Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[91] Dekadensi Kota Rockfield VIII – Merasakan (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


Irama langka kaki yang santai, bersenandung kecil sembari menuruni anak tangga. Sesekali menggerakkan kepala ke kanan dan kiri, seperti sedang mendengarkan musik genre pop. Tersenyum lebar di antara kabut yang membatasi jarak pandang, sang pemuda memperlihatkan mimik wajah seakan sedang menikmati sesuatu yang tidak bisa dibagi dengan orang lain.


 


 


Merentangkan kedua tangan ke samping pada jalan yang tidak terlalu ramai, ia pun melompat-lompat kecil sembari menuruni anak tangga. Layaknya anak kecil yang sedang kegirangan, sangat bertolak belakang dengan sifat pemuda itu.


 


 


Berjalan mengikuti, Ferytan hanya bisa memasang wajah cemas dan takut. Merasa ada yang tidak beres dengan Putra Tunggal Keluarga Luke, terutama pada kondisi mental pemuda itu. Meski berusaha untuk tidak menanyakan hal tersebut karena takut menyinggung, pria tua itu pada akhirnya tetap tidak bisa menahan rasa penasaran.


 


 


“Waktu di toko senjata, Anda terlihat sangat serius. Lantas kenapa Anda terlihat senang sekali?”


 


 


“Aku hanya sedang senang saja ….” Pertanyaan yang diterima membuat Odo terhenti setelah meloncati dua anak tangga sekaligus. Berbalik dan melihat sang pria tua, ia dengan nada menekan balik bertanya, “Apa aku sekarang malah terlihat seperti orang sinting?”


 


 


Ferytan mengangguk, meski dalam benak merasa tidak boleh menyinggung pemuda itu. Sembari sedikit memalingkan pandangan dan berdiri pada dua anak tangga dari Odo, pria tua itu pun menjawab, “Anda sangat aneh. Senang sendiri seperti itu, bersenandung aneh, dan meloncat-loncat seperti anak kecil. Terlebih lagi, Anda juga membantu orang seperti saya, dan bahkan membantu Putri Keluarga Stein. Padahal Tuan adalah seorang bangsawan kelas atas, namun mengapa Anda ….”


 


 


“Hmm, aku sadar diri soal itu kok. Tenang saja.” Odo kembali berbalik, menuruni anak tangga dan sembari mengangkat telunjuk menyampaikan, “Mungkin, aku sudah sedikit gila karena menikmati ini, tapi akal sehat ku masih jalan. Karena itu tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan.”


 


 


“Menikmati?” Itu membuat Ferytan kembali memasang wajah bingung, semakin cemas dengan kondisi mental Putra Tunggal Keluarga Luke. Sembari melangkah mengikuti, pria tua itu sekali lagi bertanya, “Menikmati apa memangnya?”


 


 


“Entahlah, aku juga kurang tahu.”


 


 


Odo kembali bersenandung, memperlihatkan kesenangan yang tidak bisa dibagi dengan orang lain. Melihat hal tersebut, apa yang bisa dirasakan Ferytan hanyalah perasaan aneh sampai-sampai ia merinding.


 


 


Sedikit melirik ke belakang, Putra Tunggal Keluarga Luke melempar senyum hangat layaknya seorang kolektor yang telah mendapatkan barang koleksi baru


 


 


Penampilan layaknya seorang ksatria sederhana, mengenakan zirah kulit dan sepatu bot, sabuk dengan pedang satu tangan di pinggang, dan gauntlet pada kedua tangan. Semua hal yang dipakai Ferytan benar-benar selaras dengan selera Odo tentang gambaran ksatria abad pertengahan.


 


 


Hal tersebut memang wajar untuk dikenakan untuk para ksatria, bahkan pemburu juga. Tetapi bagi Odo yang cukup menyukai desain itu, menata orang lain hingga sedemikian rupa memang merupakan sebuah kenikmatan sendiri. Merasa seperti telah membuat sebuah karakter dalam video game.


