
“Tepat sekali ….” Jenderal Fai kembali menghela napas. Berusaha terlihat tegar dengan meletakkan kedua tangan ke pinggang, pria rambut hitam itu dengan suara lantang menyampaikan, “Engkau pasti pernah mendengar legenda tentang Huli Jing, ‘kan!? Terkejutlah! Diriku yang menulis buku itu! Sebagai ganti progress pemulihan wujud, Ia menanggung risiko penghapusan ingatan setiap seribu tahun ….”
“Risiko? Berarti itu bisa dihindari, bukan?”
Odo merasa janggal dengan kata tersebut. Daripada menggunakan Efek ataupun Akibat atas suatu kondisi, Jenderal Fai lebih memilih untuk menyebut siklus itu sebagai Risiko.
“Entahlah! Diriku pernah menanyakan hal tersebut, namun sayang dia sudah melupakannya!” Jenderal Fai pura-pura tidak tahu, ia tak ingin mengungkap titik kelemahan sebelum yakin pemuda itu memihak Kekaisaran. Lekas memalingkan pandangan ke arah gerbang, pria rambut hitam tersebut segera mengalihkan topik dengan melanjutkan pembicaraan, “Jujur saja, Luska adalah yang terkuat di antara kami ….”
“Luska?” Odo sedikit mengerutkan kening. “Ah, apa itu nama asli Fiola?” tebaknya dengan nada tidak peduli.
“Benar, itu nama yang diberikan Roh Kudus kepadanya ….” Jenderal Fai sedikit cemas dengan reaksi lawan bicaranya. Setelah dahak ringan, ia sejenak menarik napas dalam-dalam sembari lanjut menyampaikan, “Diriku rasa batasan itu mungkin diberikan dunia sebagai penyeimbang, supaya dia bisa beradaptasi dan merasakan kehidupan yang layak.”
“Sebentar, sebelumnya kau bilang dia yang terkuat?” Daripada peduli dengan perkataan skeptis itu, Odo lebih tertarik dengan ungkapan sebelumnya. Pemuda rambut hitam tersebut meletakkan tangan ke depan dagu, kemudian lekas berbalik dan berjalan menuju Gerbang Utama. Menyadari ada yang aneh, ia sekilas melirik sembari lanjut berkata, “Dia bahkan kalah telak saat melawan Raja Iblis Kuno, loh!”
“Tolong jangan bandingkan kami dengan monster itu!” Jenderal Fai mengernyit. Lekas berbalik dan berjalan mengikuti Odo, pria rambut hitam itu dengan kesal menegaskan, “Dewi Penata Ulang, Makhluk Primal, dan Iblis Kuno! Mereka adalah bencana!”
“Hmm ....” Odo tidak ingin berargumen. Sejenak memejamkan mata, ia segera mengambil keputusan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. “Kita lanjutkan pembicaraan ini lain waktu,” ujarnya dengan suara serak.
Odo tiba-tiba menghentikan langkah kaki. Berbalik menghadap lawan bicara dan berdiri membelakangi gerbang, pemuda rambut hitam itu memberikan tatapan tajam dalam kesenyapan. Tidak berkata apa-apa, hanya memperlihatkan ekspresi serius seakan sedang menilai sesuatu.
“Apa ada yang salah, Keturunan Luke?” Berusaha untuk tidak gentar, Jenderal Fai membalas tatapan itu dengan santai. Melempar senyum hangat, kemudian menjentikkan jari sembari lanjut bertanya, “Engkau masih ragu?”
“Tidak juga …!” Odo menggertakkan gigi dengan kesal. Setelah menancapkan pedang hitam ke tanah, ia mulai menutup wajahnya sendiri dengan kedua tangan. Sedikit membungkuk dengan tubuh gemetar, berusaha menahan amarah yang mulai meluap dari hati. “Sialan …! Aku sungguh ingin membunuhnya,” gumamnya dengan lirih.
“Eh?” Jenderal Fai dengan jelas mendengar itu, lekas melangkah mundur dan mulai gemetar. “Me-Membunuh⸻?”
