
“Kepercayaan rakyat, ya?” Argo mengendus kasar, sekilas memperlihatkan ekspresi meremehkan dan berkata, “Bagaimana caranya? Mereka sudah gagal⸻!”
“Bukan mereka, tapi kita! Bangsawan Felixia!” Lisia menegaskan. Ia mendekatkan wajah, lalu dengan nada menekan lanjut menyampaikan, “Kepercayaan penduduk Rockfield kepada Keluarga Stein mungkin telah hilang! Tetapi, kita tidak boleh membiarkan kepercayaan mereka terhadap Kerajaan Felixia runtuh!”
“Itu … benar juga, Putriku ….” Argo tidak bisa membantah argumen tersebut. Ia sekilas meletakkan tangan ke dagu, memainkan jenggot sembari bergumam, “Sepertinya kamu memang mewarisi sifat mendiang Ibumu, tegas dan berpandangan luas.”
“Bagus kalau Ayah sudah paham!” Lisia kembali bersedekap, memalingkan pandangan dan membusungkan dada. “Akhirnya paham juga, hah! Dasar keras kepala ….”
“Jadi, secara spesifik ….” Argo menatap datar, menurunkan tangan dari dagu dan bertanya, “Apa yang ingin kamu lakukan? Kalian sudah merencanakan ini, ‘kan?”
“Eh⸻!?”
Lisia tersentak, belum memikirkan hal tersebut dan lekas menoleh ke arah Ri’aima. Ia mengedipkan sebelah mata, memberi tanda supaya rekannya melanjutkan pembicaraan.
“Kita harus ikut serta dalam upacara pemakaman!” Ri’aima segera angkat bicara. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan penuh percaya diri menyampaikan, “Sebagai bangsawan, sangat kasar jika kita tidak ikut berkabung bersama mereka!”
“Be-Benar! Kita harus ikut upacara itu!” Lisia mengangguk. Ia mengacungkan telunjuk ke depan, lalu dengan nada sedikit kaku berkata, “Bila perlu, Keluarga Stein harus meminta maaf kepada publik karena tidak bisa melindungi kota! Meski hukuman mereka tidak bisa dihilangkan, paling tidak itu bisa diringankan.”
“Oh, pendapat yang menarik!” Tiba-tiba Dart Luke memasuki ruang tamu. Pria berbadan kekar itu sekilas melihat memindai, mengamati orang-orang yang berada di dalam tempat tersebut. “Kau cukup berbakat dengan urusan politik,” sanjungnya dengan niat baik.
Baldwin juga ikut memasuki ruangan, ia tidak sempat keluar karena berpapasan dengan sang Marquess di pintu depan. Berakhir harus mengantarkan pria itu menemui Walikota.
Ada juga Mili, Canna, dan Opium yang mengikuti di belakang mereka. Sekilas mereka tampak tegang, namun memperlihatkan ekspresi yang berbeda-beda saat memasuki ruangan.
“Tuan Dart?!”
“Lord?!”
“A⸻! Lord!?”
“Lord ….”
Argo, Oma, Lisia, dan Ri’aima segera berdiri tegak dan menghadap. Mereka segera berlutut dengan penuh hormat di hadapan Marquess, menundukkan kepala tanpa berani menatap. Berusaha menyembunyikan rasa bersalah, gemetar takut dan langsung memucat.
“Jangan kaku!” Dart tidak memperlihatkan gelagat murka ataupun kecewa, ia malah melempar senyum hangat dan berkata, “Diriku kemari bukan sebagai Tuan Tanah ….”
“A-Apa yang Anda maksud?” Oma terkejut, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap. “Jika bukan, lantas untuk apa Anda datang kemari?”
“Bukankah Tuan Dart kemari untuk menghukum Keluarga Stein?” Argo berusaha memastikan. Ia tidak ingin mendesak ataupun berniat memperkeruh situasi, namun ingin melindungi rekannya dan lekas membujuk, “Tolong pertimbangkan kembali, Tuanku! Karena kami tidak bisa melindungi kota⸻!”
