
Sebuah hubungan yang penuh luka jahit, rasa benci serta dengki mengalir bagikan nanah dan darah kental. Membusuk perlahan, mengeluarkan bau tak sedap dan pada akhirnya menjadi tempat bersarang belatung.
Memang pernah ada hal-hal baik di antar mereka berdua, membuat kedua orang tersebut saling tersenyum dan melempar canda layaknya teman. Tetapi, kekacauan yang ada di antaranya membuat semua itu tidak berarti.
Luka yang telah terbentuk terlalu lebar untuk dijahit kembali.
Sebuah kesalahan yang tidak bisa diperbaiki, sampai salah satunya dengan tegas mendeklarasikan, “Apapun alasannya, hanya kau yang takkan pernah aku maafkan!” Serusak itulah hubungan mereka.
Pada sebuah Realm tempat Dewi Penata Ulang melebarkan kekuasaan, sekali lagi dirinya melakukan hal yang bisa membuat sang pemuda membencinya. Tidak dalam waktu lama setelah dirinya mendapatkan deklarasi permusuhan Odo, Dewi Helena kembali memuat informasi dari Dunia Sebelumnya dan melanggar sumpah 101 rekannya sebagai pengamat dunia.
The Thirteen Aeons, sebuah pemahaman tentang bentuk kehidupan yang tidak terbatas fisik dan berfokus pada spiritual serta kekuatan mistis. Namun dalam sudut pandang ilmu pengetahuan yang sangat maju, itu merupakan bentuk pembagian dari evolusi makhluk hidup yang tidak terikat lagi dengan tubuh fisik. Sebuah paham yang menganggap bahwa kehidupan tidak hanya terhenti pada fisik dan pikiran,
Dengan kata lain, itu merupakan pendekatan yang membahas jiwa secara kompleks dan digolongkan dalam tiga belas tingkatan seperti halnya namanya.
Malkuth merupakan penggambaran dari tubuh fisik, tingkat paling rendah dari Aeons (Bentuk Kehidupan) yang ada dalam paham tersebut.
Untuk delapan lainnya, teradapat tingkatan Yedos (Tubuh Vital), Hod (Tubuh Astral), Netzach (Jiwa Manusia), Geburah (Jiwa Spiritual), Chesed (Kesadaran Atom), Binah (Roh Kudus), Chokmah (Sang Putra), Kether (Sang Ayah).
Lalu, pada tahap selanjutnya adalah puncak yang mewakili tiga tingkat terakhir dalam Aeons, yaitu Ain Soph Aur (Cahaya penciptaan), yang merupakan perwakilan segalanya. Itu dapat dibagi menjadi Ain, Ain Soph, dan Ain Soph Aur.
Untuk bisa membawa informasi dari Dunia Sebelumnya ke Dunia Selanjutnya, apa yang dibutuhkan paling tidak adalah tingkat kehidupan yang telah mencapai Kesadaran Atom, Chesed. Lalu untuk bisa membentuknya dengan utuh dan melakukan rekonstruksi jiwa secara terstruktur sempurna, semua unsur sebelum Chesed haruslah dimiliki secara penuh.
Daath (Pengetahuan) menjadi pokok penting dalam rekonstruksi, unsur tersebut haruslah tersimpan di dalam Chesed dan terbawa dalam konstruksi jiwa. Pada proses pembentukan, itu akan digunakan untuk membentuk kembali apa yang dirinya ingat dari Dunia Sebelumnya.
Secara garis besar, konsep Maha Kuasa milik Dewi Helena adalah kekuatan untuk menciptakan semacam rekonstruksi proyeksi sempurna.
Membangun kembali objek dari ingatannya dan membuat Personal Realitas miliknya bisa menginterpretasi konsep “Wujud, Keberadaan, dan Konsep”. Lalu pada tahap akhirnya, kekuatan Helena akan memberikan fungsi serta kegunaan yang serupa sesuai dengan apa yang dirinya ingat dari Chesed (Kesadaran Atom) miliknya sendiri.
