
Aroma lembap tercium segar, embun membasahi permukaan jalan susunan batu dan dinding bangunan.
Lumut basah tumbuh pada sela-sela jalan, tampak licin dan mengkilap dengan warna hijau gelap.
Menyambut pagi baru yang datang, kabut menutupi dengan cepat. Tanpa peringatan sama sekali dan tergesa-gesa, seakan ingin menyembunyikan tempat tersebut dari dunia luar.
Sepi masih sedikit mengisi Kota Pegunungan, hanya ada beberapa penduduk yang sudah mulai melakukan pekerjaan mereka dan pergi keluar untuk mendapat sarapan.
Cerobong asap pada toko roti telah mengepul, beberapa orang pun berkumpul. Membawa adonan dari rumah, lalu memanggangnya di toko tersebut.
Tidak jauh dari tempat itu, tampak juga toko jagung rebus yang sudah diisi penduduk sejak dini hari. Membeli makanan, untuk dijadikan sarapan ataupun bekal selama bekerja.
Berjalan menuruni anak tangga, berangkat menuju tempat kerja untuk mengais nafkah dan menyambung hidup.
Entah itu masyarakat bawah ataupun kalangan atas, mereka dengan setara berjalan melewati jalan dan anak tangga susunan batu. Meski perbedaan jelas diperlihatkan oleh pakaian yang dikenakan orang-orang tersebut, namun langkah kaki di atas permukaan batu adalah satu-satunya hal yang setara.
Tanpa adanya kereta kuda, wagon, atau tandu. Hanya langkah kaki sajalah yang menjadi cara mobilitas yang setara untuk penduduk Rockfield. Tidak saling mendahului meski memiliki perbedaan kasta, lalu membiarkan yang lebih tua berjalan lebih dulu.
Meski Kota Pegunungan benar-benar mengalami dekadensi selama beberapa dekade ke belakang, moral seperti itu sama sekali tidak hilang dari masyarakat. Layaknya pepatah tidak tertulis, bentuk kota sendiri seakan selalu mengingatkan hal tersebut kepada mereka.
“Hormatilah yang lebih tua, maka engkau akan dihormati pula. Hormati yang lain, maka engkau akan selamat.”
Seakan itu merupakan bisikan batin yang meresap ke dalam jiwa penduduk kota, mereka memahami hal tersebut dengan sangat baik. Saling menghormati ⸻ Itulah arti dari banyaknya anak tangga di tempat tersebut.
Jika tidak ada rasa saling hormat, maka setiap berjalan pasti akan ada seseorang dari belakang yang mendorong. Merepresentasikan tindakan tanpa rasa hormat yang membawa celaka.
Melihat kembali betapa rapi dan teratur orang-orang saat menuruni anak tangga, Odo yang berada di antara mereka untuk sesaat memasang senyum tipis. Merasa kedisiplinan tersebut memang sudah tertanam kuat dalam masyarakat.
“Daripada adat yang sering dipakai sebagai alat kepentingan orang-orang, hal seperti inilah yang memang perlu dipertahankan.”
Gumam tersebut terdengar lembut, baik untuk Ri’aima ataupun Baldwin yang berjalan mengikuti pemuda rambut hitam itu. Memiliki kesan berbeda dari sebelumnya, terasa seperti sedang memuji sesuatu yang tidak memiliki bentuk.
Ri’aima mempercepat langkah kaki, berjalan di dekat Odo dan dengan sedikit penasaran bertanya, “Anda sedang bicara apa⸻?”
Sebelum perempuan itu menyelesaikan perkataan, Putra Tunggal Keluarga Luke menarik lengan perempuan itu dan memindahkannya ke sisi lain. Supaya tidak menutupi jalan dan membiarkan yang sedang terburu-buru mendahului mereka.
Odo melepaskan Ri’aima, menoleh ke arah perempuan itu dan dengan nada menggurui berkata, “Jangan di tengah-tengah. Saat berjalan, sudah sewajarnya kita tidak melintang. Kita bukan prajurit yang mau berangkat perang soalnya.”
Mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut Odo, Ri’aima sedikit mengerutkan kening dan dengan nada menggerutu berkata, “Terkadang Anda sangat sensitif dengan hal sepele seperti ini, ya. Kita bangsawan, bukankah sudah sewajarnya merekalah yang memberikan rasa hormat?”
“Yah, memang sih ….” Odo sedikit bingung harus merespons seperti apa. Merasa perkataan perempuan itu ada benarnya, Putra Tunggal Keluarga Luke menghela napas kecil dan berkata, “Jika itu cara pandang Nona, aku tidak akan berkomentar lagi. Terserah Nona saja. Namun, pahamilah bahwa hal-hal kecil itulah yang membuat hidup lebih berarti dan menjadi semakin baik.”
Ri’aima sedikit tertawa kecil, meletakan tangan kanan ke depan mulut dan melirik tipis. Sembari melebarkan senyum, perempuan rambut biru pudar tersebut menggoda, “Anda terdengar seperti orang puritan. Apa itu pengaruh sang Penyihir Cahaya? Atau karena kepribadian Anda sendiri?”
“Karena lingkungan,” jawab Odo dengan datar. Ia menatap ke depan, tidak memperlambat langkah kaki saat menuruni anak tangga dan sekilas tampak muram. Setelah menghela napas panjang, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Di dunia ini, tak ada orang yang tidak dipengaruhi lingkungan. Itu fakta yang menyebalkan sekaligus mengerikan.”
Perkataan dan tatapan pemuda itu membuat Ri’aima penasaran, lalu membuat detak jantungnya semakin kuat. Layaknya perempuan kasmaran yang selalu ingin tahu pria yang diinginkannya, Putri Sulung Keluarga Stein tanpa ragu bertanya, “Memangnya kenapa⸻?”
“Baldwin, apa kau baik-baik saja?” tanya Odo tanpa mendengarkan perempuan yang hendak bicara tersebut. Pemuda rambut hitam itu sedikit melirik ke belakang, lalu dengan nada menekan memastikan, “Aku harap nanti kau tidak membuat masalah dan bisa menahan diri. Kalau ingin bertindak sesuka hati, cobalah tiru Arca Rein. Lakukan itu dengan cerdas dan menangkan kepentinganmu di antara para pejabat dungu itu.”
Baldwin yang berjalan di belakang mereka berdua sedikit terkejut, kedua matanya berbuka lebar dan mulut sedikit menganga. Pemuda yang mengenakan seragam pejabat itu menatap penuh rasa heran, lalu sembari mempercepat langkah kaki ia mempersempit jarak dengan mereka berdua.
“Apa … Anda tidak marah soal saya yang menghajar Wakil Walikota? Menurut Tuan Odo, apa tindakan seperti itu tidak salah?”
Pertanyaan pemuda kurus tersebut sedikit membuat Odo mengerutkan kening. Berhenti melirik, ia sedikit menghela napas dan tanpa ragu menjawab, “Alasan kau memukul sama sekali tidak salah, namun cara yang kau gunakan salah besar. Pahami dirimu, lawanmu, dan ambil tindakan yang sesuai. Jika kau ingin melindungi dan menegakkan kehendak, cobalah bertindak dengan lebih cerdas.”
Meski saran itu diberikan oleh orang yang seharusnya lebih muda darinya, Baldwin sama sekali tidak merasa digurui dan menerima dengan baik. Meski sangat berbeda dengan saran-saran yang sering didapatnya dari Oma Stein, namun Anak Kedua Keluarga Stein tersebut merasa perkataan itu ada benarnya.
Menundukkan kepala dan tersenyum tipis, Baldwin dengan penuh rasa percaya diri membalas, “Baik, Tuan Odo. Saya akan mengingat perkataan Anda baik-baik.”
“Kalau di luar Mansion, panggil saja aku Nigrum!” tegur Odo tegas.
