
Pertanyaan dari Lisia di sebelahnya membuat Argo melirik tajam, tampak sedikit marah dan dengan tegas berkata, “Bicara apa kamu, Putriku? Dari yang kamu jelaskan sebelumnya kepada Ayahmu ini, bukankah yang tersisa hanya masalah keamanan Kota? Hebat kamu bisa membersihkan para bandit yang meresahkan wilayah ayahmu ini. Ayah memuji. Namun!” Langkah kaki Argo terhenti, berbalik menghadap ke arah Lisia yang berjalan mengikutinya dan dengan volume tinggi berkata, “Kamu payah karena melewatkan hal penting seperti habitat para monster! Diriku tidak akan memarahi kamu soal politik atau perekonomian kota, itu masalah Wiskel! Tetapi untuk keputusan yang diambilnya, kamu juga ikut bertanggungjawab!”
Lisia yang ikut terhenti langsung menundukkan kepalanya, gemetar takut dan kembali diingatkan dengan masa kecilnya ketika dirinya sering dimarahi ayahnya tersebut. Namun berbeda dengan saat itu, Lisia kali ini merasa pantas dimarahi dan tidak mengelak.
Sang Walikota sedikit terkejut putrinya tidak melawan balik. Mengingat kembali kepribadian Lisia yang suka membalas dengan argumen saat melakukan kesalahan, Argo merasa putrinya tersebut sudah sedikit bertambah dewasa dan mau mengakui kesalahannya sendiri.
“Sudahlah!” Argo kembali berbalik dan kembali melangkahkan kakinya, lalu dengan senyum tipis ia pun berkata, “Ayah ingin bertemu dengan Wiskle dan Iitla! Banyak hal yang perlu aku bicarakan dengan mereka!”
“Baik, Ayahanda ….”
Sembari berjalan masuk ke dalam bangunan kantor dan pergi ke ruangan Wiskel Porka, Argo menjelaskan beberapa tujuannya datang ke barak. Apa yang ingin dilakukan Walikota yang belum menarik kembali wewenang dari Penggantinya tersebut adalah membuat regu ekspedisi dengan segera, lalu menggunakan tabungan kota untuk melakukan pembasmian para monster di sepanjang rute perdagangan.
Meski risiko defisit pada anggaran tahunan bisa meningkat karena hal tersebut, Argo menilai lebih baik mempertaruhkan hal tersebut daripada membiarkan momentum progresif kota hilang. Selain itu, dirinya juga ingin menegur para pejabat yang masih menjadi pengecut dan tidak mau mempertaruhkan kekuasaan serta harta mereka untuk kebaikan kota.
.
.
.
.
Sampai di depan ruang Wiskel, tanpa mengetuk pintu Argo langsung membukanya dan masuk ke dalam. Ia membuat sang Wakil Walikota terkejut, seketika memucat dan kata-kata yang telah dirinya susun di dalam kepala untuk beralasan seketika runtuh.
Meski dirinya sudah mendengar laporan bahwa atasannya kembali dan kesehatannya pulih, tetap saja Wiskel tidak bisa lapang dada menerimanya. Banyak hal yang telah berubah dalam hierarki pemerintahan Mylta selama Argo sakit, membuat Wakil Walikota tersebut sedikit risau kalau atasan aslinya tersebut kembali.
“Kenapa? Kau tidak menyambut diriku, Wiskel? Atasanmu sudah kembali dan pulih, apa tidak ada kalimat yang ingin kau sampaikan?”
Argo melangkah mendekat dan berdiri di depan meja kerja tempat Wiskel duduk. Menatap tajam, mengintimidasi dan benar-benar memberikan tekanan kuat layaknya pemimpin yang sangat mendominasi.
Hanya terdiam pucat dan sekilas memalingkan pandangan ke arah Lisia yang juga ikut masuk ke dalam ruangan, Wiskel sejenak menarik napas dalam-dalam. Kembali menatap atasannya dengan sedikit gemetar, Wakil Walikota tersebut berkata, “Saya senang Tuan Argo telah sembuh dan kembali. Namun …, untuk sekarang sebaiknya Anda istirahat dulu sampai sepenuhnya pulih⸻”
Sebelum Wiskel selesai bicara, Argo perlahan mengangkat tangannya yang mengepal dan langsung memukul meja kerja sekuat tenaga. Patah, benar-benar patah menjadi dua dan membuat berkas serta perkakas berserakan ke lantai.
