 


 


“Apa sebaiknya saya saja yang menyetir, Pak Richard?” tawar perempuan rambut ungu tersebut dengan cemas.


 


 


“Tak usah …!” Pria pirang tersebut tidak terlalu peduli, lekas kembali melirik ke belakang dan bertanya, “Kenapa kau hanya diam? Bukankah ada hal yang perlu dijelaskan? Seperti mengapa kita harus kembali ke Ibukota? Atau mengapa juga harus mengumpulkan ketua semua fraksi? Memangnya kau ingin menyuruh Raja untuk mengeluarkan Ultimatum?


 


 


Dewi Helena tidak menghiraukan pertanyaan tersebut, layaknya Richard yang tidak peduli dengan perkataan Putri Ulla. Hanya diam sembari melihat gugusan bintang, lalu sesekali melanturkan kalimat abstrak layaknya seorang filsuf.


 


 


“Sebuah konsekuensi dari tindakan bodoh mereka, membuahkan kehancuran yang akan datang dalam hitung mundur.” Helena perlahan menurunkan tatapannya, memperlihatkan sorot mata dingin dan kembali menyampaikan, “Umat manusia hanya bisa disampaikan oleh ikatan dan pengetahuan, hanya itu yang dapat melestarikan mereka.”


 


 


“Hah?” Richard melirik semakin tajam, merasa sedikit muak saat mendengar hal semacam itu dari mulut Helena. Sembari menggertakkan gigi, pria pirang tersebut langsung memukul setir sampai klakson berbunyi nyaring. “Kalau kau memahami itu! Kenapa kalian menghancurkan peradaban kami! Fase Pertama?! Omong kosong!! Kalian hanya ingin memuaskan kami supaya bisa mengeluarkannya dari sarang dunia, bukan?!” bentaknya dengan suara lantang.


 


 


“Itu benar ….” Helena menundukkan wajah. Pada saat yang bersamaan, rambutnya yang terurai pun bergerak layaknya hidup dan memiliki kehendak. Membuat ikatan kepang tunggal dengan rapi, lalu terjuntai ke depan dada seakan-akan panjangnya berkurang. Sembari menatap datar lawan bicara dan melempar senyum kaku, perempuan dengan gaun merah tersebut menegaskan, “Diriku menghancurkan peradaban kalian untuk mengeluarkannya dari sangkar kenyamanan dan kemudahan.”


 


 


“Benar-benar menyedihkan. Setelah terbebas dari sangkar, dia malah kembali dimasukkan ke dalam sangkar lain ….” Richard berhenti melirik, sepenuhnya pasrah dengan persepsi yang dimiliki Dewi Helena. Sembari memasang mimik wajah sedih dan perlahan memperlambat laju kendaraan, pria rambut pirang tersebut bergumam, “Kau yakin ingin membuatnya menderita lagi?”


 


 


“Dia harus bertahan ….” Helena mulai gemetar, pertanyaan yang dilontarkan Richard benar-benar membuat hatinya ragu dan enggan untuk mengambil keputusan. Menyatukan kedua tangan dan menundukkan wajah, perempuan rambut hitam tersebut lanjut berkata, “Meski itu berarti harus membuatnya menderita, ini tetap harus dilanjutkan.”


 


 


Di mata Putri Ulla, gestur sang Dewi Penata Ulang tampak seperti orang yang sedang berdoa. Membuatnya gemetar takut dalam kebingungan, lalu dalam benak bertanya-tanya kepada siapa sosok Dewi Mahakuasa itu berdoa dan memohon.

__ADS_1


 


 


“Dia tidak butuh belas-kasihan ….” Richard kembali meningkatkan kecepatan mobilnya untuk mengusul rombongan. Sembari menurunkan intensitas lampu kendaraan, pria rambut pirang tersebut dengan tegas berkata, “Sahabatku itu pasti akan mengambil langkahnya sendiri. Rencanamu, harapanku, atau bahkan keputusan yang ditetapkan dunia, tidak ada lagi satu pun yang bisa mengekang singularitas itu”


 


 


“Engkau benar ….” Helena mengangkat kedua kakinya ke atas tempat duduk. Sembari meringkuk, perempuan rambut hitam tersebut memalingkan pandangan dan berkata, “Dari dulu dia selalu berjuang sendirian. Karena itulah, bertahan hidup menjadi sebuah penderitaan baginya.”


 


 


Perkataan tersebut terdengar seperti deklarasi kekalahan Dewi Helena, menyerah secara penuh dan mengakui kesalahannya sendiri. Namun, hal tersebut tidak mengubah apa-apa. Dadu telah dilempar, pentas diorama pun sudah telanjur dimulai.


 


 


Pembicaraan terhenti untuk sesaat, suara mesin diesel terasa semakin keras karena keheningan yang mengisi. Di tengah jeda pembicaraan tersebut, Putri Ulla menyipitkan mata dan menoleh ke arah Helena.


 


 


“Dia yang kalian maksud itu siapa?”


 


 


Satu pertanyaan tersebut membuat Richard dan Helena tersentak, merasa telah tenggelam dalam pembicaraan sampai-sampai tidak ingat dengan kehadiran perempuan itu. Mereka berdua menghela napas dengan kompak, lalu saling melirik dan tampak sedikit bingung.


