Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[83] Keturunan ular tua (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Mentari telah terbit, menandakan telah dimulainya hari baru di akhir pekan. Meski seharusnya matahari sudah naik cukup tinggi, namun cuaca yang berkabut membuat cahaya tidak bisa sepenuhnya mencapai permukaan. Membuat hutan Pegunungan Perbatasan diisi dengan udara dingin, lembap, dan kelabu.


 


 


Di langit tampak burung-burung terbang menyambut pagi, para tupai meloncat dari satu pohon ke pohon lainnya, dan rusa berjalan mencari makanan di balik semak-semak. Udara dingin dan sejuk yang bisa membuat orang mengantuk sama sekali tidak mempengaruhi mereka, dengan energik bergerak ke sana-kemari menjalani hari baru di habitat mereka.


 


 


Berbeda dengan hewan-hewan di hutan dataran tinggi tersebut, Canna dan kedua orang kekaisaran masih tertidur lelap. Mereka bersandar pada batang pohon yang telentang di atas tanah, berselimutkan kain tebal di dalam hangatnya Susunan Pelindung Empat Musim.


 


 


Namun, nyamannya istirahat sama sekali tidak bisa Opium rasakan. Tingginya nilai kristal sihir pada akhirnya membuat sang penyihir tidak bisa menggunakan itu. Rasa serakah lebih unggul, membuat penyihir rambut cokelat kemarahan tersebut lebih memilih begadang daripada menggunakan kristal sebagai suplai energi Susunan Pelindung Empat Musim.


 


 


Ia duduk meringkuk di dekat api unggun yang telah lama padam. Mata tampak merah, kantung menghitam, dan wajahnya pun pucat. Menghela napas sejenak, Opium melirik ke arah Canna dan yang lain. Dalam benak ia iri, namun pada saat yang sama ia juga merasa sedikit lega karena berhasil bertahan semalaman meski sempat beberapa kali diintai hewan buas selama mempertahankan susunan pelindung.


 


 


“Kenapa mereka belum bangun? Dan juga ….” Opium menatap ke depan, mengerutkan kening dan mulai menggerutu, “Bagaimana bisa Tuan Odo berkeliaran semalam suntuk dan belum juga kembali? Saya yang hanya duduk diam saja sudah diserang oleh kawanan serigala dan beberapa beruang, kalau tidak ada susunan ini pasti sudah gawat. Kalau tidak salah seharusnya ini adalah susunan yang bisa mencegah hewan buas dan monster mendekat, ‘kan? Lalu, kenapa hewan buas tidak terpengaruh efek susunan. Padahal monster tidak ada yang menyerang, lantas kenapa malah banyak sekali hewan buas yang datang tadi malam? Menyeramkan sekali ….”


 


 


Mendengar keluh-kesah perempuan yang telah tergoda harta tersebut, Canna terbangun dan mengusap kedua mata dengan kain yang dijadikan selimut. Ia sempat terkejut karena An bersandar pada tubuhnya, lalu sebelum bergerak ia pun perlahan memindahkan kepala An dan menyandarkannya ke Huang.


 


 


Berdiri dan melipat selimut dengan rapi, perempuan rambut putih uban tersebut sempat bingung melihat yuniornya bergumam sendirian layaknya orang gila. Sembari membawa kain selimut yang sudah dilipat, ia berjalan mendekat dan menepuk pundak Opium dari belakang.


 


 


“Opium ….”


 


 


“Kyaaa! Serigala!!”


 


 


Opium langsung meloncat, berbalik dan berancang-ancang seperti ahli bela diri meski dirinya seorang penyihir.


 


 


Melihat reaksi tersebut, Canna hanya memasang ekspresi datar. Sembari menunjuk ke arah Huang yang masih tertidur, perempuan rambut putih uban tersebut berkata, “Kalau serigala masih tidur di sana, loh. Kenapa kamu berpose aneh seperti itu?”


 


 


“Ja-Jangan mengejutkan saya, Kak Canna!” Opium segera menghela napas dan mengelus dada, sekilas memalingkan pandangan dan kembali bergumam, “Karena para hewan buas semalam, sepertinya saya jadi sedikit paranoid.”


