
“Jujur saja saya masih ragu, baik identitas ataupun semua yang kau katakan.” Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak meletakkan tangan kanan ke kening, memasang mimik wajah serius dan sedikit risih dengan perubahan tak terduga yang terjadi sekarang. Menurunkan tangan dan kembali menatap lawan bicara, ia dengan tegas langsung bertanya, “Namun, kau membongkar identitas seperti ini bukan tanpa alasan, ‘kan? Apa yang kau inginkan dariku, wahai Adherents.”
“Saya senang Anda langsung bertanya ke pokok pembicaraan ….” Sistine segera menarik tangannya dari leher Putra Tunggal Keluarga Luke, lalu berlutut di hadapan pemuda itu. Menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat, ia dengan tulus meminta, “Tolong selamatkan Kota ini, Tuanku! Jika terus seperti ini, kemungkinan besar Rockfield tidak akan bertahan dari serangan Kekaisaran!”
Permintaan itu juga memberitahu Odo, bahwa memang para Adherents benar-benar bergerak atas perintah Raja Gaiel. Keberadaan mereka di Kediaman Stein, membantu Agathe untuk menggulingkan Oma Stein, lalu mengatur alur supaya Prajurit Elite memiliki pengaruh lebih di Rockfield. Semua itu kemungkinan besar adalah perintah dari Raja Gaiel sendiri.
“Semuanya menjadi jelas. Selama menjalankan rencanaku, aku sempat bingung dan bertanya-tanya mengapa Raja Gaiel menyerahkan Rockfield kepada Prajurit Elite itu. Ternyata dia hanya bagian dari skema besar yang ada.”
Mendengar itu, Sistine mengangkat wajah dengan bingung. Perempuan rambut cokelat kepirangan itu menatap dan dengan heran memastikan, “Apa Anda berpikir bahwa Tuan Jonatan tidak layak untuk memimpin Rockfield? Apa beliau tidak mampu menghadapi serangan Kekaisaran?”
“Tidak juga, dia layak. Namun, dalam prosesnya Keluarga Stein bisa dipastikan runtuh.”
Odo menatap tajam, memperlihatkan sorot mata seakan tahu rencana Sistine jika dirinya tidak datang ke Kota Rockfield. Mempertimbangkan kondisi yang telah ada saat pertama kali datang dan membuat sebuah spekulasi, Putra Tunggal Keluarga Luke bisa menebak bahwa para Adherents benar-benar ingin menghapus Keluarga Stein dari daftar bangsawan Kerajaan Felixia.
Agathe meracuni Kepala Keluarga Stein, lalu membuat sebuah muslihat bahwa itu terjadi karena sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno. Fakta bahwa itu dilakukan oleh seorang istri memang sudah janggal. Meski Agathe membenci Oma, namun itu tidak cukup untuk memberi Nyonya Rumah tersebut keberanian ataupun kesempatan untuk menjalankan rencananya.
Terlebih lagi, Odo memang merasa itu tidak mungkin dilakukan seorang diri. Meski dibantu oleh orang lain, perlu sebuah pengaruh kuat dan jaminan pasti untuk membuat seorang istri meracuni suaminya sendiri.
“Apakah … Anda tidak suka dengan cara kami, Tuan Odo?” tanya Sistine seraya hendak berdiri.
Sebelum perempuan itu bangun, Odo langsung mengambil satu langkah mendekat dan meletakan telapak tangan ke atas ubun-ubun perempuan itu. Membuatnya kembali berlutut, lalu seketika gemetar karena intimidasi kuat yang diberikan sang pemuda.
“Suka atau tidak, aku tidak akan berkomentar. Namun, merusak keluarga itu bukanlah hal yang baik. Meski kalian orang-orang buangan yang dipekerjakan Raja Gaiel, tetap saja aku mohon pahami itu dengan baik-baik. Mengertilah bahwa merusak hubungan tidak akan melahirkan sesuatu yang baik.”
