
Pagi tersebut terlalu indah untuk memulai sebuah klimaks permasalahan, sebuah momen penentuan bagi masa depan Rockfield. Seperti hari-hari biasanya, kabut segera menutupi perkotaan saat matahari mulai naik dan membuat udara dingin menyelimuti penjuru tempat.
Sejak dini hari, setiap orang bekerja seperti biasa. Para penduduk mengais uang untuk menyambung hidup, berangkat ke tambang ataupun bekerja ke tempat mereka masing-masing.
Seakan berada pada tempat yang sangat berbeda, sebuah momen penentuan akan berlangsung pada hari tersebut. Awalnya tidak terlalu banyak orang yang tahu tentang duel. Namun hanya dalam waktu kurang dari dua jam setelah matahari terbit, kabar tersebut tersebar cepat layaknya hembusan angin.
Meski seharusnya hasil dari duel tidak akan langsung mempengaruhi bentuk pemerintahan kota yang ada sekarang, namun orang-orang mulai bicara bahwa itu adalah penentuan masa depan tempat mereka tinggal.
Tidak penting lagi siapa yang menyebarkan rumor tersebut pertama kali, namun duel dengan jelas dijadikan sebagai titik balik untuk perubahan Rockfield. Digunakan sebagai penegak kepentingan dari kedua kubu yang berseteru.
Kabar duel tersebut secara intensif tersebar sejak kemarin, lebih tepatnya ketika Oma Stein mulai berangkat ke Kantor Pusat Administrasi untuk mengajak para pejabat lama ke pihaknya. Kepala Keluarga Stein tersebut meminta mereka menyebarkan rumor kepada masyarakat, dengan tujuan untuk meningkatkan dampak setelah duel berlangsung nanti.
Layaknya efek domino, rumor duel dijadikan sebuah penentuan pun dengan cepat tersebar luas. Baik mereka yang bekerja di Kantor Pusat Administrasi, Barak, ataupun kantor-kantor lain di kota, setiap pejabat dalam ranah pemerintahan Rockfield mendengar hal tersebut. Lalu, dengan cepat hal tersebut sampai ke telinga masyarakat.
Tidak bisa menarik kembali apa yang telah diucapkan, sang Prajurit Elite pada akhirnya membuat keputusan duel menjadi nyata. Menjadikannya sebagai penentuan, supaya bisa membungkam para pejabat yang masih tidak terima dengan visi yang dimilikinya untuk Teritorial Rockfield.
Prajurit Elite dengan tegas mengajukan beberapa syarat vital, lalu mempertaruhkan semuanya dalam hal tersebut. Ia benar-benar menjadikan hasil duel yang ada nanti sebagai penentuan, konklusi dari semua permasalahan yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Pukul sepuluh siang, itulah waktu duel yang Jonatan sampaikan kepada Kepala Keluarga Stein kemarin. Bertempat di lapangan latihan barak, duel yang menjadi penentu kedua kubu akan berlangsung.
Meski tinggal beberapa jam lagi sebelum duel berlangsung, Jonatan masih belum mendengar siapa yang akan dibawa oleh Odo Luke sebagai lawan. Bahkan, Oma Stein yang sempat memprovokasi sang Prajurit Elite belum sekalipun melihat orang tersebut.
Dalam momen tersebut, setiap kegiatan administrasi dihentikan sementara. Tingkat keamanan menurun, lalu hampir semua orang dari pemerintahan datang ke lapangan barak untuk menyaksikan pertarungan tersebut. Dengan niat rasa penasaran dan berharap, mereka ingin tahu bagaimana permasalahan yang mendera kota selama beberapa bulan terakhir berakhir.
Lapangan telah disiapkan untuk duel, beberapa kursi diletakkan pada sudut untuk para saksi yang akan melihat penentuan berlangsung. Dari semua orang penting di Rockfield, mereka yang menjadi juri hanyalah tiga orang saja dan dipilih secara adil oleh kedua kubu.