Sekilas pada tangan Argo yang mengepal, aura sihir penguatan berwarna merah kirmizi dengan kuat terpancar. Apa yang dilakukan Walikota tersebut benar-benar mempresentasikan kemarahannya, membuat Wiskel tidak bisa mengelak dan hanya gemetar dalam tempat duduknya.
“Hey, rekan kerjaku …. Jangan dingin seperti itu dan katakan saja, kenapa kau membiarkan kondisi perekonomian kota sampai seperti ini? Untuk keamanan memang bukan tugas kau, itu tugas Iitla …. Jadi, kenapa bisa pelabuhan sampai diambil alih pihak swasta?”
“Mu-Mungkin Anda sudah mendengarnya dari Nona Lisia, pihak swasta yang mengambil alih adalah perusahaan swasta milik Putra Tunggal Keluarga Luke. Kami tidak bisa⸻”
Argo kembali mengumpulkan aura sihir penguatan pada kepalan tangan kanan, seperti ingin memukul langsung wajah Wiskel dengan itu. Argo menatap tajam sembari kembali menegaskan, “Yang aku tanya kenapa kau membiarkannya? Aku tidak bertanya siapa atau apa yang pihak swasta itu lakukan?”
“I-Itu …!”
“Katakan saja …!” Berhenti mengepal dan menguraikan pengumpulan Mana pada tangan kanan, Argo langsung menarik kerah pakaian Wiskel dan memaksa pria tua tersebut berdiri. Sekali lagi dengan tegas ia memperingatkan, “Mylta adalah kota pesisir. Kalau pihak swasta mengambil alih pelabuhan, itu sama saja kita ditelanjangi. Kau bukan orang bodoh yang tidak paham hal tersebut, bukan?”
Mendapat sindiran tersebut, Wiskel tidak bisa tinggal diam saja dan langsung melepaskan tangan Argo dari kerah pakaiannya dengan paksa. Pria tua tersebut melangkah mundur, lalu memberikan tatapan kesal dan merasa kalau atasannya tersebut terlalu seenaknya meski baru saja kembali.
“Tuanku, engkau bisa berkata seperti itu karena tidak tahu Odo itu orang seperti apa! Kau tahu, Tuanku! Dia bahkan sampai membawa Putra Sulung Keluarga Rein dan benar-benar mempengaruhi kondisi perekonomian Mylta! Tak mengherankan kalau proses progresif kota dikatakan merekalah mereka yang membuatnya!”
Argo terdiam, menatap datar dan paham sempai tingkat apa rekan kerjanya tersebut tertekan karena situasi yang ada. Namun saat dirinya mengingat-ingat kalau Putra Tunggal Keluarga Luke masihlah seorang anak kecil, dirinya memalingkan tatapan ke arah Lisia dan bertanya, “Odo yang kamu maksud masih sama dengan Odo yang Wiskel katakan, ‘kan?”
“I-Iya, Ayahanda ….” Lisia mengangguk, berjalan mendekat dan dengan sedikit gemetar menjelaskan, “Beliau adalah Odo Luke, Putra Tunggal Keluarga Luke yang sekitar satu bulan lalu baru saja mendapat gelar Viscount.”
“Tch!” Argo tampak tidak suka mendengar anak yang jauh lebih muda darinya mendapat gelar bangsawan lebih tinggi darinya, lalu dengan nada sarkasme berkata, “Apa yang Tuan Luke lakukan? Apa dia terlalu memanjakan putranya? Atau malah Raja Gaiel yang hanya ingin segera menikahkannya dengan Putri Arteria? Mereka sepertinya sudah pikun sampai-sampai melakukan hal seperti itu! Di Kerajaan Felixia banyak wilayah yang dulunya sebuah Negara Vasal, kalau mereka asal memberikan gelar seperti itu bisa-bisa terjadi perang sipil!”
“Saat Ayahanda sakit, banyak hal yang telah terjadi …. Tuan Odo banyak membantu kota ini, jadi tolong jangan berpikir buruk tentangnya.”
Mendengar pendapat putrinya tersebut tentang Odo, Argo langsung paham apa yang dirasakan putrinya tersebut terhadap Putra Tunggal Keluarga Luke. Menghela napas ringan dan merasa tidak ingin melukai perasaan Lisia, sebagai seorang ayah dirinya hanya berkata, “Ayah sudah paham itu. Meski sedang sakit, Ayah masih sempat mendengarkan kabar dari para pelayan di rumah. Ayah berkata seperti itu bukan karena tidak tahu kabar tentangnya.”
“Lantas kenapa ….?”
