
Tetapi, untuk merefleksikan hal tersebut menggunakan teknik pemadatan Mana sangatlah sulit. Mengingat kondisi Odo Luke yang mengalami penurunan kekuatan sihir, Vil merasa melakukan hal tersebut sangatlah mustahil.
Saat sang Roh Agung melamun dan memikirkan cara lain, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung meloncat turun dari tebing. Tanpa memikirkan tempat mendarat, pemuda rambut hitam tersebut langsung jatuh ke dalam altar dan membuat lubang dengan kedua kakinya. Menambah kerusakan tempat itu dan membuat struktur semakin sulit untuk diperbaiki.
“Hmm, sepertinya memang rusak karana abrasi.” Odo segera berdiri. Setelah melepas kedua sepatu dan memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan pada sarung tangan, pemuda rambut hitam tersebut berjalan ke arah Roh Agung dan bertanya, “Apa kau bisa mengaktifkannya?”
Vil seketika mengerutkan kening. Untuk monolit di luar lingkaran sihir, hal itu memang masih bisa digantikan dengan teknik pemadatan mana. Namun, lain ceritanya untuk lingkaran sihir yang ada di dalam altar. Sebab keduanya memiliki tingkat kerumitan struktur yang berbeda.
“Kenapa Odo harus mendarat di tengah altar? Apa tidak ada tempat lain?” tanya Vil ketus. Sembari menatap tajam, Roh Agung tersebut melangkah mendekat. Ia pun menunjuk dan langsung membentak, “Memperbaiki altar seperti ini tidak mudah, tahu!”
“Kau tak perlu memperbaikinya.” Odo menatap perempuan rambut biru itu dengan santai. Sembari melempar senyum ringan, ia mengacungkan jari telunjuk dan menyampaikan, “Yang penting dari Altar Gerbang Dunia Astral adalah koordinat, struktur sihir hanya jalan untuk mengaksesnya. Kau tahu, altar ini disebut gerbang bukan tanpa alasan.”
“Kalau tidak punya akses, terus bagaimana kita pergi?” Vil berhenti menunjuk. Sembari meletakkan kedua tangan ke pinggang dan memasang wajah cemberut, ia dengan nada kesal memastikan, “Lagi pula, Odo juga tidak membawa tombak yang digunakan untuk kunci, ‘kan?”
“Ah, soal itu tak masalah ….”
Odo menyingsingkan lengan kanan kemeja sampai pundak. Berjalan menuju ke tengah altar, pemuda rambut hitam tersebut langsung menginjak permukaan dengan keras sampai membuat lubang sedalam mata kaki.
Melihat hal tersebut Vil hanya bisa menganga, menepuk jidat dan merasa bodoh karena sempat memikirkan cara untuk memperbaiki altar. Roh Agung tersebut kembali menggunakan sihir melayang dan mendekati Odo, lalu menatap dari dekat dengan kesal.
“Odo punya rencana lain, ya? Kenapa tidak bilang dari tadi dan malah meminta diriku memperbaiki altar segala?”
Pertanyaan sang Roh Agung membuat Odo tersenyum tipis. Pemuda rambut hitam tersebut menghapus sihir transformasi pada bahu kanan sampai pangkal lengan, membuat rajah berbentuk Khanda miliknya tampak dengan jelas di permukaan kulit.
Simbol tersebut berwarna putih gading, berlawanan dengan esensi di dalamnya yang cenderung gelap. Memiliki koneksi dengan Aitisal Almaelumat yang dulunya dipegang oleh Raja Iblis Kuno.
Bagi Laura dan Magda yang baru pertama kali melihat simbol Khanda tersebut, mereka sempat tersentak. Merasa janggal dengan bentuk rajah yang sangat tidak asing itu.
Sebagai seorang Sersan dari Kerajaan Moloia, Magda Klitea melihat Khanda yang ada pada tubuh Odo berkaitan dengan Kerajaan Ungea. Sebab simbol itu merupakan salah satu ciri dari Negeri Padang Pasir tersebut.
Namun, Laura melihatnya dengan cara berbeda. Bagi Letda yang memiliki akses informasi lebih tinggi dari rekannya, Elf rambut pirang tersebut sangat paham makna rajah berbentuk Khanda yang ada di tubuh Odo.
Dalam arsip rahasia Kerajaan Moloia, ada beberapa catatan kuno terkait kebenaran dunia. Salah satunya adalah tentang makna-makna dari sombol seperti Khanda milik Odo Luke.
“Tanda seorang Raja Sejati? Ke-Kenapa bisa dia memiliki itu?” benak Laura dengan wajah pucat. Ia sempat melangkah ke belakang, sedikit gemetar dan tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat.