Dari kubu Pejabat Baru, Ruina Trytalin dipilih sebagai perwakilan juri. Meski usianya masih sangat muda jika dibandingkan orang-orang yang ada di kalangan pejabat, anak kedua dari Keluarga Trytalin tersebut telah mendapatkan kepercayaan tinggi dari kubu Pejabat Baru. Berkat nama baiknya sejak berada di Ibukota dan hasil dari kontribusi selama di Rockfield.
Sebab itulah, perempuan rambut pirang ikal tersebut diberikan wewenang langsung oleh sang Prajurit Elite untuk melaksanakan tugas tersebut. Mewakili orang-orang yang lebih tua dari dirinya.
Dari perwakilan Pejabat Lama, Wakil Walikota mengajukan diri sebagai juri dari duel tersebut. Menggantikan sang Walikota, Fritz Irtaz yang juga baru saja pulih dengan tegas menduduki tugas tersebut. Untuk memastikan bahwa penentuan bisa berjalan dengan adil, tanpa adanya sabotase ataupun hal-hal yang bisa mencoreng nama baik kedua kubu.
Untuk pihak netral yang dipilih dalam duel tersebut, kedua kubu menunjuk sang Imam Kota dari Pihak Religi sebagai penengah yang akan menentukan hasil. Sebagai pengawas sekaligus penilai yang memastikan duel benar-benar berjalan secara adil, tanpa kecurangan dan hasil bisa diterima oleh kedua kubu.
Magdala Soream, itulah nama sang Imam Kota. Sosok yang dikenal juga sebagai Tetua Kota yang telah bertugas sebagai penyatu Pihak Religi Rockfield sejak lama, bahkan sebelum Oma Stein menduduki posisi Walikota. Sosok sepuh dari golongan puritan, dihormati juga oleh orang-orang dari kalangan pemerintahan.
Terlihat dari paras Magdala Soream sudahlah sangat tua, bahkan usianya lebih tua satu dekade lebih dari Oma Stein. Kulit pria sepuh itu sudah sangat keriput, selalu berjalan sembari membawa tongkat, tubuh bungkuk, dan rambut sepanjang bahu telah sepenuhnya memutih karena umur.
Dengan jubah Vestimentum berwarna dominan merah, pria tua tersebut duduk di antara Fritz Irtaz dan Ruina Trytalin. Meski usianya sudah sangat dua jika dibandingkan semua orang di tempat tersebut, sang Imam Kota benar-benar dibuat menunggu.
Sebagai juri yang paling muda di antara mereka, duduk Ruina Trytalin melipat kedua tangan dan memasang mimik wajah kesal. Sekitar setengah jam sebelum waktu duel yang ditentukan, lawan sang Prajurit Elite belum kunjung menampakkan batang hidung. Seakan-akan kubu Pejabat Lama ingin meremehkan momen penentuan yang telah diputuskan.
__ADS_1
“Kenapa lama sekali?! Bukankah sudah sesuai etika untuk datang paling tidak 30 menit sebelum acara berlangsung?!”
Keluhan tersebut membuat Fritz Irtaz melirik tajam. Tidak terlalu memedulikan ucapan yang terdengar sedikit angkuh tersebut, Kepala Keluarga Irtaz sedikit menghela napas dan menoleh ke belakang tempat para pejabat-pejabat penting duduk.
Sang Walikota dan anak-anaknya, beberapa orang dari kubu Pejabat Baru, serta beberapa Pendeta dari Pihak Religi. Mereka semua duduk secara melebar di belakang para juri, berada pada tempat di mana bisa melihat lapangan duel dengan jelas.
“Tuan Oma, apa benar beliau sudah menyiapkan orangnya? Kenapa sampai sekarang masih belum datang?” tanya Fritz Irtaz cemas.
Kepala Keluarga Stein memberikan senyum tipis. Seakan telah sepenuhnya percaya dengan Odo Luke, pria tua itu menjawab, “Tenang saja, lakukan saja tugas yang telah Anda ambil dan nilai dengan jelas duel yang akan berlangsung.”
