
Mayat bergelimpangan memenuhi parit, beberapa Prajurit Kekaisaran yang selamat dan sekarat berkumpul di dekat Gerbang Utama. Tubuh mereka dipenuhi luka tebasan dan tusukan pedang, sebagian mulai kejang-kejang karena pendarahan.
Belasan catapult telah rubuh, pagar pasak yang dipasang di sekitar tempat itu pun hancur berantakan. Tampak seperti baru diterpa badai dahsyat.
Puluhan kayu runcing berserakan pada permukaan tanah, sebagian menancap pada mayat-mayat yang tergeletak di depan gerbang. Menunjam dada, perut, kaki, dan bahkan kepala mereka dengan brutal.
“Dia iblis …!”
“Monster!”
“Apa-apaan orang itu ….”
“Aku tidak ingin mati …! Maafkan aku! Aku tidak ingin mati …! Ampuni aku …!”
Prajurit yang masih tersisa tidak lagi melihat pemuda itu sebagai manusia. Mereka sepenuhnya ketakutan, tidak berani mengangkat senjata dan hanya terdiam gemetar.
Ada yang meringkuk di dekat dinding gerbang, menggaruk-garuk kepala dan mulai mengunyah kayu. Tampak gila karena trauma parah.
Prajurit Kekaisaran yang masih berdiri ikut bertingkah aneh. Tanpa sebab yang jelas mereka tiba-tiba menunjuk pemuda itu, kemudian berteriak kencang dan menyerapah. Bahkan ada yang mulai menggigit jarinya sendiri sampai putus, lalu dikunyah sampai hancur dan diludahkan ke tanah.
Melihat situasi itu, satu Peleton Pasukan Kekaisaran yang baru saja memasuki kota langsung kebingungan. Mereka mendatangi penanggungjawab pasukan untuk ditanyai, namun tidak bisa melakukan apa-apa karena orang itu juga sudah gila.
“Sadis amat! Aku sampai kasihan …” Odo melangkah mundur, segera berbalik dan bertanya, “Hey! Canna! Kalian baik-baik saja, ‘kan⸻?!” Perkataannya terhenti, napas tertahan dan kecemasan berubah menjadi rasa bersalah.
Layaknya musuh, Canna dan seluruh orang yang semestinya memihak Odo malah memberikan tatapan takut. Mereka bersikap dingin, menjaga jarak dan benar-benar waspada. Seolah-olah menganggap pemuda itu adalah monster beringas.
“Kamu siapa?!” Canna memberanikan diri. Melangkah maju, penyihir rambut putih uban tersebut keluar dari sihir barikade yang diciptakan rekannya. Ia mengarahkan tongkat sihir ke depan, bersiap melancarkan serangan sembari lanjut memastikan, “Kamu apakan Tuan Odo?! Cepat keluar dari tubuhnya!!”
“Ah, serius?” Odo tersenyum tipis, memperlihatkan mimik wajah pasrah dan menahan napas sejenak. Berbalik dari mereka, ia mengangkat tangan kanannya seraya menunjuk langit. Sedikit menundukkan kepala, kemudian mengentakkan kaki kiri sembari bergumam, “Lain kali jangan berlebihan, Lir!”
Odo menurunkan tangannya dengan cepat, mengakses Alam Jiwa dan memulihkan hierarki kekuasaan. Menyingkirkan Lir dari struktur jiwa, kemudian mengurungnya dalam Inti Sihir. Diikat dengan sirkuit sihir merah dan sihir khusus Seliari.
Meski itu sangat berisiko, ia tetap memilih untuk menahan entitas abstrak itu daripada membiarkannya begitu saja. Memulihkan posisi Naga Hitam dalam Alam Jiwa, menyusun ulang proteksi eksistensi kepribadian supaya tidak mudah disusupi. Menutup beberapa koneksi luar, membatasi sirkulasi Mana dan aktivasi sihir.