Saat sang adik ditegur, Ri’aima sekilas menoleh ke belakang dan memasang senyum tipis untuk menggoda. Sembari meletakkan jari telunjuk ke depan mulut, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Tuan sedang menyembunyikan identitasnya. Meski sudah ada beberapa yang tahu, namun paling tidak beliau ingin merahasiakan itu sampai waktu yang tepat.
“Be-Begitu, ya ….”
Baldwin sedikit canggung melihat senyum kakaknya. Dalam benak, pemuda kurus itu merasa senang dan juga cemburu pada saat bersamaan. “Dia benar-benar bisa membuat Ayunda tersenyum, tidak seperti diriku,” benaknya muram.
.
.
.
.
.
Setelah sampai di balai kota, ketiga orang tersebut bergerak secara terpisah untuk menghemat waktu. Ri’aima menuju Kantor Pusat Administrasi Rockfield untuk mengantar Baldwin dan menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus diurus oleh adiknya tersebut. Untuk Odo Luke sendiri, pemuda rambut hitam itu bergegas menuju Gereja Utama untuk menemui Rosaria.
Berdiri di pinggir jalan dekat bangunan gereja, Putra Tunggal Keluarga Luke hanya berdiri dan menunggu. Tidak berjalan masuk atau bahkan bertanya pada orang di sana untuk memanggil Rosaria.
Untuk beberapa alasan, Odo memang tidak terlalu suka dengan orang-orang puritan. Terutama mereka yang satu jenis dengan Rosaria. Jongkok bersandar pada pagar depan Gereja Utama, pemuda itu sejenak menatap lurus ke arah balai kota dan mengamati.
Melakukan kalkulasi secara luas, menghitung sample dan populasi untuk dijadikan sebuah statistik yang dibuat di dalam kepala. Membandingkan informasi yang ada dengan apa yang dilihat kemarin, pemuda itu dengan cepat mendapat sebuah kesimpulan.
__ADS_1
“Mungkin rombongan dari Mylta dan kelompok pedagang dari Kekaisaran akan datang di hari yang sama. Kalau Tuan Argo tahu tentang rencana yang aku buat dengan Nona Lisia, apa itu tidak masalah? Namun, mempertimbangkan sifat bangsawan yang selalu membanggakan diri, apa perlu aku tetap menyembunyikannya sampai akhir? Selain itu, rombongan yang ingin ditumpangi Nona An dan yang lain untuk menyebrangi perbatasan …, apa mereka baik-baik saja? Mereka tidak memilih rombongan yang salah, bukan? Semoga mereka tidak dimanfaatkan.”
Bicara sendiri, melakukan tanya-jawab dengan dirinya sendiri, dan memasang mimik wajah muram. Menghampiri pemuda yang dari luar tampak muram tersebut, Rosaria tanpa pikir panjang langsung berjongkok di sebelahnya.
Menatap dengan senyum tipis, lalu mengulurkan tangan ke depan dan mengelus kepala pemuda itu. “Ini tidak terduga. Anda kalau berjongkok terlihat pendek,” ujar Pendeta Wanita itu.
Odo segera menyingkirkan tangan Rosaria, lalu bangun dan langsung memberikan lirikan tajam. Hal tersebut membuat Pendeta Wanita tersebut sesaat gemetar, merasa telah menyinggung pemuda dengan gelar Viscount tersebut.
“Ma-Maaf, saya sedikit terbawa suasana.”
Permintaan maaf tersebut membuat Odo menghela napas sejenak. Paham bahwa kondisi hati Rosaria sedang sangat baik sekarang sampai-sampai terbawa suasana, pemuda rambut hitam tersebut mengulurkan tangan dan berkata, “Tidak apa, Nona tak perlu minta maaf. Saya tidak marah.”
Rosaria meraih tangan tersebut, lalu bangun dan menatap sedikit sayu. Perempuan dengan pakaian biarawati tersebut segera kembali memasang wajah ceria, lalu sembari menjalin jemari di depan dada berkata, “Untuk hari ini, apakah Tuan akan memeriksa para pedagang dari luar kota? Kalau tidak salah, kemarin-kemarin mereka banyak yang datang dan dilaporkan menjadi korban penyerangan para monster selama perjalanan.”