Mendengar pembicaraan mereka, Ruina seketika memasang wajah meremehkan. “Huh! Dasar orang-orang tua bebal, bicara terus sepuas kalian! Memangnya siapa di kota ini yang bisa mengalahkan Tuan Jonatan?” benak perempuan rambut ikal tersebut.
Berbeda dengan mereka semua yang terlihat sangat memikirkan hasil dari duel nanti, Imam Kota hanya memperlihatkan wajah tenang. Tatapan lurus ke arah lapangan, lalu dalam benak harapan memenuhi pria sepuh tersebut.
Setelah kemarin mendengar kabar tentang duel yang akan berlangsung dan diminta untuk menjadi salah satu juri, pria tua itu juga mendapatkan pemberitahuan dari Rosaria tentang kedatangan Odo Luke.
Meski Odo sendiri telah meminta Rosaria untuk merahasiakan identitas tersebut selama mungkin, sang Pendeta Wanita melanggar hal itu. Pendeta Wanita mengambil risiko, lalu menyampaikannya kepada Magdala Soream demi memastikan kemenangan.
Rosaria memang percaya kepada Putra Tunggal Keluarga Luke, namun ia sama sekali tidak percaya dengan Ferytan. Karena itulah, kemarin malam ia tanpa pikir panjang segera menyampaikan hal tersebut. Tepat setelah tahu bahwa Imam Kota dipilih oleh kedua kubu sebagai juri, Pendeta Wanita dengan gamblang menjelaskan beberapa hal yang telah dirinya lakukan bersama Odo Luke selama beberapa hari terakhir.
Layaknya orang-orang puritan berstatus tinggi pada umumnya, Magdala tentu saja ingin bertemu dengan Odo Luke. Individu yang disebut sebagai Utusan, itulah bagaimana Putra Tunggal Keluarga Luke dikenal dalam kalangan Pihak Religi.
Untuk orang yang mendalami jalan pengabdian demi mencapai kebenaran dunia, pria sepuh itu merasa bahwa dengan bertemu dengan Odo bisa membawa pencerahan dalam hidupnya. Karena itulah, daripada duel yang bersifat duniawi, dirinya lebih tidak sabar untuk melihat secara langsung pemuda yang lahir dari rahim Penyihir Cahaya.
Selama waktu menunggu yang berlangsung, orang-orang pun semakin ramai dan tidak sabar untuk menyaksikan momen penentuan tersebut. Penduduk sipil yang mendengar kabar datang berkumpul, bahkan para pedagang ikut menunjukkan ketertarikan meski mereka cenderung pasif selama permasalahan kota berlangsung.
Tepat sekitar sepuluh menit sebelum waktu duel, sekeliling lapangan telah dipenuhi oleh ratusan penonton. Bahkan pada bangunan-bangunan di sekitar lapangan barak, para pejabat administrasi pun ikut menonton dari balik jendela. Meninggalkan pekerjaan mereka sejenak dan begitu penasaran dengan duel yang bahkan belum dimulai.
Tepat di tengah lapangan, Jonatan Quilta duduk pada kursi lipat dari bahan kayu dan kain. Merasa telah menunggu terlalu lama, Prajurit Elite yang mengenakan zirah lengkap tersebut melepas helm dan memperlihatkan mimik wajah kesal. Merasa dipermainkan karena harus menunggu selama hampir setengah jam.
Meski udara tidak panas karena kabut yang menutupi dan udara terasa lembap, namun tetap saja gerah hati dirasakan sang Kepala Prajurit. Pria berbalut zirah biru navy tersebut segera berdiri dengan tegas, lalu menatap ke arah tempat para juri dan penonton penting di pinggiran lapangan.
“Kenapa lawan saya masih belum datang juga?! Apa kalian sedang mempermainkan kami semua, Tuan Oma?!”
Mendengar ungkapan kekesalan tersebut dengan jelas, beberapa orang dari kubu Pejabat Lama tertawa kecil. Membicarakan hal buruk tentang Walikota, tanpa berani mengatakannya secara langsung.
