Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[106] Serpent VI – Memories of Names and Shapes (Part 04)


__ADS_3

 


 


ↈↈↈ


 


 


Sebuah tempat yang terbuat dari dinding dan lantai besi. Pipa gas dapat ditemukan pada langit-langit, mengeluarkan suara decit logam yang cukup nyaring layaknya pabrik tua. Deretan kabel menjalar pada permukaan, tampak tidak beraturan seperti akar-akar tua dalam hutan rimba.


 


 


Menempel pada beberapa sudut dinding, lampu-lampu panel memancarkan cahaya kebiruan layaknya neon. Menyinari tempat tersebut dalam redup, lalu memperlihatkan alat-alat futuristik yang ada di dalam ruangan itu.


 


 


Radiator pada pojok ruangan mengeluarkan asap putih tipis, berfungsi sebagai pendingin dan menjaga kelembapan tempat tersebut. Beberapa monitor tergeletak di lantai bersama kabel-kabel yang tercolok, masih menyala dengan angka dan huruf memenuhi layar seakan sedang memproses sesuatu.


 


 


Selain benda-benda tersebut, ada juga deretan prosesor berbentuk kubus hitam di dekat radiator. Hampir seluruh kabel yang ada tercolok pada alat tersebut, berfungsi sebagai media pengolahan data digital dalam ruangan itu.


 


 


Dari semua alat yang ada di dalam tempat tersebut, pusat dari semua pemrosesan adalah inkubator logam di tengah ruangan. Berbentuk tabung yang diletakkan berdiri, lalu permukaan depannya terbuat dari kaca transparan dan berisi cairan penstabil.


 


 


Inkubator itu menyimpan tubuh seorang perempuan, menjaga seluruh organ miliknya dengan alat-alat penyokong kehidupan. Mengawasi detak jantung, ritme napas, dan gelombang otak dengan monitor, lalu diproses semua itu melalui kabel untuk disesuaikan setiap saat.


 


 


Itu bukanlah klon ataupun salinan Korwa, melainkan tubuh cadangan yang Helena ciptakan untuk memasuki Dunia Nyata. Sebuah salinan yang sempurna secara fisik, tetapi tidak memiliki wewenang ilahi layaknya seorang Dewi Tertinggi.


 


 


Saat kedua mata perempuan itu terbuka, tanda-tanda vital pada monitor menunjukkan peringatan. Lampu panel berubah menjadi merah, lalu cairan penstabil dalam inkubator pun mulai dikosongkan. Bocor keluar melalui beberapa lubang, langsung menguap saat kontak dengan udara.


 


 


Kaca inkubator meleleh saat seluruh cairan dikeluarkan. Layaknya seorang remaja yang baru bangun pagi, perempuan tersebut pun melangkah keluar dari inkubator. Meregangkan tubuh dan merentangkan kedua tangan, lalu sedikit menguap dan memperlihatkan wajah kantuk.


 


 


“Ah~! Sayang sekali, tubuh ilahi itu benar-benar hancur. Tidak kusangka batas wadahnya datang secepat ini.”


 


 


Rambut putih perempuan itu perlahan menghitam sepenuhnya, tanda bahwa jiwa Helena benar-benar telah menyatu dengan wadah tersebut. Mata hitam pun berubah merah, lalu kulit yang tampak pucat menjadi sedikit cerah.


 


 


Tanpa mencari kain ataupun sesuatu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang, Helena berjalan melewati kabel-kabel yang terlentang. Rambut panjang perempuan itu terseret di lantai saat melangkah, membuat bekas basah pada alat-alat elektronik karena sisa cairan masih melekat pada tubuhnya.


 


 


Sampai di dekan salah satu monitor yang dituju, ia segera berjongkok. Memeriksa kondisi tubuh sebelum keluar dari inkubator, lalu memastikan beberapa hal penting sembari menggeser layar dengan ujung jarinya.


