
Terkadang bagi beberapa orang, sebuah pekerjaan bisa menggantikan segalanya. Memberikan sebuah arti, kepuasan, dan visi terhadap kehidupan itu sendiri. Saat seseorang sangat menikmati sesuatu dan tenggelam dalam hal itu, ada kalanya orang tersebut sampai lupa untuk makan, minum, atau bahkan istirahat.
Orang-orang seperti itu akan merasa dan berpikir, bahwa hanya hal tersebut sajalah yang diperlukan mereka dalam kehidupan.
Saat menjalani hal yang disukai, seseorang bahkan akan melakukannya meski paham tidak bisa mendapat penghasilan yang layak dari hal tersebut. Musisi di masa lampau terus membuat karya meski tahu tidak terlalu mendapatkan banyak uang, para pelukis tak pernah lelah memoles kanvas meski paham terkadang karyanya dicela.
Dalam pekerjaan, mereka merasakan sebuah kepuasan tersendiri dan mendapatkan ketenangan jiwa. Memang setiap orang memiliki gambaran yang berbeda-beda dalam definisi kepuasan. Namun, memang itu adalah fakta bahwa sebagian orang bisa tenggelam dalam kepuasan dari dedikasi pekerjaannya.
Fritz Irtaz adalah salah satunya. Orang yang tenggelam dalam pekerjaan dan bahkan menjadi tak acuh terhadap kehidupannya sendiri.
Kepala Keluarga Pejabat Lama Irtaz, Fritz. Seorang pria berusia senja yang sekarang ini menjabat sebagai Wakil Walikota Rockfield.
Meski telah lama menduduki posisi penting di Kota Pegunungan, pria tua tersebut bukanlah bangsawan atau memiliki gelar kehormatan tertentu. Bahkan, gelar Knight tidak pernah bisa dilimpahkan kepada keluarganya karena beberapa alasan.
Irtaz sendiri adalah salah satu keluarga konglomerat yang pertama kali memberikan bantuan kepada Oma Stein, terutama saat pengambilalihan wewenang kota saat masa transisi kekuasaan terjadi. Tidak hanya memberikan personel dalam pembantaian yang berlangsung sekitar tiga dekade lalu, ia juga bersekongkol untuk mengelabui Pemerintah Pusat Kerajaan Felixia dalam proses penyerahan kekuasaan.
Fritz sebenarnya bukan pewaris asli dari Keluarga Irtaz. Namun dalam konspirasi yang dibuatnya bersama Oma Stein, ia membunuh seluruh ahli waris lain dan mengambil alih keluarga tersebut. Mengangkat dirinya sendiri sebagai Kepala Keluarga dan mewarisi semua kekayaan yang ditinggalkan sang ayah, lalu diberikan jabatan Wakil Walikota oleh Oma Stein setelah berhasil mengambil alih Rockfield.
Memiliki loyalitas tinggi, itulah kesan para pejabat di Kota Pegunungan terhadap Wakil Walikota tersebut. Sangat menghormati Oma Stein, selalu berada di pihak sang Baron dan menyingkirkan setiap musuh yang bisa membahayakan kekuasaan mereka.
Namun, karena sifat loyal yang sangat tinggi tersebut, Fritz Irtaz memiliki kehidupan keluarga yang buruk. Terlalu sibuk bekerja, tidak memedulikan diri sendiri, atau bahkan anak serta istri. Dalam usia yang sudah tidak muda, sang istri meninggal karena penyakit yang diderita sejak muda. Meninggalkannya sebagai seorang duda.
Bahkan, satu-satunya putra yang dimiliki Fritz lebih memilih pergi keluar kota untuk menjadi pedagang. Karena tidak pernah dipandang dan merasa tidak dibutuhkan dalam keluarga. Meninggalkan Fritz sendirian di Kediaman Keluarga Irtaz.
Di usianya yang sudah senja, pria tua tersebut hanya ditemani para pelayan yang bekerja di Mansion miliknya. Tanpa ada anak atau cucu yang mau menemani, ia pun semakin tenggelam dalam pekerjaan dan benar-benar berubah menjadi orang berkepala batu.
Tetapi seakan memang semua itu tidak berarti, apa yang Fritz Irtaz pikirkan hanyalah pekerjaan dan pekerjaan. Setia kepada Keluarga Stein, membantu pekerjaan sang Walikota dan memeras pikiran untuk kebaikan Kota Pegunungan. Dari awal, dalam hati pria itu memang tidak ada tempa untuk keluarganya.
Setelah jatuh sakit karena sebuah insiden, Fritz bahkan masih melaksanakan pekerjaan dari tempat tidur. Memeriksa dokumen-dokumen dengan teliti, membuat laporan, lalu memberikan keputusan atas kebijakan yang ada.
