Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[79] True, Truth, Turn (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Tujuh Gorteah yang datang dari ketujuh arah membuat Argo berhenti menyalurkan sihir ke dalam pedang. Namun itu bukan karena dirinya terkejut atau panik, melainkan paham apa yang harus dilakukan pada momen tersebut.


 


 


“Battle Art …. Wolfram!”


 


 


Argo tidak mengubah posisi kuda-kudanya. Mana yang dirinya kumpulkan langsung digunakan menyokong kondisi tubuh, meningkatkan kekuatan dan ketahanan fisik. Dikombinasikan dengan sihir penguatan, seketika permukaan kulitnya mengeras sampai melebihi tingkat kepadatan baja.


 


 


Tanduk para Gorteah menghujani tubuhnya, benar-benar mengincar bagian vital seperti perut dan dada. Namun semua itu hanya sebatas merobek pakaiannya, kulit pria tua tersebut hanya tergores dan sama sekali tidak mengeluarkan darah meski tertusuk tanduk yang bisa dengan mudah menembus zirah.


 


 


Para Gorteah terkejut dengan tingkat kekerasan tubuh pria tua tersebut, langsung berniat menjaga jarak dan berancang-ancang untuk meloncat ke belakang. Tentu saja Argo tidak membiarkan kesempatan yang ada dimana mereka berada dalam jangkauan. Dengan pedang yang siap terayun, ia langsung menebas dua ekor Gorteah di hadapannya.


 


 


Darah menciprat, tebasan tepat mengenai bagian leher mereka yang rapuh dan seketika dua ekor tumbang. Mengambil satu langkah ke depan untuk memperlebar jangkauan ayunan pedang, pria tua tersebut kembali menebas diagonal satu ekor Gorteah lain dan mengancurkan tanduk beserta kepalanya.


 


 


Pedangnya retak karena menyerang tanduk, membuat Agro terhenti dan mengurungkan niat untuk mengejar empat ekor yang tersisa. Langkah yang terhenti tersebut dimanfaatkan para Gorteah untuk menjauh, meloncat sekitar dua meter ke belakang dan berlari ke arah barisan pasukan yang sebelumnya kacau.


 


 


Tetapi, apa yang menunggu mereka adalah putri dari pria tua yang telah menghabisi rekan mereka. Lisiathus Mylta telah memasang kuda-kuda berpedang dan dengan cepat menyiapkan sihirnya, mengumpulkan Mana pada tangan kanan dan melakukan teknik pemadatan Mana keluarga Mylta untuk menciptakan pedang.


 


 


Berbeda dengan ayahnya yang memerlukan medium sebagai wadah sihir, Lisia yang sudah menguasai tingkat perubahan sifat dan bentuk sihir sekaligus tidak memerlukan hal semacam itu. Secara langsung ia menciptakan pedang api dengan sihirnya, dengan suhu intinya mencapai 1.538°C dan cukup untuk langsung melelehkan besi dalam sekejap.


 


 


Tebasan pertama dengan akurat mengenai tubuh salah satu Gorteah, dagingnya seketika melepuh, tulangnya patah, lalu terbakar sepenuhnya sampai sekujur tubuhnya gosong. Mengokohkan kuda-kuda kaki kanan, perempuan rambut merah tersebut melancarkan serangan kedua berupa tusukan.


 


 


Refleks Gorteah lebih cepat dari serangan tersebut. Dengan kaki depan menginjak permukaan tanah dan menendang keras, monster dengan tubuh serigala dan kepala rusa bertanduk besar tersebut menghindar ke belakang. Saat berhasil menghindari tusukan, monster tersebut berniat menyerang balik.


 


 


Namun saat melewati pedang sihir yang telah dihindari, seketika bilah pedang api milik Lisia berbelok seperti cambuk dan menusuk tubuh Gorteah itu dari belakang. Bernasib sama seperti monster sebelumnya, tubuhnya seketika terbakar sampai gosong dari dalam.


 


 


Dua ekor Gorteah yang tersisa segera menghentikan langkah mereka, benar-benar disudutkan dan merasa tidak bisa menang. Salah satu di antara Gorteah yang masih tersisa itu adalah pimpinan kawanan, berbadan lebih besar dan tanduknya memiliki cabang lebih banyak. Ia melolong, tidak seperti serigala namun malah terdengar seperti gonggongan anjing sekarat.


