Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[109] Serpent IX – Dikara (Part 04)


__ADS_3

.


.


.


.


Saat mengambil langkah menuju masa depan, tubuh terasa semakin berat seakan dikekang oleh beban yang disebut kewajiban. Terasa seperti mimpi buruk, mempermainkan kehidupan dan menertawakan perjuangan dalam penderitaan.


Odo memang telah membulatkan tekad untuk terus melangkah. Meski jalan yang dilalui penuh duri dan genangan darah, dirinya sudah memutuskan untuk terus maju tanpa berpaling. Terus menggerakkan tubuh menuju akhir yang didambakan.


Namun, itu terasa semakin berat dan memuakkan. Saat membisu dengan kaki yang terus bergerak, pemuda rambut hitam tersebut kembali meragukannya. Baik itu tujuan yang ingin dirinya capai, atau bahkan akhir yang didambakan.


“Takdir ….” Satu kata tersebut keluar dari mulutnya setelah sampai di depan dinding tebing curam. Sembari menyentuh permukaannya dan memeriksa tingkat kemiringan, pemuda itu kembali bergumam, “Dipermainkan oleh Dewa-Dewi. Entah kehendak mutlak ataupun hanya keisengan, itu semua sangat memuakkan.”


“Odo …?” Leviathan sekilas mendengar ucapannya. Mendekat dengan sedikit cemas, Putri Naga tersebut lanjut bertanya, “Apa yang dirimu bicarakan? Mengeluh?”


“Tidak apa-apa ….” Odo perlahan menoleh. Melempar senyum tipis, pemuda itu dengan tatapan datar balik bertanya, “Ngomong-omong, apakah kau bisa terbang dan membawa kami ke atas sana? Aku ragu bisa memanjatnya ….”


“Hmm?” Leviathan mendongak. Karena kabut yang menghalangi jarak pandang, Putri Naga tidak bisa melihat puncak tebing tersebut. “Ini benar-benar tebing? Rasanya terlalu curam dan tinggi, mirip seperti tembok yang sengaja dibangun miring. Diriku bahkan tidak bisa menemukan tumpuan untuk dipanjat.”


Merasa sedikit tidak nyaman, Leviathan segera menoleh ke arah Diana. Memberikan tatapan datar, lalu tersenyum tipis seakan menuntut penjelasan dari Roh Agung berkulit gelap tersebut.


“Ke-Kenapa menatap saya seperti itu? Asal Tuan Putri tahu, diriku juga tidak tahu tentang tebing itu. Saya belum pernah masuk ke hutan kabut sampai sejauh ini ….” Diana memalingkan pandangan. Samar-samar merasakan firasat tidak menyenangkan, Roh Agung tersebut sedikit mendongak dan lanjut berkata, “Jujur saja saya sebenarnya juga heran. Kenapa labirin kabutnya tidak aktif? Padahal waktu saya kemari ….”


“Heran kenapa?” Reyah masuk ke dalam pembicaraan. Sembari memapah Vil yang masih tampak kelelahan, Dryad tersebut sedikit menajamkan tatapan dan memastikan, “Jangan bilang engkau tidak pernah masuk ke tempat ini?”


“Hmm, saya tidak pernah masuk sampai sejauh ini.” Diana mengangguk cemas.


“Padahal teritorial milikmu sendiri?” Reyah bertanya sekali lagi, semakin menekat dengan tatapan kesal.


“Hmm ….” Diana semakin memalingkan pandangan, enggan bertatapan dan hanya bisa tersenyum kaku. Segera melirik Odo dan mengangkat telunjuk, Empusa itu lekas mengalihkan pembicaran dengan berkata, “Kalian tahu, seharusnya kabut di hutan ini berfungsi sebagai labirin. Entah itu mortal ataupun makhluk astral tingkat rendah sampai atas, mereka semua biasanya akan diarahkan keluar dari hutan. Paling buruk, jika ada yang tersesat kemari mereka akan dijebak sampai mati oleh kehendak Lembah Kehidupan. Karena itulah, sangat aneh kita bisa masuk sampai sejauh ini tanpa pernah tersesat.”


“Roh liar yang waktu itu mengincar kita …?” Leviathan sedikit menoleh, mengingat kembali kejadian sebelumnya dan memastikan, “Mereka berubah agresif seperti itu karena terjebak di tempat ini, ya? Kelaparan, lalu memangsa siapa pun yang masuk ke dalam hutan karena akal mereka lapuk?”


“Benar, kurang lebih memang seperti itu ….” Diana segera menghadap Putri Naga. Sembari memperlihatkan mimik wajah sedikit percaya diri, Roh Agung berkulit gelap tersebut menyampaikan, “Dulu kabut ini juga memiliki sifat distorsi ruang yang kuat. Tidak jarang celah spasial muncul dalam skala besar, lalu terhubung dengan Dunia Nyata tanpa melaui gerbang. Karena hal tersebut juga, tidak sedikit mortal yang tersesat kemari dan berakhir menjadi santapan para Roh liar.”