Itu membuat Oma Stein gerah. Sebagai Walikota dan Kepala Keluarga Stein, pria tua yang beru saja sembuh dari penyakit tersebut segera bangun. Pria yang sebagian rambutnya telah menguban itu berjalan ke depan dengan dibantu tongkat, lalu menatap balik ke arah sang Prajurit Elite.
“Saya tidak mempermainkan Anda!” Oma menegakkan posisi tubuh di pinggiran lapangan. Menunjuk lurus ke depan, pria tua itu dengan lantang menegaskan, “Bukankah Anda bilang duel akan dimulai pukul sepuluh?! Ini masih beberapa menit lagi dan seharusnya belum terlambat, lantas mengapa Anda marah hanya karena sudah menunggu lebih awal?!”
“Saya tidak marah! Hanya saja, seharusnya ada etika untuk orang yang menantang datang lebih awal⸻!”
__ADS_1
Sebelum kalimat Jonatan selesai bicara, hawa keberadaan mengerikan tiba-tiba terasa. Layaknya udara dingin yang merembas masuk ke kulit melalui pakaian yang basah, itu dengan kuat mendekap seperti pelukan kematian.
Sang Prajurit Elite seketika terdiam, membeku di tempat untuk sesaat tanpa bisa segera menoleh untuk memastikan sumber hawa keberadaan mengerikan tersebut.
Tidak hanya Jonatan, hampir semua orang di tempat sekitar lapangan merasakannya dengan jelas. Aura membunuh yang samar-samar terasa, intimidasi yang terpancar dari sosok yang bahkan belum mereka lihat. Semua itu membuat jiwa seakan tersentak kencang, lalu kesadaran seakan ditarik keluar dari raga.
Satu titik, setiap orang yang berada di tempat tersebut perlahan melihat ke arah satu titik. Pada salah satu sudut lapangan, secara alamiah para penonton perlahan menyingkir dan membiarkan sang penantang memasuki tempat tersebut.
Pemuda rambut hitam, mengenakan celana hitam dan kemeja putih rangkap rompi merah. Sebagai sumber dari aura mengerikan tersebut, ia dengan santai berjalan di lapangan latihan dan menatap remeh sang Prajurit Elite.
Bersama seorang pria tua yang mengikuti di belakang, Putra Tunggal Keluarga Luke semakin kuat memancarkan aura membunuh dan membuat beberapa penonton di pinggir lapangan sampai lemas. Kaki mereka tidak kuat lagi berdiri, lalu terjatuh dengan tubuh gemetar seakan-akan dipaksa melihat ilusi mengerikan yang tercipta dari intimidasi pemuda itu.
Untuk para juri dan penonton penting, mereka juga terkena dampak tersebut. Oma hampir jatuh karena tidak kuat berdiri lagi, lalu mereka yang duduk di kursi pun menggigil di tempat. Satu-satunya orang yang tidak terpengaruh intimidasi tersebut hanyalah sang Imam Kota, Magdala Soream.
Bahkan, Jonatan yang menerima itu secara langsung sampai melangkah mundur setelah berbalik ke arah Odo Luke. Tubuh gemetar dan mulut tidak bisa mengeluarkan suara, bulu kuduk sepenuhnya berdiri di hadapan hawa keberadaan pemuda itu. Meski seharusnya ia memperlihatkan wibawa dan tetap menjaga kehormatan, namun keringat dingin dengan jelas bercucuran dari wajah.
“Anda tak perlu takut sampai seperti itu, Tuan Jonatan ….” Odo dengan kencang berteluk tangan satu kali, melenyapkan aura intimidasi mematikan dan benar-benar berhenti menekan semua orang. Memasukkan kedua tangan ke saku celana, dengan nada meremehkan ia kembali berkata, “Kali ini saya bukanlah lawan Anda, melainkan pria tua di sebelah saya ini.”
