Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[80] Antara malam dan fajar (Part 03)


__ADS_3

“Hah …?” Laura menoleh ke belakang dan melihat pria yang menusuknya. Sesaat Elf tersebut benar-benar bingung karena pria tersebut tidak terdeteksi sihir sensornya. “Kenapa bisa? Seharusnya … partikel cahaya milikku bisa mendeteksi semua makhluk hidup yang masuk dalam jangkauan ….”


“Hmm, maksudmu sejenis Mana yang tersebar di sekitar tubuhmu?” Logi menarik pedangnya, membuat Laura jatuh tengkurap di atas rerumputan dan pendarahannya semakin parah. Sembari mengayunkan pedang dan membersihkan darah dari bilah, dengan tatapan datar pria tersebut berkata, “Itu percuma. Sihir milik Ligh sedikit unik meski dia bukan seorang Native. Kamu tahu, wahai Elf. Aku berjalan mendekat tanpa teknik khusus. Kau yang dari awal saja sudah terganggu persepsinya ..., tepatnya sejak jatuh ke tengah kota.”


“Huh? Tengah kota? A⸻!”


Pada saat itu, Laura baru menyadarinya bahwa tempatnya jatuh sangatlah sepi. Untuk sebuah halaman depan Gereja Utama, itu tampak tidak wajar apalagi setelah insiden penyerangan para monster.


“Tempat ini bukan halaman Gereja Utama,” ujar seorang Butler lain yang berjalan ke arah mereka. Ia membawa sebuah medali yang terbuat dari kayu berwarna hitam, lalu dengan nada datar kembali berkata, “Terlepaslah ….”


Saat mendengar apa yang diucapkan pria tersebut, persepsi Laura kembali normal dan seketika pemandangan di sekitar pun berubah. Awalnya ia mengira jatuh ke halaman Gereja Utama karena sebelumnya Arca akan jatuh ke tempat tersebut, namun faktanya bukan begitu. Tempatnya terbaring berlumur darah adalah persimpangan jalan menuju distrik perniagaan. Tepat berada di keramian kota.


Tentu saja tempat tersebut tidak sepi, orang-orang di belakang Arca dan kedua Butler pribadinya mulai berkumpul untuk menonton. Entah itu pedagang, pelancong, ataupun masyarakat asli Mylta, mereka berkerumun dan melihat dengan penuh rasa takut ke arah Elf tersebut.


Melihat kerumunan yang semakin memadat, Laura seketika paham bahwa penyusupan benar-benar terbongkar dan berakhir sia-sia. Tetapi, pada saat itu juga dirinya malah merasa bingung. Bukan cemas dengan nasibnya nanti setelah tertangkap, Laura benar-benar dibuat tidak mengerti kenapa dirinya bisa jatuh ke tempat tersebut.


“Hey, Elf! Jangan mati, ya! Aku diperintahkan Odo untuk menangkap, bukan membunuh kau,” ujar Arca sembari berdiri di dekat Laura yang terkapar. Sembari menginjak kepala Elf tersebut, Arca perlahan tersenyum gelap dan berkata, “Ah, benar juga. Kau Elf hebat, bukan? Hal seperti ini tidak akan membunuhmu, ‘kan? Wah, hebat sekali! Jadi, apa perlu aku potong-potong supaya tidak bisa bangkit lagi?”


Laura benar-benar sekarat, ia tidak bisa membalas hinaan tersebut dan dengan lemas dirinya hanya bertanya, “Ke-Kenapa … bisa ….? Diriku seharusnya ….”


“Ah, hmm!? Kau masih penasaran?” Arca berhenti menginjak wajah Elf tersebut, lalu berjongkok di sebelahnya dan berkata, “Kalau begitu, akan aku beritahu. Aku hanya mengubah arah jatuh.”


“Me … ngubah …?”


Laura benar-benar tidak mengerti. Dalam ingatannya, seharusnya memang dirinya telah memperhitungkan arah jauh ke halaman Gereja Utama. Bahkan sebelum tercekik tali gantung yang merupakan perwujudan salah satu kekuatan Arca, dirinya memang sudah memperhitungkan akan jatuh ke halaman Gereja Utama.


Melihat mimik wajah Laura yang tampak sangat tidak mengerti dan dipenuhi keputusasaan, Arca semakin menikmatinya dan malah menghajar wajah Elf tersebut. Tidak puas satu kali, ia kembali menghajar dan terus menghajar sampai beberapa gigi Laura rontok.


“Ak …ekh ….”