“Ada apa, Letnan?” Magda mengkhawatirkan. Sama-sama merasakan hal yang tidak nyaman setelah melihat simbol Khanda pada tubuh Odo, Elf tersebut dengan suara lirih memastikan, “Apa … berarti Tuan Odo punya hubungan dengan Kerajaan Ungea? Terutama dengan Keluarga Kerajaan di sana?”
Laura sesaat terdiam, merasa rekannya tersebut mengartikan dengan cara yang berbeda. Tidak ingin membuat suasana keruh sebelum pergi ke Dunia Astral, Elf tersebut hanya menganggukkan kepala sekali.
Meski angin berhembus kencang dan gemuruh mendominasi tempat tersebut, Odo dengan jelas mendengar pembicaraan mereka. Begitu pula Vil yang sedikit melirik, lalu pura-pura tidak peduli dengan apa yang kedua Elf tersebut bicarakan.
“Vil, aku mau memastikan.” Odo mengambil belati perak dari dimensi penyimpanan. Sembari mengiris pergelangan tangan kanan dan meneteskan darah ke permukaan altar, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Boleh aku pinjam kemampuan sihirmu sebentar? Meski aku bisa membuka gerbang dengan Khanda ini, Mana yang bisa aku gunakan terbatas. Takutnya nanti koordinatnya melenceng saat kita berpindah.”
“Sebentar!” Vil sedikit terkejut. Benar-benar tidak memedulikan kedua Elf yang sedang berbisik-bisik dan sepenuhnya fokus kepada Odo, perempuan rambut biru tersebut dengan tegas memastikan, “Rajah milik Odo punya fungsi seperti itu?! Bukannya itu hanya pajangan?!”
“Kalau hanya pajangan, aku sudah menghapusnya dari dulu.” Odo memalingkan pandangan dengan kesal. Setelah menghela napas ringan, ia kembali menggerutu, “Lagi pula, aku ini bukan orang yang suka menato tubuh. Asal kau tahu, rasanya menjijikkan kalau ada gambar-gambar seperti ini melekat di kulitku.”
__ADS_1
“Itu bukan gambar, terlebih lagi kenapa Odo malah marah?” Vil sedikit bingung melihat reaksi seperti itu.
“Haaaah!” Odo menghela napas dengan kasar. Menatap tajam lawan bicara, ia dengan tegas bertanya, “Boleh enggak aku memakai kemampuan sihirmu sebentar?”
“Eh ….” Vil seketika tertegun. Tidak mengerti kenapa suasana Odo tiba-tiba berubah kesal, Roh Agung tersebut pun bertanya, “Apa … waktu di atas pembicaraan kalian tidak berjalan lancar? Mereka membuat Odo kesal?”
“Ini tidak ada kaitannya dengan mereka.” Odo mengangkat belati setinggi dada, lalu mengamati permukaan tajam yang berlumur darah miliknya sendiri. Seraya menyipitkan mata ia pun menambahkan, “Aku hanya benar-benar tidak suka simbol Khanda ini. Untuk pembicaraan dengan orang-orang tadi, semuanya berjalan lancar. Meski di akhir Nona Lisia sepertinya tetap tidak setuju.”
“Apa simbol Khanda itu benar-benar mengganggu Odo? Memangnya kenapa?” tanya Vil penasaran.
Seraya mengerutkan kening, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Aku hanya tidak suka ada tato di tubuhku.”
“Hmm ….” Vil paham ada maksud lain dari perkataan itu. Tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut, sang Roh Agung dengan tegas berkata, “Diriku tidak keberatan. Kalau memang Odo mau meminjam kekuatan sihir, itu tidak masalah. Lagi pula, diriku ini adalah Roh yang Odo kontrak. Tak perlu minta izin seperti itu dan perintahkan saja.”
“Yakin?” tanya Odo seraya menatap tajam lawan bicara.
Merasa tidak nyaman dengan sorot mata Putra Tunggal Keluarga Luke, rasa percaya diri Vil langsung menciut. “Memangnya … apa yang ingin Odo lakukan?” tanyanya memastikan.
“Menggunakan Aitisal Almaelumat, aku sudah menanamkan perintah bersyarat pada belati ini.” Odo menodongkan belati berlumur darah ke depan. Lalu sembari tersenyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Saat darah masuk ke dalam tubuhmu, secara otomatis sihir milikmu akan bergerak untuk mengaktifkan altar. Selanjutnya, rajah ini akan mengaksesnya dan membuat gerbang independen untuk pergi ke Dunia Astral. Konsepnya seperti menyalin struktur sihir, lalu melakukan kalkulasi untuk menutupi kekurangan yang ada dalam altar ini.”
