
“Terbakar?!”
Leviathan langsung melepaskan tombaknya, lalu meloncat mundur dan membawa Alyssum menjauh beberapa belas meter dari pemuda tersebut. Tepat seperti yang dirinya duga, api merah gelap itu melahap ganas Manifestasi Trisula sampai tidak tersisa. Tidak menjadi abu maupun debu, namun lenyap sepenuhnya menjadi serpihan partikel Ether.
“Yang seharusnya tenang itu kau, Leviathan!”
Odo kembali mencengkeram lengan kanannya sendiri dengan kencang, tidak peduli meski tangan kirinya terbakar habis sampai kulit terkelupas, daging gosong, dan tulang mulai terlihat. Menarik napas dalam-dalam dan sejenak memejamkan kedua mata, pemuda itu berusaha mengatur sirkulasi Mana internal. Memutus suplai untuk memadamkan kobaran api merah gelap.
“Kenapa engkau tiba-tiba mengaktifkannya? Kekuatan itu … milik Ayunda, bukan?”
Leviathan kembali menciptakan Manifestasi Trisula menggunakan teknik pemadatan Mana. Mencampurnya dengan perubahan sifat, wanita muda tersebut mengayunkan tombaknya dan menciptakan lapisan pelindung seperti gelembung.
Menurunkan Alyssum dan melangkah keluar dari pelindung, Putri Naga berjalan memutar sembari mengawasi pergerakan Odo. Mencari celah untuk memotong tangan kanannya dan mencegah pemuda itu lepas kendali.
“Benar, ini memang Hariq Iliah milik Seliari ….” Kobaran api pada tangan kanan Odo semakin mengecil, warna hitam seperti bara pun berkurang dan menyusut sampai bagian siku. Meski beberapa garis merah struktur sihir masih menyala terang, dengan jelas kekuatan Naga Hitam berhasil ditekan secara perlahan-lahan. Sembari tersenyum lelah dengan mimik wajah pucat, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Jadi tolong jangan memprovokasi, struktur sihir pertahanan yang aku tanamkan pada tangan kanan ini masih aktif.”
“Sihir pertahanan, ya?” Wanita muda itu tersenyum sinis, menatap penuh rasa curiga dan kembali menekan, “Lantas kenapa itu tiba-tiba menyala? Atau …, engkau ingin bilang kalau diriku ini ancaman?”
Leviathan mengaktifkan Azure El Mar, Sihir Khusus yang memungkinkannya untuk mengendalikan zat cair secara mutlak. Menggunakan suplai Mana internal, Putri Naga menciptakan belasan gelembung di sekitar tubuhnya. Terbuat dari padatan energi dengan sifat eksposif, ringan, dan sedikit korosif.
Meski Leviathan memancarkan tekanan sihir dengan kuat dan mengintimidasi, struktur sihir pertahanan pada tangan kanan Odo tidak memberikan respons. Terus melemah karena suplai Mana dibatasi, lalu warna hitam pun berkurang sampai bagian pergelangan yang dicengkeram.
Tepat sebelum kekuatan Naga Hitam berhasil ditekan, noda hitam pada tangan kanan Odo terhenti pada telapak dan tidak lenyap sepenuhnya. Beberapa garis merah mulai bergerak membentuk sebuah lingkaran sihir, lalu langsung menyebar keluar dari batas hitam dan terus merambat melalui kulitnya.
Melalui punggung tangan, lengan, lalu sampai siku dan bahu. Sirkuit sihir tersebut terus merambat layaknya makhluk hidup, benar-benar berusaha untuk mengambil alih tubuh Odo. Namun, proses penyebaran itu terhenti tepat setelah mencapai dada sebelah kanan.
Meski tanda hitam pada tangan kanan tertahan pada telapak, beberapa garis merah dengan jelas menyebar melalui pembuluh darah dan permukaan kulit. Itu merupakan susunan Unsur Aktivasi, sirkuit sihir dengan sifat stimulasi yang kuat.
“Kenapa ini bisa aktif sendiri?” Odo berhenti menekan pergelangan. Saat dirinya baru saja mengangkat tangan kirinya, luka bakar parah seketika tertutup kembali oleh daging serta kulit. Benar-benar sembuh dengan sangat rapi tanpa bekas sedikitpun. Sejenak terdiam, pemuda rambut hitam tersebut menoleh ke arah Leviathan dan berkata, “Apa Seliari melakukan sesuatu⸻?”