Pria tua dengan kulit keriput, rambut sepenuhnya sudah menguban dan duduk ditemani tumpukan dokumen, itulah bagaimana Fritz Irtaz terlihat. Kulitnya pucat dan sudah sangat mengeriput, lalu tubuh pun kurus sampai terlihat seperti hanya tulang saja yang tersisa.
Duduk bersandar di atas tempat tidur, mengenakan kacamata dan memangku sebuah papan dengan perkamen di atasnya. Ditemani makan siang yang bahkan belum disentuh, Fritz masih sibuk dengan pekerjaannya meski hari sudah semakin sore. Tampak tidak peduli dengan kondisi tubuh layaknya orang kecanduan.
Sendirian di kamar pribadi, hanya ditemani pekerjaan dan hembusan angin yang sesekali masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Meski seharusnya Fritz sudah cukup tua untuk pensiun, tatapan penuh semangat atas pekerjaan masih tampak jelas pada orang yang sedang sakit tersebut.
Berbeda dengan para pejabat yang tinggal di kompleks khusus untuk kalangan atas dalam lingkup Kediaman Walikota, Mansion Keluarga Irtaz berdiri di dekat barak. Tidak terlalu jauh dari gerbang utama Kota Pegunungan, bahkan hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari lapangan untuk latihan para prajurit dan penjaga.
Sebab itulah, dari kamar Fritz yang berada di lantai dua Mansion, suara-suara ramai para prajurit dan penjaga di barak bisa sampai ke tempatnya. Sedikit membuat pria tua itu tampak tenang, sebab salah satu kantor yang ia cintai masih bisa beroperasi meski tanpa kehadirannya.
Memeriksa salah satu dokumen yang berasal dari Kantor Pusat Administrasi, untuk sesaat pria tua tersebut terkejut. Memasang mimik wajah dingin dan tatapan seperti orang mati, ia sejenak menarik napas dengan resah.
__ADS_1
“Jonatan Quilta ….” Nama tersebut keluar dari mulut dengan lemas. Sejenak memejamkan mata dan mengingat kembali beberapa hal, dengan nada sedikit kesal Fritz bergumam, “Kalau saja anak Tuan Oma itu tidak membuat diriku berada di sini, orang tersebut pasti sudah tidak lagi menjabat di posisi Kepala Prajurit. Memangnya siapa yang peduli jika itu perintah Raja, ini adalah Kota milikku dan Tuan Oma! Berhak apa mereka⸻!”
Di tengah gumam tersebut, tiba-tiba pintu kamar diketuk dan pelayan dari luar menyampaikan, “Permisi, Tuan Fritz. Saya mohon maaf telah mengganggu waktu berharga Anda. Namun, di luar ada tamu yang ingin menemui Tuan.”
Fritz menurunkan papan berisi perkamen ke atas tempat tidur. Mengambil tongkat kayu dan menurunkan kaki dari tempat tidur, pria tua itu dengan ketus bertanya, “Siapa yang datang? Apa orang dari pejabat baru? Utusan si Jonatan? Atau gadis dari Kelurga Trytalin itu lagi?”
Untuk sesaat pelayan di balik pintu tidak menjawab, hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Sedikit merasa aneh, Fritz bangun dari tempat tidur. Ia merapikan kacamata, lalu berjalan ke arah pintu dengan dibantu tongkat.
“Apa kamu tuli?” tanya pria tua tersebut sembari membuka pintu. Meski tampak sangat rapuh dan lemah, karisma dan wibawa yang dipancarkan oleh Kepala Keluarga Irtaz sangatlah kuat. Ia dengan tatapan datar melihat ke arah pelayan yang berlutut di hadapan, lalu sekali lagi bertanya, “Siapa yang datang?”
“Mereka … adalah Nona Ri’aima dan Nona Rosaria. Mereka hanya menyampaikan ingin berbicara dengan Anda tentang hal penting.”
Kombinasi tamu tersebut sedikit membuat Kepala Keluarga Irtaz terkejut. Ia memang sudah memperkirakan bahwa dalam waktu dekat Putri Sulung Keluarga Stein akan datang bertamu, untuk meminta maaf atas pebuatan Baldwin ataupun membahas permasalahan kota. Namun mendengar Putri Sulung Keluarga Stein datang bersama Kepala Biarawati dan Biarawan dari Pihak Religi, itu cukup untuk membuat pria tua itu bingung.
“Kenapa perempuan itu juga datang? Apa terjadi sesuatu selama diriku tidak sadarkan diri?” benak pria tua tersebut.
