Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[77] Tanpa sadar dirinya memandang rendah orang-orang (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


“Aku sudah mendapatkan yang kuinginkan. Pembebasan visa sudah lebih dari cukup untuk kompensasi kali ini,” jawab pemuda itu sembari kembali duduk. Menghela napas sekali, ia memasang mimik wajah sedikit muram dan bertanya, “Nona Lisia sendiri, dalam situasi ini apa yang ingin Nona capai? Jangan katakan kalau Anda hanya berpikir ingin memulihkan keadaan kota, bukan?”


 


 


“Memangnya … hal apa yang lebih baik dari itu? Selama kota ini kembali seperti semula dan masuk ke tahap progresif, itu sudah cukup bagi saya.”


 


 


Odo tersenyum kecil mendengar jawaban tersebut, paham dengan pola pikir orang-orang yang bergerak di belakang Lisia dan mendorongnya untuk mengambil kebijakan kota. Pola pikir, cara pandang, wawasan dan arah langkah wewenang. Semua apa yang ada pada Lisia bukanlah asli miliknya, melainkan pengaruh dari orang-orang di sekitarnya.


 


 


Memang Odo juga ikut serta mempengaruhinya. Namun jauh sebelum bertemu dengan Lisia, perempuan itu sudah mendapat banyak pengaruh dari lingkungannya selama bertahun-tahun. Mengetahui pola pikir Lisia sudah cukup untuk membuat Odo bisa melakukan Spekulasi Persepsi secara terpusat, menganalisa orang-orang pemerintah nanti ke depannya akan bergerak seperti apa.


 


 


“Baiklah, itu terserah Nona Lisia saja. Aku tak berhak bicara lebih lanjut. Kedatanganku ke sini hanya untuk memberikan saran, terserah Nona mau mengambilnya atau tidak ….”


 


 


Merasa pembicaraan tiba-tiba ditarik ke topik utama, sekilas Lisai mengerutkan kening dan ikut duduk. Ia mengendus ringan, memalingkan pandangan dengan kasar dan tampak sedikit kesal karena merasa sedang diremehkan.


 


 


“Jujur saja saran Tuan Odo sangat menarik. Namun, apa jaminannya kalau sandiwara seperti itu tidak akan mendatangkan korban? Memancing monster …, saya rasa itu terlalu berisiko. Kalau ada korban, reputasi kami malah akan tambah jatuh.”


 


 


“Seperti yang Nona katakan, rencana yang aku sarankan bukan tanpa risiko.” Odo meletakkan tangan kanan dagu, menyembunyikan seringai tipis dan kembali bertanya, “Namun, kalau aku bilang bahwa rencana ini pasti aman? Apakah Nona akan percaya?”


 


 


“Aman? Huh!” Lisia benar-benar merasa dipermainkan. Karena tindakan Odo sebelumnya, perempuan itu merasa dipandang rendah di rumahnya sendiri. Dengan nada sedikit kesal dirinya kembali berkata, “Memangnya cara seperti apa? Memang Anda bisa mengatur para monster supaya mudah dibunuh? Mereka makhluk biadab dan liar! Berbeda dengan hewan di hutan yang masih bisa dijinakkan, monster itu sangat berbeda.”


 


 


“Aku tidak bisa mengatakan caranya sebelum Anda setuju mengambil risiko.”


 


 


“Bagaimana mungkin saya setuju kalau bahwa risikonya saja tidak tahu?”


 


 


“Hmm, kalau begitu ... aku katakan sedikit rahasianya.” Odo menurunkan tangan dari dagu dan perlahan memasang mimik wajah serius. Sembari meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, ia menatap lurus dan berkata, “Aku bisa mencapai ranah Dewa saat berada di kota ini. Secara tidak langsung, koordinat kota ini sejajar dengan Realm yang aku bentuk di celah antara Dunia Nyata dan Kayangan. Karena itu, monster bukanlah ancaman besar bagi kota selama diriku ada di sini.”


