Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[82] Every path has its puddle (Part 01)


__ADS_3

 


 


Setiap jalan memiliki genangan air, itulah salah satu pepatah yang sering dikatakan oleh orang-orang di masa lampau. Setiap perkembangan yang ada tidak serta-merta terjadi begitu saja, dalam prosesnya selalu ada penderitaan dan pengorbanan. Usaha dan biaya selalu menyertai proses untuk mencapai hasil yang ada di dalam genggaman.


 


 


Di dunia ini tidak ada sebuah hasil tanpa usaha. Pada kenyataannya juga, takaran dari usaha setiap orang berbeda-beda. Meskipun ada yang sama, hasil yang ada pada setiap orang tidak akan setara. Dua orang melalukan usaha yang sama, pada waktu yang sama dan dalam takaran yang sama. Namun, tidak ada jaminan bahwa kedua orang tersebut akan mendapatkan hasil yang sama.


 


 


Itulah dunia, itulah takaran keadilan yang ada. Sebab itulah adil bukanlah hal yang setara, melainkan menilai dari kualitas dan nilai dari individu yang ada. Akan tetapi, sebuah usaha dan kesusahaan memang selalu ada dalam setiap proses tersebut.


 


 


Demi mencapai sesuatu, apa yang harus dikorbankan ….


 


 


Demi mendapatkan sesuatu, apa yang harus diberikan …


 


 


Demi menggenggam sesuatu, apa yang harus dilepaskan.


 


 


Tidak ada yang tahu nilai mutlak dari semua itu, bahkan orang paling bijak di dunia pun tidak memahami nilai-nilai dari hal yang dirinya lepas. Karena itulah, dalam prosesnya setiap orang pasti merasakan penderitaan dan harus berusaha keras di dalamnya.


 


 


Setiap orang menelan udara yang berbeda-beda, mengucapkan kalimat yang berbeda, dan melihat pemandangan berbeda. Karena itulah, nilai dari semuanya tidak ada yang sama. Bahkan untuk sekeping uang koin, di tangan orang yang berbeda nilainya juga akan berubah.


 


 


Setiap jalan memiliki genangan. Entah itu genangan dalam ataupun dangkal, hanya persepsi seseorang yang melewatinya saja yang tahu hal tersebut. Bagi mereka yang terus mencoba melangkah sajalah yang mengerti seberapa dalam genangan tersebut, lalu arti dari jalan yang lalui untuk sampai ke tempat yang mereka tuju.


.


.


.


.


Permukaan lantai kayu yang mengilat, ruangan yang redup dengan sedikit akses pencahayaan dari jendela. Aroma dari lilin rempah tercium pekat di ruangan tersebut, mebambah kental suasana dengan kesan mistis dan tradisional menjadi semakin kuat.


 


 


Di dalam aula utama dari Pemukiman Suku Klista, Odo Luke duduk sila menghadap ke arah tirai bergelombang yang membagi ruangan menjadi dua bagian. Tidak ada orang di sekitarnya, kecuali mereka yang berada di balik gorden merah di hadapan.


 


 


Menatap datar ke arah siluet di balik tirai, pemuda rambut hitam tersebut hanya memasang ekspresi datar dan merasa kalau tradisi yang dipertahankan oleh Suku Klista memang menyusahkan. Menghela napas sekali, ia langsung berdiri sembari melepas salah satu sarung tangannya dan berkata, “Maaf, aku tidak punya banyak waktu. Bisa kita lewati saja prosedur adatnya, Nia’an?”


 


 


Mendengar apa yang Putra Keluarga Luke itu katakan, salah satu pelayan Tetua Suku Klista melangkah keluar dari gorden. Ia membungkuk dengan hormat, lalu dengan mimik wajah datar berkata, “Tuan Luke, tolong hargai tradisi kami. Meski Anda adalah orang terhormat yang pernah menyelamatkan suku kami dan bahkan membantu pembangunan pemukiman ini, hal tersebut tidak bisa kami lakukan. Anda harus menunggu sampai Tetua⸻!”


 


 


Intimidasi dengan kuat Odo pancaran ke arahnya. Sebelum pelayan Tetua Suku Klista tersebut selesai bicara, mulutnya seketika tertutup rapat hanya dengan satu tatapan tajam. Dari membungkuk hormat, perempuan dengan pakaian adat Suku Klista tersebut segera berlutut penuh rasa takut.


 


 


“Engkau tak perlu menakuti dirinya sampai seperti itu, Unsur Hitam.”