Sebelum Odo selesai bicara, lingkaran sihir tiba-tiba muncul tepat pada permukaan pasir tempatnya berdiri. Langsung melebar sampai tujuh meter, lalu memancarkan cahaya dan mengaktifkan sebuah struktur sihir atribut tanah.
Dalam hitungan detik pasir memusat pada satu titik, menciptakan galah raksasa dan langsung menusuk dada Odo dengan sangat keras.
Seakan Unsur Aktivasi telah memprediksi serangan tersebut, beberapa garis merah memusat pada bagian yang ditusuk. Melindungi pemuda itu dengan sihir penguatan, supaya tubuhnya tidak tertembus oleh galah pasir.
Meski penguatan ketahanan berhasil mencegah luka fatal, namun Odo tidak bisa menahan hentakan kuat yang datang tiba-tiba dari bawah. Tubuhnya seketika terlempar tinggi ke udara, lalu berputar beberapa kali sebelum jatuh dengan posisi yang salah.
“Sialan ….” Beberapa tulang rusuknya retak, tangan kiri patah, dan pasir sedikit masuk ke dalam mulutnya. Segera bangun dan memperlihatkan mimik wajah kesal, pemuda rambut hitam tersebut membentak, “Leviathan, kenapa kau tiba-tiba menyerang⸻?!”
Sebelum Odo selesai bicara, ia sadar kalau serangan tadi sama sekali tidak memiliki atribut air ataupun zat cair. Sepenuhnya sihir tanah untuk memanipulasi pasir, berupa serangan fisik murni yang dilandasi teknik manipulasi objek menggunakan Mana.
“Diriku belum menyerang! Jangan asal tuduh!” Leviathan ikut bingung karena tiba-tiba melihat Odo terlempar ke udara. Segera melihat sekeliling dan mundur ke dalam lapisan pelindung, Putri Naga lebih memilih untuk fokus melindungi Alyssum. “Jangan jauh-jauh dari diriku,” pintanya dengan cemas.
Alyssum mengangguk ringan. Ingin membantu mereka, ia memutuskan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Roh Kecil tersebut mengaktifkan Inti Sihir dan memusatkan Mana miliknya pada satu titik.
__ADS_1
Sembari mengulurkan tangan kanan ke depan, Alyssum menyebarkan partikel cahaya yang tampak seperti lembaran-lembaran daun hijau. Melayang ke udara dan keluar dari lapisan pelindung, lalu melacak jejak-jejak sihir atribut tanah yang baru saja digunakan di tempat tersebut.
“Hmm?!” Alyssum terkejut saat sihirnya berhasil melacak sesuatu. Roh Kecil tersebut lekas berlari cemas menuju Odo, keluar dari lapisan pelindung dan lekas berteriak, “Papah! Di belakangmu!”
Meskipun peringatan tersebut tepat waktu, refleks Odo tidak bisa mengikuti. Karena baru saja siuman beberapa jam lalu, tubuhnya terasa sedikit kaku dan terhenti saat hendak berbalik. Menggunakan insting dirinya dengan jelas merasakan ancaman, keringat dingin pun bercucuran karena tidak bisa mengambil respons yang tepat.
“Sialan! Kenapa malah kaku!” benak pemuda itu seraya berusaha menghindar.
Sebelum Odo menoleh dan melihat sosok yang ingin menyerangnya dari belakang, angin tiba-tiba bertiup dan badai kecil langsung menyelimuti. Butiran-butiran pasir mulai berkumpul pada satu tempat, lalu tampak seperti menciptakan sebuah tangan yang melayang di udara dengan pisau dalam genggaman.
“Matilah! Manusia sesat!” Suara perempuan dengan jelas terdengar dari arah belakang.
Berfungsi layaknya sistem pertahanan, Unsur Aktivasi lekas mengambil tindakan sebagai respons pertahanan. Sirkuit sihir yang sebelumnya terpusat di sekitar dada dan lengan langsung berpindah, menjalar layaknya akar merah dan langsung melindungi titik vital Odo yang akan ditusuk.
