Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[98] Angelus III – Grey Duty (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Melakukan sesuatu yang disukai tidak selalu menjadi hal menyenangkan, terkadang ada perih dan jenuh di dalamnya. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain, lalu frustrasi dan bertanya-tanya apakah yang sudah dilakukan tepat atau tidak.


 


 


Ada kalanya rasa terpuruk menguasai benak, lalu membuat sebagian orang berhenti melakukan hal yang mereka sukai. Itu bukan berarti mereka sudah menyerah. Namun, rasa jenuh dan lelah memaksa mereka berhenti untuk melakukannya. Ketika sadar bahwa apa yang disukai tidaklah selalu menyenangkan, kebanyakan orang akan meninggalkannya.


 


 


Rasa ingin berhenti karena jenuh dan penat yang luar biasa, itulah yang Nanra Tara rasakan sekarang. Pada lantai dua toko Ordoxi Nigrum, gadis rambut keperakan tersebut duduk membaringkan wajah ke atas meja kerjanya. Memperlihatkan mimik wajah letih, layaknya orang tua berusia senja.


 


 


Dari tiga lantai yang ada pada toko, lantai dua adalah kantor untuk pengolahan berkas dan administrasi semua kegiatan perusahaan Ordoxi Nigrum. Terdapat rentet meja dan kursi kerja, lalu beberapa lemari berkas untuk pengarsipan di sudut.


 


 


Tempat tersebut cenderung mengenakan tata ruang kantor tertutup, setiap meja kerja memiliki sekat dan difokuskan untuk pengerjaan berkas. Pada langit-langit terdapat lampu kristal yang menyala terang meski sudah pagi, lalu jendela dan gorden pun masih tertutup rapat.


 


 


“Ini benar-benar melelahkan ….”


 


 


Nanra perlahan mengangkat wajah dari atas meja. Sembari mengusap air liur yang membasahi pipi, gadis tersebut menoleh ke sekitar dengan mata setengah terbuka. Melihat beberapa orang yang masih tertidur setelah kerja lembur semalam suntuk.


 


 


Selain dirinya, di ruangan tersebut ada juga seorang penyihir dari Distrik Pengrajin bernama Luna. Selama semalam, perempuan itu ikut membantu menyelesaikan pekerjaan administrasi. Tidur membaringkan wajah di atas meja karena kelelahan, dengan beberapa perkamen masih berserakan di sekitarnya.


 


 


Tak jauh dari meja tempat penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut, terlihat juga Ligh Miala dan Logi Miala, kedua Butler yang melayani Arca Rein. Sama-sama masih tertidur sangat pulas, namun sedikit berbeda karena mereka terkapar di lantai karena terjatuh dari kursi saat terlelap.


 


 


Dari ketiga orang tersebut, tatapan Nanra seketika berubah tajam ketika melihat sepasang Elf yang tidur saling bersandar pada sudut ruangan. Laura Sam’kloi dan Magda Klitea, itulah nama kedua Prajurit Peri dari Kerajaan Moloia tersebut.


 


 


Meski mereka berdua seharusnya menjadi tahanan atas apa yang telah diperbuat, namun karena beberapa alasan mereka bisa berada di tempat tersebut. Membantu menyelesaikan pekerjaan administrasi, lalu ikut lembur bersama yang lain.


 


 


Sejauh yang Nanra tahu, beberapa hari yang lalu salah satu dari Elf tersebut masih ditahan oleh pemerintah Kota Mylta. Dijadikan kambing hitam atas insiden penyerangan monster yang terjadi lebih dari seminggu lalu, bahkan sempat hampir dijatuhi hukuman eksekusi mati.


 


 


Tetapi, entah bagaimana caranya Arca Rein berhasil meringankan tuduhan kepada Elf tersebut. Membuat hukuman eksekusi yang telah ditentukan berubah menjadi tahanan kota dalam pengawasan.