 


 


Tentu Ferytan tidak bisa memahami hal tersebut. Ia Seketika merinding saat ditatap oleh Odo, merasakan rasa senang pemuda itu yang membuat dirinya sangat tidak nyaman.


 


 


Setelah sampai pada gerbang utama kota, Odo sendiri sempat bercakap-cakap dengan para penjaga di sana. Terutama penjaga gerbang yang sempat mengantarnya saat pertama kali datang ke Kota Pegunungan. Berbincang tentang apa yang telah dilakukan selama di kota, lalu menjelaskan alasan mereka ingin pergi keluar.


 


 


Tentu, sebagian besar yang dikatakan oleh Odo adalah kebohongan. Karena sebelumnya mengaku sebagai pedagang, pemuda itu pun mengumbar kebohongan terkait hal tersebut. Lalu untuk alasan pergi keluar, ia hanya menyampaikan ingin berburu monster-monster lemah untuk mencari penghasilan tambahan. Bersama dengan pemburu yang dirinya sewa.


 


 


Hal tersebut untuk sesaat terdengar aneh, terutama tentang pemburu yang mau disewa saat kondisi di sekitar kota sedang tidak aman. Namun setelah Odo menunjukkan sedikit kemampuan sihir seperti membuat api di atas tangan, para penjaga itu paham bahwa pedagang tersebut bukan orang biasa dan membiarkan mereka pergi. Karena memang dalam peraturan kota tidak ada larangan untuk pedagang memburu monster.


.


.


.


.


Daerah tebing, bukit-bukit batu mengelilingi dengan pepohonan yang tumbuh dengan jarang. Dipenuhi oleh tanah bertekstur keras, tebing curam, dan aroma asri daerah pegunungan. Setelah berjalan lebih dari satu jam dari kota, Odo dan Ferytan sampai di tujuan.


 


 


Tempat tersebut merupakan tebing dari salah satu lembah pada Pegunungan Perbatasan. Terletak tidak terlalu jauh dari kota, namun tidak termasuk dalam rute perdagangan karena terkenal memiliki jalan yang cukup terjal dan jalan tebing yang tidak bisa dilalui alat transportasi.


 


 


Pada tempat dengan pemandangan yang didominasi bebatuan besar, Odo sejenak berhenti dan menatap ke bawah jurang tempat lembah terbentang. Tidak seperti sepanjang tebing yang telah dilalui, pada lembah di bawah sana tampak hijau pekat. Dipenuhi oleh berbagai jenis pohon yang biasa tubuh pada dataran tinggi seperti pinus dan jati.


 


 


Berdiri di ujung tebing dan melirik ke arah pria tua di sebelah, Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan menyeringai kecil dan bertanya, “Dari senjata yang dipilih tadi, kau pengguna pedang satu tangan, ‘kan? Jenis pedang Sabel lagi ….”


 


 


“Hmm, gaya pedang yang diajarkan Keluarga Swirea paling cocok dengan pedang bermata satu ini.”


 


 


Ferytan menarik pedang dari sarung, menunjukkan bilah tajam yang sedikit mengkilap. Meski bukan hasil tempa kualitas terbaik, namun bahan yang digunakan pedang tersebut adalah besi khusus yang hanya bisa ditemukan pada Kota Pegunungan.


 


 


Pedang bermata satu, berbentuk sedikit melengkung, dan memiliki pelindung tangan yang pada pegangan, itulah jenis pedang Sabel (Sabre). Dalam penggunaan sendiri selama perang, Sabel sendiri sebenarnya merupakan senjata sekunder untuk pasukan kavaleri. Namun, dalam sejarah ada juga beberapa ksatria yang menggunakan pedang jenis itu sebagai senjata utama.


 


 


Tidak seperti Sabel yang sering dipakai dalam olahraga anggar atau sejenisnya, mata pedang yang dipegang Ferytan tampak tebal dan keras. Mencerminkan senjata yang dikhususkan untuk memotong dan menusuk dalam penggunaannya, berbeda dengan pedang Galdius yang mengutamakan kekuatan otot dan ayunan untuk menebas.


