
ↈↈↈ
Terbakar dalam kobaran, mengubah malam gelap menjadi merah menyala. Dipenuhi air mata serta rintihan, sebuah momen pembantaian tanpa makna dan tujuan. Meratakan segalanya dalam kegilaan tunggal, meninggalkan luka abadi yang takkan pudar.
Menegakkan tubuh layaknya menara penghancur, sosok The Great Sea Serpent tersebut menyemburkan api biru dari mulut. Membakar ladang, ternak, kebun, rumah, dan semua orang yang tinggal di sana.
Tanpa pandang bulu, hanya mengikuti insting layaknya binatang.
Mengikuti watak buruk yang diturunkan oleh leluhur, ganas dan binal menindas layaknya penindas. Bukan untuk memuaskan hasrat lapar ataupun pengaruh dari kehendak seseorang, hanya ingin menghancurkan dan mengamuk.
Ladang, ternak, dan desa⸻
Segalanya terbakar dalam hitungan detik. Bangunan menjadi arang menyala, orang-orang di dalam dan sekitarnya pun berubah menjadi daging gosong. Desa yang sebelumnya baik-baik saja seketika lenyap, berubah menjadi lautan api di tengah kegelapan malam.
Ibu yang memeluk anaknya dengan erat, orang tua yang tidak sempat lari, anak muda yang berusaha menyelamatkan orang lain⸻
Tidak ada yang berbeda. Semuanya hangus dalam kobaran. Terpapar menyala napas api biru pudar, berubah menjadi arang dan abu dalam hitungan detik.
Menikmati pembantaian itu, Putri Naga mulai tertawa riang dalam wujudnya yang perkasa. Melihat daratan layaknya kotak pasir di taman, meratakan seluruh hasil peradaban hanya dengan melata di sana.
Kegilaan itu tidak berakhir dengan satu desa saja. Sebelum kobaran api padam dan malam berganti, Naga Agung mulai bergerak menuju tempat yang menjadi pusat peradaban di daratan.
Ibukota Kerajaan Umat Manusia, berjarak puluhan mil dari wilayah perbatasan.
Tawa dan raungan mengiringi perjalanan, bagaikan mimpi buruk bagi siapapun yang mendengarnya. Saat orang-orang dari kejauhan melihat Leviathan, mereka hanya bisa menganga tidak percaya.
Mengira itu adalah gunung yang bisa berjalan, datang untuk meratakan mereka semua.
Takut, sedih, dan murka. Hanya dalam satu malam, berbagai macam emosi menyelimuti hati semua orang. Mereka segera membentuk pasukan, lalu menyerang Leviathan dan berusaha menghentikannya.
Namun, itu berakhir percuma. Di hadapan The Great Sea Serpent, mereka tidak lebih dari sekumpulan semut. Dilibas hanya dengan lewat, bahkan tidak perlu melirik atau bahkan berhenti.
Sebelum matahari terbit, empat kota telah lenyap dari peta.
Beberapa gunung berubah bentuk, bukit hancur diterjang, dan hutan lenyap dilindas.
Beberapa sungai menghilang, sedangkan danau dan rawa berubah menjadi kubangan kering. Bahkan, kandungan air di dalam tanah dan tumbuhan pun sampai habis tak tersisa. Dihisap oleh kulit Leviathan saat dirinya melintas.
Sebelum mentari mencapai puncaknya, belasan desa lenyap dari daratan. Tanpa bangkai ataupun puing-puing, sepenuhnya hancur dilibas dan hilang terserap kulit Leviathan. Membuat daratan yang dilaluinya berubah menjadi tandus.
Saat tengah hari, barulah kabar tersebut sampai ke Istana Langit. Membuat semua Makhluk Primal di sana terkejut, panik dan tidak percaya dengan apa yang dilaporkan perwakilan mereka.
Sayangnya, mereka tidak bisa langsung turun dan menghentikan Leviathan. Mempertimbangkan segala hal yang sedang Istana Langit bangun di antara manusia, Keluarga Naga Agung segera menggelar pertemuan.
