
Perbatasan Wilayah Kerajaan Felixia, Lembah Gersang, Sianama. Setelah menggunakan Puddle untuk memindahkan seluruh Pasukan Kekaisaran yang tersisa, Odo Luke beristirahat sejenak di ujung tebing Pegunungan Perbatasan.
Senja menjelang malam, mentari telah memancarkan cahaya kemerahan di ujung cakrawala. Burung-burung beterbangan menyeberangi lembah, bermigrasi dari arah utara ke selatan untuk menghadapi musim gugur dan dingin.
Pemuda itu berdiri murung sembari menatap hamparan lembah tandus. Ia sekilas melirik ke arah salah satu pulau melayang milik Kota Miquator, berjarak belasan kilometer dari tempatnya berdiri. Melayang di sekitar wilayah perbatasan antara Kekaisaran dan Felixia.
Odo menahan napas sejenak, lalu mengangguk ringan dan lekas menoleh ke belakang. Ia sekilas memperlihatkan ekspresi risau, sedikit mengernyit dan berdecak kesal.
“Apa sudah lengkap? Atau masih ada yang ketinggalan?” tanya Odo dengan lelah. Pemuda rambut hitam itu kembali menghela napas, kemudian lekas membuang muka sembari mengingatkan, “Bisa saja Pasukan Felixia sudah bersiap menyergap kita di seberang lembah.”
“Saya paham! Tolong jangan buat mereka tambah panik!” Jenderal Fai menghampiri pemuda itu, kemudian berdiri di sebelahnya sembari bertolak pinggang. Ia sekilas menurunkan alis, lalu melirik tipis dan bertanya, “Engkau tidak lelah? Setelah memindahkan mereka sekaligus, bukankah itu sangat menguras stamina⸻?”
“Tidak juga!” Odo menyela dengan tegas. Seakan ingin bersaing, ia ikut bertolak pinggang dan membusungkan dada dengan angkuh. Namun, ekspresi sedih mulai tampak pada wajahnya. “Aku sudah tidak bisa lagi merasakan lelah, soalnya itu merupakan satu dari sekian banyak nikmat dunia. Tanda bahwa kita telah melakukan kerja keras dan diizinkan untuk beristirahat,” gumam pemuda itu seraya menundukkan wajah.
“A-Apa yang dirimu bicarakan? Sepertinya berat sekali ….” Jenderal Fai sekilas memperlihatkan ekspresi enggan, sedikit menjauh dan bertanya, “Apa dirimu menyesalinya?”
“Tentu saja tidak, ini sudah tepat!” Odo berbalik, lalu berjalan menuju para prajurit yang sedang mendata persediaan dan personel yang tersisa. “Lagi pula, aku sudah meminta bantuan gadis itu! Sangat memalukan kalau aku hanya bermalas-malasan dan mengeluh ….”
“Gadis itu?” Jenderal Fai ikut berbalik, lekas menatap Leviathan yang sedang berdebat dengan Ifrit di sudut lain tebing. Mereka membicarakan hal aneh, terlihat saling membentak dan hampir adu jotos. “Jujur saja diriku sangat cemas. Apa mereka benar-benar bisa membantu kita?” gumamnya seraya menundukkan kepala.
“Ngomong-omong ….” Odo tiba-tiba berhenti, kembali menatap Jenderal Fai dan bertanya, “Kamu enggak ikut kerja?”
“Eh?” Jenderal Fai tersentak. Ia sempat cemas dan takut pemuda itu mendengar keluhan tadi, lalu lekas memalingkan pandangan dan menjawab, “Diriku seorang Jenderal, loh! Bagian administrasi itu tugasnya para pejabat!”
“Hmm, benarkah?” Odo lekas menunjuk perempuan bernama Yue, tampak ikut serta mendata personel dan perlengkapan perang yang tersisa bersama para pejabat sipil. Bergumul dengan prajurit, memastikan mereka terdata dengan baik supaya tidak ada yang terlewat. “Dia juga seorang Jenderal, ‘kan? Sama seperti dirimu ….”
“Ugh⸻!” Jenderal Fai tersentak. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu dengan suara lirih berkata, “Saya tidak terlalu paham soal administrasi ….”
