Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[102] Serpent II – Dipenuhi Keinginan (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Layaknya distorsi spasial yang memenuhi penjuru Dunia Astral, waktu pada tempat tersebut pun memiliki penyimpangan tersendiri. Meski ekosistem Pohon Suci sekarang masih terang dan cahaya memapar dedaunan, namun Laut Utara telah dipenuhi kegelapan layaknya tengah malam.


 


 


Jauh dari kata sempurna, itulah bagaimana menggambarkan konsep waktu pada tempat tersebut. Berdasarkan masing-masing ekosistem yang dikuasai oleh Keempat Roh Agung, waktu di Dunia Astral memiliki kondisi yang berbeda-beda.


 


 


Seakan-akan dunia para makhluk astral tersebut berotasi pada sesuatu yang menjadi sumber cahaya, eksistensi siang dan malam memang ada di tempat tersebut.


 


 


Namun, pembagian yang berlaku sangatlah ekstrem. Terang dan gelap hanya dibatasi oleh garis distorsi spasial yang ada di antara ekosistem, lalu sangat abstrak dan selalu berubah-ubah mengikuti distorsi.


 


 


Karena itulah, perbedaan waktu bisa terlihat sangat jelas dan terasa sangat eksesif jika dibandingkan dengan Dunia Nyata. Ketika Reyah baru saja melewati distorsi spasial dan sampai di Laut Utara, tengah malam seakan menyambut dirinya dengan hawa dingin.


 


 


Angin berhembus kencang, menerpa rambut dan pakaian tipis yang dirinya kenakan. Namun, semua itu tidak membuat sang Dryad menggigil kedinginan.


 


 


Saat melihat lurus ke depan, untuk sesaat sang Dryad terdiam. Ia sedikit membuka mulut dalam diam, lalu hampir menjatuhkan pedang yang dirinya bawa dengan kedua tangan. Dalam gemetar Roh Agung tersebut pun melangah ke belakang, lalu menahan napas beberapa detik untuk menenangkan diri.


 


 


Reyah terkejut bukan karena malam yang tiba-tiba menyambut setelah sampai, melainkan karena melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di Laut Utara. Pilar cahaya yang menjulang tinggi sampai langit, menembus kegelapan pekat dan menyingkirkan awan yang menghalangi.


 


 


Sebuah malam putih, lebih terang dari cahaya purnama dan sinarnya menerangi seluruh permukaan Laut Utara layaknya sebuah mentari tengah malam. Saat menyadari hal tersebut Reyah pun mulai memberanikan diri untuk mengambil langkah maju, lalu berjalan menuju ujung tebing untuk melihat pangkal pilar cahaya.


 


 


“A-Apa Odo sudah bangkit? Kenapa … harus secepat ini? Padahal diriku baru saja membuat kontrak dengannya⸻”


 


 


Perkataan Reyah seketika terhenti. Saat melihat sesuatu yang ada pada pangkal pilar cahaya, benaknya diisi rasa lega sekaligus kesal.  Membuat Dryad tersebut hanya bisa memasang wajah bingung, lalu dalam hati bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi di bawah sana.


 


 


Pada sebuah permukaan altar batu di teluk, lingkaran sihir dengan susunan rumit terbentang lebar layaknya sebuah karpet bundar. Mana mengalir sangat deras layaknya ombak dari tempat tersebut, lalu menyebar ke penjuru Laut Utara melalui pilar cahaya yang menjulang tinggi.


 


 


Reyah dengan segera memahaminya, bahwa itu adalah sebuah altar untuk ritual penyerahan wewenang dalam proses pewarisan peran Roh Agung. Melihat Odo Luke dan Vil berdiri dalam satu lingkaran sihir yang sama, sang Dryad hanya bisa menggertakkan gigi dengan rasa kesal yang semakin memuncak.


 


 


“Apa pemuda itu benar-benar berhasil menyalin susunan sihirnya dalam sekali lihat?” Reyah kembali menahan napas dengan berat seakan sesak napas, lalu dengan kesal ia pun bergumam, “Sungguh …, apa-apaan pemuda itu?! Dia memanfaatkan diriku hanya untuk ini?!”


 


 


Untuk beberapa detik Reyah ingin segera meloncat ke bawah, lalu mengacaukan ritual tersebut dengan sekuat tenaga. Namun, sebelumnya melakukannya ia langsung terhenti di ujung tebing.


