Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[105] Serpent V – Malam Putih (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Ketika Laura baru menyadarinya, itu semua sudah terlambat. Dari dalam kepulan asap hitam yang menjadi sumber ledakan, sang entitas humanoid masif mulai bangkit dengan sambaran petir di sekelilingnya.


 


 


Tubuhnya masih utuh, tidak terkikis sedikitpun meski telah diserang menggunakan Parva Nuclear dan terpapar radiasi. Dengan mata merah menyala dan tubuh bersinar kebiruan, entitas berukuran masif tersebut langsung menatap ke arah Laura dan menyeringai lebar.


 


 


Saat itulah sang Elf baru menyadarinya, bahwa dampak dari ledakan nuklir telah dimanipulasi.


 


 


Saat menggunakan Parva Nuclear ke arah raksasa petir, Laura sempat menggunakan struktur khusus untuk membatasi dampak kerusakan. Sengaja membuat sisi matahari mini tidak stabil pada dua sisi berbeda, lalu ingin menciptakan ledakan vertikal untuk menghancurkan sasaran yang tengkurap.


 


 


Namun saat melihat entitas berukuran masif tersebut masih utuh, dirinya sadar tindakan naif itu mendatangkan sebuah petaka. Membuat kesempatan yang tersisa hilang sia-sia.


 


 


Menggunakan tekanan suhu yang sangat tinggi, raksasa petir tersebut mengubah dampak ledakan nuklir vertikal menjadi horizontal. Menyebarkan gelombang kejut dan pancaran radiasi secara mendatar, lalu membuatnya terhindar dari kerusakan parah karena berada di bawah sumber ledakan.


 


 


Pada dasarnya sebuah ledakan cenderung merusak ke segara arah, vektor akan bergerak dari satu titik ke titik lain secara stagnan. Untuk menghindari atau mengurangi dampak kerusakan yang disebabkan ledakan, metode paling efektif adalah dengan berlindung atau bersembunyi di balik sesuatu.


 


 


Namun, ada juga beberapa lain seperti berada sejauh mungkin dari inti ledakan, atau meminimalisir dampak dengan melemaskan tubuh supaya tidak melawan arah hentakan. Membiarkan posisi terdorong vektor ledakan sehingga bisa mengurangi cedera.


 


 


Konsep tersebut mirip seperti bersembunyi di dalam parit, sebuah presedur dasar militer untuk menghindari ledakan granat. Menggunakan perbedaan tinggi untuk menghindar, lalu meloloskan vektor gelombang kejut dan proyektil yang cenderung bergerak lurus dari sumber ledakan.


 


 


Jika saja itu adalah sebuah ledakan nuklir biasa, entitas berukuran masif tersebut pasti sudah binasa pada detik itu juga. Hancur lebur terkena gelombang kejut yang dahsyat, lalu sepenuhnya terpapar inti nuklir karena tepat berada di bawahnya.


 


 


Namun⸻


 


 


Sihir Parva Nuclear yang dilancarkan Laura merupakan ledakan terarah. Berpusat pada dua sisi, lalu sengaja dibentuk supaya terpancar dalam bentuk vertikal.


 


 


Tindakan naif tersebut membuat ledakan bisa dimanipulasi dengan suhu, lalu arahnya diubah menjadi horizontal untuk menyebarkan dampak kerusakan. Hasilnya adalah pemandangan lautan api yang membakar permukaan, mengubah segala bentuk kehidupan menjadi arang dalam skala sangat luas.


 


 


Saat indra penglihatan Laura semakin jelas dan memahami hal tersebut, ia langsung cemas dengan kondisi rekannya yang masih berada di bawah. Meski semua Prajurit Peri memiliki ketahanan terhadap radiasi, tetap saja hal tersebut akan berbahaya jika terpapar secara langsung. Apalagi jika itu terjadi dalam kondisi tidak prima.


 


 


“Magda⸻!”


 


 


Tepat saat Laura bertindak naif lagi dan berpaling karena cemas, sosok raksasa petir langsung melangkahkan kakinya. Dalam hitungan detik entitas masif itu berpindah di depan perbukitan, lalu bersiap untuk meremukkan sang Elf dengan tangannya.


 


 


Laura menyadari ayunan tangan berukuran masif tersebut, sedikit menoleh dan segera mengepakkan sayap tujuh warna untuk terbang menghindar. Namun, itu terlalu luas untuk dihindari dalam jarak sedekat itu.