“Kalau tidak bisa administrasi, paling tidak bantu bagian lain.” Odo sedikit menyipitkan mata, lalu mengernyit dan lekas menyampaikan, “Kita berlomba dengan waktu.”
“Kalau memang sangat terburu-buru, kenapa dirimu tidak menggunakan kekuatan itu saja untuk memindahkan kami ke seberang? Atau …, bisa saja langsung ke Magetsu, Ibukota Kekaisaran⸻?”
“Ya, sejujurnya aku juga ingin melakukan itu! Memindahkan kalian langsung ke tempat tujuan, melewati perbatasan dan sampai di Kekaisaran! Namun, sayang sekali kekuatan tersebut punya batasan ….” Odo menghela napas sejenak, kemudian memperlihatkan ekspresi resah dan bertanya, “Kau tahu Puddle itu sejenis Native, ‘kan?”
“Ternyata informasi itu benar, ya. Mengejutkan ….” Jenderal Fai berdecak resah. Ia mengernyit kesal, lalu kembali menatap lembah gersang seraya berkata, “Padahal seorang Native, namun engkau bisa menggunakan sihir tanpa efek samping sama sekali.”
“Tanpa efek samping?” Odo menatap tajam, sedikit menggertakkan gigi dan memperlihatkan ekspresi kesal. “Semua kekuatan pasti memiliki biaya yang setara, seharusnya kau paham hal tersebut.”
“Berarti ….” Jenderal Fai sekilas memperlihatkan wajah pucat, sedikit merasa bersalah dan kembali menatap ke depan. “Itu ada efek sampingnya?” tanyanya dengan cemas.
“Tentu saja ada! Jangka hidup bisa terpangkas berdasarkan jarak dan banyak objek yang aku pindahkan!” Odo menjelaskan seolah-olah itu adalah kebenaran. Ia mengangguk sekali, lalu menghela napas resah dan lanjut menyampaikan, “Tepatnya, proses teleportasi akan mempercepat pertumbuhan tubuh ini ….”
“Sebentar! Ja-Jadi!” Jenderal Fai langsung mempercayai ucapan pemuda itu, lalu menunjuknya dengan cemas sembari lanjut bertanya, “Engkau terlihat tua karena efek samping kemampuan tersebut?!”
“Benar, ini adalah efek sampingnya ….” Odo kembali mengangguk. Sembari merentangkan kedua tangan, pemuda rambut hitam itu dengan tegas berkata, “Lihatlah! Aku terlihat sedikit lebih tua dari sebelumnya, ‘kan?”
“Be-Benar juga!” Jenderal Fai tidak meragukan perkataan tersebut. Ia mulai mengerutkan kening, wajahnya pun memucat dan keringat dingin bercucuran. “Kalau diamati seperti ini, engkau memang kelihatan lebih tua dari sebelumnya,” ujarnya dengan cemas.
“Hah?” Leviathan lewat saat pembicaraan itu berlangsung. Ia terhenti dan lekas menoleh, kemudian memperlihatkan ekspresi terkejut dan berkata “Kalau bohong mulus banget, ya …. Lihatlah, dia benar-benar percaya.”
“Eh, itu bohong?!” Jenderal Fai tersentak, wajahnya sedikit berubah memerah karena malu. “Se-Sebentar! Dirimu berbohong, Odo Luke?!”
“Diamlah! Ganggu amat, sih!” Odo mengernyit, lekas berbalik dan membentak, “Sana bantu saja yang lain! Jangan malah merusuhi urusanku!”
“Hah?!” Leviathan seketika naik pitam, memancarkan aura sihir yang kuat dan balik membentak, “Beraninya⸻!!”
__ADS_1
“Ifrit, tolong urus dia ….” Odo langsung menjegal kaki kanan perempuan itu, lalu mendorongnya ke arah Ifrit dengan kencang.
“Eh? Apa yang engkau⸻?!” Leviathan terkejut, lekas berbalik dan menghindari Ifrit yang sedang berdiri di belakangnya. Hampir jatuh memeluk sosok berselimut hawa panas tersebut. “Dasar Iblis! Bisakah kamu sedikit lebih menghargai diriku?!” bentaknya kesal.
