
Odo berjalan ke arah pintu keluar dapur. Namun sebelum pergi, dirinya sempat menepuk pundak Di’in dan menggunakan Aitisal Almaelumat untuk mentransfer beberapa informasi kepadanya. Seketika mata Letnan Dua dari Kerajaan Moloia tersebut terbuka lebar, sedikit kehilangan akting dinginnya dan goyah.
“Odo, hal ini ….”
“Hmm, persis seperti yang aku sampaikan. Kalau ada waktu, sampaikan juga kepada Ra’an supaya koordinasi kalian sesuai.”
Setelah mengatakan hal tersebut, pemuda itu mengangkat tangannya dari pundak Di’in dan berjalan pergi dari dapur. Melihat gelagat mereka berdua yang tampak telah membicarakan sesuatu, Minda sekilas menatap datar dan merasa nanti dirinya perlu menyampaikan pendapatnya kepada Mavis. Soal gerak-gerik mencurigakan orang-orang Moloia yang ingin dipekerjakan Odo, Tuan Mudanya.
“Apa … saya tidak boleh bekerja keras? Karena saya masih anak-anak …, saya tidak boleh bekerja dengan giat, Kak Nanra?”
Nanra hanya terdiam dalam ekspresi bingung. Meski dirinya merasa mirip dan bisa berbagi empati dengan Kirsi, Nanra tetap tidak bisa paham alasan di balik kerja keras yang dilakukan Demi-human tipe leopard salju tersebut. “Kalau Kirsi hanya bekerja untuk bertahan hidup dan mendapat upah yang layak, dia tak perlu berusaha sekeras itu. Upah yang diberikan sudah lebih dari cukup untuk digunakan seorang anak kecil,” benak gadis rambut putih keperakan tersebut dalam tatapan senyap.
“Aku hanya penasaran …. Memang untuk apa kau bekerja sekeras itu? Berbeda denganku yang ingin segera keluar dari Panti Asuhan dan mandiri sepenuhnya, kau tidak punya tujuan jelas. Atau apa? Kau punya cita-cita lain dan sedang mencari uang untuk itu?”
Pertanyaan Nanara jawab dengan Pertanyaan lain, membuat Kirsi terdiam senyap dalam bingung. Untuk anak yang usianya belum menyentuh satu dekade, dirinya terlalu belia untuk memahami hal tersebut. Ia belum pernah memikirkan tentang cita-cita ataupun menabung untuk masa depan.
Tetapi, apa yang membuatnya bersemangat dan terus bekerja dengan pasti ada di dalam benak Kirsi. Hal tersebut membuatnya tidak pernah berkeluh kesah sejak pertama kali bergabung dengan perusahaan milik orang yang menyelamatkan hidupnya.
Menarik napas dalam-dalam, anak gadis tersebut meletakkan kedua tangan ke depan dada dan menjawab, “Saya ingin membalas kebaikan Tuan Odo. Beliau yang telah menyelamatkan saya …. Seumur hidup, malam itu pertama kalinya ada orang asing yang mau menolong dan sebaik ini kepada saya. Tuan Odo … memberikan kesempatan, bahkan beliau juga membiarkan saya belajar dan bekerja.” Menurunkan tangan dari dada, Kiris dengan penuh rasa bangga kembali menyampaikan, “Sampai akhir, Ibu hanya mengajarkan bahwa dunia ini kejam. Namun …, Tuan Odo memberi kesempatan kepada saya untuk belajar hal lain dan mengubah cara pandang tersebut. Dunia tidak seburuk yang selama ini saya kira ….”
Jawaban tersebut membuat Nanra tertegun, ia paham mengapa merasa ada suatu kemiripan dengan Kirsi. “Ah, ternyata dia juga …. Orang yang dipengaruhi Odo dan diberikan cara pandang lain dalam kehidupan,” benak Nanra seraya tersenyum kecil.