“Hmm, memangnya kenapa?” Apa yang ditanyakan oleh Rosaria sedikit membuat Odo curiga, seakan-akan apa yang baru dilakukan semalam telah diketahui oleh Pendeta Wanita tersebut. Sedikit menyipitkan mata dan menajamkan tatapan, Putra Tunggal Keluarga Luke memastikan, “Apa … Nona Rosaria punya hubungan tertentu dengan Adherents?”
“Saya tidak bisa berkata punya hubungan dengan mereka, namun ….” Rosaria berhenti menjalin jemari. Meletakan telunjuk ke depan mulut, perempuan itu sedikit berpaling dan dengan nada menggoda menjawab, “Anak-anak itu cukup kenal dengan saya. Terutama mereka yang berada di kota ini.”
“Ah, begitu rupanya ….” Odo memahami hal tersebut dengan cepat. Mengingat kembali para Adherents yang masih muda dan kebanyakan adalah anak yatim piatu, Putra Tunggal Keluarga Luke memperkirakan, “Mereka diambil dari Pihak Religi, ya?”
“Benar ….” Rosaria menurunkan telunjuk. Sembari memasang wajah sedikit muram, ia dengan jelas menyampaikan, “Begitu pula saya dulu.”
Kedua mata Odo sedikit terbuka lebar. Meski tahu bahwa proporsi tubuh dan cara berjalan Rosaria tidak seperti orang biasa, namun Putra Tunggal Keluarga Luke tidak bisa memperkirakan hal tersebut. Bahwa dulunya Pendeta Wanita tersebut adalah mantan Adherents.
“Nona juga?”
“Itu benar, saya juga.” Rosaria memasang senyum tipis, penuh kesedihan seakan ingin memberitahu Odo tentang masa lalu yang ditanggungnya. Tidak mengutarakan hal tersebut langsung dari mulut, perempuan bermata biru terang tersebut hanya berkata, “Saya harap mereka bisa menyelesaikan tugas dan berhenti dari Adherents sesegera mungkin.”
Mendengar hal tersebut, Odo sedikit merasa iba dan sedikit mendapat gambaran lebih jelas tentang para Adherents. Ingin memastikan lebih lanjut, pemuda itu kembali memastikan, “Apa itu memang cara kerja di Pihak Religi? Atau hanya ketentuan khusus untuk beberapa anak yatim?”
“Hal tersebut adalah regulasi Yang Mulia, lalu disetujui langsung oleh Archbishop. Setiap beberapa tahun sekali, anak-anak yatim piatu akan diseleksi dan dipilih untuk dijadikan Adherent sampai usia tertentu.” Memasang senyum kecut dan mengangguk satu kali, Rosaria mengacungkan telunjuk ke depan dan kembali menyampaikan, “Bagi anak yatim piatu, untuk bisa menjadi seorang pendeta kami perlu mendapatkan pendidikan tinggi. Atas dana yang diberikan oleh Yang Mulia, regulasi terebut dibuat dan menjadi rahasia dalam Pihak Religi. Terutama mereka yang berada di Ibukota.”
“Apa Siska juga seperti itu?”
“Beliau tidak tahu hal semacam itu ….” Rosaria menggelengkan kepala, memasang mimik wajah lega dan dengan nada lembut menjawab, “Nona Inkara lahir dari Pendeta yang sudah dari dulu bertugas di Kota Mylta, karena itu beliau tidak perlu melakukan hal tersebut untuk mendapatkan pendidikan. Saya … juga berharap anak-anak itu juga tidak perlu melakukannya.”
Dari perkataan tersebut, Odo memahami hubungan yang ada di antara Rosaria dan para Adherents lain di Kota Pegunungan. Senior dan yunior, kurang lebih itulah yang dirasakan Putra Tunggal Keluarga Luke dari mereka.