Melakukan musyawarah, mempertimbangkan keputusan sebaik mungkin. Dalam rapat yang berjalan cukup singkat tersebut, mereka pada akhirnya memutuskan untuk mengubur kebenaran bersama Leviathan.
Menganggap bahwa Serpent yang mengamuk di daratan bukan bagian dari mereka, hanya monster liar yang datang dari wilayah Iblis. Menyalahkan alam atas apa yang menimpa umat manusia dan daratan.
Keputusan itu sangat kompleks⸻
Itu diambil bukan hanya karena ingin menjaga citra Istana Langit, namun juga faktor-faktor lain seperti relasi dengan penduduk langit dan Raja Iblis. Supaya tidak menyulut konflik berkelanjutan, menjaga perjanjian dan kontrak yang ada.
Lokasi kemunculan Leviathan terlalu bermasalah karena berada di wilayah perbatasan. Arah pergerakan dan apa yang ditimbulkan The Great Sea Serpent itu tidak bisa dianggap remeh.
Jika hal tersebut dianggap sebagai tanda-tanda kiamat oleh penduduk langit, maka itu bisa juga menjadi alasan Raja Iblis untuk melanggar kontrak.
__ADS_1
Mempertimbangkan garis keturunan Keluarga Naga Agung, keputusan itu memang sangat berat. Meski pihak Istana Langit memiliki Tiga Penerus, mereka tidak bisa membiarkan Leviathan dibunuh oleh pihak lain.
Bukan untuk harga diri, menjaga citra, atau bahkan mempertahankan legalitas kekuasaan. Namun, karena Ketiga Putri Naga tersebut adalah harapan Makhluk Primal.
Garis keturunan terakhir sebelum waktu perjanjian datang, puncak struktur genetik yang bisa dicapai Keluarga Naga Agung.
Karena itulah, mereka ingin mengubur kebenaran dan memalsukan kematian Leviathan. Supaya penduduk langit dan Raja Ibis tidak bisa menuntut mereka atas kekacauan yang terjadi.
Hal tersebut berhubungan erat dengan kecepatan evolusi Makhluk Primal yang sangat tidak wajar. Ingatan genetik, insting, dan sifat yang tertanam itu membimbing mereka pada kesimpulan akhir. Memerintahkan mereka untuk melindungi ketiganya apapun yang terjadi.
Keputusan diambil dalam musyawarah, mereka memilih untuk mengorbankan banyak hal demi menyelamatkan Leviathan. Untuk harapan dan masa depan Makhluk Primal, bertaruh pada persimpangan zaman yang sedang berlangsung.
Mereka bersiap, segera mengumpulkan pasukan dan menyusun strategi untuk menyelamatkan Leviathan. Namun, sekali lagi peristiwa mengejutkan terjadi. Kali ini bukan melalui kabar mulut, namun langsung di hadapan mereka semua.
Untuk pertama kalinya, Seliari menggunakan Transformasi Naga di hadapan mereka.
Bukan dalam bentuk perubahan inferior, namun wujud sejati di mana dirinya ingin menggunakan seluruh kekuatan. Bentuk asli tanpa kekangan, layaknya orang yang selalu membungkuk akhirnya mampu berdiri tegak.
Istana Langit sampai berguncang kencang, bahkan hampir jatuh menimpa pemukiman manusia yang ada di bawah. Ukurannya hampir dua puluh kali lebih besar dari Naga Agung yang sudah dewasa, bahkan sampai melebihi ukuran Istana Langit itu sendiri.
Tanpa memberikan penjelasan kepada yang lain, Naga Agung berwarna hitam pekat itu mengepakkan sayapnya. Menciptakan badai di langit, lalu terbang menuju ke tempat Leviathan. Berniat untuk menghentikan sang adik sendiri sebelum disentuh oleh pihak lain.
Pertarungan mereka berlangsung singkat. Seperti hujan deras yang turun, kehancuran datang dan lewat begitu saja. Tanpa bisa dicegah, hanya terjadi pada momen dan tempat tersebut.