Meski itu seharusnya sebuah saran, namun tekanan yang ada membuat apa yang dikatakan Odo menjadi sebuah ancaman. Mengangguk paham tanpa berani mengangkat kepala, perempuan itu menjawab, “Ba-Baik, Tuanku. Akan kami ingat hal tersebut dalam benak kami.”
“Kita langsung saja ke inti pembicaraan, untuk apa kau mengajak ku bicara?” Odo mengangkat tangan dari atas kepala perempuan itu. Berjongkok di hadapannya dan menatap dari dekat, ia dengan jelas menyampaikan, “Asal kau tahu, hal seperti menyelamatkan kota atau semacamnya adalah sebuah kesombongan. Apa yang bisa aku lalukan hanya menolong.”
“Se-Seperti yang telah Anda katakan, sebenarnya kami ingin menjadikan Prajurit Elite yang dikirim Yang Mulia sebagai Walikota baru. Menggantikan Keluarga Stein dan antek-antek mereka …. Namun, situasi berubah karena kedatangan Tuan Odo. Sekarang ini Tuan Oma telah siuman dan perlahan pulih, lalu dalam waktu dekat pasti beliau akan memberikan perlawanan untuk mengembalikan pengaruh Keluarga Stein. Jika itu terjadi, Rockfield tidak akan sempat bersiap untuk menghadapi Kekaisaran!”
Penjelas itu sedikit membuat Odo mengerutkan kening. Memang ia tidak terlalu memedulikan Keluarga Stein. Namun saat membayangkan jika Raja Gaiel menggunakan cara yang sama kepada Keluarga Luke, itu membuatnya sedikit marah.
“Apa … Raja Gaiel yang memberikan perintah seperti itu?” tanya Odo memastikan.
“Tidak, Tuanku.” Sistine menggelengkan kepala dan menunduk. Dengan enggan menatap lawan bicara, ia dalam gemetar menjelaskan, “Raja Gaiel hanya mengirim surat kepada kami bahwa Rockfield harus disiapkan untuk menahan serangan Kekaisaran selama satu minggu. Untuk bagaimana melakukannya, hal tersebut diserahkan kepada kami. Kedatangan Prajurit Elite sendiri adalah karena permintaan kami untuk bisa melaksanakan perintah Yang Mulia ….”
“Ah, sialan ….” Mendengar itu, Odo segera bangun dan mengambil satu langkah ke belakang. Menepuk jidat dan memalingkan pandangan, ia langsung mengeluh, “Aku benar-benar melewatkan kemungkinan itu. Kalau dipikir lagi, memang agak mustahil Raja Gaiel mau mengirim salah satu pengawal pribadinya ke sini. Dia bisa saja mengirim orang lain atau bahkan mengirimkan pasukan saja ke sini.”
“Awalnya Yang Mulia juga ingin melakukan hal tersebut.” Sistine bangun dan menatap dengan cemas. Meletakkan tangan kanan ke depan dada, ia dengan tatapan sedikit bingung menyampaikan, “Mempertimbangkan kepribadian Oma Stein, pasukan yang dikirim mungkin malah akan dimanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Jika orang lain yang dikirim, bisa saja orang tersebut dihasut dan lalai dengan tugas. Sebab itulah kami meminta Prajurit Elite yang datang, karena ia pasti akan selalu loyal kepada perintah Yang Mulia.”
“Aku paham itu,” ujar Odo sembari melirik tajam. Menghela napas dan merasa harus mengombak beberapa rencana yang telah ada, untuk sesaat Putra Tunggal Keluarga Luke merasa menyesal karena dari awal tidak serius menghadapi persoalan yang ada. Memijat kening dan menurunkan kedua alis, pemuda rambut hitam itu bergumam, “Tunggu sebentar, aku akan berpikir dulu. Kau ingin aku membantu kalian, bukan? Mempersiapkan Rockfield supaya bisa menahan serangan Kekaisaran?”
__ADS_1
“Itu benar, Tuanku.”