 


 


Tidak memberikan rasa kasihan, Lisia berjalan ke arah mereka dengan mimik wajah kesal dan mulai mengangkat pedang sihirnya ke samping. “Matilah, dasar monster keparat,” umpatnya sembari mengayunkan pedangnya secara vertikal. Tebasan api melengkuk dan memanjang layaknya cambuk, melebas kedua ekor Gorteah itu dan membakar tubuh mereka.


 


 


Dengan tebasan tersebut, serangan para monster berakhir. Paling tidak itulah yang dirasakan oleh Lisia, Argo, dan para prajurit yang berada di tempat tersebut. Ketika napas lega dihirup, suara ringkik keras yang tiba-tiba terdengar dari langit membuat mereka semua tersentak.


 


 


Lisia, Argo, dan para prajurit segera menatap ke langit dimana sumber suara tersebut berasal. Persisi seperti apa yang mereka takutkan, di sana telah dipenuhi kawanan Hatuibwari. Jumlah mereka bukan hanya tiga atau empat ekor, melainkan sampai belasan.


 


 


Sekawanan penuh Hatuibwari benar-benar datang ke Mylta, sama seperti skenario terburuk yang bisa Argo pikirkan saat melihat salah satu monster jenis tersebut datang.


 


 


Mengepakkan sayap dalam kelompok, memancarkan aura sihir dan siap untuk bertarung secara penuh. Berbeda dengan tiga ekor Hatuibwari yang pertama kali datang, kawanan tersebut telah mengidentifikasi orang-orang di dalam kota sebagai musuh bahkan sebelum sampai.


 


 


“Apa … orang-orang yang naik ke menara gagal?” gumam Lisia.


 


 


Pedang sihir apinya padam dan lenyap, wajahnya seketika memucat. Pada akhirnya, perempuan rambut merah tersebut berlutu dengan lemas. Teknik pedang sihir dengan manipulasi perubahan bentuk dan sifat sangatlah menguras Mana, karena itulah ia jarang menggunakan teknik tersebut untuk pertarungan jangka panjang.


 


 


“Seharusnya … saya lebih menghemat Mana,” ujar Lisia sembari bangun dengan sedikit sempoyongan.


 


 


“Tch!” Argo mengerutkan kening, merasa kalau kondisinya berubah sangat merugikan. Paham dirinya tidak bisa lagi memikirkan citra kota di mata para pedagang dari luar Kerajaan, ia dalam benak membuat keputusan. Mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, Walikota tersebut memberikan perintah, “Bunyikan lonceng peringatan!! Evakuasi semua orang di kota ke Gereja Utama!”


 


 


“Kalian tak perlu melakukannya, itu hanya akan membuat para penduduk tambah panik dan mengundang kekacauan.”


 


 


Mendengar ucapan tersebut, Argo dan Lisia menoleh ke sumber suara. Begitu pula para prajurit yang tidak bisa melakukan banyak hal di tempat tersebut. Di antara para prajurit, pemuda rambut hitam yang memberikan saran tersebut berjalan tanpa memperlihatkan ekspresi panik atau cemas.


 


 


Begitu datar dan tenang. Hanya dengan melangkahkan kaki, aura mistis tampak kuat menyelimuti tubuhnya. Meski wujudnya seorang manusia, setiap orang yang melihatnya seketika tahu kalau keberadaan pemuda itu berada di luar prinsip makhluk hidup secara umum.

__ADS_1


 


 


Untuk sesaat Lisia bahkan tidak bisa mengenalinya meski secara visual matanya menangkap wujud fisik pemuda itu. Aura dan karisma yang begitu berbeda membuat dirinya terdiam, tak berani memanggil dan hanya menutup mulut rapat-rapat dengan bibir sedikit mengering.


 


 


“Ka-Kau … siapa?” tanya Argo dengan pucat. Pria dengan tinggi lebih dari dua meter tersebut melangkah mendekat, sekilas merasakan nostalgia dengan aura kekuatan suci yang terpancar dari pemuda itu. Mengingatkannya dengan Mavis Luke, sang Saintess. Sembari kembali mengambil satu langkah mendekat dirinya bertanya, “Apa … engkau putra dari sang Penyihir Cahaya? Engkaukah Odo Luke?”


 


 


Odo hanya melirik kecil, tidak menjawab pertanyaan tersebut dan langsung kembali menatap ke arah para Hatuibwari di langit. Mengangkat tangan kanannya lurus ke langit, ia menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya.


 


 


“Reverse ….!”


 


 


Dalam satu jentikan jari, seketika para Hatuibwari di langit langsung kehilangan niat menyerang. Nafsu membunuh yang terpancar dari mereka tiba-tiba lenyap, lalu mulai menunjukkan gelagat bingung dan enggan berada di Kota Mylta.