“Pihak Administrasi Wilayah Luke takkan menuntut pertanggungjawaban!” Dart meluruskan, tidak ingin ada kesalahpahaman dalam pembicaraan. Sembari menunjuk Oma Stein, pria bertubuh kekar tersebut dengan lantang menegaskan, “Itu perintah dari Raja!!”
“A-Apa yang Anda bicarakan? Kami telah gagal melindungi Rockfield!” Oma tidak bisa menerima hal tersebut. Meski itu kabar baik, rasa bersalah dalam benak membuatnya tidak bisa mengangguk begitu saja. Ia segera bangun, lalu dengan cemas bertanya, “Mengapa tidak ada tuntutan dari pusat?! Bukankah kami … telah gagal?”
“Serangan kali ini sudah diprediksi dari awal.” Dart menundukkan wajah, sekilas memperlihatkan ekspresi menyesal sembari berkata, “Yang seharusnya pantas disalahkan adalah Raja Gaiel dan diriku. Kami … sengaja menjadikan kota ini sebagai umpan.”
“Umpan?!” Oma tersentak, melangkah mundur dan langsung gemetar. “Jadi …, kabar itu benar? Pemerintah pusat mengirim Tuan Jonatan untuk rencana itu?”
“Menarik musuh masuk, lalu menyerang kepala. Kami berniat mengikis kekuatan militer Kekaisaran supaya bisa menyerang Ibukota mereka ….” Dart tidak mengelak, langsung membongkar rencana kejam dan sepihak itu tanpa gentar sedikitpun. Sembari mengepalkan tangan ke depan, pria rambut uban tersebut menambahkan, “Kalaupun tidak berhasil, paling tidak ini menjadi alasan kuat untuk memperbarui isi perjanjian Konferensi Empat Negeri.”
“I-Ini sudah direncanakan?!” Oma semakin tercengang, menggelengkan kepala sembari lanjut bertanya, “Mengapa? Untuk apa kalian menjalankan rencana semacam itu?!”
“Kau tak perlu munafik, Oma Stein. Seharusnya kau tahu apa yang selalu diincar kalangan bangsawan, ‘kan?” Dart melebarkan senyum sinis. Ia menggelengkan kepala, sekilas memperlihatkan ekspresi kecewa sembari menyampaikan, “Aku juga tidak setuju dengan rencana ini. Namun, para pejabat dan bangsawan kelas atas sudah mengambil suara. Raja juga telah menandatangani perintah tersebut ….”
“Maaf menyela, Tuan Dart!” Ri’aima tidak bisa tinggal diam. Ia langsung murka, lalu segera bangun dan memastikan, “Anda sungguh ingin mengorbankan Rockfield? Apa itu cara kalangan atas memperlakukan pengikut dan rakyat mereka?!”
“Dikorbankan?!! Kami tidak menelantarkan kalian!!” Dart melirik tajam. Sifat temperamental pria itu sedikit keluar, tanpa sengaja memancarkan tekanan sihir sembari membentak, “Lagi pula, kalian adalah rakyatku! Rakyat Luke! Mana mungkin diriku mau mengorbankan kalian! Karena itulah diriku datang kemari! Namun⸻!”
“Dart, tekanan sihirmu bocor ….” Vil menegur, mengangkat wajahnya dan berhenti meringkuk. Perempuan yang sedari tadi duduk di sudut ruangan itu perlahan bangun, lalu memberikan tatapan datar sembari menegur, “Kapan engkau memperbaiki sifatmu itu? Tidak semua manusia bisa menahannya. Lihat, dia memucat ….”
__ADS_1
“Ma-Maaf telah lancang ….” Ri’aima segera berlutut, menundukkan wajah dengan gemetar dan menangis ketakutan.