 


 


Reyah paham tidak memiliki hak untuk melarang Odo Luke. Hanya bisa melihat mereka menyelesaikan ritual pewarisan, lalu termenung dalam suasana hati bercampur-aduk layaknya air keruh.


 


 


Sang Dryad membunyikan lidah. Sembari memalingkan pandangan, ia dengan kesal menggerutu, “Meski telah menelantarkan tempat ini, ikan tidak tahu diri itu tetap diakui oleh Laut Utara. Sangat mudah baginya untuk mengambil kembali wewenang dan menjadi penguasa di tempat ini! Setelah semua hal yang kami lalui, dia seenaknya duduk lagi di posisi penguasa saat butuh! Enak sekali bedebah itu!”


 


 


Reyah memutuskan untuk duduk di ujung tebing, lalu menggantung kedua kakinya dan kembali membunyikan lidah. Sembari menyangga kepala, sang Dryad menatap jengkel dengan kening mengerut.


 


 


“Enak sekali ikan tidak tahu diri itu ….” Reyah memalingkan pandangan dan meletakkan pedang ke atas pangkuan. Seraya melirik tajam dan menatap rendah ke bawah, ia menggertakkan gigi dan kembali bergumam, “Efek samping dari pengembalian wewenang itu tentu sangat besar bagi Roh Agung yang sudah beradaptasi di Dunia Nyata. Untuk bisa menahan luapan, Odo memberikan wadah dalam struktur sihir itu dan menampung sebagian wewenang yang ada untuk sementara. Tch! Dia benar-benar memanfaatkan pemuda itu dengan sangat baik.”


 


 


Rasa dengki benar-benar mengisi benak Reyah, merasa sangat kesal karena pemuda rambut hitam tersebut rela melakukan banyak hal demi sang Siren. Dikuasai oleh pikiran keruh tersebut untuk sesaat, sang Dryad mulai mengulurkan tangan kanan ke depan dan bersiap menembakkan Mana padat ke arah tempat ritual.


 


 


“Apa engkau bahagia dengan hal seperti itu?”


 


 


Seakan-akan suara tersebut diangkut oleh hembusan angin malam, dalam kepala Reyah dengan jelas terdengar bisikan salah satu pendahulunya. Hal tersebut membuat sang Dryad tersentak dalam rasa bimbang, lalu pada akhirnya mengurungkan niat dan segera menutup telapak tangan.


 


 


Sembari mengangkat dan memeluk pedang hitam, sang Dryad sejenak membisu dalam rasa bingung. Tidak mengerti pada dirinya sendiri karena berpikir untuk mencelakai Odo, pemuda yang telah dirinya pilih.


 


 


Reyah sesaat termenung, lalu mulai mendongak ke arah pilar cahaya. Berusaha mengalihkan kesedihan dengan keindahan yang ada di depan mata, sebuah pemandangan terang pilar cahaya yang berdiri kukuh layaknya Pohon Suci.


 


 


“Ini menyebalkan ….” Wajahnya yang terpapar sinar perlahan tersenyum tipis. Seakan menikmati situasi tersebut, sang Dryad dengan lega kembali bergumam, “Namun, rasa tidak terlalu buruk. Ini terasa sangat baru bagiku, entah itu kegelisahan ataupun rasa lega ini.”


 


 


Memutuskan untuk menunggu, Reyah hanya duduk di ujung tebing seraya memeluk pedang yang dirinya bawa. Mengamati ritual yang sedang berlangsung, lalu mencari tahu apa yang sebenarnya Odo inginkan dengan membagi wewenang Laut Utara seperti itu.


 


 


Setelah beberapa belas menit berlalu, pilar terang yang menjulang ke langit mulai redup. Cahaya mengecil dengan cepat, lalu pada akhirnya lenyap tanpa belas dan membawakan kegelapan kembali ke teluk Laut Utara.


 


 


Namun, saat itulah tujuan Odo menjadi semakin jelas di mata Reyah. Pemuda rambut hitam tersebut tidak ingin menguasai separuh wewenang tersebut sendirian, melainkan membaginya kembali kepada salah satu Putri Duyung yang merupakan Roh Tingkat Atas.


 


 

__ADS_1


Dari proses pewarisan yang dilakukan, wewenang Laut Utara dengan jelas terbagi menjadi tiba bagian dengan komposisi 1/4 dipegang oleh Odo, 1/4 oleh Vil, dan 2/4 sisanya dimiliki oleh Roh Tingkat Atas yang mereka tunjuk.


