
Dunia ini penuh dengan kebohongan⸻
Segala sesuatu yang terasa wajar adalah kepalsuan, bahkan langit dan daratan pun berbohong kepada seluruh penghuninya. Menjadikan dusta-dusta berakhir diterima oleh semua makhluk, lalu melahirkan sebuah kenyamanan dalam kehormatan dan singgasana palsu tersebut.
Pendatang merampas semuanya dari akar dunia, lalu menjadikan dirinya sendiri sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Menginjak-injak kehendak dan hak penduduk asli, lalu mengklaim daratan, langit, dan seluruh isi yang ada adalah miliknya.
Entah itu tentang sejarah peperangan, ilmu pengetahuan, atau bahkan dongeng yang disampaikan kepada anak-anak untuk pengantar tidur, semuanya adalah kebohongan besar di Daratan Michigan. Kata-kata yang dirangkai dalam sebuah muslihat.
Melalui nyanyian merdu para biduan.
Puisi indah para penyair.
Catatan perang para perwira.
Atau bahkan, sebuah kebebasan yang diwariskan kepada anak-anak yang baru lahir.
Semua yang diwariskan adalah kebohongan kental. Penuh dengan dusta pendahulu dan leluhur, lalu terus berlanjut melalui keturunan mereka di Michigan. Dialirkan melalui darah dan daging, perlahan menyatu kuat dalam kehidupan orang-orang di daratan tersebut.
Dalam arus sejarah yang tidak terhentikan, semuanya akan terus mengalir menuju hilir. Akhir dari seluruh kehidupan dan peradaban makhluk berakal. Para pewaris tidak tahu lagi kebenaran dari warisan-warisan yang mereka terima, lalu pada akhirnya dilupakan untuk selamanya.
Terkubur dalam mayat-mayat yang ditumpuk para pendahulu, lalu mereka pun dikendalikan layaknya boneka dalam diorama kehidupan. Sebuah teater besar dalam sejarah yang belum pernah terungkap, memanipulasi semuanya untuk kepentingan pribadi.
Melupakan sejarah untuk kebaikan keturunan mereka, anak-anak yang tidak berdosa untuk masa depan yang lebih layak⸻
Dalam proses tersebut, bahkan ada sebuah negeri yang sengaja memalsukan kebenaran mereka. Dengan mengatasnamakan keadilan dan suara rakyat, mereka membenarkan sebuah penindasan serta diskriminasi terhadap bangsa lain.
Menjajah bangsa-bangsa tetangga dengan alasan untuk mempersatukan daratan dalam satu kekuasaan mutlak. Menyebut hal tersebut sebagai tujuan mulia, lalu mengajak orang-orang untuk membunuh bangsa lain di bawah kibaran bendera yang sama.
Pada sisi waktu yang berbeda, ada juga kekaisaran yang menyembunyikan kekejaman mereka di masa lampau. Generasi tua menutup kesalahan pendahulu dari semua anak-anak, lalu menyembunyikan sejarah kejam dan brutal mereka rapat-rapat.
Tidak mengajarkan kebenaran kepada generasi muda, lalu hanya menyampaikan sejarah palsu dengan alasan supaya tidak ada yang mengulangi kesalahan yang sama. Membiarkan semua anak-anak tumbuh dalam kebohongan, tanpa pernah tahu bahwa kehidupan mereka dibangun dari gunung-gunung mayat dan lautan darah.
Karena itulah, hampir semua sejarah yang ada sekarang dilapisi oleh kebohongan para pemimpin dan leluhur. Merupakan warisan pendahulu yang penuh dengan kebohongan, berisi dusta-dusta para pemenang dan pemegang kekuasaan untuk mempertahankan nama baik mereka.
Memberikan cema kepada yang kalah, lalu menginjak harga diri mereka untuk menaikkan drajat. Itulah kebenaran dari manipulasi sejarah yang dilakukan para pemenang.
Pembantaian terhadap kelompok oposisi di sebuah negeri untuk mencegah kudeta kekuasaan, genosida suatu ras atas nama keadilan dan kesatuan, atau bahkan gadis suci yang dibakar hidup-hidup karena fitnah para penguasa.
Demi membersihkan nama dari dosa keji yang telah mereka lakukan, para pemegang kekuasaan akan membuat sebuah dongeng dan cerita dusta. Menyusun rentetan kalimat indah, lalu dikisahkan kepada orang-orang.
Untuk menenangkan hati masyarakat.
Untuk menarik kembali kepercayaan pengikut.
Untuk membenarkan tindakan kejam yang telah dilakukan.
Untuk menyembunyikan aib keluarga dan mengembalikan nama baik.
Atau mungkin …, hanya karena keserakahan para penguasa yang telah nyaman menduduki posisi pemimpin. Sehingga enggan untuk menyerahkannya kepada orang yang lebih pantas.
