Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[101] Serpent I – Persiapan & Pembicaraan (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


“Untuk semua Roh dan kehidupan yang bernaung pada Pohon Suci, dengar dan masukan perkataanku pada hati kalian!” Sembari mengangkat tongkat tinggi-tinggi, pemuda rambut hitam tersebut dengan lantang menyatakan, “Aku, Odo Luke, pada detik ini adalah pemimpin kalian semua! Namun, tolong ingat baik-baik bahwa diriku bukanlah Roh seperti kalian! Diriku bukanlah makhluk seperti kalian! Diriku hanyalah seorang manusia! Sosok fana yang kelak akan lenyap oleh waktu!”


 


 


Odo kembali menghentakkan tongkat. Pada detik itu juga, Pohon Suci mulai bergemuruh kencang. Dari dalam tanah, akar-akar raksasa mulai tumbuh dengan cepat dan merambat di sekitar tempat pemuda itu berdiri.


 


 


Layaknya sedang membuka kehidupan baru, semua akar tersebut mengeluarkan buritan-butiran cahaya dengan berbagai warna. Dipenuhi kekuatan kehidupan alam, lalu bercampur dengan unsur putih dan gelap yang sebelumnya sempat muncul.


 


 


Itu bukalah Ether, melainkan kumpulan Roh Tingkat Rendah yang lahir atas kehendak Odo Luke sebagai pemimpin baru. Menunjukkan kepada semua makhluk bahwa dirinya telah dipilih oleh Pohon Suci.


 


 


“Diriku ulangi sekali lagi, pemimpin baru kalian hanyalah seorang manusia ….”


 


 


Mimik wajah semangat Odo luntur, lalu perlahan menundukkan wajah dalam muram. Memahami beban dari perkataanya sendiri, ia untuk sesaat merasa bersalah dan kembali ragu. Namun saat melihat wajah Reyah yang diisi oleh senyuman, dirinya kembali membulatkan keputusan.


 


 


Menarik napas dalam-dalam dan mengajaknya melangkah ke depan, pemuda rambut hitam tersebut mengangkat wajah dan menyatakan, “Sebab itulah, diriku tidak akan bisa memahami kalian! Entah itu penderitaan, pengorbanan, atau bahkan keinginan kalian, diriku tidak akan bisa memahaminya!”


 


 


Odo menghentakkan tongkat untuk kesekian kalinya, lalu menyelesaikan proses penciptaan Roh Tingkat Rendah. Partikel cahaya berhenti keluar dari akar-akar, lalu melayang-layang di udara seakan menggantikan para Roh yang lenyap sebelumnya.


 


 


Menatap lurus ke depan dan menunjuk ke arah langit dengan tongkatnya, pemuda itu dengan suara lantang menyampaikan, “Namun! Diriku bersumpah di sini! Layaknya seorang pemimipin, diriku, Odo Luke akan membimbing kalian! Melindungi kalian! Menyayangi kalian! Layaknya keluarga, manusia ini tidak akan menganggap kalian hanya sebatas komponen dari hierarki yang sudah ada! Kalian adalah keluargaku! Makhluk-makhluk yang pantas diriku lindungi! Karena itulah, tolong terimalah manusia ini sebagai pemimpin kalian! Akui diriku sebagai pemimpin kalian!! Lalu, mari kita melangkah menuju masa depan yang lebih baik! Sesuatu yang telah dijanjikan sang Dewi kepada kalian semua!”


 


 


Saat pidato tersebut berakhir, tidak ada satu pun suara yang terdengar. Sebagian besar Roh tidak tahu budaya bertepuk tangan untuk menghargai ucapan orang lain.


 


 


Namun saat mulai Reyah bertepuk tangan, sebagian dari mereka mengikuti dengan penuh rasa kagum. Seakan-akan mereka memahami perkataan dan perasaan yang telah disampaikan.


 


 


Odo melepaskan tongkatnya, itu langsung masuk ke dalam tanah dan kembali menjadi bagian dari Pohon Suci. Pada saat bersamaan, Roh Tingkat Rendah yang tercipta dari akar-akar raksasa mulai berkumpul pada satu tempat. Bergabung untuk membentuk kehidupan yang lebih sempurna dan kompleks.


 


 


Seakan menjadi hadiah terbesar atas pengangkatan pemimpin baru, kehidupan baru pun lahir untuk menyambut hubungan yang terjalin di antara Odo dan Reyah.


