
“Memang bukan. Sebentar lagi perdamaian yang terbentuk atas Konferensi Empat Negeri akan berakhir, karena itulah dunia yang lembut terhadap orang-orang terbuang akan segera berakhir.” Odo menghela napas dengan penuh keresahan. Menatap datar lawan bicara, ia berhenti menunjuk dan meletakan kedua tangan ke atas meja. Sembari menurunkan tatapan, pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Banyak orang yang berkata bahwa perdamaian hanyalah sebuah persiapan untuk perang selanjutnya. Karena itulah, cepat ambil keputusan jika kau tidak ingin berakhir mengenaskan.”
“Ini … terlalu membingungkan.” Ferytan sekilas menggaruk kepala, memperlihatkan mimik wajah gelisah dan matanya mencerminkan keraguan yang besar. Dalam benak, pria tua itu mengingat kembali keputusan di masa lalu untuk tidak berhubungan lagi dengan dunia politik atau para bangsawan. Namun saat mendengar potensi perang yang menjadi semakin pasti, ia paham bahwa hidup tanpa pegangan yang kuat hanya akan membawakan kehancuran. Perlahan menurunkan kedua tangan ke atas meja dengan posisi terbuka, pria tua tersebut dengan penuh rasa cemas berkata, “Banyak hal yang masih belum jelas. Ini … terlalu mendadak.”
Odo tidak memedulikan kegelisahan pria tua itu. Sembari mengulurkan tangan kanan ke depan, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tegas menawarkan, “Ferytan Loi! Ikutlah denganku! Cobalah bertaruh pada sesuatu yang telah kau ketahui! Jika kau tetap ingin diam, aku tidak akan memaksa. Namun ketahuilah, apa yang aku tawarkan ini lebih menarik daripada kau hanya diam dan membusuk.”
Ferytan tersentak dan ingin segera menjawab. Namun, keraguan kembali mengisi hati dan membuat pria tua itu menutup mulut. Keputusan yang telah dibuat di masa lalu membuatnya tidak ingin menerima tawaran tersebut, lebih memilih untuk pasrah pada takdir menyedihkan di akhir yang sudah jelas.
“Saya …!”
Tetapi saat memikirkan Lily’ami, pria tua itu mengurungkan niat untuk menolak. Dalam benak yang terdalam, ia paham dengan meraih tangan Odo bisa menjadi harapan bagi anak perempuan yang sekarang menjadi prioritas dalam hidupnya. Dengan penuh keraguan dan takut mengambil pilihan yang salah, pria tua itu dengan rasa hina meminta, “Boleh saya meminta waktu untuk berpikir? Ini terlalu mendadak⸻”
“Tidak bisa,” potong Odo dengan tegas. Menatap tanpa niat memberikan toleransi, ia dengan santai menyampaikan, “Batas duel hanya tiga hari, aku harus mendengar jawabanmu segera.”
“Eng⸻?! Cepat amat!” Ferytan tersentak sampai kedua matnya melotot. Menatap penuh rasa tidak percaya, pria tua itu dengan ketus bertanya, “Kau ingin melatih ku dalam waktu sesingkat itu?!”
“Ya, tentu saja. Ini hanya masalah jawabanmu ….” Odo kembali mengulurkan tangan kanan ke depan, menatap dengan dingin dan sekali lagi menawarkan, “Jika kau setuju, maka raih tangan ini. Namun, ingatlah bahwa setelah meraih tangan ini, kau tidak bisa berhenti di tengah jalan.”
“Ke-Kenapa?”
“Kau tahu sendiri alasannya.”
Kalimat tersebut membuat Ferytan membisu. Ia sangat paham jika bermain-main dengan kalangan atas akan berakhir seperti apa. Meski tahu risiko yang ada, pria tua itu tetap tidak bisa langsung menolak karena merasa pilihan tersebut akan sangat penting untuk hidupnya.
“Ini … terlalu mendadak.” Nyali Ferytan sekali lagi menciut. Teringat kembali dengan masa lalu dan paham dengan kekejaman bangsawan saat mereka kehilangan kendali, pria tua itu dengan gentar berkata, “Meskipun Anda benar-benar bisa melatih orang tua ini sampai setara dengan Prajurit Elite, lalu setelahnya itu akan bagaimana? Apa Anda hanya akan meninggalkan saya bersama orang-orang dari Keluarga Quidra itu?”
“Itu kalian yang memutuskan. Jika kalian tak ingin melayani mereka, aku tidak akan memaksa. Itu terserah kalian.”