“Hmm? Kau ada di sini rupanya?” Dart terkejut, sama sekali tidak menyadari kehadiran Roh Agung tersebut. “Kenapa tekanan sihirnya sangat tipis,” benaknya heran.
“Anda tadi bilang telat, ‘kan?” Lisia tidak gentar. Ia segera mendekat, lalu menatap tajam dan lekas memastikan, “Apa maksudnya?! Kalau memang kalian menjadikan Rockfield sebagai umpan, berarti kalian juga berniat menyelamatkan kota ini, ‘kan?”
“Putriku!” Argo terkejut, berusaha menarik Lisia untuk kembali berlutut. “Apa yang kamu lakukan! Kamu tidak sopan⸻!”
“Tidak apa, itu memang fakta. Kami terlambat ….” Dart tidak membantah. Meskipun temperamental, ia bukanlah pria yang mengelak dengan kata-kata manis saat berhadapan dengan tanggung jawab. “Ketika melihat kondisi kota selama perjalanan kemari, aku sungguh menyesal. Andai saja diriku datang tepat waktu ….”
“Tidak! Tuan Dart! Saya yang seharusnya minta maaf! Kalau saja saya lebih kompeten! Pasti tragedi ini takkan terjadi ….” Oma tidak bisa membiarkan hal tersebut, rasa bersalah benar-benar menggerogoti hatinya. Pria tua itu segera bersujud, mulai menangis tersedu-sedu dan memohon, “Ini murni kesalahan saya! Ini adalah kesalahan saya! Tolong … jangan berkata seperti itu, Tuanku! Anda tidak boleh⸻!”
“Sudah aku bilang, diriku kemari bukan untuk hal itu!” Dart tersentuh, merasakan loyalitas pada diri Oma. “Bangun, engkau tak perlu memohon. Diriku takkan menghukum siapa pun. Jika kau benar-benar menyesal, perbaiki reputasi Keluarga Stein dan rebut kembali hati rakyat.”
“Ta-Tapi!” Oma mengangkat wajahnya yang berlinang air mata, merasa terselamatkan oleh dengan kata-kata itu. “Apakah diriku pantas? Setelah semua ini ….”
“Tebus kesalahan Keluarga Stein dengan itu!” Dart tidak ingin memperpanjang pembicaraan, memberikan hukuman ambigu tanpa wewenang yang kuat.
“Kalau bukan itu alasan Anda datang kemari ….” Argo mengangkat wajahnya, menatap bingung sembari bertanya, “La-Lantas untuk apa?”
“Odo! Putraku ada di sini, ‘kan?!” Dart tidak basa-basi lagi, menanyakan itu secara frontal dan tegas. Sembari memperlihatkan ekspresi bangga, ia menunjuk Canna dan Opium sembari berkata, “Aku dengar dari penyihir di sana, katanya Odo membantu kalian mengusir Pasukan Kekaisaran. Yah! Meski cara yang digunakan katanya misterius dan aneh, sih.”
“I-Itu ….” Argo tidak bisa menjawab, lekas memalingkan pandangan dan membisu.
“Jadi, dia di mana? Sedang istirahat?” Dart semakin penasaran, memandang hal tersebut dengan persepsi optimis. Sembari mengangguk-angguk, pria berbadan kekar itu dengan penuh rasa bangga berkata, “Hmm! Jelas saja dirinya melarang aku dan Ordo Biru melanjutkan rencana! Kalau kami terus menyerang, bisa-bisa Kekasaran tidak mau mundur dan malah mengambil alih kota, sih! Itu keputusan yang tepat, Putraku memang hebat!”
“Tuan Dart ….” Argo memberanikan diri untuk bicara.
“Hmm?” Dart menatapnya, memperlihatkan ekspresi penuh harapan dan tidak sabar.
“Tuan Odo pergi bersama mereka ….” Argo menyampaikan itu dengan cemas, lekas memejamkan mata dan gemetar. “Beliau berpindah pihak.”