 


 


Perkataan tersebut membuat Lisia terdiam, menatap penuh rasa curiga. Meski dirinya tahu bahwa Odo bisa dengan mudah mencapai ranah makhluk dimensi tingkat tinggi, namun Dewa adalah sebuah hal yang berbeda. Terlebih lagi, Lisia sendiri tidak pernah melihat langsung salah satu makhluk ilahi tersebut. Karena itulah ia tidak tahu esensi makhluk yang pantas disebut Dewa.


 


 


“Anda … serius ingin saya percaya perkataan tersebut?” Lisia menyipitkan mata, penuh rasa kecurigaan dan menganggap ucapan Odo sebelumnya hanya sebatas omong kosong.


 


 


Seakan tidak memedulikan tatapan yang diarahkan kepadanya, Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundak dan menjawab, “Ya, aku ingin Nona percaya.”


 


 


“Maaf, tidak bisa.” Lisia sekilas memejamkan mata, menggelengkan kepala dan dengan bulat menolak tawaran yang diajukan Odo. Membuka kedua mata dan menatap sedikit sayu, perempuan rambut merah itu memberikan alasan, “Risikonya terlalu abstrak. Saya tidak bisa mempertaruhkan rakyat untuk rencana yang tidak jelas. Saya tidak mengharapkan ketenaran sampai-sampai mau mempertaruhkan rakyat.”


 


 


“Ehem-hmm….” Odo tersenyum mendengar jawaban tersebut, merasa Lisia memang memiliki sifat seperti itu meski telah mendapat pengaruh banyak orang.


 


 


“Kenapa Anda senyum-senyum?”


 


 


“Kau lulus, Lisia.” Odo bertepuk tangan pelan, membuat ruangan diisi suasana aneh dan Lisia serta dua pelayan yang berada di tempat itu tampak bingung. Mengangkat tangan kanan dan menunjuk lawan bicaranya, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Maaf, aku hanya mengetes cara pandang kau saja. Aku akan bicara soal rincian rencananya. Setelah itu, kau bebas memutuskan mau ambil atau tidak.”


 


 


“Eh …?”


 


 


Lisia tersentak. Namun, perlahan mimik wajahnya berubah kesal dan merasa benar-benar dipermainkan selama pembicaraan. Mengerutkan kening dengan kencang, mulut kecilnya tampak ingin mengumpat pemuda yang menjadi lawan bicaranya.


 


 


“Kenapa wajahmu begitu?” tanya Odo dengan maksud menggoda.


 


 


“Tuan Odo …, ini sudah malam loh …..”


 


 


“Ya, aku tahu itu.”


 


 


“Tolong lakukan hal seperti ini di waktu yang tepat.”


 


 


“Diriku rasa ini waktu yang tepat. Biasanya saat lelah dan ingin istirahat, kebanyakan orang akan menunjukkan sifat aslinya.”


 


 


Kesal, jengkel dan rasa lelah bercampur dalam benak Lisia saat mendengar alasan tersebut. Merasa tidak ingin memperpanjang pembicaraan, perempuan rambut merah itu dengan sedikit rasa resah langsung bertanya, “Jadi, rencananya seperti apa memangnya?”


 


 


“Hmm, secara garis besar memang seperti apa yang telah aku katakan.” Odo mengangkat jari telunjuk, memasang senyum tipis dan mulai menambahkan, “Namun, bukan hanya prajurit kalian saja yang melawan para monster. Aku juga akan melawan mereka. Lalu, untuk tempatnya itu bukan dilakukan di dalam kota, melainkan di tempat yang aman namun bisa dilihat banyak orang.”


 


 


“Memangnya … Anda bisa menggiring para monster ke tempatnya? Mereka⸻?”


