
“Ya ….” Odo balik menatap lawan bicara dengan senyum simpul. Sembari meletakkan telapak tangan ke atas kepala sang Putri Naga, ia dengan nada sedikit sendu menyampaikan, “Aku teringat dengan Korwa, istriku di Dunia Sebelumnya ....”
“Korwa?” Seliari sedikit terkejut, ingatan tersebut merupakan sesuatu yang tidak tersimpan di permukaan Alam Jiwa. Sembari mengingat-ingat kembali nama yang disebut Odo, ia menyadari sesuatu dan segera memastikan, “Bukankah itu …, aliran …, aliran …, ya! Aliran Sesat! Aliran Sesat itu terdiri dari para Korwa, bukan? Apa dia salinan dari istrimu di Dunia Sebelumnya? Bukan tiruan yang terbentuk dari jiwamu dan makhluk bernama Korwa itu?”
“Salinan? Tiruan?” Odo tersenyum tipis. Mengangkat tangan dari kepala Seliari, pemuda rambut hitam tersebut memalingkan pandangan dan menjawab, “Kau pikir aku akan jatuh cinta kepada wanita membosankan seperti Canna atau para wanita berpikiran sempit seperti mereka? Pada akhirnya, semua Korwa di dunia ini hanyalah imitasi tidak sempurna. Selain fisik, tidak ada dari mereka yang mirip dengan istriku.”
“Kejam sekali ….” Seliari untuk sesaat menatap jijik, merasa bahwa Odo terlalu kejam terhadap orang-orang yang telah mengorbankan nyawa dan hidup mereka untuk mengumpulkan jiwanya. Setelah menarik napas ringan dan mengesampingkan hal tersebut, dengan nada lelah Putri Naga kembali bertanya, “Mengapa Odo sangat yakin? Dirimu belum bertemu Korwa selain perempuan bernama Canna, bukan?”
“Kau tahu, Seliari ….” Odo menatap lurus lawan bicara. Seakan mata tersebut telah mengetahui semua hal yang ada di dunia, ia dengan nada tegas menyampaikan, “Seluruh entitas yang berasal dari Dunia Sebelumnya, mereka semua berasal dari diriku. Dengan kata lain, Korwa di dunia ini hanyalah sebatas Korwa dalam persepsi ku.”
“Huh, itu malah terdengar aneh! Sedikit kontradiksi!” Seliari melipat kedua tangan ke depan dada, lalu sembari memiringkan kepala kembali bertanya, “Kalau begitu, kenapa bisa Korwa yang ada sekarang tidak mendekati yang asli?”
“Kau belum paham?” Odo menghadap ke arah Putri Naga. Sembari meletakkan telunjuk kanan ke tengah kening, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Aku menikahinya karena tidak bisa memahaminya, bahkan sampai akhir Korwa tetap menjadi misteri dalam hidupku. Saat aku memahami pola pikir Canna dan para imitasi Korwa, itu membuktikan bahwa mereka bukanlah tiruan yang sempurna. Hanya diambil dari batas persepsi milikku.”
Odo menurunkan telunjuk dari kening. Seakan telah memahami sesuatu yang menguntungkan, pemuda rambut hitam tersebut lekas tersenyum lebar dan menambahkan, “Hal ini juga berlaku untuk Dewi Penata Ulang itu. Jika dia memang benar-benar berasal dari Dunia Sebelumnya dan menempel pada jiwaku saat peralihan, seharusnya aku juga bisa memahaminya. Asalkan aku mengingat semua tentang Dewi sialan itu, kemenangan sudah terjamin ….”
Seliari hanya menatap datar dalam bingung dan menghela napas, merasa Odo sudah kembali seperti biasanya dan mulai berkata hal-hal aneh. Sembari menunjuk lawan bicara ia pun bertanya, “Lantas apa hubungannya semua itu dengan penaklukan Leviathan? Jangan bilang kalau pembicaraan ini dirimu lakukan hanya karena teringat wanita masa lalu itu? Diriku hanya dijadikan pelampiasan stress, ya?!”