“Tenang saja, diriku bukan orang bodoh! Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kesal!” Odo menurunkan kedua tangan dari wajah. Sejenak menghela napa dan menenangkan diri, ia dengan ekspresi kesal lekas meminta, “Sebelum kita pergi, kau harus menarik seluruh Pasukan Kekaisaran yang tersisa ….”
“Sekarang?”
“Kenapa malah tanya?!” Odo langsung mengacungkan pedangnya ke depan. Sejenak menahan napas, ia dengan suara lantang menegaskan, “Tentu saja sekarang!”
“Itu mustahil….” Jenderal Fai tidak gentar. Ia perlahan menajamkan tatapan, sedikit menggertakkan gigi dan segera menjelaskan, “Diriku perlu mengoordinir ulang pasukan! Hal tersebut membutuhkan waktu setidaknya satu hari penuh ….”
“Terserah kau saja, aku sudah memperingatkan!”
“Memangnya kenapa? Kita masih punya waktu⸻!” Jenderal Fai tiba-tiba tersentak. Menyadari maksud pemuda itu, ia lekas memalingkan pandangan dan bergumam, “Jangan bilang …, Raja Gaiel sudah mengerahkan pasukan mereka? Secepat ini?”
“Ifrit sudah mengkonfirmasi kedatangan mereka ….” Odo menunjuk lurus ke langit. Segera menurunkan tangannya, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Paling lambat garda depan atau regu pengintai akan sampai malam ini, sedangkan pasukan utama mungkin baru tiba besok, lusa, atau beberapa hari lagi.”
“Kenapa mereka mampu mengerahkan pasukan secepat itu?” Jenderal Fai meletakkan tangan kanan ke depan mulut. Sekilas melirik ke arah kota, ia dengan ekspresi cemas lanjut bergumam, “Bukankah perkiraan waktu kami sudah tepat? Kaisar juga sudah memperhitungkan ini baik-baik, lantas mengapa⸻?”
“Mungkin itu ulah Nona An ….” Odo menghela napas, kemudian menggelengkan kepala sembari lanjut berkata, “Meskipun dia tampak seperti wanita terhormat, perempuan itu sebenarnya sangat licik. Dia tipe orang yang berani membalas air susu dengan air tuba ….”
“Nona An? Kapan⸻?!” Jenderal Fai tersentak saat mengingat sesuatu, sebuah surat yang sempat perempuan itu titipkan kepada seorang pedagang. “Saat itu?! Sialan! Leluhur Keluarga Qibo sangat setia dengan Kaisar! Mengapa dia bisa berkhianat?! Seharusnya ini menjadi kesempatan emas untuk memulihkan nama keluarga!!” ujarnya dengan kesal.
“Entahlah, tanyakan saja itu nanti kepada orangnya ….” Odo sekilas memalingkan pandangan, tidak memperlihatkan ekspresi cemas meski waktu yang tersisa sangat terbatas. Mengulurkan tangan ke depan dan sedikit memiringkan kepala, pemuda rambut hitam itu dengan nada santai mengingatkan, “Itu sudah tidak penting lagi, pikirkan saja masalah yang ada sekarang.”
“Hmm, engkau benar …!” Jenderal Fai menahan napas sejenak. Kembali meninjau situasi dan kondisi yang ada, pria rambut hitam itu dengan wajah gelisah berkata, “Sekarang masalahnya⸻! Tidak! Mundur adalah keputusan yang tepat! Kita tinggalkan saja pasukan yang sudah terlanjur masuk!”
__ADS_1
“Oi! Oi! Kalau mau ngomong dipikir dulu!” Odo ikut panik saat mendengar keputusan itu. Ia langsung berdecak kesal, kemudian mendekat sembari memperingatkan, “Mereka bisa membantai penduduk kota! Kau juga merekrut bandit, ‘kan?! Mereka barbar! Bisa gawat kalau kalian membuat ini semakin kacau!”
“Kita kehabisan waktu!” Jenderal Fai semakin gelisah. Mempertimbangkan kondisi pasukan yang terancam dihimpit dari dua arah jika terlambat mundur, ia dengan wajah memucat lanjut menjelaskan, “Mereka terlalu sulit untuk diatur! Jika hanya pasukan utama yang terlatih, itu pasti mudah! Namun! Mereka bahkan tidak paham dengan rantai komando! Diriku tidak bisa⸻!”
