Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[81] When they don't want to pass a path full of puddles (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


.


.


.


.


.


Hari semakin siang, mentari telah mencapai puncak tertingginya dan perlahan turun ke arah yang berlawanan saat terbit. Pada sebuah pemukiman baru yang berjarak tidak terlalu jauh dari Kota Mylta, tampak beberapa orang sedang gotong royong membangun desa tersebut.


 


 


Orang-orang dewasa membantu memotong kayu bersama para Dwarf dari Serikat Tukang Kurcaci Merah, sebagian juga ada yang memasang pasak-pasak besar untuk fondasi bangunan dan pagar kandang ternak. Selain itu, ada juga dari mereka yang menebang pepohonan untuk membuka lahan dan menggunakan kayunya sebagai material tambahan.


 


 


Namun, dari pemandangan pekerjaan penuh keringat dan otot tersebut tampak sesuatu yang tidak biasa. Hampir mayoritas dari orang-orang di desa tersebut adalah perempuan, laki-laki yang terlihat hanyalah tukang, anak-anak, orang tua, dan remaja yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.


 


 


Karena insiden yang terjadi pada pemukiman mereka dulu di perbatasan Rockfield dan Mylta, hanya merekalah yang tersisa. Secara keseluruhan, laki-laki dan perempuan yang masih dalam masa produktif bahkan tidak mencapai 20 orang. Sisanya adalah anak-anak kecil dan orang tua yang tenaganya tidak bisa diandalkan.


 


 


Karena itulah, tempat tersebut hanya memiliki kurang lebih sekitar tujuh sampai sepuluh bangunan saja untuk tempat tinggal. Selebihnya, lahan yang ada digunakan untuk ladang dan kandang ternak-ternak. Pada pusat ujung jalan utama di desa yang baru dibangun tersebut, ada pula sebuah bangunan aula besar yang juga pada bagian belakangnya berfungsi sebagai tempat tinggal Tetua suku.


 


 


Selain kurangnya para pria dewasa untuk pekerjaan kasar, Suku Klista tersebut juga memiliki masalah lain seperti harus beradaptasi dengan kebiasaan dan lingkungan baru. Suku Klista yang dulu menetap sementara di daerah pegunungan tersebut terkenal sebagai suku Semi-Nomaden, paling lama akan menetap pada satu tempat dalam kisaran satu sampai dua tahun dan sebagian anggota penduduknya sering berpindah dari tempat ke tempat. Bahkan, beberapa Suku Klista yang tersebar di Daratan Michigan ada juga yang selalu mengembara selama hidup mereka.


 


 


Karena itulah, membiasakan diri dengan harus menetap pada waktu yang cukup lama adalah hal yang sulit diterima oleh budaya mereka. Selain karena memang orang-orang Klista mencukupi kebutuhan hidup dengan berburu dan meramu, kebanyakan dari mereka juga tidak terlalu mengerti tentang cara penggunaan uang.


 


 


Bahkan, dari keputusan yang dibebankan kepada Suku Klista, ada beberapa dari mereka yang menolak menetap dan memutuskan untuk pergi berkelana untuk mengikuti kebiasaan leluhur mereka. Kalau bukan karena perintah langsung dari sosok yang mereka anggap Tetua, mungkin keputusan membentuk desa untuk mereka atas perjanjian yang disepakati Rockfield dan Mylta tidak akan terealisasi.


 


 


Di dalam keputusan tersebut pun ada beberapa hal yang membuat orang-orang Klista tidak suka, terutama pada bagian tentang tidak diakuinya lagi mereka sebagai penduduk Rockfield karena tak pernah membayar upeti kepada pemerintah. Kesan yang ada dari keputusan yang telah disepakati seperti mengusir Suku Klista dari tempat mereka dulu. Karena itulah, beberapa waktu lalu sempat terjadi perdebatan internal yang membuat beberapa anggota Suku Klista memutuskan untuk berkelana.


 


 


Mereka tentu ingin protes dan menuntut untuk lebih dihargai. Tetapi, sebagai korban dari insiden pada musim dingin tahun lalu, Suku Klista tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Baik itu secara politik ataupun finansial. Bahkan, dalam pembangunan pemukiman yang sebelumnya sempat mereka tolak pun pada akhirnya diterima karena semua keterbatasan yang menimpa suku tersebut.