 


 


Sang Orakel keluar dari balik tirai, melangkah dengan anggun dan menatap lurus tamu tidak diundang tersebut. Berbeda dengan Odo yang berpenampilan kotor dengan bercak darah masih tampak di pakaiannya, Roro Nia’an mengenakan pakaian tradisional khas Suku Klista yang sedikit berbeda dari para pelayannya. Apa yang dikenakan Nia’an terdiri dari blus wanita dan rok melebar berwarna dominan putih, lalu selendang merah pekat dengan pola sulaman khas bunga kamboja, dan tambahan pernak-pernik dari perak seperti gelang kaki dan kalung.


 


 


Sebagai ciri khas yang terlihat jelas bahwa dirinya merupakan Einhorn, tanduk tunggal yang ada pada kening perempuan rambut perak tersebut terlihat jelas dan tampak seakan bersinar dalam tempat redup. Saat Nia’an berjalan mendekat dengan tanpa alas kaki, rambut panjangnya terurai sampai lantai tanpa ada yang membawakannya.


 


 


Melihat beberapa perbedaan yang ada di sekitar perempuan itu, Odo segera tahu bahwa ada beberapa dari pelayanan Tetua Suku yang telah pergi. Entah itu karena menjadi korban ataupun keluar dari Suku untuk berkelana mengikuti ajaran leluhur mereka, yang jelas memang pelayan Nia’an telah berkurang banyak dari terakhir kali Odo Luke lihat.


 


 


“Maaf mengganggu waktumu.” Odo menarik napas sejenak dan sedikit membungkukkan tubuh untuk memberikan hormat. Kembali berdiri tegak dan langsung memegang pundak perempuan rambut perak tersebut saat mendekat, Putra Tunggal Keluarga Luke itu dengan jelas segera berkata, “Aku butuh kemampuanmu, ini saatnya kau membayar hutang budimu kepadaku.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Nia’an yang merupakan seorang Orakel terkejut. Bukan karena melihat pemuda itu telah menundukkan kepala dan meminta bantuan, namun karena masa depan yang tiba-tiba dirinya lihat dari pemuda itu.


 

__ADS_1


 


“Kenapa … bisa? Seharusnya ramalan milikku hanya akan aktif saat malam?” ujar Nia’an dengan kedua mata terbuka lebar. Ia melangkah mundur sampai Odo melepaskan tangannya dari pundak, lalu tampak gelisah dan hampir terjatuh karena menginjak rambutnya sendiri. Menutup mulut dengan tangan kanan, mimik wajahnya benar-benar tampak bingung dengan situasi yang ada. Sembari kembali menatap lawan bicaranya Nia’an pun bertanya, “Apa … yang telah engkau lakukan, Unsur Hitam?”


 


 


“Stimulasi, Resonansi, dan Sinkronisasi,” jawab Odo dengan ringkas.


 


 


“Huh?” Tentu itu tidak menjelaskan apa-apa kepada Nia’an dan malah membuatnya tambah bingung.


 


 


Melihat sosok yang dilayaninya tampak gelisah dan tidak nyaman dengan Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, gadis pelayan yang juga berada di tempat tersebut segera bangun. Ia lekas berjalan mendekat dan mendorong Odo untuk menjauhkannya dari Nia’an.


 


 


Namun saat tangannya menyentuh tubuh pemuda rambut hitam tersebut, seketika kesadarannya langsung melayang dan jatuh pingsan. Meski tidak melakukan kontak langsung dengan tubuh Odo dan dibatasi pakaian, Aitisal Almaelumat dengan jelas telah mengakses kesadaran gadis itu dan membuat kesadarannya terserang.


 


 


Nia’an seketika panik dan cemas, dengan gemetar menatap Odo Luke dan bertanya, “A-Apa yang engkau lakukan padanya, Unsur Hitam? Ap⸻?” Tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya, detik itu juga Tetua Suku Klista langsung terdiam. Kali ini bukan karena takut, namun disebabkan oleh masa depan lain yang dirinya lihat di ruangan tersebut.


 


 


“Sepertinya kau sudah mulai terbiasa dengan itu,” ujar Odo sembari menghela napas. Ia kembali mengenakan sarung tangannya, lalu sedikit memasang mimik wajah lelah dan kembali berkata, “Mari kita mulai pembicaraannya. Mungkin kau sudah tahu, pelayanmu itu hanya pingsan. Kau tak perlu khawatir ….”


 


 


“Unsur Hitam⸻”


 


 


“Panggil saja Odo, sebelumnya aku rasa sudah bilang itu padamu.”