“Eh?” Kebahagiaan seakan lenyap dari Dart. Senyum ramah berganti dengan ekspresi murka, aura tempur yang mencengkam pun mulai terpancar darinya. “Kau bercanda, ‘kan?”
“Siapa mereka?” Dart mengernyit dan semakin menajamkan tatapan, tidak mau menerima fakta itu dan berkata, “Hmm? Leviathan, huh? Kau pasti bercanda ….”
“Terserah engkau ingin percaya atau tidak. Intinya ….” Vil menoleh, memberikan tatapan kosong seakan sudah pasrah dan menyerah. “Dia pergi bersama mereka, meninggalkan diriku sendirian di sini.”
“Tunggu! Itu sungguhan?! Dia pergi!” Dart tersentak, terpaksa menerima fakta itu dan mulai panik. “Ma-Mau apa?! Nanti dia kembali, ‘kan?” tanyanya sembari menatap yang lain.
“Entahlah ….” Vil berhenti menatap, menundukkan wajah dan merenung. Dengan bibir kering, ia perlahan membuka mulut dan menjawab, “Namun, dilihat dari ekspresi Odo, dia⸻!”
“Jangan bercanda!!”
Dart tidak bisa menerima itu. Ia mengentakkan kaki, memancarkan tekanan sihir kuat dan menghempaskan semua orang. Argo, Oma, Lisia, dan Ri’aima terlempar ke atas meja. Di sisi lain, Baldwin terhempas sampai keluar ruangan.
Tidak ikut terhempas, Mili, Canna, dan Opium menahan aura tempur itu dengan pelindung Mana. Mereka berdiri di sudut ruangan, memperlihatkan ekspresi cemas dan takut.
“Dart ….” Vil mengernyit, kembali menoleh dan menatapnya dengan kesal. “Bisakah kau berhenti melakukan itu saat marah⸻?”
“Apa dia menyuruh kau bersikap seperti itu supaya aku panik!” Dart masih tidak bisa menerima fakta tersebut. Ia menciptakan pedang Gladius dengan teknik pemadatan Mana, lalu menodongkannya sembari membentak, “Dia sempat aku buat kesal, sih! Pasti ini akal-akalan Odo lagi! Tidak mungkin Putraku membelot⸻!”
“Kalian sedang apa?” Tiba-tiba Odo Luke memasuki ruangan, ia lekas mengamati situasi dan berkata, “Ah, ternyata sudah kumpul semua! Syukurlah ….”
Pemuda itu segera merapikan rompi dan kerah kemeja, lalu memalingkan tatapan dan menghela napas ringan. Iris matanya sekilas berubah dari biru menjadi hitam pekat, tampak menakutkan dan memancarkan aura mengancam.
Semua orang terkejut, membisu dan hanya bisa memperlihatkan ekspresi heran. Mereka mulai saling menatap satu sama lain, menggelengkan kepala tanpa ada yang mau angkat bicara.
“Kenapa?” Vil tidak bisa diam saja. Ia langsung memperlihatkan ekspresi curiga, lalu mendekat dan lekas memastikan, “Bukankah Odo tadi pergi bersama mereka?”
__ADS_1
“Ya, aku memang pergi!” Odo membusungkan dada, bertolak pinggan dan sedikit melebarkan senyum angkuh. Sembari menajamkan mata, pemuda rambut hitam itu dengan penuh percaya diri berkata, “Tapi! Urusannya sudah selesai, jadi aku kembali lagi! Siapa juga yang mau ikut bersama mereka! Tempat ku hanya di Felixia!”
“Sungguh?” Kecurigaan Vil menguat, ia tahu Odo takkan berkata seperti itu. Penuh percaya diri dan tampak busuk, dipenuhi kebohongan yang sangat kental. “Engkau benar-benar Odo⸻?”