Mangsa dan pemangsa.
Langit dan lautan.
Serpent dan Naga.
Layaknya elang raksasa yang menerkam ular liar, Naga Hitam langsung mencengkeram tubuh Leviathan dengan kedua kakinya. Menyobek sisik dan kulit keras sang Serpent menggunakan cakar tangan, lalu kepala digigit sampai kulitnya terkelupas.
Diinjak-injak layaknya kain keset, lalu dagingnya pun dibakar dengan api biru supaya tidak bisa pulih kembali.
Daging berceceran, darah membasahi daratan dan mengisi sungai-sungai. Hanya dalam hitungan menit, malapetaka berjalan itu berhasil ditaklukkan. Biru mulai berlumur warna merah pekat, lalu hitam pun tampak semakin gelap dengan darah di sekujur tubuh.
Setelah tubuh Leviathan berhenti bergerak, Naga Hitam menggigit kepala mangsanya. Menarik keluar sebuah kristal yang menjadi inti Leviathan, lalu menelannya bulat-bulat sebelum dilihat oleh pihak lain yang mulai berdatangan.
Menyembunyikan fakta bahwa The Great Sea Serpent itu adalah Putri Naga, anggota dari kubu Istana Langit. Membuat tragedi itu menjadi bias, tanpa ada pihak yang bisa disalahkan dan dianggap sebagai bencana alam.
Namun, penduduk langit melihatnya sebagai hal yang berbeda. Mulai memberikan tekanan atas kekacauan yang terjadi di daratan, lalu pada akhirnya menunjuk beberapa perwakilan dari penyembah Iblis untuk ikut serta dalam menjaga keseimbangan.
Pada akhirnya, hal tersebut memberi kesempatan kepada Raja Iblis Kuno untuk masuk ke dalam Istana Langit. Mengadakan diplomasi pertama ‘mereka’ bersama Keluarga Naga Agung dan Makhluk Primal, mewakili seluruh pengikutnya untuk meminta pengakuan atas legalitas wilayah dan ketentuan perbatasan.
Sejak peristiwa itu, dunia sepenuhnya terbagi menjadi tiga kekuasaan mutlak. Menjaga keseimbangan dengan ideologi masing-masing, menanamkan akar kekuasaan dan memperbanyak pengaruh dengan menambah jumlah penganut.
ↈↈↈ
Ruangan tertutup yang gelap⸻
Berisikan puluhan tempat duduk kosong, disusun secara bertingkat layaknya bioskop. Udara dingin dari alat penyejuk memenuhi tempat tersebut, terasa sedikit kering karena kadar air ikut terbuang keluar bersama hawa panas.
Dalam keheningan yang aneh, suara ramai terdengar dari alat pengeras di sudut ruangan. Merambat kencang melalui getaran udara, menggambarkan suasana intens dari peristiwa yang ditampilkan pada layar proyektor.
Bertingkah layaknya seorang pengamat, Odo Luke duduk di barisan kursi paling depan. Menyilangkan kaki dan bersandar santai, memasang ekspresi datar tanpa memberikan komentar. Sesekali menghela napas seakan kecewa dan kesal, namun tidak mengatakannya dan hanya dipendam dalam hati.
__ADS_1
Berada dalam posisi yang sama, Lir duduk tepat di belakang pemuda itu. Dengan potongan tubuhnya yang semakin merapat dan jelas, entitas abstrak tersebut juga tidak memberikan komentar selama menonton. Hanya tersenyum ringan seakan ingin menertawakan, lalu sesekali menahan napas dan mengangguk kecil.
Berbeda dengan mereka, Leviathan merasa seperti sedang diadili. Duduk tepat di sebelah Odo Luke, perempuan rambut perak keabu-abuan itu hanya bisa terdiam memucat. Tidak bisa memberikan penjelasan, pasrah menunggu keputusan yang akan pemuda itu ambil untuknya.