 


 


Komposisi yang diterapkan cukuplah aneh di mata Reyah, sebab hal tersebut membuat keseimbangan yang ada di antara mereka tak stabil. Seakan-akan memang pewarisan yang dilakukan sengaja dilakukan secara tidak sempurna.


 


 


“Apa boleh Roh Agung mewariskan wewenang seperti itu?” Emosi Reyah kembali tersulut. Ia segera bangun, lalu dengan volume tinggi berkata, “Sangat menyimpang! Sungguh sangat sesat⸻!”


 


 


Sebelum Reyah menyelesaikan perkataannya, dari arah belakang dua orang Elf mendarat dan melepaskan bentuk Manifestasi Peri mereka. Seakan tidak memedulikan kehadiran sang Dryad, kedua perempuan tersebut segera melambaikan tangan ke bahwa tebing.


 


 


“Odo!!” panggil Magda, salah satu Elf yang baru saja kembali. Seraya melambaikan tangan perempuan itu dengan lantang menyampaikan, “Tugas yang kamu berikan sudah selesai! Namun untuk sarang Leviathan yang kamu bilang, sepertinya itu memang tidak ada di sekitar sini!”


 


 


Meski terhalau gemuruh ombak dan tidak tersampaikan dengan jelas, Odo Luke samar-samar mendengarnya dan mengambil kesimpulan. Kurang lebih paham dengan apa yang Elf tersebut sampaikan, pemuda itu sedikit menoleh sembari melempar senyum tipis sebagai tanda untuk meminta mereka diam.


 


 


“Senyum orang itu memang menyeramkan, ya?” Magda menoleh ke arah rekannya di sebelah, lalu seraya mengerutkan kening kembali bertanya, “Apa Letnan juga setuju denganku?”


 


 


“Untuk beberapa alasan, diriku setuju.” Laura sejenak menarik napas dalam-dalam. Memperlihatkan gelagat waspada kepada sang Dryad yang juga ada di tebing, ia sekilas melirik dan kembali berkata, “Kalau orang lain melihat senyuman itu, mereka pasti mengira dia hanyalah pemuda ramah. Benar-benar senyum busuk ….”


 


 


Ejekan tersebut sesaat membuat udara terasa dingin. Reyah yang sedikit tidak terima menatap tajam, lalu memancarkan aura permusuhan yang cukup kuat sampai-sampai Ether di udara mengalami perubahan sirkulasi secara sempit.


 


 


“Ah, sepertinya dia juga berada di pihaknya,” benak Laura saat mendapat reaksi seperti itu dari Reyah. Menggaruk bagian belakang kepala dan kembali menghela napas, ia sejenak memalingkan pandangan dan mengerutkan kening.


 


 


“Pemuda itu benar-benar seorang gigolo,” ujar Magda seakan tidak memedulikan tatapan permusuhan sang Dryad. Seraya menunjuk ke arah teluk di bawah, Elf rambut pirang sebahu tersebut bertanya, “Tolong ke sini sebentar, Letnan. Kalau diriku tidak salah lihat, sepertinya dia sedang membuat kontrak dengan Roh Agung di sana? Bukannya dari awal dia sudah menjalin kontrak dengannya?”


 


 


“Eh?” Laura sedikit terkejut, lalu segera menghampiri rekannya dan ikut menengok ke bawah. Melihat dengan saksama aliran Mana yang terjalin antara mereka berdua, Laura seketika tersentak karana koneksi yang ada sudah berubah. “Dia memperbarui kontraknya? Apa pilar cahaya tadi muncul karena ulahnya?” gumamnya heran.


 


 


“Ini sedikit mengejutkan.” Reyah berjalan menghampiri kedua Elf tersebut. Seraya ikut melihat ke bawah dan menunjuk, sang Dryad dengan penasaran memastikan, “Meski berasal dari Dunia Nyata, ternyata kalian bisa melihat aliran-aliran tersebut. Apa itu kemampuan yang diturunkan oleh leluhur kalian?”


 


 


“Entahlah ….” Laura sedikit melangkah menjauh bersama rekannya. Sembari memberikan tatapan penuh waspada dan mengaktifkan Inti Sihir, kedua Elf berseragam pelayan tersebut dengan tegas menjawab, “Leluhur kami adalah Peri dan makhluk Dunia Nyata. Garis keturunan ras Elf kurang jelas, bahkan sebenarnya kami juga ragu dengan cerita seperti itu.”