“Putraku! Sungguh, diriku sempat panik!” Dart menyela. Ia segera menepuk pundak pemuda itu, lalu menarik napas lega dan berkata, “Vil sampai memperlihatkan ekspresi muram seperti itu, sih! Ayah sampai berpikir tadi benar-benar⸻!”
“Diam!” Odo menyingkirkan tangan Ayahnya, segera menjaga jarak dan berkata, “Aku masih marah! Jangan berlagak seakan pembicaraan sebelumnya tidak pernah terjadi ….”
“Eh? Putraku ….” Dart tertegun, menurunkan tangannya dan termenung.
“Lagi pula, siapa juga yang mau gabung sama mereka!” Odo menggertakkan gigit. Memperlihatkan akting yang sangat alami, lalu mulai mengepalkan tangan kanan sembari berkata, “Ibunda ada di Felixia, loh! Kalau perang pecah, bisa-bisa aku melawan dirinya!”
“Be-Benar juga ….” Lisia setuju dengan alasan semacam itu. Ia segera bangun setelah terhempas ke pojok ruangan, lalu menundukkan kepala sembari menyeka luka pada pergelangan tangan. “Tidak mungkin Tuan Odo membelot.”
“Syukurlah⸻ Akh!” Kaki Ri’aima terkilir, tidak bisa langsung bangun dan dibantu Oma untuk berdiri. “Saya sempat salah paham, jadi tadi hanya pura-pura.”
“Kalau pura-pura, tolong bicarakan dulu, Tuan Odo!” Argo menegur, menghela napas lega dan lanjut berkata, “Jika ada bangsawan lain yang mendengar itu, bisa-bisa mereka memanfaatkan hal tersebut untuk menjatuhkan Keluarga Luke.”
“Ya ….” Odo memalingkan pandangan, sekilas memperlihatkan senyum gelap sembari bergumam, “Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskannya, sih.” Perkataannya seakan ditekankan kepada Vil, ingin meyakinkan Roh Agung tersebut.
Mereka mulai melakukan pembicaraan panjang, diselingi gurauan dan pembahasan ringan. Saling membuka, menyampaikan rencana yang telah Odo jalankan supaya tidak ada kesalahpahaman. Meluruskan tekad, menyampaikan penjelasan seakan-akan itu adalah fakta. Berbohong layaknya bernapas.
Hawa keberadaan, tekanan sihir, sikap, gestur, dan bahkan cara bicara. Semuanya benar-benar mirip Odo Luke.
Namun⸻
“Kamu bukan Odo, ‘kan?” Vil menyadari kebohongan itu, fakta bahwa pemuda tersebut bukanlah Odo Luke yang dirinya kenal. Di tengah pembicaraan yang telah sampai pada penghujung, ia langsung menarik kerahnya dan bertanya, “Siapa kau?”
\========================================
Catatan :
Arc 03 dan Book 2 Selesai!
Next bakal epilog, dan juga akan ada pengumuman penting terkait Seri ini!!
Antara kabar buruk dan baik!
Jujur banyak banget plot yang aku buang buat pangkas CH, karena kesibukan di Real Life dan semacamnya.
Enggak jadi trilogi sepertinya, ini book 01 dan book 2 bakal jadi semacam prolog untuk cerita lanjutan. Yah, belum tetap sih. Tunggu saja kelanjutan nya.
Ada dua kemungkinan ;
Lanjut Book 03 dengan tema cerita utama akan seperti Omyouji, bahas siluman, hal mistis, masalah sosial, dll. Panggung utama Kekaisaran, dibahas juga Felixia tapi Ungea.
Buat seri Prequel yang independen, cukup jauh dari seri Resaif ini. Tema utama galaksi dengan genre sains fiksi, petualangan luar angkasa dengan bobot kekaisaran dan monarki. Latar fase kedua di Dunia Sebelumnya, dapat berlanjut ke Fase Ketiga dan akhir.
__ADS_1
Yah, intinya nanti pengumuman pasti ada di Epilog.
See You Next Time!