“Kalau kami berhenti saat itu dan menjauh dari dunia kalangan atas, apa yang akan Anda lakukan?”
Pertanyaan Ferytan juga memberitahu Odo bahwa pria tua itu sangat takut dengan seluk-beluk kalangan atas. Kembali memahami latar belakang dan trauma yang dialami orang yang telah membuang masa lalunya itu, Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak memejamkan mata.
“Tidak ada,” ujar Odo sembari membuka mata dan menatap dingin. Memperlihatkan mimik wajah tenang dan tidak ingin memaksakan kehendak, pemuda rambut hitam itu dengan ramah berkata, “Aku akan membiarkan kalian pergi. Tujuanku adalah mengembalikan gelar Knight kepada Keluarga Quidra, bukan membantu mereka menjaga gelar tersebut.”
Jawaban itu cukup membuat Ferytan terkejut. Untuk orang yang terkesan memaksa dan memberikan tekanan selama pembicaraan, Odo memberikan jawaban yang sangat ringan. Tidak percaya dengan apa yang didengar, pria tua itu pun kembali memastikan, “Terus … kami harus melakukan apa? Anda tidak akan melepaskan kami begitu saja, ‘kan?”
__ADS_1
“Aku akan membiarkan kalian. Tetapi, kalau mau kalian bisa terus bekerja bersamaku. Aku punya perusahaan di Kota Pesisir, kalian bisa bekerja di sana kalau mau.”
“Sungguh?!” tanya Ferytan dengan semangat, seakan-akan telah menunggu tawaran tersebut.
“Kenapa kau sangat senang?” Odo berhenti mengulurkan tangan. Memberikan tatapan datar dan sedikit kecewa, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan nada sedikit heran bertanya, “Apa seburuk itu bekerja di militer? Atau kau hanya seorang pengecut?”
“Anda … mungkin tidak paham.” Ferytan tidak malu atau kesal saat disebut seperti itu. Menundukkan wajah muram dan kembali mengingat masa lalu, pria tua itu dengan nada gemetar menyampaikan, “Trauma tidak bisa hilang dengan mudah. Sebagai orang yang pernah besar di keluarga bangsawan, saya cukup bangga dengan kemampuan berpedang. Namun, saya sendiri paham militer bukanlah tempat yang cocok untuk saya.”
“Darah⸻?” Odo sedikit memalingkan pandangan. Mengingat kembali cerita Rosaria, terutama tentang sejarah kelam yang terjadi saat masa transisi kekuasaan di Rockfield. Menarik napas dalam-dalam saat memahami hal tersebut, kesimpulan yang ada kembali menguat setelah melihat ekspresi Ferytan. Menatap pria tua yang gemetar tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan ringan memastikan, “Apa kau takut melihat mayat?”
“Hmm ….” Ferytan mengangguk ringan. Menatap lawan bicara dengan wajah pucat, pria tua itu dengan penuh rasa sedih menjelaskan, “Dari cara Tuan bicara, apa Anda juga sudah tahu alasan mengapa saya bisa selamat dari pembantaian tersebut? Kenapa bisa … satu-satunya anak laki-laki di Keluarga Swirea masih hidup, sedangkan semuanya malah dibantai tanpa ampun? Bahkan para pelayan di sana pun tidak diberikan toleransi.”
Odo memalingkan pandangan, sejenak memejamkan mata dan mengingat kembali cerita Rosaria tentang kisah sejarah kelam tersebut. Dari apa yang didengar, memang anak bungsu di Keluarga Swirea menjadi satu-satunya individu yang kematiannya tidak dikonfirmasi dengan jelas. Dengan alasan masih anak-anak, Oma Stein tidak memamerkan eksekusi sang anak bungsu dan hanya menyampaikan bahwa semua keturunan Swirea telah binasa.
Memikirkan kembali Imarit Swirea yang sekarang ini memperkenalkan diri sebagai Ferytan Loi, Odo sedikit bisa menebak cara pria tua tersebut bisa menyelamatkan diri dari kebrutalan Oma Stein saat muda. Membuka mata dan menatap lurus, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas berkata, “Aku bisa memperkirakannya, itu ada kaitannya dengan Pejabat Miquator. Saat kejadian itu, aku dengar mereka masih ada di Kota. Jadi …, satu-satunya cara kau bisa selamat dari semua kekacauan adalah karena mereka, para Penyihir Miquator.”