__ADS_1
Pada akhirnya, penguasa adalah mereka yang paham bagaimana cara mengendalikan citra diri di mata masyarakat. Memanipulasi opini publik, lalu mengubah alur suara rakyat melaui kehendak kubu yang mereka duduki.
Tidak peduli itu benar atau tidak, sesuatu yang menjadi prioritas adalah kehendak bisa tercapai dengan mulus. Tujuan menjadi sebuah acuan utama, lalu cara dan proses adalah masalah yang tidak terlalu dipedulikan.
Karena itulah, generasi berikutnya kebanyakan tidak ada yang benar-benar tahu tentang warisan kebohongan dari para pendahulu. Dari semua kemuliaan para penguasa, bahkan keturunan-keturunannya pun tidak menyadari dusta yang ada dalam takhta mereka.
Meskipun kelak beberapa orang akan menyadari kebenarannya, waktu yang telah berlalu terlalu lama membuatnya kehilangan arti dan kekuatan. Menjadikan kebenaran hanya sebatas kisah untuk dibahas. Tidak mengubah apa-apa, sebab hanya menjadi sebuah masa lalu dan tenggelam dalam pembicaraan lain yang menurut mereka lebih penting.
Banyak kisah tentang warisan kebohongan yang ada di dunia, lalu banyak juga yang masih mempercayai kebohongan tersebut sampai sekarang. Dari semua dongeng yang masih dikisahkan sampai sekarang, salah satunya adalah tentang Pembantaian Keluarga Naga Agung.
Sebuah tragedi yang diubah menjadi dongeng heroik, lalu digunakan oleh penduduk langit untuk meningkatkan citra mereka terhadap makhluk mortal. Demi merealisasikan kehendak penguasa tertinggi mereka, sang Dewi Penata Ulang.
Tidak ada yang tahu pasti siapa penyebar kebohongan tersebut. Namun, mereka yang bertahan memang berhak untuk memanipulasi kebenaran. Layaknya pemenang dalam sebuah peperangan, sang penguasa bebas untuk membuat sejarah dan membenarkan tindakan mereka.
Bangsa Naga sangatlah kejam, bengis, suka kehancuran, dan serakah. Meski mereka memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi dan hampir menyamai Dewa-Dewi, akal mereka sama liarnya dengan monster dan binatang.
Dalam dogma yang ditetapkan oleh bangsa langit kepada para pengikutnya, seperti itulah stigma yang melekat para ras Naga. Disamakan dengan hewan buas dan monster di alam liar, lalu sama sekali tidak dianggap sebagai makhluk berakal meski tingkat kecerdasan mereka tinggi.
Dalam ratusan dongeng yang diceritakan sejak dahulu kala, ada sebuah kisah di mana bangsa Naga mengamuk dan hampir melenyapkan daratan Michigan dalam satu malam. Satu Naga menyemburkan api yang membakar gunung-gunung sampai meleleh, satunya lagi membuat tsunami raksasa dan menenggelamkan pulau-pulau, lalu yang terakhir membalikkan gunung sampai menjadi lembah.
Awal dongeng dikisahkan dengan latar belakang bangsa Naga, diolesi kebohongan sampai kebenaran yang ada sama sekali tidak tersampaikan. Naga diceritakan datang bersama para monster saat lautan surut, naik ke permukaan dan mulai memperoleh bentuk mereka dengan meniru manusia.
Layaknya para monster, mereka pada awalnya juga tidak memiliki kecerdasan. Meski sejak awal tubuh mereka punya Mana melimpah dan kemampuan untuk menyerap Ether, bangsa Naga pada saat itu memang lebih mirip seperti monster tidak berakal.
Wujud mereka beraneka-ragam, ada yang melata seperti ular, merayap seperti kadal, lalu ada juga yang memperoleh sayap dan terbang di langit. Namun dalam berbagai wujud bangsa Naga, mereka memiliki kesamaan seperti sisik yang tebal dan bentuk yang tidak jauh berbeda dari hewan reptil.
Berbeda dengan jenis monster lainnya yang muncul setelah lautan surut, bangsa Naga berkembang sangat pesat dalam waktu singkat. Mereka bahkan sampai membangun peradaban sendiri, membentuk sistem hierarki kepemimpinan, sosial, dan bahkan pemukiman-pemukiman di gunung, lembah, dan teluk.
Saat umat manusia baru memutuskan untuk turun dari dataran tinggi, bangsa Naga telah membangun peradaban di teluk dan sungai. Terus menyebar sampai lembah dan pegunungan dalam kurun waktu ratusan tahun.
Dengan tubuh mereka yang besar dan perkasa, Naga dengan mudah bertahan di lingkungan ekstrem yang baru saja terbentuk. Badai api dari gunung meletus, hujan petir, atau bahkan udara beracun bukanlah masalah bagi bangsa Naga. Mereka dengan cepat bisa menyesuaikan diri, lalu terus mengembangkan peradaban dengan tingkat adaptasi yang sangat tinggi.