Merasa satu kegelisahan lain dalam benak menghilang, Nanra tersenyum kecil dan kembali melangkahkan kakinya. “Begitu, ya! Kalau memang seperti itu, berarti kamu harus bekerja lebih keras lagi supaya diakui oleh calon Raja itu,” goda Nanra. Tanpa memperlihatkan ekspresi senangnya kepada Kirsi, gadis rambut putih keperakan tersebut perlahan tersenyum lebar.
“Eh?! Calon Raja?! Kak Elulu juga pernah bilang begitu … Ternyata itu bukan bercanda? Tuan Odo benar-benar akan menjadi Raja?” tanya Kirsi dengan nada bingung.
“Hmm …, mereka tidak bercanda. Dengar ini Kirsi, selain menyimak soal pekerjaan, sebaiknya kamu juga mendengarkan obrolan tentang hal lain juga. Jangan sampai ketinggalan berita, itu penting untukmu supaya bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat.”
“Eng, Kak Elulu juga pernah bilang seperti itu ….”
Dalam langkah kaki dan tutur kata bersama, tak terasa akhirnya Nanra dan Kirsi pun sampai di toko. Masih sekitar satu jam lagi sebelum Ordoxi Nigrum buka, kedua anak tersebut pun pergi ke tempat masing-masing untuk melaksanakan rutinitas pekerjaan mereka.
Nanra naik ke lantai dua bersama Canna yang sudah sampai di tempat tersebut, untuk mengurus pengarsipan dan melanjutkan pembuatan laporan perusahaan. Sedangkan untuk Kirsi, anak gadis tersebut pergi masuk ke dalam lantai satu bangunan bersama Elulu dan Isla untuk mempersiapkan bahan makanan di dapur serta menata meja-meja.
Selain para pegawai Ordoxi Nigrum, orang-orang yang menjadi pekerja lepas juga sudah lalu-lalang sejak dini hari. Membawa wadah makanan dari daun jati, tusuk bambu, serta membongkar gerobak-gerobak dari penyuplai baham makanan untuk toko.
Di sekitar bangunan toko tersebut juga ramai terlihat orang-orang yang telah memulai persiapan toko-toko mereka sendiri, untuk kegiatan perekonomian di distrik perniagaan tersebut. Menyapu halaman depan bangunan, menata kios dengan barang dagangan, membongkar kotak-kotak kayu serta berbagai hal lainnya.
Toko-toko roti buka lebih awal daripada yang lain, terlihat ramai dengan kerumunan orang-orang yang ingin mendapatkan sarapan. Karena kebanyakan pengusaha berangkat sejak dini hari, mereka cenderung lebih membeli roti yang sudah matang ataupun membawa adonan dari rumah mereka masing-masing untuk dipanggang pada tungku bata toko roti.
Ketika matahari mulai meninggi dan sinarnya perlahan menyingkirkan awan mendung, kerumunan pengunjung distrik perniagaan semakin bertambah seiring dengan naiknya suhu. Mentari dengan bebas menyinari daratan, awan yang sebelumnya membawa isyarat akan hujan seakan menipu semua orang. Hari tersebut sama seperti hari-hari lain di musim panas, begitu terik sampai membuat beberapa orang yang tidak terbiasa dengan panas membawa payung untuk peneduh.
Belajar dan mulai beradaptasi dengan perubahan yang ada, para imigran gelap yang menjadi orang-orang terpinggir di kalangan kota pun memanfaatkan kesempatan tersebut. Di bawah arahan Totto yang diberikan tugas untuk pendidikan sumber daya di sekitar distrik perniagaan, sebagai imigran gelap diajarkan cara membuat payung sederhana dari bahan bambu dan dedaunan untuk dijual kepada para pelancong.
Mereka membuat payung sekali pakai tersebut dan dijual kepada para pengusaha atau pengelana dari luar kota. Lalu, sebagian dari mereka ada yang memungut payung-payung rusak yang ditinggalkan para konsumen mereka. Untuk didaur ulang dan dijual kembali.