 


 


“Baiklah ….” Nia’an berusaha untuk tenang, mencerna situasi yang ada dan memperkirakan tujuan Odo datang ke tempatnya. Merasa tidak bisa menebak hal tersebut dan masih banyak hal yang tidak dirinya tahu meski telah melihat masa depan yang ada di ruangan tersebut, sang keturunan Einhorn memutuskan bertanya, “Sebelum memulai pembicaraan, bisakah engkau menjelaskan satu hal terlebih dahulu?”


 


 


“Apa itu?” Odo kembali memegang sarung tangan kanan, melepasnya setengah dan kembali berkata, “Aku akan langsung menjawabnya.”


 


 


 


 


Odo tidak segera menjawab pertanyaan itu, ia malah lanjut membuka salah satu sarung tangannya. Sembari membuka telapak tangan kanan ke depan pemuda itu pun berkata, “Jika kau ingin tahu jawabannya, maka letakkan telapak tanganmu ke telapak tanganku.”


 


 


Pada momen tersebut rasa penasaran malah mendominasi sang Tetua Suku. Meski dalam keraguan dan dipenuhi rasa curiga, Nia’an tetap mengangkat telapak tangannya dan menyentuh Odo. Tepat satu detik setelah mereka telapak tangan mereka bersentuhan, semua informasi yang telah Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut siapkan langsung mengalir deras ke dalam kepala Nia’an.


 


 


Bukan hanya berisi tentang informasi mengapa sekarang kemampuan meramal Nia’an berubah, namun juga tentang tujuan Odo menemuinya. Mendapatkan semua itu, perempuan rambut perak tersebut dengan cepat paham dan wajahnya pun semakin memucat.


 


 


“Engkau ….”


 


 


“Ya, alasanku datang ke tempatmu hanya satu. Untuk menggunakan kemampuanmu itu.”


 


 


Nia’an langsung menggertakkan gigi, tampak mulai kesal dan pada saat yang bersamaan juga merasa takut. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu sembari memalingkan wajah berkata, “Bu-Bukan itu yang menjadi masalah ….” Perempuan itu berhenti bersentuhan dengan Odo dan menurunkan tangannya yang gemetar, lalu terdiam membisu untuk sesaat dan dalam ketakutan bergumam, “Peperangan? Apa … itu benar-benar akan terjadi? Kota Mylta? Hilangnya tatanan daratan? Semua ini …. Kehendak Dewi Penata Ulang?”


 


 


Odo untuk sesaat menyeringai kecil. Berbeda dengan semua orang yang dirinya kenal, Nia’an adalah individu yang cocok untuk diberikan peran perantara. Sama seperti peran perempuan itu sebelum-sebelumnya yang merupakan Perantara Dewa dari kepercayaan Suku Klista, Odo pun melakukan hal yang sama dengan membagi kekuatannya.


 


 


“Semua itu akan terjadi dalam waktu dekat.” Odo menurunkan tangan, kembali memakai sarung tangannya dan kembali menjelaskan, “Karena itulah, aku membuat koneksi di antara kita. Kau bisa menggunakan sebagian besar dari kemampuan kalkulasi milikku, seharusnya dua atau empat potensi masa depan bisa kau lihat.”


 


 


“Potensi masa depan?”


 


 

__ADS_1


Nia’an sesaat terdiam sembari menatap telapak tangannya sendiri. Kemampuan yang diberikan oleh Odo memang sangat berbeda dengan kemampuan meramal miliknya dulu, cenderung lebih fleksibel dan memiliki keleluasaan yang luas. Namun, seperti yang telah disebut, itu hanyalah potensi. Bukan kejadian yang pasti akan terjadi.


 


 


“Itu benar, hanya sebatas potensi ….”


 


 


Odo tidak menjelaskan lebih dari itu ataupun fakta di baliknya. Pada kenyataannya, dunia yang ada sekarang tidak memiliki potensi dan hanya bergerak pada alur yang telah tertara rapi oleh Dewi Penata Ulang. Kalaupun terjadi sebuah gambaran-gambaran potensi yang bisa diamati dengan kemampuan kalkulasi, itu terjadi karena keberadaan Odo sendiri.


 


 


Dengan kata lain, hasil dari potensi masa depan sendiri tidak akan muncul tanpa ikut campur Odo Luke. Meskipun Nia’an berusaha mengubah hasil masa depan dengan kemampuannya tersebut, hal itu akan percuma karena dirinya tidak memiliki kodrat untuk merusak takdir yang telah ditentukan oleh Dewi Penata Ulang kepada Dunia.


 


 


Namun, di balik semua itu proses dari perjalanan menuju hasil bisa Nia’an ubah. Pada celah itulah Odo ingin memanfaatkannya untuk mencari celah lain dari Ketentuan Dewi Penata Ulang yang disebut Takdir.


