
Terkadang angin dingin dapat memberikan rasa tenang. Dalam gelap malam di mana kesendirian menyelimuti, hembusan lembut dapat menyingkirkan kegundahan hati. Memberikan kenyamanan batin, menikmati momen singkat di bawah sinar purnama.
Menjadi berbeda dan spesial bukanlah hal yang sama, itu mirip seperti dua kutub medan magnet yang berlawanan.
Perbedaan dapat mendatangkan konflik dan diskriminasi, sebuah penderitaan berkepanjangan. Garis kekal yang dapat merusak.
Di sisi lain, menjadi spesial merupakan hal yang menyenangkan. Diperlakukan berbeda, namun tidak dikucilkan dan malah diagungkan oleh banyak orang. Ketetapan derajat.
Buku, musik, penampilan, dan perilaku. Seni dan budaya suatu bangsa dapat menjadi patokan, sedangkan kemampuan individu digunakan sebagai parameter. Masyarakat melihat hal tersebut dalam mengelompokkan sebuah perbedaan.
Karena itulah, lahir sebuah kategori yang disebut oleh orang-orang sebagai penyimpangan. Saat ada sesuatu yang berbeda dan merugikan, hal tersebut akan dianggap sebagai penyimpangan dan harus dihilangkan. Menolak perubahan dengan keras.
Kesenyapan dapat mewujudkan kedamaian. Kegelapan tidak hanya mendatangkan ketakutan dalam ketidaktahuan, namun juga ketenangan rohani. Momen di mana orang-orang dapat memejamkan mata dan beristirahat dalam ketidaksempurnaan.
Keberanian lahir dari diri seseorang yang berhasil menaklukkan ketakutan, hidup berdampingan dengan hal tersebut. Terbiasa dengan keputusasaan dan penderitaan, namun tetap bisa menemukan harapan dan kebahagiaan dalam kehidupannya.
Tidak ada makhluk yang dapat mencapai tingkat Daath dan Aeons tersebut, bahkan pencerahan ilahi takkan mampu membimbing mereka menuju Ain Soph Aur. Keberanian untuk melangkah dalam kesendirian, hidup berdampingan dengan keputusasaan.
Puncak dari seluruh bentuk kehidupan dan pengetahuan, Ray of Creation. Saat ada entitas mencapai tingkat tersebut, ia sudah tidak bisa lagi disebut sebagai makhluk hidup.
Wujud fisik akan terurai, kesadaran melebur, dan visi pun menyatu dengan dunia. Menjadi satu dalam ketidaksempurnaan, berjalan menuju kehampaan mutlak tanpa membuang identitasnya sebagai entitas tunggal.
Kematian dan kehidupan menjadi tidak berarti, siang dan malam berakhir setara. Mencapai tudung kehampaan yang paling dalam, Akar Dunia. Disebut juga sebagai Limitless Light, tahap sebelum mencapai Kehampaan Abadi dan Singularitas Tunggal.
“Membagi atau memisah eksistensi, ya? Siapa sangka mereka akan berspekulasi seperti itu ….” Seorang pemuda duduk di atas sebuah peti mati, melebarkan senyum hampa sembari mendongak lurus. Menatap secercah cahaya pada langit-langit, lalu mengulurkan tangan kanan sembari bergumam, “Namun, tidak ada satu pun yang benar. Dirinya adalah Singularitas Tunggal, akan selalu tunggal sampai akhir cerita.”
Tempat tersebut merupakan ruang tertutup, dikelilingi kegelapan dan diselimuti udara dingin. Permukaan lantai terbuat dari campuran logam berwarna biru denim, sedangkan dinding dilapisi keramik berpola geometris yang didominasi warna ungu dan hitam.
Puluhan kabel menjalar pada lantai layaknya akar pohon, terhubung dengan beberapa alat elektronik pada sudut ruangan. Suara dengung keluar dari gesekan sirkulasi udara dan mesin, sedikit bergema dan lenyap diurai peredam ruangan.
Tempat tertutup itu memiliki langit-langit yang cukup tinggi, terdapat lubang kecil selebar bola sepak dan dihiasi oleh beberapa lampu neon redup. Terbuat dari bahan yang sama seperti lantai, berwarna biru denim dan tampak menyerap cahaya untuk diolah menjadi energi.
Tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah peti mati yang diduduki oleh seorang pemuda. Ia memiliki paras dan perawakan sangat mirip seperti Odo Luke, mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam.
Namun, gestur tubuhnya sangat lembut seperti seorang androgini. Saat berbicara pun suara yang dikeluarkan lirih dan merdu, terdengar sangat feminis layaknya seorang gadis.
Ia adalah perwujudan dari kehendak Awal Mula, The Originator. Entitas yang memiliki banyak nama sakral, disebut juga sebagai Malar, Maiden of The Primordial Sea.
Wujud tersebut hanyalah tiruan semu, sesuatu yang dirinya salin dari sang Pemuda. Digunakan sebagai wadah sementara, menampung intisari eksistensi dan kesadarannya supaya dapat beradaptasi dengan lingkungan baru.
Menyalurkan ketakterbatasan dalam sebuah wadah rapuh, lalu dibungkus dengan daging dan kulit. Menjelma sebagai manusia, inkarnasi dari Puncak Singularitas pengetahuan.
“Engkau ‘kah yang membuka gerbang tersebut, wahai Pendampingku Tersayang?” Malar menurunkan tangannya dan tersenyum. Sosok perwujudan Awal Mula tersebut sejenak memejamkan mata, lalu segera turun dari atas peti mati sembari bergumam, “Separah itukah situasinya sampai engkau membutuhkan diriku? Membahagiakan sekali, tidak pernah dirimu meminta pertolongan secara terang-terangan seperti ini.”
Gadis dalam wujud pemuda itu menjentikkan jati, mematikan seluruh lampu neon dan menyalakan Api Penyucian. Titik-titik biru mulai bermunculan di udara, menerangi ruangan tertutup itu dengan cepat. Menyingkirkan hawa dingin dan menggantinya dengan kehangatan.
Pada saat bersamaan, sosok-sosok buangan mulai menunjukkan diri mereka. Dari dalam bayangan yang tercipta oleh pancaran cahaya Api Penyucian, para Serapah mulai menunjukkan diri mereka. Makhluk tertindas yang telah direbut hak dan wewenangnya.
Mereka mengambil wujud sang Pemuda, memiliki paras remaja laki-laki berambut hitam dengan mata biru terang. Mengenakan kemeja putih serta celana bahan hitam, namun memiliki postur tubuh yang berbeda-beda.
Beberapa ada yang bungkuk, kurus, gendut, dan tegak sempurna. Selain itu, ada juga yang cacat seperti hanya memiliki satu mata, kedua kaki lumpuh, buta, tuli, dan bisu.
Hampir tidak ada Serapah yang mampu beradaptasi dengan wujud baru mereka. Dari belasan entitas yang berhasil menyeberang dari daratan Api Penyucian, hanya satu yang bisa mengambil wujud sang Pemuda dengan mirip. Sangat jauh dari kata sempurna meskipun telah mendapatkan berkah dari Initial Knowledge.
Belasan Serapah tersebut berdiri di sekitar Malar, menatap kosong dan mulai membuka mulut mereka seakan ingin menyampaikan sesuatu. Belajar menggunakan tubuh baru, berusaha mengenal lingkungan, dan meniru pengetahuan yang ditanamkan pada diri mereka.
Pengetahuan awal mereka setingkat dengan makhluk primitif. Kuno, tindakan dilandasi oleh insting, dan pola pikir pun masih sangat sederhana. Namun, para Serapah tersebut memiliki kemampuan belajar yang sangat luar biasa.
Kemampuan adaptasi mereka jauh melebihi umat manusia, bahkan setara dengan makhluk primal. Mereka tidak perlu mengonsumsi makanan untuk bertahan hidup, hanya perlu terpapar cahaya dan mampu melakukan fotosintesis.
Dengan kata lain, makhluk yang dikategorikan Serapah tersebut hanya memerlukan cahaya dan air untuk bertahan hidup. Lebih mendekati tanaman, namun tidak membutuhkan karbon dioksida ataupun unsur hara lainnya.
Mereka juga memiliki beberapa batasan layaknya makhluk hidup. Kodrat yang tidak bisa dilanggar oleh mortal, ketentuan mutlak untuk mengatur keseimbangan hukum energi.
__ADS_1
Batasan tersebut adalah mental. Dengan kata lain, kondisi seperti kelelahan, tekanan rohani, dan dorongan batin merupakan sesuatu yang tidak bisa mereka hindari.
