Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[100] Angelus V – Green Slumber (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Menghirup udara lembap, lalu tersenyum ringan layaknya sedang menikmati sesuatu. Di atas permukaan jalan susunan batu yang basah karena embun, Odo melangkahkan kaki dengan tegas. Dalam suasana hati resah dan ragu yang bercampur aduk.


 


 


Bagian belakang Kediaman Stein, itulah tempat yang dirinya tuju. Melewati bagian samping Mansion yang hanya bisa dilalui oleh satu orang, ia berjalan menuju tempat yang terlalu sempit untuk disebut halaman belakang.


 


 


Odo tidak sendiri. Tepat di belakang Putra Tunggal Keluarga Luke, beberapa orang dari Keluarga Stein dan Mylta berjalan berbaris mengikutinya. Selain mereka, dua Elf dan seorang Roh Agung pun mengikuti di belakang. Melewati jalan yang hanya muat untuk satu orang, dengan kedua sisi dihimpit oleh tembok Mansion dan pagar penuh semak.


 


 


Semakin dekat dengan tempat tujuan, permukaan jalan susunan batu berubah menjadi rerumputan dengan tinggi sampai mata kaki. Membuat celana sedikit basah karena embun yang ada, lalu mengeluarkan aroma khas rerumputan saat diinjak oleh beberapa orang yang lewat.


 


 


Sampai di tempat yang dituju, rerumputan yang ada berubah menjadi hamparan batu tidak rata dan licin. Layaknya tebing yang biasa ditemui pada pesisir, bebatuan yang ada di tempat itu lebih cenderung mirip seperti karang dan berlumut.


 


 


Suara hantaman air laut di bawah tebing terdengar jelas. Memberikan kesan yang terasa sedikit berbeda dengan ombak yang ada di Kota Mylta, meski sama-sama terletak di dekat laut. Getaran dengan jelas terasa melalui permukaan batu yang diinjak, dibuat oleh hantaman kencang ombak yang ada pada jurang di dalam bawah tebing.


 


 


Odo berdiri di ujung tebing tanpa pembatas. Saat melongok ke bawah, dari bawah hembusan angin menerpa wajah seakan ingin mendorongnya menjauh.


 


 


Namun, pemuda rambut hitam tersebut tidak bergeming. Melihat ke bawah jurang tanpa rasa takut, lalu mencari altar yang dirinya butuhkan untuk pergi ke Dunia Astral.


 


 


Jurang itu sendiri memiliki kedalaman mencapai seratus meter lebih, dengan permukaan yang sangat landai dan ditumbuhi lumut. Dipenuhi bebatuan karang yang runcing, sulit untuk dipanjat, dan bagian bawah terus menerus didera ombak yang rata-rata setinggi delapan meter dari permukaan air.


 


 


“Kabutnya tebal sekali,” gumam Odo seraya menghela napas ringan.


 


 


Mengedipkan kedua mata, Putra Tunggal Keluarga Luke mengaktifkan Penglihatan Jiwa untuk menerawang ke bawah. Memeriksa aliran Ether yang ada di jurang, lalu melacak Altar Gerbang Dunia Astral yang dirinya cari.


 


 


Layaknya penglihatan inframerah, semuanya menjadi tampak abu-abu dan kadar kabut menjadi berkurang drastis dari kemampuan optik. Menemukan permukaan datar di jurang dan paham bahwa itu adalah sebuah altar, Odo sejenak menarik napas lega.


 


 


“Hmm ….” Odo kembali berkedip dan menonaktifkan Penglihatan Jiwa. Menoleh ke arah orang-orang yang mengantarnya, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Altar yang aku cari memang ada di bawah. Terima kasih sudah mau meminjamkannya. Kalau begitu, kami akan turun dan pergi ke Dunia Astral sebentar⸻”


 


 


“Tolong tunggu sebentar!” sela Argo dengan cemas. Pria rambut merah gelap tersebut berjalan mendekat, lalu dengan nada tegas melarang, “Tuan Odo tak boleh begitu saja pergi ke Dunia Astral! Anda adalah satu-satunya anak Tuan Tanah! Selain itu, Anda juga tunangan Tuan Putri Arteria! Calon pemimpin Kerajaan Felixia ini!”