 


 


“Ragu?” Reyah menatap sedikit heran.


 


 


“Peri berasal dari bangsa Roh.” Laura menurunkan tingkat kewaspadaan. Seraya menunjuk ke arah lawan bicara, Elf tersebut dengan tegas balik bertanya, “Kamu pikir Roh bisa memiliki keturunan dengan makhluk mortal? Apalagi melahirkan makhluk dengan tubuh fisik yang bisa beradaptasi dengan Dunia Nyata, itu tidak mungkin!”


 


 


 


 


“Ritual yang kalian lakukan adalah transfer kekuatan, atau dalam pengertian kalian disebut pewarisan ….” Magda masuk dalam pembicaraan. Seraya menatap tajam, Elf rambut pirang tersebut dengan tegas memastikan, “Anak yang muncul melalui ritual yang kalian lakukan, dia masihlah seorang Roh. Bukan makhluk mortal seperti para Elf, benar bukan?”


 


 


“Kalau kalian membuat kategori makhluk mortal seperti itu, bukankah kalian juga bukan makhluk mortal?” Reyah tersenyum tipis. Seakan dirinya terpancing dalam argumen mereka, ia dengan tegas berkata, “Kalian berumur panjang, lebih panjang dari para Mortal di Dunia Nyata. Selain itu, kalian juga bisa beradaptasi di Dunia Astral. Lantas apa yang membuat kalian berpikir Elf adalah makhluk mortal?”


 


 


Di tengah pembicaraan tersebut, tiba-tiba Odo dan Vil melayang keluar dari teluk. Mereka mendarat dengan halus pada permukaan tebing batu, lalu sesaat membuat suasana yang ada di tempat tersebut menjadi sedikit canggung.


 


 


Tidak memedulikan suasana yang ada, pemuda rambut hitam tersebut langsung menerobos masuk ke dalam pembicaraan dan bertanya, “Kalian sedang bicara apa sampai serius seperti itu? Apa tentang batasan makhluk mortal dan makhluk astral?”


 


 


Laura dan Magda seketika mengerutkan kening, secara serempak bertanya-tanya mengapa pemuda itu bisa tahu isi pembicaraan meski baru datang. Dalam rasa heran, mereka berdua segera saling menatap satu sama lain seakan sedang berdiskusi tanpa bertukar kata.


 


 


“Itu benar,” jawab Magda setelah mendapat keputusan bersama. Dengan nada sedikit tidak nyaman, Elf rambut pirang tersebut lanjut bertanya, “Memangnya kamu tahu soal batasan seperti itu? Bukankah makhluk astral dan mortal memiliki perbedaan jelas pada komposisi fisik mereka? Contohnya anak Roh yang muncul waktu itu, dia masih tergolong makhluk astral, ‘kan?”


 


 


“Secara fisik sebenarnya makhluk astral dan mortal tidak jauh berbeda, loh.” Odo sekilas memalingkan pandangan. Setelah mempertimbangkan kalimat untuk jawaban, ia segera menatap lurus lawan bicara dan menyampaikan, “Yedos dan Malkuth mereka hampir mirip, sesuatu yang membedakan komposisi bentuk kehidupan ada pada tahapan Aeons. Mortal pada umumnya sampai pada tahap Netzach, sedangkan makhluk astral hanya pada tahap Hod saja.”


 


 


Tentu saja penjelasan tersebut terlalu rumit untuk dipahami mereka. Baik itu Magda, Laura, Reyah, atau bahkan Vil, mereka semua hanya bisa memperlihatkan mimik wajah bingung tanpa bisa berkata apa-apa.


 


 


“Terlalu rumit, ya?” Odo sekilas tersenyum kecut saat melihat wajah mereka. Seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan dan memasang wajah serius, pemuda rambut hitam tersebut kembali menjelaskan, “Sederhananya, tubuh vital makhluk mortal dan astral tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Apa yang membedakan mereka hanya ada komposisi pembentuk keberadaan. Karena itulah, seharusnya Roh yang telah mendapatkan bentuk fisik bisa disentuh makhluk mortal. Ini juga menjelaskan mengapa Naga Hitam tidak terdistorsi saat berada di Dunia Astral.”