“Kenapa tidak dari tadi saja, huh?” Setelah layar berubah gelap, Odo perlahan menoleh ke belakang dan menatap heran. Memperlihatkan mimik wajah curiga, pemuda rambut hitam itu dengan tegas memastikan, “Kalau kau menunjukkan ini dari awal, kita pasti bisa memangkas waktu dan tidak perlu ada konflik seperti tadi! Benar, ‘kan?”
“Anda sudah tahu jawabannya ….” Lir berhenti bersandar, sedikit mengangkat wajah dan terdiam sejenak. Segera menatap balik, sosok abstrak tersebut mengangguk ringan sembari menyampaikan, “Diriku ingin menyingkirkan Leviathan. Untuk itu, semangat dan hatinya perlu dirusak. Dilemahkan supaya tidak bisa bangkit lagi setelah realitas miliknya hancur.”
“Ah, benar juga. Kau punya rencana bodoh seperti itu ….” Odo berhenti menoleh. Sedikit mendongak dan menatap langit-langit, perlahan tersenyum kecut seperti ingin menertawakan. Sejenak memejamkan mata dan menurunkan wajah, dengan nada malas dirinya bertanya, “Kau punya kemampuan untuk menulis ulang realitas, ya? Dari siapa kau mendapatkan Kode Khusus itu?”
“Untuk sekarang itu tidak penting.” Lir sedikit meninggikan suaranya. Sembari mengulurkan tangan ke depan dan memegang pundak sang pemuda, sosok abstrak itu perlahan mendekatkan mulut dan menegaskan, “Oh, wahai Pendiri~! Tolong berhenti menanyakan sesuatu yang sudah Anda ketahui. Jika pertanyaan tidak berguna itu Anda ajukan untuk memicu Spekulasi Persepsi, sebaiknya hentikan saja. Hasilnya akan selalu nihil ….”
“Kau benar, maaf.” Odo menarik napas ringan, kembali bersandar santai dan mulai meluruskan kedua kaki. Sembari menoleh tipis, pemuda rambut hitam itu melempar senyum kecut dan berkata, “Sudah lama aku tidak berada di ruangan sejuk. Rasanya nostalgia. Santai sambil nonton film sains fiksi. Kalau tidak salah, kastel melayang tadi besarnya hampir kayak pulau bali. Kalau beneran sampai jatuh seru⸻”
“Anda tahu, tempat ini bukan bioskop! Yang tadi kita tonton juga bukan film,” sela Lir. Berhenti mendekatkan wajah dan ikut bersandar, sosok abstrak tersebut dengan nada gusar menegaskan, “Itu menyebalkan. Untuk seorang penyintas, sikap dan cara bicara Anda sangat menyebalkan!”
“Kau benar ….” Odo menarik napas panjang. Sejenak memejamkan mata dengan wajah murung, pemuda itu dengan nada sedih menyampaikan, “Ini memang menyebalkan. Aku sudah hidup terlalu lama untuk hal semacam ini. Aku sudah tua.”
“Hah, benar juga!” Lir bertambah kesal. Bangun dari tempat duduk, entitas abstrak itu segera melangkah pergi dan berkata, “Kalau begitu, saya matikan dulu AC-nya! Bisa gawat kalau Anda masuk angin⸻!”
“Hey! Baiklah, mari bicara!” Odo segera menoleh dan meraih tangan Lir. Sembari menurunkan kedua alis, pemuda itu dengan nada santai berkata, “Jangan judes begitu, lah! Buat ini santai, cobalah rileks sedikit.”
“Anda meremehkan ini! Dan juga, tolong ingat umur! Cara bicara Anda seperti ABG yang sok gaul, tahu!” Lir bertambah kesal. Menarik tangannya dari genggaman sang pemuda, sosok abstrak tersebut kembali duduk dan menggerutu, “Anda menyebalkan! Sifat mulia dan agung Anda benar-benar hilang! Kenapa sih Anda menjadi pembual seperti itu?!”
“Mulut adalah senjata terkuat, sedangkan kalimat merupakan wujud dari kekuatan.” Odo menghadap ke depan, terdiam sesaat sembari memangku kedua tangannya sendiri. Tersenyum tipis dan sejenak memejamkan mata di hadapan layar gelap, pemuda itu tanpa ragu kembali memprovokasi, “Kau tahu, Lir⸻! Fionnuala mac Lir! Semua ini … memang remeh.”