 


 


“Yah, terserah kau mau menggunakan senjata apa saja sih ….” Odo mengambil busur dan panah dari dimensi penyimpanan, salah satu senjata yang sebelumnya sempat ia beli di kota. Sedikit menghela napas dan memasang mimik wajah serius, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Latihan hari ini adalah tentang bertahan hidup, untuk membangkitkan insting bertarung dan kepekaan terhadap ancaman musuh. Dari siang sampai menjelang malam nanti, kau harus turun ke lembah di bawah sana dan bertahan sampai aku bilang cukup.”


 


 


“Hanya itu?”


 


 


“Hmm, hanya itu. Kau tak perlu terlalu masuk ke dalam hutan.”


 


 


Mendengar metode pelatihan tersebut, Ferytan memasang wajah meremehkan. Menghela napas sekali dan sekilas mengangkat kedua sisi pundak, pria tua itu langsung mulai menuruni tebing tanpa bertanya kembali tentang metode yang akan digunakan Odo untuk melatihnya.


 


 


Meski sudah tua, ia dengan mudah menuruni tebing yang cukup curam itu. Sesudah sampai di bawah tebing setinggi 14 meter tersebut, ia dengan nada sedikit sombong baru bertanya, “Lalu setelah ini bagaimana?! Apa perlu saya masuk ke dalam hutan dan memburu monster?!”


 


 


Suara Ferytan tidak terdengar terlalu jelas karena jarak yang ada. Tanpa menunggu kesiapan pria tua di bawah, Putra Tunggal Keluarga Luke tanpa pikir panjang langsung memancarkan aura naga miliknya. Menyebarkannya secara luas, lalu memprovokasi para monster dalam jarak belasan kilometer dari tempatnya berdiri.


 


 


Pada saat bersamaan, Ferytan yang berada di bawah baru menyadarinya, bahwa ia telah meremehkan metode yang akan dipakai Odo Luke. Tubuh seketika menggigil, perlahan menoleh ke dalam hutan dan melihat siluet-siluet monster dalam jumlah yang tidak sedikit bersembunyi di dalam kabut.


 


 


“Apa-apaan ini? Kenapa … mereka sekaligus datang seperti itu⸻?”


 


 


“Kalahkan mereka,” suara Odo menggema di dalam kepala Ferytan. Menggunakan kemampuan Native yang pernah ia saling dari Elulu, pemuda rambut hitam itu memakai Radd Sendangi untuk media komunikasi.


 

__ADS_1


 


Ferytan sesaat terkejut saat mendengar suara Odo menggema di dalam kepala. Sekilas menoleh ke atas tempat pemuda itu berada, pria tua tersebut terperangah karena mengira apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke lakukan itu adalah sihir telepati.


 


 


Namun, seketika Ferytan tidak bisa santai lagi. Setelah mendengar suara para monster dari dalam hutan yang mulai menggila, pria tua tersebut langsung mengangkat pedang ke depan dan memasang kuda-kuda. Raungan melenting, suara seperti erangan menggema, dan langkah kaki dalam jumlah banyak dengan jelas terasa di permukaan tanah berbatu.


 


 


“Bocah itu gila, metode macam apa ini?! Sialan! Apa dia ingin membunuh diriku!!”


 


 


“Aku mendengar itu, Pak Tua.” Odo mengirimkan suara, lalu dengan nada sedikit kesal menjelaskan, “Tenang saja, aku akan membantu dengan panah dari atas sini. Kau kalahkan saja para monster itu. Mereka seharusnya⸻”


 


 


Sebelum Odo selesai memberikan penjelasan, beberapa Goblin langsung keluar dari dalam kabut dan menerjang ke arah Ferytan. Menggunakan senjata primitif seperti gada kayu dan kapak batu, mereka menyerang secara tidak beraturan.


 


 


Ferytan segera menarik kaki kanan ke belakang, merendahkan posisi tubuh dan langsung mengayunkan pedang secara horizontal untuk menebas para monster tersebut. Satu Goblin terpotong menjadi dua dengan mudah. Namun saat dua sampai tiga ekor lain datang, itu cukup membuat Ferytan kewalahan.


