Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[99] Angelus IV – Magenta Warmth (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Tepat setelah toko dibuka, orang-orang yang sebelumnya dibuat mengantre lama langsung beramai-ramai masuk ke dalam. Berdesakan, lalu berusaha saling menyerobot satu sama lain dan berteriak kepada kasir untuk memesan.


 


 


Tampak sangat tidak sabar, lalu benar-benar memenuhi Ordoxi Nigrum sampai ke sekitar bangunan di luar. Jalan utama Distrik Perniagaan pun seketika macet, dipenuhi antrean yang membeludak.


 


 


Memesan dengan lantang, menyerahkan uang, menerima bungkus pesanan, lalu membawanya pergi untuk disantap di tempat lain. Seakan datang hanya untuk mendapatkan makanan yang disajikan oleh toko, hampir semua pelanggan melakukan hal tersebut. Tanpa ada satu pun dari mereka yang ingin memakannya di tempat.


 


 


Dua jam lebih lama dari waktu buka normal, kira-kira itulah lama waktu para pengantre tersebut dibuat menunggu. Layaknya diserang gelombang orang kelaparan, para pegawai Ordoxi Nigrum pun sampai kewalahan meladeni pemesan yang berdatangan.


 


 


Ada yang kesal, mengumpat, bahkan melakukan tindakan egois dengan memesan banyak menu sekaligus. Namun, anehnya mereka tidak menyerah dan tetap mengantre selama dua jam lebih. Bahkan, para prajurit dari barak rela terlambat dan menunggu sampai toko buka.


 


 


“Duh! Kenapa enggak buka cabang lagi, sih?! Kalau setiap hari begini lama-lama pelanggan pada kabur, loh!”


 


 


“Benar tuh! Padahal enak! Meski tempatnya sempit, paling enggak kami berharap pelayan yang cepat untuk dibungkus! Kenapa hari ini bukannya lama banget!!”


 


 


“Gara-gara mengantre aku jadi telat, tahu! Bagaimana kalau gaji ku dipotong lagi?! Akh! Untung atasanku sendang ikut ekspedisi dan belum pulang, kalau tahu dia bisa menurunkan pangkatku!!”


 


 


“Makanya jangan pesan banyak-banyak! Kasihan yang lain!”


 


 


“Diam kau! Ini buat menyumpal mulut senior ku supaya enggak mengomel!”


 


 


“Tch! Terserah saja, cepat berikan dia pesanannya! Aku juga tak ingin di sini terus! Masih banyak pekerjaan yang harus diurus, tak seperti para prajurit yang makan gaji buta!”


 


 


“Siapa yang kau bilang makan gaji buta, huh?!”


 


 


Sembari mengantre, mereka benar-benar berdebat satu sama lain. Baik itu prajurit dari barak, penjaga, pedagang, atau bahkan pengusaha dari luar kota yang baru ingin mencoba menu di toko tersebut.


 


 


Milik Putra Tunggal Keluarga Luke, itulah satu-satunya hal yang membuat orang-orang tersebut tidak saling baku hantam. Meski diselimuti rasa kesal, geram, dan saling mengumpat, para pengantre tetap berusaha untuk tidak melakukan kekerasan.


 


 


Seakan telah terbiasa dengan omelan para pelanggan, Elulu yang bertugas di meja konter hanya memasang senyum ramah kepada mereka. Berusaha tetap bersikap profesional. Ia dengan cekatan mencatat pesanan yang diminta, lalu menyerahkannya kepada Isla di dapur.


 


 


Saking banyaknya pesanan yang berdatangan, mereka yang biasanya bertugas sebagai pelayan seperti Sittara, Mirin, Ririru, dan Ritta harus ditarik untuk membantu di dapur dan membungkus pesanan yang telah masak. Meski begitu, tetap saja hal tersebut cukup untuk membuat mereka kewalahan karena pesanan yang tidak kunjung berhenti.


 


 


Untuk Mattari sendiri, ia tetap berada pada bagian kasir di meja konter untuk membantu Elulu. Menghitung uang yang diberikan pelanggan, lalu menyiapkan kembalian supaya mempercepat pelayanan. Untungnya, pagi ini kedua kasir tersebut telah menyiapkan uang kecil untuk kembalian sehingga transaksi berjalan lancar.


 


 


Di depan toko bangunan toko Ordoxi Nigrum, Matius dan Totto juga tapak kewalahan. Mengatur antrean, lalu memberikan arahan kepada para pelanggan supaya tidak ricuh atau membuat keributan di jalan.


 


 


Karana antrean yang benar-benar membeludak dalam waktu singkat, mereka yang biasanya menjadi buruh kasar berakhir membantu dan berhadapan langsung dengan pelanggan. Meski sebenarnya itu bukanlah keahlian mereka.