Ketentuan itu menuntun Odo pada sebuah keputusan. Seakan menemukan jalan tengah untuk masalah yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke menunjuk lurus ke depan dan kembali memastikan, “Kalau begitu, apa kau mau mematuhi perintahku sekarang? Daripada menjalankan rencana yang telah kalian bicarakan dengan Raja Gaiel, apa kau mau mengikuti rencanaku?”
“Karena tujuan itulah saya mengajak Anda bicara ….” Sistine mengangguk tegas. Menatap sedikit pasrah dan bingung harus melakukan apa, perempuan itu dengan penuh rasa cemas menyampaikan, “Situasi yang ada sudah di luar kemampuan para Adherents. Kami sudah tidak tahu lagi …, apa yang seharusnya dilakukan. Ini memang memalukan, namun saya memutuskan untuk bergantung pada Tuan Odo. Sama seperti halnya yang Nona Ri’aima lakukan.”
Meski telah mendapat jawaban yang jelas, Odo tetap memberikan tatapan ragu. Mempertimbangkan kepribadian para Adherents yang bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk menyingkirkan Keluarga Stein, tentu saja keputusan mereka mencurigakan.
“Ini … terdengar terlalu menguntungkan diriku,” ujar sang pemuda ragu. Ia perlahan memasukkan sedikit bibir atas ke dalam mulut, tampak ingin mengutarakan rasa kesal dengan pola pikir yang dianut para Adherents,
Balasan itu sedikit membuat Sistine terkejut. Ingin segera mendapatkan kepercayaan Putra Tunggal Keluarga Luke, perempuan tersebut meletakkan tangan kanan ke depan dada dan dengan nada menekan berkata, “Kami juga sebenarnya sudah ragu dengan rencana awal! Menyingkirkan Keluarga Stein dan menggantikannya dengan yang lain …, memangnya moral seperti apa yang bisa kami harapkan dari pasukan yang terbentuk dengan kondisi seperti itu!”
Odo memahaminya dengan sangat baik. Dalam peperangan, yang menentukan kemenangan bukan hanya jumlah, perlengkapan, dan rencana, namun moral dan semangat juang juga merupakan faktor penting yang menentukan.
Dalam sebuah perang, satu prajurit dengan semangat membara lebih kuat daripada puluhan lawan yang tidak meragukan arti perjuangan yang dianut. Itulah fakta yang Odo pahami dari arti sebuah pertarungan.
“Jika kau tetap menjalankan rencana itu, kemungkinan besar kalian juga akan gagal. Meski berhasil mempersiapkan pasukan, tanpa semangat juang mereka akan cepat kalah.”
Sistine kembali tersentak, seraya ditampar oleh fakta yang ingin dirinya hindari. Merasa kurang berpengalaman, tidak cerdas, dan hanya bicara besar tanpa bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Dengan kepercayaan diri yang runtuh, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut berkata, “Itu benar. Saya … juga merasa demikian.”
Odo sedikit binging dengan kepribadian perempuan tersebut. Meski sebelumnya Sistine tampak semangat dan sangat percaya diri dengan loyalitas yang ada, sekarang perempuan itu malah terlihat muram dan lesu. Seakan-akan kehilangan semangat untuk berusaha.
Sistine perlahan mengangkat wajah, menatap dengan mimik wajah sedikit cemas dan meragukan, “Bukannya itu malah akan membuat perselisihan? Jika Keluarga Stein berusaha mendapatkan kembali pengaruh mereka, tentu Tuan Jonatan akan melakukan segala cara untuk mencegahnya.”
Odo merasa Sistine memiliki logika yang kuat. Merasa membodohi perempuan itu hanya akan menimbulkan kecurigaan berlebih, Putra Tunggal Keluarga Luke dalam benak memutuskan. Ia menatap tajam dan langsung bertanya, “Apa kau sudah mendengar isi perjanjian yang kubuat dengan Nyonya Agathe?”
