Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[112] Flamboyan Akhir Zaman I - Solemnly Swear (Part 04)


__ADS_3

{Rockfield, beberapa hari yang lalu}


Pada siang hari yang sama setelah Odo Luke berangkat menuju Dunia Astral, pasukan Kekaisaran mulai menunjukkan pergerakan mereka. Mengerahkan regu pengintai berjumlah 50 prajurit lebih, lalu mendirikan perkemahan pada beberapa titik untuk mempersiapkan pengepungan.


Pada hari itu juga, rute perdagangan dan transportasi Rockfield diputus oleh pihak Kekaisaran. Blokade dibuat untuk menghalau bantuan, sepenuhnya mengisolasi Kota Pegunungan dari wilayah teritorial lain.


Namun, Kekaisaran tidak bisa langsung naik dan menyerang Rockfield begitu saja. Adaptasi ketinggian perlu dilakukan terlebih dahulu, paling tidak selama satu atau dua hari sebelum melakukan serangan penuh.


Secara keseluruhan, jumlah pasukan Kekaisaran mencapai lebih dari 7.000 personel. Terdiri dari delapan batalion, dibagi menjadi dua resimen yang dipimpin oleh masing-masing Jenderal. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menaklukkan sebuah kota benteng.


Fai Fengying sang Xuan Wu, sosok pemimpin yang dijuluki oleh banyak orang sebagai Pendekar Hitam dari Utara. Merupakan salah satu Jenderal Empat Arah, bertugas sebagai komandan pasukan dan memegang empat batalion di garis depan.


Pada lini belakang, empat batalion sisanya dipimpin oleh Jenderal Yue Ying sang Zhu Que. Sosok penyihir yang dikenal juga sebagai Burung Vermilion dari Selatan, pengguna Sihir Talisman dan Roh terbaik di Kekaisaran.


Menghindari pengepungan massal, mereka membagi seluruh pasukan menjadi puluhan peleton yang terdiri dari 40-50 prajurit. Menghindari mobilitas pasukan secara massal, lalu bergerak secara bertahap menuju Kota Rockfield yang berada di dataran tinggi.


Karena itulah, hampir seluruh rute perdagangan dan transportasi Rockfield telah dikuasi Kekaisaran. Pos pengawasan dibangun menggunakan kayu dari hutan, menciptakan benteng di tengah jalan untuk mengisolasi Kota Pegunungan.


Selain bisa mencegah pengepungan dari dua sisi, taktik tersebut juga dapat dimanfaatkan dalam rencana pengepungan. Mengisolasi kota sampai mereka kehabisan persediaan makanan, lalu memicu kericuan dari dalam supaya rentan diserang.


Rencana seperti itu memang memakan banyak waktu, bisa sampai berminggu-minggu atau bahkan setengah musim. Mengingat langkah Raja Gaiel yang telah mengerahkan pasukan dan akan menyerang lini belakang Kekaisaran, rencana dan taktik itu memang sangat berisiko.


Jika waktu dan situasi tidak kunjung memihak, mereka dapat berakhir digempur dari dua arah sekaligus dan disapu bersih. Mengalami kekalahan total, berakhir melemahkan kekuatan militer Kekaisaran tanpa hasil yang sepadan.


Tetapi, sebagai Jenderal yang mengemban misi dan kehendak Kaisar, Fai Fengying tidak bisa menyerah dan mundur begitu saja.


Ia harus berani mengambil risiko tersebut, memerintahkan pasukannya untuk mati, dan mengambil keputusan kejam untuk memenangkan peperangan.


Pada perkemahan yang berfungsi sebagai markas lini depan, pasukan Kekaisaran membuka gerbang kayu dan memasukkan rombongan pedagang yang hendak lewat. Jenderal Fai bukanlah orang jahat maupun serakah. Karena itulah, ia tidak merampas persediaan dari para pedagang dan hanya memeriksa mereka.


Setelah melewati pemeriksaan identitas, para pedagang itu dibiarkan melintas tanpa biaya keamanan ataupun diperas. Dibiarkan lewat begitu saja, bahkan ada yang diantar sampai keluar dari zona blokade yang didirikan Kekaisaran.