Itu bukanlah ide yang Odo berikan kepada mereka, melainkan berasal dari salah satu Demi-human yang pertama kali setuju untuk bergabung dalam usaha pembuatan wadah daun jati perusahaan Ordoxi Nigrum. Melihat payung-payung kertas milik para wanita dari kekaisaran yang berkunjung, ide tersebut pun muncul dan diterapkan sebagai sumber penghasilan tambahan.
Tentu saja pihak pemerintah kota pun melirik hal tersebut, menetapkan biaya pajak khusus dan membatasi penggunaan daun jati untuk menjaga kelestarian pohon jati di sekitar kota. Usaha tersebut hampir bernasib sama dengan para unit-unit pedagang gerobak, usaha payung sekali pakai itu menjadi hal baru yang memicu para pengusaha lain untuk meniru.
Sejauh ini, perusahaan Ordoxi Nigrum sendiri masih belum menambah jumlah pegawai tetap dan hanya menjadikan orang-orang tersebut sebagai pekerja lepas. Selain karena mereka tidak memiliki tanda kependudukan secara resmi, Arca sebagai manajer utama menilai bahwa keuntungan toko belum siap untuk mengambil mereka dalam usaha. Faktanya, perusahaan pun baru bisa balik modal awal bulan ini dan masih dibebani oleh beberapa pengeluaran besar untuk proyek-proyek yang dijalankan oleh sang pemilik perusahaan, Odo Luke.
__ADS_1
Kerja sama pengembangan alat-alat baru dengan Serikat Tukang Kurcaci Merah, investasi terhadap pemukiman Suku Klista, dan juga sebuah proyek pembangunan kompleks perumahan baru milik perusahaan. Dengan berbagai pengeluaran yang dipotong dari laba perusahaan Ordoxi Nigrum, hampir setiap minggu tidak ada dana yang bisa masuk untuk menambahkan modal kas meski seharusnya pendapatan bersih mengalir deras.
.
.
.
.
.
Dalam waktu yang terasa begitu lambat baginya, Nanra masih duduk mengurus lebar-lembar perkamen berisi laporan keuangan dan mobilitas dana. Antara pemasukan dan pengeluaran, laju yang tertera sangatlah cepat karena uang di kas hampir setiap harinya terus bergerak. Seakan kata simpanan atau dana cadangan tidak ada dalam sistem keuangan perusahaan Ordoxi Nigrum.
Sejenak terdiam di dalam ruang kerja pada lantai dua toko, Nanra menatap datar laporan yang sedang dirinya kerjakan. Tempat tersebut sedikit tertutup dengan pencahayaan dari lampu kristal, suasana terasa senyap pun mendominasi. Bahkan keramaian dari lantai bahwa tidak terdengar karena struktur sihir peredam yang terpasang pada permukaan lantai.
Melihat rekan kerjanya terdiam dan berhenti menyentuh pekerjaan, Canna yang duduk di meja dengan pembatas sekat juga ikut terhenti. Penyihir rambut putih uban tersebut meletakkan perkamen ke atas meja, lalu memasang wajah sedikit penasaran. “Nanra …. Kalau lelah, kamu bisa istirahat dulu dan makan siang di bawah. Jangan terlalu memaksakan diri,” ujarnya seraya bangun dari tempat duduk.
Perempuan dengan gaun abu-abu tersebut mengambil topi kerucut dari atas meja dan mengenakannya. Sembari berjalan ke arah Nanra, ia pun kembali berkata, “Atau ada yang masih kamu tidak pahami? Kalau bingung, tanya saja. Selagi saya masih di sini. Yah, kamu tahu …. Akhir minggu ini kamu harus bisa mengurus semua ini sendirian.”
Nanra meletakkan perkamen ke atas meja, menghela napas ringan dan memasang senyum kecil. Dalam hati, dirinya merasa seperti beban karena kebanyakan orang di lingkungan kerjanya sudah bisa mengerjakan banyak hal dan beradaptasi dengan cepat. Berbeda dengannya, masih harus diajari banyak hal dan sesekali membuat kesalahan dalam pekerjaan.