Belati pasir dengan mudah menembus pakaian Odo, namun terhenti tepat saat menyentuh punggungnya seakan membentur benda keras. Pada waktu bersamaan, percikan cahaya sekilas keluar, memancarkan frekuensi suara yang menghancurkan konstruksi sihir sang penyerang.
Belati pasir seketika hancur, terurai menjadi butiran dan melayang-layang di udara. Pada detik yang hampir bersamaan, susunan mantra kamuflase yang digunakan sang penyerang pun hancur.
Terkena paparan suara dengan frekuensi khusus, lapisan gelombang magnetik yang digunakan untuk kamuflase seketika lenyap. Terkelupas layaknya kain robek, lalu memperlihatkan sosok penyerang yang sebelumnya bersembunyi di balik tabir pembiasan cahaya.
Odo lekas berbalik, menghadap sang penyerang dan menatapnya dengan mimik wajah bingung. Dalam sekali pandang, dirinya langsung tahu bahwa sosok tersebut adalah makhluk astral.
Roh Agung ⸻ Setelah mengamati susunan Aeons, komposisi Daath, dan pancaran kekuatan sihir, Odo Luke langsung mengambil kesimpulan akhir. Paham bahwa wanita itu sejenis dengan Reyah dan Vil, merupakan entitas yang terhubung dengan Dunia Astral dan memiliki wewenang atas suatu ekosistem.
Memiliki kulit kencang berwarna cokelat gelap, tampak eksotis dan mengkilap saat terpapar sinar matahari. Layaknya penguasa dengan martabat tinggi, tubuh Roh Agung tersebut dibalut pakaian tipis berwarna merah gelap dengan beberapa sulaman benang emas.
Toga Picta, itulah pakaian yang dikenakan Roh Agung tersebut. Busana kemenangan yang biasa dipakai oleh seorang jenderal pada masa romawi kuno, terlihat mewah namun memiliki desain sederhana dan minim jahitan.
Berbeda dengan Reyah maupun Vil yang terkesan mengumbar kecantikan, Roh Agung tersebut terlihat lebih tegas dan sedikit sangar. Bahkan dia tidak mengenakan alas kaki ataupun ornamen hiasan, benar-benar sederhana dan memancarkan aura layaknya seorang prajurit.
Tidak mencerminkan elemen tanah yang merupakan bidang sihir keahliannya, Roh Agung itu memiliki rambut putih uban layaknya serat. Terjuntai lurus sampai melebihi punggung, tanpa diikat ataupun dihiasi aksesoris.
“O, wahai pasir yang terombang-ambing tanpa tujuan, awang-awang menyatukan kalian dalam pikat mulia. Berkumpullah dan patuhi kehendak penguasa ini ....”
Roh Agung itu menghentakkan kaki kanannya ke permukaan, menciptakan lingkaran sihir selebar dua meter. Butiran-butiran pasir seketika berkumpul dan membentuk sebuah tombak Halberd, tampak solid dan memiliki tingkat kepadatan yang lebih keras dari batu.
“Sebentar, kau siapa⸻?”
Meski Odo tidak ingin bertarung, Roh Agung tersebut langsung mengayunkan tombaknya. Melancarkan beberapa serangan mematikan, tanpa ragu mengincar titik vital pemuda itu seakan sedang tergesa-gesa.
Memanfaatkan reaksi dasar struktur pertahanan pada Unsur Aktivasi, Odo segera melepaskan kontrol atas kekuatan Naga Hitam. Membiarkan tangan kanannya berubah menghitam sampai siku, lalu dijalari garis-garis merah layaknya bara api.
Seakan-akan memiliki kesadaran yang terpisah, tangan kanan Odo menepis tombak Halberd dengan gerakan irregular. Tatapan dan gerakan pemuda itu sangat tidak sinkron, terpisah dan benar-benar membingungkan lawannya.
__ADS_1
Menggunakan punggung tangan yang diperkuat dengan sirkuit sihir merah, ujung tombak yang ditepis Odo perlahan-lahan terurai. Benturan punggung tangan dan tombak menciptakan frekuensi suara khusus, perlahan mengikis struktur sihir yang ada pada senjata lawannya.
Efek dari dua sampai tiga serangan yang berhasil ditangkis memang tidak terlihat. Namun saat serangan keempat dan seterusnya berhasil ditahan, konstruksi tombak pasir mulai runtuh dengan pasti.
“Sama seperti tadi?” gumam Roh Agung tersebut.