Tetapi⸻


Jika mereka menemukan mata-mata, Jenderal Fai memperbolehkan pasukannya untuk melakukan eksekusi di tempat. Tanpa kompromi, langsung di hadapan rombongan yang datang dan hendak melintas. Digunakan sebagai contoh nyata, supaya mereka tidak macam-macam atau berani menjual informasi setelah melintasi blokade kekaisaran.


Selama hampir satu minggu, mereka menjalankan taktik tersebut dengan hati-hati. Bergerak naik secara bertahap, lalu membangun pos pengawasan di sepanjang rute perdagangan. Mengulur waktu selama mungkin, menyiapkan pasukan dan menunggu momen yang tepat untuk menyerbu.


Untuk mempercepat prosesnya, Jenderal Fai mengirim beberapa peleton untuk mengintai dan melakukan sabotase. Mendesak, mengancam, dan meneror rakyat Rockfield supaya mereka membuat kekacauan di dalam kota.


Menculik anak atau istri warga setempat, lalu menyuruh ayah atau suami mereka untuk menuntut Walikota supaya menyerah atau mundur. Memberikan omong kosong, berusaha melemahkan kota dari dalam supaya dapat jatuh dalam sekali serang.


Hanya dalam dua hari setelah rencana itu dijalankan, mosi tidak percaya mulai diajukan oleh perwakilan penduduk. Dari penduduk sipil sampai golongan pedagang, mereka mulai menyatukan suara untuk menyerah daripada jatuh bersama pemerintah Rockfield.


Di sisi lain, pihak pemerintah tidak ingin mereka pergi mengungsi dan membawa cadangan makanan yang telah disiapkan. Jika itu sampai terjadi, Kota Pegunungan takkan siap menghadapi pengepungan jangka panjang.


.


.


.


.


Markas lini depan Kekaisaran, Peleton Xuan Wu. Sebagai pasukan yang dipimpin langsung oleh Jenderal Fai, mereka terlihat lebih disiplin dan garang dari pasukan biasa.


Baik itu saat sedang berpatroli maupun beristirahat di tenda, mereka selalu membawa senjata berupa tombak dan pedang. Mengenakan zirah musim yang terbuat dari logam campuran dan kulit binatang, didominasi warna merah gelap dan cokelat.


Belasan tenda berdiri secara melintang, memblokir jalan utama dengan gerbang kayu sebagai pintu masuk. Memeriksa pedagang yang nekat mengungsi dari Rockfield, lalu mengeksekusi penyusup maupun antek-antek Felixia yang hendak mengirimkan surat laporan.


Di tengah cuaca dingin dan berkabut, Jenderal Fai berjalan memeriksa kesiapan pasukannya. Membawa gulungan berisi daftar logistik, ia tersenyum ramah layaknya seorang pemimpin yang karismatik.


“Jika ada makanan atau air, tawar saja! Kita membutuhkan itu!” ujar Jenderal Fai sembari menghampiri pasukannya di gerbang. Melihat isi gerobak yang dibawa rombongan pedagang, ia hanya memilih gerobak makanan dan minuman untuk ditawar. Sembari menunjuk penjaga gerbang, pria rambut hitam tersebut menegaskan, “Kita butuh persediaan pangan untuk pengepungan! Jangan sia-siakan keberanian mereka! Beli saja!”


Saat Jenderal sibuk membantu proses penawaran dan pemeriksaan, tiba-tiba seorang perempuan menghampirinya. Ditepuk dari belakang, pria rambut hitam itu lekas menoleh dengan wajah terkejut dan langsung menjauh.


“Saya lihat, Anda sangat menyukai roti dan bir,” ujar perempuan itu rambut hitam pekat tersebut. Ia memiliki perawakan sedikit kurus, berwajah tirus, dan kulit putih cerah yang mulus. Tubuhnya dibungkus Hanfu tebal berwarna ungu pudar dengan sulaman bunga violet, tidak mengenakan pernak-pernik dan tampil sederhana. “Sampai-sampai Anda membeli seluruh isi gerobak itu dari pedagang,” lanjutnya dengan ada menggoda.


“Nona An Lian?” Merasa sedikit terganggu, Jenderal Fai langsung memasang senyum palsu dan berusaha untuk tetap sopan. “Sebaiknya Nona istirahat di tenda. Besok rombongan kalian akan berangkat, bukan? Untuk memenuhi panggilan Kaisar,” ujar pria itu dengan nada menekan.