 

__ADS_1


 


“Aku bisa,” potong Odo dengan tegas. Ia menatap tajam, membuat Lisia tidak bisa berargumen lagi. Sembari sedikit memalingkan pandangan ke arah jendela, Odo dengan nada penuh rasa percaya diri berkata, “Karena itulah aku menawarkan rencana ini.”


 


 


“Kalau memang Tuan Odo yakin rencana itu aman, mengapa Anda datang kemari dan meminta bantuan saya? Biasanya Anda selalu melakukannya sendiri, bukan? Apa … alasannya?”


 


 


Pertanyaan tersebut membuat Odo kembali menatap ke arah Lisia, menyipitkan mata dan merasa perempuan itu terlalu meremehkan jabatan seorang Walikota. Duduk tegak dan menghela napas sekali, pemuda rambut hitam itu dengan tegas menyampaikan, “Kau ingin aku mengusap bokong kalian lagi? Ini kesalahan kalian sendiri, aku di sini untuk membantu. Karena itulah aku menawarkan rencana.”


 


 


“Anda ….” Lisia untuk sesaat kehabisan kata-kata, merasa memang apa yang lawan bicaranya katakan itu sangat benar. Sembari menundukkan wajah ia pun bertanya, “Apa Tuan Odo marah?”


 


 


“Tentu saja marah. Karena kejadian kali ini, rencanaku terganggu dan banyak hal yang harus ditunda. Jujur saja, bahkan aku sempat berpikir lebih baik meninggalkan orang-orang yang selamat di sarang monster dan membiarkan mereka mati.”


 


 


Apa yang disampaikan Odo benar-benar membuat Lisia terdiam, paham betapa marahnya pemuda itu terhadap masalah kali ini. Kata-kata untuk beralasan terbayang di dalam kepala sang perempuan. Namun, dirinya tidak bisa mengucapkan semua itu dan hanya memilih untuk terdiam dengan wajah tertunduk.


 


 


“Jadi, apa jawabanmu? Apa yang aku perlukan hanya pasukan kota ini dan kerja sama kau sendiri. Hanya itu.”


 


 


Dalam lubuk hatinya Lisia tidak ingin mempertaruhkan keamanan kota lebih jauh dari situasi sekarang. Baik itu karena situasi, tekanan, ataupun keuntungan yang akan didapat, Lisia memang tidak ingin menerimanya. Tetapi, tawaran yang diberikan Odo membuatnya tidak bisa menolak.


 


 


“Baiklah ….” Lisia mengangkat wajah dan mengangguk sekali dengan mimik wajah muram. Menarik napas panjang dan sejenak berpikir, perempuan rambut merah tersebut bertanya, “Anda berniat melakukannya rencananya tersebut kapan”


 


 


“Besok ….”


 


 


Jawaban tersebut membuat kedau mata Lisia terbuka, mulutnya pun menganga. Saking tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar, perempuan rambut merah tersebut seketika memucat.


 


 


“Bukankah kita perlu menyiapkannya dulu? Sa-Saya juga belum mengkoordinasikan ini dengan Pak Iitla atau orang-orang di barak⸻!”


 


 


“Kau tak perlu melakukan itu,” potong Odo dengan tegas. Menyandarkan punggung ke sofa, pemuda rambut hitam itu kembali menambahkan, “Mereka pasti tidak bisa akting. Karena itu, buat saja ini seperti benar-benar terjadi. Semakin nyata semakin baik, itu bisa meningkatkan kesan di mata masyarakat.”


 


 


“Baiklah .... Untuk sekarang, saya perlu melakukan apa?”


 


 


“Untuk sekarang tidak ada. Tapi kalau besok, bisa kau arahkan para prajurit ke tempat yang aku tetapkan?”


 


 


.


. Revisi


.


Setelah pembicaraan tersebut, Odo memutuskan untuk pergi karena memiliki beberapa hal untuk dipersiapkan sebelum rencana dimulai. Namun ketika dirinya hendak melangkah keluar dari Mansion dan diantar oleh pelayan sampai ke gerbang, Lisia yang ikut mengantar menghentikan langkah kaki pemuda itu.