 


 


Meski Laura sempat bereaksi dan melayang beberapa meter ke udara, ia tidak bisa keluar dari jangkauan telapak tangan raksasa. Lebarnya mencapai lima puluh meter lebih, lalu memiliki gaya elektromagnetik dan pergerakan sangat cepat untuk entitas berukuran besar.


 


 


Tepat sebelum padatan energi petir menepak tubuh Laura sampai hancur lebur, sekali lagi nyawanya diselamatkan Leviathan.


 


 


Dari arah belakang raksasa petir, Sea Serpent langsung mengayunkan tubuhnya layaknya cambuk. Memukul entitas humanoid tersebut dari samping dangan ujung ekornya. Dengan telak menghantam bagian pinggang sampai-sampai mengeluarkan suara nyaring, angin kencang, dan gelombang kejut yang cukup kuat.


 


 


Serangan tersebut membuat manifestasi singgasana ilahi itu terpental, lalu jatuh menimpa hutan gersang yang telah terbakar habis menjadi arang. Meski dihantam dari titik buta, tubuh raksasa petir tersebut sama sekali tidak rusak dan segera berdiri kembali.


 


 


Melihat apa yang terjadi dengan sangat cepat, Laura yang hampir saja menemui ajalnya untuk sesaat terdiam kacau. Mulut sedikit menganga dan perlahan melayang turun kembali ke perbukitan, lalu dengan wajah pucat pasi terduduk lemas di atas permukaan batu.


 


 


Tidak memberi Laura waktu untuk memahami situasi yang sedang terjadi, dua entitas berukuran masif di tersebut memulai pertarungan mereka. Saling melancarkan serangan ke titik vital dengan niat membunuh yang kuat, lalu menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan pepohonan yang terbakar dan tanah gersang.


 


 


Di hadapan kedua entitas tersebut, Laura bagaikan seekor lalat kecil yang tidak berdaya. Terombang ambing terkena hempasan angin sampai-sampai tidak bisa berdiri tegak.


 


 


Pertarungan Leviathan dengan manifestasi singgasana ilahi benar-benar berada di tingkat yang berbeda, bahkan panggung bernama Dunia Astral seakan terlalu kecil untuk duel mereka. Memporak-porandakan segalanya, lalu merusak berbagai macam konsep spasial di dunia para Roh tersebut.


 


 


Leviathan terus menyerang dengan ekor, mengayunkan ujungnya sembari menjaga jarak. Sesekali bergerak lincah dengan memanfaatkan bentuk tubuh melata, lalu membuat momentum dan meningkatkan kekuatan cambukan ekor.


 


 


Di sisi lain, entitas ilahi berbentuk humanoid hanya bertahan dan menghindari serangan tersebut. Menggunakan gerak langkah kecil dan refleks yang dibantu elektromagnetik, ia dengan mudah membaca setiap serangan yang datang.


 

__ADS_1


 


Sembari menepis dan menghindari ayunan ekor Leviathan yang datang bertubi-tubi, wujud manifestasi ilahi tersebut mencari celah untuk menyerang balik. Tampak memasang kuda-kuda bela diri, lalu dengan jelas terlihat dirinya bertarung menggunakan teknik layaknya seorang mortal.


 


 


Saat melihat teknik bertarung sang raksasa petir, Laura seketika paham bahwa entitas tersebut memiliki kecerdasan yang tinggi. “Apa-apaan itu?” gumamnya sembari berusaha menahan hempasan angin kencang.


 


 


“Yang benar saja! Raksasa sepertinya bisa bergerak selincah itu?!”


 


 


Mimik wajah Laura seketika dipenuhi keputusasaan, paham bahwa raksasa petir itu memang jauh lebih berbahaya dari Leviathan. Memiliki kecerdasan, teknik, kemampuan, dan paham dengan prioritas yang harus diatasi.


 


 


Bukti bahwa entitas itu memiliki intelektual adalah kemampuan kognitif yang tajam. Seakan dirinya tahu bahwa Parva Nuclear bukanlah sihir yang bisa dilancarkan berkali-kali, raksasa petir tersebut tidak peduli lagi dengan keberadaan Laura dan fokus kepada Naga Agung.