 


 


“Duh, biarlah! Sudah! Sudah! Jika tahapan ini dimulai, tubuh tersebut seharusnya sudah tidak dibutuhkan lagi ….” Helena berhenti mencari informasi. Menghela napas ringan dan kembali berdiri, perempuan rambut hitam tersebut lanjut bergumam, “Lagi pula, dia juga sudah berhasil merantasnya dan masuk ke dalam Realm yang diriku ciptakan. Akan merepotkan kalau Mahia sampai mengakses dimensi tingkat tinggi dan memulai ritual itu lagi.”


 


 


Helena memandang sebuah kematian dan kehancuran sebagai hal tidak berarti, begitu pula kehidupan ataupun kehendak yang dimiliki seluruh makhluk hidup. Layaknya sosok Tiran, hanya hasil sajalah yang menarik perhatiannya. Menjadi acuan dalam mengambil keputusan.


 


 


Namun, ada dua proses yang selalu menjadi prioritas untuknya. Pertama adalah tahapan ritual untuk membuka gerbang menuju Awal Mula, lalu selanjutnya adalah pilihan yang diambil oleh sang pemuda.


 


 


Bagi Helena, keduanya adalah sebuah kesatuan yang harmoni. Awal Mula sangat terikat dengan entitas yang disebut sebagai sang pemuda, lalu pemuda itu pun terhubung kuat dengan konsep inti tersebut.


 


 


Karena itulah, segala tindakan yang diambil sang pemuda akan selalu mempengaruhi keputusannya. Mendorong sosok Maha Kuasa tersebut untuk bertindak ekstrem, bahkan rela melepas bentuk kehidupan ilahi dan melakukan Devolusi.

__ADS_1


 


 


“Kalau sudah begini, diriku memang harus mengandalkan Richard. Ini memang menyebalkan, namun mau bagaimana lagi ….”


 


 


Helena berjalan menuju salah satu sudut dinding. Ruangan tersebut memang tidak memiliki pintu untuk keluar masuk. Namun, ada beberapa akses alat teleportasi kuantum yang terpasang pada permukaan.


 


 


“Rasanya menyedihkan ….” Sembari meraba-raba dinding dan mencari mekanisme yang tersembunyi, sosok Dewi tersebut mulai mengeluh, “Diriku seperti orang sinting saja, telanjang begini sambil meraba-raba⸻Ah!”


 


 


Bukannya menemukan tombol rahasia, Helena malah tersetrum alur listrik tegangan ringan karena kakinya menginjak kabel. Segera memasang mimik wajah kesal, ia tanpa pikir panjang langsung menendang kabel tersebut.


 


 


Namun, itu malah melilit kaki dan membuatnya terjatuh. Kepala menghantam prosesor dengan cukup keras, lalu punggung membentur dinding sebelum jatuh ke atas lantai penuh tumpukan kabel.


 


 


“Ugh, sialnya ….” Helena terjerat belasan kabel, tidak bisa langsung bangun dan hanya memperlihatkan mimik wajah datar. Sembari berusaha melepaskan diri, perempuan rambut hitam tersebut kembali mengeluh, “Ini menyebalkan! Terbiasa dengan hal praktis memang penyakit. Kode Khusus tersebut memang sangat luar biasa, sih! Entah mengapa diriku langsung rindu dengan kenyamanan itu ….”


 


 


Helena memang mampu untuk melepaskan kehidupan ilahi. Meninggalkan singgasana tertinggi yang telah dirinya pegang selama umur Dunia Selanjutnya, lalu benar-benar turun ke Dunia Nyata sebagai seorang mortal.


 


 


Tetapi, sekarang ia malah butuh usaha ekstra untuk lepas dari jeratan kabel. Bukannya semakin longgar dan terurai, saat berusaha membelaskan diri tubuhnya malah terikat semakin kencang.