“Hanya firasat ….” Argo memalingkan tatapan, berjalan ke arah jendela dan melihat ke arah lapangan di luar. Dengan mimik wajah sedikit risau, pria yang telah bergelut di dalam dunia para bangsawan sejak muda tersebut berpendapat, “Para bangsawan lain pasti tidak akan tinggal diam dengan ini. Meski tidak dalam waktu dekat, kelak pasti ada yang menusuknya dari belakang. Untuk ayah yang hanya bergelar Baron saja … ada beberapa orang yang melakukan hal seperti itu.”
“Itu ….” Lisia sekilas menoleh ke arah Wiskel saat mendengar hal tersebut.
“Kenapa Nona melihat ke arah saja? “ Wiskel sedikit mengerutkan kening dengan kesal, lalu sembari menatap datar berkata, “Asal Nona Lisia tahu, bukan saya yang mengkhianati Tuan Argo saat baru mewarisi gelar keluarganya ….”
“Eh, lalu siapa?” tanya Lisia tanpa niat menyembunyikan tuduhannya kepada Wiskel.
__ADS_1
“Kau tak perlu tahu, Lisia ….” Argo berjalan ke hadapan putrinya, lalu sembari menatap tajam berkata, “Orang itu sudah lenyap, jadi kau tak perlu mencemaskan hal serupa akan terjadi.”
“Lenyap …?”
Tanpa dijelaskan lebih lanjut, Lisia paham arti kata ‘Lenyap’ yang disampaikan. Di dunia para bangsawan, disingkirkan dan menyingkirkan adalah hal yang tidak aneh. Hal seperti mengkhianati dan dikhianati bukan hal baru, karena itulah sebagai seorang pemimpin harus pandai-pandai mencari pengikutnya.
“Untuk sekarang kita kesampingkan dulu tentang Odo Luke. Jujur Ayah juga tidak ingin menjadikan Keluarga Luke sebagai musuh, terutama orang yang telah menyelamatkan nyawa Ayah.” Argo meletakkan tangan perban pada leher, sedikit bimbang dalam keputusannya sendiri dan sejenak menghela napas ringan. Kembali menatap ke arah Wiskel, sang Walikota dengan tegas bertanya, “Iitla di mana? Aku ingin bicara hal penting dengannya.”
“Saya rasa Pak Iitla sedang berada di aula barak. Di jam seperti ini, biasanya beliau sedang memberikan latihan khusus untuk para prajurit.”
“Huh!” Argo tampak tidak puas mendengar itu, sembari meletakkan tangan ke kening dirinya pun mengeluh, “Kenapa dia masih melakukan hal seperti itu? Padahal aku rasa pernah bilang kepadanya, kalau latihan lebih baik praktik langsung. Memangnya musuh di medan perang akan mengikuti prosedur dalam bertarung? Apa dia masih trauma dengan medan perang?”
“Trauma? Memangnya dulu apa yang terjadi pada paman⸻?”
Di tengah pembicaraan tersebut, tiba-tiba salah satu prajurit masuk ke dalam ruangan tersebut dengan napas terengah-engah. Ia tampak pucat, berkeringat dingin dan dengan napas hampir putus berkata, “Ka-Kabar buruk, Tuan! Monster …. Kawanan monster menyerbu Kota Mylta! Bahkan para pedagang yang berada di luar dinding sudah ada yang menjadi korban! Sekarang beberapa prajurit dan penjaga sedang menahan serbuan di sekitar gebang utama!”
Mendengar laporan tersebut, semua orang di dalam ruangan terkejut dan tampak pucat. Pembicaraan mereka sebelumnya dibuat tidak berarti karena laporan tersebut, benar-benar layaknya sebuah debu di jalan yang terguyur air hujan.
“Kenapa …?”
Lisia memucat, mulutnya menganga dan tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar. Dalam pembicaraan yang dirinya lakukan dengan Odo beberapa jam yang lalu, seharusnya rencana tidak akan memakan korban. Namun apa yang terjadi sangatlah berbeda. Tempat, waktu, dan kondisi, semua itu sama sekali tidak sesuai dengan rencana yang telah disiapkan.
ↈↈↈ
Sekitar satu jam lalu, di sekitar gerbang utama Kota Mylta.
Keramaian yang biasa, lalu-lalang yang tidak ada jauh berbeda dari hari sebelumnya di dalam rutinitas orang-orang. Sungguh, momen tersebut tidak ada satu pun yang memperkirakannya, bahwa hari cerah tersebut akan segera diwarnai dengan darah mereka sendiri.