Selama proses itu berlangsung, susunan Rune bermunculan di sekitar tubuh Odo. Menyatu dengan lingkaran sihir, membentuk formula mistis yang berpusat pada kepalanya.
Layaknya cadar transparan, aura putih tipis mulai turun dari atas kepala dan menutupi wajah pemuda itu. Formula mistis menyempit, mencekik lehernya dengan kencang sampai wajah membiru. Itu mulai berubah bentuk menjadi sebuah choker keemasan, kemudian meresap masuk ke dalam permukaan kulit dan meninggalkan bekas merah.
“A-Apa yang kamu lakukan?! Sihir apa tadi?!”
Canna semakin curiga, tatapannya seketika berubah murka. Ia segera mengaktifkan struktur sihir yang telah disiapkan, kemudian langsung menyerang dengan sihir api.
Tanpa rapalan mantra, sebuah lingkaran sihir tercipta di ujung tongkatnya dan langsung menembakkan padatan energi. Memiliki suhu tinggi, mirip seperti bola api berwarna jingga.
Odo tidak menghindar. Meski proses penyesuaian hierarki kekuasaan telah selesai, ia memilih untuk diam dan hanya menoleh. Melempar senyum tipis dan membiarkan serangan itu mengenainya.
Suara hantaman terdengar keras, padatan energi itu meledak dan menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat. Saat tabir asap menghilang, Odo masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikit pun. Tidak terluka, bahkan pakaiannya masih utuh meski terkena ledakan secara langsung.
“Sudah puas?” Odo sekilas memiringkan kepala. Menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut segera berbalik ke arah Gerbang Utama. Menatap prajurit musuh yang tersisa, kemudian menunjuk mereka sembari berkata, “Seharusnya kau menyerang mereka! Bukan diriku ….”
“Ma-Maaf! I-Ini terlalu membingungkan ….” Canna tersentak, ia segera menurunkan tongkat sihirnya sembari lanjut berkata, “Saya hanya masih belum percaya! Apa yang tadi Tuan Odo perbuat, itu sungguh mengejutkan⸻!”
“Benar sekali!!” Di tengah suasana canggung tersebut, Jenderal Fai berjalan santai melewati Gerbang Utama dan memasuki kota. Pria paruh baya itu membawa tombak baja dengan tangan kanan, mengenakan zirah ringan dengan pedang Dao tersarung di pinggang. “Kalian seharusnya menyerang musuh, bukan kawan!” tambahnya seraya menunjuk lurus.
“Akhirnya kau muncul juga …!” Odo memberikan tatapan datar, sedikit mengerutkan kening karena kesal. Sembari merentangkan kedua tangan, pemuda rambut hitam tersebut tanpa ragu langsung menawarkan, “Akhiri ini! Bawa aku dan pergilah! Kalian menyerang kota ini karena mengincar diriku, bukan?!”
“Situasinya berubah!” Jenderal Fai menyela, berhenti menunjuk dan menghela napas resah. Sekilas menggertakkan gigi, pria rambut hitam kucir itu mengentakkan tombaknya sekali. Seraya memasang kuda-kuda dan mengaktifkan Inti Sihir, ia dengan suara lantang menegaskan, “Anda sudah keterlaluan! Saya tidak bisa pergi hanya dengan pencapaian itu!”
“Benarkah?” Odo tersenyum kecut, merasa muak dengan alasan seperti itu. Menahan napas sejenak, ia dengan nada ramah kembali membujuk, “Kaisar pasti puas kalau kau membawa ku sebagai hadiah ….”
“Konyol!” Jenderal Fai menolak tawaran itu. Tidak menurunkan tekanan sihir, ia dengan suara lantang menegaskan, “Setelah apa yang Anda lakukan, tidak mungkin diriku mengangguk dan pergi begitu saja! Sebagai pemimpin pasukan ini, diriku punya tanggung jawab atas nyawa mereka!”