Ingin mengganti topik dan menghentikan cerita masa lalu yang suram, pemuda rambut hitam tersebut bertepuk tangan satu kali. Membuat suara tersebar sampai ke balai kota. Pada saat bersamaan, semua orang yang mendengar suara tersebut pun terhenti. Seakan-akan waktu untuk sesaat dihentikan oleh Odo.
“Tuan Odo ….” Rosaria perlahan menoleh ke arah pemuda rambut hitam tersebut, menatap sedikit pucat dan memastikan, “Apa itu sihir? Atau … sebuah berkah? Kemarin waktu di depan kantor pemerintahan, Anda bahkan bisa memanggil Kepala Prajurit tanpa berteriak. Apa itu berkah⸻?”
“Ini hanya sihir,” potong Odo seraya memasang senyum tipis. Meletakkan telunjuk ke depan mulut, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Sihir resonansi suara yang bisa mempengaruhi kesadaran seseorang. Singkatnya, semacam trik kecil untuk mengganggu persepsi orang lain dalam waktu singkat.”
Penjelasan tersebut tidak bisa dipahami Rosaria. Meski memiliki pengetahuan tentang sihir, Pendeta Wanita itu tidak pernah mendengar ada sihir suara yang bisa digunakan untuk mengganggu persepsi orang lain. Apalagi dalam jangkauan luas seperti sebelumnya.
Rosaria mulut terbuka, ingin bertanya dan menghilangkan kegelisahan dalam benak. Namun sebelum bisa melakukan itu, dari arah balai kota seseorang memanggil, “Tuanku! Ternyata benar itu Anda!”
Rosaria segera menoleh ke sumber suara, menatap heran karena yang datang bukan orang yang dirinya duga. Sembari menurunkan kedua alis, perempuan itu pun bergumam, “Bukannya kita sedang menunggu Nona Ri’aima? Lantas kenapa ….”
Ferytan Loi dan Lily’ami, merekalah yang berjalan menghampiri dari arah balai kota. Berpenampilan urakan, mengenakan pakaian kotor, dan benar-benar mencerminkan bahwa diri mereka adalah gelandangan. Seakan tanpa malu dan tidak kenal tempat, pria tua dan anak perempuan tersebut menghadap Odo Luke.
Putra Tunggal Keluarga Luke itu menatap mereka dengan sedikit rendah, merasa terganggu dengan penampilan mereka yang sama sekali tidak berubah dari kemarin. Mengerutkan kening dan menajamkan tatapan, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Kalian belum belanja pakaian yang layak? Seharusnya tadi malam aku sudah memberi kalian cukup dana, bukan?”
“Semalam saya hanya sempat menukar kristal dan mencari penginapan.” Ferytan memalingkan pandangan dengan sedikit rasa menyesal. Melirik bingung ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke, pria tua tersebut balik bertanya, “Terlebih lagi, kenapa sekarang Tuan di balai kota? Bukan seharusnya kita berkumpul di sini saat siang nanti?’
“Eng ….” Odo meletakkan tangan ke dagu, memalingkan pandangan dan dengan nada kurang yakin berkata, “Perubahan rencana?”
“Kenapa malah balik bertanya?” Ferytan mengerutkan kening mendengar perkataan aneh tersebut. Sekilas melirik ke arah Rosaria, pria tua itu sedikit tersentak karena baru sadar bahwa Pendeta Wanita itu adalah Kepala Biarawati dan Biarawan Gereja Utama. Dalam panik ia pun mendekat ke Odo, lalu dengan cemas berbisik, “Kenapa orang puritan sepertinya bersama Tuan? Jangan bilang Tuan juga melibatkannya?”
“Hmm ….” Putra Tunggal Keluarga Luke hanya mengangguk sebagai jawaban. Tanpa memedulikan rasa cemas pria tua tersebut, ia melihat ke arah Lily’ami yang sedari tadi hanya diam. Berjalan dan jongkok di depan anak perempuan itu, Odo Luke mengelus kepalanya sembari bertanya, “Adik kecil, apa kau ingin beli pakaian baru?”