Mengingat Kirsi yang lebih cepat bisa beradaptasi daripada dirinya, Nanra kembali merasa pesimis. Merasa tidak memiliki bakat dalam mempelajari hal baru dan tertinggal orang-orang di sekitarnya.
“Kak Canna … hebat, ya? Bisa mengerjakan banyak hal dan pergi ke sana kemarin tanpa membuat kesalahan. Meski harus belajar soal sihir juga dengan Odo, Kakak masih bisa mengurus hal-hal seperti ini.”
Canna langsung paham dilema gadis tersebut. Mengambil kursi dan duduk di dekatnya, penyihir tersebut memasang senyum ringan dan berkata, “Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah membuat kesalahan.”
“Kakak sedang merendah diri?” singgung Nanra.
Canna hanya tertawa kecil dan mengelak, merasa cara pandang gadis di depannya sangat hijau dan masih melihat sebuah hal dari satu arah saja. Sekilas memalingkan pandangan ke arah salah satu lampu kristal pada langit-langit ruangan, sang penyihir dengan topi kerucut hitam tersebut menyampaikan, “Saya tidak sedang merendah, itu fakta. Di dunia ini tidak ada yang langsung ahli dalam sebuah bidang. Kalau pun ada, itu mungkin karena kamu hanya melihat hasil yang ada saja.”
“Hasil yang ada? Bukannya hasil adalah segalanya?” Nanra sedikit bingung, memiringkan kepalanya dan perlahan mimik wajahnya kecut miliknya luntur.
“Hmm, itu dia. Pemikiran itu salah ….” Sembari kembali menatap gadis tersebut, Canna mengangkat jari telunjuknya ke depan dan memberitahu, “Cobalah untuk lebih menghargai proses. Harka Nog si Tukang pernah bilang kepada saya, nilai dari seorang tukang bukanlah berapa lama dirinya mengerjakan sesuatu, melainkan seberapa banyak pengalaman dalam pekerjaan tersebut. Harka bisa membuat sebuah meja indah hanya dalam dua puluh menit, namun di mata orang lain dirinya hanya memotong dan memaku papan kayu saja. Tanpa melihat pengalaman yang dirinya lalui untuk bisa melakukan hal tersebut, orang lain mungkin hanya akan berkata, ‘Ah, hanya seperti itu saja kok dibayar mahal!’ Lalu, mereka mulai meremehkan. Tanpa melihat proses dan hanya menilai hasil.”
Canna menurunkan jari telunjuknya, berhenti tersenyum dan sekilas mengingat perkataan Odo selama mengajarnya dalam beberapa minggu terakhir. Mungkin jika Canna tidak menerima pembelajaran dari Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, dirinya juga masih memiliki pemikiran yang sama seperti Nanra. Menganggap hasil adalah segalanya, proses tidak penting dan tak bernilai.
Seakan menolak dirinya sendiri dari masa lalu, Canna membuka kedua telapak tangannya sendiri dan menatap. “Dalam bekerja yang dinilai tinggi bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang kamu lakukan, melainkan pengetahuan yang kau curahkan dalam pekerjaan itu. Kerja cerdas dan kerja keras adalah dua hal yang sangat berbeda,” ujarnya dengan rasa malu dalam hati. Seakan-akan perkataan tersebut Canna arahkan kepada dirinya sendiri.
“Tapi …, ujung-ujungnya Kakak memang sudah pandai dalam pekerjaan yang kakak urus, bukan? Seperti bidang administrasi dan pembukuan ini ….”