 


 


Apa yang Odo lakukan hanyalah membalik frekuensi gelombang yang sebelumnya digunakan untuk memancing para monster. Layaknya medan magnet, frekuensi gelombang dari struktur topologi kota yang tiba-tiba berubah memberikan dampak tak kasat mata kepada para Hatuibwari.


 


 


Ketika Odo menjentikkan jari untuk kedua kalinya, para Hatuibwari tersebut sepenuhnya mengurungkan niat untuk membalaskan dendam kawanan mereka. Seakan memang kota menjadi tempat terlarang untuk didatangi, kawanan tersebut dengan bingung segera terbang pergi dari langit Mylta.


 


 


Aneh, tak wajar, dan membingungkan. Melihat kejadian yang ada, para prajurit benar-benar terpengarah. Lebih daripada saat melihat kawanan Hatuibwari datang ke kota mereka.


 


 


Di antara mereka ada yang menganggap itu sebagian sihir yang luar biasa, lalu sebagian lainnya ada yang menganggap hal tersebut adalah keajaiban. Sebab orang yang melakukannya adalah putra dari sang Penyihir Cahaya, Odo Luke.


 


 


Apa pun yang mereka rasa dan pikirkan, dalam kesatuan mereka benar-benar dibuat kagum dengan apa yang Odo Luke lakukan. Ketika pemuda itu menurunkan tangannya, orang-orang di dekat gerbang utama mulai bersorak, memperlihatkan wajah penuh rasa hormat layaknya menyaksikan sebuah Mukjizat dari makhluk yang agung.


 


 


Argo Mylta, sang Walikota pun tidak luput dari karisma dan hal yang Odo tunjukkan kepada mereka. Menanggap bahwa pemuda itu memang putra dari sang Saintess, memiliki hal membendakan dirinya dengan orang lain.


 


 


Meski dirinya masih memiliki beberapa pertanyaan tentang penampilan dan hal-hal lain terkait Odo, pria tua tersebut hanya bisa terdiam dengan rasa kagum.


 


 


Namun berbeda dengan mereka semua, Lisia yang mengetahui rencana Odo malah memberikan tatapan kesal. Amarah dengan jelas berkobar dalam hati, merasa pemuda rambut hitam itu hanya ingin memanfaatkan semua orang yang terlibat dalam insiden kali ini untuk meningkatkan reputasinya sendiri. Bahkan mengorbankan sampai mengorbankan para pedagang dan penduduk dalam kejadian kali ini.


 


 


 


 


“Engkau sungguh luar biasa! Wahai Putra Penyihir Cahaya! Apa yang engkau lakukan sebelumnya itu semacam sihir tingkat tinggi?”


 


 


Melihat ayahnya benar-benar terkesima dan masuk dalam tipu daya Odo, Lisia hanya bisa terdiam dengan mimik wajah terperangah. Dirinya seketika mengerti, meski membongkar kebohongan Odo sekarang pun pasti semua orang tidak akan ada yang percaya.


 


 


Suasana dan kondisi ⸻ Situasi benar-benar memihak pemuda itu. Menjadikan muslihat yang ada dianggap sepenuhnya sebagai jasa yang dilakukan oleh pemuda rambut hitam tersebut. Para prajurit pun mulai mendekat, menyanjung dan melempar pertanyaan kepadanya.


 


 


Di antar kerumunan yang mulai mengelilingi, Odo menoleh ke arah Lisia dan sekilas bergumam, “Input, Radd Sendangi ….” Dengan kemampuan telepati yang dirinya pernah salin dari Elulu, pemuda itu melakukan telepati satu arah kepada Lisia.


 


 


“Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang, bisa kau mengikuti alur yang ada? Aku perlu bicara dengan Ayahmu dulu.”


 


 


Mendengar suara Odo yang bergema di dalam kepala, Lisia seketika tersentak dan bingung. Dirinya tak mengira pemuda itu juga bisa menggunakan telepati, sesaat membuat rasa kesalnya terhapus. Namun saat dirinya mengingat korban yang berjatuhan selama insiden, amarah kembali naik dan membuat keningnya mengerut.


 


 


“Apa … yang sebenarnya Tuan Odo ingin lakukan?”


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


Genangan air setinggi lutut, berdiri di bawah sinar remang-remang yang terpotong oleh dedaunan pohon. Sendirian dan sangat jauh dari keramaian kota, ia hanya menatap kosong ke arah permukaan air dari danau dangkal tempatnya berdiri.


