Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[104] Serpent IV – Warisan Kebohongan (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


Kematian merupakan momok bagi setiap makhluk hidup.


 


 


Kenangan adalah pendorong untuk terus melangkah menuju masa depan.


 


 


Ketentuan ialah sesuatu yang dipilih oleh orang-orang dalam perjalanan panjang mereka.


 


 


Lalu, keinginan menjadi satu-satunya alasan makhluk hidup untuk berusaha mencapai sesuatu. Meski mereka tahu kelak semua akan lenyap saat raga binasa, setiap orang tetap mengulurkan tangan ke atas dan berusaha meraih langit.


 


 


Suara yang mengutuk ketidakberdayaan, doa yang memohon pertolongan. Seakan semua itu menjadi melodi dalam kehidupan setiap makhluk hidup, doa dan kutukan terus terucap dari mulut-mulut pendosa.


 


 


Saat semua luapan kotor itu terhenti, keheningan bernama penderitaan dan kemunafikan akan berdentang layaknya lonceng raksasa. Suaranya akan menjamah seluruh dunia, menipu orang-orang dan menjerumuskan mereka dalam kebutaan.


 


 


Penindasan dan ketidakadilan dibuat wajar, kesedihan menjadi hiburan bagi orang-orang yang mendengarkan, murka tidak pandang bulu, kesetaraan yang dipaksakan, lalu pintu neraka serta surga duniawi akan dibuka seakan-akan ingin menyambut mereka semua. Suatu kepalsuan semu yang sangat rapuh.


 


 


Tidak ada makna dalam kehidupan, semuanya hanya dipenuhi kepedihan dan penderitaan. Sejak pertama kali terlahir ke dunia setiap orang akan dipaksa untuk berusaha. Diberikan peran dan tujuan dalam kehidupan, lalu dituntun oleh kenangan dan keinginan yang dibebankan kepada mereka.


 


 


Orang-orang akan ditipu dalam ilusi bernama harapan, lalu tanpa sadar terus melangkah meski paham waktu akan menghapus semua usaha. Mengembalikan segalanya ke dalam abu putih yang lenyap tertiup, terbakar api hitam dari mulut keturunan-keturunan yang akan lahir di masa depan.


 


 


Sebagai individu yang telah menjalani semua kepedihan dan penderitaan itu, pemuda rambut hitam tersebut sangat memahaminya. Baik itu tentang betapa tidak berartinya perjuangan yang diberikan, penderitaan di dalamnya, atau bahkan waktu yang akan menghapus segalanya.


 


 


Sang pemuda tahu bahwa darah yang mengalir kelak akan hilang terguyur hujan, keringat dan air mata akan mengering terkena angin, lalu jejak kaki pun akan tertutup alang-alang dan lumut. Semuanya perlahan-lahan akan terhapus oleh waktu dan dunia pun menghendaki hal tersebut.


 


 


Namun, tetap saja dirinya tidak bisa berhenti. Terus bergantung pada sesuatu yang disebut harapan, meski ia sendiri paham bahwa yang ingin diraihnya hanyalah hal semu.


 


 


Bahkan setelah dirinya mengemban kehidupan dan nama baru, ia tetap tidak bisa berhenti bergantung pada hal semu itu. Terus berhadap semuanya menjadi lebih baik, namun di sisi lain sang pemuda mengerti bahwa dirinya tidak memiliki tempat untuk berharap.


 


 


Kepalsuan yang kelak akan hancur saat dicapai, menjadi akhir dari perjalanan panjangnya dan membuat semua pengorbanan menjadi tidak berarti. Lenyap begitu saja untuk kembali ke awal yang baru. Itulah kebenaran dari ujung perjuangannya.


 


 


Angin berhembus dalam malam, awan keemasan memenuhi langit gelap dengan petir biru yang sesekali menyambar. Suara gemuruh ombak laut terdengar jelas di telinga, getarannya seakan meresap masuk melalui kulit sampai ke otak.


 


 


Tanpa goyah sedikitpun, Odo Luke tetap menggenggam pedang kobaran api terang di tangan kanannya. Menatap lurus ke depan seakan siap menghadapi kematian, lalu perlahan tersenyum lebar dan melangkah maju.