“Oh, maksudmu mereka …?” Odo berpaling, melihat ke arah parit tempat mayat-mayat Prajurit Kekaisaran bergelimpangan mengenaskan. Sembari melirik, pemuda rambut hitam itu lanjut memastikan, “Bukankah ini impas? Kita sedang berperang, tentu saja akan ada korban pada kedua kubu. Kalian juga membantai penduduk sipil, ‘kan?”
“Impas apanya! Anda membantai pasukan saya!” Jenderal Fai menyalurkan Mana pada senjatanya, menyelimuti bilah tombak dengan aura hijau giok. Mengaktifkan sihir racun, pria rambut hitam itu sekali lagi menegaskan, “Meskipun perang ini dimulai oleh kami dan Kaisar menginginkan Anda, itu tetap tidak sepadan!”
“Terus …?” Odo mengangguk sekali, sedikit meremehkan dan menganggap pembicaraan itu tidak lagi penting. Memungut pedang yang tergeletak di dekat mayat, ia sejenak menghela napas sembari lanjut bertanya, “Apa yang kau inginkan? Nyawa ku?”
“Tidak butuh!” Jenderal Fai bersiap melemparkan tombaknya, meningkatkan kekuatan fisik dengan aliran sihir dan memantapkan pijakan. “Serahkan saja Rockfield! Biarkan kami menguasai tempat ini!” tegas pria itu seraya melebarkan kaki kiri ke belakang. Membidik lawan, mengincar kepala Odo dan berniat menghabisinya dengan sekali serang.
“Jangan dengarkan dia, Tuan Odo!” teriak Ferytan Loi. Pria paruh baya itu dipapah oleh Baldwin, berjalan keluar dari bangunan yang terbakar di dekat barak. Tubuhnya dipenuhi luka parah, satu tangan patah, dan mengalami pendarahan internal. Tidak gentar ataupun menunjukkan sikap lemah, ia dengan lantang lekas memperingatkan, “Pria itu punya banyak trik licik dan sihir yang aneh!”
“Trik licik?” Odo menoleh, sedikit mengerutkan kening dan menatap heran. Meski pandangannya dipenuhi kepulan asap, ia bisa dengan jelas melihat kondisi Ferytan yang terluka parah. “Sebentar! Eh?! Kamu baik-baik saja, ‘kan?!” tanyanya mencemaskan.
“Kedua tangan pria itu seharusnya sudah saya potong!” Ferytan lanjut memperingatkan. Ia menggertakkan gigi dengan murka, lalu menunjuk ke arah musuhnya sembari berkata, “Dia juga sudah aku tusuk dan tebas berkali-kali! Bahkan sempat terlempar dari atas tembok gerbang! Namun, dia malah kembali dengan tubuh utuh seperti itu⸻! Ugh!”
__ADS_1
Ferytan memuntahkan darah, luka pada organ dalamnya semakin parah karena berteriak. Penglihatan pria itu mulai memudar, kemudian menghilang dan kembali pingsan.
“Pak! Pak Ferytan!” ujar Baldwin dengan cemas. Ia segera membaringkan pria paruh baya itu ke jalan, memeriksa nadi dan detak jantungnya. “Syukurlah, dia hanya pingsan,” ujar pemuda rambut cokelat cepak itu seraya mengelus dada.
“Kamu lengah!” Tidak membuang kesempatan yang ada, Jenderal Fai langsung melemparkan tombaknya ke arah Odo. Memanfaatkan momen itu untuk menghabisi Putra Tunggal Keluarga Luke. “Mati! Monster terkutuk!” teriaknya lantang.
“Canna! Sembuhkan dia!”
Odo sekilas melirik tajam. Tidak menghindar, ia lekas mengaktifkan Hariq Iliah dan mengayunkan telunjuk kirinya. Tombak yang melesat seketika membentur dinding tak kasat mata, terpental ke udara dan berputar.