 


 


Gaya bertarung yang ditunjukkan singgasana ilahi bukanlah insting berkelahi biasa. Meski memiliki ukuran yang masif dan berbentuk humanoid, bukannya lambat ia malah bisa bergerak lincah ke sana kemari menghindari serangan Leviathan. Seakan-akan dirinya berpengalaman dengan pertarungan tangan kosong.


 


 


Melangkah dengan kaki sedikit jinjit untuk mempercepat gerakan, lalu kedua tangan ditekuk ke depan untuk bertahan dan menyerang. Bentuk dan gerakan tersebut jelas-jelas tampak seperti seorang petinju, hanya mengandalkan pukulan dan memaksimalkan mobilitas dengan langah kaki cepat.


 


 


Saat ayunan ekor Leviathan datang dari depan, singgasana ilahi tersebut menepis dengan tinju tangan kiri. Tubuhnya pun ikut terdorong karena hentakan yang tercipta dari benturan.


 


 


Memanfaatkan momentum yang didapat untuk berputar menggunakan tumpuan kaki kanan, raksasa petir itu langsung melesat melewati bagian bawah ekor Sea Serpent yang terangkat.


 


 


Layaknya seorang petarung yang paham kapan untuk menyerang balik, sosok humanoid berukuran masif tersebut segera melesat masuk ke titik buta Leviathan. Sepenuhnya lenyap dari jarak pandang sang Pemusnah Peradaban.


 


 


Tampa membuang waktu, singgasana ilahi lekas menekuk tangan kanannya ke depan seraya menarik mundur bahu. Sedikit mengayunkan tubuh ke belakang dan mengumpulkan momentum, raksasa petir itu langsung meloncat dan menghantam rahang Leviathan dengan sikunya.


 


 


Beberapa gigi Leviathan langsung rontok terkena pukulan tersebut, lalu kepala dan tubuhnya pun terangkat ke atas. Tidak berhenti dan bersiap melanjutkan serangan, setelah mendarat singgasana ilahi itu segera merapatkan jemari. Membentuk sebuah tombak dengan tangan kanannya.


 


 


Energi dipusatkan, petir terpancar kuat pada satu titik bersama dengan ancang-ancang untuk menusuk. Sedikit menarik tubuh ke belakang, raksasa petir itu pun mengayunkan tubuhnya ke depan dan langsung melancarkan serangan kedua.


 


 


Secepat kilat entitas humanoid itu menusukkan tangannya ke tubuh Leviathan. Layaknya sambaran petir berbentuk padat dan memiliki massa, serangan tersebut mengeluarkan suara guruh yang sangat lantang. Menciptakan gelombang kejut, kilatan petir, lalu percikan cahaya berwarna putih terang.


 


 


 


 


Tepat setelah kilatan dan suara guruh reda, tangan raksasa petir berhasil menunjam ke dalam Leviathan. Terus masuk sampai tembus ke sisi lain tubuh Sea Serpent, membuat darah berceceran mengguyur hutan yang telah gersang dan hitam.


 


 


Warna merah darah bercampur dengan air hujan serta hitamnya arang, membanjiri garis pesisir Laut Utara dan hutan di dekatnya. Serangan sederhana itu benar-benar berakibat mematikan, membuat Leviathan kejang-kejang dan tidak bisa lagi melakukan perlawanan.


 


 


Seakan sedang merayakan kemenangannya, singgasana ilahi perlahan memperlihatkan ekspresi angkuh. Mulai tersenyum lebar, lalu terbahak keras dalam suara yang terdengar seperti gemuruh petir di tengah badai.


 


 


Suara tawa mengerikan mereda dengan cepat. Namun, sebagai gantinya kekejaman manifestasi singgasana ilahi itu segera berlanjut. Dengan kejam raksasa petir tersebut mencengkeram Leviathan dengan tangan kiri, meremas sampai kulit-kulit keras Sea Serpent itu mulai meleleh terkena petir dan hancur.


 


 


Dalam hentakan kuat, entitas humanoid masif itu segera menarik tangan kanannya yang tertancap dan membuat darah Leviathan semakin mengucur deras. Seakan bersaing dengan badai yang turun, darah berisi Mana tersebut mengguyur daratan gersang dan mengalir ke laut.