Saat diancam mereka bisa ketakutan, saat dimarahi atau ditegur mereka juga dapat merasa bersalah dan menyesal. Membenci ketika disakiti, atau bahkan mencintai saat mendapatkan kasih sayang.
Batasan yang takkan bisa dihindari oleh makhluk hidup, apalagi mereka yang memiliki perasaan. Ketetapan yang hampir setara dengan kematian.
Oleh karena itu, kemampuan adaptasi mereka sangat dipengaruhi oleh hal tersebut. Layaknya makan dan minum untuk manusia, kondisi mental yang stabil menjadi kebutuhan pokok bagi para Serapah.
Mereka memiliki siklus tidur seperti Makhluk Primal, namun tidak terlalu panjang dan hanya berlangsung selama beberapa jam layaknya manusia pada umumnya. Terikat kuat dengan Unfar, menjadikan Api Penyucian sebagai sumber kehidupan utama.
Sangat terikat dengan kehendak Awal Mula, tidak berlebihan jika mereka disebut sebagai anak-anak Malar. Serapah yang ditelantarkan dunia, sosok yang ditindas oleh Dewi Penata Ulang, makhluk-makhluk buangan tanpa wujud konkret.
Karena itulah, Serapah memiliki hasrat yang sangat kuat untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milik mereka. Hak, wewenang, kekuatan, wujud, dan dunia. Segala sesuatu yang telah direbut dari mereka, para Serapah itu menginginkannya.
“Bu-Bunda …, a … pa ya … ng ingin e … ng … kau ingin …, ‘kan? Dunia … ini? Balas ... den … dam? A … tau …. Aya … h?”
Malar terkejut saat mendengar salah satu Serapah berbicara, ia perlahan membuka kedua matanya dan menoleh. “Kemarilah, anak-anak kami. Kalian akan segera bertemu dengannya,” ujar perwujudan Awal Mula tersebut. Ia pun merentangkan kedua tangannya ke depan, ingin memeluk mereka layaknya sosok Ibu yang penyayang.
Semua Serapah yang berhasil menyeberang dan mendapatkan wujud mulai mendekat. Lekas mendekap sosok tersebut, merangkul seakan sedang berebut. Mendambakan kehangatan yang dipancarkan oleh Pengetahuan Awal, sumber dari Api Penyucian itu sendiri.
“Bunda … se … dang … sedih?”
“Ke … napa … murung?”
“A … pa … sakit?”
“Apa … kah be … rat?”
“Tidak apa, ini sudah tepat. Bersabarlah ….” Kekhawatiran mereka sedikit meringankan beban Malar. Ia mendekap mereka semakin erat, lalu menunjukkan cintanya dengan berbisik, “Sebentar lagi kalian akan sampai di tempat itu. Bersama dirinya, bersama diriku. Perjalanan panjang ini akan segera berakhir, kita sudah hampir mencapai Akhir Sakral.”
“Tidak ada yang benar ataupun salah ….”
Salah satu Serapah mulai bisa berbicara dengan lancar. Wujudnya yang cacat pun perlahan berubah, sepenuhnya menyalin bentuk sang Pemuda. Sempurna secara rupa, namun tetap ada sedikit perbedaan pada gestur tubuh. Memiliki karakteristik tersendiri.
“Kami takut, dunia ini dipenuhi ketidakpastian. Tidak seperti tempat itu.”
“Apakah kami bisa hidup dengan tersenyum? Berjuang bersama seperti sebelumnya?”
“Mungkin saja semua ini adalah kesalahan, seharusnya kami tidak datang kemari. Jika itu hanya akan membuat Bunda sedih, sebaiknya ….”
“Tidak! Bunda pasti punya alasan, ‘kan?! Jika memang ini sebuah kesalahan, kita harus memperbaikinya! Kita harus hidup dengan bangga! Kelahiran kita adalah berkah! Kedatangan kita merupakan takdir! Itu patut disyukuri!”
“Apakah ini sudah benar? Apakah perubahan ini patut untuk dirayakan? Kita hanyalah buangan. Buangan dari buangan …, paling hina!”
“Itu berlebihan, engkau terlalu pesimis. Meski buangan, kita tidaklah hina. Kita makhluk mulia, namun setara dengan yang lain. Kita adalah keluarga.”
