Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[113] Flamboyan Akhir Zaman II - Uncrowned King (Part 03)


__ADS_3

“Bu-Bukan!! Ka-Kami datang hanya untuk menjemput Anda ….”


Yue Ying menjawab dengan cukup ramah. Namun, perempuan itu tidak menonaktifkan struktur sihir miliknya. Tetap membidik Odo dengan lusinan sihir api tingkat lanjut, menjaga tujuh lapisan sihir barikade yang tersisa, lalu tetap bersiaga sembari memegang tongkat Gohei.


“Menjemput?” Odo mengerutkan kening, berhenti melangkah sembari menghela napas panjang. Memperlihatkan wajah kesal, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Serius kalian bicara seperti itu? Tepat setelah mengacaukan tempat ini?”


Odo perlahan menoleh ke arah ruang tamu, kembali terhenti saat melihat kekacauan yang ada di dalam sana. Mulutnya sempat terbuka karena tergemap, namun tertutup lagi tanpa mengatakan apa-apa.


Melihat orang-orang yang terkapar di dalam tempat tersebut, Odo kembali menghela napas sembari menatap Yue Ying. Mengintimidasi, mengangkat pedangnya ke depan seakan menuntut penjelasan. Meski tahu dan paham apa yang telah terjadi, pemuda rambut hitam itu masih tetap ingin mendengar alasannya.


“Ka-Kami tidak membunuh mereka!” Yue Ying segera menjelaskan, memperlihatkan mimik wajah cemas dan menonaktifkan seluruh struktur sihir penyerangan. Seluruh susunan Rune di sekitar perempuan itu mulai padam, lalu talisman yang melayang pun kembali ke telapak tangannya. Menunjukkan sikap kooperatif dan ramah, ia dengan suara lantang menambahkan, “Mereka hanya tidak sadarkan diri! Kami tidak membunuh mereka!”


“Ya, tapi mereka sekarat ….” Odo sekilas berbalik, menatap Laura dan Magda yang masih berdiri di depan pintu utama. “Tolong panggilkan Vil sebentar!” pintanya dengan tegas.


“Eh?” Laura tersentak, enggan menoleh dan malah menyenggol Magda seakan ingin melempar permintaan itu kepadanya.


“Enggak mau …! Letnan saja sana!” balas Magda. Sekilas melirik ke belakang, lalu lekas berjalan masuk ke dalam Mansion sembari bergumam, “Saya tidak mau mati dipenggal.”


“Hey …! Magda⸻!”


Saat kedua Elf tersebut ribut, Vil berjalan melewati mereka. Masuk ke dalam lobi Mansion, lalu menggelindingkan kepala prajurit yang telah dirinya habisi di depan. Darah berceceran mewarnai lantai marmer, membawa teror untuk mereka yang masih hidup.


“Kenapa kau membawa itu masuk? Kotor ….”


Odo menatap heran, lalu langsung menendang kepala itu dengan keras sampai hancur membentur dinding Mansion. Meninggalkan bekas merah, lalu mengeluarkan aroma amis darah yang menyengat.


Melihat apa yang telah pemuda itu lakukan, Yue Ying dan Mao Lie langsung menganga. Gemetar ketakutan, tampak marah dan tidak terima karena jasad rekan mereka diperlakukan seperti itu.


Ri’aima yang juga melihat hal tersebut ikut tercengang. Meski mulutnya dibekap kencang oleh Mao Lie, perempuan itu mencoba berteriak untuk meminta bantuan.


“Diamlah!” Mao Lie langsung memukul tengkuk lehernya sampai pingsan. “Tch! Dasar ****** sialan,” gumam pedagang gendut tersebut. Ia lekas menyeret Ri’aima ke bawah anak tangga, lalu disembunyikan supaya tidak mudah direbut Odo.


“Anda membunuh mereka?” tanya Yue Ying. Ia langsung menatap tajam, kembali mengaktifkan talisman dan menyiapkan sihir penyerangan tipe api. “Tolong jawab sekarang juga!” bentak perempuan itu dengan lantang.


“Aku tidak membunuh mereka.” Odo menunjuk ke arah Vil yang berdiri di sebelahnya. Memperlihatkan mimik wajah tidak peduli, pemuda rambut hitam itu tanpa ragu langsung menjawab, “Seiren ini yang membunuh mereka ….”


“Ah, benar …. Itu sangat tidak menyenangkan!” Vil membuka telapak tangan kiri, lalu menunjukkan sebuah bola mata manusia sembari lanjut berkata, “Sejujurnya, tatapan mereka sangat menjijikkan. Ini kotor.”


“Dasar sinting!” Yue Ying berteriak keras, Ia tidak terima jasad rekannya dipermainkan seperti itu. Tanpa pikir panjang, perempuan rambut merah darah tersebut langsung melepaskan sihir sembari berteriak, “Kami di sini bukan untuk menumpahkan darah!!”


Meriam api langsung ditembakkan dari kertas talisman, melesat kencang ke arah Vil dari jarak kurang dari lima belas meter. Tepat mengincar dada Siren tersebut.


Bergerak lebih cepat, Vil segera mengangkat telunjuk dan membuat lingkaran sihir. Menciptakan permukaan cermin air di udara, lalu menyerap sihir meriam api. Lenyap layaknya ditelan sebuah danau.

__ADS_1


“Beraninya manusia rendahan sepertimu menyerang diriku!” Vil segera membalik cermin permukaan air, lalu mengarahkannya ke lawan dan berniat mengembalikan serangan tadi. Sembari mengatur struktur sihir untuk dilepaskan, perempuan rambut biru laut tersebut berteriak, “Binasa! Dasar makhluk hina⸻!”


“Oi! Hentikan!”