 


 


Darah yang melumuri pedang membuat bilah tumpul. Saat ia menebas Goblin ketiga yang datang, pedang yang berlumuran darah terhenti tanpa bisa membelah makhluk kerdil tersebut. Menancap di daging dan tulang, membuat momentum ayunan terhenti sesaat.


 


 


Tidak menunggu Ferytan mencabut pedang dari mayat Goblin tersebut, yang lain datang secara bersamaan. Pria tua itu segera mencabut pedang, lalu langsung menebas Goblin lain yang pertama menyerang.


 


 


Karena bilah semakin berlumuran darah, pedang hanya menebas sampai bagian tulang dan terhenti. Tanpa bisa menghabisi monster kerdil tersebut dalam satu ayunan. Saat masih sekarat, Goblin tersebut mengangkat gada kayu dan hendak memukul Ferytan.


 


 


Sebelum bisa melakukannya, anak panah dari atas tebing melesat dengan akurat dan menusuk kepala makhluk kerdil tersebut. Tidak membuang kesempatan yang ada, Ferytan menendang Goblin untuk menyingkirkannya dari pedang dan meloncat ke belakang untuk menjaga jarak. Sampai punggungnya menyentuh permukaan tebing.


 


 


Sebelum Ferytan menyadarinya, para monster yang mayoritas adalah Goblin telah mengepung. Jumlah mereka mencapai lebih dari 30 ekor, dengan tambahan dua ekor Ogre yang tampak seperti pemimpin. Berusaha mengamati musuh dan memikirkan jalan keluar, Ferytan sadar bahwa pada kawanan monster tersebut ada beberapa yang telah bermutasi.


 


 


Beberapa Goblin ada yang mencapai Tahap Awal Mutasi, dengan bagian tubuh tambahan seperti tulang yang menonjol dari tubuh ataupun organ binatang seperti ekor serta cakar tajam. Para monster mutasi memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari sejenisnya, lalu bertindak layaknya makhluk yang lebih superior dari para Goblin lain dan memberikan perintah.


 


 


Selain itu, salah satu Ogre yang ada di antara mereka juga telah mencapai Tahap Lanjutan. Rajah pada bagian lengan, aura sihir yang terpancar, dan intimidasi kuat yang ada dalam tatapan adalah bukti jelas dari hal tersebut.


 


 


Meski hanya seekor monster, Ogre yang telah mencapai mutasi Tahap Lanjutan tersebut tampak seperti seorang petarung veteran di mata Ferytan. Membuat pria tua itu seketika merinding dan merasa tidak bisa mengalahkannya.


 


 


“Tuan Odo!! A-Apa Anda yakin dengan latihan ini!! Aku pikir ini mustahil⸻!”


 


 


Mendengar suara lantang itu dari atas, Odo kembali mengirimkan suara, “Tenang saja. Tadi kau bisa menebas monster dan tidak takut dengan mayat mereka, jadi aku rasa tidak masalah.”


 


 


“Mereka bukan manusia! Aku bisa menebas mereka tanpa ragu!! Tapi, jumlahnya!”


 


 


Keluhan itu dipahami Odo dengan jelas. Bertepuk tangan satu kali, pemuda rambut hitam tersebut mengatur pancaran aura naga secara terarah dan mengintimidasi para monster yang berada di bawah. Mereka semua seketika gemetar, mengambil langkah menjauh dan menjaga jarak dari Ferytan.


 


 


 


 


Melihat hal tersebut, tanpa diberitahukan Ferytan bisa memahaminya. Pelatihan dengan tingkat kesulitan bertahap, melawan jumlah monster dari dua ekor dan terus bertambah untuk menyesuaikan dengan tingkat kesulitan yang terus naik.


 


 


Mengambil kesimpulan seperti itu, Ferytan mengayunkan pedang ke samping dan membersihkan bilah dari darah. Menyeringai lebar, pria tua itu langsung menerjang ke arah dua Goblin di hadapannya dan menghabisi mereka dengan muda. Dalam dua ayunan pedang secara horizontal dan diagonal.