 


 


“Aku tidak keberatan menjawab pertanyaan Nona Ulla. Namun, untuk disebutkan itu sangat sulit dan hampir mustahil ….” Richard berusaha untuk tetap tenang. Sembari menjaga beberapa larangan yang diberikan Helena, pria rambut pirang tersebut segera menyarankan, “Coba ganti pertanyaannya, jangan frontal dan lebih ke arah yang spesifik.”


 


 


“Mengapa sulit?” Putri Ulla menatap tajam. Sembari memperkirakan beberapa hal, tanpa ragu perempuan rambut ungu tersebut kembali bertanya, “Apa karena ada semacam karangan?”


 


 


“Tepat!” Richard langsung terus terang, tidak ada niat untuk berbohong atau bahkan menyembunyikannya. Setelah menghela napas panjang, pria rambut pirang tersebut dengan nada senang menambahkan, “Namun, alasan utamanya bukan karena itu.”


 


 


“Lantas apa alasannya?”


 


 


Putri Ulla sekilas melirik ke arah Helena, ingin memastikan sesuatu dan berniat untuk tidak melanggar batasan yang dibicarakan. Tetapi, sang Dewi sekali tidak memperlihatkan reaksi enggan atau bahkan melarang. Hanya diam sembari memejamkan kedua mata.


 


 


“Karena tidak mau menjelaskan dia malah pura-pura tidur,” keluh Richard. Setelah menghela napas panjang, pria dengan seragam militer tersebut menyampaikan, “Alasannya sangat sederhana. Sosok yang tadi kami bicarakan itu namanya telah hancur, karena itulah kami tidak bisa menyebutnya dengan jelas.”


 


 


“EH?! Han … cur?” Putri Ulla langsung menatap penasaran, tidak tampak sangat tertarik dan tatapannya mulai berkilau-kilau.


 


 


“Jujur saja, hancur bukanlah penggambaran yang akurat.” Richard memperlihatkan mimik wajah bingung. Tidak bisa memilih kalimat yang tepat, pria pirang tersebut secara frontal langsung menyampaikan, “Ini sulit untuk dijelaskan, namun intinya dia tidak boleh dipanggil dengan nama aslinya.”


 


 


“Tidak boleh?” Putri Ulla sedikit memiringkan kepala dengan bingung. Tidak bisa lagi menahan rasa penasaran dan sepenuhnya mengikuti insting, perempuan rambut ungu tersebut kembali memastikan, “Berarti dia punya nama, ‘kan?”


 


 


“Tentu saja punya ….” Richard sedikit memalingkan pandangan. Merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan Putri Ulla, pria pirang tersebut sedikit mengerutkan kening dan mengelak, “Sayangnya hal tersebut juga dilarang, tolong jangan tanyakan nama itu kepadaku.”


 


 


“Baiklah! Kalau begitu, saya sedikit geser topik pembicaraannya.” Putri Ulla mengalah dengan cepat. Namun, perempuan rambut ungu tersebut mengambil inisiatif lain dan lekas kembali bertanya, “Dia itu sekarang siapa? Orang yang Tuan Richard maksud …. Sosok yang kalian bicarakan tadi, dia sudah ada di dunia ini, ‘kan?”


 


 


“Hmm ….” Richard mengangguk. Sembari memelankan laju kendaraan dan menjaga jarak dari truk di depan, pria rambut pirang tersebut dengan suara pelan menyampaikan, “Sosok yang kami bicarakan tadi, dia sekarang dikenal sebagai Odo Luke. Sosok yang juga kamu kenal sebagai Singularitas Hidup.”


 


 


Putri Ulla sama sekali tidak terkejut. Seakan dirinya telah menebak hal tersebut, perempuan rambut ungu itu malah berpaling dari Richard. Sembari meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, ia menggertakkan gigi rapat-rapat. Tampak kesal karena merasa telah melewatkan kesempatan emas.


 


 


“Tidak saya sangka pemuda itu memiliki peran yang sangat penting.” Putri Ulla menarik napas dalam-dalam, berusaha memendam emosi sembari merapikan lipatan gaun biru navy yang dikenakan. Kembali menoleh ke arah Richard, perempuan rambut ungu itu sekali lagi melontarkan pertanyaan, “Jika memang dia sudah datang ke dunia ini, lantas mengapa sang Dewi Penata Ulang tidak langsung menemuinya? Bukankah tujuan awal sang Dewi adalah membangkitkan pemuda itu?”


 


 


“Diriku sudah bertemu dengannya ….” Helena masuk ke dalam pembicaraan. Perlahan membuka kedua mata dengan sayu, perempuan rambut hitam tersebut dengan nada enggan menyampaikan, “Lebih tepatnya, Odo Luke yang datang menemui diriku saat masih berada di celah dimensi.”


 


 


“Celah dimensi?” Putri Ulla tidak lagi menahan diri. Tanpa memedulikan status atau batasannya sebagai mortal, dengan penuh rasa penasaran dia kembali bertanya, “Bukankah wilayah kekuasaan sang Dewi tersebut sangat rahasia? Sejauh yang saya tahu, bahkan hanya segelintir makhluk kayangan saja yang tahu koordinatnya ….”


 


 


“Dia menyusup melalui jaringan milik Lileian ….” Helena memalingkan pandangan. Sembari menyangga kepala dan menurunkan kedua kaki dari tempat duduk, perempuan rambut hitam tersebut dengan kesal menyampaikan, “Bukan hanya itu saja, Realm yang baru saja diriku ciptakan bahkan diambil alih olehnya.”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2