Susunan sihir pada tombak baja seketika aktif, mengeluarkan kobaran api korosif dan kabut hitam beracun. Menyebar di udara dalam ledakan tanpa suara, perlahan turun dan mulai menyelimuti tempat Odo berdiri.
“Engkau harus mati di sini! Untuk kejayaan Kaisar!”
Jenderal Fai menghunuskan pedangnya, menyalurkan Mana dan mengaktifkan sihir racun. Aura hijau giok perlahan menyelimuti bilah, berkobar pudar layaknya api dari garam barium. Tanpa membuang waktu, pria rambut hitam itu menerjang masuk ke dalam kepulan asap beracun.
“Sabar! Aku sedang bicara dengannya!”
Odo segera memantapkan kuda-kuda, lalu perlahan mengangkat pedang pungutan ke depan sembari melempar senyum kaku.
Dari balik kepulan asap yang mulai menghalangi pandangan, Odo mulai menyelimuti bilah senjatanya dengan Mana keemasan. Ia perlahan menurunkan posisi tubuh, kemudian menarik pedangnya ke belakang dan bersiap menusuk.
“Jangan meremehkan diriku, dasar aib!”
Jenderal Fai segera berhenti, memantapkan kuda-kuda dengan kaki kanan sebagai tumpuan utama. Sedikit merendahkan posisi tubuh, pria rambut hitam itu langsung melancarkan tebasan mendatar.
“Tak perlu tergesa-gesa!”
Odo menonaktifkan dinding tak kasat mata. Sedikit mengubah posisi kaki, ia langsung menggunakan teknik Langkah Dewa dan melesat. Menghilang dari penglihatan lawan, lalu kembali muncul tepat di belakangnya.
“A⸻!” Jenderal Fai menebas sebuah mirat, gejala optik yang muncul karena gerakan yang sangat cepat. Segera berbalik, pria rambut hitam itu memutar posisi pedang dan lanjut menyerang. “Lawan diriku!” teriaknya seraya melancarkan tebasan diagonal.
“Tenang saja, aku tidak kabur!”
Odo menghindari tebasan itu dengan mudah, merunduk dan langsung menusuk musuhnya. Tepat pada bagian perut atas, menembus zirah ringan sampai ke punggung.
“Kau lambat, Odo Luke! Pria bernama Ferytan jauh lebih cepat darimu!” Jenderal Fai tersenyum lebar, ia sengaja membiarkan tubuhnya tertusuk untuk membatasi pergerakan Odo. Tanpa ragu, pria rambut hitam itu mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menebas. “Mati! Dasar aib Pedang Kerajaan!” ujarnya dengan lantang.
“Aib?” Odo menggunakan teknik pemadatan Mana, menciptakan zirah tangan pada lengan kiri dan menepis tebasan itu. Percikan api tercipta saat benturan terjadi, mengeluarkan lengking dan kilatan cahaya. “Bicara apa kau ini!” bentak Odo seraya menarik pedangnya, lalu menendang tubuh Jenderal Fai sampai terpental. Pedang yang tertancap pun lemas.
“Jangan kabur!”
Odo menutup satu lubang hidungnya, lalu langsung menghisap kepulan asap beracun dengan sekali tarik napas. Membersihkan jarak pandang, membuat lawannya tidak bisa lagi bersembunyi ataupun mengulur waktu.
Meletakkan telapak tangan kiri ke dada, Putra Tunggal Keluarga Luke mulai memusatkan panas pada dada. Menjadikan asap beracun sebagai bahan bakar, lalu menyalakan padatan gas itu dengan api internal layaknya seekor naga.
“Eh?”
Jenderal Fai terkejut, ia bahkan tidak sempat menyembuhkan lukanya. Melihat dada lawannya mulai mengembang, pria rambut hitam itu langsung menancapkan pedang ke tanah. Segera membentuk susunan mistis dengan kombinasi Mudra, kemudian mengaktifkan sihir barikade untuk berlindung.
