Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[77] Tanpa sadar dirinya memandang rendah orang-orang (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Sembari menyipitkan mata, Fiola menatap tajam dan bertanya, “Anda … benar-benar sudah menguasai manifestasi malaikat, ya?”


 


 


Odo hanya mengangguk satu kali. Memalingkan pandangan ke arah bangku taman, ia mengangkat tangan kanannya dan menunjuk. “Julia, Minda, dan Imania, ambilkan bahan-bahannya dan tata sesuai arahan,” perintahnya dengan suara yang terdengar ganda.


 


 


Suara Odo sempat membuat ketiga Shieal tersebut sempat gemetar, merasakan sesuatu yang mengerikan dari pemuda itu. Seakan memang jiwa Tuan Muda mereka telah mencapai ranah yang tidak bisa mereka bayangkan, memandang rendah semua makhluk mortal yang ada.


 


 


“Letakkan Salmon di arah utara, Garam Gunung dan Garam Laut di arah selatan, Rosemary di arah barat, dan Rosella di arah timur lingkaran sihir. Lalu, berikan jarak sekitar setengah meter.”


 


 


Mendapat perintah tersebut, mereka bertiga segera melaksanakannya. Mengambil bahan-bahan dari atas bangku taman, lalu meletakkan semua itu sesuai dengan arahan Odo.


 


 


Tata ketak dan kombinasi tersebut merupakan pelambangan dari sebuah alur kekuasaan.


 


 


Dimulai dari Salmon yang merupakan perwakilan dari migrasi tahunan pada musim dingin dan semi. Sebuah gambaran dari umat manusia yang masih Nomaden, berpindah-pindah mengikuti kondisi alam namun memiliki rute pasti dalam perpindahan tersebut.


 


 


Garam Gunung dan Garam Laut sendiri mewakili alam, antara daratan dan lautan serta mineral yang ada di kedua alam tersebut. Menjadi media untuk para makhluk hidup tinggal dan menjalani kehidupan.


 


 


Melambangkan Indra manusia, Rosemary dipilih sebagai perwakilan dari penciuman karena memiliki aroma terapi yang unik. Selain itu, rempah tersebut juga bisa berarti keseimbangan, menarik perhatian, dan kebebasan. Melambangkan seorang gadis yang masih suci.


 


 


Sebagai bahan terakhir, Rosella merupakan perwakilan dari warna merah gelap. Rosella memang bisa juga diartikan sebagai bunga mawar. Namun dalam penggunaan kali ini, bunga merah tersebut melambangkan harmoni dan keindahan, lalu untuk warna merah gelap berperan sebagai simbol warna darah dari makhluk hidup.


 


 


Secara keseluruhan, semua bahan tersebut berfungsi sebagai proyeksi seorang gadis suci secara utuh. Dalam ritual, mereka yang masih perawan dibutuhkan sebagai medium untuk mencapai dimensi tingkat tinggi. Karena itulah Odo menggunakan bahan-bahan tersebut untuk membuat gambaran semu seorang perawan, sebab Fiola yang berdiri di hadapannya bukanlah seorang gadis.


 


 


“Anda yakin ingin melakukannya? Bukankah risikonya terlalu tinggi hanya untuk mencari sarang para monster?” tanya Fiola dengan cemas. Meski persiapan telah selesai, dirinya masih merasa tak ingin melakukan ritual.


 


 


“Kau tak perlu cemas ….”


 


 


Odo meletakkan stoples berisi air suci ke permukaan lingkaran sihir, lalu berdiri tegak dan menyatukan kedua telapak tangannya seperti sedang berdoa. Pada saat yang bersamaan, perwujudan sayap dari partikel cahaya mulai berubah bentuk menjadi proyeksi sepasang tangan. Kedua tangan tersebut seketika membentuk Mudra Penciptaan.


 


 


Partikel cahaya kembali berkumpul, menciptakan sepasang tangan proyeksi lain yang dengan cepat membentuk Mudra Om, Sham, Vam, dan Ram secara bergantian. Om melambangkan tenggorokan dan ucapan, Sham melambangkan mata ketiga atau pengetahuan, Vam melambangkan kesakralan, dan Ram diartikan sebagai kemauan kuat.


 


 


Saat kedua pasang tangan proyeksi telah siap untuk digunakan untuk ritual, Odo berhenti menyatukan kedua telapak tangan dan mengambil stoples yang sebelumnya diletakkan di permukaan lingkaran sihir.


 


 


Sembari menawarkannya kepada Fiola yang menatap dengan wajah sedikit pucat, pemuda rambut hitam itu berkata, “Minum airnya sampai habis dan kita mulai ritual untuk menjadikan kau Dewi Pseudo.”