“Pakaian?” Anak yang terlihat penurut tersebut sedikit memiringkan kepala, menatap bingung dan balik bertanya, “Apa boleh saya membeli pakaian? Kata mendiang Ibu saya, pakaian yang saya kenakan ini sudah lebih dari cukup. Kalau kakak ingin membelikan pakaian, lebih baik untuk Paman saja.”
“Tidak masalah, kakak juga akan membelikan pakaian untuk Paman Ferytan.” Odo berhenti mengelus kepala anak itu. Menatap sedih dan seakan melihat cerminan seseorang pada anak kecil tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan senyum tipis menyampaikan, “Nanti pilih saja pakaian yang kau inginkan, jangan pikirkan soal harga atau kepantasan. Pilih saja yang kau ingin.”
“Hmm, ba-baiklah ….”
Mendengar jawaban tersebut, Odo kembali mengelus kepala gadis tersebut dan berdiri. Segera menoleh ke arah Pendeta Wanita, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Kalau tidak salah, agenda hari ini kalian akan melobi ke tempat Wakil Walikota, bukan? Bicara tentang memberitahu rencana kita dalam mengembalikan pengaruh Keluarga Stein.”
“Itu benar ….” Rosaria sesaat menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat. Kembali berdiri tegak, perempuan bermata biru tersebut menyampaikan, “Dalam rencana yang Tuan bahas kemarin, Anda menyampaikan bahwa mengajak Wakil Walikota adalah langkah alternatif jika Keluarga Quidra menolak untuk bekerja sama. Namun setelah mereka setuju, apa perlu kita melobi Tuan Fritz juga?”
“Perlu,” Odo menjawab dengan singkat. Meletakan tangan ke dagu dan sekilas menatap ke arah Ferytan, Pemuda rambut hitam tersebut memikirkan beberapa metode untuk menjalankan banyak proses sekaligus. Kembali menatap ke arah Rosaria, Putra Tunggal Keluarga Luke menunjuk dan berkata, “Untuk hari ini, selesaikan dulu hal tersebut dan pastikan berhasil. Aku ingin membuat jaminan kecil. Lalu ….”
“Lalu?” Rosaria memiringkan kepala dengan bingung.
__ADS_1
Sembari meletakan tangan ke atas kepala anak kecil di sebelahnya, Odo memasang senyum dan memerintah, “Ajak Lily’ami ke toko pakaian, belikan dia baju yang sekiranya pantas. Kalau bisa, mandikan dia juga.”
Apa yang diucapkan Odo sedikit membuat Rosaria bingung. Namun saat Pendeta Wanita melihat ke arah Lily’ami, ia paham bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke hanya ingin menolong mereka dan memberikan sebuah batuan yang pantas.
Layaknya orang puritan yang taat dengan ajaran kepercayaan Kerajaan Felixia, hati Rosaria tersentuh setelah mengambil kesimpulan tersebut. Ia tambah mengagumi Odo, lalu sembari tersenyum senang menjawab, “Tentu saja, Tuan! Dengan senang hati saya akan melakukannya.”
“Oh, iya ….” Odo mengingat sesuatu. Sembari memalingkan pandangan dan memasang mimik wajah serius, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Kalau bisa, jangan sampai Lily’ami bertemu dengan Ri’aima⸻”
Perkataan pemuda itu terhenti saat melihat Ri’aima berjalan keluar dari kantor pemerintahan. Perempuan rambut biru pudar tersebut segera berjalan menuju ke tempat mereka dengan wajah ceria, lalu sembari melambaikan tangan berkata, “Apa kalian sudah menunggu? Eng, kenapa ada mereka⸻?”
Ri’aima dengan cepat memberikan tatapan tidak suka saat sampai. Berhenti melambai, lalu memperlihatkan rasa jengkel yang kental kepada gelandangan di dekat Odo Luke.
Memegang pedang seakan bersiap ingin menariknya keluar, perempuan rambut biru pudar tersebut menatap sinis kepada Lily’ami dan Ferytan. Seakan-akan ingin menegaskan status sosial yang ada.