Mendengar Laura mengeluarkan suara sekarat dan tampak akan pingsan, Arca berhenti menghajarnya. Ia menatap datar dan berkata, “Caranya sederhana. Saat kau tercekik, apa kau pikir itu tidak mengubah arah jatuhmu? Konsepnya seperti ayunan. Saat kau tercekik, tubuhmu berayun dan berubah arahnya.”


Mendengar ucapan Arca, dengan kesadaran yang semakin menipis Laura perlahan membuka matanya. Darah yang keluar dari luka tusuk membuat kulitnya semakin memucat, lalu mati rasa dan bahkan tidak lagi merasakan sakit dari luka memar di wajah.


Melihat Elf tersebut sudah tidak memiliki kekuatan untuk berbicara, Arca menghela napas ringan dan berdiri. Sembari memalingkan pandangan dengan sedikit resah pada kerumunan yang semakin banyak, ia dengan nada lesu menjelaskan, “Karena tidak sadarkan diri, kamu tidak memastikan arah jatuh sampai akhir, bukan? Setahumu, kamu akan jatuh di sekitar Gereja Utama. Karena memang aku sebelumnya jatuh ke arah tersebut. Tepat saat kesadaranmu melayang setelah tercekik, aku mengubah arahnya dengan ayunan tali gantung. Untuk ilusi yang dibuat Ligh, yah pada dasarnya kamu saat jauh ke tempat ini sudah masuk ke dalam ilusi. Itu adalah kemampuan Ligh yang diperluas dengan artefak sihir …. Bukan hanya kau saja yang pandai menggunakan alat seperti itu.”


Arca mengambil medali yang terkait pada sabuk Laura, benda sihir tersebut identik dengan apa yang dipegang oleh Ligh. Melihat apa yang diambil oleh Arca, sang Elf baru sadar bahwa benda tersebut ternyata telah menempel padanya.

__ADS_1


“Be … gitu …, ya …? Saat itu ….”


Meski dalam kesadaran yang hampir hilang sepenuhnya, Laura paham fungsi medali kayu tersebut dan tahu kapan Arca memasangkan itu kepadanya. Tepat pada saat melancarkan serangan menggunakan debu dan jarum pasir, pemuda dari keluarga Rein tersebut diam-diam menyembunyikannya ke dalam serangan. Sihir sensor milik Laura hanya bisa mendeteksi keberadaan gelombang dan sejenis energi, karena itulah artefak sihir yang belum aktif hanya diidentifikasikan ke dalam objek mati dan tidak masuk dalam deteksinya.


“Tenang saja, aku takkan membunuh kau, wahai Elf dari Moloia.” Arca kembali menatap Laura, lalu sembari tersenyum ringan berkata, “Sudah aku bilang tadi, bukan? Tujuan kami hanya menangkap penyusup…. Yah, setelah membawa kamu ke tempat Odo, kami berniat menyerahkanmu ke pihak pemerintah kota, sih.”


ↈↈↈ


Ordoxi Nigrum. Pada lantai satu bangunan toko tersebut, Odo hanya duduk lesu di meja yang sama dengan Elf yang beberapa saat lalu menyerang tempatnya. Orang-orang yang sebelumnya diserang semuanya naik ke lantai dua, begitu pula Canna yang sebelumnya paling parah kondisinya.


Tanpa berniat menjelaskan situasi sebenarnya kepada orang-orang yang bekerja untuk tokonya, Odo Luke mamang berniat berbicara empat mata dengan Magda Klitea, seorang Sersan dari fraksi Sistem Pengadilan dan Politik Kerajaan Moloia. Tanpa merapikan ruangan ataupun meletakan dengan benar mayat rekan Magda, Ul’ma Lilitra, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut memulai pembicaraan.


“Bicaralah, akan aku dengarkan alasan kalian. Kalau memang ini rencana Putri Ulla, berarti jalur damai sudah hilang dari opsi dan akan mengubah semua rencana dari pencegahan perang ke persiapan perang ….”


Mendengar apa yang dikatakan pemuda di hadapannya di bawah pencahayaan yang terkesan redup, raut wajah Magda yang sebelumnya tampak takut dengan cepat berubah kesal. Ia segera mengangkat wajah, menatap tajam dan dengan tegas berkata, “Kamu sudah memulainya! Dasar sialan! Kamu menyerang kami dan menenggelamkan kapal Tuan Putri! Itu sudah termasuk deklarasi perang!!” Elf rambut pirang panjang sebahu tersebut benar-benar murka, mulai tidak mengerti kenapa Tuan Putri yang dirinya layani bisa-bisanya percaya pada pemuda dari Keluarga Bangsawan Luke tersebut.