Segera menghentikan serangan dan meloncat ke belakang, Roh Agung berkulit gelap tersebut tanpa ragu langsung membuang senjatanya. Hancur terurai menjadi pasir dan kembali ke pantai.
Menghentakkan kaki kanannya ke permukaan, Roh Agung itu lekas menciptakan lingkaran sihir dan membentuk kembali senjata yang serupa. Kali ini tanpa merapalkan mantra, langsung terbentuk dalam hitungan detik.
Melihat hal tersebut Odo langsung tercengang, kedua alisnya berkedut dan paham pertarungan bisa berlangsung sangat lama kalau diteruskan. Berdecak dengan wajah kesal, pemuda rambut hitam tersebut langsung mengekang kekuatan Naga Hitam dan merentangkan kedua tangannya ke samping. Pasrah dan siap untuk menerika serangan tombak.
Namun, tentu saja Putra Tunggal Keluarga Luke itu sudah menyiapkan trik untuk menjatuhkan lawannya. Dengan memutus semua sirkulasi Mana, aliran sihir yang dari awal sudah terpusat pada bagian dada kanan bisa disembunyikan dengan baik.
Berniat menggunakan hal tersebut untuk menahan tusukan tombak, lalu membuat lawan lengah dan menjatuhkannya dengan serangan balik. Sebuah taktik tipuan sederhana dengan taruhan nyawa.
Tidak memedulikan tipuan yang telah disiapkan, Roh Agung berkulit gelap itu melebarkan kaki kanannya ke belakang dan memasang kuda-kuda untuk menerjang. Sembari memusatkan Mana pada ujung tombak, dia membuat pasir bergerak dengan kecepatan tinggi layaknya gergaji mesin.
Sekilas Odo Luke menyeringai kecil, merasa telah berhasil memancing lawannya masuk ke dalam perangkap. Mulai memusatkan Mana pada dada kanan, lalu sengaja membuka tubuhnya supaya ditusuk pada bagian tersebut.
Namun pada detik-detik terakhir, seakan menyadari kejanggalan tersebut Roh Agung itu tiba-tiba berhenti. Tepat beberapa meter dari tempat Odo berdiri dan menyiapkan jebakan.
Tanpa ragu Roh Agung tersebut meloncat mundur, lalu berputar di udara untuk mengumpulkan momentum. Sebelum kakinya menyentuh permukaan pasir, dirinya langsung melemparkan tombak pasir dengan sekuat tenaga.
“Eh?”
Odo terkejut bukan main saat melihat insting dan respons tersebut. Memikirkan taktik alternatif untuk menjatuhkan lawannya, pemuda rambut hitam itu segera mengubah pusat sirkuit sihir merah menuju tangan kanan.
Kulitnya pun kembali berubah menghitam sampai suku, sedikit mengeras dan memancarkan udara panas. Dalam hitungan detik api merah gelap langsung berkobar, bersama ayunan tangan lekas menelan tombak yang dilemparkan ke arahnya.
Tekanan udara membuat lajur lemparan berubah, lalu hanya menyerempet jarinya dan jatuh menancap di atas permukaan pantai. Saat kobaran yang membakar tombak padam, senjata tersebut mengeras dan berubah mengkilap seperti kaca.
“Untuk seorang manusia engkau pandai menggunakan kekuatan itu.” Roh Agung berkulit gelap tersebut menyeringai tipis. Sembari menciptakan tombak Halberd menggunakan pasir, wanita itu kembali berancang-ancang dan menegaskan, “Namun, itu tetap tidak mengubah apa-apa! Engkau merupakan ancaman untuk Dunia Astral ini!”
Memahami status Roh Agung tersebut sebagai penguasa ekosistem tunggal, Odo Luke langsung menangkap maksud perkataannya. “Tunggu sebentar, wahai Roh Agung! Pasti ada kesalahpahaman di sini,” ucapnya sembari melangkah mundur.
“I-Itu benar!” Alyssum yang berlari keluar dari lapisan pelindung langsung berdiri di depan Odo. Sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dengan tubuh gemetar Roh Kecil tersebut meminta, “To-Tolong jangan lukai Papah!”
\=================================
Catatan :
Yeah, akhirnya adegan pantai. Iya, ini adegan pantai, tapi enggak ada Service.
__ADS_1