“Ah, sudah aku duga akan bereaksi seperti itu ….” Berpikir untuk mengurangi permasalahan yang mungkin bisa muncul, Putra Tunggal Keluarga Luke menghadap perempuan rambut biru pudar tersebut dan menjelaskan, “Anak kecil ini namanya Lily’ami, dia anak pedagang dari Kekaisaran yang menjadi korban penyerangan monster selama perjalanan mereka. Lalu, pria tua itu, dia adalah pengawal pedagang sekaligus paman dari anak perempuan ini. Kau tak perlu menatap mereka seperti itu, Nona Ri’aima.”
Itu adalah kebohongan yang mulus, itulah yang dirasakan Rosaria dan Ferytan saat mendengarkan dusta tersebut. Sangat teratur, mencampurkan sedikit kebenaran dan membuatnya terasa sangat masuk akal mengingat kondisi yang ada sekarang.
Namun, hal tersebut tetap saja membuat Ri’aima curiga. Memberikan tatapan datar dan gelap, lalu memasang wajah sedikit geram. Dengan nada ketus perempuan itu pun berkata, “Kalau memang begitu, kenapa mereka bersama Tuan? Apa … Anda ingin membantu mereka? Meski tahu sedang sibuk sekarang?”
“Hmm, aku ingin membantu mereka.”
“Huuuuh ….” Ri’aima menghela napas panjang, lalu dengan lesu mengeluh, “Padahal saya sudah susah-susah menyerahkan pekerjaan kepada Baldwin, namun Anda malah seenaknya melakukan hal seperti ini.”
“Eng? Apanya yang susah? Hanya menyerahkan pekerjaan, ‘kan?”
“Namanya susah, ya susah!”
“Uwah, terserah sajalah ….” Odo memasang mimik wajah datar saat melihat sifat kekanak-kanakan tersebut, merasa ada baut yang telah lepas dari kepala perempuan itu. Sejenak memejamkan mata dan menghela napas ringan, pemuda rambut hitam tersebut tanpa pikir panjang menyampaikan, “Untuk agenda yang harus Nona lakukan hari ini, semuanya sudah saya sampaikan ke Nona Rosaria. Kau bisa bertanya padanya nanti.”
“Tunggu sebentar!” Ri’aima dengan cepat terlihat kecewa, lalu sembari menatap cemas memastikan, “Berarti Anda tidak akan pergi bersama kami?”
“Aku ada perlu dengan pengawal ini,” ujar Odo seraya menunjuk ke arah Ferytan.
Saat ditatap oleh Ri’aima, pria tua tersebut mengacungkan jempol dengan niat untuk bersikap ramah. Namun, tentu saja Putri Sulung Keluarga Stein memberikan respons sinis dan langsung memalingkan pandangan.
“Baiklah, saya tidak akan berkomentar lagi.”
“Terima kasih ….” Odo mengangguk sekali. Berbalik ke arah Lily’ami, pemuda rambut hitam itu dengan enteng mengangkat anak perempuan itu dan berjalan menuju Rosaria. Sembari menyerahkan layaknya sedang memberi sebuah hadiah boneka beruang, Putra Tunggal Keluarga Luke berpesan, “Aku titipkan anak ini, Nona Rosaria. Tolong jaga baik-baik ….”
Saat Rosaria menerima dan membopong anak kecil tersebut, ia sempat terkejut karena berat badan Lily’ami. Untuk sesaat, ia bahkan hampir menjatuhkannya. Pendeta Wanita memberikan tatapan sedikit heran, dalam benak bertanya-tanya kenapa Odo bisa dengan mudahnya mengangkat anak perempuan tersebut.
“Te-Tentu saja, Tuan. Anda tidak perlu khawatir,” jawab Rosaria seraya menurunkan Lily’ami tersebut ke bawah. Sedikit memegang pinggang yang sedikit nyeri, perempuan bermata biru tersebut bertanya, “Setelah ini Anda ingin ke mana? Apa Anda ingin pergi ke tempat para pedagang yang datang dari luar?”