“Bunuh saja mereka ….”
“Eh?” Pria rambut hitam itu terbelalak.
“Aku tambahkan ini sebagai syarat ….” Odo mengacungkan telunjuk ke depan. Perlahan mimik wajahnya berubah suram, memancarkan intimidasi kuat layaknya sedang mengancam. Setelah menurunkan pedangnya, pemuda rambut hitam itu dengan nada tegas langsung menuntut, “Jika kau ingin aku ikut bersama kalian dan memihak Kekaisaran, habisi seluruh pasukan yang tidak mau mundur!”
“I-Itu terlalu berlebihan!” Jenderal Fai tidak setuju. Ia menggertakkan gigi, lalu mengentakkan kaki sembari membentak, “Meski mereka bandit, diriku tidak bisa menghabisi prajurit⸻!”
“Perintahkan saja ….”
“Eh?” Jenderal Fai sekali lagi terbelalak.
“Kau tidak perlu mengotori tangan, cukup berikan saja perintahnya ….” Odo perlahan melebarkan senyum menyimpang, tampak seperti sosok Iblis yang telah berhasil meraih jantung mangsanya. Setelah menjentikkan jari, ia dengan santai lanjut menjelaskan, “Habisi bandit gunung, mereka telah berkhianat, kita harus mundur! Mudah sekali, bukan?”
“Itu terlalu kejam ….”
Jenderal Fai tidak bisa langsung mengangguk. Meski ia tidak terlalu peduli dengan para bandit, tetap saja permintaan itu terlalu kejam bahkan untuknya.
“Kejam? Tentu saja kejam! Di sini diriku sedang meminta ganti rugi kepada kalian!” Odo langsung membentak. Ia tidak memberikan kompromi, menatap murka sembari lanjut menegaskan, “Sebenarnya ini memang masih kurang! Nyawa penduduk sipil tidak sepadan dengan kriminal! Namun, itu masih lebih baik daripada tidak mendapatkan apa-apa!”
“Namun, diriku⸻!” Jenderal Fai sejenak menahan napas, kembali mempertimbangkan situasi yang ada dan lekas menjawab, “Akh! Baiklah! Jika kebiadaban ini dapat membuat engkau memihak kami, diriku akan menyanggupinya! Dengan nama Xuan Wu, diriku, Jenderal Utara akan memenuhi permintaan tersebut!”
“Bagus, selesaikan itu sebelum sore!” Odo lekas berbalik, lalu berjalan menuju gerbang sembari kembali memperingatkan, “Kalian harus pergi sebelum matahari terbenam! Aku akan menunggu di hutan! Ingat! Ifrit akan mengawasi kalian ….”
“Tunggu, Tuan Odo!” Canna segera meloncati parit, berlari ke arah mereka sembari berteriak, “Anda yakin ingin memihak dia?! Pria itu tidak bisa dipercaya! Ada yang aneh dengan akalnya!”
“Ah, aku hampir lupa denganmu ….” Odo lekas berbalik, membuka telapak tangan kiri ke arah perempuan itu sembari berkata, “Tak perlu cemas, keputusan ini sudah tepat.”
“Akh⸻!?” Seketika tubuh Canna menjadi kaku, langkahnya terhenti dan langsung ambruk saat mendengar suara Odo. “A-Apa yang terjadi? Ke-Kenapa tubuh saya rasanya lemas sekali?” ujarnya seraya berusaha bangun. Namun, ia langsung ambruk lagi. Seluruh otot kakinya mengencang seperti mengalami kram.
“Nona Canna!” Lisia segera memungut pedang yang tergeletak di jalan, lalu melangkah maju dengan mimik wajah cemas. Masih ingin percaya, perempuan rambut merah cerah itu dengan suara lantang membujuk, “Tuan Odo! Tolong pertimbangkan kembali keputusan Anda! Dia musuh! Kita tidak boleh terpengaruh⸻!”
“Aku tahu, dia memang musuh ….” Odo memperlihatkan ekspresi tidak peduli. Mempertimbangkan situasi dengan dingin, ia lekas menodongkan pedang hitam ke depan sembari menegaskan, “Diriku memilih pihak yang lebih menguntungkan. Hanya itu.”