 


 


Namun, tanpa membiarkan pria tua itu sejenak menarik napas lega, Odo langsung menaikkan tingkat kesulitan. Empat ekor Goblin maju sekaligus, menyerang Ferytan dari arah depan. Tidak seperti sebelumnya, pria tua itu memberikan antisipasi yang sesuai.


 


 


Ia menarik pedang ke belakang, memasang kuda-kuda dan langsung menggunakan teknik pedang Keluarga Swirea.


 


 


“Satu tusukan purnama ….”


 


 


Dengan sangat cepat, Ferytan langsung menusuk dua Goblin sekaligus. Tepat pada bagian leher, layaknya setusuk daging sate. Segera menarik pedang dan mengayunkannya ke samping untuk membersihkan darah, pria tua itu dengan cepat menebas dua ekor lainnya dengan ayunan horizontal ganda.


 


 


Sama seperti sebelumnya, setelah keempat Goblin dihabisi, Odo kembali bertepuk tangan dan menaikkan tingkat kesulitan dengan langsung membiarkan enam ekor bisa bergerak bebas.


 


 


Secara terus menerus. Tanpa membiarkan Ferytan beristirahat, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menaikan tingkat kesulitan setelah para Goblin yang menyerang berhasil dihabisi.


 


 


Menggunakan bilangan kelipatan dua, terus bertambah dengan jumlah dua, empat, enam, delapan, dan paling terakhir adalah sepuluh Goblin sekaligus. Setelah para Goblin biasa secara menyeluruh berhasil dihabisi, tingkat kesulitan bertambah dengan membiarkan para monster mutasi mulai menyerang.


 


 


Setelah waktu berlalu hampir satu jam lebih, di sekitar Ferytan terisi penuh oleh mayat-mayat monster. Darah berceceran, bagian tubuh yang terpotong berserakan, dan aroma amis menyengat kuat menyingkirkan udara asri.


 


 


Namun dari semua monster yang telah binasa, masih berdiri dua Ogre yang selama pelatihan sama sekali tidak menyerang. Mereka berada pada mutasi Tahap Awal dan Tahap Lanjutan, memancarkan aura yang benar-benar berbeda dari para Goblin yang telah dihabisi.


 


 


Napas Ferytan terengah-engah, pandangan mulai buyar, dan tangan tidak bisa menggenggam pedang dengan kencang karena mati rasa.


 


 


Untuk pertama kalinya sejak pelatihan dimulai, Odo memberikan waktu istirahat kepada pria tua itu.


 


 


Meski begitu, tetap saja Ferytan telah sampai pada batasnya. Selain karena usianya yang sudah senja, para monster mutasi benar-benar telah menguras stamina pria tua tersebut selama melawan mereka. Membuatnya gentayangan dengan lemas, lalu bersandar pada dinding tebing.


 


 


“Kita istirahat sebentar ….” Odo mengirimkan suara kepada pria tua tersebut.


 


 


Setelah memasukan kembali busur dan anak panah ke dimensi penyimpanan, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung meluncur menuruni tebing curam. Setelah meloncat ke hadapan Ferytan, ia sejenak menghela napas dan menatap datar pria tua tersebut.


 


 


Mengamati, menilai, dan memutuskan. Setelah memahami batas kekuatan dan kemampuan Ferytan, Putra Tunggal Keluarga Luke segera mengambil Potion dari dimensi penyimpanan dan menyerahkannya kepada pria tua itu.

__ADS_1


 


 


“Apa ini, Tuanku? Potion?” tanya Ferytan sembari menerima.


 


 


“Itu bisa memulihkan stamina, minum dan simpan dulu botolnya.”


 


 


Odo kembali mengaktifkan kunci dimensi penyimpan pada sarung tangan, lalu menarik keluar pedang Gladius yang sudah tampak rusak. Bilah banyak yang bengkok, tidak tajam dan bahkan bagian ujung terlihat tumpul.


 


 


“Tuanku, pedang Anda ….”