“Tentu saja bukan!” Odo menjawab dengan tegas. Sembari meletakkan telunjuk ke depan mulutnya sendiri, pemuda rambut hitam tersebut mendekatkan wajah dan berkata, “Aku ingin meminta sesuatu darimu. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Leviathan, aku akan tetap akan berusaha menyelamatkannya. Sesuai dengan janji yang telah kita buat. Namun ….”
“Namun?” Seliari mengambil satu langkah ke belakang, merasa tidak nyaman dengan sifat pemuda itu yang terkesan seperti orang licik di saat seperti ini.
“Aku butuh sedikit bantuan.” Menarik napas ringan, Odo sejenak memalingkan pandangan ke arah Pohon Besar yang tumbuh di Alam Jiwa miliknya. Sembari mengangkat tangan kanan dan menunjuk ke puncak, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Mungkin aku akan merombak ulang tempat ini dan menjadikannya lautan api.”
“Huh?” Seliari terkejut, segera menoleh ke arah tempat yang Odo tunjuk dan kembali bertanya, “Apa yang dirimu bicarakan? Lautan api? Maksudnya membakar pohon itu?”
“Hariq Iliah ⸻ Aku akan menggunakan kekuatan penuh Sihir Khusus milikmu, Seliari.” Odo berhenti menunjuk. Seraya melirik ke arah lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut kembali menyampaikan, “Sekarang atribut tempat ini cenderung ke arah air dan tanaman, jika aku melakukan Shift secara paksa kemungkinan besar iklim akan berubah secara ekstrem.”
“Jadi, dirimu datang hanya untuk menyampaikan hal seperti itu?” Seliari melipat kedua tangan ke depan, memasang senyum sedikit sombong seakan itu bukanlah sebuah masalah.
“Sebenarnya …, iya.” Odo menarik napas ringan, merasa Putri Naga itu sama sekali tidak paham dengan risiko yang ada. Tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan semuanya, Putra Tunggal Keluarga Luke lanjut berbicara, “Selain itu, aku juga ingin meminta izin menggunakan sesuatu yang dibawa Reyah.”
“Dryad Pohon Suci itu?” Seliari untuk sesaat terdiam, mengingat-ingat kembali pedang dengan aura aneh yang dibawa oleh Reyah. “Ah, maksud Odo pedang yang ditempa dari bangkai tubuhku?” Putri Naga memastikan.
“Hmm ….” Odo mengangguk ringan.
“Memangnya apa yang ingin dirimu lakukan dengan itu?” Seliari menatap penasaran.
“Transformasi Naga.”
“Eh?”
Jawaban tersebut membuat sang Putri Naga terbelalak, tidak mengira jawaban seperti itu akan keluar dari mulut Odo. Untuk beberapa saat pikirannya kacau, tidak memahami sasaran pemuda rambut hitam tersebut dalam rencana penaklukan Leviathan.
“Meski aku melakukan cara ekstrem seperti itu, tetap saja aku pasti akan mati.”
__ADS_1
“I-Itu benar!” Seliari menatap serius. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, ia dengan nada cemas memperingatkan, “Tubuh manusia tidak bisa menahan transformasi itu! Pada kondisi prima, diriku bahkan butuh waktu untuk memulihkan diri setelah melakukan transformasi penuh! Odo pasti akan langsung mati!”
“Apa kau lupa, Seliari?” Odo melepaskan sarung tangan kanan, lalu menunjukkan Rajah angka yang ada pada telapak tangan sembari kembali berkata, “Aku punya nyawa cadangan. Huruf C menunjukkan Centum, dengan kata lain sekarang diriku paling tidak punya seratus tubuh cadangan di Dunia Kabut.”
“Ah ….” Putri Naga kembali teringat hal tersebut. Sembari memalingkan pandangan dan meletakkan tangan kanan ke dagu, ia dengan nada sedikit ragu memastikan, “Itu hasil dari singgasana semu yang dirimu buat saat melakukan manifestasi dewa, bukan?”