 


 


Mendengar perkataan yang terkesan berkelit, tatapan Odo seketika berubah datar. Putra Tunggal Keluarga Luke memahami rasa cemas Agro, begitu pula maksud lain perkataan pria tersebut. Setelah melihat ekspresi Lisia, Oma, dan Ri’aima, pemuda itu pun semakin paham bahwa mereka semua tidak setuju dengan hal yang ingin dirinya lakukan.


 


 


“Ah, aku mengerti ….” Odo menghela napas ringan. Apapun alasan mereka untuk melarangnya pergi, Putra Tunggal Keluarga Luke sama sekali tidak berniat untuk mengubah keputusan yang telah diambil. Seraya kembali berbalik dan melihat ke arah jurang, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Apa kau bisa membawa kami turun ke bawah?”


 


 


“I-Itu benar!” ujar Oma Stein cemas. Ia berjalan mendekat, lalu dengan niat membujuk menyampaikan, “Kami juga tidak punya cara untuk membawa Anda ke bawah⸻”


 


 


“Tentu saja bisa,” jawab Vil. Paham bahwa pertanyaan itu diarahkan kepadanya, Roh Agung tersebut melayang ke sebelah Odo dan kembali berkata, “Untuk ketinggian ini tidak masalah. Namun, mungkin maksimal diriku hanya kuat membawa dua orang saja. Mungkin Odo sudah tahu, sihir melayang pada dasarnya bukan untuk mengangkut barang.”


 


 


“Tak masalah, aku bisa turun sendiri.” Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menghela napas. Seraya menoleh ke arah Laura dan Magda, dengan nada datar ia memastikan, “Kalian berdua masih bisa menggunakan Manifestasi Peri, ‘kan?”


 


 


Kedua perempuan dari Moloia tersebut mengangguk. Berjalan mendekat, mereka berdiri di dekat tebing dan siap untuk pergi ke Dunia Astral mengikuti rencana Odo Luke.


 


 


“Sebelum kita pergi, kami ingin memastikan sesuatu ….” Laura melirik tajam ke arah Odo. Seraya memperlihatkan mimik wajah tidak tenang, Elf rambut pirang tersebut bertanya, “Kamu membawa senjata kami, bukan? Akan sangat konyol nanti jika kami berdua melawan Leviathan tanpa senjata.”


 


 


“Ah, senapan kalian?” Sekilas kedua mata Odo terbuka lebar. Seakan ingin memancing orang-orang dari Keluarga Mylta dan Stein, pemuda itu dengan santai menawarkan, “Apa perlu aku kembalikan sekarang? Kalian butuh itu untuk melakukan manifestasi, ya?”


 


 


Menyadari tatapan permusuhan dari beberapa orang di tempat tersebut, Laura menggelengkan kepala dan menolak. Tidak ingin memperkeruh suasana yang ada sebelum berangkat, Elf tersebut hanya menghela napas ringan sebagai tanpa resah.


 


 


“Anda benar-benar ingin pergi bersama mereka, Tuan Odo?” tanya Lisia cemas. Berjalan menghampiri dan berdiri di belakang pemuda itu, Putri Tunggal Keluarga Mylta tersebut kembali berkata, “Saya tidak akan mencegah kalian. Namun, bisakah Tuan Odo memberitahu kami alasan Anda harus pergi ke Dunia Astral?”


 


 


Odo sama sekali tidak menoleh atau berbalik. Ia malah menatap ke arah jurang, lalu menunjuk ke arah altar untuk memberitahu Vil letaknya secara akurat.


 


 

__ADS_1


Seakan menikmati pembicaraan yang berlangsung, Putra Tunggal Keluarga Luke menyeringai tipis dan memutuskan sesuatu. Namun, dengan cepat senyum itu hilang sebelum dilihat oleh orang lain.


 


 


“Vil, kalian turun dulu ke bawah.” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, pemuda itu menoleh ke belakang dan menawarkan, “Apa Nona Lisia mau ikut? Kau punya atribut sihir api yang kuat, bukan? Itu mungkin efektif untuk melawan Leviathan?”


 


 


Tawaran itu membuat Lisia mengerutkan kening, menatap tidak suka dan mengambil satu langkah ke belakang. “Anda … sedang menyindir saya?” tanya perempuan rambut merah tersebut dengan nada ketus.