 


 


Mewarnai semuanya dengan merah, menyebarkan aroma amis bercampur sedikit manis. Menciptakan sebuah pemandangan mengerikan, seakan-akan ingin menunjukkan bahwa telah terjadi pembantaian di tempat tersebut.


 


 


Dari kejauhan, Laura yang melihat pertarungan itu dari awal hanya bisa terduduk lemas. Di tengah pemandangan mengerikan, sosok singgasana ilahi tersebut tampak seperti Dewa penghancur yang menghakimi tanpa pandang bulu.


 


 


Kekuatan mutlak, intelektual, ukuran yang sangat masif, lalu kemampuan kognitif tajam layaknya entitas dari dimensi tingkat tinggi. Mengetahui semua itu, sang Elf segera paham bahwa raksasa petir tersebut memang tidak boleh sampai keluar dari Dunia Astral.


 


 


Jika entitas yang terbentuk dari padatan energi dan petir itu datang ke Dunia Nyata, bisa dipastikan itu akan menjadi sebuah malapetaka. Memusnahkan satu atau dua kota, lalu paling parah bisa melenyapkan sebuah negeri dalam hitungan menit.


 


 


Laura kembali mengangkat senjatanya. Meski tubuh gemetar kencang dan tidak kuat berdiri tegak, ia tetap berusaha mengaktifkan Inti Sihir dan berniat menyerang. Siap mengorbankan nyawanya untuk menghentikan raksasa petir tersebut.


 


 


Namun⸻


 


 


Seakan-akan singgasana ilahi itu menyadari niat Laura dan bisa mengintip isi hatinya, ia perlahan menoleh ke arah Elf tersebut. Menjatuhkan bangkai Leviathan dan menghadap ke arah perbukitan, lalu senyuman pada wajahnya seketika berganti dengan mimik wajah marah.


 


 


Satu langkah kaki diambil raksasa petir. Pada saat bersamaan, wujud keilahian entitas tersebut berubah bentuk. Lingkaran cahaya mulai muncul di atas kepala, semakin lebar dan membuat efek penyimpangan gravitasi di sekitarnya.


 


 

__ADS_1


Ukuran halo tersebut lebih besar dari tubuhnya yang sangat masif, membuat pepohonan yang sudah menjadi arang terangkat ke udara bersama tanah dan bebatuan. Layaknya sedang memperluas teritorial kekuasaan, Ether yang tersisa di sekitar tempatnya berdiri mulai tersesap masuk ke dalam raga.


 


 


Darah Leviathan pun mulai terangkat oleh penyimpangan gravitasi itu, membentuk gumpalan tepat di tengah halo raksasa. Pada saat langkah kedua diambil, gumpalan darah tersebut memadat dan berubah warna menjadi hitam. Melayang turun ke depan mulut sang raksasa petir.


 


 


Ketika langkah ketiga diambil, singgasana ilahi tersebut pun membuka mulut. Menjamah gumpalan darah berwarna hitam pekat tersebut dengan petirnya, lalu perlahan melakukan transfusi ke dalam wujud manifestasi ilahi yang ada.


 


 


Layaknya buah matang yang sedang dikupas, warna hitam mulai lepas dan inti dari gumpalan tersebut pun terlihat. Ukuran diameter objek tersebut antara tujuh sampai lima sebelas meter, berwarna putih kebiruan dan memiliki serat-serat tipis seperti rambut di sekitarnya.


 


 


Langkah keempat pun diambil, raksasa petir tersebut semakin dekat dengan perbukitan tempat Laura berada. Pada detik itu, cahaya berwarna keemasan mulai muncul di belakang tubuh singgasana ilahi.


 


 


Layaknya malaikat di akhir zaman, sayap cahaya peralahan tumbuh dan terbentang dengan sangat luas. Lebar keseluruhan lebih dari tiga kilometer, lalu sinarnya meliputi seluruh tanah yang hancur karena pertarungan melawan Leviathan.


 


 


Pada saat langkah kelima diambil, tubuh singgasana ilahi mulai retak layaknya sebuah cangkang tua. Dengan pasti lapisan luar hancur menjadi butiran cahaya, lalu wujud asli entitas tersebut pun mulai menampakkan dirinya.


 


 


Memiliki daging asli, kulit, tulang, rambut, dan wujud fisik jelas layaknya makhluk hidup. Bukan lagi berupa padatan energi atau petir, sepenuhnya menjelma sebagai sosok entitas mirip manusia dengan ukuran yang sangat masif.