 


 


Ia memegang tangan Odo dari belakang, lalu dengan nada sedikit cemas bertanya, “Apa Tuan Odo tidak masalah melakukan hal ini untuk saya? Anda … sudah mendapat gelar bangsawan sendiri, ‘kan? Bukannya lebih baik Anda meningkatkan popularitas di masyarakat terlebih dulu untuk masa depan Anda?”


 


 


Odo menoleh dengan sorot mata datar, ia menggenggam balik dangan halus perempuan itu dan berbalik menghadapnya. “Jujur saja, aku suka sifat dan pemikiranmu. Karena itulah aku selama ini membantu kau,” ujarnya tanpa maksud yang dalam.


 


 


Namun, kalimat tersebut ditangkap dalam arti yang berbeda oleh Lisia. Seakan-akan perkataan tersebut diungkapkan untuk menunjukkan perasaan seorang laki-laki kepada perempuan dan membuat wajahnya sedikit merona.


 


 


“Apa … tidak masalah? Anda sudah punya tunangan, bukan? Anda juga datang malam-malam ke sini dan menemui saya. Kalau ada bangsawan yang menyebarkan rumor, nanti Anda sendiri yang akan repot.”


 


 


“Hmm ….” Odo tidak menjelaskan kesalahpahaman, merasa itu cukup untuk menjadi pendorong Lisia bergerak untuknya. Sembari memasang senyum ringan ia pun berkata, “Tidak masalah. Aku bukan orang yang peduli dengan perkataan orang lain ….”


 


 


Odo melepaskan tangan perempuan itu, kembali menghadap ke depan dan melangkah keluar dari Mansion. Namun saat beru satu langkah, dirinya kembali terhenti dan berbalik. “Ngomong-omong, Ayahmu sedang sakit, ‘kan? Tuan Argo …, dia memangnya sakit apa?” tanyanya dengan nada datar.


 


 


“Eh? Ayahanda …?” Untuk sesaat Lisia termenung, memalingkan pandangan dan terlihat sedikit enggan untuk membahasnya. Setelah menarik napas ringan dirinya pun dengan volume lirih menjawab, “Saya sendiri tidak tahu, Tuan Odo.”


 


 


“Ayahmu sudah pernah diperiksa tabib, ‘kan?”


 


 


Lisia sesaat diam dan tidak menjawab pertanyaan Odo, tambah memalingkan wajah dan tampak bingung harus menjawab seperti apa. Membahas hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak menyaman baginya, terutama jika itu yang menanyakan adalah orang dari keluarga Luke seperti Odo.


 


 


“Tentu saja sudah! Hanya saja ….” Lisia menatap pucat, ingin menjelaskan namun bingung harus berkata apa. Menarik napas dan berusaha menyusun kalimat dengan baik, perempuan rambut merah itu menyampaikannya, “Para tabib …, mereka hanya berkata kalau itu adalah sejenis penyakit bisul parah. Mereka bilang tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengobatinya.”


 


 


“Bisul?” tanya Odo bingung.


 


 


Sebelumnya dirinya Odo mengira kalau penyakit yang diderita Argo Mylta lebih parah sehingga sampai menyerahkan jabatan Walikota kepada Lisia. Namun, mendengar itu hanya sebuah bisul sedikit membuat dirinya heran.


 


 


“Hmm ….” Lisia mengangguk, lalu sembari menatap lurus kembali menjelaskan, “Mereka bilang pernah melihat beberapa orang yang terkena penyakit serupa, namun tidak bisa mengobatinya. Jika mencoba untuk mengempiskan bisul dan mengeluarkan nanahnya, risikonya terlalu tinggi dan bisa mengakibatkan kematian.”