“Tentu saja, saya akan istirahat jika perlu. Kami sangat berterima kasih atas kebaikan yang Tuan Fai berikan, namun ….” Perempuan dari Keluarga Qibo itu tersenyum tipis, lalu membuka telapak tangan kanannya ke depan. Sembari menatap lurus dirinya dengan lugas langsung meminta, “Saya ingin balasan lebih. Sebagai ganti informasi yang telah saya berikan kepada Anda, kami ingin ikut serta dalam penyerbuan ini.”


“Kami? Berarti …” Jenderal Fai melihat ke arah pengawal An Lian, seorang pria Demi-human tipe serigala bernama Huang Xian. Tidak merasa keberatan dengan itu, ia segera mengangguk sembari memastikan, “Pendekar tersebut? Hanya dia?”

__ADS_1


“Juga dua penyihir yang berdiri di belakangnya,” ujar An Lian sembari berbalik. Memasang senyum lega, perempuan rambut hitam pekat tersebut memperkenalkan, “Canna Miteres dan Opium Matha, mereka adalah penyihir dari Miquator. Saya jamin kemampuan mereka pasti akan berguna untuk Anda.”


Saat nama mereka dipanggil, Canna dan Opium segera keluar dari belakang Huang. Berjalan menghadap Jenderal Fai, lalu memberi hormat dengan membungkuk pelan.


Mereka berusaha menyembunyikan ekspresi tidak senang dan tertekan, lalu menutup mulut rapat-rapat karena tidak ingin menyapa sang Jenderal.


“Oh, akhirnya ada juga orang-orang terpelajar di sini!” Sang Jenderal langsung tertarik. Ia segera merentangkan tangan dan menghampiri, lalu menatap mereka dengan antusias sembari berkata, “Saya suka penyihir dari Kota Miquator! Mereka cerdas dan disiplin, sangat memukau dan cantik!”


“Selera Anda cukup unik, Tuan Fai ….” An Lian sedikit menyindir, berusaha untuk melindungi mereka supaya tidak diincar oleh sang Jenderal.  “Apakah itu karena pengaruh Nona Yue?” tanyanya untuk mengalihkan perhatian.


“Anda salah paham,” ujar Jenderal Fai sembari berbalik. Merasa sedikit kesal, ia perlahan menajamkan tatapan dan berkata, “Asal Nona tahu, saya bukan orang mesum. Saya hanya memandang mereka sebagai aset milter, bukan lawan jenis.”


An Lian terdiam, tidak ingin berkomentar karena tahu itu lebih buruk daripada perkataan cabul. “Kamu bahkan tidak memandang mereka sebagai orang, ya?” benaknya sembari tersenyum kecut.


“Jadi, apakah Anda ingin menyerahkan mereka kepada saya?” Jenderal Fai langsung menyudutkan lawan bicaranya. Sembari mengacungkan telunjuk, pria rambut hitam itu perlahan tersenyum tipis sembari berkata, “Ini kesempatan untuk Anda! Jika mereka membantu saya dalam penaklukan ini, kejayaan Keluarga Qibo pasti akan dipulihkan Yang Mulai Kaisar.”


“Saya setuju dengan saran Anda.” An Lian tersenyum ringan. Sembari mengacungkan telunjuk, perempuan rambut hitam pekat tersebut dengan penuh percaya diri langsung menyampaikan, “Namun, sayangnya saya punya pemikiran sendiri.”


“Oh, Nona sudah punya rencana?” Jenderal Fai sedikit terkejut, sekilas menoleh ke arah Canna dan Opium dengan tatapan curiga. Kembali menghadap lawan bicaranya, pria berbalut zirah ringan tersebut segera meminta, “Bolehkah saya tahu rencana Anda?”


“Tentu saja, kenapa tidak?” An Lian mengangguk. Menurunkan telunjuk dan menyatukan jemari di depan perut, perempuan rambut hitam itu segera menjelaskan, “Berkat informasi yang saya berikan, Anda berhasil menyulut konflik internal di kota Rockfield dan melemahkan mereka dari dalam. Dalam beberapa hari lagi, kekacauan pasti akan terjadi dan pasukan Anda bisa menjatuhkan kota itu dalam sekali serang.”