Fritz meletakan tangan ke dagu, sedikit memainkan janggut dan memalingkan pandangan dengan resah. Memperkirakan beberapa hal, pria tua itu sedikit mengaitkan hal tersebut dengan beberapa perkamen yang baru saja dirinya baca.
“Apa ini ada kaitannya dengan usulan Jonatan? Terutama tentang pengembalian gelar Knight Keluarga Quidra? Ingin menyerap keluarga bangsawan tersebut ke keluargaku, supaya bisa diolah bersama dan menjalankan fungsi yang sudah ada sebelumnya. Dalam rangka untuk mengembalikan kualitas militer kota.”
Mendengar sang Tuan hanya bergumam sendiri, pelayan perlahan mengangkat wajah dan dengan cemas bertanya, “Apa perlu saya tolak kedatangan mereka, Tuanku?”
“Siap, Tuanku. Saya akan segera menyampaikannya.”
.
.
.
.
Di depan Kediaman Irtaz, Ri’aima dan dua orang lainnya menunggu untuk diberikan izin menemui sang Kepala Keluarga. Berdiri di depan gerbang masuk, sesekali menjadi perhatian orang-orang dari barak yang lewat di jalan utama.
Udara semakin dingin, awan mendung mulai menutupi langit, dan kabut pun semakin tebal. Pada sore yang dengan pasti bergerak ke senja, mereka hanya bisa menunggu dalam rasa gelisah karena takut akan berakhir seperti tugas sebelumnya. Berakhir gagal tanpa bisa berbicara dengan orang yang dituju.
Pada hari yang sudah semakin gelap karena mendung dan lampu-lampu kristal menyala penuh, lalu lalang prajurit dan penjaga terlihat kian bertambah padat di jalan utama depan Mansion. Pergantian shift kerja membuat keramaian semakin jelas, antara penjaga yang baru saja akan bekerja di jam malam dan yang akan pulang setelah bekerja seharian.
Mereka berbondong-bondong menuju lapangan barak, untuk melakukan apel terlebih dahulu sebelum mulai bertugas ke pos jaga masing-masing pada beberapa titik kota.
Selama menunggu jawaban dari sang Kepala Keluarga Irtaz, Ri’aima sendiri beberapa saat lalu sempat berpapasan dengan beberapa pejabat dari barak dan orang-orang penting di ranah pemerintahan kota. Salah satunya adalah Ruina, Putri Kedua Keluarga Trytalin dan sekarang menjabat sebagai Penasihat sekaligus Wakil Kepala Prajurit di Rockfield.
Ruina sendiri merupakan perempuan yang lebih tua beberapa tahun dari Ri’aima. Berasal dari Keluarga Trytalin, Bangsawan Knight dari Ibukota Kerajaan Felixia. Perempuan tersebut memiliki rambut pirang ikal panjang sebahu, mata hijau zamrud, dan terkenal dengan kemampuan sihirnya dalam atribut air.
Meski Ruina tidak memiliki gelar bangsawan atau bahkan terpilih menjadi calon pewaris keluarganya, ia cukup terkenal di kalangan pejabat bahkan sejak masih berada di Ibukota. Putri dari Keluarga Trytalin tersebut memiliki pola pikir yang terkesan unik, lidah tajam, dan cara bertindak yang tidak kenal rasa ragu dalam menegakkan apa yang dirinya percayai.
__ADS_1
Selain itu, karena pernah dibesarkan di gereja sebagai Diakones, ia juga cukup kenal dengan beberapa orang penting di Pihak Religi.
Jika bandingkan dengan Ri’aima, Putri dari Keluarga Trytalin tersebut memiliki watak yang cukup mirip dalam segi cara pandang. Namun, dalam penerapan dan tindakan yang dilakukan untuk mencapai kepentingan pribadi masing-masing, Ruina memiliki kelebihan yang signifikan. Terutama dalam hal menahan emosi dan memilih kalimat.
Mengingat kembali sapaan sinis Ruina saat lewat beberapa menit lalu, Ri’aima seketika mengerutkan kening dengan kesal. Merasa sangat terhina atas apa yang telah dikatakan oleh perempuan yang tergabung dalam kubu pejabat baru tersebut.
“Orang temperamental tidak pantas memimpin, mereka hanya bisa jadi pesuruh. Karena itulah, menyerah lah dan diam saja di rumah ….”
Mengatakan kembali kalimat yang disampaikan Ruina dengan mulutnya sendiri, Ri’aima meletakan tangan kanan ke dada dan mulai mengertakkan gigi dalam rasa kesal. Menghela napas dalam-dalam, ia sejenak diri dan bergumam, “Ini sangat menyebalkan. Sekarang saya tahu mengapa Baldwin waktu itu memukul Tuan Irtaz. Saat saudara dihina, hal tersebut memang rasanya tidak menyenangkan.”