“Hmm ….” Sistine menangguk. Memasang ekspresi sedikit mengasihani, perempuan itu dengan nada sendu berkata, “Saya mendengarnya langsung dari Nyonya Agathe. Beliau berkata kepada saya, Anda benar-benar akan melakukan hal itu dalam waktu dekat dan karena alasan tersebutlah Tuan Oma disembuhkan …. Mungkin Nyonya tampak kukuh dan berteguh hati dengan akting yang selalu beliau perlihatkan. Namun, sekarang beliau sedang bimbang dengan keputusan tersebut.”
Odo sangat memahami maksud bimbang yang dimaksud. Memaafkan Oma Stein atau tidak, kedua pilihan tersebut juga akan menentukan nasib sang Kepala Keluarga. Sebagai seorang Nyonya Rumah dan ibu dari anak-anaknya, Agathe sangat paham arti sebuah keluarga.
Meski wanita tersebut sangat membenci suaminya sendiri, namun waktu yang telah dijalani bersama bukanlah sebuah kebohongan. Terutama untuk semua anak-anak Agathe yang sangat menghormati Kepala Keluarga Stein.
Seakan tahu dan bisa memahami semua perkataan yang disampaikan Sistine, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan ekspresi tenang berkata, “Aku tidak akan melakukan itu secara langsung.”
“Eh?”
“Asal kau tahu, Nona Sistine. Tanpa aku ikut campur, umur orang tua itu sudah dekat ujungnya.” Odo mengangkat telunjuk, meletakkan itu ke kening dan dengan suara lemas menyampaikan, “Meski aku bisa memperbaiki tubuhnya, kehendak alam tidak bisa diubah begitu saja.”
“Maksud Anda, usia beliau sudah ….”
“Ya, sebentar lagi dia akan mati karena tua,” ujar Odo dengan jelas. Menurunkan telunjuk dari kening, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Mungkin karena gaya hidup atau pola makan, tubuh orang tua itu sudah sampai pada batasnya. Dalam kurun waktu dekat, ajalnya akan datang secara alami …. Namun, itu juga diperpanjang.”
__ADS_1
“Diperpanjang?” Sistine terpancing dalam perkataan tersebut. Tanpa menaruh rasa ragu sama sekali dan sepenuhnya termakan perkataan Odo, perempuan itu dengan penuh antusias memastikan, “Memperpanjang umur? Apa itu mungkin?”
“Hmm ….” Odo mengangguk. Kembali bertepuk tangan satu kali, Putra Tunggal Keluarga Luke menjelaskan, “Jika Tuan Oma lebih sering beristirahat dan menjaga pola makan, ia bisa bertahan lebih lama. Namun jika terus begadang seperti hari ini dan memikirkan banyak hal tanpa istirahat cukup, itu malah bisa mempercepatnya. Sebab itu, ikuti saja alur yang ada. Jangan membuat gelombang yang tidak perlu.”
“Ta-Tapi, masalah ini juga merupakan tanggung jawab kami!” Sistine merasa seperti dianggap pengganggu. Meletakkan tangan ke dada, perempuan itu dengan cemas berkata, “Kalau bisa, kami ingin membantu Tuan Odo! Supaya bisa menebus keteledoran kami dalam tugas ini!”
Apa yang dikatakannya membuat Odo tertawa dalam hati, merasa telah mendapatkan pion lain yang bisa digunakan. Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit senyum tipis, lalu menatap layaknya seorang penguasa.
“Kalau memang kalian memaksa, baiklah ….” Odo mengulurkan tangan ke depan dan menyentuh pipi Sistine, lalu perlahan bergerak ke dagu dan membuat perempuan itu sedikit mendongak. Berhenti tersenyum dan memasang mimik wajah serius, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas memerintah, “Awasi para pedagang Kekaisaran yang ada di kota.”
“Pe-Pedagang?” Sistine seketika heran. Mengerutkan kening dan membuat kedua alisnya turun alis, perempuan itu dengan bingung bertanya, “Apa hubungannya pedagang dengan pembicaraan ini?”
“Meski pikiranmu tajam, kau memiliki cara pandang yang sempit.” Odo berhenti mengangkat dagu perempuan itu. Mengacungkan telunjuk ke depan mulutnya sendiri, dengan mimik wajah licik Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Meski para pedagang Kekaisaran menjadi korban penyerangan monster selama perjalanan, namun kita tidak tahu siapa yang akan menjemput mereka. Menurut kau, kira-kira siapa yang akan menjemput mereka?”