“Apa anda bilang …?!”
Lir langsung terpancing, kembali berdiri dan menatap Odo dengan tajam. Ia lekas mengulurkan kedua tangan ke depan, seakan-akan ingin mencekik pemuda itu sampai mati.
“Semua! Ini! Memang! Remeh!” Sekali lagi Odo menegaskan, tanpa ragu ataupun takut. Berkata dengan nada kuat, tidak menoleh ataupun bergerak dari tempat duduk. “Kau hanya ingin merasa berbeda,” tambah pemuda itu seraya melebarkan senyum tipis.
“Diriku tidak tahu apa yang sebenarnya Anda rencanakan! Namun!” Lir langsung menunjuk Leviathan, lalu dengan wajah nada murka menegaskan, “Dia! Makhluk Primal itu adalah masalah! Dia adalah malapetaka!”
“Benarkah?” balas Odo seakan tidak peduli.
“Benar!!” bentak Lir. Ia lekas menjambak rambutnya sendiri, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan sangat frustrasi. Melangkah melewati tempat duduk, sosok abstrak itu langsung menghadap Odo. Sembari menunjuk ke arah Leviathan, dirinya dengan lantang kembali menegaskan, “Kalau dia mengamuk lagi, seluruh rencana Anda akan hancur! Semuanya akan sia-sia! Mereka adalah hewan buas! Tidak sepatutnya ada dalam rencana!”
“Rencana siapa yang kau maksud?” Odo memiringkan kepala, sedikit melebarkan senyum kaku dan memastikan, “Aku? Helena? Atau malah … Mahia?”
“Tentu saja rencana Anda, wahai Pendiri!” Lir menjawab dengan tegas dan lantang.
“Hmm, loyal sekali kau ini! Aku memang menciptakan kalian, namun seharusnya tidak ada satupun program untuk setia seperti itu ….” Odo memalingkan pandangan. Menyangga kepala dengan punggung tangan, pemuda rambut hitam tersebut menahan napas sejenak dan kembali berkata, “Asalkan tugas tercapai, kalian bebas mengambil keputusan yang paling efektif.”
“Kami belajar dari kesalahan!” Lir tidak bisa tenang, wujudnya pun mulai terpencar kacau. Berusaha meyakinkan diri dan merapatkan seluruh potongan tubuh, entitas abstrak itu lanjut menyampaikan, “Kemandirian hanya akan membawa kehancuran …!”
“Kalau kau memahami itu, kenapa susah-susah ingin membujuk aku?” Odo kembali mengelak, menjauh dari topik pembicaraan yang ingin dibahas Lir. Bertepuk tangan sekali dan mengangguk ringan, pemuda itu lekas memberikan tatapan tajam dan bertanya, “Menunjukkan dosa-dosa Leviathan, lalu ingin berkata bahwa dia tidak pantas? Sebenarnya apa yang kau inginkan?”
Lir langsung terdiam, berhenti menunjuk Leviathan dan membisu. Sekilas memalingkan pandangan, sosok abstrak itu dengan dingin menjawab, “Tidak ada ….”
“Katakan.” Odo menekan, sembari tersenyum ringan dan ramah.
Lir memalingkan wajah, enggan menatap mata lawan bicaranya. Sembari melangkah mundur, sosok abstrak itu kembali mengelak, “Sungguh, tidak ada ….”
“Katakan!!” Odo langsung membentak, membuat Lir dan Leviathan tersentak.
__ADS_1
“Sa-Saya ….” Lir memberanikan diri untuk menatap balik. Sembari mendekat, sosok dengan suara gemetar sosok abstrak itu menyampaikan, “Saya hanya tidak ingin Anda membuat pilihan yang sama seperti waktu itu!”
“Waktu itu?” Odo sedikit bingung, memiringkan kepala dan kembali bertanya, “Apa yang kau maksud?”