 


 


Fiola menerima stoples itu. Namun tidak langsung meminumnya, ia malah menatap penuh rasa cemas dan kembali bertanya, “Tuan Odo …, wujud Anda sekarang ini ….?”


 


 


“Ya, aku sudah mencapai tingkat Dewa Pseudo.” Odo menarik napas ringan, lalu menghembuskan napas berupa aura keemasan yang merupakan Mana dari dimensi tingkat tinggi dalam tubuhnya. Sembari melirik ke arah Mavis, ia dengan suara ganda menjelaskan, “Aku sudah punya singgasana di tempat lain. Karena itu, hanya dengan air suci dari Danau Millia sudah lebih dari cukup untuk membuatku kembali mencapai kondisi ini.”


 


 


“Kalau begitu, bukannya sangat bahaya kalau Anda membuat singgasana lagi? Bisa-bisa Anda selamanya menjadi makhluk ilahi juga, bukan?”


 


 


Mendengar itu, Odo langsung menatap ringan ke arah Fiola dan menjawab, “Tentu saja, risiko yang aku tanggung lebih tinggi darimu. Kalau ritual ini gagal, mungkin sepenuhnya keberadaanku terjebak di dimensi tingkat tinggi atau tubuhku terkoyak distorsi dari Shift keberadaan yang terjadi selama ritual.”


 


 


Mendengar risiko tersebut, Mavis seketika memucat dan dengan panik berkata, “O-Odo! Kalau dipikir-pikir, sebaiknya⸻!”


 

__ADS_1


 


“Tanggung, ritual sudah siap dimulai.” Odo menoleh ke arah Ibunya, lalu sembari tersenyum ringan menambahkan, “Bunda tak perlu cemas. Asalkan Fiola tidak mengacau selama ritual, seharusnya ini akan baik-baik saja.”


 


 


Mendengar itu, Fiola mengembungkan kedua pipinya dan menggerutu, “Kenapa Anda berkata seperti saya akan mengacau?”


 


 


Odo hanya mengendus ringan, memasang senyum meledek dan tidak membalasnya. Kembali menatap Fiola dan mengacuhkan Mavis yang masih cemas, pemuda rambut hitam tersebut mulai menyatukan kedua telapak tangannya lagi.


 


 


“Cepat minum air sucinya sampai habis dan kita akan mulai ritual ini.”


 


 


“Eng, baiklah …. Terserah saja, padahal saya hanya cemas kalau ritualnya gagal.”


 


 


Dengan suasana hati masih dipenuhi rasa bimbang dan tidak percaya, Fiola meminum air suci sampai habis. Namun tidak sama seperti Odo dimana proses langsung stimulasi terjadi, Fiola tidak mengalami perubahan sama sekali.


 


 


“Keluarkan stoples ke luar lingkaran, itu bisa mengganggu ritual,” perintah Odo.


 


 


Mendengar itu, Fiola sekilas mengerutkan kening dengan kesal karena terus diperintah tanpa mendapat penjelasan yang tepat. Tanpa pikir panjang, ia langsung melempar stoples ke arah bangku taman sampai pecah.


 


 


Menatap lawan bicaranya, Fiola dengan jengkel kembali bertanya, “Jadi! Sekarang apa lagi yang harus saya lakukan!”


 


 


Odo terdiam, merasa sikap Fiola melempar stoples sampai pecah terlalu berlebihan. Berusaha untuk tidak membahas hal tersebut, pemuda itu menghela napas ringan dan menjawab, “Untuk sekarang diam saja, aku akan memulainya ….”


 


 


Odo bertepuk tangan satu kali, mengaktifkan lingkaran sihir transmutasi dan mengubah strukturnya menggunakan partikel-partikel cahaya yang berkumpul di sekitar tubuhnya. Itu menghapus beberapa garis dan Rune dalam lingkaran sihir, lalu menggantinya dengan pola lain dengan efek yang berbeda.


 


 


Pada saat yang bersamaan, batas dinding udara yang mengurung mereka berdua seketika berubah fungsinya. Itu menjadi semacam penjara ruang, memisahkan bagian dalam dan luar lingkaran secara spasial.


 


 


 


 


Bahan-bahan tersebut tidak masuk ke bagian dalam lingkaran, melainkan terserap ke dalam lingkaran transmutasi dan digunakan sebagai bahan untuk membuat singgasana sementara selama ritual. Pembatas yang tadinya kasat mata pun mulai memiliki warna, menjadi merah darah yang masih sedikit transparan.


 


 


Suara orang-orang dari luar lingkaran sepenuhnya dibatasi, aroma dan segala hal lain pun terhalau. Hanya visual yang sedikit kabur sajalah yang masih menghubungkan antara bagian dalam lingkaran dengan luar lingkaran.