 


 


Tepat beberapa kilometer di hadapan sang pemuda, sosok yang disebut-sebut sebagai Pemusnah Peradaban menatap ke arahnya. Meski masih tertutup kegelapan dan hanya tampak dalam siluet, ukurannya terlihat sangat tidak masuk akal.


 


 


Leviathan ⸻ Sea Serpent tersebut menegakkan seperempat tubuhnya, lalu memandang rendah ke arah garis pantai seakan-akan melihat butiran pasir. Kepalanya hampir menyentuh awan mendung, mata bersinar violet dalam kegelapan, dan kulit tampak mengkilap saat petir menyambar di sekitarnya.


 


 


Hal yang mengerikan dari Leviathan bukan hanya ukurannya saja, pancaran aura sihir miliknya pun berada di luar jangkauan nalar makhluk hidup. Seakan-akan dirinya adalah jelmaan sebuah Realm tunggal, sekujur tubuh makhluk primal tersebut diselimuti lapisan Mana tak kasat mata yang menyatu dengan kulit.


 


 


“Engkau benar-benar yakin ingin berbicara dengannya, Odo? Kita bagaikan serangga di mata Naga Agung itu ….” Reyah melangkah ke belakang. Tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar kencang, lalu sembari menatap pucat ia kembali berkata, “Sebelumnya engkau bilang ingin diskusi secara setara dengannya, bukan? Diriku rasa … itu mustahil.”


 


 


Ketakutan Reyah bukan tanpa alasan yang jelas. Layaknya pegunungan hidup yang menatap ke arah mereka, Leviathan memang tidak terlihat seperti makhluk yang bisa diajak berkompromi. Hampir bisa dikatakan mustahil untuk berbicara setara dengan Sea Serpent tersebut.


 


 


Berbeda dengan sang Dryad yang masih bisa mengambil keputusan rasional dan berniat untuk mengajak mundur, Vil hanya mendongak dan menatap pucat sosok Pemusnah Peradaban. Meski sang Siren sudah melihatnya saat mengintai sarang Leviathan, sosok tersebut tampak jauh lebih besar saat menampakkan dirinya di permukaan.


 


 


Sebagian tubuh Leviathan memang masih terbenam dalam air laut. Namun, hanya dengan seperempat panjang tubuhnya Sea Serpent tersebut hampir bisa mencapai awan. Berdiri tegak layaknya ular kobra, lalu perlahan membuka mulut dan berdesis keras. Membuat hembusan angin kencang dan suara bising yang terdengar sampai belasan kilometer.


 


 


Diameter tubuh Sea Serpent tampak lebih besar dari Pohon Suci. Benar-benar memancarkan hawa kehadiran yang luar biasa, lalu mengacaukan keseimbangan Ether di sekitar tempatnya berada.


 


 

__ADS_1


Pancaran aura sihir Leviathan bahkan bisa mengganggu kontrol Vil terhadap Laut Utara. Membuat Ether yang seharusnya dibatasi mulai lepas, lalu sedikit demi sedikit diserap oleh Pemusnah Peradaban tersebut.


 


 


Berbeda dengan kedua Roh Agung yang berada di tempat tersebut, Odo Luke tidak diam di tempat dan malah tatap melangkah ke depan. Menatap balik Leviathan, lalu meningkatkan suhu pedang plasma di tangannya.


 


 


Saat langkah kaki hampir mencapai garis antara laut dan pantai, seketika cahaya terang pedang api berubah menjadi hitam. Seakan-akan Dark Metter dalam tubuh Odo memberikan reaksi terhadap ancaman yang ada di hadapan, unsur gelap tersebut keluar dari Rajah pada telapak tangan kanan dan menyelimuti sebagian tubuhnya.


 


 


Kobaran pedang api menjadi seperti matahari gelap, memancarkan cahaya sedikit kemerahan layaknya sinar gerhana. Meski tampak lebih redup dari sebelumnya, namun suhu yang terpancar dari plasma padat tersebut malah semakin naik. Membuat hembusan udara kencang di sekitar tubuh, lalu dalam sekejap menguapkan air laut dalam jarak beberapa meter di sekitarnya.


