
“Ke-Keracunan?”
Diakones yang mendengar itu segera berdiri dan menghampiri, sedikit membungkuk sembari menatap bingung. Meski beberapa orang puritan bisa menggunakan berkah ataupun Kekuatan Ilahi, orang-orang itu sama sekali tidak memahami konsep Mana Suci. Mereka hanya tahu bahwa kekuatan itu merupakan berkah dari sang Dewi, kemampuan yang hanya dipinjamkan kepada umat yang taat.
“Perlu aku sembuhkan?” Odo sekilas menoleh, lalu mengacungkan telunjuk kiri sembari menjelaskan, “Residu partikel Unfar dalam tubuhnya harus dibersihkan dulu. Ini tidak akan lama, aku hanya perlu Air Suci.”
“Be-Benarkah?” Mendengar perataan sang pemuda, seorang Biarawan segera berjalan mendekat. Ia adalah pria yang sebelumnya meratapi kondisi rekannya, seorang puritan dengan penampilan pria paruh baya. Kepalanya botak pada bagian ubun-ubun, mengenakan Alba berwarna cokelat muda, dan tali Single pada pinggan. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada, ia dengan penuh harapan memastikan, “A-Anda bisa menyembuhkannya?!”
“Bisa,” jawab Odo dengan singkat. Meletakkan pedang hitam ke lantai aula, ia sekilas melihat ke arah altar utama di sudut ruangan. Memberikan tatapan tajam kepada para pejabat dan pedagang, kemudian memancarkan nafsu membunuh yang membuat mereka menggigil ketakutan. Sejenak menghela napas untuk menenangkan diri, pemuda rambut hitam itu segera bangun sembari meminta, “Bawakan aku Air Suci! Setelah selesai, aku perlu bantuan kalian!”
“Ba-Baik!” Biarawan itu langsung menyanggupi, ia sama sekali tidak meragukan Odo karena ingin rekannya selamat. Pria botak itu segera berlari menuju ruang Sakristi, tempat penyimpanan vestimentum dan alat-alat peribadatan gereja. “Tunggu sebentar, Tuan Odo! Saya ambilkan dulu! Pasti masih ada yang tersisa!” ujarnya seraya membuka pintu di dekat altar utama, lalu masuk untuk mencari Air Suci yang biasa digunakan untuk upacara pembaptisan.
“Baiklah, sebelum itu mari kita antisipasi ini dulu …!” Tanpa membuang waktu, Odo segera berjalan menuju para pejabat dan pedagang di sudut ruangan. Meski pemuda itu meninggalkan pedangnya di lantai, ia masih memancarkan intimidasi kuat. Memberikan tatapan tajam, lalu menunjuk lurus sembari bertanya, “Siapa yang ikut menghasut? Siapa yang menyuruh kalian membuat kericuan itu? Aku sedang memberi kalian kesempatan!”
“Menghasut?” Salah satu pedagang segera menghadap. Tidak takut dan malah menunjukkan gelagat sombong, pria berdus itu merentangkan kedua tangannya sembari mengelak, “Kami tidak tahu apa yang Tuan katakan! Kericuhan itu merupakan suara rakyat! Mereka sudah tidak percaya lagi dengan pemerintah …! Anda seharusnya tahu kekejaman Baron Stein, bukan? Tua bangka itu sanggup melakukan hal keji untuk mempertahankan kekuasaannya!”
“Jika benar begitu, mengapa kondisi Rockfield bisa sampai seperti ini?” Odo menjentikkan jari, lalu menunjuk lurus sembari lanjut menekan, “Bukankah kalian hanya ingin nyaman sendiri? Seperti telah dijanjikan bayaran atau jaminan monopoli pasar, atau mungkin izin untuk kembali berdagang di wilayah Kekaisaran!”