 


 


Setelah berhasil meringankan tuduhan, Arca tidak berhenti di situ saja. Pemuda itu menggunakan statusnya sebagai seorang Knight dan kembali ikut campur dalam kasus tersebut. Berdiskusi, memberikan tekanan, dan memanfaatkan situasi di mana bangsawan-bangsawan dengan gelar lebih tinggi di Mylta sedang pergi mengikuti ekspedisi.


 


 


Pembicaraan panjang dan peninjauan kasus berulang kali. Sesudah melakukan semua hal tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein pada akhirnya berhasil mengambil hak pengawasan dari para pejabat yang statusnya lebih rendah.


 


 


Tentu saja dengan memberikan beberapa ancaman dan tekanan, sebagaimana gaya pemuda tersebut saat berhadapan dengan kalangan pemerintah atau bangsawan.


 


 


Secara garis besar, alasan Arca berhasil mengambil hak pengawasan ada dua. Pertama karena pemerintah Mylta memiliki permasalahan lain yang harus diprioritaskan, lalu yang kedua adalah berkurangnya tuntutan masyarakat terhadap pembahasan kasus tersebut.


 


 


Pihak pemerintah sendiri merasa kasus penyerangan monster terjadi karena kesalahan mereka juga, terutama tentang tuntutan masyarakat kepada salah satu prajurit yang menggunakan senjata sihir peledak di tengah kota. Mendasari hal tersebut, berkurangnya tuntutan menjadi kesempatan bagus bagi pihak pemerintahan untuk mengubur dalam-dalam masalah tersebut.


 


 


Sebab itulah, pihak pemerintah Mytla memutuskan untuk menyerahkan hak pengawasan kepada Arca Rein. Merasa cemas jika membuat Putra Sulung Keluarga Rein marah dan mulai menghasut masyarakat, sebab mereka tak ingin kondisi kota dibuat tidak stabil oleh pemuda yang terkenal suka merusuh di wilayahnya sendiri.


 


 


Berkat hal tersebut, kedua Elf yang sempat terpisah itu akhirnya bisa kembali bersama. Mengesampingkan apa yang telah mereka perbuat, Arca benar-benar menjadikan mereka sebagai tenaga tambahan pada bagian administrasi di Ordoxi Nigrum. Seakan-akan sedang menggunakan wewenang dengan sewenang-wenang dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi.


 


 


“Para Elf itu pernah berniat membunuh orang-orang di toko ini, loh. Kalau tidak salah ingat, mereka juga katanya berencana meledakkan seisi Kota ….” Nanra menghela napas ringan. Sejenak memejamkan kedua mata, gadis tersebut kembali bergumam, “Kesambet apa sih Tuan Arca sampai-sampai mau mempekerjakan mereka? Yah, mereka banyak membantu memang …. Mengingat tempat ini sangat kekurangan tenaga, jujur mereka sangat amat membantu.”


 


 


Nanra secara pribadi tidak mempermasalahkan kedua Elf tersebut. Meski pernah terlibat penyerangan mereka dan menjadi salah satu korban, gadis tersebut tidak dendam atau marah karena hampir tidak merasakan dampaknya. Bahkan, dalam benak ia malah merasa sedikit kasihan kepada mereka berdua.


 


 


Merasakan sebuah kemiripan, terlihat seperti sedang dimanfaatkan dan ditelantarkan begitu saja. Saat Nanra membayangkan dirinya tidak dimaafkan oleh Odo dan dihukum atas kasus percobaan pembunuhan tahun lalu, denyut sakit di dada mulai terasa. Iba dengan jelas tampak pada raut wajahnya.


 


 


“Apa orang-orang Kerajaan Moloia selalu seperti itu? Memanfaatkan orang lain dan membuangnya begitu saja?”


 


 

__ADS_1


Perasaan mendung dalam benak menghilangkan rasa kantuk, layaknya kafein yang mengalir di pembuluh darah. Membuat kedua mata Nanra terbuka sepenuhnya, menatap sendu kepada dua Elf yang masih tertidur lelap.


 


 


Gadis rambut keperakan tersebut berdiri, merapikan blus dan rok hitam yang dikenakan supaya tidak terlalu kusut. Menarik napas dalam-dalam, ia pun melangkahkan kaki dan berniat untuk turun dan mencari udara segar sejenak.