“Ya, itu benar. Saya sangat terbantu dengan informasi itu.” Jenderal Fai mengangguk. Memegang dagu dan memperlihatkan ekspresi serius, ia mulai melebarkan senyum tipis sembari berkata, “Siapa sangka Baron Mylta dan Putra Tunggal Keluarga Luke akan ada di sana. Ini sungguh memudahkan kami …!”


“Memudahkan? Bukankah itu malah menambah risiko Anda? Jika ada bangsawan lain yang terjebak, pasukan Anda akan semakin rawan diserang dari belakang, bukan?” An Lian berusaha mencari tahu tujuan Jenderal Fai, mengorek informasi dengan mengajukan pertanyaan yang masuk akal. Sedikit menaikkan tatapan dan tersenyum, perempuan rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Tidak hanya pasukan Raja Gaiel, sekarang ada kemungkinan pasukan Mylta ikut menyerang karena Walikota mereka berada di sana.”


“Tidak, tidak, tidak! Kaisar memulai perang ini bukan untuk menaklukkan kota!” Sang Jenderal langsung meluruskan kesalahpahaman. Mengentakkan pangkal tombak ke tanah, pria dengan mata hijau giok tersebut segera meluruskan, “Maksud saya, saat utara sedang sibuk mengurus gempuran Moloia, mengapa kita harus mengambil risiko seperti ini hanya untuk sebuah kota?”


“Anda benar sekali. Jika kita kalah⸻!” Perkataan An Lian terhenti. Kembali mempertimbangkan semua risiko yang ada, ia segera mengoreksi dan lanjut berkata, “Tidak! Bahkan jika kita kehilangan setengah pasukan saja, kapabilitas Kekaisaran akan dipertanyakan. Dalam skenario terburuk, perang sipil yang baru saja ditekan bisa pecah kembali ….”


“Anda cerdas, itu tepat sekali.” Jenderal Fai tersenyum. Ia berjalan menuju pos pemeriksaan dan menyandarkan tombak ke dinding kayu, lalu menaruh gulungan ke atas meja. Kembali menghadap lawan bicaranya, pria rambut hitam tersebut langsung menunjuk sembari menegaskan, “Kota itu tidak sebanding dengan risiko yang ada!”


“Lantas, apa yang Anda incar?” tanya An Lian dengan bingung. Sedikit memiringkan kepala, perempuan itu memberikan tatapan heran sembari kembali menebak, “Kalau bukan kota, berarti bangsawan yang ada di sana? Yang Mulia Kaisar ingin menangkap mereka untuk dijadikan bahan negosiasi?”


“Itu benar, namun sayangnya kurang tepat!” Jenderal Fai berjalan mendekat. Berdiri di hadapan perempuan yang jauh lebih pendek darinya, pria rambut hitam tersebut lekas mengintimidasi sembari menyampaikan, “Perang ini terjadi hanya karena Kaisar menginginkan seseorang. Jujur saja, agresi militer yang kami lakukan hanyalah pengalihan.”


“Siapa … dia?”


Pertanyaan itu membuat Jenderal Fai tersenyum, tahu bahwa An Lian sedang berusaha mengorek informasi lebih dalam. Tidak ingin memberikannya secara percuma, pria itu lekas memalingkan pandangan dan mengelak. “Coba tebak, Nona An! Kira-kira siapa yang kami incar?” ujarnya dengan senyum licik.


“Odo Luke,” sambung Canna.  Ia berjalan mendekat, lalu menatap Jenderal Fai dengan sorot mata tajam dan ekspresi kesal. Terlihat gelak, tidak ramah, dan bermulut tajam. “Dia yang kalian incar, bukan?” tanyanya untuk memastikan.


“Kenapa Nona sampai berpikir demikian? Alasannya?” Jenderal Fai tidak langsung menjawabnya. Berniat menggoda dan mencari tahu tujuan penyihir dari Miquator itu, ia sekilas merentangkan kedua tangan sembari berkata, “Dia hanya anak kecil! Meski banyak kabar luar biasa tentang Odo Luke, dia tetaplah seorang bocah!”