 


 


“Sungguh …?” Saat sadar bahwa tubuhnya benar-benar terikat kencang, Dewi Penata Ulang langsung memasang wajah cemas. Ia menyipitkan tatapan, lalu berhenti meronta dan kembali bergumam, “Rencanaku harus tertunda karena hal seperti ini?”


 


 


Dalam rasa cemas yang mulai mengisi benak Helena, tiba-tiba alat teleportasi yang terpasang pada dinding aktif dengan sendirinya. Beberapa sirkuit berbentuk garis-garis merah kirmizi menjalar dari permukaan lantai, lalu merambat ke dinding dan membentuk sebuah persegi panjang layaknya sebuah pintu.


 


 


 


 


“Ini tidak seperti yang aku bayangkan, mengecewakan sekali. Aku kita teleportasi kuantum bakal lebih dahsyat, ternyata membosankan seperti lewat pintu biasa.”


 


 


Saat baru keluar dari portal tersebut, seorang pria rambut cepak pirang langsung mengeluh. Memperlihatkan mimik wajah kecewa, lalu membunyikan lidah seakan ingin menghina pembuat alat tersebut.


 


 


Richard Boderman ⸻ Itulah nama yang dipegang oleh pria tersebut. Salah satu salinan individu dari Dunia Sebelumnya, sosok yang cukup berpengaruh dalam masa lalu sang pemuda.


 


 


Dia memiliki perawakan kekar layaknya veteran perang, bekas luka pada wajah, lalu mengenakan seragam militer dan sepatu bot hitam bertali. Volume yang digunakan saat berbicara juga cukup tinggi, sedikit serak layaknya pria paruh baya.


 


 


Sembari melihat sekeliling dan memperlihatkan wajah malas, tanpa pikir panjang Richard kembali mengeluh, “Rasanya berbeda sekali, tempat ini juga terlihat seperti lab miliknya. Membosankan! Padahal aku berharap hal yang lebih fantasi! Paling tidak Sains fiksi!”


 


 


“Orang bodoh seperti kau takkan paham cara kerjanya!” Seakan tersinggung dengan perkataan pria tersebut, Helena yang masih terbaring di lantai bersama ikatan kabel membalas ketus. Ia kembali berusaha melepaskan diri, lalu dengan nada kesal menjelaskan, “Teleportasi kuantum memang tidak bisa dirasakan! Kalau kau merasakan sesuatu, tubuhmu berarti sudah hancur!”


 


 


Tidak mencerna penjelasan tersebut, Richard berjalan ke sumber suara dan menemukan Helena di lantai. Ia tidak terangsang saat melihat perempuan tanpa busana terlilit kabel, hanya menatap benci dan sedikit memancarkan niat membunuh.


 


 


Mimik wajah berubah menjadi suram, tatapan pun menjadi tajam dan kalimat santai tidak keluar dari mulutnya. Tanpa berbicara lagi atau bahkan mengeluh, Richard langsung menarik kabel-kabel yang menjerat Helena dan memutuskannya.


 

__ADS_1


 


“Hey! Hey! Hey!” Helena sedikit panik, takut tersetrum tegangan tinggi karena alat-alat elektronik di ruangan masih menyala. Sembari berusaha menghentikannya, perempuan rambut hitam tersebut melarang, “Nanti ada yang meledak! Lagi pula, itu masih bisa dipakai! Cari bahannya susah, tahu! Jangan main putus begitu!”


 


 


“Tenang saja, aku tahu cara memutus kabel supaya tegangannya tidak keluar. Ini metode yang sama untuk penanganan bom.”


 


 


Richard tidak berhenti dan terus memutus kabel. Dalam mimik wajah suram, sesekali niat membunuh bocor dan terpancar jelas. Kebenciannya terhadap Helena terasa sangat kental, bahkan sama sekali tidak ditutupi.


 


 


Setelah semua kabel yang menjeratnya diputus, Dewi Penata Ulang langsung menampar wajah Richard. Menatap kesal dan menegur, “Patuhi perintahku! Kenali tempatmu! Dasar imitasi!”