 


 


Ramainya toko memang merupakan hal yang bagus. Namun, bagi para pegawai itu sangatlah melelahkan. Peninjauan pelayanan yang dilakukan setiap hari seakan tidak berarti, sebab pada hari berikutnya jumlah pelanggan akan bertambah dan secara sekaligus datang lebih awal.


 


 


Di luar kegiatan pelayanan Ordoxi Nigrum yang berlangsung. Pada lantai dua bangunan toko tersebut, sang biang keladi antrean yang menumpuk malah duduk tenang.


 


 


Memasang senyum tipis dan memperlihatkan wajah tanpa rasa bersalah. Mengangkat kaki kanan ke atas kaki kiri, lalu meletakkan siku ke atas meja dan menyangga kepala.


 


 


Ialah Odo Luke, pemilik toko yang membuat pelanggannya sendiri menunggu selama dua jam lebih. Membuat pegawainya sendiri kewalahan, lalu meninggalkan mereka begitu saja setelah keperluan selesai.


 


 


Ruangan tersebut tertutup. Pencahayaan berasal dari lampu kristal di langit-langit, dipenuhi sekat dan meja kerja, lalu berkas-berkas pengarsipan, itulah lantai dua toko yang berfungsi sebagai pembukuan kegiatan administrasi perusahaan.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke menghela napas panjang. Menatap beberapa pegawai bagian administrasi di hadapan, lalu memberikan tatapan lelah setelah memeriksa salah satu laporan dari mereka.

__ADS_1


 


 


“Jelas saja Arca stress,” ujar Odo kepada para pegawai administrasi.


 


 


Di hadapan pemuda rambut hitam tersebut berdiri Luna, Nanra, dan Yor’an. Selain ketiga orang tersebut, ada juga kombinasi yang tampak cukup langka seperti dua Elf dari Kerajaan Moloia, Laura dan Magda.


 


 


Mengesampingkan mereka belum mandi, istirahat, atau masih terkejut karena Odo sudah kembali, Putra Tunggal Keluarga Luke tetap melakukan peninjauan kinerja administrasi.


 


 


Setelah memeriksa satu laporan, ia mengambil perkamen lain dari atas meja. Dengan saksama memeriksanya, lalu mencari kekurangan yang ada untuk memastikan sesuatu.


 


 


Selain Nanra yang telah mengetahui tata cara pembukuan yang baik dari Odo, mereka semua menggunakan pencatatan yang sedikit berbeda-beda. Meski secara garis besar memiliki hasil akhir yang tepat, tetap saja untuk dijadikan sebuah laporan itu terlalu rumit.


 


 


“Aku senang dengan pencatatan yang kalian buat, ini tampak rapi. Terutama Laura dan Magda, aku tidak menyangka kalian bisa mengikuti meski baru bergabung. Namun ….” Odo meletakkan perkamen ke atas meja. Sejenak menarik napas ringan, ia menggaruk bagian belakang kepala dan lanjut menyampaikan, “Laporan kalian rasanya terpisah-pisah. Kalau bisa, selanjutnya tolong sesuaikan dengan punya Nanra. Supaya nanti bisa dimasukkan ke buku besar yang sudah dibuat Elulu.”


 


 


“Berarti … laporan saya sudah benar, bukan?” tanya Nanra.


 


 


Mendengar hal seperti itu, Odo berhenti menggaruk kepala dan menatap datar. Mementingkan diri sendiri, untuk sesaat dirinya merasa sifat tersebut sangat lekat pada diri Nanra.


 


 


Odo berhenti menyangga kepala, lalu meletakkan perkamen ke atas meja. Setelah meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, Odo mengubah posisi duduk dan menghadap ke arah para pegawainya. Menatap datar mereka, lalu benar-benar meninjau ulang kinerja untuk memudahkan pekerjaan Arca.


 


 


“Mengesampingkan Laura dan Magda yang akan aku bawa ….” Putra Tunggal Keluarga Luke menatap ke arah Luna dan Yor’an dengan mata setengah terbuka. Menunjuk ke arah mereka berdua, ia dengan tegas menyampaikan, “Untuk selanjutnya, tolong sesuaikan dengan laporan Nanra. Jangan sungkan bertanya padanya. Meski masih bocah, dia senior kalian dalam pekerjaan ini.”


 


 


“Bo⸻!”


 


 


Nanra tersentak mendengar itu, mulutnya terbuka dan ingin membantah. Namun karena tatapan dari Roh Agung yang berdiri di belakang Odo, gadis rambut putih keperakan tersebut segera memalingkan pandangan dan terdiam.