“Anda … memang hebat.” Ferytan tersenyum kecut. Memalingkan pandangan dan sedikit menghela napas, ia dengan sedikit sarkasme berkata, “Bagaimana Anda bisa menebak itu? Sihir ramalan? Atau Anda sebenarnya kenal dengan penyihir yang waktu itu sudi untuk menyembunyikan saya?”
“Aku di sini bukan untuk membahas itu.” Odo hanya memperlihatkan mimik wajah tidak terlalu peduli. Sembari memasang senyum kecut ia pun balik bertanya, “Lagi pula, kau masih trauma dengan itu, ‘kan? Lebih baik kita tak perlu membahasnya.”
Odo sesaat terdiam, merasa bawah trauma seperti itu nantinya bisa menjadi kendala besar pada situasi genting. Tidak memiliki opsi selain pria tua di hadapannya dalam rencana, Putra Tunggal keluarga Luke mengulurkan tangan ke depan dan kembali menawarkan, “Jadi, apa kau akan menerima tawaran ku?”
Ferytan tidak segera meraihnya. Meski dalam benak sudah mengambil keputusan, pria tua itu masih memiliki keraguan dan sekali lagi memastikan, “Sebelum menerimanya, boleh saya bertanya sesuatu lagi?”
“Silahkan,” jawab Odo ringan.
“Tuan sekarang tinggal di Kediaman Stein, bukan?” Ferytan menunjuk ke arah pemuda di hadapannya, lalu sembari menajamkan tatapan langsung bertanya, “Tuan ini … tamunya siapa? Apa Anda tamunya Nyonya Agathe?”
“Aku bukan tamu Kakakmu ….” Odo berhenti mengulurkan tangan. Menggaruk bagian belakang kepala dan memperlihatkan mimik wajah resah, ia segera menjelaskan, “Aku tamu Nona Ri’aima. Karena beberapa alasan, entah mengapa aku terseret masalah Keluarga Stein dan harus membantu mereka.”
“Ri’aima?” Kedua mata Ferytan terbuka lebar saat mendengar hal tersebut. Seakan dirinya pernah bertemu dan kenal dengan Putri Sulung Keluarga Stein yang disebutkan, pria tua itu dengan nada akrab berkata, “Ini sedikit mengejutkan, tidak saya sangka gadis itu akan sangat berani dengan mengundang Anda ke Kediaman Stein. Atau … dia malah tidak sadar telah memasukkan harimau ke rumahnya sendiri?”
“Hmm, mamang benar.” Odo mengendus ringan, memasang mimik wajah setuju dan dengan nada sedikit jengkel berkata, “Dia memang sangat berani. Meski sudah kenal siapa aku, dia tanpa ragu melibatkan diriku ke dalam masalahnya.”
“Kalau boleh tahu juga, bisakah Tuan katakan tujuan Anda datang ke Kediaman Stein dan membantu mereka? Anda membantu mereka bukan karena kasihan, bukan?”
__ADS_1
“Kau memang peka.” Odo menyeringai kecil. Meski ia sempat kecewa karena Ferytan memiliki sifat pengecut, namun nilai tersebut telah ditutupi oleh kemampuan pria tua itu dalam hal deduksi. Dengan senyum tipis Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Aku ingin Keluarga Stein kembali mendapatkan pengaruh mereka di Rockfield, karena itulah aku membantu Ri’aima. Ini semua hanya untuk kepentinganku seorang. Apa kau tidak suka aku membantu keluarga yang telah menghancurkan hidupmu?”
“Tidak ….” Ferytan tidak bisa berkata banyak tentang hal seperti itu. Daripada rasa benci ataupun dendam, ketakutan lebih kuat menguasai hati pria tua tersebut. Sebab itulah, ia hanya terdiam meski diberikan banyak waktu setelah diselamatkan. Lebih memilih untuk hidup biasa dan tidak melakukan apa-apa. Sembari menatap lemas lawan bicara, pria tua itu memasang senyum pasrah dan dengan jelas menyampaikan, “Saya ... tidak seperti Ayunda. Dendam atau bahkan kebencian, hal seperti itu tidak bisa saya miliki …. Meski berkali-kali mengingat kekejaman Oma Stein, hanya ada rasa takut yang muncul di benak saya. Dari dulu sampai sekarang, hal tersebut tidak pernah berubah.”
Ekspresi, tatapan, dan suara, semua yang ada pada pria tua itu benar-benar memperlihatkan tanda menyerah. Baik untuk kehidupan ataupun nyawanya sendiri. Tetapi, dari senyum tipis yang sekilas diperlihatkannya, Odo tahu bahwa pria tua itu masih memiliki hati untuk tidak berhenti berharap. Meski bukan untuknya sendiri, ia masih berharap untuk kehidupan lebih baik demi anak yang telah dipungutnya.