“Dia adalah calon raja berikutnya, tunangan Putri Felixia, dan Putra Tunggal Keluarga Luke. Hanya dengan menangkap Odo, pihak Kekaisaran dapat memberikan ancaman nyata kepada seluruh rakyat Felixia,” bantah Canna. Daripada menggunakan perasaan, ia membalas dengan logika yang kuat. Mengangkat tangan dan menunjuk lawan bicara, penyihir rambut putih uban tersebut menegaskan, “Bangsawan tanpa keturunan sangatlah lemah, mereka akan lenyap dari hierarki saat Kepala Keluarga terbunuh. Kekaisaran seharusnya memahami hal tersebut, kalian pernah merasakannya sendiri! Tepat setelah Perang Besar berakhir ….”


“Benar sekali, orang berpendidikan tinggi memang berbeda …!” Jenderal Fai langsung bertepuk tangan, memuji dengan penuh rasa tulus. Sepenuhnya menaruh rasa tertarik, pria itu perlahan membungkuk dan mendekatkan wajah.  “Itulah yang Kaisar incar dalam penyerbuan ini,” ujarnya dengan nada menekan. Berhenti bertepuk tangan, ia lekas memegang pundak Canna seakan ingin memperingatkan.


“Benarkah? Apa hanya itu?” Canna tidak memedulikan peringatan itu. Menyingkirkan tangan Jenderal Fai dari pundak, penyihir rambut putih uban itu langsung menatap tajam sembari menegaskan, “Tidak mungkin Kaisar hanya mengincar wilayah! Dia bukanlah makhluk seperti kalian, atau bahkan kami ….”


“Apa yang Nona Canna ingin sampaikan?” Jenderal Fai langsung paham, penyihir di hadapannya bukanlah orang biasa. Mengingat ada beberapa golongan pelajar Miquator yang menjunjung tinggi doktrin Penyihir Agung, ia segera memasang gestur tubuh ramah. Ingin menggali informasi, pria rambut hitam tersebut dengan nada hormat lekas meminta, “Katakan saja, saya akan mendengarkan pendapat Anda.”


“Ini tentang keinginan Kaisar ….” Canna tidak menyadari niat asli Jenderal Fai. Hanya ingin mengutarakan kekesalan, penyihir rambut putih uban tersebut balik bertanya, “Apa benar beliau ingin membunuh Putra Tunggal Keluarga Luke? Bukankah Anda diperintahkan untuk menangkapnya?”


“Perintah yang diberikan Kaisar memang menangkapnya.” Jenderal Fai melangkah mundur, segera berbalik dan melipat kedau tangannya ke belakang. Sekilas melirik, ia memberikan tatapan tajam sembari menyampaikan, “Namun …, jika itu tidak memungkinkan, kami terpaksa harus membunuhnya.”


“Kenapa?” Canna tidak berhenti. Meski tahu sedang diancam, ia tetap ingin memastikan dan lanjut bertanya, “Anda sungguh ingin melanggar perintah Kaisar?”


“Kami pantas mendapatkan kejayaan yang sepadan. Tepatnya, saya tidak bisa pulang dengan tangan kosong ….” Jenderal Fai kembali menghadap lawan bicara. Sejenak menahan napas, ia perlahan melebarkan senyum tipis dan berkata, “Lagi pula, kematian Odo Luke akan sangat menguntungkan Kekaisaran.”


“Menguntungkan?” Canna terlihat semakin kesal.


“Dengan kematian anak itu, Kerajaan Felixia akan melemah karena Luke kehilangan satu-satunya keturunan mereka ….” Meski ditatap tajam, Jenderal Fai tidak berhenti dan terus memprovokasi. Ia mengangkat tangan kanan ke dagu, lalu melebarkan senyum licik sembari lanjut menjelaskan, “Jika kami bisa memanfaatkannya dengan baik, itu dapat membuka potensi aliansi yang kuat. Memaksa Felixia untuk membantu kami, terutama dalam perang melawan Moloia yang sedang gencar memperluas wilayah.”


“Mengejutkan ….” Sejenak terpejam, Canna langsung memperlihatkan ekspresi kecewa. Memalingkan wajah sayu dan perlahan kembali membuka kelopak mata, ia dengan suara lirih menyindir, “Anda sangat serakah, ya.”