 


 


“Baiklah, Tuan Odo. Lain kali kami takkan ragu bertanya,” jawab Luna, sang Penyihir dari Lokakarya Hulla.


 


 


 


 


Mengesampingkan mereka berdua, Odo Luke menatap tajam ke arah Yor’an Botan. Mengingat-ingat bagaimana terakhir kali bertemu dengannya, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya bisa tersenyum kecut.


 


 


Seorang pecandu dan bunga malam, kedua kesan tersebut masih melekat kuat dalam persepsi Odo. Menganggapnya sebagai wanita jalang, lalu sedikit memandang rendah karena latar belakangnya yang bisa dikatakan sangat buruk dalam masyarakat normal.


 


 


Berusaha mengesampingkan hal seperti itu dan melupakan masa lalu, Odo melempar senyum hangat dan bertanya, “Apa kau sudah terbiasa dengan pekerjaan di sini? Kata Arca, kau bahkan belum satu minggu bekerja, bukan?”


 


 


“Su-Sudah ….”


 


 


Yor’an tidak berani menatap wajah Odo. Meski karena pengaruh alkohol dan candu, tetap saja ia samar-samar ingat pernah melakukan hal tidak sopan kepada Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


Setelah menerima tawaran dari Luna, perempuan rambut abu-abu tersebut paham pasti akan bertemu dengan Odo. Ia juga telah membulatkan tekad untuk berubah, angkat kaki dari kehidupan busuk dan meraih kesempatan baru yang diberikan.


 


 


Tetapi, tetap saja rasa takut seketika mengisi benak Yor’an saat berhadapan langsung dengan Odo. Meski pemuda itu tampak ramah dan berbicara dengan nada yang terdengar santai, namun tatapan dari Roh Agung di belakangnya seakan memberikan intimidasi kuat.


 


 


“Vil ….” Odo menyadari tatapan yang Roh Agung berikan kepada mereka. Menoleh ke belakang dan menatap datar perempuan bercadar tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan kesal menegur, “Sudah berapa kali aku bilang, tolong jaga tatapan. Kau sekarang⸻”


 


 


“Diriku sengaja,” potong Vil dengan nada judes. Sekilas memalingkan pandangan, Roh Agung tersebut mengeluh, “Katanya hanya mau mengajak dua Elf di sana dan langsung pergi? Kenapa malah mengurus ini-itu segala? Malah dari tadi benar-benar tidak peduli padaku!”


 


 


Yah, itu salah kau sendiri.”


 


 


Odo menghela napas ringan. Mengingat kembali kelakuan Vil setelah pembicaraan dengan Arca selesai, Putra Tunggal Keluarga Luke seketika memperlihatkan mimik wajah malas.


 


 


Layaknya seorang yang perempuan yang baru tahu arti dari menggoda laki-laki, sang Vil benar-benar melakukan tindakan tidak senonoh di hadapan semua pegawai Ordoxi Nigrum. Roh Agung tersebut duduk pada meja tepat di hadapan Odo, lalu meregangkan ************ dan langsung memeluknya dari depan.

__ADS_1


 


 


Tentu saja itu sangat tidak senonoh, sangat tidak pantas di lakukan di depan orang-orang, apalagi saat ada anak-anak melihat di tempat tersebut.


 


 


Berusaha untuk tetap bersikap terhormat di depan para pegawainya, Putra Tunggal Keluarga Luke pun sepenuhnya mengacuhkan Vil mulai detik tersebut. Bahkan sampai naik ke lantai dua, lalu baru berbicara kepadanya sekarang.


 


 


“Roh itu selalu menjunjung tinggi sebuah kontrak, dengan kata lain perkataan mereka. Oleh sebab itu ….” Seraya memperlihatkan ekspresi angkuh, Vil mengacungkan telunjuk depan dan menegaskan, “Ini salah Odo sendiri karena selalu ingkar!”


 


 


Odo sama sekali tidak berniat menerima logika seperti itu. Kembali tidak memedulikan Roh Agung tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke segera menoleh ke arah Yor’an untuk melanjutkan pembicaraan.


 


 


“Aku tidak bisa berkata banyak tentang masa lalu yang kau miliki. Namun, anggap saja orang-orang di tempat ini adalah keluarga sendiri. Meski ada beberapa orang yang masih memandang dirimu rendah, cobalah melakukan hal baik supaya cara pandang tersebut berubah.”


 


 


Yor’an terkejut saat mendapatkan perkataan seperti itu. Untuk beberapa alasan, ia merasa telah salah paham terhadap sifat Odo Luke. Karena rumor dari orang-orang pemerintahan, dirinya mengira pemuda itu pemarah seperti Arca Rein.


