Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[89] Dekadensi Kota Rockfield VI – Paradigm (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


 


Mengangkat kaki kiri ke atas kaki kanan, menyandarkan tubuh ke tempat duduk dan menyangga kepala dengan punggung tangan. Memperlihatkan sikap yang sangat berbeda dengan sebelumnya, Putra Tunggal Keluarga Luke tampak seperti seorang preman yang tidak menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.


 


 


Pada ruangan milik Kepala Prajurit di Kantor Pusat Administrasi Rockfield, Rosaria juga duduk pada sofa yang sama dengan pemuda rambut hitam itu. Berbeda dengan rekannya yang memperlihatkan wajah sedikit kesal, Pendeta Wanita hanya memasang ekspresi datar dan terdiam tanpa satu kata pun keluar dari bibir tipisnya.


 


 


Sikap, ekspresi, dan gestur mereka membuat Jonatan sedikit bingung. Kepala Prajurit tersebut tidak mengerti kenapa sifat Odo berubah setelah masuk ke ruangannya, seakan-akan apa yang pemuda itu perlihatkan di luar hanyalah kepura-puraan semata.


 


 


Di dalam ruangan dengan lampu kristal yang telah menyala, mereka duduk saling berhadapan untuk membicarakan hal terkait kepentingan masing-masing. Tumpukan dokumen masih terlihat di meja kerja, lemari, dan bahkan beberapa lembar pun ada di atas meja tamu di depan mereka bertiga.


 


 


Sekilas mengamati sekitar dan mengerti bahwa Jonatan bukanlah tipe orang yang suka menyelewengkan wewenang dan bermalas-malasan, Odo menurunkan kaki kiri dan sejenak menarik napas ringan. “Maaf, sepertinya saya sedikit salah paham,” ujar Odo seraya memasang senyum tipis.


 


 


Melihat hal tersebut, Jonatan sedikit mengerutkan kening dan bertanya, “Apa Anda sedang mengetes saya?”


 


 


“Anda sangat sibuk, ya?” Odo tidak menunjukkan niat menjawab pertanyaan pria paruh baya itu. Ia sekilas memalingkan pandangan ke arah tumpukan dokumen di atas meja kerja, lalu dengan senyum tipis melirik ke arah lawan bicara. “Apa yang Anda lakukan di sini adalah karena perintah dari Yang Mulia,” tanyanya dengan nada menekan.


 


 


Tidak gentar dengan intimidasi yang diberikan, Jonatan balik melempar senyum ramah untuk menyembunyikan rasa cemas. Sembari menunjuk ke arah Odo, Kepala Prajurit dengan nada tegas memastikan, “Tolong jelaskan dulu kedatangan Anda. Terlebih lagi, mengapa bisa Tuan Odo bersama dengan Nona Rosaria. Apa kalian ingin melakukan sesuatu di Rockfield?”


 


 


“Hmm ….” Odo kembali menatap lurus lawan bicara. Memasang senyuman yang sedikit menekan, ia menjentikkan jari dan balik bertanya, “Bukankah Tuan Jonatan sudah tahu alasan saya datang ke sini?”


 


 


“Samar-samar saya tahu ….” Jonatan memperlihatkan wajah gelisah. Mempertimbangkan kembali kepribadian Odo Luke yang tidak bisa dirinya pahami, sang Kepala Prajurit kembali berkata, “Namun, saya ingin mendapat penjelasan dari mulut Tuan Odo langsung. Saya tidak mengerti pola pikir Anda, karena itulah saya mengharapkan penjelasan yang pantas supaya saya ini tidak salah menafsirkan kepentingan Anda.”


 


 


“Baiklah, itu tidak masalah ….” Odo membuka kedua tangan ke depan, lalu sembari tersenyum ramah menambahkan, “Namun, bukan saya yang akan menjelaskan. Tujuan saya datang ke tempat Anda akan dijelaskan oleh rekan saya, Nona Rosaria.”