“Kenapa harus diriku?! Enggak, ah!” Ifrit menolak, lekas menjauh dan berkata, “Siapa yang sudi jadi pengasuh Kadal Petaka ini?! Raja Luke saja sana yang urus!”
“Beraninya makhluk kecil sepertimu memanggil diriku kadal, hah?!” Leviathan langsung menghadap sosok berselimut hawa panas tersebut. Sembari menunjuk lurus, ia dengan tatapan murka langsung membentak, “Ingin punah, ya?! Bilang saja! Diriku dengan senang hati akan memusnahkan kau dari dunia ini!”
“Bicara apa fosil ini ….” Ifrit tidak gentar. Dengan wujud humanoid, sosok Roh Agung tersebut mulai menggelengkan kepalanya dan membalas, “Kamu hanyalah peninggalan zaman purba! Dasar primitif! Kolot dan sangat kuno!”
“Kalian akrab sekali, ya?” Odo mengusik mereka.
“Siapa yang akrab?!”
“Siapa yang akrab?!”
Ifrit dan Leviathan membantah dengan kompak, lalu memancarkan tekanan sihir dan membuat suhu udara di sekitar tempat tersebut naik drastis. Mereka saling melotot, menggeram kesal dan menunjukkan tanda permusuhan yang jelas.
Tekanan sihir itu sedikit mengubah aliran Ether di sekitar tebing, menarik perhatian Pasukan Kekaisaran yang sedang melakukan pendataan. Membuat mereka cemas, bahkan ada beberapa yang ketakutan dan segera menjauh.
“Tenanglah, kalian menakuti yang lain …!” Odo menghela napas, lalu menjentikkan jari dan lekas memalingkan pandangan ke arah lembah gersang. Ia sekilas melebarkan senyum tipis, kemudian meletakkan tangan ke depan mulut dan bergumam, “Aku rasa ini bukan kondisi yang buruk untuk memulai awal baru.”
“Sebentar! Tadi diriku dikibuli, ya?!” Jenderal Fai lekas mendekat, sekilas memperlihatkan ekspresi geram dan langsung membentak, “Kamu kalau berbohong mulus sekali, ya! Diriku sampai takut!”
“Aku tidak berbohong ….” Odo menoleh. Ia perlahan melebarkan senyum hangat, lalu memalingkan pandangan dan meluruskan, “Kekuatan ini benar-benar mengikis umurku ….”
“Uwah! Lagi? Serius?” Leviathan berbalik. Ia lekas menepuk punggung pemuda itu dari belakang, lalu berjalan ke hadapannya dan berkata, “Apa untungnya bohong begitu? Sesulit itukah untuk jujur, Odo Luke? Kemampuan tersebut tak punya batasan, ‘kan?”
“Bukan kemampuan teleportasi ….” Odo lekas meluruskan. Ia perlahan melebarkan senyum tipis, kemudian menggunakan Spekulasi Persepsi dan memprediksi alur pembicaraan. Sekilas matanya berkilat dari biru menjadi hijau pudar, tanda bahwa proses kalkulasi telah selesai. “Namun ini yang aku maksud,” tambahnya seraya melepas sarung tangan kanan.
“Ah, begitu ….” Leviathan langsung memahami maksudnya. Putri Naga memang tidak terlalu paham dengan konsep ataupun mekanisme Singgasana Ilahi, namun ia tahu makna dari Rajah berbentuk nomor tersebut. “Umur kamu tinggal berapa tahun lagi?” tanyanya seraya memalingkan pandangan, berusaha menyembunyikan ekspresi cemas.
“Entahlah ….” Odo kembali mengenakan sarung tangan, kemudian sekilas mengangkat bahu dan menjawab, “Mungkin paling lama bisa sampai tiga puluh tahun. Tergantung kondisi.”
“Santai sekali, ya?” Leviathan menatap tajam. Ia tidak mencemaskan Odo, melainkan Seliari yang berada dalam Alam Jiwa pemuda itu. “Ingat ini, Iblis! Hidupmu sudah bukan milikmu sendiri! Diriku tidak akan membiarkan kamu bertindak seenaknya!”