“A-Apa yang Anda bicarakan!” Pedagang itu langsung tersentak, melangkah mundur sampai menabrak beberapa orang yang berdiri di belakang. Wajahnya memucat, keringat dingin bercucuran, dan tatapan pun seketika dipenuhi ketakutan. “Jangan menuduh sembarangan! Kalian para bangsawan takkan paham perasaan rakyat kecil!” bentaknya dengan lantang. Ia balik menunjuk, berusaha untuk mengelak dengan menghasut yang lain.
“Memangnya aku peduli!” Odo langsung mencengkeram kerah pria gendut itu, lalu menariknya dan dilempar ke tengah aula utama. Berjalan mendekat, pemuda rambut hitam tersebut sekilas menunjukkan senyum tipis sembari berkata, “Kalian juga tidak pernah memikirkan perasaan bangsawan, ‘kan? Dasar babi! Kenapa sih orang-orang sepertimu selalu ada dalam masyarakat?! Menjijikkan!”
Aura putih aster mulai menyelimuti tubuh Odo. Sedikit mengibarkan rambutnya, lalu memancarkan intimidasi layaknya sosok pemangsa yang telah memojokkan buruan. Angin sekilas berhembus dari arah pemuda itu, tercipta dari resonansi Ether di dalam ruangan.
“A-Apa yang ingin kau lakukan!?” Pedagang dengan perawakan gendut itu segera merangkak menjauh. Setelah bangun dengan susah payah dan lekas berbalik, ia tanpa ragu langsung menunjuk sembari membentak, “Apa kau ingin mengeksekusi aku?! Di dalam gereja seperti ini?! Huh! Bangsawan memang angkuh! Kalian tidak takut apapun! Selalu merasa paling benar! Dasar biadab⸻!”
Odo segera mengayunkan telunjuk kanan ke atas. Pada saat bersamaan, pedang yang diletakkan pada lantai aula melayang ke udara. Langsung melesat dengan kencang dan menghunjam jantung pedagang itu dari belakang, dari punggung tembus ke dada kiri.
Darah membasahi lantai aula, tubuh pria gendut itu pun perlahan ambruk tanpa bisa menyelesaikan perkataannya. Terbaring tengkurap, membasahi tempat suci dengan darahnya yang kotor.
Itu jelas-jelas merupakan tindak kejahatan, main hakim sendiri tanpa melakukan pengadilan yang layak. Namun, anehnya semua orang-orang puritan tidak menganggap itu salah. Bahkan hampir seluruh penduduk sipil juga setuju, perlahan melebarkan senyuman puas seakan membenarkan tindakan pemuda itu.
Di tengah momen tersebut, Biarawan yang sebelumnya pergi mengambil Air Suci kembali. Ia terkejut saat melihat mayat terkapar di lantai, lalu sekilas menoleh ke arah Odo tanpa berani bertanya apa-apa.
“Ah, kau sudah mengambilnya?” Odo menyadari tatapan Biarawan itu. Segera berbalik dan berjalan menghampirinya, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Apa itu yang biasa digunakan untuk pembaptisan?”
Putra Tunggal Keluarga Luke sekilas menggerakkan telunjuk kanan, diayunkan layaknya seorang komposer orkestra. Pada saat bersamaan, pedang hitam yang tertancap pada mayat pedagang gemuk langsung tercabut dan melayang. Berputar-putar di udara untuk membersihkan darah yang menempel pada bilah, lalu terbang mengikuti pemuda itu.
“Benar, hanya ini yang tersisa ….” Biarawan itu tidak mendekat, malah mematung saat ditatap Odo. Melihat pedang hitam melayang di belakang pemuda itu, seketika ia mulai gemetar dan hampir menumpahkan baskom perak berisi Air Suci. “U-Uwah! Hampir saja!” ujarnya dengan panik, sekilas memalingkan pandangan dengan canggung.
“Hati-hati ….” Odo mengulurkan tangan kanan. Sembari melempar senyum ringan, ia dengan ramah meminta, “Boleh saya gunakan?”