 


 


“Permisi, Tuan Jonatan.” Rosaria menundukkan kepala untuk memberi penghormatan secukupnya. Kembali duduk dengan tegak, Pendeta Wanita itu menatap dengan raut wajah dingin dan berkata, “Untuk kepentingan Tuan Odo, hal tersebut biarkan saya yang menjelaskan. Tolong dengarkan dulu seluruh perkataan saya, setelah itu Tuan Jonatan bisa mengambil kesimpulan dari maksud kedatangan kami ke tempat Anda.”


 


 


Mengetahui orang puritan tersebutlah yang akan menjelaskan, Jonatan sekilas memperlihatkan ekspresi tidak tenang dan segera duduk tegang. Bagi orang yang tumbuh besar di Ibukota Kerajaan Felixia, Jonatan cenderung memiliki rasa hormat tinggi kepada orang puritan.


 


 


Dalam ketidaknyamanan tersebut, pria paruh baya tersebut sekilas melihat ke Odo dan merasa kalau pemuda itu sengaja melakukannya. “Anak ini, dia tahu kalau orang-orang Ibukota tidak bisa mengacuhkan orang puritan?” benak Jonatan dengan senyum kecut.


 


 


Setelah itu, Prajurit Elite itu pun mendengarkan penjelasan dengan saksama layaknya sedang mendengarkan ceramah rohani. Jonatan bukanlah tipe orang dengan religius kuat. Namun karena tinggal pada lingkungan dengan mayoritas hamba taat, sifat tersebut tertanam dalam dirinya.


 


 


Kepercayaan yang diwariskan dari orang tua, itulah tingkat religius sang Prajurit Elite. Tidak memiliki kepercayaan yang kuat dengan apa yang dianut, namun secara insting merasa itu adalah benar dan harus dipatuhi.


 


 


Bahkan, di tengah penjelasan tanpa sadar pria paruh baya itu menyatukan kedua tangan seperti halnya sedang beroda. Meski seharusnya apa yang dijelaskan Rosaria hanyalah kalimat-kalimat biasa tanpa doa sedikitpun.


.


.


.


.


Setelah penjelasan selesai, Jonatan berhenti menyatukan tangan dan sesaat menghela napas. Ia menatap kedua orang di hadapan, lalu sejenak terdiam sembari menyusun kembali penjelasan yang telah disampaikan.


 


 


Pada penjelasan Rosaria, Odo sendiri tidak meminta Pendeta Wanita itu menjelaskan semua rencana yang ada. Apa yang disampaikan hanyalah mencangkup rencana pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra, pemulihan kondisi politik kota, dan membantu Keluarga Stein dalam mendapatkan kembali pengaruhnya.


 


 


Pada semua tujuan yang dijelaskan oleh Rosaria, Jonatan sedikit tidak mengerti kenapa Putra Tunggal Keluarga Luke susah-susah ingin terlibat dengan Keluarga Stein dan Keluarga Quidra. Untuk Odo yang merupakan anak dari Tuan Tanah dari Wilayah Luke, itu akan sangat aneh jika ia melakukan hal-hal itu tanpa memakai wewenang keluarganya.


 


 


“Saya paham tujuan Anda datang ke Rockfield. Lalu, apa yang Anda inginkan dari saya? Mengapa Tuan Odo datang pada saat para pejabat sudah pulang, lalu datang ke tempat sama bersama Nona Rosaria?”


 

__ADS_1


 


Pertanyaan itu merupakan hal yang Odo tunggu sejak penjelasan selesai disampaikan. Bertepuk tangan satu kali, pemuda rambut hitam itu menatap tajam dan langsung berkata, “Tentu karena saya ingin Anda mengembalikan gelar Knight kepada Keluarga Quidra.”


 


 


“Itu tidak bisa,” jawab Jonatan dengan cepat.


 


 


“Alasannya?”


 


 


“Keluarga Quidra sudah tidak memiliki kapabilitas sebagai Knight.”


 


 


“Apa itu kapabilitas untuk melindungi? Atau dalam hal administrasi mengatur para prajurit dan penjaga di Kota ini?”