 


 


“Kalau tidak salah, engkau … sebelumnya bilang Stimulasi, Resonansi, dan Sinkronisasi? Apa … yang engkau maksud?” tanya Nia’an dengan nada sedikit bingung.


 


 


“Itu pembuatan koneksi.” Odo mengambil perkamen dari dimensi penyimpanan, membukanya dan kembali mengecek pesan yang telah disiapkan di dalamnya. Sembari kembali menatap lawan bicaranya ia menjelaskan, “Dengan adanya koneksi di antara kita, kau bisa menggunakan sebagian kemampuan milikku. Hasilnya kemampuanmu sebagai Orakel meningkat dan bisa dengan bebas mengintip masa depan sama seperti halnya apa yang aku lakukan. Tetapi, syarat dan ketentuan pun akan mirip seperti milikku.”


 


 


Nia’an mulai memahami kemampuan yang dirinya terima. Sejenak memejamkan mata, ia mengintip beberapa potensi masa depan yang ada di ruangan tempatnya berdiri. Melihat pelayannya telah bangun pada salah satu dari potensi yang ada, perempuan rambut perak tersebut sekilas tersenyum.


 


 


“Hanya bisa melihat masa depan dari orang yang pernah diajak bicara dan tempat yang sudah didatangi. Lalu, hanya terbatas lima sampai satu minggu ke depan saja dengan ketentuan antara empat sampai lima potensi masa depan,” ujar Nia’an dengan rasa lega.


 


 


“Tepat.” Odo tersenyum ringan melihat Nia’an bisa terbiasa dengan kemampuan barunya tersebut. Dalam hati, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut merasa lega karena memilih orang yang tepat untuk menanamkan salinan kemampuan itu. Sembari mengacungkan jari telunjuknya ia pun kembali menjelaskan, “Dengan koneksi ini aku juga memiliki akses yang sama seperti kemampuan milikmu, bisa meramal menggunakan rasi bintang, mimpi, dan pertanda-pertanda kecil. Yah, meski jujur aku tidak berharap bisa meramal melalui mimpi.”


 


 


Nia’an terdiam mendengar penjelasan tersebut, kembali memalingkan pandangan dan semakin bingung. Meski dirinya bisa melihat beberapa potensi masa depan dari pembicaraan yang sedang berlangsung, namun dirinya sama sekali tidak bisa mengetahui tujuan Odo datang menemuinya. Seakan memang informasi tersebut dihapus, informasi yang dirinya lihat di masa depan tampak buram.


 


 


“Kenapa … engkau melakukan hal seperti ini? Untuk apa?”


 


 


Pertanyaan tersebut membuat Odo tersenyum lebar. Keingintahuan adalah salah satu dari unsur yang dulu dirinya miliki di Dunia Sebelumnya. Karena itulah, selama seseorang ingin mengetahui sesuatu, ia bisa dengan mudah membimbing ataupun memanipulasinya.


 


 


Odo perlahan menurunkan jari telunjuknya dan berhenti tersenyum. “Aku sudah memberitahu kau soal itu melalui koneksi kita, kenapa kau malah menanyakan hal tersebut?” ujar Odo dengan nada santai.


 


 


Pada satu jawaban dalam bentuk pertanyaan itu, informasi yang tertanam pada diri Nia’an terstimulasi dan langsung menjalar memalui sarafnya. Kalimat yang tertanam, susunan kata yang bermakna dan rancangan rencana yang telah dibuat oleh Odo Luke. Semua informasi yang telah dikirimkan menjalar ke kepala Nia’an dan menuntunnya pada sebuah jawaban.


 


 


“Membunuh … Sang … Dewi?”


 


 


“Ya, itu adalah tujuan akhirnya.”


 


 


“Ba-Bagaimana bisa saya percaya!” Nia’an langsung menghentakkan kaki kirinya ke lantai, tampak kesal dan sembari menunjuk membentak, “Lagi pula, mana mungkin saya akan membantu engkau untuk itu! Saya⸻!”


 


 


“Dewi yang Suku Klista puja bukan dia, ‘kan?” potong Odo dengan cepat.


 


 


“A⸻!” Itu membuat Nia’an terdiam, merasa kalau memang semua rencana yang diberitahukan Odo sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran leluhur Suku Klista atau Dewa yang mereka puja. Namun, sebagai orang yang mengabdi dirinya tetap tidak bisa langsung mengangguk. Ia dengan penuh rasa ragu berkata, “Tetap saja …, itu keterlaluan. Kenapa bisa engkau ingin menentang sosok yang bahkan dalam semua susunan kepercayaan Daratan Michigan masih menjadi mitos?”


 


 


“Mitos, ya?”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2