Beberapa prajurit dan penjaga kota seperti biasanya bekerja di gerbang utama, memeriksa identitas dan menarik biaya masuk Kota Mylta. Mengarahkan para pemilik kereta kuda besar untuk memarkir kendaraan mereka di luar dinding, lalu memberikan tanda masuk berupa surat izin.
Namun, pada saat matahari baru saja naik dan waktu menyentuh pukul delapan, sebuah mimpi buruk datang. Tanpa peringatan, tanpa ada yang memberitakan mereka bahwa itu akan terjadi, dari cakrawala terlihat rombongan pedagang yang dikejar sekawanan monster.
Gorteah sendiri merupakan jenis monster yang mengadaptasi sifat dari unsur gabungan bentuknya, berkelompok, karnivor, dan makhluk teritorial. Dengan kata lain, seharusnya Gorteah memiliki kecenderungan tidak akan menyerang keluar dari habitat mereka kecuali memang sedang sangat membutuhkan makanan atau diprovokasi.
Karena itulah semua orang di kota ada yang memprediksi serbuan tersebut, sebab musim panas ini seharusnya habitat para monster tidak sedang kekurangan sumber makanan. Tanpa persiapan sama sekali, selama beberapa belas menit serangan tersebut terjadi secara satu arah.
Korban pertama adalah sekelompok pedagang yang memutuskan hengkang dari Mylta setelah rumor terancamnya keamanan tersebar. Mereka yang baru saja pergi beberapa kilometer dari kota tiba-tiba disergap oleh sekawanan Gorteah. Kuda mereka ditusuk tanduk tajam para monster dan dimangsa dengan cepat, lalu selanjutnya orang-orang yang berada di kereta pun menjadi sasaran setelah para kuda hanya tinggal tulang dan serpihan daging.
Melihat kejadian tersebut, para pedagang yang pergi dengan alasan sama segera putar balik. Memacu kereta kuda mereka secepat mungkin, berusaha kabur dari para Gorteah yang telah melihat tajam ke arah mereka. Secara tidak langsung, tindakan para pedagang tersebut sama saja dengan membawa para monster ke arah Kota Mylta.
Dalam satu kawanan, Gorteah sendiri tidaklah terlalu banyak dan hanya terdiri antara 11 sampai 15 ekor saja dengan satu pemimpin layaknya kawanan serigala. Namun karena memiliki sifat pemburu dan koordinasi layaknya hewan cerdik, monster jenis Khimaira tersebut masuk ke dalam tingkat monster sangat berbahaya saat berkelompok.
Rombongan pedagang yang memacu kuda mereka untuk kabur pun dengan cepat menjadi korban selanjutnya. Salah satu Gorteah yang berlari lebih cepat langsung menyeruduk kuda yang menarik kereta, tepat menusukkan tanduk runcingnya ke bagian vital dan membuat kereta terbaik.
Para pedagang yang tidak memiliki kemampuan bertarung hanya bisa pasrah setelah kereta kuda mereka digulingkan. Dinding kereta dengan mudah dibongkar oleh para Gorteah dengan tanduk, lalu mereka pun dengan kejam membunuh mereka yang bersembunyi dan meringkuk di dalamnya.
Layaknya hewan-hewan yang paham dengan sumber makanan, para Gorteah tidak memangsa semua orang yang mereka bunuh. Sebagian mereka bawa di punggung, untuk dijadikan persediaan makanan.
Tetapi, bukan berarti para Gorteah itu berhenti sampai di situ saja. Melihat ke arah orang-orang dengan jumlah lebih banyak di arah gerbang Kota Mylta, para monster tersebut seketika kehilangan sifat tenang dan berubah menjadi monster ganas kembali.
Terprovokasi, benar-benar tergiur dengan orang-orang yang mereka anggap hanya sebatas mangsa. Salah satu Gorteah yang merupakan pemimpin kawanan melolong, layaknya memberikan komando pada kawanan untuk bersiap menyerang mangsa yang mereka lihat.
Beberapa Gorteah menjatuhkan mayat-mayat dari punggung mereka, benar-benar melupakan dan berhenti menyimpan persediaan makanan. Sebagian ada yang langsung memakan mayat para pedagang, untuk dijadikan sumber tenaga dan bersiap menyerang mangsa dengan jumlah yang lebih banyak.