 


 


Untuk pertanyaan tersebut, Jonatan tidak langsung menjawab karena merasa ada yang aneh dalam pola pembicaraan. Sembari menyipitkan tatapan pria paruh baya itu memastikan, “Apa … Anda sungguh-sungguh ingin mengembalikan gelar tersebut kepada Keluarga Quidra?”


 


 


“Tentu saja.” Odo mengangguk tanpa ragu. Sembari memasang senyum santai, Putra Tunggal Keluarga Luke menyindir, “Kalau tidak, mana mungkin saya mau meminta tolong kepada orang yang dulu pernah aku hajar bersama rekan-rekannya.”


 


 


“Anda tak perlu memanas-manasi saya.” Jonatan tidak terpengaruh, ia tetap memperlihatkan ekspresi tenang dan hanya menghela napas ringan. Meletakkan telunjuk ke kening dan sedikit menunduk, pria paruh baya itu kembali memastikan, “Kalau boleh tahu, kira-kira apa alasan Anda melakukan hal tersebut? Jangan bilang untuk Keluarga Stein?”


 


 


“Hebat Anda bisa menebaknya,” ujar Odo dengan tanpa beban.


 


 


Jawaban itu membuat Jonatan mengerutkan kening. Menurunkan telunjuk, Prajurit Elite itu sekilas memasang wajah kesal dan menegur, “Dengar ini, Tuan Odo. Ini bukan permainan anak-anak. Anda tidak boleh asal ikut campur hanya karena ingin, semuanya memiliki pola yang telah ditetapkan. Jika Anda melakukan hal itu tanpa pikir panjang, semuanya bisa saja berakhir buruk.”


 


 


Perkataan itu seakan menganggap lawan bicara hanyalah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Memahami hal tersebut, Odo seketika menatap tajam dan menekan, “Struktur dan pola. Itu, apa itu struktur pola yang dibuat Raja Gaiel?”


 


 


“Bukan ….” Jonatan masih menganggap bahwa lawan bicaranya hanya seorang anak kecil yang tidak tahu dunia politik. Sejenak menarik napas, pria paruh baya itu kembali berkata, “Ini adalah moral yang normal di strata atas. Jika hal tersebut dilanggar, maka sebuah kekacauan akan terjadi.”


 


 


 


 


Itu bukanlah sorot mata anak polos, dan topik yang disinggung juga bukanlah sesuatu yang boleh dibicarakan oleh anak Tuan Tanah. Pada detik itu, Jonatan mengerti kenapa Raja Gaiel menilai tinggi Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


“Sungguh, memangnya Anda mengharapkan apa dari saya⸻?”


 


 


“Saya harap Anda menyerahkan gelar tersebut kepada yang berhak.”


 


 


Untuk sesaat, pembicaraan terhenti. Kedua belah pihak sama-sama memahami, bahwa kepentingan mereka tidak bisa terwujud jika terus saling memaksakan satu sama lain.


 


 


Mengambil sedikit toleransi, Jonatan memberikan kesempatan memutuskan untuk memberi kesempatan. “Jika saya memberikan kesempatan, apakah Anda ingin berkata bahwa Keluarga Quidra memiliki kapabilitas untuk melindungi kota? Atau …, Tuan Odo malah ingin berbicara hal naif seperti Anda sendirilah yang akan melindungi kota?” ujarnya dengan niat untuk menolak.


 


 


“Tentu saja tidak.” Odo mengacungkan jari telunjuk ke depan. Berhenti menyeringai, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menantang, “Jika saya bisa membuktikan bahwa Keluarga Quidra memiliki kapabilitas tersebut, apakah Anda akan mengembalikan gelar dan kehormatan mereka?”


 


 


“Huh, memangnya apa yang bisa mereka lakukan?” Jonatan benar-benar tampak muak dengan pembicaraan. Selain karena sudah lelah dan ingin segera melanjutkan pekerjaan yang tersisa, pria paruh baya itu juga sedikit memendam perasaan tidak senang terhadap Odo. Sembari menunjuk lurus lawan bicara, ia dengan nada tegas berkata, “Anda tahu! Keturunan Keluarga Quidra hanya tersisa dua orang saja, terlebih lagi mereka adalah perempuan. Memangnya mereka bisa melakukan hal apa untuk melindungi orang lain?! Lagi pula, kabar buruk juga sudah tersebar tentang mereka. Akan sulit untuk meyakinkan pejabat lain!”