 


 


Pada momen ketika Mahia bereaksi dengan mengaktifkan Dark Matter untuk melindungi sang pemuda, Leviathan langsung membuka mulutnya dan bersiap untuk melancarkan semburan. Ether dalam jumlah yang tidak masuk akal langsung terserap ke satu titik, sepenuhnya menghancurkan kontrol Vil terhadap Laut Utara.


 


 


Proses tersebut tidak terlihat seperti napas api seperti milik Naga Hitam. Itu sepenuhnya menggunakan Ether yang dikumpulkan dari luar tubuh Leviathan, lalu secara terus menerus mengalami konversi menjadi hidrogen dan dipadatkan pada satu titik.


 


 


Pada proses pemusatan molekul itu, tekanan yang sangat kuat menciptakan reaksi antar unsur di dalam padatan hidrogen. Perpindahan elektron dan proton dalam unsur-unsur atom, lalu akselerasi dan tubrukan antar molekul terus terjadi dalam kecepatan sangat tinggi.


 


 


Layaknya penciptaan matahari dan reaksi fusi nuklir sebagai sumber energinya, padatan hidrogen dan Ether di mulut Leviathan mulai memancarkan cahaya putih terang. Menyinari Laut Utara layaknya matahari kecil, lalu mengeluarkan bunyi denging yang samar-samar.


 


 


Konsep dalam proses fusi itu tidak seperti sihir Parva Nuclear milik Laura. Daripada menggunakan gravitasi untuk memadatkan hidrogen, fusi nuklir Leviathan diciptakan melalui tekanan yang dihasilkan oleh kumpulan Ether pada satu titik.


 


 


Murni dengan kemampuan manipulasi Mana milik Leviathan, tanpa sedikitpun menggunakan struktur sihir dalam prosesnya. Layaknya menarik napas dan mengumpulkan udara di rongga mulut, Ether di penjuru Laut Utara berkumpul pada satu titik dan menjadi Mana milik Sea Serpent.


 


 


Dalam reaksi fusi nuklir yang berjalan sangat cepat tersebut, atom-atom hidrogen yang ada bertabrakan dan menyatu menjadi helium. Fusi menciptakan energi dalam jumlah yang sangat besar, lalu meningkatkan suhu inti dengan cepat.


 


 


Karena suhu dari inti pemadatan tersebut meningkat drastis, sebagian hidrogen mulai bercampur dengan plasma dan terus berpijar terang keputihan. Memancarkan suhu tinggi ke penjuru arah, lalu kembali diproses bersama Ether dan terus memperbesar inti fusi nuklir.


 


 


Awan yang ada di atas kepala Leviathan seketika menguap terkena paparan panas, tidak menjadi hujan dan langsung berubah menjadi gas yang dikonsumsi oleh proses fusi nuklir. Menambah massa padatan hidrogen di mulut Sea Serpent yang terbuka, lalu berpijar semakin terang dalam suhu sangat yang terus naik.


 


 


 


 


Inti fusi nuklir terus membesar sampai mencapai diameter seperti bola sepak. Itu tidak memang terlalu besar, namun sudah cukup untuk menghasilkan energi ledakan setara dengan beberapa bom hidrogen. Dengan kata lain, memiliki daya hancur yang bahkan lebih kuat dari bom atom dan berpotensi menciptakan semburan nova.


 


 


Perlahan Leviathan menurunkan kepalanya, menghadapkan mulut yang terbuka ke arah Odo dan bersiap menyemburkan plasma. Cahaya bersinar semakin terang layaknya matahari putih di tengah malam, menyinari Laut Utara dan bahkan sampai ke teritorial Pohon Suci.


 


 


Saat terpapar cahaya, Laura dan Magda yang bersembunyi pada perbukitan di sekitar Laut Utara hanya bisa terbelalak. Kedua Elf tersebut langsung paham bahwa pancaran sinar tersebut adalah hasil dari reaksi nuklir, memiliki energi yang bahkan jauh lebih kuat dari sihir Parva Nuclear.


 


 


Di hadapan semburan nova yang siap dilancarkan, Reyah dan Vil hanya bisa terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa. Kontrol terhadap Ether sepenuhnya terganggu, lalu Mana yang mengalir dalam tubuh mereka pun mengalami kendala karena pancaran radiasi yang sangat kuat.