 


 


Fiola yang berada di bagian dalam lingkaran pun benar-benar dibatasi, dirinya tidak lagi bisa menembus pembatas dengan ekornya atau melangkah keluar karena batas spasial yang tercipta.


 


 


Kedua pasang tangan proyeksi Odo berhenti membentuk Mudra, lalu perlahan bergerak menyentuh permukaan penghalang dan menanamkan unsur kekuatan ilahi ke dalamnya. Seketika, warna merah berubah menjadi keemasan dan singgasana ilahi secara bertahap terbentuk. Pada ruang isolasi dimana terjadi distorsi spasial antara bagian luar lingkaran dengan bagian dalam.


 


 


Di saat keempat tangan proyeksinya menyentuh permukaan pembatas, Odo berhenti menyatukan kedua telapak tangan dan berjalan semakin mendekat ke arah Fiola. Meletakkan tangan ke pundak kanan Fiola, seketika pemuda itu mengaktifkan air suci yang sebelumnya diminum Huli Jing tersebut.


 


 


Fiola dengan memasuki Mode Ilahi, rambut kepala sampai ujung ekornya seketika berubah memutih dan pada wajah muncul garis-garis merah yang membentuk pola unik seperti topeng. Pada keningnya muncul titik merah besar seperti simbol matahari, lalu pola garis melengkung pada kedua pipi.


 


 


Sebagai pemilik kekuatan, apa yang Odo lakukan kepadanya sempat membuat Fiola terkejut. Dirinya tidak mengira akan dipaksa masuk ke dalam Mode Ilahi hanya dengan sentuhan fisik.


 


 


“Apa kau siap?” tanya Odo sembari mengangkat tangan kanan dari pundak Fiola.


 


 


Sang Huli Jing hanya mengangguk satu kali sebagai jawaban, lalu menelan air liurnya sendiri dengan serat dan sedikit memalingkan pandangan. Secara pribadi Fiola tidak terlalu suka untuk mengusik kekuatan ilahinya sendiri, karena memang itu berpotensi mempercepat evolusi tahap akhir dari ras siluman rubah yang telah memiliki sembilan ekor.


 


 


Namun pada saat yang bersamaan, rasa berharap untuk menguasai tahap evolusi tersebut memang dengan jelas ada dalam benak Fiola. Sebab jika dirinya menguasai tahap terakhir dari rasnya, ia bisa dengan bebas keluar masuk ke dalam Mode Ilahi tanpa cemas terjebak di fase makhluk ilahi.


 


 

__ADS_1


Odo mengambil peta Teritorial Mylta dari saku, menyelimutinya dengan Mana dari dimensi tingkat tinggi dan membuat kertas perkamen itu melayang ke udara setinggi tiga meter. Kembali menyatukan kedua telapak tangan seperti sedang berdoa, Odo perlahan memejamkan mata dan memulai ritual.


 


 


Menggunakan Unsur Aktivasi, ia melakukan stimulasi melalui ruang di dalam lingkaran sihir dan mengakses unsur kedewaan Fiola. Memicu sirkulasi energi dan mengatur panjang gelombang, lalu meningkatkan dan mengendalikannya. Melalui tiga proses tersebut, Mode Ilahi sang Huli Jing mencapai batas klimaks kekuatannya.


 


 


Tanpa memerlukan emosi yang bergejolak ataupun kondisi genting, secara instan Fiola benar-benar masuk ke bentuk akhir kekuatan yang bisa dirinya capai. Lingkaran sihir besar muncul di belakang punggung Huli Jing tersebut, lalu mulai berputar pelan dan belasan sampai puluhan Rune di dalam struktur lingkaran sihir tersebut bergerak seperti susunan puzzle.


 


 


“Pejamkan matamu, Fiola ….”


 


 


Odo berhenti menyatukan kedua telapak tangan, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Fiola dan memegang kening wanita di hadapannya itu. Huli Jing tersebut mengikuti perintah dengan patuh, perlahan memejamkan mata dan tetap diam di tempat.


 


 


Pada saat Odo menggunakan Aitisal Almaelumat, manipulasi dimulai dari tahap dimana wujud keberadaan Fiola diubah secara bertahap. Unsur mortal benar-benar diuraikan menjadi susunan kode Binary yang jumlahnya sampai miliaran, lalu diganti dengan susunan informasi dari makhluk ilahi yang identik dengan Dewa-Dewi.


 


 


Merasakan ada yang berubah dari tubuhnya, Fiola sedikit gemetar dan takut. Itu seperti digerayangi oleh puluhan tangan, bagian tubuhnya terasa seperti ada yang diambil dan ditambah dengan komponen lain.


