
Itu sempat membuat Ferytan terkejut. Dalam hitungan detik, pikiran pun dipenuhi hal-hal buruk tentang tujuan Odo ingin mempekerjakannya. Berpikir ingin segera menolak tawaran yang belum dibahas, pria tua itu pun berkata, “Jika Anda ingin saya membunuh seseorang, saya akan anggap pembicaraan ini tidak pernah terjadi⸻”
“Jangan asal mengambil kesimpulan,” potong Odo sembari berhenti menunjuk. Setelah menghela napas dengan resah karena kesalahpahaman yang ada, pemuda rambut hitam itu menjelaskan, “Kenapa kau berpikir seperti itu? Tolong jangan anggap aku orang berbahaya yang dengan mudahnya berharap kematian orang lain. Kalau aku orang seperti itu, kau sekarang tidak akan duduk di sini bersama Lily’ami.”
“Anda⸻!”
Perkataan itu membuat Ferytan kembali gemetar. Apa yang dikatakan Odo memang terdengar ringan, namun apa yang tersirat di dalamnya adalah sebuah ancaman yang sangat tajam. Dalam artian yang berbeda, Odo juga ingin berkata bahwa ia bisa saja menculik Lily’ami dan memaksa pria tua itu bekerja untuk dirinya.
Memahami ancaman tersebut dengan baik, Ferytan tidak bisa berkata apa-apa dan kembali membisu. Menundukkan wajah dan mengira telah membuat marah pemuda itu karena berusaha merampoknya kemarin malam.
Ekspresi yang diperlihatkan oleh pria tua itu sedikit membuat Odo menurunkan alisnya. Menyusun beberapa spekulasi dan membuat kesimpulan di dalam kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke peralahan melempar senyum tipis dan berkata, “Aku juga tidak marah soal kejadian kemarin. Lagi pula, aku juga sudah berlebihan membanting tubuhmu dengan keras.”
“Eng? Kenapa cara bicara Anda seakan⸻?!”
“Sihir,” jawab Odo sebelum Ferytan menyelesaikan kalimat.
Jawaban singkat tersebut membuat pria tua itu terdiam, dalam benak merasa percuma untuk menyembunyikan sesuatu karena mengira Odo bisa menggunakan sihir pembaca pikiran. Terdiam sesaat, ia hanya menundukkan wajah dengan bingung dan enggan untuk menatap lawan bicara.
Menutup kening dengan tangan kanan, memperlihatkan gelagat gelisah dan membisu. Ferytan sama sekali tidak bisa memperkirakan apa yang sebenarnya Putra Tunggal Keluarga Luke inginkan darinya. Perlahan mengangkat wajah dan menurunkan tangan, pria tua itu dengan penuh keraguan memastikan, “Memangnya … Anda ingin kami melakukan apa? Apa Anda hanya ingin memanfaatkan saya?”
“Bukan memanfaatkan, hanya kerja sama simbiosis.” Odo mengacungkan telunjuk ke depan. Sembari memasang senyum ramah, ia sekilas memiringkan kepala dan menjelaskan, “Ini sederhana. Apa yang aku inginkan adalah kau harus melakukan sebuah duel dengan seseorang, lalu menghajarnya habis-habisan sampai orang itu kapok.”
“Duel?” Itu tentu membuat Ferytan bertambah bingung, sebab itu terdengar aneh untuk Putra Tunggal Keluarga Luke meminta orang lain untuk mewakilinya dalam sebuah duel. Menatap datar dan memperlihatkan mimik wajah jengkel, pria tua itu dengan nada ketus kembali memastikan, “Anda kuat, bukan? Kenapa harus mempekerjakan saya hanya untuk sebuah duel?”
“Ini bukan masalah memang dan kalah …” Odo tidak langsung memberikan alasan yang jelas. Sembari menegakkan posisi duduk di atas kursi kayu, ia menghela napas sejenak dan dengan nada enggan menjawab, “Akan percuma jika aku yang memenangkan duel tersebut, karena itulah aku meminta kau melakukannya.”
Itu terdengar sedikit mencurigakan bagi Ferytan. Namun saat mengingat kembali latar belakang pemuda di hadapannya, pria tua itu sedikit paham bahwa orang dari Keluarga Luke memang tidak bisa asal melakukan sebuah duel dan menghajar orang lain.