“Ah, begitu rupanya.” Reyah menatap semakin tajam, merasa muak dengan sikap Diana yang terkesan sangat seenaknya untuk seorang Roh Agung. “Jadi, dengan itu engkau menyusup pergi ke Dunia Nyata tanpa melalui gerbang?” tanyanya dengan nada ketus.


“Begitulah ….” Diana tertawa kecut, enggan menatap mata Reyah dan sedikit menjauh dari Dryad tersebut.


“Diriku merasa kasihan dengan manusia yang membuat kontrak denganmu.” Reyah menggelengkan kepala. Dengan nada sedikit resah, Dryad itu lanjut menegur, “Meski bisa pergi tanpa gerbang, unsur yang menjaga keberadaanmu di Dunia Nyata itu⸻!”

__ADS_1


“Diriku tahu, kok! Jangan terlalu marah seperti itu,” sela Diana seraya semakin menjaga jarak. Sedikit memalingkan pandangan, Roh Agung berkulit gelap tersebut dengan pelan bergumam, “Lagi pula, isi kontrak yang diriku jalin dengannya memiliki banyak kelonggaran.”


“Sudahlah! Leviathan sedikit kesal karena pembicaraan mulai melenceng dari topik utama. Lekas menunjuk Diana, Putri Naga tersebut dengan suara lantang bertanya, “Kalau memang kabut itu berfungsi sebagai labirin, lantas kenapa kita bisa masuk sampai sejauh ini?”


“Entahlah, saya juga tidak tahu ….” Diana menggelengkan kepala, memperlihatkan gelagat tidak terlalu peduli dan kembali berkata, “Mungkin saja calon penguasa kita tahu. Bukankah beliau yang memandu kita?”


Leviathan merasa semakin janggal dengan hal tersebut. Tanpa pikir pajang dirinya menoleh ke arah Odo, meminta penjelasan dengan tatapan diam yang terasa dingin. Mengikuti Putri Naga tersebut, yang lainnya pun ikut menatap sang pemuda.


“Kenapa kalian menatap ku seperti itu?” Odo sedikit heran. Tidak bisa mengelak dari tatapan mereka, pemuda rambut hitam itu lekas menghela napas panjang. Sedikit memalingkan pandangan, dirinya sekilas menggaruk bagian belaka kepala dan menjelaskan, “Aku hanya menggunakan insting. Mengikuti pancaran pusat Realm, lalu mengikutinya sampai ke tempat ini.”


Odo kembali mendongak, menatap puncak yang tidak bisa terlihat karena tertutup kabut. Sekilas melebarkan senyum tipis layaknya sosok iblis, pemuda itu mengendus ringan seakan sedang menertawakan sesuatu.


“Apa yang lucu?” tanya Leviathan. Memperlihatkan mimik wajah sedikit kesal karena tersinggung, Putri Naga tersebut lanjut bertanya, “Tujuan kita ada di balik tebing ini? Berarti kita harus memanjat tebingnya seperti kera?”


“Kita akan tahu itu setelah sampai di atas.” Odo kembali menyentuh permukaan tebing. Merasakan gentaran tipis yang tercipta dari terpaan angin, lalu memperkirakan tinggi dan ketebalan dinding tebing tersebut. “Ayo, kita naik …!”


“Caranya?” Leviathan mendongak. Memperlihatkan mimik wajah heran, Putri Naga tersebut kembali berkata, “Basis transformasi yang diriku miliki itu Serpent, loh. Tidak seperti Ayunda, diriku tak bisa terbang. Mau memanjatnya seperti kera?”


“Ke-Kenapa kau bicara seperti itu terus?” Sembari membuka kedua telapak tangan dan menyentuh permukaan dinding tebing, Odo langsung mengaktifkan Puddle dan mempersiapkan teleportasi. Cairan biru bercahaya keluar dari pori-pori tangan, mengalir keluar dan menciptakan genangan yang menempel pada dinding tebing. “Kita gunakan ini untuk pergi ke atas. Tidak perlu memanjat seperti kera,” ujarnya seraya menutup telapak tangan dan melangkah mundur.


“Cairan portal?” Leviathan langsung mengenali esensi kekuatan itu. Seakan pernah melihatnya, Putri Naga segera mendekat dan kembali bertanya, “Kenapa engkau bisa menggunakan kekuatan yang sama dengan⸻?”


“Kode Khusus, atau juga bisa disebut sebagai Native Overhoul untuk mereka yang memilikinya.” Odo menyela tanpa ragu. Memperlihatkan tatapan datar dan sedikit melebarkan senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut kembali menjelaskan, “Saat pemiliknya wafat, kode secara otomatis akan kembali menuju aliran kehidupan. Berkelana bersama ribuan nyawa dalam sebuah siklus hidup dan mati, lalu menyatu lagi dengan kehidupan lain untuk terlahir kembali.”


