Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[90] Dekadensi Kota Rockfield VII – Gadis (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


Pembicaraan tersebut berlangsung datar.


 


 


Pada ruang makan Kediaman Stein, sang Kepala Keluarga berniat memberikan jamuan yang pantas untuk Putra Tunggal Keluarga Luke. Mengajak sang tamu dengan gelar Viscount tersebut berbincang, lalu perlahan menyetir pembicaraan menuju kepentingan yang diinginkan.


 


 


Dengan anak-anaknya yang duduk bersama pada meja makan, pria tua tersebut mulai melempar sanjungan yang terdengar membosankan. Layaknya ingin menutupi kesalahan yang pernah dilakukan di Pesta Pertunangan pada musim semi lalu, Kepala Keluarga Stein mendominasi pembicaraan dan berusaha membuat relasi yang baik dengan Odo.


 


 


Namun, Putra Tunggal Keluarga Luke tidak menunjukkan rasa tertarik dengan perkataan pria tua tersebut. Odo hanya memasang mimik wajah malas, lalu hanya menyantap sup dan roti dari semua masakan yang tersaji. Layaknya mendengarkan siaran radio saat berkendara, pemuda itu benar-benar memasang mimik wajah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Oma Stein.


 


 


Hampa ⸻ Itulah suasana yang ada di dalam ruang makan tersebut. Meski dipenuhi dekorasi indah dengan batu kuarsa mendominasi pada dinding serta langit-langit, semua kemegahan yang ada sama sekali tidak membuat Odo Luke memberikan rasa hormat kepada Kepala Keluarga Stein.


 


 


Sejenak menurunkan alat makan, Odo sekilas melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan jumlah pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Tidak menemukan pelayan yang dirinya cari, pemuda itu sejenak menghela napas ringan dan kembali mengangkat alat makan.


 


 


“Apa pelayan itu sedang melapor ke Agathe? Kalau tidak salah, sebelumnya dia sempat mengikuti Ri’aima, ‘kan?” benak Odo tanpa mengubah ekspresi.


 


 


Tatapan Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan turun menuju tiga menu yang telah disediakan untuknya. Mengingat kondisi perekonomian Rockfield sekarang, semua itu memang tampak cukup mewah dan berkualitas. Namun, tetap saja hal tersebut sama sekali tidak menggugah nafsu makannya.


 


 


Dari semua menu Odo hanya memakan Shchi, sup dengan bahan utama kubis dengan tambahan beberapa herbal dan potongan daging sapi. Sembari mencuil roti gandum dan memakannya perlahan, pemuda itu dengan pelan memakan sup kubis tersebut. Tanpa ada niat untuk menghabisinya.


 


 


Pada makanan lainnya, tersaji juga Borscht yang merupakan sup tomat, daging, serta keju. Lalu untuk menu terakhir di atas meja, roti isi daging tersaji dengan warna cokelat gelap tanda baru saja diangkat dari pemanggangan.


 


 


Melihat Odo hanya menikmati satu jenis masakan untuk teman roti gandum, Oma Stein menatap sedikit heran. Memahami bahwa etika makan Putra Tunggal Keluarga juga masih terlihat kasar dan kurang mencerminkan sikap seorang bangsawan, pria tua tersebut memasang senyum ringan dan berusaha untuk tidak berkomentar.


 


 


Tetapi, sebagai orang yang sedikit memiliki sifat perfeksionis, Oma tidak bisa menahan mulutnya. Ia perlahan membuka tangan ke depan, lalu dengan niat basa-basi bertanya, “Kenapa Tuan Odo hanya makan Shchi? Apa yang lainnya tidak sesuai selera Anda?”


 


 


Dari sekian banyak perkataan Oma sejak mereka duduk bersama, topik itu satu-satunya yang membuat Odo Luke menatap langsung ke arah sang Tuan Rumah. Sembari melempar senyuman dan meletakan alat makan, Putra Tunggal Keluarga Luke memasang senyum ringan tanpa langsung memberikan jawaban.