 


 


“Hmm, aku rasa kandangnya sudah cukup seperti ini.” Seorang Dwarf keluar dari kandang ternak yang baru saja diselesaikannya. Ia merupakan salah satu tukang dari Serikat Kurcaci Merah, berpenampilan layaknya pria tua cebol khas rasnya. Meletakkan palu ke sabuk peralatan yang melingkar di pinggang, pria kerdil dengan janggut tebal tersebut dengan lantang berkata, “Hey! Kandangnya sudah jadi, apa ada yang perlu aku bantu lagi?!”


 


 


“Oh! Sini!” sahut salah satu Dwarf yang sedang memasang katrol untuk sumur. Sembari berhenti bekerja sesaat, ia melambaikan tangan sembari berkata, “Bantu aku mengecek saluran airnya dengan orang-orang suku! Di sana sepertinya kekurangan orang! Setelah aku selesai di sini, aku juga akan bantu!”


 


 


Dwarf yang baru keluar dari kandang tersebut segera menghampiri, lalu dengan mimik wajah sedikit bingung bertanya, “Saluran air? Bukannya itu mudah? Kenapa bisa sampai kekurangan orang?”


 


 


“Tadi Tetua Suku memesan desain khusus untuk saluran airnya, katanya untuk berjaga-jaga.” Dwarf yang bekerja di sumur mengambil perkamen dari tas kecilnya, lalu merentangkannya dan berkata, “Lihat desain ini, rumit sekali bukan?”


 


 


Melihat denah desa dengan pola aliran air yang akan dibangun, Dwarf tersebut sempat teringat dengan susunan bangunan yang pernah dirinya bangun bersama rekan-rekannya dulu di kota Mylta. Bangunan tersebut meski kecil, memiliki pola struktur yang rumit dan memiliki kesan mistis.


 


 


“Ini … mirip pola sihir, ya?”


 


 


“Kau tahu ini?”


 


 


“Tidak, tapi ini kesannya agak mirip dengan yang waktu itu Bos berikan kepada kita, ‘kan?”


 


 


“Eh, kapan?”


 


 


“Itu loh, waktu kita membangun toko yang ternyata milik Putra Tunggal Keluarga Luke.”


 


 


Di tengah pembicaraan kedua tukang terebut, seorang anak dari suku menghampiri dan menyela, “Permisi, paman-paman …. Sudah waktunya istirahat siang, makanannya sudah kami siapkan di aula.”


 

__ADS_1


 


Melihat anak perempuan dengan kulit pucat khas penduduk pegunungan tersebut, kedua Dwarf itu menatap dengan sedikit canggung. Mereka tampak masih belum terbiasa dengan penduduk Suku Klista dan juga menganggap mereka sedikit aneh karena tradisi yang ada.


 


 


“Hmm, tentu. Ini sudah siang, ya? Aku benar-benar lupa waktu. Nanti akan segera aku kabari rekan-rekan kami supaya istirahat dulu,” ujar salah satu Dwarf.


 


 


Meski dirinya merasa sedikit tidak nyaman dengan penduduk suku, ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya dengan jelas. Bukan karena lawan bicaranya anak kecil, melainkan karena perintah ketua kelompok mereka yang berpesan untuk tidak menganggap aneh tradisi-tradisi yang dimiliki orang-orang Suku Klista.


 


 


“Terima kasih, Paman.”


 


 


Tanpa berbicara lebih jauh dari itu, anak perempuan dengan penampilan khas Suku Klista tersebut segera pergi. Pakaian yang terdiri dari atasan kaus dan rok pendek putih, lalu pada bahu secara diagonal melingkar selendang dengan pola sulaman khas, itulah pakaian khas mereka yang bekerja di aula tempat tinggal Tetua Suku Klista.


 


 


Kedua Dwarf yang melihat sifat anak tersebut sempat terdiam, saling menatang dan mengangkat pundak secara bersamaan. Mereka paham bahwa hampir semua orang-orang Klista telah kehilangan anggota keluarga mereka, bahkan ada yang menjadi yatim piatu pada usia yang masih sangat belia. Karena itulah sikap dan perilaku dingin mereka adalah pemandangan yang wajar di tempat tersebut, seakan memang mereka masih tidak ingin melakukan kontak dengan orang luar dan trauma terhadap hal tersebut.


 


 


“Yang menyedihkan dari tragedi memang korban yang ditinggalkan, rasanya sakit kalau melihat anak kecil sepertinya harus mandiri di usianya itu.”