“Lebih menguntungkan?” Lisia seketika terhenti, tepat sebelum meloncati parit. Mimik wajahnya memucat, tidak mampu mencerna perkataan pemuda itu dengan baik. “Anda pasti sedang dikendalikan oleh seseorang, ‘kan?! Keluar dari tubuhnya! Tidak mungkin Tuan Odo berkata seperti itu!” ujar perempuan itu seraya menodongkan pedang. Namun, tangannya gemetar dan tatapannya pun mulai dipenuhi rasa cemas.
“Ini diriku, Odo Luke ….” Odo melempar senyum lembut yang khas, sedikit menajamkan tatapan dan menghela napas ringan. “Tak perlu lari dari kenyataan. Meski terlihat tidak benar, keputusan ini sudah tepat,” tambah pemuda itu seraya berbalik, berjalan melewati gerbang dan keluar dari kota.
“Tu-Tunggu! Tuan Odo ….” Lisia tidak berani mengejar, kakinya gemetar dan langsung ambruk dengan lemas. Air mata mulai mengalir, rasa lega dan takut bercampur aduk dalam benaknya. “Sudah tepat? Apanya yang tepat? Kekacauan ini sudah tepat?” gumam perempuan itu seraya menundukkan wajah.
“Baiklah, mari selesaikan ini ….” Jenderal Fai bertepuk tangan sekali. Ia segera berjalan menuju kota, kemudian memungut tombak besi yang tertutup pasir dan tanah di dekat parit. Sembari mengentakkan senjatanya, pria rambut hitam itu dengan lantang memerintahkan, “Berdiri! Wahai prajurit! Berhenti merengek dan angkat senjata kalian! Ini momen krusial di mana kesetiaan kalian akan diuji!”
Semua orang dari kubu Rockfield terkejut saat mendengar suara lantang pria itu. Memperlihatkan mimik wajah cemas bercampur takut. Berbeda dengan mereka, prajurit dari pihak Kekaisaran mulai mengangkat wajah dan mendengarkan. Menyimak perkataan Jendral Fai dengan seksama.
“Apa … yang dilakukannya?”
__ADS_1
Saat efek kesemutan menghilang, Canna segera bangun dan mengaktifkan Inti Sihir. Penyihir rambut putih uban itu lekas turun ke dalam parit untuk berlindung, lalu bersiap menghadapi Jenderal Fai dengan menyiapkan beberapa mantra. Masih mengidentifikasi pria itu sebagai musuh.
“Kalian pasti sudah mendengar pembicaraan tadi, ‘kan?! Ini adalah tugas terakhir kalian dalam peperangan ini!” Jenderal Fai ikut mengaktifkan Inti Sihir, menyelimuti tubuh dengan aura hijau giok dan memasuki kondisi siap tempur. Sembari mengangkat tombaknya ke depan, pria itu dengan suara lantang langsung memerintahkan, “Bunuh semua bandit yang menggunakan nama Kekaisaran! Habisi mereka dan mundur dari kota!”
“Hah? Dia benar-benar ingin melakukannya?” Lisia tercengang, matanya sedikit berkedut dan kening perlahan mengerut. Tidak percaya dengan apa yang pria itu katakan, ia segera mengulurkan tangannya ke arah parit sembari berkata, “Nona! Cepat naik!”
“Serius?!” Canna segera meraih uluran tangan tersebut, kemudian keluar dari parit dan lekas berdiri. “Dia ingin membantai pasukannya sendiri?” ujarnya seraya menatap Jenderal Fai.
“Putriku!” Argo Mylta menghampiri mereka. Sembari menunjuk ke arah barak, pria tua itu dengan cemas mengajak, “Cepat mundur! Dia berhasil memulihkan moral pasukannya! Kalau mereka menyerang sekarang, kita bisa dilibas⸻!”
“Tenang! Diriku tidak akan menghabisi kalian!” Jenderal Fai mengangkat tombaknya tinggi-tinggi. Lekas berbalik menghadap pasukan yang telah selesai membentuk formasi tempur, pria rambut hitam itu dengan lantang menambahkan perintah, “Jangan serang penduduk Rockfield! Bagi prajurit yang tidak patuh, dia akan langsung dianggap sebagai pengkhianat! Diriku mengizinkan kalian untuk melakukan eksekusi di tempat!”