“Hmm, kurang lebih …. Kalau begitu, aku pergi dulu.” Odo berbalik, lalu melangkahkan kaki dan mengajak, “Ayo, Ferytan! Kita selesaikan urusan kita!”
Meski diajak oleh orang yang telah mempekerjakannya, pria tua tersebut tidak bergerak dari tempat dan menatap cemas ke arah Lily’ami. Merasa tidak tenang meninggalkan anak kecil tersebut bersama orang asing.
“Tenang saja.” Langkah kaki Odo terhenti, kembali menoleh ke arah pria tua itu dan menyampaikan, “Nona Rosaria dan Nona Ri’aima orang baik-baik, aku jamin Lily’ami aman bersama mereka.”
“Kalau memang Tuanku bilang seperti itu, baiklah ….” Meski rasa cemas masih mengisi benak, Ferytan berusaha untuk percaya dan perlahan melangkah pergi. Sembari melempar senyum kepada Lily’ami, pria tua tersebut berpesan, “Sampai jumpa, Ami. Jangan rewel, ya.”
“Hmm ….” Anak perempuan itu hanya mengangguk, memperlihatkan mimik wajah ceria yang diisi oleh ketegaran.
“Ami⸻”
“Sudah, ayo!”
Odo langsung menarik pakaian pria tua tersebut, memaksanya berjalan dan pergi menuju Distrik Perekonomian dan Pertambangan. Meninggalkan Lily’ami bersama dua orang asing yang baru pertama kali anak tersebut temui hari ini.
Setelah Odo dan pria tua tersebut pergi, Ri’aima seketika memperlihatkan mimik wajah curiga. Ia melirik dingin ke arah anak kecil yang dititipkan, lalu dalam benak merasa ada sebuah kejanggalan dalam cerita yang disampaikan sebelumnya.
“Tuanku, begitu kata gelandangan tadi …. Kenapa Paman kamu memanggil Tuan Odo dengan cara seperti itu?”
Tatapan dan pertanyaan tersebut membuat Lily’ami gemetar. Merasa kenyamanan dari Rosaria, anak kecil tersebut langsung bersembunyi di balik Pendeta Wanita itu seakan meminta perlindungan.
“Nona Ri’aima, sifat Anda …. Jelas saja Tuan Odo tadi sempat ingin berkata anak ini tidak boleh bertemu Anda.” Rosaria mengelus kepala anak yang bersembunyi di belakangnya. Menatap datar Putri Sulung Keluarga Stein, sang Pendeta Wanita menyampaikan, “Nona Ri’aima, tolong tenanglah sedikit. Kali ini kita harus berpikir bersama dan mengerjakan tugas dengan benar. Anda tidak boleh terbawa suasana dengan mudah, cobalah berpikir dingin. Apa Anda ingin gagal lagi setelah diberi tugas dua kali oleh Tuan Odo?”
Apa yang dikatakan Pendeta Wanita itu membuat Ri’aima tersentak, berhenti menatap sang anak kecil dan menundukkan kepala. Mendengar Rosaria membawa-bawa nama Putra Tunggal Keluarga Luke, perempuan rambut biru pudar itu hanya bisa merasa resah dan tidak berguna.
“Baiklah, saya akan mencobanya ….” Melirik ke arah lawan bicara, Ri’aima dengan sedikit menyesal bertanya, “Untuk agenda hari ini, apa yang perlu kita lakukan? Melobi lagi?”
“Hmm, tepat.” Rosaria menjalin jemari ke depan dada seperti sedang berdoa, lalu memasang senyum hangat dan menambahkan, “Namun, untuk sekarang kita akan merapikan Lily’ami dulu dan membelikannya pakaian baru. Apa Nona tahu tempat pakaian yang bagus?”
ↈↈↈ
\==============
Catatan Kecil :
Fakta 032: Ciri-ciri Korwa adalah rambut dan mata violet (ungu). Untuk Canna, dia pengecualian karena warna rambutnya berubah namun untuk mata tetap Violet.
__ADS_1