Karena itulah, Chesed juga bisa disebut sebagai Atman. Secara sederhananya lagi, itu merupakan Innermost (paling dalam) dari sebuah penyusun Aeons (bentuk kehidupan).
__ADS_1
Di ruangan yang merupakan Realm miliknya tersebut, banyak hal yang mengalami perubahan dan objek dari proyeksi rekonstruksi Dunia Sebelumnya. Dari segi arsitektur tata ruangan, kesan serta suasana yang ada di dalamnya berubah menjadi gaya Baroque.
Kesan baru tersebut membawa kesenyapan pada Realm miliknya, sebuah hawa sepi dan tegang layaknya sebuah debat antar petinggi akan dimulai. Sembari menegakkan tubuhnya, sang Dewi duduk berhadapan dengan seorang pria rambut pirang cepak.
Pria tersebut mengenakan pakaian militer dengan beberapa medali penghargaan di seragamnya, bergelar kopral angkatan udara dari sebuah negara yang dulu pernah Eksis di Dunia Sebelumnya.
Badan kekar, tampilan sangar, dan tatapan tegas. Dari sudut pandang mana pun, pria itu memang pantas mengenakan pakaian tersebut dan mempresentasikan secara penuh bahwa dirinya adalah seorang perwira militer. Bekas luka di pipi kanan seakan menjadi wujud penghargaannya di medan perang, membuat dirinya tambah terlihat sangar.
“Ini sangat konyol! Hey, ******! Kau pikir aku akan memihak keparat sepertimu?” Pria itu tampak sangat marah, sepenuhnya membenci sang Dewi yang membawanya ke tempat tersebut. Menggertakkan gigi dengan kencang, pria itu dengan nada tegas kembali berkata, “Dari pada membangkitkan aku kembali, kau lebih tepatnya menciptakan salinan tubuh, ingatan, dan kepribadian original diriku saja! Apa yang kau inginkan dengan menciptakan aku persis seperti Richard dari Dunia Sebelumnya?! Lalu …, tambahan ingatan berisi penjelasan kondisi saat ini …. Kau ….”
“Ya, engkau hanya imitasi Richard ….” Dewi Helena menyandarkan tubuh ke sofa, menyilangkan kaki kanan ke atas kaki kiri dan dengan angkuh bertanya, “Oh, wahai salah satu salinan sekutu dari pemuda yang diriku cintai, apakah engkau merasa senang menjadi yang terpilih untuk melihat dunia baru ini, Richard?”
“Senang? Huh!” Pria dengan pakaian militer tersebut mengendus kasar, otot-otot wajahnya mengencang dan dengan kesal berkata, “Kalau diriku mampu, pasti sekarang ini kepalamu akan aku pecahkan! Dasar ******! Kau …, beraninya membuat rekonstruksi dan mengekang jiwaku! Apa yang kau mau, keparat!”
Suasana sesaat menjadi senyap, sang Dewi memalingkan pandangan dan merasa rekonstruksi yang dirinya lakukan sepenuhnya berhasil. Bukti keberhasilan tersebut adalah bahwa malaikat milik Dewi Helena itu membentak dan bersikap kasar kepada penciptanya, benar-benar mewarisi kepribadian serta sifat pemikiran pria bernama Richard dari Dunia Sebelumnya.
Bagi dirinya yang telah mencapai bentuk kehidupan yang lebih tinggi dari Kether dan mencapai Ain Soph Aur, menyimpan sebuah Kesadaran Atom dari sebuah jiwa bukanlah hal yang mustahil.
Mengisi malaikat tanpa kepribadian dengan Kesadaran Atom yang dirinya proyeksikan. Hal tersebut berlaku untuk pria di hadapan sang Dewi, sosok imitasi yang bersumber dari seorang pria yang pernah hidup di Dunia Sebelumnya.