 


 


Pada meja makan berbentuk persegi panjang tersebut, di atasnya terdapat taplak meja yang terbuat dari wol dan makanan yang disajikan untuk Odo. Selain itu, ada juga keranjang ayaman berisi buah yang tidak cepat busuk seperti apel dan jeruk, vas dengan bunga yang sudah sedikit layu, dan selembar perkamen yang diletakkan di depan Oma.


 


 


Menebak tujuan utama Kepala Keluarga Stein mengajaknya bicara, Putra Tunggal Keluarga Luke sedikit memalingkan pandangan dan memasang ekspresi malas. Memberikan lirikan tajam dan perlahan melebarkan senyum, dengan niat mengusik Odo balik bertanya, “Aku suka pilah-pilih makanan. Bagi Tuan Oma yang sering menyelidiki Keluarga Luke, Anda pasti sudah pernah mendengar kabar seperti itu, ‘kan?”


 


 


Oma Stein sedikit terkejut. Satu pertanyaan itu sudah cukup untuk membuat pria tua itu paham siapa lawan bicaranya sekarang. Balik melempar senyum dan tidak mengurungkan niatnya sama sekali, ia dengan nada ramah menyanjung, “Tuan Odo memang tajam, seperti julukan keluarga Anda. Namun apa yang saya lakukan adalah hal wajar, tidak hanya Keluarga Stein yang melakukan hal semacam itu. Sudah sewajarnya kami mencari tahu seperti apa Tuan yang kami layani.”


 


 


Pembicaraan sesaat terhenti. Mereka saling menatap satu sama lain, seakan-akan ingin membiarkan lawan bicara mengambil langkah terlebih dahulu. Bagi kedua lelaki tersebut, mereka paham bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung akan menentukan kondisi mereka ke depannya. Sebab itu, baik Odo ataupun Oma, mereka berusaha untuk tidak mengucapkan hal menyimpang selama pembicaraan.


 


 


Tidak ingin membuang waktu mengingat hari sudah larut, Odo segera bertepuk tangan satu kali dan langsung bertanya, “Anda benar-benar ingin mengetahui rencana saya?”


 


 


Pertanyaan frontal tersebut sedikit membuat Oma menyipitkan mata. Paham dengan pola pembicaraan cepat yang akan diambil, sang Kepala Keluarga Stein langsung menjawab, “Tentu saja saya ingin. Putri saya …, Ri’aima berkata bahwa saya hanya bisa mendengar hal tersebut dari Anda. Selama makan malam tadi, Nona Canna juga memilih untuk tutup mulut tentang hal tersebut. Karena itulah, saya di sini mengajak Anda bicara untuk mendapatkan jawaban tersebut.”


 


 


Odo memasang senyum tipis. Paham dengan keunggulan yang dimiliki dalam pembicaraan, tanpa pikir paham pemuda itu kembali bertanya, “Untuk apa?”


 


 


“Saya sebagai Walikota memiliki hak untuk mengetahui hal tersebut. Tentang apa yang ingin Anda lakukan di kota ini, saya perlu tahu untuk menentukan apakah Anda tidak⸻”


 


 


“Untuk apa?” Odo sekali lagi bertanya tegas. Dengan intonasi kuat, Putra Tunggal Keluarga Luke menambahkan, “Meski Tuan Oma tahu rencana saya, memangnya Anda akan melakukan apa?”


 


 


Pertanyaan tersebut benar-benar diarahkan secara lurus, tidak berkelit dan langsung menyerang kepentingan Oma dalam pembicaraan. Merasa Odo adalah tipe orang yang tidak sabaran, pria tua itu dengan sedikit cemas menjawab, “Saya hanya ingin mengetahui, apakah Anda benar-benar berada di pihak Keluarga Stein atau malah … hanya ingin memanfaatkan keluarga kami saja.”


 


 


“Memanfaatkan, ya ….” Odo memasang senyum kecut. Segera menegakkan posisi duduk dan menatap lurus, pemuda rambut hitam itu dengan nada menyindir berkata, “Sangat tidak mungkin saya memberikan bantuan secara cuma-cuma, bukan? Anda seharusnya paham hal tersebut.”