 


 


Mendengar gumam rekannya, Dwarf yang sebelumnya mengurus kandang memasang mimik wajah datar dan menyindir, “Memang kau paham perasaan anak-anak? Kau masih lajang dan bahkan belum punya pasangan, bukan?”


 


 


“Di-Diam kau! Meski sudah menikah, kau selalu dimarahi istrimu dan dibenci anakmu karena jarang pulang, ‘kan?” balas rekannya sembari melipat kedua tangan ke depan dada. Dengan nada kesal, ia pun kembali berkata, “Kalau kau punya keluarga, jangan kumpul ke sini terus! Sana kelon sama istrimu!”


 


 


“Yah, kalau bisa aku juga ingin segera pulang ….”


 


 


“Kenapa memangnya? Apa kalian bertengkar lagi?”


 


 


“Bukan …. Hanya saja, entah mengapa istri dan anakku belakangan sedang sibuk juga. Mereka bilang mulai mencari uang tambahan, aku lihat mereka mulai bekerja di perusahaan milik Putra Tunggal Keluarga Luke yang sekarang diangkat Viscount itu.”


 


 


 


 


“Bukan keduanya, tapi yang Pedagang Gerobak⸻!”


 


 


Udara dingin tiba-tiba berhembus, membuat kedua Dwarf tersebut menghentikan pembicaraan dan menggigil. Udara dingin sangatlah jarang di musim panas, apalagi di siang bolong pada hari yang cerah. Segera sadar bahwa itu bukanlah hembusan angin biasa, mereka dengan cepat melihat sekitar karena merasa janggal dengan hal tersebut.


 


 


“Ada apa ini …? Sekarang masih terik, ‘kan?”


 


 


“Hmm, matahari masih ada di atas sana?”


 


 


Kedua Dwarf tersebut melihat ke langit dengan mata sedikit sipit karena terangnya matahari. Tetapi, apa yang mereka rasakan dengan kulit memang jelas-jelas udara dingin. Sebelum mereka tahu penyebabnya, tiba-tiba awan mendung datang menutupi langit dan kabut tebal terbentuk di tempat tersebut.


 


 


Itu jelas tampak begitu aneh, terutama untuk topografi desa tersebut yang berada di dataran rendah. Saat kedua Dwarf tersebut ingin ke tempat rekan-rekan mereka untuk mencari tahu penyebab keanehan tersebut, dari dalam dinding kabut yang semakin menebal keluar seorang pemuda dengan pakaian penuh bercak darah.


 


 


““Eh⸻?””


 


 


Pikiran mereka langsung disetir ke arah hal mistis dan tubuh mereka pun menggigil ketakutan. Selain karena situasinya membuat mereka tidak bisa berpikir dengan tenang, selama bekerja para Dwarf tersebut pun sering melihat hal-hal mistis seperti jimat dan sesajen yang menjadi tradisi serta budaya Suku Klista.


 


 


“Ha-Hantu?” ujar salah satu Dwarf.


 


 


Mendengar ucapan tersebut, pemuda yang kakinya seakan tidak menyentuh tanah karena kabut tersebut pun menoleh. Ia memasang ekspresi datar dan berkata, “Kasarnya …, aku bukan hantu. Mana mungkin ada hantu siang bolong begini.”


 


 


““Ah?””


 

__ADS_1


 


Melihat wajah dan mendengar suaranya, mereka langsung mengenali pemuda tersebut. Ia adalah Odo Luke, sang Putra Tunggal Keluarga Luke. Karena mereka beberapa kali melihatnya berkunjung tempat para tukang di Distrik Pengrajin, mereka dengan mudah mengenalinya.


 


 


“Kalau tidak salah, kalian tukang dari Serikat Tukang Kurcaci Merah, bukan? Berarti aku tidak tersesat, syukurlah ….” Odo memalingkan pandangan, lalu sesaat menggaruk bagian belakang kepala dan mulai bergumam, “Seharusnya aku tidak coba-coba dulu …. Tak aku sangka manipulasi suhu dalam skala luas berhasil.”


 


 


Sedikit penasaran dengan apa yang diucapkan Odo, salah satu Dwarf yang sedikit memiliki pengetahuan tentang sihir bertanya, “Apa kabut ini Tuan Odo yang membuatnya?”


 


 


“Hmm, aku sedikit melakukan eksperimen kecil.” Odo balik menatap ke arahnya, lalu sembari tersenyum kecil kembali berkata, “Aku mencoba memanipulasi suhu dalam jangkauan luas. Kabut ini dihasilkan dari penurunan suhu secara ekstrem, nanti juga hilang setelah masa aktif kekuatanku selesai. Sekitar setengah jam lagi ….”