 


 


“Opium, kamu ….” Canna mengamati wajah yuniornya, menatap tajam dan penuh rasa curiga. Dengan nada sedikit kecewa ia pun berkata, “Padahal Tuan Odo sudah bilang, pakai kristal sihirnya untuk suplai energi susunan pelindung. Tetapi, kamu malah memilih begadang. Kenapa kalau soal uang kamu suka seperti itu, sih?”


 


 


“Ta-Tapi!” Opium mengambil kristal sihir kualitas terbaik dari dalam pakaian jubah, lalu sembari menunjukkan berkata, “Sayang disayangkan kalau kristal mahal ini dipakai, loh! Ini demi biaya penelitian! Tidak ada jaminan dua kristal yang diberikan Tuan Odo sebelumnya akan mencukupi seluruh biaya penelitian kita!”


 


 


“Tetap saja, lihat situasinya dong.” Canna menepuk jidat, merasa telah gagal mendidik yuniornya itu dalam hal moral. Setelah menghela napas kecil, perempuan rambut putih uban tersebut menepuk pundak Opium dan berkata, “Sudahlah, kamu istirahat dulu mumpung Tuan Odo belum kembali. Kalau tidak salah, kata beliau tadi malam bilang kita akan segera berangkat pagi-pagi sekali, ‘kan? Biarkan diriku ini saja yang menjaga susunan pelindung menggantikan kamu.”


 


 


“Te-Terima kasih, Kak Canna.”


 


 


“Hmm, tidak masalah ….”


 


 


Opium memasang mimik wajah memelas dengan sorot mata berkaca-kaca. Namun sebelum dirinya sempat beristirahat atau bahkan melangkah dari tempat berdiri, dari belakang seseorang menepuk pundaknya.


 


 


“Kyaaa!! Apa lagi?!”


 


 


Perempuan rambut cokelat kemerahan itu bereaksi sama seperti sebelumnya, tersentak dan segera memasang kuda-kuda ahli bela diri meski dirinya seorang penyihir. Namun saat dirinya berbalik dan melihat siapa yang telah menepuk pundaknya kali ini, seketika ekspresi seperti ingin menangis terlihat pada wajah Opium.


 


 


“Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu setelah melihat wajahku,” ujar Odo Luke yang baru saja kembali.


 


 


Tampak lebih dekil dan kusam daripada orang-orang di tempat tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke itu juga memperlihatkan mimik wajah sangat muram. Tanda dirinya sama sekali tidak tidur semalam dan melakukan banyak hal sampai-sampai membuatnya benar-benar kelelahan.


 


 


“A-Anda pasti cepak, bukan?” Opium tidak menyerah untuk mendapat waktu istirahat meski hanya satu menit, ia segera memasang senyum kaku dan membujuk, “Bagaimana kalau Tuan Odo istirahat dulu sebelum berangkat …?”


 


 


“Tentu saja, lagi pula aku ini bukan monster kejam.” Odo mengeluarkan karung dari dimensi penyimpanan pada sarung tangan, lalu meletakkannya ke atas tanah dan berkata, “Lagi pula, kalian semua belum makan dari kemarin, ‘kan? Aku tadi sempat memburu kelinci untuk dijadikan sarapan.”


 


 


Odo membuka karung, menunjukkan kelinci yang sudah dikuliti dan siap diolah langsung untuk bahan makanan. Ia juga mengeluarkan stoples berisi olahan bumbu dapur yang siap digunakan, lalu meletakkannya di dekat lima potong daging kelinci di dalam karung.


 


 


“Baiklah, Tuan Odo silahkan istirahat dulu. Biar saya yang mengolahnya ….” Canna mengambil inisiatif, ia membungkuk dan membungkus kembali bahan makanan supaya tidak didatangi serangga. Perempuan itu juga mengambil stoples berisi bumbu dan meletakkannya di atas kain selimut dan karung, lalu membawanya sekaligus. Sembari menatap Odo dan memasang senyum tipis, perempuan itu pun bertanya, “Tuan Odo tidak keberatan kalau hanya dibakar, ‘kan?”