Mendengar gumam dari Putri Sulung Keluarga Stein, Rosaria sedikit mencemaskan. Sembari menggandeng Lily’ami di sebelah, Pendeta Wanita itu memastikan, “Apa Anda masih tersinggung karena perkataan Nona Ruina tadi?”
“Tentu saja masih.” Sembari memasang wajah cemberut, Ri’aima menatap datar ke arah Pendeta Wanita dan balik bertanya, “Memangnya siapa yang tidak tersinggung saat saudaranya disindir?”
Rosaria memang tidak memiliki saudara. Namun, ia paham perasaan tersebut karena pernah memiliki beberapa orang yang bisa disebut kakak dan adik. Sedikit memasang mimik wajah muram, Pendeta Wanita memalingkan pandangan dengan berat.
“Saya setuju dengan argumen tersebut. Namun, tetap saja Nona Ri’aima harus tetap tenang. Kita akan melakukan pembicaraan penting, tak sepatutnya Anda terganggu hanya karena perkataan orang lewat.”
Ri’aima merasa sependapat dengan perkataan tersebut. Berusaha untuk tidak memikirkan sindiran yang dilontarkan oleh orang yang hanya lewat, perempuan rambut biru pudar tersebut kembali menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Menatap kukuh sang Pendeta Wanita dan memperlihatkan ekspresi dingin, Putri Sulung Keluarga Stein tegas bertanya, “Saya akan memastikan kembali. Tujuan kita kemari hanya untuk menyampaikan rencana dan mengajak kerja sama Tuan Irtaz, ‘kan? Jika beliau tidak mengizinkan masuk, kita boleh mengungkap identitas Tuan Odo dan bahkan menyampaikan permukaan rencana yang sedang dijalan⸻!”
Di tengah perkataan Ri’aima, gerbang utama Kediaman Keluarga Irtaz terbuka. Pelayan yang berdiri di sana tampak berbeda, bukan perempuan yang sebelumnya pertama kali menyambut mereka saat datang.
Dengan penuh rasa hormat dan anggun, ia berjalan menghampiri mereka. Perlahan membungkukkan tubuh dan sedikit mengangkat gaun dengan kedua tangan, sang pelayan menyampaikan, “Tuan Irtaz telah memberikan izin untuk bertemu. Jika berkenan, saya akan mengantar Anda sekalian ke ruang tamu untuk menunggu.”
“Tentu saja ….” Ri’aima langsung menghadap pelayan tersebut, menatap dengan sorot mata tenang dan kembali berkata, “Antarkan kami masuk ke dalam.”
“Kalau begitu, izinkan saya mengantar Anda sekalian. Mari masuk, Nona Ri’aima, Nona Rosaria ….”
Pelayan itu kembali berdiri tegak dan segera berbalik, lalu berjalan paling depan sebagai seorang pemandu. Tetapi saat baru mengambil satu langkah, ia sekilas melirik untuk memastikan ekspresi para tamu yang dirinya ajak masuk ke kediaman.
Rosaria dan Ri’aima memasang wajah lega, benar-benar lengah saat tahu bahwa mereka bisa bertemu dengan Kepala Keluarga Irtaz. Berbeda dengan tugas pertama yang diberikan oleh Odo sebelumnya, kali ini mereka berdua memiliki kesempatan untuk sampai ke meja pembicaraan dan melakukan lobi dengan orang yang dituju.
Seakan memahami rasa lega mereka, sang pelayan yang mengantar sekilas memasang senyum tipis. Layaknya telah menyiapkan sesuatu setelah mengajak para tamu tersebut masuk ke dalam Mansion.
ↈↈↈ
Fakta 035 *Di luar cerita:
Untuk penjelasan tingkat dimensi, secara sederhana seperti berikut :
Dimensi satu adalah garis, karena memiliki panjang.
Dimensi dua, bujur sangkar, bertambah unsur lebar.
Dimensi tiga memiliki volume (panjang, lebar, tinggi)
Dimensi empat sudah memiliki waktu, seperti kita semua. Namun, kita sebenarnya tidak bisa memahami bentuk asli dimensi keempat. Mengapa? Karena kita berada di dimensi keempat itu sendiri.
Untuk kita sebagai makhluk dimensi dimensi empat, apa yang bisa dilihat dari dimensi empat adalah proyeksi. Karena itu, apa yang bisa kita lihat atau observasi dengan baik oleh makhluk dimensi empat hanyalah sesuatu dari dimensi tiga ke bawah.
__ADS_1