“Tempat itu tidak semu lagi,” koreksi Odo. Mengambil satu langkah ke belakang, ia sejenak menarik napas ringan dan mendongak ke langit biru. “Koordinat Realm itu masih ada di celah dimensi sampai sekarang,” tambahnya dengan nada ringan.
“Apa tidak masalah menggunakan hal seperti itu?” Seliari mencemaskan. Mempertimbangkan beberapa hal terkait tubuh cadangan dan Realm yang Odo bicarakan, Putri Naga kembali memastikan, “Bukankah … itu dibuat oleh sosok yang waktu itu kita lawan di tempat ini? Entitas menjijikkan yang⸻”
“Tidak masalah ….” Odo memutuskan dengan cepat. Seakan telah mempertimbangkan kecemasan Seliari, pemuda rambut hitam tersebut balik menatap ke arahnya sembari berkata, “Dia juga merupakan entitas yang terbawa oleh jiwaku saat menyeberang. Jika memang Mahia yang aku temui waktu itu sama seperti dulu, seharusnya motif dan langkah yang akan diambilnya masih dalam perkiraan ku.”
“Tetap saja itu berbahaya.” Seliari melipat kedua tangan ke depan, sedikit memalingkan pandangan dan kembali meragukan, “Meski bisa memprediksi motif dan langkahnya, itu bukan berarti dirimu bisa melakukan sesuatu untuk mencegahnya, ‘kan?”
“Yah ….” Odo sekilas tersenyum kecut. Merasa perkataan tersebut sangat tepat dan menjawab, “Sayangnya itu benar. Kemampuan ku saat ini sangatlah terbatas. Meskipun aku tahu banyak hal, itu bukan berarti aku mampu melakukan segalanya.”
“Kalau begitu, bukankah itu malah bahaya?” Seliari berhenti melipat tangan. Menunjuk ke arah Odo dan mengerutkan kening, Putri Naga tersebut dengan tegas memperingatkan, “Bisa saja di antara tubuh cadangan ada sesuatu semacam jebakan. Lagi pula, Realm penuh kabut tersebut juga bisa menjadi sebuah perangkap itu sendiri. Memancing dirimu untuk menggunakannya, lalu tiba-tiba kesadaranmu diambil alih.”
Odo sedikit terkejut, tidak mengira Seliari berpikir sejauh itu dan mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan. “Ternyata pikiranmu tajam juga, ya?” ujarnya dengan nada heran.
“Tak perlu menyanjung!” Seliari merasa diremehkan. Sembari kembali melipat kedua tangan ke depan, Putri Naga tersebut dengan nada kesal berkata, “Seharusnya dirimu sudah memperkirakan hal itu juga, ‘kan? Sanjungan seperti itu malah terdengar menyebalkan, tahu!”
Odo sejenak memalingkan pandangan. Mempertimbangkan kembali potensi ancaman yang disampaikan oleh Seliari, ia sejenak terdiam sembari menggaruk bagian belakang kepala. Merasa bahwa permasalahan seperti itu tidak ada gunanya jika hanya dipikirkan saja.
“Kenapa?” tanya Seliari seraya sedikit memiringkan kepala.
“Kenapa katamu?” Odo sejenak mengerutkan kening. Sembari sedikit mengangkat wajah dan menatap rendah, dengan nada angkuh pemuda rambut hiram tersebut menjawab, “Tentu saja karena aku tidak punya rencana lain!”
“Eh?” Seliari semakin bingung dengan sikap tersebut. Sembari mengambil satu langkah ke belakang Putri Naga bertanya, “Ke-Kenapa malah sombong kalau tidak punya rencana? Dasar aneh ….”
“Yah, jujur ini juga sedikit membuatku depresi” Odo meletakkan tangan ke dagu dan termenung. Mempertimbangkan kembali tentang penggunaan tubuh cadangan di Dunia Kabut untuk regenerasi super cepat, pemuda rambut hitam tersebut mulai meninjau ulang rencana dengan bergumam, “Saat menggunakan tubuh cadangan, proteksi yang aku buat memang akan terlebih dulu memeriksa informasi tubuh yang diunduh dari sana. Namun, tetap saja ada kemungkinan muncul galat jika dilakukan secara terus menerus. Terlebih lagi, aku tidak bisa membagi fokus saat melawan Leviathan nanti.”