“Izin interupsi, Jenderal Fai!” Komandan Peleton mengangkat tangannya, melangkah keluar dari barisan formasi dan segera menghadap. Tampak mencemaskan isi perintah tersebut. Berniat mewakili keraguan seluruh prajurit, ia dengan lantang lekas bertanya, “Bagaimana jika kita diserang oleh pasukan kota!? Apakah kita hanya bisa diam?!”
“Kalian diizinkan untuk kabur dari medan perang! Ini kondisi khusus! Peraturan militer tersebut akan dicabut sementara!” jawab Jenderal Fai dengan tegas. Ia kembali menghadap ke arah kota. Sembari menunjuk kompleks Perekonomian dan Pertambangan Rockfield dengan ujung tombak, pria rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Habisi bandit dan tarik mundur rekan kita! Kalian pasti paham dengan wajah rekan sendiri, bukan?!”
“Laksanakan! Demi kejayaan Kekaisaran dan Kemuliaan Kaisar!”
Pasukan Kekaisaran yang tersisa di tempat itu menjawab dengan serempak. Tatapan menggebu-gebu, dipenuhi rasa bangga karena mendapatkan perintah langsung dari mulut sang Jenderal. Semangat dan moral mereka telah pulih sepenuhnya.
.
.
.
.
.
“Kemuliaan takkan mampu memuaskan harapan, itu hanya menambah rasa lapar akan pencapaian ….” Odo berjalan melewati puluhan Prajurit Kekaisaran, memperlihatkan tatapan tajam dengan wajah murka. Setelah berdecak kesal, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bergumam, “Namun, setiap orang selalu bergantung pada delusi itu! Mengira kehormatan dan pencapaian dapat memuaskan mereka!”
Tidak ada Prajurit Kekaisaran yang berani menghadang pemuda itu. Selain karena telah mendengar perintah Jenderal Fai dari dalam kota, tekanan sihir yang dikeluarkan Keturunan Luke tersebut juga terasa sangat mengintimidasi.
“Dia manusia, ‘kan?” gumam seorang penyihir saat melihatnya. Ia segera menyingkir dari jalan, membiarkan pemuda itu lewat sembari lanjut bergumam, “Jelas saja Kaisar menginginkannya! Dia benar-benar keturunan Penyihir Cahaya ….”
“Apa ini tidak masalah?” Seorang penombak meragukan keputusan tersebut. Ia lekas mengangkat tombak, berniat menyerang sembari berteriak, “Dia sendirian! Daripada menuruti perintah yang tidak masuk akal itu, lebih baik kita lumpuhkan saja⸻!”
“Diam!” Komandan Peleton Penyihir langsung memukul perut prajurit itu sampai ambruk, kemudian menyeretnya menjauh supaya tidak menghalangi Odo. Sembari menatap tajam rekan-rekannya yang masih berdiri di tengah jalan, ia dengan suara lantang lekas memperingatkan, “Menyingkir! Biarkan dia lewat! Ini perintah Jenderal!”
Ada beberapa yang masih meragukan keputusan itu. Namun, mereka adalah prajurit yang patuh. Tidak seperti bandit rekrutan, mereka menjunjung tinggi rantai komando dan memahami hal tersebut dengan sangat baik.
Bawahan hanya perlu mematuhi perintah atasan, tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh pusat rantai komando. Hierarki dalam militer sangatlah tegas dan jelas.
Karena itulah, Prajurit Kekaisaran yang pernah mendapatkan pelatihan militer pasti memiliki disiplin yang kuat. Memiliki kecenderungan untuk mematuhi perintah, bahkan jika itu tidak masuk akal ataupun bertentangan dengan hati nurani.
“An Lian …!” Odo kembali meningkatkan tekanan sihir, menghela napas saat mengingat kembali perbuatan perempuan itu. “Kau siapa? Tidak mungkin orang biasa mampu mengacaukan kalkulasi sampai separah ini,” gumamnya sembari mengernyit.
ↈↈↈ
__ADS_1