 


 


Mendengar itu, Odo hanya memasang ekspresi datar. Namun untuk Rosaria, hal yang disampaikan oleh Jonatan membuat Pendeta Wanita itu tampak kesal. Merasa kalau orang pemerintahan memang memiliki kecenderungan merendahkan perempuan. Meski pada kenyataannya Kerajaan Felixia adalah Negeri yang pewarisannya berdasarkan Matrilineal.


 


 


“Apa … karena seorang perempuan, mereka tidak boleh mendapatkan hak mereka kembali?” tanya Rosaria dengan nada tersinggung.


 


 


Mendengar Pendeta Wanita itu ikut bicara, Jonatan sedikit tersentak dan secara insting tidak ingin membuat orang puritan tersebut tersinggung. Tetapi saat melihat senyum Odo, perasaan tersebut seketika hilang.


 


 

__ADS_1


“Hak apa memangnya?” ujar Prajurit Elite dengan tegas. Sembari berhenti menunjuk dan mengepalkan tangan ke depan dengan penuh rasa militan, ia dengan tegas menyampaikan, “Gelar Knight memang bisa diwariskan dalam keluarga, namun itu hanya ketika keluarga tersebut mampu menjalankan fungsinya! Jika tidak, sudah seharusnya gelar itu diserahkan kepada orang yang lebih layak!”


 


 


Odo kembali menyeringai saat mendengar ucapan seperti itu. Bertepuk tangan satu kali, pemuda rambut hitam tersebut memastikan, “Berarti Tuan Jonatan tidak keberatan soal permintaan saya, ‘kan? Jika mereka mampu, Anda mau mengembalikan gelar tersebut, bukan?”


 


 


“Bukan itu masalahnya! Lagi pula, kenapa Anda bicara seakan saya mencuri gelar itu!” Jonatan kehilangan rasa tenang, merasa terancam dalam pembicaraan dan mengelak, “Begini! Tuan Odo! Gelar Knight memiliki fungsi untuk melindungi, karena itulah kami harus bisa memilih keluarga yang sesuai untuk⸻!”


 


 


“Saya tahu hal tersebut, tolong jangan meremehkan,” potong Odo dengan tegas.


 


 


Itu membuat Jonatan terdiam sesaat, menatap dengan senyum kecut. Sejenak menarik napas dalam-dalam dan meletakan kedua tangan yang gemetar ke pangkuan, pria paruh baya itu dengan cemas memastikan, “Lalu, kenapa Anda bersikeras dalam hal ini? Anda juga seharusnya paham bahwa mereka bukanlah orang kuat, ‘kan?”


 


 


“Nyonya Mitranda dan Nona Racine memang bukanlah orang yang kuat secara fisik.” Odo mengangguk dua kali. Sembari mengangkat tangan ke dagu, pemuda rambut hitam itu dengan intimidasi kembali berkata, “Mereka juga perempuan yang bahkan tidak pernah memegang pedang. Namun, mereka juga memiliki hal yang bisa mereka lakukan untuk melindungi semua orang.”


 


 


“Huh, apaan itu?!” Jonatan menggebrak meja, membuat kertas-kertas di atasnya melayang dan jatuh ke lantai. Dengan rasa sorot mata dikuasai oleh rasa kesal karena merasa arah pembicaraan hanya berputar-putar, Prajurit Elite itu membentak, “Kalau memang mereka yang lemah bisa melindungi banyak orang, saya tidak akan pernah menjadi seorang prajurit! Dunia ini bukanlah tempat yang ramah bagi perempuan! Yang pantas melindungi adalah mereka yang kuat! Kodrat yang lemah adalah dilindungi! Anda seharusnya paham hal itu!”