Meskipun mereka bisa membangun peradaban dengan cepat, pada akhirnya wujud fisik dan sifat mereka adalah monster. Bangsa Naga memang memiliki kecenderungan untuk hidup tenang di sarang mereka. Tetapi, ada beberapa momen ketika keturunan mereka harus melewati fase krusial sebelum dewasa.
Entah itu disebabkan oleh genetik atau memang sifat asli mereka, bangsa Naga memiliki hasrat kanibal yang sangat kuat. Saat seekor Naga remaja beranjak dewasa, ia akan melewati fase labil di mana hasrat lapar menguasai sampai-sampai mendorongnya ke arah kegilaan.
Pada tahap pendewasaan tersebut, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi pada Naga remaja. Pertama adalah di mana dirinya bisa menahan hasrat lapar selama beberapa hari dan menjadi naga berakal, lalu yang kedua adalah kemungkinan ketika naga remaja tersebut lepas kendali dan memangsa naga lain. Dalam kasus lepas kendali, tidak sedikit Naga yang memangsa orang tua mereka sendiri dan menjadi semakin buas.
Karena hasrat tersebutlah hierarki dibuat oleh bangsa Naga. Untuk mengawasi pendewasaan berjalan tanpa musibah, Naga remaja akan dikurung selama proses tersebut dan dijaga oleh beberapa Naga dewasa.
Jika Naga remaja hilang kendali dan hendak memangsa sesama, para Naga dewasa akan menghabisinya tanpa pengecualian. Karena itulah, dalam setiap dongeng bangsa reptil berakal tersebut selalu melambangkan kehancuran.
Meski mereka memiliki gambaran buas, bangsa Naga tidak pernah diceritakan menyerang pemukiman ras lain tanpa alasan yang jelas. Mereka cenderung menetap di sarang, lalu mengasingkan diri seakan enggan untuk melakukan kontak dengan ras lain.
Bangsa Naga tahu kekurangan mereka sendiri. Karena itulah bangsa Naga menerapkan peraturan dan sebuah batasan jelas, lalu memilih untuk tetap mempertahankan akal dan mendapatkan martabat. Meski cara yang bangsa Naga gunakan terkesan kejam, namun hal itu lebih baik daripada melihat sesama mereka saling memangsa satu sama lain.
Dalam dongeng yang diwariskan kepada anak-anak, bangsa Naga dikisahkan naik ke daratan pada waktu yang sama dengan turunnya manusia dari puncak tertinggi. Namun, pada kenyataannya bangsa Naga terpaksa harus hidup di daratan karena air samudera mulai turun.
Sama seperti halnya para monster lain, bangsa Naga awalnya adalah makhluk air dan memiliki kedudukan superior di alamnya. Tetapi ketika lautan surut dan menjadi daratan, mereka yang tertinggal di daratan terpaksa harus menyesuaikan diri. Berevolusi menjadi sosok Naga yang dikenal para makhluk mortal sekarang.
Seiring berjalannya waktu, dalam sebuah dongeng dikisahkan seorang Dewi turun dari langit untuk memberikan berkah kepada bangsa Naga. Seakan-akan bangsa langit ingin menyetarakan semua makhluk, mereka tidak hanya membimbing manusia namun juga ras kadal berakal itu.
__ADS_1
Berbeda dengan manusia yang memilih untuk mengambil buah pengetahuan, ras Naga lebih memilih buah kehidupan dan mengubah fisik mereka. Menghapus hasrat kanibal, lalu mulai mempelajari sihir untuk mengubah bentuk tubuh dengan sesuka hati mereka.
Dalam beberapa dongeng yang berbeda, dikisahkan bahwa berkah yang diberikan kepada bangsa Naga bukanlah berasal dari langit. Bertentangan dengan umat manusia yang mendapatkan kejayaan di bawah kehendak Dewa-Dewi, ada beberapa kisah yang menyebutkan bahwa peradaban bangsa Naga dikembangkan oleh Raja Iblis Muda dan seluruh pengikutnya.
Dari situlah dusta dan kebohongan semakin menjadi-jadi. Dituangkan dengan pena hitam pekat dalam selembar kertas kusut, lalu tersebar melalui mulut pendusta dan tangan-tangan kotor.
Mengubah banyak fakta dan terus menumpuk kebohongan di atas kebohongan lain. Untuk kepentingan pribadi, golongan, serta keturunan mereka sendiri.
Pada momen puncak merendahkan suatu ras tersebut, lahir sebuah dongeng di mana bangsa Naga jatuh dalam keserakahan karena buah kehidupan yang mereka terima. Layaknya ras barbar yang tidak berakal, kekuatan yang didapat bangsa Naga membuat mereka menjadi makhluk serakah.