Meski rasa takut dari trauma yang dideritanya setelah pernah dikurung dalam Realm Dunia Kabut, namun amarah dalam benaknya membuat Elf tersebut bisa berbicara dengan tanpa ragu. Tetapi, meski begitu dirinya pada detik itu juga sama sekali tidak berani mewujudkan amarahnya dengan menyerang Odo.


“Sebelumnya kau juga bicara soal itu, ditenggelamkan di tengah perjalanan. Kenapa kalian bisa yakin kalau aku yang melakukannya?” tanya Odo yang samar-samar sudah memperkirakan siapa yang sebenarnya telah menenggelamkan kapal Tuan Putri Ulla. Sedikit memalingkan pandangan, ia menghela napas kecil dan bergumam, “Jelas saja waktu aku datang ke kediamannya penyihir itu tidak langsung menemuiku.”


“Sihir perwujudan raksasa energi yang keluar dari balik awan tebal …. Di dunia ini hanya kamu yang bisa menggunakannya! Kami hanya tahu kamu!!” jawab Magda dengan nada membentak.


“Apa … perwujudan itu memiliki kulit?” tanya Odo sembari kembali menatap lurus Magda.


“Hah …?” Magda memasang mimik wajah bingung, merasa Odo ingin mengelak dan kembali berkata, “Bagaimana aku tahu! Seluruh tubuhnya terbuat dari petir dan seperti padatan energi! Tiba-tiba muncul dari pusaran awan dan langsung menenggelamkan kapal kami dengan telapak tangan raksasanya!”


“Berarti kau melihatnya, bukan? Jadi, apa dia memiliki daging dan kulit? Bukan hanya tengkorak, ‘kan?”


Pertanyaan yang diajukan Odo untuk sesaat membuat Magda terdiam, mengingat-ingat kembali momen ketika teror nyata yang sedang dibicarakan menenggelamkan kapal yang dinaiki Tuan Putri Ulla dan rekan-rekannya.


Pada perjalanan dimana hanya tinggal satu hari lagi sampai ke salah satu pelabuhan Moloia, tiba-tiba sebuah badai datang dan di langit dengan cepat tercipta pusaran awan raksasa.


Dari dalam pusaran badai tersebut, sebuah manifestasi ilahi berbentuk raksasa muncul. Tubuhnya terbentuk dari padatan energi petir, berukuran sangat masif dan bahkan kapal besar tempat mereka berada pun tidak lebih besar dari telapak tangan raksasa yang setengah tubuhnya masih berada di dalam pusaran awan tersebut.


Pada waktu itu, dengan cepat dan sama sekali tidak bisa melakukan perlawanan, dalam satu ayunan tangan kapal pun ditenggelamkan.


Meski hanya beberapa detik saja Magda melihat raksasa tersebut, dirinya dengan jelas tahu bentuk manifestasi energi dalam jumlah masif tersebut memang bukanlah tengkorak. Itu memiliki postur wajah dari hidung, mata, dan telinga, meski pun tidak begitu jelas karena terbentuk dari pancaran energi petir yang sangat terang.

__ADS_1


“Raksasa petir itu … memiliki wajah, tidak seperti waktu yang muncul di langit kota ini.”


Kalimat tersebut keluar dengan nada penuh rasa cemas, secara nurani tidak mau mengakui bahwa yang mengerang mereka bukanlah Odo. Setelah serangan manifestasi berukuran masif tersebut dan Magda beserta rekan-rekannya tersadar, mereka semua berada di atas puing-puing kapal dan di sana sudah tidak ada Putri Ulla. Dengan kata lain, mereka juga pada dasarnya tidak memastikan kematian sang Tuan Putri karena tidak menemukan mayatnya.


Melihat ekspresi yang Magda perlihatkan, Odo hanya menatap datar dan menghela napas ringan. Ia sebenarnya sudah memperkirakan hal tersebut dari ingatan Ul’ma Lilitra sebelum membunuhnya. Dalam ingatan Elf yang sudah terpenggal dan kepalanya tergeletak di lantai tersebut, Odo tahu kalau yang menyerang mereka memang adalah pengguna asli dari sihir manifestasi ilahi tersebut.


“Salah satu dari keturunan Dewi Angin Iratia dan Dewi Petir Baraq, kemungkinan besar dia yang melakukannya ….”


“Huh?” Kedua mata Magda terbuka, menatap bingung dan semakin tidak ingin percaya bahwa rencana penyerangan yang dirinya dan rekan-rekannya lakukan hanyalah karena kesalahpahaman belaka. Dengan nada penuh keraguan, Elf rambut pirang tersebut menggebrak meja dan membentak, “Jangan mengelak! Kenapa nama-nama Dewi dalam kepercayaan Felixia kamu bawa-bawa! Kamu ingin menyalahkan Dewi atas kejahatan yang telah kamu lakukan?!”