__ADS_1
“Silahkan saja, Tuan Odo. Dengan ini Anda bisa menyembuhkannya, ‘kan?” Biarawan itu sejenak terpana layaknya dihipnotis. Ia tanpa pikir panjang menyerahkan baskom perak berisi Air Suci, lalu dengan tatapan sedikit bengong lanjut bertanya, “Anda ingin menggunakannya untuk apa? Katalis? Atau mungkin medium sihir?”
“Tebakan yang tepat!”
Odo menerima baskom perak itu dengan satu tangan. Segera mengambil tongkat Aspergilum dari Biarawan, ia langsung menciduk Air Suci dan meminumnya. Pada saat bersamaan, partikel cahaya keemasan perlahan terpancar dari tubuh pemuda itu.
“A-Apa yang terjadi?!”
Biarawan langsung terkejut. Saat melihat partikel cahaya mulai menyebar ke penjuru ruangan, ia semakin gemetar dan terpana. Itu mengingatkannya dengan Sihir Suci milik Penyihir Cahaya. Terasa sangat murni dan suci, begitu indah serta menghangatkan hati.
“Aku rasa ini sudah cukup …!” Odo selesai meminum Air Suci, tidak dihabiskan dan sisanya dikembalikan ke wadah. “Terima kasih banyak,” tambahnya seraya mengembalikan baskom dan tongkat Aspergilum.
“Tuan Odo …?” Dengan mata terbuka lebar, Biarawan itu menunjuk ke atas kepala pemuda itu. Sedikit menganga, lalu melangkah mundur sembari lanjut bertanya, “I-Itu apa? Kenapa benda seperti itu bisa ada di atas kepala Anda⸻?”
“Manifestasi Malaikat,” jawab Odo dengan cepat. Segera berbalik dan mengambil pedang hitam yang melayang, pemuda itu berjalan menuju Diakones yang terkapar di lantai aula. Ia berjongkok di hadapan perempuan tersebut, lalu membuka telapak tangan sembari bergumam, “Berkah pemurnian. Diselaraskan dengan kerusakan jiwa, perbaikan.”
Partikel cahaya yang tersebar ke penjuru ruangan seketika berkumpul, lalu menyelimuti tubuh Odo dan mulai memadat dengan cepat. Menciptakan sepasang sayap emas pada punggung pemuda itu, berfungsi sebagai sirkuit sihir tambahan dalam proses penggunaan Sihir Suci. Tampak seperti sayap burung merpati, namun berwarna keemasan layaknya kayu jati.
Odo menjentikkan jari, lalu memulai proses resonansi menggunakan suara dan partikel cahaya. Menciptakan koneksi satu arah, pemuda itu langsung masuk ke dalam susunan Aeons dan Daath milik Diakones di hadapannya. Memulai perbaikan menggunakan Ether dari dimensi tingkat tinggi, lalu menyalin beberapa informasi untuk data cadangan.
Tidak ada lingkaran sihir yang digunakan dalam proses tersebut. Layaknya menginput kode ke dalam skrip program, Odo satu persatu menyisipkan Rune berisi informasi Aeons dan Daath. Menyusun ulang kepribadian Diakones tersebut, lalu mengukuhkan bentuk jiwanya secara utuh.
Selama proses pemulihan berlangsung, residu partikel keemasan pun kembali tersebar ke udara. Mengisi aula utama gereja, lalu dihirup oleh para korban yang terbaring di bangku peribadatan.
Luka tebasan pada salah satu korban perlahan tertutup, hanya meninggalkan bekas samar pada permukaan kulit. Meski belum sembuh total, pertolongan itu sudah cukup untuk menyelamatkan nyawanya.
Pada saat bersamaan, setiap korban yang menghirup partikel keemasan pun ikut pulih. Luka pada tubuh mereka perlahan menghilang seolah dihapus, hanya meninggalkan bekas tipis yang sangat samar.