 


 


Namun, di tengah langkah kaki Nanra mendengar ⸻


 


 


“Maaf …, tolong maafkan …! Saya … juga tak ingin … melakukan hal ini. Saya … tak ingin mengandung … anak-anak … mereka. Saya mohon …, tolong maafkan ….”


 


 


Suara igauan tersebut cukup keras, sampai-sampai membuat gadis rambut keperakan tersebut menoleh ke sumber suara. Lekas tatapan merendahkan, layaknya sedang memandang seekor serangga di pojok ruang.


 


 


Dari semua orang di dalam ruangan tersebut, Nanra sangat tidak ingin memedulikan perempuan yang mengigau itu. Meski selama beberapa hari terakhir telah bekerja dalam ruangan yang sama, tetap saja gadis tersebut memberikan pandangan yang sangat rendah kepadanya. Menganggap perempuan yang mengigau tersebut hina, bahkan lebih rendah dari para Elf yang pernah berniat membunuh orang-orang di toko.


 


 


Yor’an Botan, itulah nama mantan bunga malam yang sekarang ini dipekerjakan oleh Ordoxi Nigrum. Atas rekomendasi Luna Hulla dan saran dari Odo Luke, bunga malam sekaligus pecandu tersebut diberikan kesempatan kedua untuk hidup normal di masyarakat.


 


 


Dimasukan ke dalam perusahaan dengan status masih magang, bertugas pada bagian pengarsipan dan administrasi seperti Nanra.


 


 


Mantan bunga malam tersebut tidur pada kursi dengan wajah terbaring di atas meja, tepat di sebelah meja kerja milik Nanra. Perempuan itu memiliki tubuh kurus dan kulit pucat, lalu rambut abu-abu panjang sepunggung dan terurai halus layaknya benang sutra.


 


 


Layaknya seorang Courtesan pada umumnya, Yor’an memiliki selera pakaian yang sangat baik dan tahu cara berpenampilan menarik di mata pria. Meski mengenakan gaun tunik biasa berwarna merah kirmizi, celana hitam berbahan ketat yang dikenakan membuatnya tampak seksi.


 


 


Ditambah dengan gaun yang sengaja dibuat pendek sampai lutut, itu membuat Yor’an seakan sengaja mengundang hasrat para pria untuk mengintip. Sesuatu yang ada di balik gaun meski itu hanyalah celana ketat saja.


 


 


Daripada mengumbar tubuh lebar-lebar, hal yang sedikit tertutup lebih menggoda bagi para pria. Mantan bunga malam itu memahami hal tersebut dengan sangat baik, memanfaatkannya dalam pemilihan pakaian supaya terlihat menarik.


 


 


Bagi setiap pria yang tidak mengenal Yor’an, mungkin mereka akan menganggapnya cantik dan langsung terpana. Namun, pada kenyataannya perempuan itu adalah ranjau dalam kehidupan masyarakat. Racun nyata bagi para pria, sebab sekali dicicipi pasti akan merusak dan membuat kecanduan.


 


 


Nanra masihlah anak-anak dan baru dibaptis tahun ini. Tetapi, itu bukan berarti ia tidak bisa memahami hal seperti itu. Menatap Yor’an tertidur pulas dengan gaun terangkat sampai paha terlihat, gadis rambut keperakan tersebut mengerutkan kening.


 


 


 


 


Nanra tidak sedang membandingkan Yor’an dengan dirinya sendiri, namun dengan para Demi-human yang ada di Mylta. Hanya karena mereka adalah imigran gelap dan terlihat berbeda dengan mayoritas penduduk Kerajaan Felixia, ras selain manusia cenderung diperlukan tidak adil dan sangat buruk.


 


 


Standar ganda, itulah yang terkilas dalam benak Nanra. Merasa bahwa mereka yang berpenampilan cantik pasti akan mendapatkan perlakukan lebih baik, sedangkan yang jelek dan berbeda akan diperlakukan buruk.