 


 


Pada detik-detik sebelum semburan nova dilancarkan Leviathan, kedua Roh Agung tersebut merasa bahwa itu adalah momen terakhir mereka. Perkiraan jangkauan serangan yang sangat luas, keterbatasan Ether dan Mana dalam paparan radiasi, distorsi spasial yang tidak memihak, lalu jarak mereka yang terlalu dekat sumber semburan.


 


 


Memahami semua hal itu, Reyah dan Vil paham bahwa sangat mustahil untuk melahirkan diri. Meskipun bisa menghindar atau selamat dari serangan tersebut, seluruh teritorial Laut Utara dan Pohon Suci yang berada dalam jangkauan semburan bisa dipastikan musnah.


 


 


Berbeda dengan Reyah yang langsung pasrah dan terdiam, Vil tidak menyerah dan tetap melakukan perlawanan untuk bertahan hidup. Sang Siren segera mengayunkan tongkat Veränderung, lalu menghentakkan salah satu ujungnya ke bawah.


 


 


Dalam hitungan detik, lingkaran sihir terbentang luas di atas permukaan pasir. Ratusan Rune dari struktur sihir melayang-layang ke udara, bercampur dengan Ether dan menciptakan efek seperti aurora sejauh jangkauan susunan sihir.


 


 


Sebagian Ether yang sebelumnya dikuasai oleh Leviathan seketika berubah arah. Padatan hidrogen pada mulut Sea Serpent mulai terurai, berubah menjadi butiran cahaya seperti kunang-kunang dan mulai melayang turun menuju Vil.


 


 


Hal tersebut membuat ukuran inti reaksi nuklir yang disiapkan Leviathan berhenti membesar, lalu mengecil secara perlahan dan pasti. Pada saat bersamaan, gangguan yang diberikan juga membuat semburan nova yang siap dilancarkan menjadi tidak stabil. Tidak lagi berbentuk lingkaran sempurna, lalu perlahan-lahan berubah oval dan tampak seperti akan meledak.


 


 


Plasma menjilat-jilat keluar dari inti reaksi nuklir, membakar sebagian mulut Leviathan yang terbuka dan membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan. Mulut yang menganga sedikit bergeser, tidak lagi mengarah ke Odo dan sedikit naik ke arah perbukitan di dekat Laut Utara.


 


 


“Odo! Diriku akan menahan Leviathan!” Vil kembali menghentakkan tongkatnya ke permukaan struktur sihir. Sembari memperluas jangkauan sihir dan meningkatkan efeknya untuk merebut kehendak Luat Utara, Roh Agung tersebut dengan lantang berkata, “Cepat gunakan wewenang milikmu! Manipulasi distorsi spasial di sekitar sini dan cepat kabur!”


 

__ADS_1


 


Reyah yang mendengar itu seketika tersentak. Setuju dengan sang Siren, ia segera berjalan menghampiri Odo sembari berkata, “Itu benar! Kita akan binasa jika terus berada di sini!”


 


 


Tetapi sebelum bisa mendekat dan menarik Odo untuk kabur, Reyah menabrak dinding tak kasat mata sampai terjatuh ke belakang. Sang Dryad seketika tertegun dalam ketakutan. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, dirinya hanya bisa menganga dan perlahan meneteskan air mata dalam keputusasaan.


 


 


Seakan-akan Odo Luke menolak untuk mundur, pemuda rambut hitam tersebut hanya berdiri di tempat dan tetap menatap ke arah Leviathan. Pedang masih membarah dengan api gelap yang memadat, hawa keberadaan Naga Hitam terpancar kuat, dan mimik wajahnya pun sama sekali tidak menunjukkan kata takut.


 


 


“Aktivasi …. Aitisal Almaelumat!”


 


 


Sang pemuda perlahan mengangkat tangan kirinya ke atas, menunjuk Leviathan dan perlahan tersenyum lebar layaknya pemenang. Seakan waktu berhenti beberapa detik, proses reaksi fusi Sea Serpent tiba-tiba terganggu sepenuhnya.


 


 


Vil untuk sesaat terdiam bingung. Ia memang sedang berusaha mengganggu proses pemadatan hidrogen Leviathan. Namun, menghentikan proses fusi selama beberapa detik bukanlah sesuatu yang bisa dirinya lakukan.