“Maksud Anda ….” Sistine langsung mencerna pertanyaan tersebut. Mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar ada beberapa mata-mata di antara pedagang, perempuan rambut cokelat kepirangan tersebut memastikan, “Mereka bisa saja membocorkan informasi tentang Rockfield kepada kubu Kekaisaran?”
“Ya, ini hanya kemungkinan.” Odo sedikit menghela napas. Mengingat kembali perkamen milik An Lian yang sempat ia lihat saat berpapasan di balai kota, kemungkinan yang dibahas terasa semakin menguat. Putra Tunggal Keluarga Luke segera menurunkan telunjuk, lalu sembari menatap tajam memerintahkan, “Kalian cari saja informasi tentang mereka, dan ingat jangan membuat kegaduhan. Untuk sekarang, hanya itu permintaanku.”
“Baik, Tuanku ….” Perintah itu memang cocok untuk para Adherents. Namun memahami situasi mendesak yang ada sekarang, Sistine merasa itu kurang cocok untuk dijalankan. Menatap penuh rasa ragu mengisi benak, perempuan tersebut tanpa pikir panjang menyarankan, “Namun …, apa kita tidak perlu membersihkan mereka? Dari pada menunggu mata-mata bergerak, bukankah kita sebaiknya mencegah mereka membocorkan informasi?”
“Bahaya sekali perkataanmu ….” Odo sedikit mengerutkan kening. Memang pilihan itu cukup tepat untuk menghindari masalah. Tetapi karena ingin menghindari penyerangan yang berpotensi salah sasaran dan memperburuk keadaan sekarang, Putra Tunggal Keluarga Luke menolak, “Tidak usah, lakukan saja perintahku. Jangan membuat keributan, jangan sampai para pedagang itu tahu sedang diselidiki, dan jangan bertindak di luar perintah. Setelah mendapat informasi, langsung lapor kepadaku.”
“Siap, Tuanku ….”
Mendengar Sistine yang mengubah gaya bicara di tengah pembicaraan, Odo sedikit terganggu dan alisnya sempat berkedut. Tidak ingin membahasnya lebih dalam, pemuda rambut hitam itu melanjutkan pembicaraan dan bertanya, “Oh, iya. Ngomong-omong jumlah kalian berapa? Itu … para Adherents.”
“Jumlah? Untuk jumlah, saya hanya bisa menjawab banyak.” Sistine berdiri tegak dan meletakkan tangan ke depan dada. Sembari menatap dengan rasa percaya diri mulai mengisi benaknya kembali, perempuan itu menambahkan, “Namun untuk mereka yang berada di Kediaman Stein, kami berjumlah 14 orang termasuk saya. Selain jumlah tersebut, para pelayan yang bekerja di sini adalah orang-orang yang benar-benar loyal kepada Nyonya Agathe.”
“Hanya 14 orang? Tapi …, aku lihat kalian semua tampak seperti ahli,” ujar Odo meragukan.
“Tentu saja.” Sistine meletakkan kedua tangan ke pinggang, membusungkan dada dan dengan nada sedikit angkuh menyampaikan, “Kami melatih mereka semua untuk situasi terburuk yang mungkin bisa terjadi.”
“Ah, begitu ya ….”
Odo memalingkan wajah dengan cemas. Sedikit mengerutkan kening, dalam benak ia merasa ada yang salah dengan akal sehat perempuan itu.
ↈↈↈ
\=================
Catatan Kecil :
Fakta 030: Serikat Pedagang Lorian atau Serikat Dagang Lorian adalah salah satu persatuan pedagang besar di Kerajaan Felixia, beroprasi di Wilayah Luke dan mengembangkan sayap sampai ke Wilayah Rein. Memiliki cabang hampir pada setiap kota, namun berpusat pada Kota St. Lacus.
__ADS_1