 


 

__ADS_1


“Saya paham itu dengan sangat baik.” Meski diprovokasi, Oma berusaha untuk tidak sembarang bicara. Sejenak menarik napas dalam-dalam, pria tua dengan sebagian rambut telah menguban itu kembali bertanya, “Karena itu, bisakah Anda memberitahu saya tujuan Anda yang sebenarnya? Saya … tidak ingin bermusuhan dengan Tuan Odo. Saya di sini untuk mendukung rencana Anda.”


 


 


“Mendukung, ya ….” Odo menatap lurus dengan mimik wajah sedikit tersinggung. Meletakan kedua tangan ke atas meja, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Lalu, surat perjanjian yang ada di hadapan Anda itu apa? Itu kontrak untuk mengikat tindakan saya, bukan?”


 


 


“Surat ini?” Oma mengangkat perkamen yang ada di hadapan. Menunjukkan itu kepada Odo, pria tua tersebut dengan nada tenang menjelaskan, “Ini memang surat perjanjian yang ingin saya buat dengan Tuan Odo. Namun, saya sama sekali tidak bermaksud mengikat Anda.”


 


 


“Memperjelas batas keuntungan ….”Odo hanya sekilas melihat surat perjanjian tersebut. Sembari memalingkan wajah, ia dengan nada ketus berkata, “Jujur, itu sudah termasuk membatas pergerakan saya.”


 


 


“Mengapa? Bukannya saat garis ditentukan dengan jelas, kita juga bisa bergerak leluasa tanpa takut menyinggung kepentingan masing-masing?”


 


 


Pertanyaan tersebut sedikit membuat Odo mengerutkan kening. Dari nada yang digunakan oleh Oma, Putra Tunggal Keluarga Luke paham bahwa pria tua itu dari awal berniat untuk ikut campur dalam rencana yang telah ada.


 


 


“Mari kita buat ini cepat, saya tak ingin Anda jatuh sakit lagi dan merusak agenda yang sudah ada ….” Merasa pembicaraan bisa melebar jika dilakukan terlalu lama, Odo mengangkat telunjuk ke depan dan langsung menyampaikan, “Apa yang ingin saya lakukan sebenarnya sederhana. Dalam waktu dekat, beberapa pejabat dari Mylta akan datang membawa sebuah proposal kerja sama. Saya ingin Keluarga Stein menyetujui hal tersebut. Namun, untuk bisa mewujudkannya Keluarga Stein harus mendapatkan kembali pengaruh di Teritorial Rockfield ini.”


 


 


“Proposal? Mylta?” Oma mulai memahami maksud Putra Tunggal Keluarga Luke. Sedikit memasang senyum tipis seakan dirinya lebih unggul dalam pembicaraan, pria tua itu dengan rasa percaya diri memastikan, “Apa kerja sama tersebut tentang perdagangan? Sebelum kejadian Raja Iblis Kuno, saya juga sempat menerima hal semacam itu dari mereka. Namun, saya tolak karena isi kerja sama itu terlalu menguntungkan mereka yang merupakan kota pelabuhan. Hanya kerja sama soal penanganan bandit saja yang saya terima saat itu.”


 


 


“Kalau sekarang? Jika Mylta mengajukan tawaran tersebut lagi, apa Anda akan menerimanya?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Oma sedikit besar kepala. Memasang senyum seakan alur pembicaraan memihak kepadanya karena sang lawan bicara pada posisi meminta, pria tua itu dengan sedikit angkuh berkata, “Itu tergantung proposal yang diajukan orang-orang Mylta. Jika mereka terlalu serakah, tentu saja saya tidak bisa menerima hal tersebut.”


 


 


“Baiklah, saya paham ….” Odo sedikit muak dengan kepribadian pria tua tersebut. Memberikan tatapan datar dan menghela napas, Putra Tunggal Keluarga Luke tanpa pikir panjang berkata, “Saya akan membuat situasi supaya Anda tidak bisa menolaknya. Meski harus mengobrak-abrik Keluarga Stein sekalipun ….”