“HA⸻AAH!!!”
Odo menyemburkan napas api secara terpusat, sepenuhnya menggunakan asap hitam sebagai bahan bakarnya. Meski tidak sekuat Naga Hitam, suhu semburan itu mencapai titik didih besi. Dapat dengan mudah menghanguskan tubuh manusia.
“Dasar monster⸻!”
Sihir barikade Jenderal Fai perlahan meleleh. Saat hancur, ledakan seketika tercipta karena benturan tekanan udara. Gelombang kejut membuatnya terpental jauh, kemudian menggelinding dan jatuh ke dalam parit.
“Uwah~!” Odo menghentikan napas api, sedikit bersendawa dan segera menyeka wajahnya yang cemong. Mengerutkan kening dan meludah, ia dengan nada kesal lanjut bergumam, “Getir! Rasanya seperti kulit jeruk dicampur cabai rawit ….”
“Ini tidak berguna,” ujar pemuda itu seraya membuang senjata pungutan, kemudian menghilangkan zirah tangan yang terbentuk dari padatan Mana.
Sembari mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi, Odo mengaktifkan Hariq Iliah dan memperkuat afiliasinya dengan Naga Hitam. “Cepat bangun! Seliari!” teriaknya lantang.
Dari dalam tumpukan mayat dan puing-puing pagar pasak, Pedang Hitam dengan pancaran aura merah gelap mulai melayang keluar. Orang-orang di dekat barak langsung terkejut, segera menjauh sembari memperlihatkan ekspresi waspada.
“Kepingan Naga Hitam? Ayahanda ….” Canna membisu. Tidak bergerak dari tempat selama pertempuran berlangsung, penyihir rambut putih uban itu sekilas melirik ke arah Odo sembari bergumam, “Engkau telah menundukkan Pembawa Malapetaka itu?”
“Canna! Jangan diam saja!” Odo mengayunkan telunjuk, memperkuat koneksi dan menarik Pedang Hitam mendekat. Layaknya anjing penurut, senjata sihir itu langsung melesat dan kembali ke tangan pemuda itu. “Sembuhkan mereka! Terutama Ferytan!” tambahnya seraya menurunkan pedang, sekilas melirik ke arah parit dan berdecak kesal.
“Diriku belum kalah! Wahai Keturunan Luke! Jenderal Fai bangkit dari parit, memanjat permukaan landai dengan tubuh penuh luka. Berlutut lemas di hadapan musuhnya, pria rambut hitam itu dengan suara terputus-putus berkata, “Engkau memang sangat kuat! Namun! Diriku! Tidak! Akan! Mundur! Sebelum! Kau! Mati!”
“Aku tahu, kau tak perlu memaksakan diri ….” Odo menyela dengan jengkel. Tanpa memutus koneksi, ia menancapkan pedang hitam ke permukaan tanah. Sejenak menghela napas panjang, kemudian menatap datar sembari lanjut berkata, “Aku akan membunuhmu sekarang juga! Jangan cemas!”
“Beraninya ….! Lagi-lagi kau meremehkan diriku!”
__ADS_1
Jenderal Fai mengentakkan kaki dengan murka. Segera membentuk Mudra Harmony, ia langsung menyusun ulang struktur sihir internal dan memulai ritual. Menggunakan darahnya sendiri sebagai katalis, kemudian menciptakan lingkaran sihir pada tempat berpijak. Membentuk sebuah altar pemanggilan dalam skala kecil.
“Hah?” Odo sedikit terkejut. Segera memusatkan Mana pada pergelangan tangan kanan, ia memasang kuda-kuda dan bersiap menarik Pedang Hitam. “Kau seorang Pengguna Roh?” tanyanya memastikan.