“Intinya, kekuatan ini hanya mirip. Saat penggunanya mati, kekuatan semacam ini bisa saja terlahir kembali bersama orang lain.” Odo sedikit memalingkan pandangan. Mengingat-ingat kembali sesuatu yang terlewat, pemuda rambut hitam tersebut dengan penasaran sedikit bergumam, “Waktu pertama kali melihat Puddle, bukannya Seliari sama sekali tidak terkejut? Apa dia pura-pura tidak tahu?”


“Ayunda memang tidak tahu tentang kekuatan itu,” ujar Leviathan dengan tatapan sayu. Sedikit memalingkan pandangan dan menyembunyikan mimik wajah sedih, Putri Naga tersebut menghela napas panjang sembari lanjut berkata, “Kekuatan itu mirip dengan milik guru saya. Meski kami bertiga kembar, basis transformasi kami berbeda-beda. Begitu pula atribut dan keahlian manipulasi Mana kami. Karena itu ….”


“Ah, aku paham. Tidak usah dibahas lagi kalau berat.” Odo menghela napas. Kembali menghadap genangan bercahaya yang menempel pada dinding tebing, pemuda itu dengan nada dingin menawarkan, “Mau masuk dulu? Atau kalian mau mengikuti setelah aku?”


Semuanya tersentak saat mendengar tawaran semacam itu. Memperlihatkan mimik wajar kesal dan mengerutkan kening, Leviathan dengan ketus berkata, “Dirimu saja duluan! Kita tidak tahu itu terhubung dengan tempat macam apa!”


“Yakin?” Odo kembali memastikan. Sedikit melebarkan senyum licik, dengan nada menakut-nakuti pemuda itu kembali berkata, “Kalau aku pergi dulu, ada kemungkinan Roh-Roh liar di sekitar sini datang menyerang kalian. Toh, kalian aman karena aku sesekali mengubah frekuensi Ether supaya mereka menjauh.”


“Eh?” Mendengar perkataan itu, yang paling terkejut di antara mereka adalah Laura. Seakan memiliki trauma dengan binatang buas di alam liar, Elf tersebut berjalan meninggalkan rekannya dan mendekati Odo. “Kalau begitu, biarkan diriku yang masuk duluan,” ujarnya dengan mimik wajah ragu.


“Letnan!” Magda ikut mendekat. Memperlihatkan mimik wajah cemas dan menatap penuh rasa curiga, perempuan rambut pirang tersebut lekas berkata, “Kenapa sih Letnan percaya sekali dengannya?! Dia itu berbahaya! Manipulatif! Jangan sampai tertipu omong kosongnya lagi!”


“I-Iya ….” Laura memahami hal itu dengan sangat baik. Namun, tetap saja ketakutan terhadap hewan buas bukanlah sesuatu yang bisa ditaklukan dengan cepat. Mengingat sekarang ini mereka tidak mampu menggunakan Manifestasi Peri, terbang juga bukan merupakan pilihan yang bisa diambil. “Kalau terjadi sesuatu, nanti yang rugi juga Odo. Dia menolong diriku karena masih butuh. Tidak mungkin dia membuang kita semudah itu, ‘kan?” ujarnya dengan nada gemetar.


“Uwah ….” Saking tidak percaya, alis Odo sempat berkedut-kedut. Memalingkan pandangan dan terlihat cemas, pemuda itu dengan suara pelan bergumam, “Itu sama saja dengan deklarasi menyerah, loh.”


“Apa kamu bilang?” Magda menggerutu, memberikan tatapan tajam dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Hanya saja⸻!” Sebelum Odo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Leviathan langsung mendorongnya ke arah genangan bercahaya. “Sialan! A-Apa yang kau lakukan?!” ujar pemuda itu seraya menyangga tubuhnya supaya tidak masuk ke dalam Puddle.


“Kelamaan! Kalian banyak omong! Masuk saja!”


Putri Naga itu langsung menendang punggungnya. Membuat pemuda itu masuk ke dalam genangan bercahaya pada tebing, lalu berpindah dengan cepat menuju tempat lain yang terhubung dengan cairan tersebut.


Pada detik itu juga, frekuensi Ether yang diatur untuk menjauhkan Roh-Roh liar pun seketika lenyap. Beberapa hawa keberadaan dari balik kabut mulai berkumpul, mengintai mereka dan memancarkan harus darah dengan tatapan kelaparan.


“Ayo! Jangan buang-buang waktu!!”