“Bagaimana kalau diriku saja yang memeriksanya?” ujar Seliari seakan dirinya bisa. Sembari mengacungkan telunjuk tinggi-tinggi, Putri Naga tersebut dengan nada penuh percaya diri menawarkan, “Prosesnya serahkan saja padaku! Dengan begitu proteksinya akan terjaga, bukan?”
“Kau? Mengurus proteksi?” Odo sejenak menatap datar, merasa bahwa Seliari kurang teliti dalam pembicaraan yang berlangsung. Setelah menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut langsung memastikan, “Proses proteksi yang kau pikiran, itu menggunakan Pohon Besar di belakangmu, ‘kan?”
Sembari melipat mengarahkan tangan kanan dan menunjuk ke arah Pohon Besar, Putri Naga dengan penuh percaya diri menjawab, “Tentu saja! Di sana ada struktur sihir⸻!”
“Aku akan membakarnya,” tegas Odo.
“Eh?” Seliari langsung terkejut dan menoleh. Dengan ekspresi bingung dan melupakan salah satu isi pembicaraan yang berlangsung, Putri Naga dengan bingung bertanya, “Kenapa dibakar? Memangnya salah apa pohon itu?”
“Ah, maaf.” Odo sejenak memalingkan pandangan. Sembari meletakkan tangan kanan ke kening, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Maksudku, pohon itu akan terbakar saat Hariq Iliah aku aktifkan secara penuh.”
__ADS_1
“Ah!” Seliari mengingatnya kembali. Ia tampak bengong karena bingung harus mencari alternatif lain untuk masalah tersebut. “Benar juga, dirimu tadi juga bicara tentang itu,” ujarnya dengan kedua alis turun.
Odo menatap datar. “Kau ini dengar perkataanku tidak, sih?” ujarnya dengan nada kesal.
“Dengar, kok!” Tidak terlalu memedulikan rasa kesal pemuda itu, Putri Naga kembali menghadap ke arahnya dan lekas bertanya, “Terus …, Odo serius mau ambil risiko seperti itu? Bisa saja tiba-tiba Alam Jiwa ini dibajak karena dirimu memakai tubuh cadangan yang salah, loh.”
“Tolong jangan menakuti-nakuti seperti itu.” Odo menghela napas ringan, merasa diingatkan kembali dengan kemungkinan terburuk yang ada. Sembari berjongkok dan menutup wajah dengan kedua tangan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Aku juga tahu risikonya, hanya saja sekarang tidak ada pilihan lain. Kalau bisa, aku harap kau bisa menghentikannya jika hal seperti itu terjadi.”
“Menahannya?” Seliari ikut berjongkok di hadapan sang pemuda. Sembari menunjuk ke arah Pohon Besar, sang Putri Naga kembali bertanya, “Meski pohon tempat struktur sihirnya terbakar? Caranya bagaimana?”
“Ugh, benar juga.” Odo berhenti menutup wajah, menatap dengan pucat dan memperlihatkan mimik wajah bingung.
“Hmm ….” Seliari balik menatap lurus, memikirkan beberapa hal dan segera memutuskan sesuatu dalam benak. Meski masih sedikit ragu, Putri Naga tersebut meraih kedua tangan Odo dan menyampaikan, “Baiklah, akan diriku usahakan. Mungkin diriku tidak bisa menghentikan entitas menjijikkan itu, namun kalau menahannya beberapa menit tidak masalah. Selama itu, Odo tolong berusahalah sendiri untuk mengambil alih kembali Alam Jiwa ini.”
“Eh~?” Odo memasang ekspresi enggan.
“Kenapa malah ‘eh’ begitu?” Tatapan Seliari berubah datar, merasa sedikit heran dengan kepribadian Odo yang terkadang seperti bocah. Setelah menghala napas kecil, dengan nada menggurui Putri Naga menyampaikan, “Tempat ini milikmu, loh. Diriku hanya penumpang!”