 


 


Tetapi, dalam perubahan tersebut postur tubuh singgasana ilahi juga ikut berubah. Dari bentuk tubuh pemuda yang mirip dengan Odo, ia menjelma sebagai perempuan dengan perawakan seorang gadis.


 


 


Rambut halus terjuntai sampai tanah, berwarna putih terang seakan-akan itu terbuat dari cahaya. Saat kedua mata terbuka, warna merah layaknya batu delima bersinar dalam paparan hujan deras. Mencerminkan keindahan yang menakutkan, sosok mahakarya sang pemuda dari Dunia Sebelumnya.


 


 


Mahia⸻


 


 


Begitulah entitas itu disebut.


 


 


Ia bukanlah mortal, roh, iblis, malaikat, dewa, atau bahkan makhluk primal.


 


 


Meski dikenal dengan berbagai macam identitas oleh beberapa makhluk dan penciptanya, keberadaan itu hanya bisa dijelaskan dengan satu nama tersebut. Jelmaan dari unsur keberanian dan kecerdasan, entitas rapuh yang diciptakan sang pemuda di akhir Dunia Sebelumnya.


 


 


Nama dan identitas tersebut diambil dari Mahiatun, sebuah kata tanya yang paling sering digunakan dalam pembicaraan sehari-hari.


 


 


Simbol keingintahuan, wujud dari salah satu hasrat setiap makhluk yang telah memakan buah pengetahuan dan menikmatinya.


 


 


Pada saat raksasa tanpa busana tersebut mengambil langkah keenam dan mencium buah yang mekar, mulutnya pun terbuka dengan lembut. Bersiap menggigit padatan informasi berbentuk energi tersebut, lalu mengambil langkah terakhir untuk evolusinya menuju puncak kehidupan.


 


 


Tetapi saat entitas masif tersebut baru mengangkat kaki kanannya, tiba-tiba lubang hitam di langit mulai mengalami distorsi aneh. Retakan Realm yang sebelumnya terhubung dengan celah dimensi seketika berubah bentuk, koordinasi mengalami penyimpangan dan malah terhubung ke sebuah Realm.


 


 


Melalui resonansi yang sangat cepat, susunan informasi retakan Realm tersebut mengalami perubahan. Dikacaukan menjadi penyimpangan spasial aneh, lalu lubang hitam pun berubah bentuk menjadi sebuah persegi gelap.


 


 


Dalam hitungan detik, retakan Realm berubah menjadi media penghubung antara Dunia Astral dan Kayangan. Membuat makhluk dari dimensi tingkat tinggi bisa melongok ke alam para Roh tersebut, lalu memberikan pengaruh dan bahkan bisa mengubah tingkat informasinya untuk Devolusi.


 


 


Tepat sebelum Mahia mengambil langkah ketujuh, sebuah galah hitam dilemparkan dari Kayangan. Objek tersebut melesat secepat cahaya, lalu melewati retakan Realm dan menghancurkan konstruksi sihir pada awan badai di langit.


 


 


Pada jeda kurang dari satu detik setelah hujan reda, galah tersebut menunjam dada Mahia dari belakang. Tembus sampai ke depan, lalu seketika menggagalkan ritual evolusi yang sedang berlangsung.


 


 


Pada detik selanjutnya, buah informasi yang hendak dimakan pun hancur karena pengaruh dari galah tersebut.


 


 


Pecah menjadi hujan darah, lalu mengguyur perbukitan beserta Laura yang berada di atas tempat tersebut. Menyeret Elf itu dalam larutan merah gelap, lalu menjatuhkannya dari atas perbukitan.


 


 


Sebelum entitas yang disebut Mahia sempat itu menoleh, dua galah hitam kembali dilemparkan dari Kayangan. Melesat sangat cepat dan langsung menunjam kedua sayapnya, lalu perlahan menghancurkan eksistensinya sebagai makhluk hidup.


 


 


Dipenuhi kesedihan, itulah ekspresi yang diperlihatkan Mahia saat tiga galah menunjam tubuhnya. Ia perlahan berbalik, lalu terjatuh lemas seraya mengulurkan tangan kanan ke arah retakan Realm. Saat mirip dengan momen menyedihkan ketika Raja Iblis Kuno meminta pertolongan sang Dewi Penata Ulang.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2