 


 


Itu bukanlah gurauan, baik Oma ataupun anak-anaknya memahami hal tersebut dengan jelas. Menelan ludah dan mulai pucat, Kepala Keluarga Stein berusaha tenang dan berkata, “Anda mengatakan sesuatu yang berbahaya, ya. Kenapa tiba-tiba⸻”


 


 


“Saya tidak sedang bercanda ….” Odo kembali menghela napas, meletakkan tangan ke depan wajahnya sendiri dan dengan resah menyampaikan, “Dengar ini, Tuan Oma. Saya sudah tidak bisa lembut lagi seperti saat meladeni Nona Ri’aima. Situasi berubah, saya tidak bisa lagi santai-santai dan bermain dengan semua ini. Jadi …, meski harus menyingkirkan kalian, saya tidak akan ragu. Tolong pahami hal tersebut.”


 


 


 


 


“Terima kasih ….” Odo berhenti meletakkan tangan ke wajah, lalu memberikan tatapan sinis terhadap respons positif tersebut. Menghela napas dan memalingkan pandangan dengan risih, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Jujur, saya sebenarnya tidak terlalu membutuhkan hal tersebut, sebab proposal mereka ajukan adalah untuk kepentingan Wilayah Luke. Saya sendiri di sini sebenarnya hanya untuk mengisi waktu. Seperti yang pernah Tuan Oma dengar di akhir Pesta Pertunangan, saya sebentar lagi akan melaksanakan kewajiban di Wilayah Rein.”


 


 


“Hmm, begitu rupanya.” Oma mengangguk pelan, tahu tentang hal tersebut dan mulai berasumsi, “Ternyata Anda hanya ingin belajar tentang seluk-beluk kota sebelum bekerja secara langsung di Kota Pien’ta. Jelas Anda tampak sedikit tidak acuh.”


 


 


“Iya ….” Odo hanya menjawab singkat, membiarkan kesalahpahaman tersebut tetap ada.


 


 


“Meski hanya untuk mengisi waktu, namun Anda sudah memiliki rencana untuk mengatasi masalah di sini, bukan?” tanya Oma memastikan.


 


 


Odo kembali menghela napas dan memperlihatkan gelagat ingin segera mengakhiri pembicaraan. Menatap dengan tatapan lelah, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Tentu saya punya.”


 


 


“Bisakah Anda menyampaikannya kepada saya? Meski Anda tidak mau membuat perjanjian dengan saya, paling tidak saya ingin mendengar rencana yang ingin Tuan Odo lakukan dengan Ri’aima.”


 


 


Setelah kembali menghela napas, Odo mulai menjelaskan rencananya untuk mengembalikan pengaruh Keluarga Stein di Rockfield. Dari tujuan awal mengajak Quidra dan mengembalikan gelar Knight kepada mereka, lalu sampai membuat beberapa koalisi untuk melemahkan kekuatan Prajurit Elite yang sekarang ini menjadi orang paling berpengaruh di kota.


 


 


Namun, dari semua penjelasan rencana yang sedang Odo jalankan, ada satu bagian yang membuat Oma dan anak-anak Keluarga Stein terkejut. Duel ⸻ satu kata itu terdengar sangat janggal, terutama untuk Putra Tunggal Keluarga Luke yang sejauh ini bergerak tanpa menggunakan kekerasan.


 


 


“Sebuah duel? Anda? Dengan Prajurit Elite itu? Demi mengembalikan gelar Knight Keluarga Quidra?” tanya Oma memastikan.


 


 


Menghela napas dan sesaat menggaruk bagian belakang kepala, Odo memperlihatkan mimik wajah risih dan kembali menjelaskan, “Bukan saya yang akan berduel, namun orang lain. Lagi pula, akan percuma kalau saya yang melakukan duel tersebut.”


 


 


“Me-Memangnya siapa yang mau melakukan itu? Melakukan duel demi Keluarga Quidra. Maksud saya, itu terdengar sangat mustahil! Terutama mengingat lawannya siapa,” ujar Oma meragukan.


 


 


“Anda akan tahu itu nanti.” Odo bertepuk tangan satu kali sebagai tanda ingin menutup pembicaraan. Menatap ringan dan memperlihatkan sorot mata mengantuk, Putra Tunggal Kelurga Luke bertanya, “Tuan Oma sendiri …, memangnya apa yang ingin Anda lakukan? Setelah sembuh dari penyakit, apa Anda akan langsung bekerja?”