“Gairah ini adalah ambisi pria, bukan keserakahan yang membakar jiwa!” Jenderal Fai mengatakan itu dengan bangga. Meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, ia sejenak menahan napas sembari menambahkan, “Setiap pria pasti pernah memilikinya.”


“Ambisi, ya?” Canna tersenyum kecut. Membandingkan itu dengan seseorang, ia hanya bisa menatap kecewa seraya mengingatkan, “Semoga saja engkau tidak terbakar olehnya.”


“Saya akan berhati-hati ….” Jenderal Fai sedikit membungkuk, memberi rasa hormat kepada sang penyihir. Kembali berdiri tegak, ia segera menatap ke arah An Lian sembari berakta, “Anda punya teman yang luar biasa.”


“Terima kasih ….” Perempuan rambut hitam pekat itu mengangguk, tidak terlalu paham maksud sang Jenderal. Tidak ingin membuang kesempatan, ia segera berjalan mendekat sembari mengingatkan, “Bagaimana dengan permintaan saya tadi, Tuan Fai? Apakah itu … bisa Anda penuhi?”

__ADS_1


“Ah, tentang bergabung dalam penyerbuan ini?” Jenderal Fai kembali mempertimbangkan. Merasa itu tidak terlalu buruk, ia segera menatap lawan bicara sembari menjawab, “Tentu saja, kalian boleh ikut. Namun, saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian selama perang. Terutama ….”


“Apa ada masalah lain?” tanya An Lian dengan bingung. Ia merasa ada yang janggal dengan ekspresi Jenderal Fai.


Daripada curiga ataupun mencemaskan sesuatu, pria itu terlihat tidak nyaman karena rasa bersalah. Sedikit mengerutkan kening, lalu memalingkan pandangan seperti gelisah.


“Saya sudah berjanji dengan Kakek Quon. Selain itu, beliau juga sempat berpesan ….” Jenderal Fai menatap bingung. Sejenak menghela napas panjang, ia dengan nada cemas lanjut menjelaskan, “Jika zaman peperangan kembali, beliau tidak ingin anak dan cucunya mati di medan perang lagi.”


“Kakek Quon?” An Lian sedikit terkejut.


“Ya, beliau adalah mentor saya.” Jenderal Fai mengangguk dengan bangga. Menatap lawan bicaranya dengan cemas, pria rambut hitam tersebut lanjut berkata, “Banyak seni bertarung yang saya pelajari dari beliau. Karena itulah, saya ingin memenuhi janji⸻”


“Tidak perlu cemas!” potong An Lian dengan tegas. Sedikit membusungkan dada, ia lekas tersenyum lebar sembari berkata, “Asal Anda tahu, saya bukanlah perempuan lemah! Kehidupan pedagang tidaklah mudah! Apalagi berdagang di luar wilayah Kekaisaran seperti yang saya lakukan!”


“Hah, benar juga. Saya lupa kalau Nona An Lian adalah seorang pedagang.” Jenderal Fai mengangguk sekali. Memutuskan sesuatu dalam benak, pria rambut hitam tersebut segera mengulurkan tangan kanannya sembari mengajak, “Mari kita pergi ke tenda! Sepertinya rencana Nona akan sangat panjang jika dibahas, kita tidak boleh sakit sebelum penyerbuan dimulai.”


“Terima kasih, Tuan Fai.”


An Lian meraih tangan sang Jenderal, lalu berjalan bersamanya menuju tenda utama untuk melanjutkan pembicaraan. Diikuti oleh Huang Xian, pengawal pribadi perempuan itu.


Tidak mengikuti, Canna dan Opium berjalan pergi ke arah yang berbeda. Menuju tenda yang dipinjamkan kepada mereka berdua untuk istirahat.


“Apa ini baik-baik saja?” Opium angkat bicara. Berjalan di sebelah seniornya, penyihir rambut cokelat kemerahan itu meragukan, “Kalau dilanjutkan, bisa-bisa Tuan Odo akan ….”


“Asal kau tahu, Tuan Odo bisa kabur dari kota kapan saja!” tegas Canna seraya mempercepat langkah kaki. Sampai di depan tenda, penyihir rambut putih uban tersebut langsung menunjuk juniornya sembari berkata, “Apa kamu lupa, Opium? Dia bisa menggunakan Puddle milik Matius! Hanya saja …!”