“Hmm, kau memang takkan mampu melakukan itu ….” Sang Dewi Penata Ulang perlahan mengangkat tangan kanannya, menunjuk salah satu malaikat yang berjejer di sudut ruangan dan dengan nada menghina berkata, “Engkau sama seperti mereka, salah satu Marionette milik diriku ini …. Jiwa, pikiran, tubuh, segala yang ada pada engkau adalah milik diriku ini.”
“Kalau kau berniat menjadikan aku boneka dan memanfaatkan kemampuan ku, untuk apa kau membiarkan kesadaranku bebas! Jadikan aku sepenuhnya boneka! Sekarang juga! Mengikuti perintahmu dalam kondisi ini sama saja penghinaan besar bagiku! Kau menodai harga diriku!”
Mendengar perkataan tersebut, Helena memasang seringai tipis dan mulai menyangga kepala dengan tangan kanannya. “Hanya sebatas imitasi masih membicarakan soal harga diri. Apa engkau lupa, karena hal seperti itulah dirimu mati,” ujarnya seraya mengingat-ingat kembali masa lalu di Dunia Sebelumnya.
Richard dulunya adalah seorang Kopral dari angkatan militer sebuah aliansi besar, ia juga tergabung dalam organisasi khusus untuk mengembangkan teknologi dan menjadi salah satu pemimpin di sana. Dalam sudut pandang sang Dewi, pria rambut pirang tersebut juga merupakan salah satu orang yang dekat dengan Jiwa Tercintanya di Dunia Sebelumnya.
Mengesampingkan siapa Richard di Dunia Sebelumnya, sang Dewi malah tersenyum gelap seakan menertawakan masa lalu pria tersebut. Ia dengan jelas mengingatnya, bahwa jiwa asli dari salinan yang ada di hadapannya tersebut merupakan orang yang menjadi salah satu korban di fase pertama penghakiman.
__ADS_1
Helena dengan jelas mengingat bagaimana Richard mati, sebab ia sendirilah yang membunuh pria tersebut dan mengambil struktur jiwanya untuk eksperimen saat di Dunia Sebelumnya. Mengubah susunan kepribadian pria tersebut menjadi Kesadaran Atom, lalu menyerapnya menjadi kepingan Daath (Pengetahuan) dan digunakan untuk beberapa penelitian.
Pada akhirnya, kepingan Daath yang tercipta dari Richard digunakan sebagai pendukung dalam melakukan proses Rekonstruksi Dunia.
“Latas kenapa kau menciptakan aku seperti ini?! Aku memiliki kemampuan untuk sadar bahwa diriku hanyalah sebatas salinan! Kebencian dari diriku yang asli pun tertanam! Kepribadian dan pola pikir juga! Untuk apa …? Kau tidak sedang mempermainkan aku, bukan?!”
“Hu-Huh ….” Helena kembali tertawa ringan, lalu sembari berhenti menyangga kepala ia menjawab, “Tentu saja tidak. Kalau diriku sedang mempermainkan engkau, takkan mungkin diriku ini memberikan semua informasi yang menjelaskan keadaan sekarang. Keadaan tentang Dunia Selanjutnya ini.”
“Keadaan sekarang ….” Richard terdiam, sedikit memucat dan tidak lagi membentak. Awalnya ia mengira semua informasi yang ditanamkan ke dalam dirinya hanyalah sebatas pelengkap. Namun ketika meninjau kembali informasi tersebut, semua itu membuatnya cemas. Sembari kembali menatap lurus sang Dewi, Richard bertanya, “Apa … pemuda itu benar-benar berhasil mencapainya? Teori yang kami simpulan, sejarah dan impian yang kami bebankan kepadanya ….”
“Ya, dia berhasil. Pemuda itu benar-benar bisa mencapai tingkat di luar The Thirteen Aeons dalam pemahaman konyol kalian. Kalau tidak, mana mungkin engkau bisa berada di sini dan dunia baru tercipta.”