 


 


“Masih membingungkan. Namun kalau dipikir-pikir, rasanya itu benar juga.” Laura sedikit memahami penjelasan Odo. Seraya menatap penasaran, Elf tersebut berjalan mendekat seraya kembali memastikan, “Pembentuk keberadaan …, secara substansial hal membedakan pada aspek apa? Jika Roh yang telah mencapai tingkat tertentu bisa disentuh oleh makhluk mortal dengan serangan fisik, mengapa Roh dengan tingkat rendah tidak bisa diserang secara fisik? Terlebih lagi, mengapa Roh Tingkat Rendah bisa bertahan secara independen di Dunia Nyata? Di sisi lain, Roh yang tingkatnya lebih tinggi malah tidak bisa mempertahankan bentuknya?”


 


 


“Sebentar, kok kau tanya hal seperti itu? Diserang?” Odo sedikit bingung dengan analogi tersebut.


 


 


“Dulu …, saat masih aktif sebagai prajurit saya pernah bertarung melawan seorang Penyihir Roh.” Laura berdiri di hadapan lawan bicara. Seraya melipat kedua tangan ke depan, ia dengan nada penuh rasa penasaran kembali menyampaikan, “Waktu itu, dia sempat memanggil beberapa Roh tingkat rendah yang tidak bisa diriku hancurkan dengan serangan fisik. Meski interaksi melalui Mana masih bisa dilakukan dan penyihir itu bisa diriku kalahkan, tetap saja hal tersebut cukup membuatku penasaran.”


 


 


“Hmm ….” Odo menatap penuh rasa curiga, merasa ada maksud lain dalam rasa ingin tahu tersebut. Namun, bagi pemuda itu membagi pengetahuan sudah menjadi sebuah kebiasaan. Tanpa berpikir panjang dirinya menjelaskan, “Mungkin karena dia mengatur tingkat eksistensi Roh saat dipanggil Dunia Nyata. Sejauh yang aku tahu, sihir pemanggilan normal hanyalah memproyeksikan kekuatan Roh yang dikontrak ke Dunia Nyata. Jadi, itu bukan berarti Roh yang dipanggil benar-benar datang.”


 

__ADS_1


 


“Ah, benar juga. Ada metode seperti itu! Namun ….” Laura masih memiliki keraguan terhadap penjelasan tersebut. Seraya memalingkan pandangan, dengan penasaran Elf tersebut bergumam, “Kenapa setelah Roh panggilan dikalahkan, Penyihir Roh tidak bisa memanggil mereka kembali dalam jangka waktu tertentu?”


 


 


“Itu karena Yedos milik Roh yang dikontrak rusak,” jelas Odo.


 


 


“Yedos?” Laura menatap bingung.


 


 


“Sederhananya itu adalah tubuh vital, esensi kehidupan dari makhluk.”


 


 


Laura terdiam. Meski dirinya tidak benar-benar memahami penjelasan tersebut, namun apa yang disampaikan oleh Odo merupakan hal baru baginya. Membuat Elf tersebut untuk sesaat terkesima, lalu sedikit mengagumi Putra Tunggal Keluarga Luke dalam segi pengetahuan.


 


 


Odo bertepuk tangan sekali untuk mengubah suasana yang terasa sedikit canggung. Tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kita kesampingkan pembicaraan itu untuk nanti! Mari kita bahas ulang rencana penaklukan Leviathan sekarang!”


 


 


“Tunggu sebentar!” Reyah menyela. Sembari berjalan ke arah Odo, sang Dryad menunjuk ke arah Vil dan segera memastikan, “Sebelum kita mulai membahas rencana, tolong jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi tadi? Mengapa Odo perlu memperbarui kontrak dengan Roh Agung di sana?!”


 


 


“Ah, benar juga ….” Odo untuk sesaat memalingkan pandangan. Mempertimbangkan perasaan Reyah, ia merasa penjelasan yang diberikan hanya akan menjadi sebuah alasan belaka.


 


 


Seakan menyadari hal tersebut, Vil ambil bicara dan menjawab, “Odo melakukan itu karena permintaanku.”


 


 


Reyah seketika merasa muak dengan keegoisan sang Siren. Segera menatap ke arahnya dengan kesal, ia langsung menunjuk-tunjuk dan membentak, “Kenapa selalu saja dirimu melakukan hal seperti itu?! Dulu meninggalkan Laut Utara seenaknya, sekarang malah membebani manusia yang menjalin kontrak dengan diriku!”