 


 


Melihat senjata yang dikeluarkan oleh Odo, Ferytan hanya bisa tertegun. Meski penglihatan buram dan jarak pandang sangat pendek, pria tua itu dengan jelas bisa tahu kalau pedang yang digenggam pemuda itu sangatlah tidak layak.


 


 


“Apa yang kau tunggu, cepat minum itu.” Odo memasang kuda-kuda, menurunkan posisi tubuh dengan menarik kaki kiri ke belakang dan menyiapkan pedang dalam posisi untuk menusuk. Sembari mengencangkan otot-otot kedua kaki dan tangan, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Aku akan menunjukkan salah satu teknik pedang Keluarga Luke dan kondisi yang diperlukan untuk memaksimalkan teknik tersebut, lihat baik-baik.”


 


 


Ferytan segera meminum habis ramuan, lalu meletakkan botol kosong ke atas tanah dan kembali mengangkat pedang. Dalam waktu beberapa detik kemudian, sensasi kesemutan untuk sesaat menjalar ke seluruh tubuh pria tua tersebut.


 


 


Letih pada tubuh seakan terangkat bersama rasa kesemutan. Pandangan kembali jernih dan lemas yang sebelumnya menguasai seketika lenyap. Layaknya baru bangun tidur, kondisi prima dalam hitungan detik kembali Ferytan dapatkan. Bahkan, luka lecet dan goresan yang dirinya dapat selama melawan para Goblin pun dengan cepat pulih.


 


 


“Hebat …. Sebenarnya ramuan apa yang telah diriku minum?”


 


 


Tidak menjawab pertanyaan pria tua tersebut, Odo langsung menonaktifkan intimidasi terarah yang ia berikan kepada dua ekor Ogre yang masih tersisa.


 


 


Mengikuti insting, kedua monster tersebut langsung meraung kencang memancarkan nafsu membunuh. Merasa terhina, direndahkan, dan dikuasai oleh amarah yang meledak-ledak.


 


 


“Lihat ini baik-baik, Pak Tua ….”


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke seketika langsung masuk dalam konsentrasi ekstrem. Membatasi hampir semua informasi yang diterima indra, lalu hanya berfokus pada lawan yang ada di hadapan. Warna dihilangkan, persepsi terhadap hutan dihapus, indra pendengaran dipusatkan, kabut dikeluarkan dari penglihatan, dan kemampuan refleks ditingkatkan secara pesat.


 


 


Otot pada tangan kanan yang memegang pedang mengencang, bersamaan dengan otot kedua kaki yang berpijak pada permukaan tanah. Saat para Ogre melesat ke arahnya dengan amarah yang tidak terkendali, Putra Tunggal Keluarga Luke dalam sekejap membuat tubuhnya sendiri masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem.


 


 


Itu membuat semua otot lemas, indra menjadi tumpul, dan tenaga tidak bisa dikeluarkan secara maksimal. Namun, sebagai gantinya refleks tubuh mencapai puncak tertinggi yang bisa didapat tubuh seorang manusia.


 


 


Jeda perintah dari otak ke bagian tubuh berkurang drastis, hampir tidak sampai satu milidetik. Itu membuat pergerakan Odo menjadi sangat cepat, begitu lembut layaknya aliran air sungai yang melewati bebatuan.


 


 


Menarik pedang ke belakang dan bersiap menusuk, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung masuk dalam posisi untuk menggunakan Teknik Pedang Keluarga Luke, “Tiga Tanduk”.


 


 


Dalam kemampuan refleks normal, manusia hanya bisa mencapai tingkat satu detik dan paling cepat adalah 0.5 detik. Namun, tingkat satu milidetik sendiri sama dengan 0.001 detik. Karena itulah, kecepatan yang Odo dapat dari kondisi rileks ekstrem adalah seribu kali kecepatan refleks normal.


 


 


Semuanya menjadi lambat, bahkan detak jantung tidak lagi terdengar dalam kondisi tersebut. Sebelum semua persepsi kembali menjadi normal, Odo langsung melesat ke depan dan meloncat ke arah dua Ogre yang terlihat seperti berhenti.