 


 


Tetes kehidupan yang berkumpul semakin padat, lalu menciptakan sosok Roh Tingkat Atas yang memiliki berbagai hawa keberadaan di dalamnya. Hawa bangsa iblis, malaikat, roh, dan bahkan naga bercampur pada kehidupan baru tersebut.


 


 


Roh kecil tersebut tampak seperti anak perempuan berusia tiga tahun, berambut hijau terang dan memiliki kulit putih cerah. Pohon Suci menyambut kelahiran sang Roh, menggerakkan dedaunan yang rontok dan membuatkan pakaian untuknya.


 


 


Perlahan Roh yang baru lahir tersebut melayang turun, lalu jatuh dalam dekapan hangat sang Dryad. Layaknya seorang ibu, ia langsung membelai halus rambut Roh kecil tersebut dan berkata, “Anak ini mewarisi kecantikan ibunya, semoga ia juga mewarisi ketegasan ayahnya.”


 


 


Reyah menatap ke arah Odo, lalu melempar senyum layaknya wanita yang telah mencapai pucak kebahagiaan. Benar-benar puas dengan keputusan yang telah diambil, lalu sepenuhnya lupa dengan konsekuensi yang mungkin muncul karena kontrak mereka.


 

__ADS_1


 


“Kalau tidak salah, di Dunia Nyata anak mendapatkan nama dari sang ayah, bukan?” Ingin menikmati momen bahagia tersebut lebih dalam, sang Dryad berjalan menuju pemuda itu dan meminta, “Ini memang bukan bagian dari kontrak. Namun, boleh diriku memintanya darimu?”


 


 


Odo terdiam sesaat, merasa bingung harus menjawab atau bereaksi seperti apa. Saat kontrak dibuat dan hubungan seperti pernikahan terjalin, pemuda itu memang sudah memperkirakan kemungkinan tersebut terjadi.


 


 


Tetapi saat melihat langsung Roh yang lahir dari Mana miliknya dan Reyah, tetap saja itu cukup untuk membuatnya kehabisan kata-kata. Tidak mengira kalau Dryad tersebut akan bertindak sejauh itu dan sangat jujur pada hasratnya sendiri.


 


 


“Entah mengapa aku seperti meloncati banyak proses dan langsung berdiri di sini,” benak Odo seraya menghela napas. Berusaha untuk menghormati perasaan Reyah, ia melangkah mendekat dan menatap lurus kehidupan baru yang digendong sang Dryad.


 


 


“Nama, ya …?”


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke sejenak terdiam. Momen seperti itu terasa cukup asing baginya. Meski pernah memiliki beberapa anak di Dunia Sebelumnya, namun semua kehidupan tersebut lahir dalam rekayasa genetik. Tidak ada satu pun yang lahir secara alami.


 


 


“Ya, nama untuk anak ini.” Reyah tersenyum tipis, lalu kembali membelai Roh yang baru lahir tersebut.


 


 


Untuk sesaat, Odo sempat teringat dengan Mavis. Merasa kalau setiap ibu pasti akan memperlihatkan ekspresi seperti itu, terutama saat bersama dengan anaknya. Tetapi, pada saat yang sama ia merasa sedih karena hal tersebut.


 


 


Pada akhirnya semua itu hanyalah buatan, bukan sesuatu yang lahir ke dunia secara alami. Baik itu Roh kecil tersebut atau dirinya sendiri, Odo paham bahwa keduanya adalah sesuatu yang muncul karena keegoisan makhluk lain.


 


 


 


 


Reyah sedikit terkejut saat mendengar nama yang Odo berikan.


 


 


Bunga Alyssum memiliki beberapa makna, lalu yang paling sering digunakan adalah Kecantikan yang Berharga. Namun, bunga tersebut juga memiliki makna Tanpa Kegilaan atau Pemikiran Rasional.


 


 


Untuk kata kedua dalam nama tersebut, Iarna sendiri berarti musim dingin. Cukup bertentangan dengan Alyssum yang mekar pada musim gugur.


 


 


“Bunga musim gugur yang tumbuh pada musim dingin?” tanya Reyah memastikan.


 


 


“Itu benar ….” Odo berhenti membelai wajah Alyssum, lalu menatap Reyah dan menyampaikan, “Meski ia tampak mungil dan rapuh, aku harap anak ini bisa bertahan melewati badai yang akan segera datang. Aku berharap kalian berdua selamat dan bisa mendapat kebahagiaan yang sejati, bukan seperti kontrak semu yang kita buat.”