 


 


Vil sama sekali tidak gentar. Ia berjalan ke hadapan Reyah, lalu tanpa berpikir dua kali langsung berlutut di hadapan sang Dryad. “Tolong maafkan diriku, lalu terima kasih karena telah menjaga mereka selama diriku pergi,” ujarnya seraya sujud kepada Roh Agung Pohon Suci.


 


 


“Mereka memberitahu kalian, ya?” Reyah untuk sesaat terkejut, namun rasa kesalnya masih mendominasi dan membuatnya berkata, “Dirimu pikir dengan minta maaf semua dosa yang telah diperbuat bisa hilang?! Karena dirimu pergi meninggalkan Laut Utara, hampir semua Roh yang tinggal di sini lenyap …. Mereka binasa karena perbuatanmu!”


 


 


“Itu adalah dosaku.” Vil mengangkat wajahnya. Seraya menatap lurus tanpa gentar sedikitpun, ia dengan tegas menyampaikan, “Kesalahan itu akan diriku pikul sampai akhir. Karena itu, jika engkau ingin membenci maka bencilah!”


 


 


“Tch!”


 


 


Reyah memalingkan pandangan, dipenuhi rasa kesal sampai-sampai keningnya mengerut kencang. Saat mendengar hal tersebut, ia benar-benar paham bahwa sifat sang Siren memang sangat bertentangan dengannya.


 


 


Sang Dryad balik menatap ke arah Odo, lalu segera menunjuk ke arah teluk di bawah. Sembari memasang wajah sedikit sedih, dengan nada lemas dirinya bertanya, “Lalu, kenapa kalian mewariskan wewenang kepada salah satu Roh Tingkat Atas di bawah sana?”


 


 


Reyah mengalihkan pembicara dengan paksa, memperlihatkan mimik wajah tidak senang dan benar-benar kehilangan sifat tenangnya. Memahami hal tersebut, Odo hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan mengikuti alur pembicaraan yang Dryad itu buat.


 


 


“Aku butuh perantara.” Odo berjalan ke arah Vil yang masih berlutut. Seraya menarik tangan Roh Agung tersebut dan memaksanya berdiri, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menjelaskan, “Seperti yang kau tahu, output sihir milikku sangatlah terbatas. Di sisi lain, Vil juga belum bisa beradaptasi dengan wewenang karena terlalu lama di Dunia Nyata.”


 


 


“Untuk apa?” Reyah segera menyadari kejanggalan. Seraya menunjuk Odo, sang Dryad dengan tegas menekankan, “Untuk apa kalian melakukan hal berkelit semacam itu?”


 


 


“Aku perlu suplai Mana tambahan.” Odo berhenti memegang tangan Vil. Seraya membuka kedua telapak tangan ke arah Reyah, pemuda rambut hitam tersebut dengan gamblang menyampaikan, “Melalui Roh Tingkat Atas yang aku pilih, Mana yang diambil menggunakan wewenang Luat Utara akan tersalurkan kepada diriku dan Vil. Karena itulah, perbandingan yang dibuat dalam pewarisan lebih besar Roh Tingkat Atas jika dibandingkan kami.”


 


 


“Jika hanya untuk hal semacam itu, bukankah wewenang dariku sudah cukup?” tanya Reyah meragukan.


 


 


“Suplai Mana selama penaklukan memang bisa diatasi dengan itu. Namun, keunggulan dalam medan pertempuran tidak bisa terpenuhi.” Odo berhenti membuka telapak tangan. Seraya menarik napas dalam-dalam, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menyampaikan, “Kau akan memiliki peran tersendiri selama penaklukan, sebagai pendukung bersama Vil.”


 


 


“Pendukung?”


 


 


Odo untuk sesaat terdiam, memperlihatkan gelagat ragu karena suasana pembicaraan tidak mendukung. Paham bahwa menunda hanya akan membuat Reyah semakin kesal, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut dalam benak memutuskan.


 


 


“Ya, pendukung.” Odo menggigit ujung sarung tangan kanan, lalu melepaskannya dan menunjukkan Rajah berbentuk angka romawi pada telapak tangan. Seraya menatap tajam, ia dengan nada tegas menetapkan, “Dalam penaklukan ini, aku berniat berdiri sendirian di garis depan. Kalian aku ajak hanya sebagai pendukung, bukan untuk bertarung bersamaku.”


 


 


\================


Catatan :


 


 


See You Next Time!!


 


 


Masih Leviathan!


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2