Dalam jarak sekitar satu kilometer, kawanan Gorteah langsung berlari ke arah gerbang utama Kota Mylta setelah mereka selesai bersiap. Para prajurit dan penjaga yang melihat itu segera melakukan evakuasi. Mereka yang mendengar jeritan para pedagang yang menjadi korban pertama dan kedua langsung membiarkan orang-orang masuk ke dalam kota, lalu menutup separuh gerbang.
Mengambil senjata berupa perisai dan tombak dari pos, para prajurit membentuk formasi Testudo di depan gerbang utama. Sedangkan para penjaga bersiap di barisan paling belakang, membawa busur dan menyiapkan panah mereka untuk memberikan dukungan kepada garis depan.
Testudo yang terdiri dari sepuluh personel bisa dikatakan tidak sempurna, terlalu sedikit karena seharusnya formasi tersebut dilakukan 14 sampai 15 orang. Namun dengan pembatasan rute masuk dan gerbang hanya dibuka separuh, jumlah prajurit tersebut sudah lebih dari cukup untuk menghalau para monster dan mengintimidasi mereka menggunakan tombak yang terangkat ke depan.
Serbuan pertama kawanan Gorteah dimulai, sekitar empat sampai lima ekor monster tersebut meloncat ke arah barisan dinding perisai dan menyerudukkan tanduk runcing mereka. Dengan mudah perisai ditembus, menusuk ke dalam dan menunjam orang yang berada di dalam formasi.
__ADS_1
Namun pada saat yang bersamaan, tombak-tombak yang diarahkan ke depan menusuk para Gorteah tersebut dan menghabisi mereka. Para monster segera belajar bahwa menyerbu secara frontal berarti kematian, pemimpin para Gorteah pun melolong dan menahan kawanan untuk menyerbu.
Mengintai, mengitari dan menunggu, para monster tersebut benar-benar bergerak layaknya serigala pemburu pada musim dingin yang sedang menatap mangsa mereka yang tidak berdaya.
Para prajurit yang sebelumnya tertusuk tombak segera keluar dari formasi, ditarik mundur sampai masuk ke dalam gerbang dan digantikan oleh penjaga yang sebelumnya bertugas untuk pendukung.
Tidak tinggal diam saat para Gorteah mengamati kelemahan formasi Testudo, para penjaga yang membawa panah segera menarik busur mereka dan membidik. Anak panah ditembakkan secara serempak, mengarah secara terpusat ke satu ekor Gorteah dengan tujuan untuk menghabisi mereka satu persatu.
Meski Gorteah yang dihujani panah tersebut menepis beberapa panah dengan tanduk, namun jumlah terlalu banyak dan beberapa anak panah pun bersarang di tubuhnya. Pendarahan, mengenai bagian vital seperti kepala dan mata membuat Gorteah tersebut tumbang.
Pada saat para penjaga mempersiapkan hujan panah gelombang kedua, para Gorteah meniru formasi yang mereka lihat dan mulai berkumpul. Menggunakan tanduk-tanduk mereka, kawanan monster tersebut membuat dinding pagar runcing dan pada saat bersamaan bersiap untuk menyeruduk.
Ancang-ancang para monster membuat para pemanah tidak bisa menembak, mereka tahu bahwa para monster tersebut sedang menunggu celah untuk menyerang habis-habisan setelah serangan panah dari balik dinding perisai dilepaskan. Tetapi tindakan para monster tersebut juga cukup menguntungkan untuk para prajurit dan penjaga, karena memang pada dasarnya mereka hanya bertujuan untuk mengulur waktu sampai bantuan datang.
Namun, apa yang mereka harapan dengan cepat sirna. Sebelum bantuan datang, suara ringkik kencang terdengar dari arah hutan. Tentu saja itu bukanlah kuda atau keledai, melainkan berasal dari kawanan monster lain yang sedang menuju ke arah Kota Mylta.
Hatuibwari ⸻ Sekawanan monster jenis Khimaira dengan bentuk mengerikan. Tubuh mereka memiliki bentuk ular besar bersisik cokelat, memilki kepala yang sangat mirip dengan manusia dengan kulit biru dan empat mata serta telinga runcing panjang. Pada tubuh ularnya, ia memiliki kaki elang yang besar dan sayap naga. Dengan suara ringkik seperti kuda, itu membawakan sebuah pertanda bahwa sekawanan Hatuibwari sedang mendekat.
Pada dasarnya ciri dan bentuk tubuh Hatuibwari sendiri mirip dengan Naga Langit dengan ukuran kecil, secara fisik lebih cenderung masuk ke jenis naga daripada monster. Namun karena sifat agresif dan brutalnya saat sedang lapar, Hatuibwari dimasukan ke dalam kategori monster.