 


 


Mimik wajahnya tampak masih bingung dengan keadaan yang dihadapi. Pria rambut pirang cepak tersebut termenung, sesekali melihat sekeliling seakan mencari sesuatu. Perlahan mimik wajah datar berubah muram saat menyadari sesuatu, paham bahwa sekarang dirinya harus melakukan apa yang tidak inginkan.


 


 


“Aku … adalah Richard …. Tujuanku adalah membunuh Odo Luke. Aku⸻!”


 

__ADS_1


 


Perkataan terhenti, mulut seketika tertutup rapat dan paham bahwa tidak bisa melakukan banyak hal terkait perintah yang dititahkan kepadanya. Meletakkan tangan kanan ke dada kiri dan menggertak, ia merasa bahwa titah mutlak yang tertanam padanya adalah sebuah kutukan menjijikkan.


 


 


Setelah menghela napas dalam-dalam dan berusaha tenang, Pria rambut pirang dengan pakaian militer tersebut mulai berjalan ke pinggiran danau dangkal. Ia kembali menarik napas dalam-dalam untuk menurunkan amarah, namun giginya malah hanya menggertak tanda rasa kesal memang dengan jelas meluap-luap.


 


 


Sebelum dirinya benar-benar keluar dari genangan air danau, dari balik pepohonan oak datang beberapa orang dengan seragam militer. Itu membuat Richard terhenti, membuat pria rambut pirang cepak tersebut merasakan sebuah nostalgia. Meski seharusnya dirinya paham bahwa kepribadian dan ingatan yang ada hanyalah imitasi.


 


 


Seragam dan senapan laras panjang, sesuatu yang berhubungan dengan militer tersebut benar-benar membuatnya merasakan sebuah nostalgia. Sedikit teringat dengan sebuah pasukan yang dulu dirinya pernah pimpin di Dunia Sebelumnya.


 


 


Namun saat sadar orang-orang yang datang tersebut adalah perempuan, terlebih lagi bukan manusia. Rasa nostalgia itu pun sirna. Merasa terlena dengan ingatan imitasi di dalam dirinya, pria rambut pirang tersebut mengangguk satu kali. Tidak malah, namun sedikit merasa senang bisa merasakan hal tersebut. Meski dirinya paham semua itu hanyalah imitasi.


 


 


“Apa … kalian yang bertugas menyambut?” Richard menatap lurus ke depan, lalu memasang mimik wajah sangar untuk mengintimidasi. Sembari tersenyum menghina ia pun kembali bertanya, “Bagaimana cara Dewi itu menyebut kalian, ya? Prajurit Peri Ver. 2.0 Tipe Operasional? Atau boneka daging?”


 


 


Para Elf yang datang hanya terdiam meski dihina seperti itu, tidak menjawab pertanyaan tersebut dan hanya memperlihatkan mimik wajah layaknya sebuah boneka. Meraka adalah para Prajurit Peri Generasi Kedua, sekelompok produk rahasia dari hasil pengembangan generasi pertama yang ditutup setelah masa keputusan perdamaian datang.


 


 


Tidak seperti pendahulu mereka, Elf yang menjadi Prajurit Peri Generasi Kedua memiliki kepribadian tipis. Sebagai ganti dari Sirkuit Reaktor yang sekelas dengan Reaktor Nuklir Mahia Sistem pada setiap kapal perang Kerajaan Moloia.


 


 


Karena itulah mereka tampak seperti boneka tanpa jiwa, hanya menjalankan perintah dan bergerak berdasarkan arahan. Lebih cenderung mirip Intara Hexe milik Miquator.


 


 


Melihat kondisi para elf yang seperti itu, Richard tambah merasa kesal sampai keningnya mengerut. Cara dan metode, ia merasa kalau sang Dewi benar-benar meniru apa yang dilakukan manusia di Dunia Sebelumnya. Membuat sebuah representasi dosa di masa lalu dengan menciptakan makhluk hidup hanya untuk digunakan sebagai senjata.


 


 


“Wujud keangkuhan makhluk hidup adalah dengan menciptakan makhluk hidup lain. Apa … semua yang mendapatkan Daath akan berakhir seperti itu? Kalau waktu itu aku mengambil unsur tersebut dan menginjakkan kaki di ranah yang lebih tinggi, apakah aku akan berakhir berbeda⸻?”