“Ya, mau bagaimana lagi ….” Odo memalingkan pandangan. Saat sedang memikirkan alternatif, tiba-tiba pemuda rambut hitam tersebut malah menyadari ancaman lain dalam penggunaan tubuh cadangan. “Kalau metodenya seperti itu, jujur aku malah khawatir dengan Leviathan jika tubuhku diambil alih Mahia,” sampainya lirih.
“Hmm?” Seliari berhenti menggenggam Odo, lalu sedikit memiringkan kepala dan bertanya, “Memangnya kenapa?”
“Ini tentang sifat Mahia ….” Odo kembali berdiri. Setelah menarik napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Dia itu cenderung agresif pada hal semacam ini. Waktu itu dia juga berusaha mengusir kau, bukan? Kalau tubuh Leviathan hancur dan aku harus menampung jiwanya, tentu saja Mahia tidak akan suka dan menolaknya.”
“Kalau begitu, kalahkan saja Leviathan tanpa menghancurkan tubuhnya.”
Seliari ikut berdiri. Sembari melipat kedua tangan ke depan, Putri Naga merasa sedikit muak dengan Odo karena terlalu mencemaskan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Mulai tidak peduli dengan pembicaraan, ia berhenti memikirkan alternatif untuk menyelesaikan masalah yang ada.
Ekspresi Odo langsung berubah datar saat mendengar saran tidak masuk akal itu. Setelah kembali menghela napas ringan, dengan suara ringan pemuda itu mengeluh, “Bicara seakan itu mudah. Waktu melawan kau saja aku sudah kewalahan, apalagi Leviathan dan kau bilang tidak perlu menghancurkan tubuhnya?”
“Sebelumnya Odo bilang kalau Leviathan dikutuk dengan cara yang berbeda, bukan?” Seliari mengacungkan jari ke depan. Sembari menggoyang-goyangkan telunjuknya, Putri Naga tersebut menyampaikan, “Kalau begitu, seharusnya adikku itu mungkin bisa diajak bicara. Pasti akan kemungkinan lain yang bisa dicapai.”
“Ah ….” Odo menatap semakin datar, benar-benar paham bahwa Seliari sudah mulai jenuh dengan pembicaraan. Merasa tidak ada gunanya lagi meminta saran kepada Putri Naga, pemuda rambut hitam tersebut menunjuk lurus seraya menyindir, “Kau memang sangat naif, ya? Padahal sudah hidup sangat lama! Kalau hal yang lebih buruk malah terjadi bagaimana?”
“Diriku tak ingin mendengar itu darimu!” Seliari dengan mudah tersinggung. Mengembungkan pipi dan menusuk pipi lawan bicara dengan telunjuk, sang Putri Naga dengan suara lantang balik menyindir, “Beberapa saat yang lalu dirimu menangis, ‘kan? Padahal jiwamu sudah sangat tua! Waktu hidup tidak ada hubungannya dengan pola pikir, tahu!”
“Yah, aku tidak bisa berargumen soal itu.” Odo sejenak menarik napas ringan. Seraya menggaruk bagian belakang kepala, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Kalau itu berpengaruh, sekarang aku mungkin sudah menyerah dan tidak berdiri untuk menghadapi Leviathan. Aku terus melangkah karena tetap menjadi seorang bebal dan enggan belajar dari pengalaman. Meski paham bahwa hal ini sangatlah menyusahkan dan menyiksa, namun tetap saja diriku tidak bisa berhenti melakukannya.”
“Odo ….” Seliari berhenti menunjuk, merasa telah menginjak ranjau lain dalam pembicaraan. “Apa dirimu ingin berhenti? Apa Odo menyesal karena mengambil keputusan ini?” tanyanya dengan cemas.
“Beberapa saat lalu, iya.” Odo melempar senyum simpul yang dipenuhi kesedihan. Sembari mengusap kepala Putri Naga, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Sekarang sudah tidak. Terima kasih sudah menemani ku berbincang seperti ini, rasanya bebanku sedikit lebih ringan.”
ↈↈↈ
__ADS_1