“Syukurlah …. Paling tidak, perjuangan dan pengorbanan mereka tidak sia-sia.”
Helena merasa tak suka melihat wajah lega pria itu, seakan-akan mereka yang telah membebankan banyak hal kepada Jiwa Terkasihnya tidak merasa bersalah sama sekali. Sejenak memejamkan mata dan paham marah kepada salinan tidak akan menghasilkan apa-apa, dirinya hanya menghela napas panjang.
“Persis seperti informasi yang ditanamkan kepada engkau, mulai sekarang engkau akan menjadi kaki tanganku,” ujar sang Dewi seraya membuka kedua mata dengan sayu. Sembari menunjuk lurus ke arah lawan bicaranya, ia dengan tegas menyampaikan, “Engkau akan menerima salah satu unsur Ain Soph ⸻ Sebuah cahaya pengetahuan dan kesadaran spiritual tanpa batas dari kalangan bangsaku. Lalu untuk tugas dan arti kehidupan baru, engkau akan turun ke Dunia Nyata! Di sana …, engkau harus menuntun kekasihku mengikuti diorama yang telah ada …. Sampai ia pergi ke ujung adegan dalam naskah yang telah disiapkan.”
“Kekasih, ya ….” Richard tersenyum menghina, merasa sedikit jijik mendengar hal semacam itu keluar dari mulut dari Helena. Dengan nada sarkasme ia berkata, “Sejak kapan makhluk seperti kau meniru budaya kami? Oh, wahai sosok yang mengaku entitas superior. Bukannya kau yang bilang sendiri bahwa bangsa kamilah yang meniru kalian, wahai sang Dewi? Kami lebih tertinggal, bukan?”
“Huh, diriku rasa beberapa ribu tahun setelah dirimu sudah menjadi abu, wahai serpihan Daath menyedihkan,” balas Helena sembari tersenyum ringan. Berhenti menunjuk, dirinya membuka kedua telapak tangannya sendiri dan menatap. Ia perlahan memejamkan mata. Lalu ketika dirinya kembali membuka kedua mata dan melihat ke depan, sang Dewi Penata Ulang menyampaikan, “Kau … akan membunuh pemuda menyedihkan itu. Sekali lagi kau akan membuatnya putus asa, menghancurkan apa yang telah dirinya bangun. Pada akhirnya, engkau akan menusuk rekan sekaligus sahabatmu itu dengan kejam. Sebagai musuh ….”
“A⸻!?”
“Engkau tidak punya hak untuk menolak …. Ini sudah menjadi ketetapan. Karena itulah informasi jiwamu itu tetap diriku simpan dan dibawa ke dunia ini. Korwa telah melaksanakan perannya dengan sangat baik dan menarik Kekasihku dari singgasana tertinggi. Bay Fir juga sudah menyiapkan panggung diorama dengan sempurna ….”
Bagi Richard yang telah mati di Fase Pertama Penghakiman pada Dunia Sebelumnya, nama-nama tersebut terdengar sangat asing dan dirinya tidak bisa bereaksi. Namun saat dirinya mendapat tatapan tajam dari sang Dewi, tanpa diberitahu Richard bisa paham bahwa nama-nama tersebut juga memiliki peran yang sama pentingnya dengan dirinya.
Helena perlahan mengangkat tangannya ke depan dan menunjuk. Sembari menyeringai gelap, sang Dewi dengan tegas menitahkan, “Sekarang adalah giliranmu yang berasal dari Fase pertama! Engkau dan rekan-rekan engkau yang menjadi awal dari penderitaannya! Karena itulah panggung tragedi ini harus diakhiri oleh engkau, wahai pendosa! Jika saja saat itu kau tidak mendorongnya lebih jauh, pemuda itu pasti mau meraih tanganku dan akhirnya tidak akan seburuk sekarang!!”
ↈↈↈ
__ADS_1