Memahami hal tersebut dengan sangat baik, Odo untuk kesekian kalinya mengulurkan tangan kepada pria itu dan menawarkan, “Jadi, apa kau ingin menerima tawaran ku?”
“Setelah pembicaraan ini, bagaimana bisa aku tidak menerimanya?” Ferytan segera bangun dan tanpa ragu menjabat tangan tersebut. Meski telah mengetahui risiko yang telah dipaparkan selama pembicaraan, pria tua itu tetap menerimanya dan berkata, “Mohon kerja samanya, Tuanku. Semoga saya bisa memenuhi ekspektasi Anda.”
Odo perlahan memasang wajah lega karena pembicaraan berjalan dengan baik. Sedikit memiringkan kepala, pemuda rambut hitam itu perlahan tersenyum dan berkata, “Hmm, kau harus berusaha mati-matian untuk memenuhinya.”
Setelah itu, pembicaraan pun kembali berlanjut. Putra Tunggal Keluarga Luke mulai menjelaskan hal-hal terkait pekerjaan yang ingin dilimpahkan. Agenda yang pertama dibahas adalah perbaikan kualitas hidup Ferytan dan Lily’ami untuk sementara. Sebab itulah, Odo memberikan sebuah kantung berisi satu keping kristal sihir untuk dijual mereka sebagai biaya perbaikan kualitas hidup.
Odo meminta mereka membeli pakaian yang layak, menyewa tempat tinggal, dan makan makanan yang bergizi. Selain itu, ia juga meminta Ferytan membeli pedang dan perlengkapan berburu seperti rompi kulit, busur, panah, sepatu kulit, dan lain sebagainya untuk keperluan pelatihan.
Karena Ferytan bingung dengan jumlah perintah yang diberikan, Odo sempat mengeluarkan perkamen dan pena dari dimensi penyimpanan untuk membuat catatan. Menulis hal-hal yang perlu dibeli dengan Rupl yang bisa didapat dari penjualan kristal sihir, lalu apa saja yang harus diselesaikan oleh pria tua itu sebelum besok siang.
Di tengah pembicaraan tersebut, Namon si Pelayan datang membawakan pesanan bersama Lily’ami. Karena kedatangan mereka, Odo memutuskan untuk menunda penyampaian tugas dan memutuskan untuk memberitahu rincian lain saat pertemuan besok.
Saat Lily’ami dan Ferytan menyantap makanan yang mereka pesan, Odo hanya duduk diam dengan tatapan santai. Ia bahkan sama sekali tidak menyentuh susu yang dipesan, hanya terdiam dan mengamati kedua orang tersebut makan dengan lahap.
Seakan tidak memedulikan tatapan Odo, Lily’ami dan Ferytan menyantap makanan dengan lahap. Entah itu karena lapar atau memang masakan yang disajikan lezat, namun lahapnya mereka sedikit membuat Odo rindu dengan rumah. Meski selama waktu makan Keluarga Luke cenderung senyap, namun momen kebersamaan itu memang sangat berarti untuknya.
Setelah mereka selesai makan, Odo sebelum pergi sempat meninggalkan satu koin emas kecil untuk biaya makan mereka. Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda itu pun berjalan menuju pintu dengan langkah yang tegas.
Namun saat sampai, ia sempat terhenti dan kembali menatap ke arah Ferytan yang masih duduk bersama Lily’ami. “Aku harap kalian tidak kabur dan benar-benar melaksanakan tugas tersebut,” ujarnya dengan mimik wajah lelah.
Itu memang terdengar seperti peringatan. Namun, Ferytan menangkapnya sebagai permintaan dari orang yang telah mempekerjakannya. Persepsi pria tua itu terhadap Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan berubah, membuatnya sedikit paham beban yang ditanggung oleh anak yang lahir di Keluarga Bangsawan Kelas Atas.
Pada saat yang sama, itu juga terasa seperti belati yang dilemparkan ke dadanya. Sebagai orang yang menyerah dengan Keluarga Swirea dan bahkan mengganti namanya sendiri, Odo tampak sangat terang di mata Ferytan.
ↈↈↈ
Catatan Kecil :
Fakta 025: Status Rosaria sebelum menjadi Pendeta adalah diakones. Sebutan untuk diaken wanita.
__ADS_1