“Bisakah kita menerima perasaan ini? Hasrat ingin merebut ini sudah benar? Haruskah kita menahannya? Atau berserah diri dan mengikutinya?
“Entahlah, diriku pun tak tahu. Bagaimana denganmu?”
“Entah, tidak paham. Bukankah itu sudah benar? Selama kita bisa tersenyum bersama Bunda, bukankah itu sudah cukup?”
“Patut dirayakan?”
“Diriku rasa tak perlu, itu terlalu berlebihan. Mana yang benar dan mana yang salah? Bukankah itu yang perlu kita pertimbangkan?”
“Pandangan negatif dan diskriminasi akan menghujani kita! Bahkan, akan ada banyak makhluk yang ingin melenyapkan kita saat keluar dari tempat ini! Apakah keputusan ini sudah tepat? Haruskah kita melawan mereka? Atau berserah diri dan menyerah?”
“Entahlah, diriku tidak tahu. Bisakah kita menahan dorongan ini? Untuk apa?”
“Bukankah ini untuk Bunda?”
“Itu benar, ini untuk Bunda. Kita mencintai Bunda.”
__ADS_1
“Bunda ingin menemui Ayahanda.”
“Memangnya siapa Ayahanda?”
“Entahlah, kita belum pernah bertemu dengannya.”
“Diriku juga.”
“Diriku juga.”
“Diriku juga. Tetapi, bukankah itu tidak penting? Ayahanda hanya perlu kita temui sekarang juga! Tepat setelah kita keluar dari tempat ini!”
“Bukankah ada banyak orang jahat yang mengincar kita di luar sana? Menginginkan kehancuran kita dan Bunda ….”
“Engkau benar.”
“Engkau benar.”
“Engkau benar. Namun, kita masih bisa melawan. Kita kuat, kita mampu, kita bersama. Tidak sendirian. Benar, ‘kan?”
“Mari pergi! Tapi ….”
“Tapi?”
“Tapi?”
“Tapi kenapa?”
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Itu benar, apa yang sebaiknya kita lakukan?”
“Entahlah, kita belum tahu apa-apa tentang dunia ini. Kita harus apa?”
“Bunda?”
“Bunda?”
“Bunda, kita harus melakukan apa?”
“Akhirnya kalian bertanya juga ….” Saat diskusi mereka selesai, Malar melebarkan senyum tipis dan berhenti memeluk. Ia menatap para Serapah dengan senang, lalu dengan lembut menjawab, “Kita akan menggantikan tempatnya, menjadi Odo Luke. Salah satu dari kalian akan menjadi dirinya, sedangkan yang lain akan menata tempat ini untuknya.”
“Menjadi Ayahanda?”
“Menata tempat ini?”
“Benar, kita harus mengisi kekosongan itu dan menyiapkan tempat ini.” Malar kembali memeluk mereka dengan erat. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan, mencurahkan cintanya kepada mereka sembari lanjut berbisik, “Kita mungkin akan kalah, kita tidaklah kuat. Kita adalah makhluk lemah dan rapuh. Namun, kita pasti akan bertahan sampai akhir. Kita adalah penyintas untuk dunia berikutnya.”
“Keabadian?”
“Kehangatan?”
“Penghujung malam?”
“Kalian benar, ini adalah perjalanan menuju keabadian sejati. Kehangatan kekal menuju penghujung malam.” Malar memeluk mereka semakin erat, mulai meneteskan air mata dan berhenti tersenyum. Ia tidak lagi berbisik, lekas mengangkat wajahnya dan menatap cahaya. “Semoga engkau diberkahi kebahagiaan yang melimpah, wahai Singularitas Tunggal”
Waktunya telah tiba. Secercah cahaya pada langit-langit ruangan mulai melebar. Api Penyucian seketika padam pada saat itu juga, kemudian mereka pun terekspos oleh dunia
Ruang tertutup tersebut terletak tepat di bawah Kota Terlantar, Dunia Astral. Beberapa kilometer di atas Core Realm, berfungsi sebagai pembatas sekaligus lapisan protokol.
Saat lapisan tersebut lenyap, keberadaan mereka perlahan-lahan akan terungkap. Menjadi bagian dari dunia, berbaur untuk memulai perlawanan demi mendapatkan kembali hak dan wewenang mereka. Revolusi untuk menjatuhkan keilahian.
ↈↈↈ
__ADS_1