Odo tidak membalas, hanya melebarkan senyum hangat dan memperlihatkan ekspresi lega. Ia perlahan mendongak lurus, menatap gugusan bintang yang mulai menampakkan diri mereka dengan indah. Gemerlap terang pada penghujung musim panas.
“Terima kasih, Leviathan ….” Odo meneteskan air mata, perlahan berhenti tersenyum dan kembali menatap lawan bicaranya. “Itu sungguh melegakan. Punya rekan yang mau menegur itu sangat menyenangkan,” ujarnya seraya memiringkan kepala, lalu melempar senyum kecut dan tertawa pelan.
“Odo ….” Leviathan terkejut, kedua matanya terbuka dan mulut pun sedikit menganga. Ia tidak bisa membalas, kehabisan kata-kata dan segera memalingkan wajahnya dengan gelisah. “Jangan menangis! I-Ini rasanya aneh!” bentaknya dengan cemas.
Jenderal Fai dan Ifrit ikut terkejut, namun tidak bisa berkata apa-apa dan hanya terdiam membisu. Saling menatap, lalu menghela napas ringan dengan perasaan lega.
“Odo! Kami sudah selesai!” Tidak sempat membaca suasana yang ada, Laura menghampiri mereka dan lekas bertanya, “Pendataan sudah selesai! Kita bisa berangkat kapan saja, atau istirahat dulu⸻! Eh? Kamu menangis?” Perkataannya seketika terhenti saat pemuda itu menoleh, langsung terkejut dan melangkah mundur.
“Memangnya enggak boleh, ya?” Odo segera menyeka air mata, lalu menatap datar dan lanjut berkata, “Aku juga punya hati, loh.”
“Tidak, hanya saja ….” Laura sedikit merasa bersalah, sekilas memalingkan pandangan dan tertegun. “Itu cukup mengejutkan.”
“Persiapannya selesai! Mau langsung berangkat, Odo?” Magda ikut menghampiri mereka. Ia sekilas menyipitkan mata, lalu mengamati pemuda itu dan menyindir, “Uwah! Kamu menangis, ya! Ternyata orang sepertimu bisa menangis juga⸻! Ugh!”
“Diamlah!” Laura menyikut perut rekannya, lalu melirik tajam dan menegur, “Baca suasana dikit! Dia di dekat Pemusnah Peradaban ….”
“Saya tahu, Letnan ….” Magda membungkuk kesakitan, sedikit mengerutkan kening dan menggerutu, “Tidak perlu sampai sekeras itu, dong!”
__ADS_1
“Kalau yang lain sudah siap, kita akan langsung berangkat ….” Odo tidak terlalu memedulikan pertikaian kecil mereka. Ia sejenak menghela napas, lalu memalingkan pandangan dan bergumam, “Sebelum itu, boleh aku minta sesuatu?”
“Hmm?” Magda sedikit mengerutkan kening, memperlihatkan tatapan kesal.
“Soal apa?” Laura menanggapi dengan santai, lalu menunjuk ke arah Pasukan Kekaisaran dan bertanya, “Bantu-bantu lagi?”
“Kenapa sih Letnan patuh sekali?!” Magda semakin jengkel, lalu menunjuk Odo dan berkata, “Dia ingin memanfaatkan kita, loh! Awalnya kita ikut dia hanya untuk mencegah perang! Tapi malah⸻!”
“Saya paham!” Laura menoleh, lalu memperlihatkan ekspresi pasrah dan berkata, “Ini lebih baik daripada harus melawan Pemusnah Peradaban.”
“Ah⸻!” Magda langsung memucat, perlahan melirik ke arah Leviathan dan membisu.
“Kamu menaklukkan mereka dengan baik ….” Leviathan menyindir. Ia berjalan ke sebelah Odo, lalu menatapnya dari dekat sembari bertanya, “Ngomong-omong, apa yang ingin kamu minta dari mereka?”