Vil menelan liur dengan berat, merasakan firasat tidak menyenangkan dan mulai melayang menjauh. “Jangan bilang kalau diriku harus ditusuk belati itu?” tanyanya dengan cemas.
“Huh?” Odo menurunkan kedua alis. Setelah menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Tidak perlu! Memangnya aku mau membunuhmu? Cukup pegang belati ini, lalu jilat dan minum darahku saja ….”
“Eh? Hanya itu …?”
“Hanya itu ….” Odo sejenak memejamkan mata. Sembari mengangkat telapak tangan kanan setinggi dada, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kalian berdua, cepat masuk ke dalam lingkaran sihir! Kita akan mulai ritualnya.”
Magda dan Laura tersentak. Tanpa diberi waktu untuk berpikir dua kali dan memahami ritual yang akan dilakukan, mereka berdua melangkah masuk ke dalam altar. Berdiri di belakang Vil, lalu terdiam dengan bingung karena tidak tahu apa-apa tentang ritual yang akan dilakukan Odo.
Melihat Odo sudah mulai bersiap, Vil pun menarik napas dalam-dalam. Ia menonaktifkan sihir melayang dan menapak di permukaan altar, lalu perlahan mengangkat belati ke depan mulut. Dikuasai hasrat aneh dalam benak dan seakan terpikat, sang Roh Agung langsung menjilat darah yang menetes dari bilah.
Saat satu tetes darah masuk ke dalam tubuh Vil, perubahan informasi bersyarat langsung aktif pada saat itu juga. Dalam beberapa detik, kemampuan optik sang Roh Agung untuk menangkap cahaya diputus. Semuanya berubah menjadi gelap gulita.
Namun, satu detik kemudian pemandangan yang sangat berbeda tiba-tiba tampak di hadapan Vil. Suara gemuruh ombak pun seketika lenyap, begitu pula hembusan angin kencang yang menerpa tubuh.
Tempat tersebut bukanlah altar yang dikelilingi bebatuan karang dan didera ombak besar. Hamparan luas yang dipenuhi rerumputan, di tempat itulah Vil berdiri sekarang.
Memandang lurus ke depan, tampak sebuah pohon raksasa berdiri tegak di antara hamparan rumput. Menjulang tinggi sampai tampak menembus awan, tampak hijau dengan dedaunan yang rimbun.
Di sekitar pohon besar terdapat puing-puing bangunan, akar-akar besar yang tumbuh keluar dari tanah, dan sesosok gadis bertubuh kecil yang duduk di atas rerumputan. Ia mengenakan gaun putih, memiliki sepasang tanduk dan ekor yang tampak seperti bercahaya.
Seperti halnya Vil yang benar-benar terkejut karena pemandangan yang tiba-tiba berubah drastis, gadis bertanduk itu pun membuka kedua mata lebar-lebar dan terbelalak. Sebelum suara keluar dari mulut sang Roh Agung, tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap gulita lagi.
Satu detik kemudian, pemandangan yang Vil lihat kembali seperti semula. Di hadapannya berdiri Odo yang sedang mengatur struktur sihir dan membuat koneksi dengan rajah Khanda, lalu suara ombak kembali terdengar jelas.
“Odo …, tadi itu apa? Siapa gadis berambut biru itu?” tanya Vil bingung.
__ADS_1
“Rambut biru?” Pertanyaan tersebut sedikit membuat konsentrasi Odo pudar. Membuka kedua mata dan menatap datar, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit menyipitkan mata. Memikirkan beberapa kemungkinan yang ada, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Berarti Putri Naga itu mengubah warna rambutnya, atau mungkin karena pengaruh kontak yang aku buat denganmu.”
“Ini bukan masalah warna rambut!” bentak Vil kesal. Mengembungkan pipi dan menodongkan belati perak, Roh Agung tersebut kembali bertanya, “Kenapa wujud jiwa Naga Hitam itu malah gadis mungil?! Bukannya dia bapak-bapak berjanggut tebal?!”
“E-Eh? Kenapa?”
Untuk beberapa detik, konsentrasi Odo sepenuhnya buyar sampai-sampai struktur yang sedang diatur rusak. Aliran menjadi kacau, lalu koneksi yang baru saja dibangun melalui rajah Khanda pun lenyap.
“Habisnya dia itu Naga Hitam, bukan? Warna hitam itu untuk bapak-bapak! Kenapa tadi diriku lihat warna rambutnya biru dan malah mengenakan gaun putih! Dia itu Naga Hitam, loh!”
Kening Odo berkedut kencang, merasa pembicaraan akan berakhir panjang jika dilanjutkan. Memalingkan pandangan dan menurunkan telapak tangan yang dibuka, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak memejamkan mata.