 


 


“Ba-Baik, saya akan berusaha memenuhi harapan Tuan Odo,” ujar Yor’an.


 


 


Melihat pembicaraan berlangsung begitu saja, Vil seketika kesal. Roh Agung tersebut melingkarkan kedua tangan ke leher Odo, lalu berusaha mengganggunya.


 


 


Tetapi, pemuda tersebut sama sekali tidak peduli. Tetap tenang dan memasang ekspresi ramah, bahkan senyuman pun tidak luntur.


 


 


“Baiklah, untuk Laura dan Magda ….” Dari mimik wajah yang tampak ramah, dalam hitungan detik tatapan gelap terpancar dari mata Odo. Seakan menganggap kedua Elf yang disebutnya adalah musuh, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Tugas kalian di tempat ini sudah berakhir. Momen kalian unjuk gigi sudah hampir tiba, persiapkan diri dan kita akan segera berangkat.”


 


 


Mendengar hal tersebut, baik Laura ataupun Magda, mereka saling menatap dalam bingung. Tidak terlalu paham dengan apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke sampaikan.


 


 


“Tujuan kamu … masih ingin mencegah peperangan, bukan?” tanya Laura memastikan. Elf rambut pirang panjang sebahu tersebut menatap cemas, merasakan hal berbeda dari pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Mendengar pembicaraan bergerak ke tahap serius, Vil berhenti mengganggu Odo. Ia melepaskannya, lalu melayang ke belakang untuk sedikit menjaga jarak.


 


 


“Tenang saja, itu masih belum berubah. Namun ….” Odo bangun dari tempat duduk. Menatap lurus ke arah kedua Elf tersebut, pemuda rambut hitam tersebut mulai melebarkan senyum gelap dan kembali berkata, “Ada tugas yang harus kalian lakukan dulu. Setelah merusuh dan sampai hampir memicu perang, jangan pikir kalian bisa melupakannya begitu saja.”


 


 


“Tunggu!” Magda menyela. Dengan tatapan cemas dan mengingat kembali tujuan mereka masih berada di Ordoxi Nigrum sekarang, Elf tersebut meletakkan tangan ke dada dan menegaskan, “Kami berdua di sini demi Putri Ulla! Tujuan kami adalah untuk membalaskan dendam kepada entitas yang telah menenggelamkan kapal kami! Sosok yang pernah kau sebutkan sebelumnya! Karena itu⸻!”


 


 


“Aku tahu,” tegas Odo. Berhenti memasang senyum, ia perlahan menyipitkan sorot mata dan bertanya, “Memangnya … kalian bisa mengalahkan sosok itu? Dia kemungkinan besar adalah seorang dewi, sebab bisa melakukan manifestasi seperti itu dan menggunakan kekuatan alam dalam skala besar. Kalian yang hanya seorang Elf yakin bisa mengalahkannya?”


 


 


Baik Laura ataupun Magda, mereka tidak bisa membantah hal tersebut. Itu memang sangat tepat dan bisa diperdebatkan. Dipaksa memahami betapa lemahnya diri mereka, kedua Elf tersebut menundukkan wajah dengan risau.


 


 


“Lalu …, apa yang akan kamu lakukan? Apa yang harus kami lakukan?!” tanya Magda.


 


 


Seakan telah menunggu pertanyaan tersebut, Odo seketika kembali menyeringai. Mengangkat telunjuk ke depan mulut, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Tenang saja. Memangnya untuk apa aku jauh-jauh kembali dari Rockfield? Daripada kalian mati konyol dalam eksekusi, ini jauh lebih bermakna dan menarik. Aku jamin itu ….”


 


 


Senyuman itu membuat semua orang menggigil, sepenuhnya menghapus kesan baik hati dan ramah dari Odo. Lebih licik dari Arca, lalu memiliki karisma yang bisa berubah-ubah dengan cepat sesuai kehendaknya sendiri.


 


 


Memahami hal tersebut, seketika mereka tidak bisa lagi memahami Odo Luke itu orang seperti apa. Bahkan, saat melihat itu Nanra diingatkan kembali dengan jati diri Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


Bagaimanapun, pemuda itu adalah seorang bangsawan dan lahir di Kelurga Luke. Darah Pedang Kerajaan dengan jelas mengalir pada nadi miliknya, mewarisi sifat-sifat yang sudah semestinya dimiliki para Luke terdahulu.


 


 


Temperamen, aneh, kuat, penuh intimidasi, dan kesan harus darah seakan melekat pada dirinya. Layaknya Kepala Keluarga Luke sekarang, Dart, sang Ahli Pedang.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2