“Bukan mereka, namun kalian ….” Odo menetap balik. Sekilas ia memperlihatkan senyum tipis, lalu berbalik dan berjalan menuju ujung tebing. “Ini soal identitas, terutama nama Keluarga Luke dan status bangsawan yang ada,” ujarnya seraya menunjuk sisi lain lembah.
“Ah, benar juga!” Jenderal Fai langsung mengangguk paham, lalu mendekat sembari memastikan, “Kalau kabar pembelotan menyebar, Keluarga Luke bisa dianggap sebagai pengkhianat oleh bangsawan lain. Untuk mencegahnya, apakah dirimu ingin menggunakan identitas yang berbeda selama di Kekaisaran?”
“Hmm, tepat sekali!” Odo tersenyum lebar. Ia lekas berbalik, lalu merentangkan kedua tangannya ke samping sembari berkata, “Mulai detik ini aku akan membuang nama Luke!”
“Odo Tsukihi?” Jenderal Fai mulai memilih nama. Ia meletakkan tangan ke depan mulut, lalu memalingkan pandangan dan lanjut bergumam, “Tsukihi Odo? Atau Cai Zi Odo?”
“Bentar!” Odo mengernyit, langsung menunjuk pria itu dan membentak, “Kenapa kau seenaknya memasukkan nama Kaisar?!”
“Memangnya aneh, ya?” Jenderal Fai menurunkan tangannya, kemudian sedikit memiringkan kepala dan lanjut bertanya, “Bukankah itu cocok? Kalian kekasih, bukan?”
“Bukan!” Odo membentak. Ia sejenak menahan napas, lalu menggelengkan kepala dan bergumam, “Sejak kapan aku jadi kekasih anak itu?!”
“Pakai saja Ode!” Leviathan ikut memilih nama. Ia segera mendekat, lalu melebarkan senyum meledek dan lanjut berkata, “Bagaimana dengan Odi? Oda juga bagus!”
“Kenapa malah huruf vokal?!” Odo mengernyit, melirik tajam dan langsung membentak, “Cukup! Aku sudah memilih! Jangan buat tambah runyam!”
“Oh, saya kira kamu menginginkan saran dari kami.” Leviathan meledek, lalu menjulurkan lidah dan melipat kedua tangannya ke belakang pinggang. “Sayang sekali ….”
“Enggak, lah!” Odo menahan napas sejenak, berusaha menenangkan diri dan lanjut berkata, “Lagi pula, nama yang kau berikan pasti aneh semua!”
“Jadi ….” Leviathan berhenti bercanda. Tatapan lembut seketika berubah tajam, diisi sedikit kebencian dan amarah. “Nama apa yang kamu pilih, Iblis?” tanyanya dengan sinis.
“Altair Solus ….” Odo memberikan tatapan datar. Ia tidak memasang senyum palsu ataupun kepura-puraan untuk menutupi perasaannya, benar-benar menunjukkan ekspresi muak dan lelah. “Bagaimana menurutmu, Leviathan?” tanyanya risau.
“Altair Solus, ya?” Putri Naga mengangguk ringan. Ia sedikit terkejut dengan nama yang pemuda itu pilih, namun tidak merasakan sesuatu yang spesial. “Nama yang unik ….”
“Altair Solus adalah nama asliku,” ujar Odo dengan tegas. Ia memperlihatkan ekspresi sedih, lalu melebarkan senyum tipis sembari menambahkan, “Itu nama jiwaku. Altair merujuk pada bintang paling cerah dalam rasai Aquila, sedangkan Solus dapat diartikan sebagai Singular atau Tunggal.”
“Eh? Itu ….” Leviathan tersentak, lalu lekas melangkah mundur tanpa bisa menyampaikan apa-apa. Hanya membisu dengan mulut menganga. “Nama jiwamu?”
“Benar, itu nama jiwaku ….” Odo berhenti tersenyum. Ia perlahan menurunkan tatapan mata, lalu menarik napas dalam-dalam dan lanjut menyampaikan, “Nama tersebut juga dapat diartikan sebagai Singular Rajawali, Raja Burung yang Tunggal.”
\===================
Catatan :
Tamat!!
Next Bakal lanjut seri baru! Prequel!
__ADS_1
“Siklus Sakral”