 


 


“Saya rasa tidak ada yang berbeda, Tuan Richard.” Dari balik bayangan pepohonan oak yang rimbun, seorang perempuan melangkah keluar. Rambut ungu cerahnya menjalar sampai punggung, tampak kemilau terpapar sinar yang masuk dari sela-sela dedaunan. Berhenti dan sedikit membungkukkan tubuh, ia sedikit mengangkat gaun merahnya dan berkata, “Izinkan saya memperkenalkan diri, saya adalah Tuan Putri ke-30 Kerajaan Moloia, Ulla Vrog Ma’tar. Senang bertemu dengan Anda, wahai utusan sang Dewi.”


 


 


Mendengar apa yang diucapkan wanita berbalut Maxi Dress merah itu, Richard hanya menatap datar dan tidak balik memperkenalkan diri. Informasi yang dirinya terima dari Dewi Helena membuatnya tahu dan paham tentang dunia kondisi Benua Michigan, begitu pula terkait orang-orang dari Dunia Nyata yang akan menyambut kedatangannya. Tentunya informasi tentang perempuan yang mengaku sebagai Putri Ulla Vrog Ma’tar tersebut juga.


 


 


“Kau ....” Richard melangkah keluar dari danau dangkal, air yang membuat celananya basah seketika menguap dan kering. Sembari menatap ke arah perempuan itu, ia dengan nada sedikit kesal memastikan, “Bukannya kau wanita yang tega mengambil alih tubuh Putrimu sendiri demi kepentingan pribadi, ‘kan?  Lebih tepatnya, dari awal kau membuat keturunan hanya untuk digunakan sebagai wadah ….”


 


 


“Ah, Anda sudah tahu hal tersebut? Utusan langsung sang Dewi memang berbeda.” Perempuan rambut ungu tersebut mengangkat tangan kanannya ke depan mulut, menutupi bibirnya yang tersenyum tipis. Namun, itu tidak menyembunyikan mimik wajahnya yang tampak begitu gembira. Setelah menghela napas kecil, ia dengan nada riang kembali bertanya, “Apa Anda juga tahu kalau sekarang diri saya sedang membuat perjanjian dengan salah satu Singularitas itu?”


 


 


Mendengar cara bicara perempuan itu, Richard dengan cepat paham tipe orang seperti apa dirinya. Tidak ada serpihan loyalitas dan harga diri padanya, di mata Richard perempuan itu hanyalah kumpulan kerakusan akan pengetahuan.


 


 


“Orang yang rakus akan pengetahuan, ya? Memangnya Dewi itu menyuap kau dengan apa? Bukannya kau melayani sosok yang disebut Mother?”


 


 


“Mother?” Perempuan rambut ungu tersebut menyerigai lebar, lalu seakan menertawakan berkata, “Maksud Anda program yang tersebar di dalam Mahia Sistem? Huh! Asal Anda tahu, itu hanya alat. Mereka para A.I dan bangsawan saja yang tidak tahu sifat asli entitas elektrik tersebut.”


 


 


“Lalu, apa kau berbeda dengan mereka?” tanya Richard dengan tatapan mengasihani.


 


 


Sembari menurunkan tangan dari depan mulut, perempuan rambut ungu tersebut meletakkan kedua tangannya ke depan dada dan berkata, “Tentu saja berbeda. Or’iama ini tentu saja berbeda dengan mereka! Tolong jangan samakan diriku dengan orang-orang bodoh di dunia ini.”


 


 


Rusak karena pengetahuan, itulah kesan yang didapat Richard dari wanita itu. Mengorbankan banyak hal untuk mengetahui segala sesuatu yang belum dirinya ketahui. Tanpa ada niat sedikitpun untuk memahami pengetahuan yang dirinya miliki.


 


 


Sejenak memejamkan mata, Richard menghela napas ringan dan menggelengkan kepala. Ketika kembali membuka kedua tama dan menatap lurus, pria rambut pirang tersebut kembali bertanya, “Mungkin ini tak terlalu penting, tapi boleh aku tanya satu hal sebelum masuk ke pembicaraan utama?”


 


 


“Silahkan saja ….” Perempuan rambut ungu tersebut menurunkan kedua tangan dari dada, lalu dengan penuh rasa angkuh berkata, “Sudah menjadi tugas diri saya memandu Anda selama melaksanakan tugas mulia.”


 


 


“Kapan … kau membuat kontak dengan Dewi Penata Ulang itu? Bukannya selama ini kau bergerak untuk Mother? Bahkan sampai ikut campur masalah terkait para wadah Korwa di Dunia Nyata ini ….”


 


 


“Tentu saja saat ….”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2