Habitat mereka juga sama seperti monster lain, berada di dalam hutan dan biasa menggunakan gua sebagai sarang. Tetapi, terkadang mereka juga menyerang ternak dari desa-desa pada malam hari untuk dijadikan makanan.
Melihat para Hatuibwari terbang dari arah hutan, seketika para prajurit dan penjaga yang menahan para Gorteah memucat. Jumlah monster Khimaira bersayap tersebut memang tidaklah banyak dan hanya tiga ekor. Namun, itu sudah menjadi ancaman besar karena Hatuibwari merupakan monster mistis dengan kekuatan sihir.
“Sebenarnya … apa yang terjadi pada kota ini? Kenapa monster-monster aneh seperti itu yang menyerang!?”
“Jangan tanya aku, sialan! Fokus saja pada formasi!”
“Kalau goblin atau ogre masih wajar …. Tapi, kenapa monster langka yang bahkan enggan mendekati manusia yang menyerang?!”
“Diam dan kuatkan formasi! Sebagian lapor ke dalam dan beritahu untuk menyiapkan alat sihir pertahanan udara! Jangan biarkan Hatuibwari masuk ke dalam dan menandai kota! Kalau mereka berhasil menapakkan kaki di Mylta, mereka pasti akan datang dengan jumlah yang lebih banyak!”
“Si-Siap!!”
.
.
.
.
Distrik Perniagaan, pada waktu yang hampir bersamaan.
Ketika para penjaga dan prajurit kota dibuat mati kutu dengan serangan monster di gerbang utama, dalang dari kejadian itu duduk di atas atap sebuah toko. Ia adalah Odo Luke, pemuda rambut hitam itu duduk bermeditasi di atas bangunan toko Ordoxi Nigrum yang secara topologi menjadi pusat aliran energi Kota Mylta.
“Sepertinya percobaan ini berhasil. Kalau frekuensi gelombang penghalang bisa digunakan untuk mengusir para monster, itu juga bisa digunakan untuk memancing mereka jika aku sedikit mengubah struktur pemancarnya.”
Pemuda itu bangun, membersihkan celananya dan menatap datar ke arah gerbang utama. Sembari menyeringai tipis ia kembali berkata, “Tapi untuk sekarang sepertinya ada batasan jenis monster yang bisa aku provokasi. Mungkin karena aku menggunakan unsur naga dalam konstruksi struktur singgasana ilahi, monster yang bisa aku pancing juga hanya berbatas. Sepertinya Unsur Aktivasi juga tidak terlalu berpengaruh pada frekuensi, ada itu ada batasan jenis kode input? Ah, biarlah …. Aku teliti itu nanti lagi.”
Odo menajamkan tatapannya, menggunakan Penglihatan Jiwa dan dari kejauhan mengamati perlawanan para prajurit kota serta penjaga di gerbang utama. Meski mereka bisa melawan Gorteah dengan kombinasi formasi tempur, namun untuk melawan tiga ekor Hatuibwari sekaligus berada di luar kemampuan mereka.
“Yah, kurasa sudah tepat aku hanya memancing tiga ekor Hatuibwari. Kalau tidak salah, sekitar 20 kilometer dari sini ada sarang monster jenis itu dan jumlah mereka sampai belasan ⸻ Eh?! Hmm …?”
Saat sedang mengamati para monster dan orang-orang yang melawannya, Odo melihat bentuk jiwa yang cukup kuat dari arah barak dan bergerak dengan cepat menuju gerbang utama. Itu berwarna merah terang, dipenuhi energi kehidupan yang kuat dan berpijar lebih terang dari yang lain.
“Kalau tidak salah, bentuk jiwa itu … milik Lisia? Apa jiwanya memang seterang itu? Ah? Jangan-jangan ….” Odo mengerutkan kening, merasa telah melakukan kesalahan karena sebelumnya terlalu terbawa suasana dan merusak rencananya sendiri. “Seharusnya aku membiarkan orang tua itu terbaring dulu di tempat tidur. Tch! Yooolooo!! Duh, dasar pak tua. Sadar umur sedikit kenapa sih,” gerutu Odo dengan nada ketus.
\=====================================
Catatan:
NEXT GELUT!
Mungkin …..
Untuk kalimat atau kata yang tidak diketahui, silahkan searching. Author terlalu enggan untuk menjelaskannya secara rinci ….
Btw, Yolo juga artinya …..
__ADS_1