 


 


“Tidak apa. Selama kau tidak mencampur daging kelinci itu dengan babi atau reptil, aku tidak ada permintaan khusus soal makanannya,” jawab Odo dengan nada lemas.


 


 


“Baiklah!” Perempuan itu segera membawa bahan makanan ke depan api unggun yang telah padam. Mengetahui sudah tidak ada ranting yang tersisa, ia menoleh ke arah Opium dan meminta, “Bisa tolong kamu cari ranting dulu, Opium? Kalau terlalu lelah, kamu bangunkan saja Huang dan Nona An untuk membantu.”


 


 


“Eeeh? Saya sudah sangat mengantuk loh, Kak Canna jahat,” keluh Opium dengan manja.


 


 


Mendengar perkataan itu, Odo berdiri tegak di belakang Opium dan mulai menatap dengan sorot mata gelap. Seakan-akan ia marah kepada penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut.


 


 


Merasakan aura menakutkan dari belakang, tubuh Opium seketika gemetar dan perempuan itu pun langsung berhenti cengengesan. Ia dengan patuh mengangguk, lalu berjalan ke arah Huang dan An untuk membangunkan mereka.


 


 


“Untuk beberapa hal dia seorang pemberani …, atau malah bodoh?” Odo pindah menatap ke arah Canna yang sedang mengolah bahan makanan, lalu dengan nada datar bertanya, “Anak itu begadang, ya?”


 


 


“Hmm ….” Canna hanya mengangguk, ia juga bingung harus memberikan penjelasan seperti apa untuk membela yuniornya.


 


 


Odo menghela napas panjang, melangkahkan kakinya menuju Canna dan mengambil kantung air dari dimensi penyimpanan. Meletakkannya di atas kepala perempuan itu, Odo dengan lesu berkata, “Pakai air ini untuk mencuci tanganmu dulu, lalu cuci juga bahannya sebelum diolah.”


 


 


“Eng?” Canna mengambil kantung air yang terbuat dari kulit hewan tersebut, lalu menoleh dan merasa kalau itu sebaiknya digunakan untuk minum.


 


 


Namun sebelum perempuan itu menyampaikan apa yang ada di benak, Odo dengan cepat berkata, “Ada satu kantung lagi untuk minum, pakai saja itu.”


 


 


“Baiklah ….” Canna membuka penutup kantung yang terbuat dari kayu, lalu mencuci tangannya dan daging kelinci sebelum diolah.

__ADS_1


 


 


Setelah mengambil selimut yang tadi malam digunakan oleh Canna, Odo berbalik ke arah Huang dan An yang sudah dibangunkan. Kedua orang kekaisaran itu pun langsung memperlihatkan kewaspadaan. Namun, Odo tidak memedulikan mereka dan langsung duduk bersandar pada batang pohon yang melintang. Sembari mengenakan selimut, Putra Tinggal Keluarga Luke itu meringkuk dan perlahan memejamkan matanya dengan damai.


 


 


Layaknya seorang pemimpin, Opium meletakkan kedua tangan ke pinggang dan dengan nada sedikit angkuh berkata, “Apa yang kalian lakukan, ayo cepat bantu saya cari ranting kering! Saya juga mau tidur!”


 


 


Mewakili Tuannya yang masih sedikit trauma setelah kejadian semalam, Huang segera berdiri dan berkata, “Terima kasih sudah berjaga semalam, Nona Opium. Biarkan saya saja yang mencari ranting, soalnya Nona An masih ….”


 


 


“Be-Benarkah?!” Seketika Opium tampak berkaca-kaca, lalu dengan nada malu-malu namun mau ia pun berkata, “Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Akan saya terima kebaikan Anda dan⸻!”


 


 


Perkataan sang penyihir rambut cokelat kemerahan itu terhenti. Tatapan yang diberikan Odo benar-benar membuat tubuhnya gemetar, seakan dilihat telanjang bulat olehnya.


 


 


“Ke-Kenapa dia marah? Bukannya sudah tadi katanya sudah lelah dan mau tidur?” benak Opium dengan wajah pucat.