 


 


“Apa Odo juga seperti itu? Memilih dia karena cantik …, karena tertarik dengan tubuhnya yang indah,” gumam Nanra lemas. Ia bersandar pada dinding, lalu perlahan turun dan terduduk di lantai dengan wajah murung.


 


 


Daripada rasa jijik ataupun kesal, rasa iri pada lebih dominan pada gadis tersebut. Membuatnya tidak tenang, dipenuhi pikiran negatif, dan mengira Odo sama seperti para bangsawan busuk yang suka bermain dengan kupu-kupu malam.


 


 


Menghela napas sejenak, Nanra melipat kedua kakinya dan meringkuk. Benar-benar dipenuhi kegelisahan, merasa tidak berguna karena pikiran seperti itu terus menguasainya selama beberapa hari terakhir. Tepat sejak Yor’an mulai bekerja dalam satu ruangan dengannya.


 


 


Di tengah suasana hati yang keruh, suara serapah dan makian Arca Rein dari lantai satu terdengar. Meski tidak terlalu keras karena lantai memiliki struktur sihir peredam, namun getaran suara pada permukaan membuat Nanra samar-samar mendengar itu.


 


 


Sekilas senyum melebar, gadis itu merasa bodoh karena memikirkan hal seperti itu dan termenung sendiri. Menarik napas dalam-dalam, ia kembali berdiri dan sejenak meregangkan kedua tangan ke depan. Menggelengkan kepala, lalu berusaha membuang pikiran negatif yang memenuhi pikiran.


 


 


“Tak ada gunanya berpikir seperti itu, lebih baik mandi dulu dan lanjut bekerja! Hmm! Besok akhirnya diriku akan libur di akhir pekan, paling tidak hari ini harus maksimal!”


 


 


Nanra mengepalkan kedua tangan ke depan dengan semangat, fokus pada pekerjaan dan berusaha profesional. Namun di tengah suasana hati yang baru saja dibangun, suara langkah kaki pada anak tangga terdengar.


 


 


Bukan berasal dari lantai satu, melainkan dari lantai tiga. Itu membuat Nanra menoleh ke arah tangga di sisi lain pintu keluar, menatap datar dan bergumam, “Bukannya di atas hanya ada anaknya Mbak Isla? Bayi bisa turun sendiri? Terus …, suara ini ….”


 


 


Tentu saja anak bayi tidak mungkin bisa membuat langkah kaki sejelas itu, apalagi sampai terdengar jelas oleh Nanra. Itu semakin membuat sang gadis mengerutkan kening, lalu melangkah ke arah tangga untuk memeriksa.


 

__ADS_1


 


Namun sebelum sampai, pemilik langkah kaki menampakkan dirinya. Menuruni anak tangga dan sampai pada lantai dua, lalu balik menatap ke arah Nanra dengan sorot mata santai yang khas.


 


 


“Tuan … Odo?”


 


 


Nama tersebut keluar dengan penuh keraguan. Meski secara visual Nanra paham bahwa pemuda itu adalah Odo Luke, namun hawa keberadaan yang berbeda menumbuhkan rasa tidak percaya dalam benak. Kesan orang asing benar-benar lekat pada pemuda rambut hitam itu, seakan-akan memang dirinya adalah orang yang berbeda.


 


 


“Apa semuanya berjalan lancar, Nanra?”


 


 


Bersama dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Odo, seorang perempuan yang mengenakan pakaian khas Kerajaan Ungea melayang keluar dari belakang pemuda tersebut. Merangkul dari belakang, dengan kaki tanpa alas yang tidak menyentuh pada permukaan lantai.


 


 


Nanra hanya bisa terdiam bingung, tidak bisa mencerna apa yang dirinya lihat. Meletakkan tangan kanan ke depan wajah, gadis tersebut merasa sedang berhalusinasi karena bekerja terlalu keras sampai kelelahan.


 


 


“Ini … halusinasi? Atau malah masih bermimpi?”


 


 


Mendengar gumam tersebut, Odo Luke berjalan menghampiri. Sembari mencubit pipi gadis rambut keperakan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Sayang sekali bukan mimpi atau halusinasi. Aku baru sampai di sini, pakai teleportasi Puddle.”