 


 


“Menyindir?” Odo berbalik. Seraya merentangkan kedua tangan ke samping, ia dengan lapang dada berkata, “Aku sangat bersungguh-sungguh! Seperti yang Nona Lisia lihat, sekarang ini kekuatan sihir milikku sedang sangat lemah. Tambahan orang sangat membantuku untuk mengalahkan Leviathan.”


 


 


“Membantu …?” Lisia meletakan tangan kanan ke depan dada. Menatap tajam dan mengambil satu langkah ke depan, perempuan rambut merah tersebut berkata, “Kalau memang butuh bantuan, Tuan Odo bisa mengumpulkan pasukan dulu di kota dan berangkat nanti! Anda bisa membuat persiapan yang lebih matang⸻!”


 


 


“Aku tidak punya banyak waktu,” potong Odo seraya berhenti merentangkan kedua tangan. Menatap datar dan benar-benar menghapus ekspresi ramah, pemuda rambut hitam tersebut menegaskan, “Kalau bisa, aku juga ingin mempersiapkannya matang-matang. Tapi! Waktunya mendesak …. Situasi yang ada juga sangat tidak memungkinkan. Karena itulah, aku pergi dengan mereka.”


 


 


Lisia melihat ke arah Roh Agung dan kedua Elf yang akan diajak Odo. Sedikit memahami apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke maksud, ia tidak bisa lagi mengajukan argumen untuk membujuk.


 


 


Bersama hembusan angin yang datang dari arah pemuda itu, Lisia menundukkan kepala dengan muram. Rambut merah miliknya teterpa angin, berkibar halus dalam kabut yang semakin tebal seiring dengan hari yang semakin sore.


 


 


“Anda belum menjawab pertanyaan saya.” Lisia kembali mengangkat wajah. Menatap tajam mata Odo Luke, perempuan rambut merah tersebut memastikan, “Untuk apa Tuan Odo pergi ke Dunia Astral? Kenapa Anda ingin menaklukan Leviathan sekarang?”


 


 


“Nona akan tahu itu setelah aku kembali,” jawab Odo dengan singkat. Berbalik menghadap ke arah jurang, ia sedikit mendongak dan menambahkan, “Ini yang aku perlukan, hanya itu yang bisa diriku sampaikan sekarang. Aku tak mau menjelaskannya.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Lisia mengerutkan kening, menatap tajam dan merasa kesal karena sikap Odo yang terasa seenaknya. Menarik napas dalam dan berusaha tenang, perempuan rambut merah tersebut memalingkan pandangan dengan hati dipenuhi rasa resah.


 


 


“Anda selalu seperti itu,” gumam Lisia.


 


 


Mengertakkan gigi dan kembali menatap lawan bicara, ia membuka mulut dan ingin melarang dengan tegas meski harus berakhir pertengkaran. Namun saat ditatap oleh Vil yang melayang di sebelah Odo, niat tersebut seketika runtuh. Lisia paham dirinya tak pantas untuk melarang Putra Tunggal Keluarga Luke itu pergi.


 


 


Berbeda dengan Lisia yang menunjukkan rasa tidak setuju secara frontal, Ri’aima hanya terdiam di sebelah Oma Stein. Menatap bingung, ragu antara harus melarang atau menghormati keputusan yang diambil oleh Odo.


 


 


 


 


Pemusnah peradaban, penguasa lautan dan merupakan salah satu Naga Agung yang masih hidup sampai sekarang. Meski memahami semua itu, Ri’aima tetap tidak bisa langsung melarang Odo Luke untuk pergi.


 


 


“Ah, benar juga.” Odo bertepuk tangan satu kali. Seakan-akan dirinya baru saja mengingat sesuatu dan berpura-pura, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Kemungkinan mereka akan segera bergerak. Besok atau mungkin lusa, beberapa pasukan Kekaisaran akan menyerang Rockfield untuk mengetes kekuatan militer tempat ini.”


 


 


Apa yang Putra Tunggal Keluarga Luke sampaikan begitu tiba-tiba, sampai-sampai membuat Kepala Keluarga Mylta dan Stein tersentak. Saling menatap satu sama lain, lalu memperlihatkan mimik wajah pucat pasi karena mereka semakin tidak paham alasan Odo pergi ke Dunia Astral.


 


 


“Kalau memang itu benar, kenapa Anda malah ingin pergi ke Dunia Astral?” tanya Oma memastikan.