__ADS_1


 


 


“Tentu saya akan segera bekerja lagi, lalu merebut kembali pengaruh Keluarga Stein di Kota.” Oma Stein memasang senyum santai. Seakan telah memiliki kepastian untuk mencapai tujuan tersebut, pria tua itu bertanya, “Untuk rencananya, apa perlu saya sampaikan juga?”


 


 


“Tidak perlu ….” Odo memasang senyum kecut seakan ingin mengejek rasa percaya diri pria tua tersebut. Mengangkat telunjuk ke arah Ri’aima, ia dengan nada sedikit intimidasi menambahkan, “Tapi, tolong jangan seret Nona Ri’aima ke dalam rencana Anda. Dia bagian dari rencana saya.”


 


 


“Saya senang Anda menyukai Putri Sulung saya.” Oma memasang senyum tipis, lalu mengangguk dan berkata, “Baiklah, saya tidak keberatan. Namun, sebagai seorang Ayah saya ingin menegaskan satu hal.”


 


 


“Apa itu?” tanya Odo sembari sedikit memiringkan kepala.


 


 


“Tolong jaga baik-baik Ri’aima.”


 


 


Permintaan tersebut cukup membuat semua orang di ruang makan terkejut, terutama Ri’aima sendiri yang duduk di sebelah Ayahnya tersebut. Mengingat kepribadian Oma Stein, perkataan itu memang hampir mustahil keluar dari mulut pria tua tersebut.


 


 


“Baiklah, saya akan ingat itu.”


 


 


Berusaha untuk tidak membahas perubahan cara pandang semacam itu, Odo segera bangun dari tempat duduk. Tanpa menghabiskan makanan yang disajikan, ia segera beranjak dari meja makan dan hendak pergi ke kamar.


 


 


Namun saat baru mengambil dua langkah dan belum sampai di pintu, Putra Tunggal Keluarga Luke terhenti dan kembali menghadap ke arah Oma yang masih terduduk. Ia menatap tajam, lalu terdiam tanpa berkata apa-apa.


 


 


Tatapan itu membuat Oma Stein sempat merinding, merasakan sebuah ancaman kuat di dalamnya. Dengan rasa cemas menyelimuti, pria tua itu bertanya, “Ada apa, Tuan Odo?”


 


 


“Tuan Oma ….” Odo perlahan menyipitkan mata, memasang mimik wajah serius dan dengan suara kurang jelas berkata, “Lily’ami, seorang pedagang dan dibuang ….”


 


 


Kedua mata Oma untuk sesaat terbuka lebar, tampak terkejut dengan apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke katakan. Seakan ingin menyembunyikan sesuatu, ekspresi pria itu kembali normal dan melempar senyum palsu.


 


 


“Lily’ami? Sungguh nama yang indah.” Oma memasang mimik wajah menggoda, lalu sembari mengacungkan telunjuk ke depan bertanya, “Apa itu nama kekasih Anda?”


 


 


Respons Kepala Keluarga Stein benar-benar janggal, terutama pada bagian ingin menjadikan perkataan Odo sebagai candaan belaka. Menyadari hal dengan sangat jelas, pemuda rambut hitam itu pun hanya melempar senyum tipis dan menjawab, “Tidak apa-apa, lupakan saja.”


 


 


Tanpa berkata lagi, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berjalan ke arah pintu keluar ruang makan. Ia perlahan memasang senyum tipis, seakan-akan telah mendapatkan kartu truf untuk membuat Oma Stein bungkam.


 


 


Sembari membuka pintu dan berjalan keluar, Odo melebarkan senyum lebar dan dalam benak berkata, “Mereka suami istri sama-sama suka sekali berdusta. Saling menyembunyikan sesuatu, lalu berpura-pura seakan diri mereka tidak bersalah.”


 


 


\==================


 


 


Catatan :


 


 


Masih lanjut dekadensi!! Bruh!


 


 


See You Next Time!


 


 


Catatan Kecil :


 


 


Fakta 027: Setiap Pendeta pada setiap gereja Pihak Religi pernah datang ke Ibukota, untuk mendapatkan berkah dan diberikan amanah sebagai Pendeta.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2