“Huh, saya kurang lebih paham situasinya.” Ferytan meletakkan tangan ke pelipis, sedikit memasang ekspresi pusing dan bertanya, “Jadi, memangnya siapa yang ingin Anda lawan?”
“Prajurit Elite, Jonatan Quilta.”
Jawaban yang diberikan Odo dengan santai sekali lagi membuat Ferytan terkejut bukan main. Pria tua itu seketika menahan napas seperti orang yang menderita asma, wajahnya memucat, dan pandangan pun tampak buyar untuk beberapa detik.
“Tu-Tunggu!!” Ferytan menggebrak meja dengan keras sampai menarik perhatian beberapa pelanggan lain. Bangun dari tempat duduk dan menatap dengan sorot mata takut, pria tua itu dengan bingung membentak, “Apa-apaan itu?! Yang besar saja! Asal Anda tahu, orang seperti itu menjadi Prajurit Elite bukan tanpa alasan! Lagi pula, sekarang ini dia adalah Kepala Prajurit di Kota ini! Bagaimana mungkin saya duel dengannya?!”
“Aku tahu ….” Odo hanya melemparkan senyum tipis seakan apa yang dikatakan Ferytan adalah hal sepele. Tanpa alasan yang jelas, pemuda rambut hitam itu kembali bertepuk tangan dan berkata, “Jika kau melawannya, hampir seratus persen malah kau yang babak belur. Hasil paling parah, tanganmu bisa saja dipotong saat duel.”
__ADS_1
Mendengar itu dari orang yang menawarkan pekerjaan tersebut, Ferytan seketika naik pitam dan sekali lagi menggebrak meja. Ia menatap tajam lawan bicaranya dan membentak, “Kalau Anda sudah tahu, kenapa malah meminta saya?!”
“Sudah aku bilang tadi, aku tidak bisa melawannya.” Odo menatap dengan sorot mata dingin, sedikit memperlihatkan mimik wajah dasar dan menghela napas ringan. Sembari menundukkan kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke menambahkan, “Tidak, kurasa bukan itu. Jika aku mengalahkannya, hasil yang didapat akan percuma. Karena itulah aku meminta kau melakukannya untukku.”
Melihat ekspresi Odo yang sama sekali tidak menunjukkan kebingungan atau gelisah saat menyampaikan hal tersebut, Ferytan paham bahwa pemuda itu memiliki rencana di balik duel yang dimaksud. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang, pria tua itu menatap ke arah Lily’ami yang ketakutan karena telah melihatnya marah.
Sembari memasang senyum lembut, pria tua itu meminta, “Ami, bisakah kau pergi ke dapur dan bantu Bibi Namon? Paman rasa dia perlu bantuan karena pesanan kita belum datang-datang.”
“A-Apa Paman baik-baik saja? Ke-Kenapa Paman marah? Apa Kakak mengatakan hal menyinggung Paman?”
Perkataan anak polos tersebut sedikit membuat hati Ferytan teriris. Menghela napas sekali dan berusaha tidak emosional, pria tua itu bangun dari tempat duduk dan berjalan menghampiri Lily’ami.
Sembari mengusap kepala anak perempuan itu, ia dengan senyum hangat berkata, “Jangan cemas, Paman cuma bicara soal pekerjaan. Saat sudah dewasa, Ami pasti akan mengerti.”
“Ba-Baiklah ….”
Lily’ami segera mengangguk. Saat Ferytan mengangkat tangannya dari kepala, anak kecil tersebut segera berlari ke dapur di bagian belakang penginapan. Meninggalkan Odo dan pria tua itu bersama.
“Kau cukup peka ….” Odo hanya melemparkan senyum tipis atas apa yang pria tua itu lakukan. Melatakan siku ke atas meja, pemuda rambut hitam tersebut menyangga kepala dengan tangan kanan dan berkata, “Tentu aku punya rencana untuk kau supaya bisa memenangkan duel tersebut. Duduklah, akan aku beritahu.”
“Jujur saja, jangan salah paham. Aku hanya tak ingin anak itu terlibat dengan kebusukan orang-orang sepertimu.” Ferytan kembali duduk di tempatnya. Sembari menatap tajam seakan-akan dirinya memendam rasa benci terhadap kalangan bangsawan, pria tua itu dengan frontal menyampaikan, “Keserakahan, rakus atas kekuasaan dan harta. Kenapa orang-orang seperti kalian rela menghabisi nyawa orang lain dengan hal seperti itu?”