 


 


“Rahasia ….” Odo menjawab singkat. Segera menepuk kepala Vil di sebelah, ia dengan nada ringan meminta, “Turun sana, bawa mereka! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mereka dulu …”


 


 


“Baiklah ….” Vil menatap datar, samar-samar paham dengan pembicaraan yang akan mereka lakukan. Sekilas menatap ke arah pria tua yang bertanya, Roh Agung tersebut dengan tegas menyampaikan, “Kalian menahan Odo karena ingin memanfaatkannya, bukan? Menyedihkan sekali, padahal semua masalah itu adalah kewajiban kalian.”


 


 


Setelah melempar sindiran, Vil langsung melayang ke arah Laura dan Magda. Memegang pundak kedua Elf tersebut, lalu menyelimuti mereka dengan Mana. Membuat tubuh kedua perempuan itu melayang menggunakan sihir miliknya.


 


 


Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka bertiga langsung turun ke bawah meninggalkan Odo. Melayang perlahan dan halus, layaknya bulu yang tertiup angin.


 


 


Odo menatap ke arah jurang dan menatap sedikit cemas karena suasana hati Roh Agung tersebut. “Vil, tolong siapkan altar di bawah! Kalau bisa tolong aktifkan juga!” ujarnya dengan suara lantang.


 


 


“Eh?” Mendengar itu, Vil langsung mendongak dengan tatapan heran. Kening mengerut kencang, lalu dengan nada kesal perempuan rambut biru itu pun membalas, “Kalau bisa mengaktifkan Altar Gerbang Dunia Astral, dari dulu diriku sudah bolak-balik ke Dunia Astral! Odo bodoh atau bagaimana, sih?!”


 


 


“Ya, sudah! Siapkan saja altar di bawah! Mungkin tertutup batu atau sudah rusak! Yang penting diperiksa dulu!”


 


 


“Baiklah …!”


 

__ADS_1


 


Bersama kabut yang menelan sosok Roh Agung dan kedua Elf yang turun, suaranya semakin terdengar pelan. Dihapus oleh suara ombak yang membentur karang, serta hembusan angin kencang yang menerpa bebatuan di jurang.


 


 


Sejenak menghela napas, Odo segera berbalik ke arah orang-orang yang menatap dirinya dengan mimik wajah tidak senang. Ragu, cemas, tidak setuju, dan bahkan sangat kesal. Mereka memperlihatkan mimik wajah masing-masing.


 


 


Namun, secara garis besar keempat orang tersebut dengan jelas tidak ingin Putra Tunggal Kelurga Luke pergi ke Dunia Astral untuk melawan Leviathan. Ingin mencegahnya dengan bujukan kalimat.


 


 


“Aku tidak akan membahas itu lagi, kita ganti topik tentang rencana untuk menahan serangan dari Kekaisaran.” Odo tersenyum tipis. Kembali bertepuk tangan satu kali, pemuda rambut hitam tersebut menawarkan, “Untuk masalah kali ini, aku punya dua opsi untuk kalian semua. Mau coba mendengarnya?”


 


 


Membiarkan Odo pergi ke Dunia Astral memiliki risiko yang tinggi, Oma Stein dan Argo Mylta memahami hal tersebut dengan sangat baik. Jika terjadi sesuatu dan Putra Tunggal Keluarga Luke tidak kembali, kemungkinan mereka juga bisa disalahkan oleh sang Tuan Tanah dan bahkan Kerajaan Felixia.


 


 


Namun, kedua pria tersebut juga tidak bisa mengabaikan ancaman Kekaisaran yang pemuda itu sampaikan. Sebagai Kepala Keluarga, mereka tidak bisa begitu saja mengesampingkan ancaman dari negeri lain.


 


 


Karena itulah, kedua Kepala Keluarga tersebut memilih untuk mendengarkan rencana yang Odo sampaikan. Mengganti topik pembicaraan seperti yang pemuda itu minta, lalu tanpa sadar opini mereka benar-benar dikendalikan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut.


 


 


Setelah itu, pembicaraan tentang rencana yang Odo tawarkan pun berlangsung. Berjalan sangat mulus sampai-sampai ada sesi tanya jawab, lalu benar-benar membuat mereka semua lupa untuk membujuk Odo supaya tidak pergi ke Dunia Astral.