 


 


Tubuh Leviathan bergetar kencang, aliran Mana yang melapisi permukaan tubuhnya seketika menjadi tidak stabil. Hal tersebut membuat Sea Serpent itu tidak bisa lagi menahan suhu dari reaksi fusi nuklir sendiri, lalu mulutnya pun mulai terbakar oleh plasma yang menjilat-jilat.


 


 


Api putih menyambar bagian dalam mulut Leviathan, membakar daging dan bahkan sampai melelehkan gigi. Suara erangan terdengar kencang bersama dengan tubuh Sea Serpent yang mulai goyah, bergerak ke kanan dan kiri menahan rasa sakit dari mulut yang terbakar.


 


 


Sebelum semburan nova yang disiapkan meleleh dan meledak ke arah yang salah, Odo menjentikkan jari tangan kirinya. Meski itu hanya gerakan tangan sederhana, suara merambat cepat melalui udara dalam frekuensi khusus dan sampai ke Leviathan.


 


 


Saat pemuda rambut hitam tersebut mengayunkan telunjuk ke atas, seakan mengikuti gerakan tersebut Leviathan langsung mendongak lurus ke langit. Pada detik itu juga, semburan nova dilepaskan dan plasma bersungu tinggi melesat ke langit.


 


 


Pada saat yang sama saat napas nova ditembakkan, gelombang kejut yang sangat kuat menghendak permukaan. Membuat struktur sihir yang Vil buat seketika hancur, lalu tubuhnya tersentak ke bawah seakan-akan dibanting ke permukaan.


 


 


Kedua kaki sang Siren patah karena hentakan yang tiba-tiba datang, lalu tongkatnya pun lepas dari tangan dan terlempar ke atas pasir. Tubuhnya yang jatuh tengkurap terpapar radiasi semburan nova. Membuat pakaiannya sedikit terbakar, lalu punggung perlahan melepuh kemerahan.


 


 


Reyah yang masih terbaring juga tidak luput dari hentakan tersebut. Layaknya tiba-tiba dihantam batu besar, sang Dryad langsung terkapar tanpa bisa bergerak. Beberapa tulangnya patah karena terkena hentakan dalam posisi terlentang, lalu kulit sedikit melepuh karena paparan radiasi dari semburan nova.


 


 


Layaknya pilar cahaya di malam hari, napas putih terang menembus langit dan membentur dinding spasial Dunia Astral. Menghancurkan batasan Realm layaknya sebuah kaca rapuh dan membuat lubang besar di langit, lalu terus melesat melalui celah dimensi dan lapisan-lapisan Realm di luar kluster dunia.


 


 


Hampir seluruh makhluk di Dunia Astral bisa melihat pilar cahaya tersebut. Mereka terpana dan jatuh dalam ketakutan, paham bahwa itu merupakan cahaya yang bisa melenyapkan seluruh kehidupan di Dunia Astral.


 


 


Laura dan Magda yang bersembunyi di antara bebatuan bukit pun tidak luput dari gelombang kejut. Meski napas nova tersebut tidak diarahkan ke permukaan, namun daya hentak yang tercipta sudah cukup untuk menerbangkan pepohonan kelapa di dekat pesisir.


 


 


Mereka berdua terdorong gelombang kejut tersebut, terpental jatuh dari perbukitan dan ikut terlempar bersama pepohonan. Terombang ambing di udara sebelum akhirnya mendapat di atas permukaan bebatuan di bawah sisi lain tebing.


 


 


Sebuah teror mutlak ⸻


 


 


Layaknya sebuah Pengakhir Zaman, cahaya tersebut seakan menjadi sebuah akhir dan awal kehidupan baru. Cahaya penciptaan dan kehancuran, sesuatu yang lebih dekat dengan kata ilahi daripada para Dewa-Dewi itu sendiri.


 


 


Di antara seluruh makhluk yang ketakutan dan bahkan tidak bisa berdiri di hadapan pilar cahaya itu, Odo tetap menunjuk ke arah Leviathan tanpa goyah sedikitpun. Dinding udara tak kasat mata menghalau daya hentak dan radiasi, membuatnya sama sekali tidak terluka dan bisa berdiri dengan tegas.


 


 


 


 


\==============================


 


 


 


 


Catatan :


See You Next Time!


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2