“Pengguna?” Mempercepat proses pemanggilan, Jenderal Fai mengubah bentuk Mudra Harmony menjadi Penciptaan dan Dimensi. Menyesuaikan aliran Ether, lalu melanjutkan ritual dengan membentuk Mudra Energi sebagai penyempurnaan ritual. “Diriku adalah pengikut! Hanya seorang subjek,” jawab pria itu seraya berdiri tegak, kemudian menjentikkan jari dan memanggil Makhluk Astral ke hadapannya.
Petir keluar dari tubuhnya, melesat ke langit dan menyambar udara. Menciptakan kepulan awan hitam yang melayang beberapa belas meter dari permukaan tanah, kemudian memunculkan makhluk aneh berbentuk seperti kura-kura hitam.
“Xuan Wu?!”
Odo langsung mencabut Pedang Hitam, meloncat mundur dan menjaga jarak. Memasuki kondisi rileks ekstrem, ia segera memantapkan pijakan dan memasang sikap tempur.
Sedikit menurunkan posisi tubuh dan melebarkan kaki kanan, pemuda itu mengerutkan kening sembari bergumam, “Apa Kaisar sudah gila?! Mengirim dua Pengguna Roh Agung seperti ini …!”
“Oh, wahai Keturunan Luke! Diriku bukanlah pengguna …!”
Jenderal Fai mengepalkan tangan kanannya ke depan dada, memejamkan mata dan memulai restorasi wujud. Luka pada sekujur tubuh pria itu mulai sembuh, mengeluarkan kepulan asap tipis dan menutup.
Pada saat bersamaan, Makhluk Astral yang muncul di udara perlahan turun. Melayang di hadapan Jenderal Fai, kemudian membuka matanya dan menatap tajam.
Meski termasuk kategori Roh Agung, sosok astral itu tidak berbentuk humanoid. Ia memiliki wujud seperti kura-kura hitam, badan sebesar kuda perang, dan memiliki cangkang hitam di punggungnya.
Saat menapak pada permukaan tanah dan bergerak, ekor berbentuk kepala ular terbangun. Sesekali menjulurkan lidahnya dan berdesis, mengeluarkan asap hitam beracun dari mulut. Memiliki tanduk tunggal di antara mata, serta sisik hitam layaknya cangkang.
“Kau ini …?” Odo samar-samar menyadari hal tersebut, kecemasannya pun berubah menjadi kenyataan. Sejenak menghela napas, ia dengan nada resah bergumam, “Apa itu sepadan? Memangnya apa yang kau dapat dari ini?”
“Oh, engkau sudah menyadarinya?”
Saat Jenderal Fai berbicara, kura-kura hitam yang ada di hadapannya ikut mengeluarkan suara. Mengatakan kalimat yang serupa, ekspresi pun selaras. Seakan-akan keduanya memiliki ikatan yang sangat kuat.
“Gila!” Odo berhenti memasang kuda-kuda, lalu memperlihatkan ekspresi mengasihani sembari berkata, “Kau terlalu banyak mengalami penyimpangan!”
“Itu benar, ini merupakan penyimpangan!” Jenderal Fai naik ke atas kura-kura hitam. Duduk sembari menyilangkan kaki, lalu menunjuk lawan bicara sembari berkata, “Diriku lah Genbu itu sendiri! Sosok yang melambangkan arah utara dan musim dingin, mewakili umur panjang dan bencana! Penyu Hitam yang Abadi!”
“Penyu?” Odo sedikit memiringkan kepala, lalu mengerutkan kening dan lanjut memastikan, “Kau penyu, toh?!”
“Diriku penyu! Lihat ke bawah! Itu sirip!” Jenderal Fai merasa tersinggung. Sejenak menghela napas, ia dengan nada resah menambahkan, “Kebanyakan orang salah mengira karena diriku sering muncul di darat!”
“Ah, benar juga! Itu sirip!” Odo mengangguk, sekilas memalingkan wajah dan menghela napas. “Penyu itu umurnya lebih pendek dari kura-kura, loh! Kenapa kau bisa hidup selama itu?” gumamnya seraya melirik sinis.