 


 


“Oh, eksperimen sihir, ya!” ujarnya Dwarf tersebut meski tidak tahu konsep kerjanya.


 


 


“Hmm, begitulah ….” Odo memalingkan pandangan dan melihat sekeliling. Meski di tengah kabut yang cukup tebal dan membatasi jarak pandang sampai belasan meter saja, dengan kemampuan penglihatannya pemuda itu masih bisa melihat lebih baik dari orang biasa bangunan-bangunan di sekitarnya. Setelah tersenyum kecil dan kembali menatap ke arah kedua pria kerdil di dekatnya, Odo segera memuji, “Kalian membangun desa ini dengan baik. Meski permintaan wanita bercula itu pasti menyebalkan, tapi kalian bisa memenuhinya dan menggunakan dananya dengan baik. Ah, kalau tidak salah secara peraturan pemerintah ini masih dianggap pemukiman, ya? Bukan desa ….”


 


 


“Te-Terima kasih ….”


 


 


Kedua Dwarf tersebut merasa sedikit bingung karena tiba-tiba mendapatkan pujian tersebut. Mereka memang tahu perusahaan Odo telah menanamkan investasi pada pembangunan pemukiman Suku Klista dan berhak untuk menilai pekerjaan mereka. Tetapi, tetap saja terdengar aneh untuknya melontarkan pujian seperti itu setelah melihat ke arah bangunan-bangunan yang diselimuti kabut tebal.


 


 


“Berarti tinggal mengirim beberapa ternak ke sini untuk mereka pelihara, lalu juga bibit-bibit tanaman untuk mereka rawat ….”


 


 


“Ah, soal itu ….” Salah satu Dwarf tersebut mengangkat jari telunjuknya, sedikit memutar bola mata ke atas dan mengingat-ingat. Sembari kembali menatap lawan bicaranya ia pun menyampaikan. “Kata mereka, untuk bibit tidak perlu. Mereka bilang bisa mencari bibit sendiri untuk ditanam, kata mereka di hutan sekitar sini juga banyak.”


 


 


“Aku tahu itu, suku Nomaden memang cukup paham soal tanaman.” Odo memalingkan pandangan dan melihat ke arah lahan yang masih belum ditanami, lalu sembari tersenyum kecil berkata, “Namun, tetap saja aku akan mengirimkan bibit untuk ditanam di sini. Bilang sana kepada mereka kalau itu sebuah jaminan untuk investasi yang aku berikan.”


 


 


“Na-Nanti akan aku sampaikan ….”


 


 


“Hmm …. Kalau begitu, sudah dulu.” Odo melempar senyum kecil, lalu memalingkan pandangan sembari kembali melangkahkan kakinya dan berkata, “Terima kasih sudah menemani bicara, aku harus pergi dulu untuk menemui Tetua Suku Klista. Mungkin istirahat siang kalian akan terganggu, jadi maaf ya ….”


 


 


“Tidak masalah …”


 


 


“Hmm, silahkan.”


 


 


Saat selesai berbicara dengan Odo, kedua Dwarf tersebut baru sadar kalau pemuda yang mengajak mereka berbincang untuk sesaat adalah orang dengan kasta yang sangat berbeda dengan mereka.


 


 


Untuk mereka dari kalangan bawah, berbicara dengan seorang Baron ataupun bangsawan kelas rendah pun harus memberikan sopan santun yang layak dan menundukkan kepala. Namun, sebelumnya mereka jelas-jelas berbicara dengan seorang Viscount. Meski dengan hormat dan menggunakan nada layaknya berbicara dengan kolega terhormat, tetap saja biasanya para bangsawan menganggap hal tersebut kurang sopan karena perbedaan kasta yang ada.


 


 


“So-Sobat, aku tadi sampai pula berlutut …. Se-Semoga dia tidak marah, ya.”


 


 


“Ba-Bagaimana ini? Kalau dia marah, bisa-bisa kita dipecat bos, dong!”


 


 


“Ma-Mau bagaimana lagi, dia tiba-tiba muncul. Siapa yang mengira dia akan berkunjung sekarang?”


 


 


“Eng, memang benar sih …. Ma-Mau minta maaf?”


 


 


“Aku rasa tidak usah …. Nanti dia malah marah.”


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2