 

__ADS_1


 


“Hanya bisul kok sampai seperti itu?” Odo meletakkan tangan ke dagu, melakukan spekulasi dan merasa memang itu bukanlah penyakit yang disampaikan Lisia. Dengan nada meragukan dirinya kembali bertanya, “Kau yakin itu hanya bisul?”


 


 


“Saya juga tidak tahu, Tuan Odo.” Lisia menggelengkan kepala, lalu menyatukan kedua tangannya dan kembali menjelaskan, “Bisul yang Ayahanda derita bahkan lebih besar kedua kepalan kedua tangan saya. Saat melihatnya, jujur saya takut kalau itu pecah malah membuat kondisinya semakin parah. Apalagi … itu berada di sekitar leher.”


 


 


“Hmm, sebesar itu?” Informasi tersebut membuat Odo yakin kalau itu bukanlah bisul biasa. Ingin memastikan kembali, dirinya menatap datar dan kembali bertanya, “Apa nanahnya sampai keluar? Di tempat bisul pernah ada luka? Atau bisulnya tumbuh sendiri?”


 


 


“Itu tubuh sendiri. Awalnya memang kecil, namun sekitar dua tahun lalu mulai membesar dengan cepat.” Lisia tampak semakin cemas saat membicarakan hal tersebut, ia gemetar dan sedikit memucat karena takut kehilangan sang ayah tercinta. Sembari melangkah ke depan, perempuan rambut merah itu dengan penuh rasa berharap bertanya, “Apa Tuan Odo tidak bisa mengobatinya dengan sihir? Tuan Odo bisa mengobati Lady Mavis, mungkin penyakit yang diderita Ayahanda juga ….”


 


 


Odo menghiraukan permintaan Lisia, lalu dengan nada datar kembali bertanya, “Kau pernah coba pengobatan dengan sihir atau semacamnya?”


 


 


“Su-Sudah ….” Lisia terhenti di hadapan Odo, menundukkan wajah dan kembali berkata, “Namun hasilnya nihil, semuanya tetap tidak bisa. Bahkan, Imam Kota, Pak Andreass tidak bisa menyembuhkannya. Kata beliau dagingnya hidup dan menjadi bagian tubuh Ayahanda, jadi sihir Druid miliknya tidak bisa menyingkirkan penyakit tersebut.”


 


 


“Yah, sihir pemulihan hanya bersifat mengembalikan seperti semula sih. Kalau soal tumor seperti itu aku rasa tidak bisa.”


 


 


Odo memalingkan pandangan dengan sorot mata datar, merasa kalau penyakit seperti itu juga masih mungkin diderita oleh orang-orang di Dunia Selanjutnya. Mengingat kembali kenangan dari masa lalu, dirinya pernah membicarakan soal berbagai jenis tumor dan kanker dengan salah satu rekannya.


 


 


Bahkan, dulu penyakit seperti itu malah digunakan untuk memicu mutasi dan mempercepat evolusi manusia. Menggabungkan peta DNA dengan makhluk lain, lalu mengembangkannya dengan sel-sel menyimpang dan varian kanker.


 


 


“Tuan Odo, apa … Anda tahu penyakit apa yang diderita Ayah saya?”


 


 


“Ah, itu sepertinya memang Kista.” Odo kembali menatap ke arah Lisia, menyipitkan mata dan menambahkan, “Sejenis kanker jinak. Bisa juga disebut tumor tergantung kondisinya.”


 


 


“Kista? Kanker?” Mendengar itu, Lisia tampak bingung karena memang dirinya tidak terlalu mendalami tentang ilmu pengobatan atau semacamnya.


 


 


“Hmm, itu Kista. Bentuknya benjolan berisi air nanah kental, ada juga beberapa kasus yang isinya gas dan bahkan sudah mulai mengeras nanahnya. Itu termasuk tumor jinak, jadi kurasa bukan penyakit yang mematikan. Tergantung cara penanganannya sih,” jelas Odo dengan nada yang terkesan setengah-setengah.