Perkataan Nanra sedikit membuat Canna tersentak, merasa gadis di hadapannya tersebut sedikit keras kepala dengan pendiriannya soal hasil adalah segalanya. Tidak ingin memaksakan cara pandangannya kepada Nanra, sang penyihir hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Benar juga. Kamu tidak salah soal itu …. Dalam pekerjaan yang diberikan Tuan Odo, kita memang harus melakukan semuanya dengan baik. Orang itu selalu menghujani kita dengan bermacam tugas, sih. Kalau tidak segera diselesaikan, bisa-bisa Tuan Odo mencari orang lain atau mengerjakan semuanya sendirian.”
“Um-Hmm ….” Nanra memalingkan pandangan dengan kaku, lalu dalam rasa setuju berkata, “Dia memang orang yang seperti itu. Jujur, sampai sekarang saya tidak paham alasannya bekerja keras sampai seperti itu? Apa … Kakak Canna tahu?”
“Entahlah, diriku baru kenal dengannya beberapa bulan ini. Seharusnya kamu jauh lebih kenal Tuan Odo daripada saya, bukan?”
Nanra tersentak, terdiam sesaat dan kembali mengingat-ingat semua hal tentang Odo. Pada saat itu juga, gadis itu baru sadar bahwa dirinya sama sekali tidak memahami jati diri pemuda yang memberikan banyak pengaruh dalam hidupnya. Selain orang dari kalangan bangsawan dan berpengetahuan luas, Nanra tidak tahu apa-apa soal Odo.
Entah itu dalih dari segala tindakan, tujuan, atau bahkan alasan pemuda itu membawa perubahan kepada Kota Mylta. Semua itu Nanra tidak tahu. Benar-benar tidak mengerti kenapa Odo mau bersusah payah melakukan banyak hal untuk tempat yang bahkan sering memperlakukannya dengan tidak ramah.
__ADS_1
“Saya tidak terlalu memahaminya ….” Nanra menatap lawan biaranya. Merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam benak, gadis rambut putih keperakan tersebut pada akhirnya mengatakannya, “Tetapi, belakangan ini saya merasa Odo terlalu memaksakan diri. Dia … seperti sedang terburu-buru. Seperti sedang dikejar sesuatu.”
“Terburu-buru, yah ….” Canna merasakan hal yang berbeda. Sembari memalingkan pandangan dan menghela napas cemas, ia dengan sedikit resah berkata, “Daripada terburu-buru, bukannya Tuan Odo lebih cenderung sedang takut?”
“Takut? Orang seperti Odo?”
“Apa itu aneh? Beliau juga masih makhluk hidup, tentu saja punya satu atau dua hal yang dirinya takuti.”
“Bukannya aneh, hanya saja …. Saya tak bisa membayangkan sesuatu yang membuat Odo bisa ketakutan.”
ↈↈↈ
Terbaring di atas tempat tidur pada siang hari, Odo membuka matanya dengan penuh rasa lelah dan hanya menatap datar langit-langit kamar. Angin yang masuk melalui jendela membawakan sebuah kesejukan padanya, namun hal tersebut tidak bisa membawakan ketenangan untuk hatinya.
Meski berada di dalam kamarnya sendiri dan sendirian, pemuda rambut hitam tersebut merasa selalu dihantui sesuatu. Semakin banyak ingatan dari masa lalunya naik ke permukaan dan menguasai, dirinya seakan terus-menerus mendapat tuntutan yang tak ada habis-habisnya. Begitu banyak sampai-sampai tak tahu dari siapa saja harapan yang dirinya genggam sekarang.
“Apa yang telah kau capai selama ini? Tak masalah jika belum mencapai apa-apa, kita masih punya banyak waktu.”
“Apakah kau akan membuat kesalahan yang sama seperti waktu itu? Meski kita paham itu bukanlah siklus spiral, tetap saja waktu yang ada terlalu lama untuk kita lalui.”
“Kamu tidak melupakan kami, bukan? Kami selalu ada di sini untukmu. Sampai akhir hayat ini, kami akan terus berada di pihak dimana kamu berdiri.”
“Maaf …, rekanku. Sepertinya ini akhir untukku …. Kumohon, tolong teruskan mimpi dan harapan kami! Jangan lupakan kami dan teruslah hidup!”