“Ini menyebalkan.” Odo perlahan membuka kedua kelopak mata, kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas menyampaikan, “Apa itu penting sekarang? Kita tidak punya banyak waktu. Setelah sampai di Dunia Astral, aku perlu meminta bantuan Reyah dan meninjau rencana penaklukan secara lengkap. Kau tahu lajur waktu di sana lebih lambat dari Dunia Nyata, ‘kan?”
“Maksud Odo, jika ingin bicara panjang lebar di sana saja?”
“Hmm ….” Odo mengangguk. Kembali mengangkat telapak tangan kanan sampai setinggi dada, Putra Tunggal Keluarga Luke meminta, “Tolong jilat lagi darahku dan kita mulai dari awal. Struktur yang aku bangun tadi rusak karena pertanyaan konyol yang kau berikan.”
“Maaf ….” Vil menundukkan wajah dengan muram.
“Aku tidak marah, tak perlu murung begitu.”
Odo menarik napas dalam-dalam, lalu berusaha fokus untuk menyusun kembali struktur sihir. Namun, tetap saja apa yang dikatakan Vil membuatnya sedikit tidak tenang. Mempertimbangkan kemungkinan yang ada, ia merasa bahwa koneksi yang terbentuk membuat Roh Agung tersebut memiliki akses atas Alam Jiwa miliknya.
“Reyah juga nanti akan bisa masuk ke Alam Jiwa. Aku rasa tidak masalah kalau Vil melongok ke dalam dan bertemu dengan kadal itu,” benak Odo dengan mimik wajah muram.
Setelah itu, ritual pun dimulai lagi oleh mereka. Vil menjilat darah dari belati yang sudah sedikit mengering, lalu proses seperti sebelumnya kembali berlangsung.
Untuk beberapa detik, Roh Agung tersebut pun terlempar masuk ke dalam Alam Jiwa milik Odo. Kembali bertemu dengan sang Putri Naga dan saling bertatapan mata.
Sama seperti sebelumnya, sebelum sempat berbicara kesadaran Vil terlempar dan kembali ke Dunia Nyata. Terdiam membisu melihat Odo yang sedang mengatur struktur sihir untuk, lalu menundukkan kepala dengan muram karena rasa penasaran yang menyelimuti.
Tidak memedulikan ekspresi Roh Agung tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke membuat lingkaran sihir kecil di atas telapak tangan yang diangkat setinggi dada. Jumlah lingkaran sihir terus bertambah sampai belasan, menumpuk satu sama lain dan mulai dikelilingi puluhan Rune berukuran sangat kecil dan kompleks.
Saat Odo perlahan menutup telapak tangan, struktur yang tercipta seketika berubah bentuk. Dibungkus oleh kubus transparan selebar telapak tangan, lalu lingkaran-lingkaran sihir di dalamnya mulai berputar layaknya gerigi-gerigi dalam mekanisme jam tangan analog.
Memanfaatkan suplai Mana milik Vil yang mulai terkumpul pada telapak tangan, Odo menggunakan Faktor Aktivasi untuk membuat sirkuit sihir merah menuju rajah Khanda. Memakai sombol tersebut layaknya inti sihir, ia mengolah Mana untuk mengakses Altar Gerbang Dunia Astral.
“Koordinat awal ditetapkan, sesuai. Penyesuaian suplai Mana. Memindai altar. Ditemukan kekurangan. Memulai kalkulasi, dimuat ulang untuk perbaikan. Kalkulasi suplai Mana selesai. Meninjau ulang struktur perpindahan. Akses Khanda ditetapkan, diproses. Memindai ulang koordinat perpindahan. Selesai. Mengulangi proses dari awal …, selesai. Ditemukan kesalahan. Koreksi koordinat tujuan dimulai. Selesai. Peninjauan ulang proses dari awal. Selesai. Persiapan loncatan dimensi selesai.”
Odo perlahan mengangkat kubus berisi struktur sihir tinggi-tinggi, lalu mengaktifkan altar yang sudah terhubung dengan rajah Khanda miliknya. Dalam hitungan detik, Mana tersebar ke penjuru arah dan secara otomatis memadat. Membentuk wujud fisik, lalu menambal konstruksi altar yang rusak menggunakan teknik pemadatan Mana.
Tanpa membuang waktu, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung meremas kubus berisi struktur sihir dan membiarkan sirkuit sihir merah pada tangan kanan menyerapnya. Menjadi pelatuk aktifnya loncatan dimensi ke Dunia Astral.
Altar langsung bersinar, memancarkan cahaya terang sampai menjulang tinggi ke langit layaknya sebuah pilar raksasa. Menelan mereka semua yang berdiri di dalam altar tersebut dalam cahaya putih yang sanga terang.
ↈↈↈ
__ADS_1