“Eh⸻! Bukan itu yang diriku maksud! Sialan!” Jenderal Fai baru sadar telah dipermainkan olehnya. Segera bangun dan berdiri di atas tempurung, ia dengan suara lantang balik bertanya, “Ada hal yang lebih mengejutkan dari itu, ‘kan?! Kenapa malah menanyakan hal yang tidak penting?!”
“Ya, mau bagaimana lagi ….” Odo memperlihatkan ekspresi tidak peduli. Samar-samar sudah menyadari itu dari awal, ia sekilas memalingkan wajah sembari bergumam, “Aroma dan pancaran kekuatan sihirmu sangat aneh, mirip seperti Makhluk Astral. Amis dan bau lumpur.”
“Engkau …. mempermainkan diriku?!”
Jenderal Fai menggertakkan gigi dengan kesal. Ia mempercepat proses penggabungan eksistensi, menyerap kekuatan Genbu dan memasukkannya ke dalam tubuh manusia. Sisik seperti cangkang mulai tubuh pada pergelangan tangan dan wajah, memancarkan aura hijau layaknya batu giok.
“Tidak, tidak! Aku juga sedang ada kendala!” Odo tidak memperlihatkan ekspresi cemas. Meski melihat musuhnya bertambah kuat, ia malah merentangkan kedua tangannya dengan santai sembari berkata, “Kalau bisa, diriku tidak ingin membunuh kalian! Kaisar Leben! Pemimpin kalian, dia bukanlah musuh ku!”
“Omong kosong! Setelah semua ini …, engkau ingin berdamai?!”
Jenderal Fai mengentakkan kakinya. Kehabisan kesabaran, sosok Roh Agung itu segera mengaktifkan Jubah Astral. Memanifestasikan sebuah zirah ringan yang terdiri dari baju halkah dan pelindung tangan.
Kepulan asap hitam mulai menyelimuti tubuh sang Jenderal, memadat dan berubah menjadi sebuah jubah hitam dengan pelindung bahu. Pada saat bersamaan, kain merah muncul di sekitar pinggang dan langsung melingkarinya. Berubah menjadi sabuk dengan ornamen tambahan seperti cincin giok dan botol labu.
“Jadi, mau damai?” Odo tidak memedulikan transformasi itu. Sedikit meremehkan, ia sekilas mengangkat pundak sembari lanjut berkata, “Masih ada kesempatan, loh!”
“Hah! Mana mungkin diriku menyetujui tawaran itu! Sebelum nyawa⸻!”
“Baiklah, aku paham!” Odo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Ia tidak mengaktifkan Inti Sihir ataupun menyiapkan mantra penyerangan. Sembari mengayunkan senjatanya, pemuda rambut hitam itu dengan suara lantang berteriak, “Ifrit, habisi dia!”
“Apa?! Ifrit?!” Jenderal Fai merasakan frekuensi sihir yang tidak asing, segera mendongak dan terkejut. Mengaktifkan sihir barikade, sosok Roh Agung itu lekas membentuk Mudra satu tangan sembari berteriak, “Kenapa kau memihak dia?!”
Dari langit, pilar cahaya langsung menyambar tubuh Jenderal Fai bersama wujud Genbu miliknya. Suhu panas menciptakan gelombang kejut yang sangat kuat, menerbangkan lusinan senjata dan potongan pagar kayu yang tergeletak di sekitar. Meluluhlantakkan tempat itu dalam sekejap.
\=========================================================
Catatan :
See You Next Time!
Kesan nya nanggung? Iya, aku juga merasa begitu.
Oh, iya. Astral Dress aku ganti jadi Jubah Astral saja. Soalnya yang pakai enggak cewek semua, ada Ifrit dan juga si Genbu atau Xuan Wu.
__ADS_1