“Selama kau terus ada, kami tidak akan mati. Kami akan selalu hidup dalam ingatan kau.”
“Tak masalah jika engkau tidak mencintai atau menghargai kami. Selagi mimpi dan harapan tersebut berada di hati, itu sudah cukup. Selamat jalan … Diriku selalu berharap bisa bertemu lagi dengan engkau, dengan cara yang berbeda dan lebih baik lagi.”
“Kami mohon, hiduplah! Jangan biarkan semua ini menjadi sia-sia! Wahai pembimbing kami!”
“Jangan biarkan ini berakhir begitu saja!”
“Larilah! Terus hidup!! Pasti kamu bisa menemukan cara yang lebih baik!”
“Tak masalah kami terus kalah, rekanku! Selama kau masih hidup, mimpi dan harapan ini akan terus berlanjut! Ingatan kita, mimpi dan ambisi kita akan terus ada sampai kapan pun!”
“Engkau adalah awal! Tolong pahamilah! Karena itulah engkau harus tetap ada sampai akhir datang! Tak peduli seberapa banyak korban berjatuhan, engkau harus tetap ada untuk membuat awal baru lainnya!”
“Kami mohon, jangan lupakan mimpi ini! Teruslah menjadi bukti bahwa dunia ini pernah ada! Bukti bahwa kita pernah! Jangan … biarkan ini berakhir, wahai sosok yang mendapat kasihku.”
“Engkau tak perlu menyampaikannya kepada orang lain. Selama engkau masih ada sampai kelak nanti, itu sudah cukup bagi kami! Karena itulah engkau adalah Awal dari segalanya. Meski dirimu lahir lebih lama dari kami, namun dunia telah menetapkan engkau sebagai Jiwa Pertama. Awal dari segalanya.”
“Pergilah, teruslah melangkah sampai kembali ke tempat kamu berasal. Awal Mula pasti akan menyambut jiwa kecil milikmu itu. Mengantar dirimu ke dunia yang baru nanti, menjadi contoh dari segala bentuk kehidupan baru.”
“Wahai Singularitas Paling Awal, jangan berhenti di sini. Tak apa jika diriku menghilang sekarang. Kelak …, kelak nanti pasti kita akan bertemu kembali. Diriku harap … engkau mengingat pemandangan ini, penuh dengan warna merah di senja hari.”
Saat Odo berusaha menenangkan diri, suara-suara mereka terus menggema di dalam kepala. Bersama ingatan yang satu persatu terus naik ke permukaan, kalimat-kalimat dari masa lalu mengisi kepala dan menghantui hatinya. Meski seharusnya dirinya tidak sepenuhnya tahu milik siapa saja kalimat-kalimat tersebut, semuanya terasa begitu nyata dan secara langsung mempengaruhi dirinya.
Karena itulah Odo terus bergerak, memikirkan semua hal yang terbaik supaya tidak mengecewakan orang-orang dari masa lalu yang dirinya pernah kenal. Ada kalanya dirinya ragu bahwa semua kalimat itu berasal dari Mahia untuk mempengaruhinya. Namun, Odo tetap merasakan adanya ikatan lain di dalam tiap kalimat yang menggema.
Semua kalimat itu jelas-jelas disampaikan kepada dirinya secara mendalam, mengisyaratkan bahwa waktu yang telah dirinya lalui dengan orang-orang tersebut tidaklah singkat. Meski tidak mengingatnya dengan jelas dan tidak diberitahu oleh siapa pun, Odo mengambil kesimpulan tersebut.
__ADS_1
Membuka matanya lebar-lebar, pemuda itu duduk dengan kedua kaki terlentang lurus ke depan dan sejenak menghela napas ringan. Rambut hitamnya tertiup angin yang masuk, sedikit menyingkirkan poni dari kening dan membuat wajahnya terlihat jelas pada cermin di lemari.