Tidak hanya itu, partikel residu dari tubuh Odo juga memulihkan para Diaken dan Diakones yang sudah kelelahan. Kondisi mereka berangsur-angsur membaik, stamina pulih dengan cepat dan tubuh menjadi segar kembali.
Keheningan. Kesenyapan yang terkesan sakral, mulia, dan suci layaknya sebuah sakramen keilahian. Momen singkat itu membuat semua orang terdiam membisu. Entah itu penduduk sipil, orang puritan, pejabat, atau bahkan kalangan pedagang, mereka semua hanya bisa terpana.
“Selesai ….” Odo menutup telapak tangan, lalu segera berdiri dan sejenak menghela napas setelah menyelesaikan proses rekonstruksi jiwa. Ia sekilas menoleh, lalu dengan suara sedikit serak lanjut berkata, “Dia baik-baik saja, beruntung jiwanya belum terurai. Beberapa menit lagi dia pasti akan bangun.”
“Sungguh?!” Sang Biarawan menunjukkan ekspresi antusias. Ia segera mendekat, lalu berlutut di dekat rekannya sembari berkata, “Syukurlah …, Syukurlah …! Terima kasih banyak, Tuan Odo!”
“Tidak saya sangka rumor itu nyata, Tuan benar-benar bisa menggunakan Manifestasi Malaikat ….” Diakones yang sebelumnya Odo ajak bicara kembali mendekat. Perempuan berkerudung biru denim itu memberikan tatapan penasaran dari samping, lalu mendekatkan wajah sembari lanjut bertanya, “Sangat mirip dengan Nyonya Mavis! Apakah itu benar, Tuan Odo? Anda adalah utusan Dewi yang dijanjikan dalam Kitab Suci?! Sang Penguasa⸻!”
“Bukan! Jangan mengada-ada!”
Odo menyela dengan kasar. Sembari memperlihatkan ekspresi kesal, ia segera mencengkeram ‘Halo’ yang melayang beberapa sentimeter di atas ubun-ubun kepala. Setelah ditarik dengan kasar, pemuda itu langsung mematahkan lingkaran cahaya itu menjadi dua.
__ADS_1
Pada saat bersamaan, bentuk Manifestasi Malaikat pun terlepas. Sayap keemasan pada punggung Odo seketika lenyap, berubah menjadi partikel cahaya dan terurai dalam hitungan detik. Menyatu dengan aliran Ether di udara, lalu kembali menuju dimensi yang lebih tinggi. Mematuhi konsep kekekalan energi.
“Sebentar! Kenapa Anda tiba-tiba melepas Manifestasi Malaikat?!” Diakones tersebut langsung terkejut, tampak panik dan segera meraih tangan kiri Odo. Ia langsung memeriksa sirkuit sihir pemuda itu melalui kontak fisik, lalu dengan gemetaran bertanya, “Efek samping! Efek samping⸻! Eh? Tidak ada? Kenapa …?”
Diakones itu seketika membisu, kedua matanya terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga. Ia tidak bisa berkata apa-apa karena bingung. Wajah perempuan itu memucat saat ditatap balik, lalu mulai gemetar hingga kedua kakinya lemas dan hampir jatuh.
“Sudahlah, aku baik-baik saja!” Odo segera menarik tangannya dari genggaman Diakones. Melangkah mundur, pemuda rambut hitam itu sejenak menarik napas sembari memperingatkan, “Jangan bilang kepada siapa-siapa, ini demi kebaikanmu sendiri.”
“Anda sebenarnya siapa? Mengapa bisa⸻?”
“Sudah!” Odo berdecak kesal. Kembali menghela napas, ia lekas memalingkan pandangan sembari mengingatkan, “Kita kehabisan waktu! Lihatlah ke luar, mereka sudah datang!”