 


 


Richard tidak bergeming, segera berdiri dan memberikan tatapan datar. Meski ingatan dan perasaan dari versi original tertanam dalam dirinya, ia sama sekali tidak berniat untuk ikut dalam panggung diorama.


 


 


Karena itulah, Richard memutuskan untuk tidak peduli saat berhadapan dengan Helena. Bertingkah layaknya boneka kosong, supaya tidak disuruh menari pada pentas panggung mengerikan.


 


 


Pria rambut pirang tersebut sedikit membungkuk, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Helena bangun. Dengan tatapan kosong, tanpa perasaan dan bergerak layaknya barang rusak.


 


 


“Pria bodoh ….” Melihat mimik wajah dan sikap Richard yang seperti itu, Helena langsung memahami pilihannya. Tanpa meraih uluran tangan, perempuan rambut hitam tersebut bangun sendiri dan menyampaikan, “Kau adalah pemeran dalam pentas besar ini. Meski bertingkah dungu seperti itu, saat bertemu dengannya roda takdir tetap akan bergerak. Kau pasti akan mengambil pilihan yang berbeda.”


 


 


“Aku tahu itu dengan baik.” Richard tersenyum menyindir. Sedikit memahami pola pikir Helena yang cukup rumit, pria rambut pirang itu bertanya, “Itu juga berlaku untukmu, bukan?”


 


 


“Benar ….” Helena sejenak memejamkan mata. Merasakan suasana dingin dalam hati terdalam, perempuan rambut hitam tersebut menatap lawan bicara sembari mengajak, “Mari pergi! Papan permainan sudah disiapkan, apa yang perlu dilakukan hanya menggerakan bidak.”


 


 


“Apa itu benar-benar perlu dilakukan?” Richard tampak sangat enggan. Meski paham dengan alasan keberadaannya di Dunia Selanjutnya, ia tatap tidak bisa menerima hal tersebut dan kembali membujuk, “Bukankah harapan yang kau⸻?”


 


 


“Saat kurus memang disebut harapan, namun ketika gemuk itu adalah hasrat ….” Helena menatap sendu, lalu sedikit tersenyum tipis dan kembali menyampikan, “Meski harus berakhir buruk dan seluruh usahaku berakhir sia-sia, ini tidak masalah. Keputusan akhir akan selalu berada di tangan pemuda itu, sosok yang kau hormati dan aku sayangi.”


 


 


“Apapun akhirnya nanti, itu pasti akan berakhir menjadi tragedi ….”


 


 


Richard menggertakkan gigi. Ia memperlihatkan mimik wajah kesal sampai-sampai kening mengerut kencang. Bukan kepada sang Dewi, namun pada dirinya sendiri karena merasa tidak berdaya.


 


 


Mendengarnya dengan sangat jelas, Helena membalas dengan senyum tipis. Sembari mengambil langkah kaki dan menunjuk ke arah dinding, perempuan rambut hitam tersebut menyampaikan, “Dari awal ini memang tragedi.”


 


 


Portal teleportasi kuantum terbuka kembali, koordinat terhubung dengan tempat lain dan memancarkan cahaya merah terang. Tanpa pikir panjang ataupun menunggu Richard, perempuan tanpa busana itu langsung melangkah masuk dan pergi.


 


 


Ditinggal sendiri dalam ruangan terisolasi, Richard sejenak memejamkan mata dan bergumam, “Ini konyol. Hebat sekali kau bisa tahan menjalin hubungan dengan ****** ini.”


 


 


Sebelum portal tertutup, Richard segera berbalik. Berjalan melewatinya dan pergi ke tempat yang sama dengan Helena. Untuk memulai pantas besar, dimainkan dalam diorama sang Dewi menggunakan naskah terakhirnya.


.


.


.


.

__ADS_1


 


 


__ADS_2