 


 


Merasa tidak ingin membuat Odo mengungkit masalah kristal sihir, Opium tertawa kecil dan sembari kembali menatap lawan bicaranya berkata, “Sa-Saya rasa tidak usah. Saya juga akan membantu Anda, Tuan Huang. Supaya cepat selesai ….”


 


 


“Ba-Baiklah ….” Huang tampak bingung melihat perubahan ekspresi perempuan itu.


 


 


Pada akhirnya, Opium pun membantu mencari ranting yang ada di dalam susunan pelindung. Sedangkan untuk Huang sendiri, stamina yang sudah pulih membuatnya dengan semangat membantu mencari ranting belasan kali lebih semangat dari Opium.


.


.


.


.


 


 


Sekitar setengah jam lebih berlalu, mereka berkumpul di dekat api unggun yang sudah dinyalakan dan menunggu sarapan matang. Metode yang dipakai oleh Canna untuk mengolah daging berbeda dengan apa yang dirinya katakan kepada Odo, ia tidak membakarnya dan lebih memilih untuk memanggang.


 


 


Setelah membungkus daging olahan menggunakan dedaunan hijau, Canna menggali lubang dangkal dengan sihirnya. Setelah itu, daging pun dipendam dan di atasnya ditutupi ranting kering sebelum pada akhirnya dinyalakan sebagai api unggun untuk mematangkan daging. Memang cara tersebut tergolong lebih memakan waktu daripada dibakar secara langsung, namun karena beberapa alasan Canna lebih memilih metode tradisional tersebut.


 


 


Selain karena An Lian yang tidak bisa mengunyah daging dengan benar karena masih belum pulih sepenuhnya, metode pengolahan itu juga dipilih Canna karena ingin memberikan waktu istirahat lebih lama kepada Odo dan Opium.


 


 


Saat api sudah padam dan hanya tersisa bara yang menyala merah, Huang membongkar api unggun dan mengeluarkan masakan yang ada di bawahnya. Mereka menggelar kain-kain yang kemarin malam digunakan sebagai selimut, lalu dijadikan sebagai tempat untuk mereka duduk dan meletakkan makanan yang telah masak.


 


 


Ketika daun pembungkus dibuka, seketika semerbak aroma sedap rempah-rempah dan daging tercium kuat. Itu membuat perut An berbunyi, lapar yang sebelumnya ditahan perempuan itu tidak bisa terbendung lagi sampai-sampai air liur sedikit mengalir keluar dari mulut. Huang yang duduk di sebelah Tuannya itu pun memperlihatkan reaksi yang sama, ingin segera mencomot daging dan menikmatinya.


 


 


Melihat gelagat kedua orang kekaisaran tersebut, Canna yang sedang membuka bungkus sedikit menghela napas. Paham kalau mereka sudah sangat kelaparan sampai-sampai tidak bisa menyembunyikan hal tersebut.


 


 


Setelah Canna selesai membuka bungkus daun, Opium yang seharusnya sedang tidur malah duduk di sebelahnya. Penyihir rambut putih uban tersebut sempat terkejut, lalu sekilas melirik ke arah yuniornya itu sembari memasang mimik wajah heran.


 


 


Opium bernapas dengan berat, perlahan membuka mulut dan tampak seperti hewan kelaparan yang tidak sabar untuk menyantap sarapan. Tidak bisa menahan godaan aroma hidangan saat perut sedang kosong, perempuan rambut cokelat kemerahan tersebut pun mengulurkan tangan untuk mengambil salah satu potong daging yang ada.


 


 


Tetapi, tentu saja Canna melarang dan menepuk tangan perempuan itu untuk menghentikannya. Sembari menatap tajam, sang penyihir rambut putih uban menegur, “Tak usah tergesa-gesa, Opium. Nanti juga kamu kebagian ….” Canna mengelus dada, lalu sejenak memejamkan mata dan kembali bertanya, “Bukannya tadi kamu bilang sangat mengantuk? Kenapa sekarang malah semangat sekali?”


 


 


 


 


“Yakin kamu sudah puas tidurnya?” tanya Canna memastikan. Ia menajamkan tatapan sampai kening mengerut, lalu sembari mendekatkan wajah kembali berkata, “Jangan sampai di tengah jalan nanti malah mengeluh, ya.”