“Aku … akan melatih kau,” ujar Odo dengan ringan.
“Huh?” Mimik wajah Ferytan seketika tampak bingung. Setelah menghela napas panjang dan memberikan tatapan datar, pria tua itu merasa kalau lawan bicaranya sangat suka mengganti topik pembicaraan seenaknya. Tidak memiliki alasan untuk terus menekankan rasa benci, ia menunjuk ke depan sembari memastikan, “Melatih, ya? Anda ingin melatih saya?”
“Tentu, memangnya siapa lagi?” Odo berhenti menyangga kepala dan memasang senyum tipis. Kembali duduk dengan posisi tegak, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit mengangkat wajah lebih tinggi dan memandang rendah lawan bicara. Sembari menatap lurus ia menjelaskan, “Aku akan mengajari kau teknik pedang Keluarga Luke. Meski hanya dasar, aku rasa itu sudah cukup untukmu memberikan perlawanan yang memuaskan. Lagi pula, tujuan duel itu bukanlah untuk mengalahkan, namun untuk membuat Prajurit Elite itu mengakui bahwa kau itu pantas.”
Ferytan kembali merasakan hal yang tidak menyenangkan dari perkataan tersebut. Tersirat hal berbahaya, memiliki makna ganda dan sedikit tercampur kebohongan di dalamnya. Sejak dirinya meminta Lily’ami pergi dari tempat, pria tua itu samar-samar sadar bahwa tujuan di balik duel yang dimaksud memiliki hubungan dengan masalah Kota Pegunungan. Terutama pada kondisi politik yang ada sekarang.
“Pantas …?” Ferytan berhenti menunjuk, memberikan tatapan sinis dan dengan tegas memastikan, “Pantas untuk apa? Apa menilai aku pantas untuk bekerja untuk Anda? Atau pantas untuk hal lain seperti dilibatkan ke dalam masalah kalian para bangsawan?”
Odo sekilas memasang senyum tipis, sedikit senang dengan ucapan dan pemikiran tajam tersebut. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan, senyuman Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan melebar sampai pipi dan menjawab, “Masih rahasia.”
“Tuan ….” Kening Ferytan seketika mengerut dan kedua alisnya turun. Dengan suasana hati bercampur aduk antara cemas dan kesal, pria tua itu dengan suara pelan berkata, “Kalau Anda setengah-setengah seperti itu, bagaimana saya bisa setuju atau bahkan percaya? Tolong katakan saja supaya ini cepat selesai. Anda juga sepertinya tidak ingin membuang-buang waktu dengan orang seperti saya, bukan?”
“Hmm, benar juga ….”
Odo kembali menyangga kepala dengan tangan kanan. Menatap datar dan kembali memahami pola pikir Ferytan, Putra Tunggal Keluarga Luke seketika tahu kalau kemampuan deduksi lawan bicaranya cukup baik.
__ADS_1
Merasa bahwa pria tua itu memang cocok dengan pekerjaan yang ada, Odo segera berhenti menyangga kepala dan langsung menunjuk ke depan. Sembari tersenyum tipis ia pun menyampaikan, “Sederhananya saja, aku ingin menjadikan kau pengawal khusus Keluarga Quidra. Karena itulah, aku juga perlu menilai kepantasan kau dalam duel tersebut.”
“Quidra?” Ferytan tidak menunjukkan ekspresi bingung atau terkejut, seakan-akan telah sadar bahwa tawaran pekerjaan itu pasti akan melibatkannya ke dalam lingkup para bangsawan. Sembari memalingkan pandangan dan memperlihatkan mimik wajah tidak suka, pria tua itu menundukkan wajah dan bergumam, “Keluarga Kepala Prajurit sebelumnya, ya?”
“Hmm, benar.” Odo bertepuk tangan satu kali dan membuat pria tua itu tersentak. Saat lawan bicaranya kembali menatap, Putra Tunggal Keluarga Luke memasang senyum lebar dan berkata, “Meski gelandangan, kau tahu banyak.”
Ferytan menatap sinis, kesal dengan sikap pemuda rambut hitam itu yang seakan meremehkan dirinya. Sembari mengerutkan kening karena tersinggung, pria tua itu dengan ketus bertanya, “Apa itu pujian?”