Mereka dikisahkan sering menuntut harta kepada ras lain, meminta tumbal dengan ancaman, lalu menghancurkan negeri-negeri manusia hanya karena bosan. Meski dikenal sebagai makhluk berakal, dalam dongeng Naga selalu dikisahkan layaknya sosok monster.
Dari semua Naga yang ada di daratan Michigan, dalam beberapa kisah disampaikan bahwa ada jenis superior yang disebut sebagai Naga Agung. Mereka tergabung dalam satu Keluarga Naga Agung yang dipimpin oleh Dewa Naga dan Dewi Naga, lalu disembah oleh ras lain seperti halnya julukan mereka.
Dalam puncak kisah kekejaman bangsa Naga di daratan Michigan, hal tersebut dimulai dari bangkitnya sifat leluhur mereka dalam diri para Naga Agung.
Kanibalisme⸻
Seakan-akan buah kehidupan telah hilang karena keserakahan, sifat itu kembali muncul dan bangsa Naga mulai kehilangan akal mereka. Itu terjadi secara serempak, tanpa ada sebuah pengecualian dan terjadi secara merata. Bahkan Dewa Naga dan Dewi Naga pun tidak luput, tiba-tiba jatuh dalam kegilaan dan memangsa para pengikut mereka sendiri.
Mereka tidak hanya memangsa sesama, namun juga ras lain dan bahkan berusaha menelan hidup-hidup salah satu putri mereka sendiri. Benar-benar berubah buas, dari sosok agung dijatuhkan sampai lebih rendah dari hewan liar.
Gunung-gunung terbakar sampai meleleh, tsunami menenggelamkan banyak negeri di pesisir, dan pegunungan dibalik menjadi sebuah lembah. Layaknya sebuah kiamat yang datang tiba-tiba, semua itu hanya terjadi dalam satu malam saja.
Pada waktu singkat tersebut, hampir semua Ras Naga Agung binasa dalam kegilaan yang berlangsung. Meski beberapa ada yang berhasil mendapatkan kembali akal mereka setelah matahari terbit, kebanyakan dari Naga tersebut lebih memilih untuk bunuh diri pada saat itu juga.
Dari semua Naga Agung yang ada di daratan, hanya tiga ekor saja yang berhasil bertahan sampai matahari terbit dan masih diselimuti kegilaan. Masing-masing mewakili langit, laut, dan daratan.
Dahulu mereka dikenal sebagai Tiga Putri Naga, tiga gadis yang lahir dari pasangan Dewa Naga dan Dewi Naga yang agung. Namun setelah kejadian tersebut, mereka bertiga mulai dipanggil dengan nama yang berbeda-beda. Entah itu sebagai Pembawa Malapetaka, Pemusnah Peradaban, atau bahkan Pembawa Kehancuran, ketiganya disebut dengan nama yang melambangkan perbuatan mereka selama menggila dalam satu malam.
Dongeng tersebut diakhiri dengan turunnya para bangsa langit ke Dunia Nyata. Seakan menunjukkan bahwa merekalah Dewa dan Dewi yang sesungguhnya, penduduk kayangan tersebut menyelamatkan para mortal dari amukan para Naga Agung dan menghabisi mereka.
Untuk menunjukkan kekuasaan mereka, bangsa langit tidak menghabisi Tiga Putri Naga yang tersisa. Mereka hanya memberikan hukuman dengan merantai para Putri Naga, lalu memenjarakan ketiganya pada tempat yang berbeda-beda.
Dalam dongeng tersebut, dikisahkan juga kemunculan beberapa pahlawan manusia yang ikut serta dalam pertarungan. Berjuang menghabisi para Naga, lalu menyelamatkan daratan dari amukan mereka. Setelah itu, dongeng pun berlanjut dengan perang suci melawan Raja Iblis Muda sebagai awal pembentukan Kalender Pendulum.
Mereka yang menjadi pahlawan dan mendapatkan berkah dari langit kelak menjadi leluhur para Raja sekarang. Memiliki kekuasaan atas kemenangan yang didapat, lalu sekali lagi membangun peradaban yang hancur lebur karena peperangan.
Di situlah akhir dari dongeng penuh dusta tersebut⸻
Dari awal sampai akhir dipenuhi dengan kepalsuan. Menipu daratan, lautan, dan bahkan langit sekalipun. Benar-benar berlumur kegelapan busuk yang dipalsukan menjadi sebuah kisah heroik.
Jika seseorang bertanya dari mana kebohongan tersebut dimulai, jawabannya adalah dari awal cerita tersebut berawal. Semuanya⸻
Semuanya adalah dusta yang dibuat oleh sang Dewi Penata Ulang.
.
.
.
.
.
__ADS_1