 


 


Merasakan sensasi sakit saat pipi ditarik, Nanra hanya menurunkan tangan dari wajah dan menatap bingung. Tetap tidak percaya, sebab merasa pemuda di hadapannya sangat berbeda dengan Odo yang dirinya kenal.


 


 


“Apa … kamu benar-benar Odo?” tanya Nanra bingung.


 


 


“Ah, begitu rupanya. Aku benar-benar melupakan itu ….” Odo berhenti mencubit pipi gadis tersebut. Sejenak memalingkan wajah ke sudut ruang, ia memasang ekspresi sedikit terkejut bergumam, “Waktu pergi dari Mylta, aku sempat mengubah informasi tubuh supaya tidak bisa dilacak Elulu. Apa itu mempengaruhi hawa keberadaan sampai-sampai aku sulit diidentifikasi oleh persepsi orang lain? Kalau benar, jelas saja waktu di depan perpustakaan Bunda dan Mbak Fiola terlihat heran.”


 


 


“Persepsi? Diidentifikasi?” Nanra semakin bingung, lalu mulai benar-benar mempertanyakan siapa sebenarnya pemuda di hadapannya.


 


 


Merasakan tatapan gadis tersebut yang semakin tajam, Odo melebarkan senyum tipis dan bertepuk tangan satu kali. Dalam sekejap, Aitisal Almaelumat digunakan untuk mengembalikan informasi hawa keberadaan kembali seperti semula.


 


 


Nanra tersentak, seketika kedua matanya terbuka lebar karena tiba-tiba persepsi menangkap pemuda di hadapannya sebagai Odo Luke. “Eh? Eeeh? Kok …, tadi bukannya? Eh? Menjadi … Tuan Odo?” ujar gadis tersebut bingung.


 


 


“Aku jelaskan nanti saja.” Odo menepuk pundak Nanra. Sembari tersenyum santai, ia dengan jelas bertanya, “Arca di mana? Aku mau bicara dengannya dulu⸻”


 


 


Seketika perkataan Odo terhenti, ia terkejut sembari menatap ke arah Laura dan Magda yang tidur bersandar di sudut ruangan. Saking tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat, kedua mata terbuka lebar dan mulut sedikit menganga.


 


 


“Sebentar! Laura memang wajar di sini, tapi bukannya si Magda itu seharusnya masih ditahan? Dia dijadikan kambing hitam kejadian penyerangan monster, bukan? Dia ditangkap dan akan dieksekusi setelah ekspedisi selesai, ‘kan?”


 


 


“Eng? Saya … juga kurang tahu. Tuan Arca bilang butuh orang lagi, jadi dia diskusi dengan pejabat dan membebaskannya untuk dipekerjakan di sini.”


 


 


“Diskusi apanya?” Odo seketika mengerutkan kening dengan kesal. Melipat kedua tangan ke depan, pemuda itu dengan kesal berkata, “Pasti dia malak orang-orang pemerintah! Ah, dia sepertinya sengaja dalam hal ini! Apa dia kesal karena aku menyerahkan semua pekerjaan di tempat ini?”


 


 


“Untuk bagian marah, saya rasa Tuan Odo tepat.”


 


 


“Eng?” Odo sedikit heran dengan ucapan Nanra. Sedikit memiringkan kepala, ia menatap penasaran dan memastikan, “Memangnya kenapa?”


 


 


Nanra menunjuk ke lurus ke lantai, lalu dengan ekspresi datar berkata, “Di bawah.”


 


 


“Di bawah⸻?” Odo seketika terdiam saat mendengar suara maki dan serapah Arca di lantai satu. Menghela napas ringan, ia mulai merasa enggan untuk menemui rekannya tersebut. “Dia benar-benar marah,” ujarnya dengan nada malas.


 


 


“Hmm, Tuan Arca benar-benar marah.” Nanra malah tersenyum melihat itu, merasa bahwa pemuda di hadapannya memang Odo Luke.


 


 


ↈↈↈ


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2