 


 


“Apa … Anda bisa menyembuhkannya?”


 


 


“Tergantung ….”


 


 


Odo menghela napas ringan, merasa kalau penyakit mematikan dari Dunia Sebelumnya juga bukan hanya itu yang terbawa. Karena pengaruh dari penimpaan informasi yang dilakukan Dewi Penata Ulang, hal-hal buruk semacam penyakit dan virus kemungkinan besar juga terbawa dari Dunia Sebelumnya. Memikirkan hal semacam itu, untuk sesaat Odo menggertak kesal.


 


 


“Tuan Odo?”


 


 


“Ah, maaf. Aku hanya mengingat hal menyebalkan. Jadi, sampai mana tadi?”


 


 


“Kista …. Kata Tuan Odo, penyakit yang diderita Ayahanda adalah penyakit Kista.”


 


 


Odo sejenak menarik napas dalam-dalam, membuka telapak tangannya sendiri dan mulai menjelaskan, “Biasanya Kista hanyalah penyakit dengan durasi dua sampai tiga bulan, setelahnya akan mengempis sendiri, atau pecah dan nanahnya keluar. Katamu tadi sudah dua tahun dia menderita itu, bukan? Semoga saja tidak berubah menjadi kanker.”


 


 


“Kanker?”


 


 


“Ya, kanker.” Odo menurunkan tangan, menghela resah dan kembali berkata, “Kalau pernah membaca buku soal pengobatan, istilah atau pembahasan yang mirip pasti ada. Itu daging yang tumbuh tidak terkendali pada jaringan normal. Bisa di organ dalam, bagian luar tubuh, saraf, otot, dan bahkan mata dan otak.”


 


 


Mendengar penjelasan yang terdengar lebih meyakinkan jika dibandingkan dengan tabib atau para orang-orang yang dirinya minta untuk menyembuhkan Ayahnya, Lisia dengan penuh rasa berharap segera meminta, “A-Apa Tuan Odo mau memeriksa Ayahanda sebentar? Mu-Mungkin setelah melihatnya langsung, Anda bisa tahu cara mengobatinya?”


 


 


“Hmm ….” Odo terdiam, merasa permintaan itu sedikit berlawanan dengan rencana yang telah dirinya buat. Membiarkan Argo Mylta mati lebih menguntungkan, karena hal tersebut bisa membuat Lisia sepenuhnya memegang kekuasaan Mylta. Sejenak mengesampingkan ambisi dan rencana yang telah disusun, Odo dengan nada datar bertanya, “Usia ayahmu sekarang berapa?”


 


 


“Eh?” Pertanyaan tersebut sekilas membingungkan Lisia, namun setelah mengambil satu langkah ke belakang ia pun menjawab, “Itu ..., Ayahanda sekarang baru akan 60 tahun.”


 


 


“Baiklah. …. Aku akan memeriksanya dulu.” Odo lebih memilih untuk membuat Lisia bertambah merasa berhutang, mencoba mengambil langkah lain untuk membuat kondisi Kota Mylta lebih stabil dengan mengembalikan pemimpin yang asli. Berpura-pura peduli, ia menyembunyikan niat aslinya dengan bertanya, “Tapi, apa tidak masalah? Berarti mungkin kau tidak punya waktu istirahat sampai rencana nanti pagi dimulai loh …. Lagi pula, bukan berarti aku bisa menyembuhkan ayahmu setelah melihatnya.”


 


 


“Tidak masalah! Meski hanya kemungkinan, saya tetap ingin bisa melihat Ayahanda sehat! Tolong lihat kondisinya sebentar!”


 


 


 


 


\========================


 


 


Catatan:


Yo! Singkat kata, See You Next Time!


 

__ADS_1


Fakta 009: Arca sudah mengenal Odo jauh sebelum dirinya menantang Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut. Alasannya karena Arca sering dicertakan tentang Keluarga Luke oleh Ibunya.


__ADS_2