 


 


Satu tusukan pada Ogre dengan tingkat mutasi Tahap Awal, tepat pada bagian kening dan sampai tembus ke belakang kepala. Pada sensasi yang tersalur melalui pedang, itu seperti menusuk sebuah kue dengan pisau dapur. Begitu lembut dan sangat mudah.


 


 


Menarik pedang dan berputar di udara, pemuda rambut hitam tersebut langsung menusuk Ogre mutasi Tahap Lanjutan sebanyak dua kali. Pada bagian kepala sampai tembus ke belakang, lalu pada leher sampai kepala monster tersebut hampir putus.


 


 


Setelah menghabisi mereka, Odo mendarat ke permukaan tanah dan langsung mengibaskan pedang untuk membersihkan darah. Persepsi kembali normal, semuanya mulai terlihat bergerak kembali di mata pemuda tersebut.


 


 


Melihat apa yang telah terjadi, Ferytan hanya bisa menganga saat tahu dua Ogre di hadapannya telah dihabisi. Tubuh kedua monster perlahan tumbang ke tanah, lalu darah baru mengalir keluar pada luka tusukan rapi yang tampak seperti terkena sebuah meriam.


 


 


Meski seharusnya Ferytan sudah fokus mengamati Odo, ia sama sekali tidak bisa melihat pergerakan pemuda itu sampai kedua Ogre tumbang. Menelan ludah dengan berat, untuk pertama kalinya dalam hidup pria tua itu paham arti genius sebenarnya.


 


 


“Bersiaplah ….” Kembali memasukan pedang ke dimensi penyimpanan, Putra Tunggal Keluarga Luke berbalik. Memasang senyum tipis, ia menunjuk ke arah pria tua dan menyampaikan, “Sampai waktu duel tiba, kau harus mengusai Teknik Tiga Tanduk dan bisa masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem secara bebas. Tak perlu banyak-banyak, cukup satu teknik pedang. Kau tak perlu mencapai kondisi refleks satu milidetik, cukup 0.05 detik saja.”


 


 


“Saya … mulai ragu untuk mengusai teknik tersebut.”


 


 


“Tak perlu cemas.” Sembari berjalan mendekati Ferytan, Odo Luke kembali memancarkan aura intimidasi dan memprovokasi para monster lainnya di dalam hutan. Berdiri di hadapan pria tua tersebut, ia menepuk pundaknya dan menyampaikan, “Aku sudah membuat penilaian, kau bisa menguasai teknik ini. Kemampuan pedang dan proporsi tubuhmu cocok.”


 


 


“Eh?”


 


 


“Kita mulai lagi seperti tadi! Kali ini aku tidak akan membantu! Hari ini kau harus melatih tubuhmu dulu dan membangkitkan insting bertarung!”


 


 


“Tu-Tunggu!”


 


 


Tidak mendengar perkataan pria tua tersebut, Odo langsung berlari memanjat tebing dan duduk di atas. Menggunakan cara sebelumnya dan melanjutkan tingkat kesulitan, pemuda itu membuat beberapa monster yang datang berhenti, lalu membiarkan beberapa lagi menyerang Ferytan.


 


 


Sembari melatih pria tua itu dan menjaganya sampai batas tertentu untuk membangkitkan insting bertarung, Odo sejenak mengingat sesuatu yang sempat dilupakan. Sembari memasang wajah datar dan duduk di ujung tebing, pemuda rambut hitam itu bergumam, “Ah, aku lupa kasih uang kepada mereka berdua. Hasil penjualan kristal sekarang dipegang Ferytan, ‘kan? Apa mereka mau keluar dana untuk beli pakaian Lily’ami? Terutama si Ri’aima.”


 


 


\=================


 


 


Catatan :


Masih Dekadensi!!


See You Next Time!


 


 

__ADS_1


Catatan Kecil :


Fakta 033: Odo sebenarnya makhluk dimensi tingkat tinggi, makannya ada beberapa orang yang menyebutnya sebagai inkarnasi atau singularitas saat pertama kali bertemu.


__ADS_2