 


 


Kekuatan dengan jelas mengalir ke sekujur tubuhnya, bergerak dengan cepat dan seperti akan meledak dari dalam. Di tengah proses tersebut, rasa takut membuat Fiola membuka mata dan melihat pemuda yang sedang memegang keningnya.


 


 


“A⸻!”


 


 


Terperangah. Fiola tidak memiliki kalimat yang sesuai untuk menggambarkannya wujud Odo sekarang. Meski seharusnya secara visual tidak ada yang aneh kecuali dua pasang proyeksi tangan yang keluar dari punggung pemuda itu, namun dengan jelas Fiola tahu bahwa ada yang janggal dari Tuan Mudanya tersebut.


 


 


Halo yang sebelumnya ada di atas kepala pemuda itu menghilang, digantikan oleh sebuah mahkota keemasan yang melayang di atas kepala. Pada permukaan leher Odo juga muncul garis-garis merah dari sirkuit aktivasi, bersumber dari dada kiri dan merambat sampai pada pipi serta kedua tangan pemuda itu.


 


 


Merakan firasat buruk ketika terus membuka mata, Fiola kembali memejamkan matanya rapat-rapat dan hanya terdiam. Tidak berkomentar, tak bertanya, ataupun mengucapkan kata yang tidak penting dalam ritual tersebut.


 


 


“Aku adalah Dewa. Salah satu penguasa dari mereka para makhluk ilahi. Atas jalan yang terbentuk pada Realm sempit ini, singgasana diriku aktifkan. Dewa tak bernama, dewa dengan takhta kecil, itulah diriku ….”


 


 


Ketika kalimat itu terucap dari mulut Odo. Di tempat lain ⸻ Tepatnya pada Kota Mylta, awan-awan mulai berkumpul dan membuat pusaran raksasa tepat di pusat kota dan membawakan kegelapan serta hawa dingin. Orang-orang yang berada di tempat tersebut sempat merasakan ada yang janggal, perubahan cuaca yang tidak wajar tersebut membuat mereka yang berada di luar sejenak menghentikan langkah kaki untuk melihat ke langit dengan awan-awan yang bergerak aneh.


 


 


Pada waktu yang bersamaan, Odo yang sedang melakukan ritual perlahan membuka matanya. Dengan jelas kornea pemuda itu berubah warna, dari keemasan menjadi biru terang dan tampak bercahaya. Berhenti memegang kening Fiola, ia menatap telapak tangannya sendiri dan sejenak terdiam.


 


 


“Malam.”


 


 


Dalam satu kata yang Odo ucapkan tersebut, seketika dinding pembatas yang memisahkan ruang secara spasial benar-benar menghalau cahaya dari luar dan secara penuh mengisolasi mereka. Bagian dalam tidak bisa lagi melihat apa yang ada di luar lingkaran, serta di luar lingkaran pun hanya bisa melihat bagian dalam lingkaran hanya berisi warna hitam pekat karena cahaya benar-benar terhalau.


 


 


Odo mengambil mahkota yang melayang di atas kepala, lalu memegangnya dengan kedua tangan dan menyodorkan itu kepada Fiola. Sembari memasang ekspresi datar, pemuda rambut hitam itu berkata, “Letakkan kedua tanganmu ke bawah kedua tanganku.”


 


 


“Hmm ….”


 


 


Mematuhi perintah Odo, Huli Jing tersebut melakukannya. Namun sebelum Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut menyerahkan mahkota sebagai pelambangan singgasana kekuasaan, reaksi proses dari Shift bentuk keberadaan terjadi dengan cepat. Hanya terpapar sedikit kekuatan dari mahkota tersebut, Fiola masuk ke ranah Dewi dan mencapai bentuk terakhir dari rasnya.


 


 


Perwujudan singgasana ilahi milik Fiola muncul. Itu bukan berbentuk mahkota, melainkan sebuah selandang tipis berwarna putih transparan yang melingkar di belakang lehernya sampai ke dada. Kornea matanya pun berubah menjadi keemasan, tampak bersinar dan menatap tajam ke depan.


 


 


Peta yang melayang di udara mulai turun, berhenti di atas mahkota yang dipegang Odo dengan kedua tangan. Kertas perkamen yang diselimuti kekuatan suci tersebut secara tidak langsung menjadi salah satu bagian dari kekuasaan kedewaan Odo, membuatnya bisa digunakan sebagai perantara dalam ritual.


 


 


\===============


Fakta 006: Lisia suka sama Odo, tapi dia sadar diri.


 

__ADS_1


 


__ADS_2