 


 


“Odo ….”


 


 


Reyah seketika berkaca-kaca, air mata tak lagi terbendung dan menetes ke wajah Alyssum yang masih belum bangun. Meski telah membulatkan tekad dan mengambil keputusan, sang Dryad tetap merasa tidak rela dengan fakta yang akan menunggu mereka di akhir.


 


 


Kebahagiaan dengan jelas mengisi benak Reyah saat hubungan tersebut terjalin, meski dirinya paham bahwa itu hanyalah sebuah kontrak. Membuatnya tidak rela dengan ketetapan yang Odo berikan, lalu semakin terbawa perasaan layaknya makhluk fana.


 


 

__ADS_1


Pada detik tersebut, Reyah baru paham bahwa ia hanya ingin meraih tangan pemuda itu. Bukan untuk memilikinya secara paksa, namun untuk bisa menolongnya dari penderitaan yang telah menunggu di masa depan.


 


 


Secara keseluruhan, isi kontrak yang mereka jalin cukuplah sederhana. Sebagai ganti permintaan Odo untuk meminjam kekuatan Pohon Suci, sang Dryad menginginkan hubungan seperti pasangan pernikahan.


 


 


Pemuda itu harus memberikan, mengantarkan, dan menunjukkan berbagai hal baru kepada Reyah. Sesuatu yang ingin Roh Agung itu raih dari dulu.


 


 


Namun, apa yang menjadi masalah adalah syarat yang Odo masukan dalam kontrak. Meski disebut meminjam, pemuda tersebut menetapkan batas pengembalian yang sangat ekstrem.


 


 


Selama Odo masih hidup, dirinya akan selalu memiliki akses atas sebagian kekuatan Pohon Suci. Dalam kondisi tertentu yang telah disepakati, Reyah juga harus menyerahkan seluruh wewenang Pohon Suci kepada pemuda itu.


 


 


Lalu⸻


 


 


Kondisi tersebut adalah ketika Odo Luke melawan Dewa-Dewi. Secara spesifik, yaitu saat dirinya berhadapan dengan entitas dari dimensi tingkat tinggi. Namun, dalam kondisi tersebut ada sebuah pengecualian di mana Reyah boleh membatalkan kontrak.


 


 


Karena itulah, kelak sang Dryad akan dipaksa untuk memilih. Memutuskan kontrak untuk melindungi Pohon Suci sebagai Roh Agung, atau mengikuti kehendak pemuda itu dan menyeret bangsanya ke dalam konflik besar tersebut.


 


 


“Ini adalah kontrak kita, engkau tidak perlu bersedih.” Odo tersenyum lega, merasa sedikit senang karena Reyah masih memahami konsekuensi dari kontrak yang ada. Sembari mengulurkan tangan kepadanya, pemuda itu dengan lembut meminta, “Tolong jangan memasang wajah seperti itu dan tersenyum lah seperti tadi, wahai Roh Agung milikku.”


 


 


“Tentu ….”


 


 


Reyah tidak meraih uluran tangan tersebut, hanya melebarkan senyum dan mendekap Alyssum erat-erat. Semakin tidak rela dengan kontrak yang pemuda itu tetapkan di akhir hubungan nanti.


 


 


Baik itu Odo ataupun Reyah, mereka tidak pernah sekalipun mengharapkan akhir buruk. Kalau bisa, keduanya bahkan ingin terus hidup bersama dan saling berdampingan. Meski itu dalam bentuk yang berbeda dari sekarang.


 


 


Namun, hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa mereka putusan. Entah bagaimana prosesnya, mereka tidak tahu akhir kisah akan seperti apa.


 


 


Bahkan jika Odo melakukan Spekulasi Persepsi secara penuh dan menerawang puluhan tahun ke masa depan, jawaban yang didapat tidak akan menjadi pasti. Sebab ia bukanlah sosok yang menentukan takdir, meski itu miliknya sendiri dan orang-orang terdekatnya.


 


 


Apa yang bisa pemuda itu lakukan hanya memprediksi, menggunakan kemungkinan, lalu melangkah melalui jalan yang sudah dirinya lihat. Bukan membuat jalannya sendiri di antara ketidakpastian yang sudah ada.


 


 


Karena itulah, dirinya disebut sebagai perwujudan dari Kemahatahuan oleh sang Dewi Penata Ulang. Bukan Kemahakuasaan.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2