 


 


“Hmm ….” Opium menurunkan telunjuk, lalu dengan penuh semangat menjawab, “Tentu saja tidak!”


 


 


“Terserah kamu saja ….”


 


 


Canna memalingkan pandangan, kembali menghela napas sejenak dan berusaha sabar meladeni sifat yuniornya yang terkadang menyebalkan. Saat Canna sejenak memejamkan mata, Opium hendak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil daging kelinci. Tetapi sebelum bisa melakukan hal itu, Canna menepuk tangan perempuan itu dengan keras.


 


 


“Aduh ….”


 


 


“Kamu ini ….” Kesabaran Canna mulai habis, ia langsung mencubit pipi Opium dan dengan nada kesal berkata, “Kalau sudah tidak sabar, sana bangunkan Tuan Odo!”


 


 


“E-Eh?! Kenapa saya!”


 


 


“Aku sudah bangun, kok.”


 


 


“Uwah!! Siapa?!”


 


 


Opium seketika terkejut mendengar suara Odo dari belakang, lalu ia pun segera menoleh dengan panik. Saat melihat Odo berjongkok di belakangnya, wajah Opium dengan cepat memucat dan terdiam tanpa bisa cengengesan lagi seperti saat berbicara dengan Canna. Ia pun berhenti menoleh, menundukkan kepala dan terdiam membisu.


 


 


“Anda sudah bangun ya, Tuan Odo. Mari duduk dulu, sarapannya sudah matang.” Canna sedikit geser dan memberikan ruang untuk pemuda rambut hitam tersebut duduk, lalu sembari melempar senyum berkata, “Saya cukup percaya diri dengan masakan ini, loh. Mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan masakan Tuan Odo, namun saya rasa ini cukup untuk mengenyangkan perut Anda.”


 


 


“Tidak usah, kalian makan saja semua ….” Odo menjawab dengan cepat. Pemuda itu hanya menatap datar ke arah masakan yang telah disiapkan Canna, lalu dengan nada muram bertanya, “Bukannya tadi kamu bilang mau dibakar? Tapi kenapa malah ….”


 


 


“Eh?” Canna segera berdiri, lalu sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada perempuan itu pun bertanya, “Apa Anda tidak suka kalau dipanggang?”


 


 


“Bukan itu ….” Odo menatap ke arah Huang, sedikit memperlihatkan mimik wajah terganggu dan menghela napas kecil. Kembali menatap ke arah Canna, pemuda rambut hitam itu bertanya, “Selain bumbu yang aku berikan, kau menambahkan sesuatu?”


 


 


“Eh?” Canna terkejut, sedikit memalingkan pandangan dan dengan lirih menjawab, “Iya, tadi Huang menambahkan bumbu instan khas kekaisaran. Katanya supaya cocok dengan mulut Nona An.”


 


 


“Bumbu apa?”


 


 


“Bumbu sambal.”


 


 


Odo kembali menatap ke arah Huang, lalu dengan ekspresi kesal bertanya, “Sambalnya ada bahan minyak dan lemak babi, ‘kan? Lalu, di dalamnya ada juga sayur fermentasi yang sudah mengandung alkohol tinggi, ‘kan?”


 


 

__ADS_1


“Tentu saja ada!” Huang sama sekali tidak peduli dengan ekspresi kesal Odo. Demi-human tipe serigala itu tidak memperlihatkan tanda-tanda menyesal, lalu dengan niat memprovokasi malah memasang ekspresi meremehkan dan berkata, “Berbeda dengan orang-orang Ungea yang pakai zaitun, orang-orang kekaisaran sering menggunakan minyak babi untuk masakan. Untuk alkohol, saya rasa itu bukan masalah, bukan? Ah, kalau tidak salah Anda masih anak-anak, ya. Meski penampilan Anda seperti itu ….”


 


 


Odo mengerutkan kening setelah mendengar jawaban itu. Menggaruk bagian belakang kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun berkata, “Kalian makan saja semua, tidak perlu disisakan untukku ….” Tidak berkata lebih dari itu, pemuda rambut hitam tersebut berjalan ke arah batang pohon yang melindang dan duduk di atasnya. Ia hanya menatap, memasang mimik wajah datar dan kembali berkata, “Apa yang kalian tunggu, makan saja ….”