 


 


Melihat reaksi tersebut, Rosaria sempat merasa kalau Odo telah menyinggung zona sensitif Jonatan. Pendeta Wanita itu perlahan menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, lalu dengan heran menatap dan dalam benak bertanya-tanya bagaimana bisa pemuda itu bisa melakukannya. Karena dalam sepengetahuan Rosaria, Prajurit Elite di hadapan mereka terkenal dengan dan tidak mudah terbawa emosi.


 


 


Tidak memedulikan tatapan Rosaria atau bahkan gentar karena bentakan Jonatan, Odo malah memasang senyum lebar dan memperlihatkan rasa puas. Ia menjentikkan jari, lalu sembari menunjuk ke depan berkata, “Kalau begitu, bagaimana kalau kita buktikan?”


 


 


Jonatan berusaha tenang dengan menarik napas dalam-dalam. Dengan sorot mata kesal dan tidak bisa berpikir jernih karena merasa diremehkan, pria paruh baya itu bertanya, “Buktikan? Memangnya apa yang ingin Anda buktikan?”


 


 


“Tentu saja ….” Odo berhenti menunjuk. Sembari memasang senyum tenang, pemuda itu kembali menyampaikan, “Kami akan membuktikan bahwa Keluarga Quidra masih kuat dan mampu untuk melindungi.”


 


 


Jonatan hanya memperlihatkan mimik wajah dingin. Sedikit bisa menebak apa yang ingin disampaikan oleh Odo, ia dengan senyum meremehkan memastikan, “Dengan apa?”


 


 


“Sebuah duel.”


 


 


Jawaban itu benar-benar membuat Jonatan tersenyum lebar. Sembari memperlihatkan ekspresi seakan dirinya sedang mempermainkan, pria paruh baya itu bertanya, “Anda ingin mereka melakukan duel? Perempuan yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang, Anda ingin mereka bertarung dengan saya?”


 


 


“Saya bilang duel. Hanya satu yang akan melawan Tuan.”


 


 


“Ah, jangan bilang Anda ingin mewakili mereka dan melakukan duel? Lagi pula, Anda ingin duel dengan siapa?”


 


 


Pertanyaan tanpa pikir pajang tersebut adalah kesalahan fatal dalam pembicaraan. Telah menunggunya sejak Jonatan kehilangan kesabaran, Odo dengan tegas berkata, “Anda tidak perlu cemas, bukan saya yang akan melakukan duel. Keluarga Quidra sendiri yang akan melakukannya. Lalu, salah satu dari mereka juga akan mengalahkan Tuan Jonatan dan menghancurkan kesombongan Anda.”


 


 


“Terserah saja!” Tantangan itu benar-benar membuat Jonatan naik pitam. Segera bangun dan menatap penuh amarah, ia tanpa berpikir dua kali berkata, “Coba buktikan! Asal Tuan Odo tahu, saya tidak memiliki waktu untuk meladeni hal seperti ini! Jika memang mereka mampu mengalahkan saya, lakukan saja! Saya akan menerima duel dari Keluarga Quidra! Jika memang mereka bisa menang, saya tidak akan lagi mengusik pewarisan gelar Knight kepada mereka!”


 


 


“Terima kasih, Tuan Jonatan.” Odo ikut bangun. Memperlihatkan ekspresi datar dan hanya menatap lurus, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Saya juga tidak punya waktu untuk melakukan hal seperti ini dengan Anda. Karena itulah, Anda harus memenuhi tantangan ini untuk membuat saya menyerah. Jika tidak, selanjutnya saya akan mengambil langkah yang lebih berani dan bahkan memanggil Penyihir Cahaya ke tempat ini.”


 


 


“Huh!” Jonatan menghela napas dengan resah. Seraya memalingkan pandangan, pria paruh baya itu bertanya, “Kapan Anda akan memulainya? Jujur, saya tidak ingin memperlama masalah seperti ini.”


 


 


“Beri saya waktu tiga hari untuk mempersiapkan, lalu dalam waktu itu Anda juga harus mempersiapkan panggung duel yang layak untuk duel tersebut.”


 


 


 


 


ↈↈↈ


 


\================


Catatan Kecil :

__ADS_1


Fakta 020: Odo itu sedikit maniak tentang hal-hal berbau medieval.


__ADS_2