“Berpikirlah secara logika, seharusnya kau sudah sadar kalau tuduhan kalian itu hanya spekulasi. Lagi pula, mustahil bagiku mengirimkan manifestasi dalam jarak sejauh itu …. Batas paling jauh manifestasi yang bisa aku lakukan hanya beberapa belas kilometer dari Kota Mylta.”


Magda hanya bisa terdiam, meski mulutnya terus berkata bahwa Odo yang bersalah namun dalam kepala dirinya pun sadar bahwa spekulasi yang dirinya yakini memiliki banyak kekurangan. Terlebih lagi, ia sangat mengerti bahwa tidak ada keuntungan yang Odo dapat dengan menenggelamkan kapal dan membunuh Putri Ulla yang bisa dikatakan pengaruhnya terhadap politik Kerajaan Moloia kalah jauh dengan putra-putri Raja Moloia lainnya.


Melihat ekspresi lawan bicaranya yang mulai dipenuhi keraguan, Odo sesaat memejamkan mata dan memutuskan menunggu. Ia mengerti bahwa Magda sudah mulai paham bahwa ada kemungkinan lain seperti pihak ketiga yang menyerang mereka. Karena hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke itu memutuskan untuk berbicara langsung dengan pemimpin para Prajurit Peri yang mengetuai penyerangan kali ini.


“Kalau memang apa yang kamu katakan benar, kenapa bisa …. Kenapa bisa seorang Dewi menyerang kami? Apa karena kami mengusik ketenangan Kerajaan Felixia?”


Pertanyaan yang diajukan oleh Magda membuat Odo kembali membuka mata dan menatap, merasa sedikit heran karena seharusnya para Elf tidak percaya dengan kekuasaan Dewa-Dewi Langit dan cenderung lebih menganggap para Roh Agung sebagai Dewa.


“Kau tahu, pada dasarnya yang menggerakkan setiap negeri adalah para makhluk ilahi seperti mereka,” jawab Odo dengan nada resah. Sembari menyandarkan punggung ke belakang, ia dengan mimik wajah penuh beban pikiran berkata, “Setiap Kerajaan pasti memiliki kepercayaan masing-masing, bahkan untuk Moloia yang dikenal sebagai negeri dengan fokus ilmu pengetahuan. Mereka percaya dengan adanya makhluk ilahi dengan drajat lebih tinggi, karena itulah pengaruh para Dewa terhadap dunia ini tidak akan pudar.”


“Apa … yang sebenarnya ingin kamu sampaikan?” tanya Magda bingung.


“Selama ada kepercayaan terhadap Dewa dan penyembahan …, maka Dewa tersebut akan berkuasa dan mendapatkan kekuatannya. Apalagi kalau unsur yang menjadi identitas mereka disembah. Intinya, pada dasarnya peperangan yang akan pecah ini pun menjadi salah satu kehendak mereka yang berada di langit.”


“Ke-Kenapa bisa begitu? Bukannya para Dewa mengharapkan perdamaian dunia dan kebahagiaan para Mortal?”


“Kalau mereka berharap itu, mana mungkin para Dewa menarik tangan dari Dunia Nyata dan hanya meninggalkan kepercayaan.” Odo berhenti bersandar, menatap datar lawan biaranya dan dengan tegas berkata, “Mereka yang ada di langit adalah para makhluk egois, hanya mementingkan hasrat mereka saja dan sama sekali tidak memikirkan para Mortal. Meskipun ada yang peduli, itu hanya termasuk dalam hasrat dan terbatas pada bangsa serta ras tertentu saja ….”


“Lantas … kenapa kami tiba-tiba diserang? Apa … tindakan kami dengan beraliansi dengan kamu telah menyinggung sang Dewi?”


Odo tidak langsung menjawab hal tersebut. Faktanya, kapal tempat para Prajurit Peri dan Putri Ulla ditenggelamkan juga merupakan bentuk dari reaksi deklarasi permusuhan terhadap Dewi Helena.


Karena deklarasi permusuhan dan niat untuk melakukan perlawanan yang Odo lontarkan, sang Dewi Penata Ulang menggunakan kekuasaannya dan memerintahkan sang Lora Anima untuk menenggelamkan kapal Putri Ulla. Namun saat Odo kembali memikirkannya, jangka waktu yang ada juga terlalu tidak wajar karena dirinya baru melakukan deklarasi permusuhan belum lama ini.


“Kalau boleh tahu, kapal kalian ditenggelamkan kapan?” tanya Odo untuk memastikan.

__ADS_1


“Sekitar satu setengah bulan lalu ….”


__ADS_2