 


 


Kesal melihat Odo tidak menghargai masakan Canna, Huang bangun dari tempat duduk dan menatap lurus ke arah pemuda rambut hitam itu. “Apa masakan ini tidak sesuai dengan mulut seorang bangsawan? Aku paham kau kuat, tapi tetap saja paling tidak kau harus makan untuk mengisi tenaga!” ujar Demi-human tipe serigala tersebut.


 


 


“Kau dengar perkataanku tadi?” Odo menghela napas, lalu ia pun menyilangkan kaki layaknya seorang bos. Sembari memasang senyum merendahkan pemuda itu pun berkata, “Aku tidak bisa memakan babi. Entah itu minyak ataupun olahan lain, aku tidak mau memasukkan itu ke mulutku.”


 


 


“Bedebah …!”


 


 


Berbeda dengan Huang yang terprovokasi dengan muda, saat mendengar ucapan tersebut Canna malah teringat tentang perkataan Odo beberapa saat yang lalu. Perempuan rambut putih uban tersebut juga kembali mengingat-ingat tentang kabar bahwa Odo Luke tidak suka daging babi, bahkan ketidaksukaan tersebut sampai membuat para pelayan di Kediaman Luke harus menghapus makanan berbahan baku babi di menu mereka.


 


 


“Su-Sudah, Huang. Kalau Tuan Odo tidak mau, itu tidak masalah,” ujar Canna.


 


 


“Tapi! Anda sudah membuat ini susah payah. Orang yang tidak menghargai makanan harus ditegur⸻!”


 


 


Sebelum Huang menyelesaikan perkataan, ia seketika terdiam setelah melihat Opium sudah mulai mengutil makanan dan mulutnya sudah belepotan bumbu.


 


 


“Kamu ini!” Canna ikut memergoki Opium, lalu sempat mengedutkan kening dan langsung memukul ubun-ubun kepala yuniornya itu.


 


 


“Ach!” Meski kesakitan, Opium tetap mengunyah daging yang sudah digigit dan dengan mulut penuh berkata, “Tuan Odo … sudah bilang begitu …, ayo … makan keburu dingin.”


 


 


Canna menghela napas, kembali mengelus dada. Sembari menggelengkan kepala, perempuan rambut putih uban tersebut dengan nada lelah bergumam, “Kamu kenapa, sih? Apa para Ogre memukul kepalamu dengan keras sampai-sampai sikap kamu jadi aneh?”


 


 


“Yang memukul kepala saya seharian ini hanya Kak Canna, kok.”


 


 


“Sudahlah ….” Canna kembali duduk, lalu tanpa membuang waktu langsung mengambil salah satu potong daging dan menggigitnya dengan kasar. “Ayo, Nona An! Makan keburu habis,” ujar perempuan itu tanpa memedulikan kesopanan lagi.


 


 


An yang kelaparan pun segera mengambil satu potong, lalu menggigit daging yang memiliki tekstur sangat empuk tersebut. Bagi dirinya yang masih belum pulih sepenuhnya, menelan daging kasar memang sulit. Namun, tekstur daging kelinci yang dimasak dengan cara dipendam di bawah kobaran api sangatlah lembut. Itu sangat mudah hancur saat dikunyah, lalu ditelan masuk melewati tenggorokan dengan lembut.


 


 


“Enak ….” Satu kata tersebut keluar dari mulut An setelah mencicipi daging kelinci.


 


 


“Benar, ‘kan?” ujar Opium setelah menghabiskan satu potong. Sembari mengambil potongan lagi, perempuan rambut cokelat kemerahan itu kembali berkata, “Meski terlihat seperti orang yang tidak biasa di dapur dan terkesan seperti Nona Muda, masakan Kak Canna sangat enak! Waktu di asrama Kak Canna juga sering masak buat saya!”


 


 


Canna tersinggung mendengar itu, lalu sembari melirik tajam bertanya, “Apa maksudmu itu, Opium?”