“Ya, pujian.”
“Terserahlah ….” Ferytan menghala napas ringan, paham bahwa bangsawan memang memiliki sifat seperti itu saat berhadapan dengan kalangan bawah. Menatap lurus dan memperlihatkan ekspresi serius, pria tua itu kembali memastikan, “Pengawal khusus yang Anda maksud …, secara rinci itu bagaimana?”
“Kau akan menjadi pedang di Keluarga Quidra, lalu para perempuan di sana menjadi pegangan.”
“Eng?” Ferytan sedikit memiringkan kepala dalam bingung, menatap tidak paham dan dengan segera bertanya, “Maksudnya apa? Tolong jangan pakai kiasan seperti itu dan jelaskan secara gamblang.”
Odo sejenak terdiam, memalingkan pandangan dan mencari kalimat yang sesuai untuk menjelaskan maksud. Kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam itu menatap dengan sorot mata datar yang dingin dan kembali bertepuk tangan. Namun, tepuk tangan kali ini sangat pelan dan terdengar dingin.
“Aku ingin Keluarga Quidra sekali lagi menjadi Keluarga Knight, dengan Nona Racine sebagai pemegang gelar tersebut …. Urusan administrasi, logistik, dan personel, mereka semua yang akan mengurus hal tersebut. Lalu, untuk hal seperti memimpin prajurit akan menjadi bagianmu.”
Penjelasan itu memang terdengar cukup padat dan bisa dimengerti. Karena itulah, maksud utama yang terkandung di dalamnya membuat Ferytan tidak nyaman. Menatap cemas dan membuka tangan kanan ke depan, pria tua itu dengan gelisah berkata, “Tunggu sebentar, itu berarti aku akan masuk ke dalam militer? Memimpin para Prajurit Kota?”
“Kau memang akan masuk ke militer, tapi itu bukan berarti kau akan menjadi ketua mereka atau semacamnya. Mungkin … kau akan ditempatkan dalam posisi penasehat atau wakil.”
“Hah!!” Ferytan langsung menggerbak meja, bangun dari tempat duduk dan dengan amarah melonjak langsung membentak, “Anda sadar aku tidak suka para bangsawan, bukan? Kenapa Anda malah ingin memasukkan saya ke tempat seperti itu?! Yang benar saja! Ini⸻!!”
“Ini kesempatan kau keluar dari gaya hidupmu sekarang,” potong Odo tanpa pikir panjang. Ia menatap tajam, memberikan intimidasi dan dengan tegas menjelaskan, “Sebelumnya sudah aku katakan, bukan? Daripada kau terus hidup seperti pecundang, bagaimana jika ikut denganku dan perbaiki nasibmu …. Aku tidak berbohong soal itu. Lagi pula, jika kalian terus melanjutkan gaya hidup gelandangan, cepat atau lambat hanya kematian yang akan menghampiri kalian. Tidak ada masa depan untuk kalian.”
“Apa … yang Anda bicarakan?”
Ferytan tertegun, amarah yang sempat melonjak seketika padam. Bukan hanya karena intimidasi yang diberikan oleh Odo, namun juga hal aneh yang disampaikan pemuda itu dengan wajah serius.
“Perang ….” Satu kata tersebut keluar dari mulut Odo dengan intonasi kuat. Mengacungkan telunjuk ke depan, pemuda itu memasang ekspresi kesal dan berkata, “Pasti kau samar-samar sudah mendengar itu, bukan? Jika pekerjaanmu hanya duduk di gang dan mendengarkan obrolan orang-orang yang lewat di jalan, seharusnya rumor tersebut sudah kau dengar.”
“Ya ….” Ferytan menelan ludah dengan berat. Kembali duduk dan memperlihatkan kecemasan terhadap rumor peperangan, pria tua meletakan tangan kanan ke depan mulut dan berkata, “Para pedagang sering membicarakannya, mereka berkata kalau Kekaisaran sudah memulai pergerakan dan sudah bersiap untuk memulai perang dalam waktu dekat. Ternyata … itu bukan sekadar rumor.”
\=====================
Catatan Kecil :
Fakta 023: Layaknya Keluarga Luke yang memiliki pelayan khusus (Para Shieal), Keluarga Kerajaan Felixia juga memilikinya.
__ADS_1