Merasakan hal tersebut, tanpa pikir panjang Laura langsung berlari masuk ke dalam genangan sembari menggandeng rekannya, Magda. Mereka seketika lenyap, secara otomatis melakukan teleportasi ke tempat lain dalam hitungan detik.


Setelah mereka pergi, yang mengikuti selanjutnya adalah Vil, lalu disusul oleh Reyah dan Alyssum. Tidak lekas menyusul, Leviathan untuk sesaat terdiam dan menunggu para Roh liar menampakkan diri mereka. Ingin memastikan sesuatu sebelum pergi mengikuti mereka.


“Ah, ternyata memang benar. Kalian hanya bahan percobaan Dewi itu. Jelas saja aromanya campur aduk dan tidak sedap, seperti sisa makan malam yang ditumpahkan ke dalam satu wadah.”


Leviathan tersenyum kecut saat melihat bentuk kawanan Roh liar tersebut. Berbeda dengan Roh Tingkat Atas yang ada di sekitar Pohon Suci, mereka terlihat lebih tidak teratur dengan unsur hewan yang bercampur aduk.


Tidak bisa digolongkan sebagai chimaera, tampak seperti beberapa bagian tubuh yang ditempel-tempel secara acak. Layaknya mainan bongkar pasang yang disusun tidak karuan.


Ada serigala dengan kepala harimau, memiliki lima kaki dengan satu kaki di punggung yang tidak bisa digunakan. Mengintai pada sudut yang berbeda, ada juga kijang dengan bulu lebat seperti harimau. Memiliki sayap pada keempat kaki, namun itu tidak bisa digunakan dan tampak seperti organ cacat.


Selain mereka, ada juga badak dengan tubuh seperti jerapah. Memiliki corak unik dan kaki kurus yang panjang, tampak kesulitan berjalan karena tidak kuat menopang tubuhnya yang berat.


Apapun bentuk mereka, semua Roh liar tersebut hampir tidak ada yang mirip satu sama lain. Tidak memiliki ketentuan spesies ataupun jenis, hanya memiliki kemiripan karakteristik di mana beberapa organ mereka terlihat seperti implan.


“Sangat menyedihkan ….” Leviathan membuka telapak tangannya ke depan. Mengaktifkan Inti Sihir dan menyiapkan struktur rapalan berlapis, Putri Naga tersebut kembali bergumam, “Kalau begitu, berarti Alyssum dan yang lainnya adalah versi sempurna mereka? Bentuk kehidupan sejati yang ingin diciptakan bedebah itu? Atau hanya bagian dari uji coba?”


Leviathan untuk sesaat ragu, memperlihatkan mimik wajah cemas karena menganggap semua Roh liar tersebut sama dengan Alyssum. Tetapi, saat mendengar erangan mereka yang mengerikan, perasaan itu dengan cepat sirna.


“Biarlah, lagi pula semua itu bukanlah urusanku ….” Leviathan melanjutkan eksekusi struktur sihirnya. Memanipulasi kabut, ia menyebarkan Mana dan mencampurnya dengan Ether di udara. Membiarkan para Roh liar tersebut menghirup itu. “Beristirahatlah dengan tenang, wahai makhluk-makhluk menyedihkan,” ujarnya seraya menutup telapak tangan.


Dalam hitungan detik, tubuh semua Roh liar tersebut mulai menggelembung. Layaknya balon yang ditiup sampai meletus, mereka pun meledak dengan suara letupan. Mencipratkan darah dan daging ke berbagai tempat, namun terhenti di udara saat akan mengenai Leviathan.


“Apa yang Dewi itu lakukan tidak jauh berbeda dari kami. Untuk mencapai bentuk kehidupan yang diinginkan, makhluk primal juga melakukan hal serupa. Mendefinisikan itu sebagai metode evolusi buatan, lalu melakukan percobaan kepada sesama. Lalu, salah satu hasilnya adalah kami, Tiga Putri Naga Agung ….”


Leviathan membuka telapak tangan dan menatap. Memperlihatkan mimik wajah sedih yang bercampur dengan keraguan, ia kembali mempertanyakan tujuannya.


Enggan untuk mengambil langkah. Namun, pada saat yang sama Leviathan mengerti bahwa dirinya tidak boleh tinggal diam.


Pengetahuan terus mendorongnya sampai ke ujung keputusan, memanipulasi dan menghantui layaknya kutukan. Mirip seperti yang Odo Luke rasakan, Putri Naga itu pun terbebani oleh tanggung jawab yang bersumber dari masa lalu.


“Kita sama saja dengan pemuda itu, ya?” Leviathan berbalik. Sembari melangkah masuk ke dalam genangan bercahaya, sembari tersenyum kecut Putri Naga lanjut bergumam, “Benar kata Ayunda, yang dihantui oleh masa lalu bukan hanya kita saja. Pemuda itu juga ….”

__ADS_1


ↈↈↈ


__ADS_2