Ferytan Loi melangkah ke sebelah Odo, sedikit membungkuk untuk memberikan rasa hormat kepada lawannya. Tidak seperti sang Prajurit Elite, pria tua tersebut hanya mengenakan zirah kulit dan gauntlet layaknya seorang pemburu. Untuk senjata utama, pada sabuk yang melingkar di pinggan terdapat pedang sabel yang terbuat dari besi khusus Kota Pegunungan.
Meski penampilan itu seharusnya pantas untuk diremehkan, namun Jonatan hanya terdiam dan tidak bisa berkomentar. Bukan hanya karena intimidasi yang sebelumnya Odo Luke berikan sebagai salam pembuka, namun karena memang proporsi tubuh pria tua di sebelah Putra Tunggal Keluarga Luke itu tampak sangat kuat.
Cara berdiri, menatap, dan aura tajam yang samar-samar terpancar, semua itu sudah cukup untuk memberitahu Jonatan bahwa pria itu tidaklah lemah meski penampilannya sangat sederhana.
“Saya senang mendengar itu. Jujur, saya juga tidak ingin melawan Anda lagi.” Jonatan menatap kecut. Sembari mengenakan kembali helm zirah, sang Kepala Prajurit dengan gamblang bertanya, “Apakah perwakilan Anda perlu saya pinjamkan perlengkapan tambahan? Untuk duel penentuan seperti ini, saya ingin bertanding secara adil supaya tidak ada komplain setelah hasil keluar.”
“Tenang saja!” Odo mengangkat kedua tangan dari saku dan berteluk tangan satu kali. Tanpa memedulikan suara-suara di sekitar lapangan yang mulai membicarakannya, pemuda rambut hitam itu berkata, “Sebelum itu, saya harus meminta maaf karena datang telat. Saya harus mencari perlengkapan yang sesuai untuk Pak Ferytan. Kemarin, pedang dan zirah miliknya rusak selama berlatih. Tolong maafkan saya dalam hal tersebut.”
“Itu tidak masalah, lagi pula ini tidak terlalu telat.” Apa yang diucapkan Prajurit Elite itu berbeda dari sebelumnya. Menghela napas dan berusaha untuk tidak terbawa emosi, pria berselimut zirah tersebut bertanya, “Untuk peraturan duel, apakah perlu kita dipertegas lagi?”
“Tidak usah, Anda sudah membicarakannya dengan Tuan Fritz atau Tuan Oma, bukan?” Odo mulai mengambil langkah mendekati Jonatan. Berdiri di sebelahnya dan menepuk pundak Prajurit Elite tersebut, ia dengan nada halus menyampaikan, “Tolong sampaikan saja peraturannya kepada pria tua yang akan Tuan lawan, lalu mulai duel sesuai prosedur yang telah Anda siapkan. Asal Tuan Jonatan tahu, saya juga tidak terlalu berharap memenangkan duel ini.”
“Ba-Baiklah ….”
Setelah menyampaikan hal tersebut, tanpa pikir panjang Putra Tunggal Keluarga Luke berjalan menuju tempat para juri dan penonton penting. Setiap penonton, entah itu dari kalangan prajurit, pejabat, atau bahkan penduduk sipil dan pedagang, mereka semua yang tidak mengenali pemuda itu menatap dengan penuh rasa bingung. Bertanya-tanya siapa sebenarnya sosok dengan aura mengerikan tersebut.
\==============
Catatan Kecil :
Fakta 044: Lima dunia utama di fakta sebelumnya sebenarnya diurutkan bukan berdasarkan tingkat informasi, namun kasta yang ditentukan oleh Dewi Penata Ulang. Urutan dunia yang benar dari yang paling tinggi tingkat dimensinya adalah :
Surga dan Arsh
Kayangan
Dunia Astral (Tidak normal)
Dunia Nyata
Alam Kematian / Neraka / Naraka. (Tidak normal)
Semakin tinggi posisi dunia, maka akan semakin cepat cepat lajur waktu yang ada. Waktu di sini adalah waktu persepsi. Berhubungan dengan relativitas. Berhubungan juga dengan penjelasan dimensi di fakta sebelumnya.
__ADS_1