“Dia punya alasan kuat untuk menetap di Rockfield ….”


Opium memahami alasannya. Mengingat tujuan Odo datang ke sana, penyihir rambut cokelat kemerahan itu merasa semakin cemas dan gelisah. Paham bahwa pemuda tersebut tidak akan kabur begitu saja, apalagi menelantarkan Kota Pegunungan.


“Itu benar,” ujar Canna.


“Ini gawat ….” Opium segera mengangkat wajah dan menatap pucat, lalu dengan suara lirih perempuan itu pun menambahkan, “Tuan Argo dan Nona Lisia juga ikut terjebak di Rockfield! Karena mereka juga, Tuan Odo punya alasan kuat untuk ikut melawan Kekaisaran.”


“Tepat! Sebab itulah, sebisa mungkin kita harus memperlambat penyerbuan!” Canna berhenti menunjuk. Segera masuk ke dalam tenda, penyihir rambut putih uban itu kembali menegaskan, “Hanya itu yang bisa kita lakukan …!”


“Tapi, senior ….” Opium ikut masuk ke dalam tenda. Sebelum membulatkan keputusan, penyihir rambut cokelat kemerahan itu kembali membujuk, “Bukankah Tuan Odo berpesan supaya kita tidak ikut campur masalah ini? Dia meminta kita langsung pulang ke Miquator!”


“Kamu pikir! Saya bisa pulang setelah tahu tujuan Jenderal itu?!”


Canna langsung membentak, menatap juniornya dengan tatapan kesal. Suara penyihir itu membuat beberapa prajurit yang sedang beristirahat di tenda terkejut, mulai menatap mereka dengan rasa penasaran dan curiga.


“Be-Benar juga. Kalau hanya ditangkap, kita masih punya kesempatan untuk membebaskan Odo. Namun⸻!” Opium tersentak saat merasakan tatapan tajam dari banyak arah. Ia langsung cemas, lalu melihat sekeliling dan takut menjadi incaran para prajurit. Meraih tangan Canna, ia segera mengajaknya ke sudut tenda sembari berbisik, “Senior, tolong jangan teriak-teriak begitu. Bisa gawat kalau mereka tahu …!”


“Kita tidak boleh membiarkannya terbunuh ….” Canna tidak peduli dengan tatapan mereka. Meski berdiri di antara prajurit Kekaisaran, penyihir rambut putih uban itu dengan lantang menegaskan, “Odo pasti sedang menyiapkan sesuatu! Kita harus mengulur waktu selama mungkin! Atau setidaknya kita harus meminimalisir korban!”


“Duh, senior …! Sudah saya bilang jangan teriak-teriak …!” Opium semakin memucat. Keringat dingin bercucuran, tubuh pun gemetar karena tatapan para prajurit yang semakin tajam. “Aduh, bagaimana ini? Mereka sangat menakutkan. Mereka semua adalah veteran perang,” ujarnya dengan gemetar.


“Hemp!” Canna mengendus kasar. Sembari melirik tajam ke arah prajurit, penyihir rambut putih uban tersebut langsung berkata, “Mereka hanyalah manusia.”


“Ya, kita juga manusia!” Canna menyipitkan tatapan. Sembari berusaha menenangkan rekannya, penyihir rambut cokelat kemerahan itu bergumam, “Senior terlalu mengikuti doktrin Penyihir Agung, itu aneh lho!”


“Kebenaran selalu dianggap aneh oleh orang awam,” balas Canna.


“Eh?” Mendengar itu, Opium semakin kesal dan berkata, “Ini bukan waktunya untuk bertingkah sok keren, senior!”


ↈↈↈ


\===========================


Open Commission :


Terima kasih atas seluruh dukungan nya, para Penikmat.


Terima kasih juga atas komentar, vote, dan share kalian.


Berhubung sudah masuk bulan Ramadhan, Author membuka Commission “Ilustrasi”.



Untuk sample bisa dilihat pada link di bawah ; https://www.pixiv.net/en/users/49296444/illustrations


Pembayaran bisa lewat OVO dan Gopay.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2