 


 


Bahkan Lisia pun sampai dibuat lupa, sebab topik dan rencana yang dibicarakan sangat berkaitan dengannya yang sekarang ini menjabat sebagai Walikota Mylta.


.


.


.


.


Sedikit berbeda dengan yang terletak di dekat Kediaman Keluarga Luke, Altar Gerbang Dunia Astral tersebut tidak memiliki pilar di sekelilingnya. Hanya berupa permukaan batu datar dengan ukiran struktur sihir berlapis pada lantai, memiliki diameter sampai dua belas meter.


 


 


Simbol elemen dan Rune diukir pada bagian luar struktur lingkaran sihir, pada bebatuan karang yang ada di sekitar tempat tersebut. Sebagian tampak sudah terkikis, berlubang-lubang, dan bahkan ada yang sudah hancur sepenuhnya karena abrasi gelombang laut yang menerpa setiap saat.


 


 


Saat diamati baik-baik, bebatuan karang itu memiliki teta letak yang masih teratur seakan-akan dulunya merupakan konstruksi altar. Terhubung dengan lingkaran sihir yang ada di tengah tempat tersebut.


 


 


Meski sebagian besar sudah hancur karena ombak, delapan batu yang tersisa masih sedikit mempertahankan bentuknya. Tampak seperti monolit yang ditetak mengelilingi altar dan memiliki peran seperti pilar-pilar. Berwarna hitam pekat, lalu memiliki Rune serta struktur sihir pada permukaannya yang sebagian besar telah terkikis ombak dan angin.


 


 


Vil sampai di tempat tersebut, lalu menurunkan kedua Elf yang dirinya bawa menggunakan sihir melayang. Mana yang menyelimuti Magda dan Laura perlahan memudar, lalu mereka pun perlahan turun dan menginjakkan kaki di permukaan batu karang yang tidak rata serta basah.


 


 


Suara dera ombak terdengar sangat jelas, air laut menciprat ke arah mereka dan membuat pakaian sedikit basah. Angin berhembus kencang, membuat rambut serta gaun berkibar. Seakan-akan ingin mengusir mereka dari tempat tersebut.


 


 


“Kenapa juga orang-orang Felixia membangun altar di tempat ini?! Apa tidak ada lahan lain? Kalau tidak hati-hati, kita bisa saja jatuh⸻!”


 


 


Saat baru mengambil beberapa langkah menuju altar, Laura terpeleset dan hampir terjatuh. Seketika detak jantung Elf tersebut berdegup kencang. Dengan sedikit cemas, ia menoleh ke belakang dan melihat jurang yang lebih dalam dan dipenuhi bebatuan karang runcing.


 


 


“Hati-hati, Letnan. Anginnya sangat kencang ….”


 


 


Magda menoleh ke belakang. Ia berjalan sedikit membungkuk untuk bertahan dari hembusan angin tersebut, lalu menggunakan bebatuan karang yang tidak rata sebagai pegangan saat bergerak.


 


 


“Hmm ....” Laura mengangguk. Meniru rekannya, ia pun sedikit membungkuk dan kembali berjalan menuju altar yang ada di tengah tempat tersebut.


 


 


Berbeda dengan mereka berdua, Vil yang menggunakan sihir melayang sama sekali tidak terpengaruh oleh hembusan angin kuat yang menerpa. Meski rambut berkibar, tubuh Roh Agung tersebut tetap melayang dengan stabil di udara. Berselimut aura transparan berwarna keemasan.


 


 


Mendahului kedua Elf yang datang bersamanya, Vil langsung melayang ke tengah altar. Menginjakkan kaki tanpa alas, lalu menoleh ke sekitar dengan tatapan bingung setelah melihat kondisi tempat tersebut.


 


 


Sejenak memejamkan mata, sang Roh Agung menyebarkan Mana miliknya ke penjuru tempat untuk mengakses susunan altar. Memeriksa apakah struktur yang tampak rusak itu masih bisa digunakan atau tidak.


 


 


“Bagian yang rusak bisa diganti dengan teknik pemadatan milik Odo. Hanya saja ….”


 


 


Vil terdiam. Sebagai Roh Agung yang pernah menjadi penguasa di Dunia Astral, ia memang memiliki pengetahuan tentang struktur Altar Gerbang Dunia Astral.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2