 


 


“Ma-Maksud saya, Kak Canna itu memang pandai memasak. Sayang sekali Tuan Odo tidak mencobanya.”


 


 


“Huh ….”


 


 


Canna hanya menghela napas, lalu dengan mimik wajah jengkel kembali menggigit daging kelinci. Meski Opium sudah mulai potongan kedua dan An sudah hampir menghabiskan satu potongan, perempuan rambut putih uban tersebut baru menggigit dua kali makanannya.


 


 


Melihat mereka bertiga sudah mulai menyantap sarapan, Huang pada akhirnya menyerah untuk membujuk Odo dan segera duduk. Ia mengambil satu potong daging, lalu langsung memakannya sekaligus dengan mulut besarnya.


 


 


Setelah itu, mereka berempat pun menyantap sarapan sembari diiringi canda dan obrolan kecil. Membahas beberapa topik ringan seperti keseharian Opium dan Canna saat di asrama sekolah Akademi Sihir di Miquator, lalu dilanjutkan dengan beberapa hal terkait pengalaman An Lian saat berdagang ke penjuru Kekaisaran Urzia.


 


 


Melihat An dan yang lain bisa tersenyum meski bencana mengenaskan baru saja menimpa mereka, Odo hanya menatap datar dan dalam benak merasa lega.


 


 


Ia pada saat itu paham kalau mereka bisa menjadi teman baik. Meski tanpa musibah yang menimpa rombongan, keempat orang tersebut pasti bisa saling membuka hati satu sama lain dan tertawa bersama. Bahkan mungkin lebih riang lagi.


 


 


“Yah, untuk saat ini pekerjaanku sudah selesai. Aku rasa … sembari mengantar mereka semua, menikmati perjalanan tidak terlalu buruk,” gumam Odo sembari mendongak ke atas. Melihat keluar lapisan susunan pelindung, ia sejenak memejamkan mata kembali bergumam, “Aku paham ini hanya sementara, Seliari.


 


 


Odo dengan cepat mengingat apa yang telah dirinya lakukan semalam. Membantai sarang-sarang monster yang kebanyakan memiliki mutasi, membinasakan mereka dan menyisakan beberapa kawanan yang lemah untuk dibasmi rombongan Mylta yang dipimpin Lisia. Sebuah pekerjaan membosankan yang harus dilakukan karena telah memulai rencana yang menyusahkan.


 


 


Odo paham, pemandangan dunia yang dirinya lihat berbeda dengan yang dilihat Canna dan yang lain. Perbedaan itu membuat persepsi pun tidak akan sama, memberikan batas dan pemahaman pada diri mereka sendiri.


 


 


“Aku tidak akan bisa hidup seperti dirinya. Ia juga tidak akan bisa hidup seperti diriku,” ujar Odo kepada dirinya sendiri. Ia menyimpan kalimat itu dalam-dalam di benak, hanya mengeluarkan hela napas kecil ke udara.


 


 


Mimik wajah pasrah mulai tampak, bercampur sedih karena tidak bisa menikmati kehidupan kedua yang didapat. Memang ada waktu dimana Odo bisa bertingkah bodoh dan mengikuti perkataan hati, namun itu hanya berlangsung sampai dirinya mengetahui kebenaran dunia.


 


 


Apa yang bisa Odo lakukan sekarang hanyalah terus melangkah, mengikuti jalan yang sudah dibuat oleh mereka yang mempercayakan masa depan kepadanya.


 


 


Raja Iblis Kuno yang berhadap keberlangsungan dunia yang lebih baik, melakukan segala cara meski harus dicap sebagai penjahat abadi.


 


 


Para Korwa yang mengharapkan kedatangan Unsur Hitam, dengan tulus hanya berhadap ingin bertemu dengan sosok yang mereka sebut Ayahanda.


 


 


Lalu ….


 


 


Mahia yang selalu menemani, bahkan sebelum Odo mengingat kembali salah satu Ciptaannya tersebut.


\===============


Catatan :


 


 


Selanjutnya akan ada perubahan pada sudut pembawaan cerita.


 


 


Jujur, dampak hiatus banyak pada alur cerita ini.


 


 


See You Next Time!


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2