“Mereka⸻?!” Diakones itu seketika terkejut. Melihat puluhan Pasukan Kekaisaran berbondong-bondong menyerbu, ia mulai panik sembari melangkah mundur. “A-Apa … kita sudah kalah?” lanjutnya dengan suara gemetar.
“Tempat pengungsian satunya ada di mana, ya?” Odo tidak terlalu peduli. Memperlihatkan mimik wajah resah, ia mulai melangkah maju sembari lanjut berkata, “Aku lihat di sini hanya ada orang keras kepala, kolot, dungu, dan kalian para puritan. Kalau yang lain?”
“Mereka ada di Distrik Perekonomian dan Pertambangan!” jawab Biarawan.
Ia tanpa ragu menyela pembicaraan, lalu memapah rekannya yang masih belum sadarkan diri. Pria botak itu segera menjauh dari pintu masuk gereja, lalu membaringkan perempuan itu pada salah satu bangku peribadatan.
“Pasar atau Rumah Bordil?” Odo kembali bertanya, ingin memastikan informasi untuk kalkulasi lanjutan.
“Rumah Bordil,” jawab Biarawan tersebut sembari duduk di atas lantai, lalu bersandar pada bangku peribadatan tempat rekannya terbaring. Sejenak menghela napas, pria botak itu menatap lawan bicaranya sembari lekas menjelaskan, “Sebenarnya hanya ada satu tempat pengungsian yang sudah disiapkan oleh pihak pemerintah. Namun karena ada banyak warga yang tidak ingin mengungsi, kami tidak bisa pergi begitu saja ….”
“Gereja Utama disiapkan sebagai alternatif lain,” sambung Diakones. Tidak ingin menyembunyikan hal itu, perempuan berkerudung biru denim tersebut dengan muram lanjut menjelaskan, “Jarak antara pemukiman dan tempat pengungsian cukup jauh. Untuk mengurangi korban, Imam Kota mengajukan saran ini untuk situasi darurat seperti sekarang.”
Odo kembali menghela napas. Sejenak melihat sekeliling, pemuda itu berpikir untuk menelantarkan semua orang yang ada di dalam gereja. Membiarkan mereka dibantai oleh Pasukan Kekaisaran.
“Baiklah! Buat gampang saja! Aku sudah kehabisan waktu⸻!” Sebelum keputusan kejam itu diambil, sekilas mata Odo bertemu dengan tatapan seorang anak kecil. Tampak polos dan rapuh, gadis itu duduk gemetar di sebelah Ibunya yang baru saja siuman. Hal tersebut membuatnya berubah pikiran, lalu kembali mempertimbangkan keputusan dan bergumam, “Ini menyebalkan, penuh kontradiksi ….”
Meski sempat memperlihatkan wajah enggan, pada akhirnya Odo mengambil keputusan yang paling sederhana. Pemuda itu melangkah keluar dari gereja tanpa gentar sedikit pun, lalu menatap puluhan Prajurit Kekaisaran yang telah bersiap menyerbu di balai kota. Ingin menunjukkan kekuatan mutlak dan membuat mereka menyerah.
“Oh, Korwa ….” Odo tersenyum tipis. Mengangkat pedangnya ke depan, ia sekilas memperlihatkan wajah sedih sembari lanjut bergumam, “Meski engkau telah tiada, kutukan ini masih terus menghantui diriku. Mengikat dan menahan jiwaku untuk terus bersikap baik. Berpura-pura menjadi orang baik.”
\======================
Catatan :
See You Next Time!
Gelut lagi!
__ADS_1
Btw, alasan si Fai marah itu juga berhubungan dengan julukan Keluarga Luke, yaitu Pedang Kerajaan. Kalau diterjemahkan bakal jadi “Royal Sword”. Jelas-jelas bukan untuk rakyat jelata.
Dan, itu juga enggak hanya berlaku di Felixia saja, namun seluruh Daratan Michigan.