Odo langsung menepuk lengan Vil, membuat cermin permukaan air kembali berputar dan menghadap ke atas. Sihir api yang tersimpan di dalamnya pun terlepas, lalu menghantam langit-langit dan tembus sampai puncak. Meledak dahsyat di udara sampai orang-orang di kota melihatnya.


“Odo …?” Vil menoleh dengan ekspresi wajah datar, lalu memberikan tatapan heran sembari bertanya, “Kenapa engkau melarang? Manusia itu adalah musuh kita, bukan?”


“Aku akan mengatasi mereka.” Odo menunjuk ke arah Oma dan Agathe yang terkapar di depan ruang tamu. Sembari mengedutkan kening, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas meminta, “Sembuhkan mereka dulu! Kamu cukup ahli sihir pemulihan, ‘kan?”


“Sungguh?” Vil menghela napas, terlihat sedikit resah dan enggan. Ia segera membuang bola mata ke lantai, lalu mengentakkan tongkat dengan keras sembari lanjut bertanya, “Tepat saat musuh masih berdiri di hadapan kita?”


“Iya, tolong sembuhkan mereka dulu.” Odo kembali menegaskan. Ia melempar senyum kecut, lalu dengan nada sedikit kesal berkata, “Kalau dibiarkan terlalu lama, mereka bisa mati. Terutama Agathe ….”


“Hmm?” Vil sedikit bingung. “Bukankah yang paling parah pria tua itu?” tanyanya sembari berjalan ke arah mereka.


“Oma pernah meneguk darahku. Kalau beruntung, dia seharusnya punya daya tahan yang lebih kuat dari orang tua biasa ….” Odo sekilas melirik ke arah anak tangga menuju lantai dua, sepenuhnya menyadari keberadaan Ri’aima. “Jantungnya akan terus berdetak stabil meski dia sekarat,” tambah pemuda itu seraya kembali menghadap Yue Ying.


“Baiklah! Sesuai yang engkau perintahkan, diriku akan mulai dari wanita ini dulu.” Vil berlutut di dekat Agathe, lalu meletakkan tongkatnya ke lantai. Menyentuh tubuh wanita itu dengan lembut, sang Siren mulai menyalurkan Mana sembari menggunakan sihir pemulihan. Sejenak memejamkan mata, ia dengan suara lembut mulai merapal, “Tak ada petaka, tak ada bencana. Segalanya akan kembali seperti semula. Gelap menjadi terang, tatapan bersih pun kembali menuju tempatnya.”


“Baiklah, mari kita bicara dulu.” Odo melempar senyum tipis. Sejenak menghela napas panjang, ia lekas berbalik sembari menurunkan Leviathan. Membaringkan Putri Naga itu di lantai, tepat di sebelah Vil yang sedang menyembuhkan Agathe. Kembali berdiri, pemuda rambut hitam tersebut segera memberikan tatapan datar sembari bertanya, “Kalian ingin menjemput aku, bukan? Memangnya Kaisar mau apa setelah mendapatkan diriku?”


“Anda pikir … situasi ini bisa diselesaikan dengan pembicaraan?” Yue Ying kembali mengeluarkan kertas talisman, lalu mengaktifkan sihir penyerangan tipe api dan membidik. Memberikan tatapan tajam, dengan suara lantang perempuan itu membentak, “Kalian telah membunuh bawahan saya! Nyawa harus dibayar dengan nyawa!”


“Bicara apa kamu ini!” Jenderal Selatan menunjuk lurus. Dengan mata melotot, ia dengan kesal membentak, “Kamu telah menjalin kontrak dengan Roh Agung itu, ‘kan?! Kamu pikir diriku tidak tahu, huh?!”


“Terus?” Odo tersenyum licik. Tidak peduli dengan logika itu, ia dengan tegas meluruskan, “Apapun alasannya, kau takkan bisa menangkap ku sebelum mengalahkan Vil. Karena itulah, di sini aku ingin menawarkan sebuah pembicaraan …!”


“Omong kosong! Kamu pikir diriku⸻?!”


“Nona!” sela Mao Lie. Setelah membaringkan Ri’aima dan menyembunyikannya, pria gendut itu berjalan keluar sembari menyarankan, “Kita ikuti saja permintaannya. Dalam situasi ini, pemuda itu bisa membunuh kita kapan saja ….”


“Kamu meremehkan kemampuan saya?!” Yue Ying langsung kesal, menoleh ke belakang sembari membentak, “Beraninya bawahan sepertimu merendahkan diriku!”


“Saya tidak bermaksud merendahkan Nona Muda.” Mao Lie langsung berlutut. Sembari menundukkan kepala, ia dengan tulus meminta, “Tolong tenangkan diri Anda. Saya tidak ingin Nona terbunuh dalam rencana ini ….”


“Itu benar ….” Odo menggunakan teknik langkah kaki, lalu menyelimuti tubuhnya dengan lapisan Mana tipis dan berjalan melewati sihir barikade. Tanpa mengeluarkan suara, ia mengambil langkah lebar yang lembut. “Kau punya bawahan yang cerdas,” ujarnya seraya menepuk pundak Yue Ying.


“A⸻!” Perempuan rambut merah darah itu terkejut, tidak menyadari Odo mendekat sempai tubuhnya ditepuk. Dengan panik ia langsung meloncat menjauh, lalu mengarahkan lingkaran shir dan mengaktifkannya. “Tch! Dasar monster!” teriaknya seraya menembakkan sihir meriam api.


Tidak menghindar, Odo langsung menangkap sihir tersebut dengan tangan kiri. Diremas sampai hancur, lalu Mana yang terurai pun diserap oleh pedang hitam pada tangan kanannya.


Tepat sebelum kedua kaki Yue Ying mendarat pada lantai, Odo kembali menggunakan teknik langkah kaki untuk mendekat. Menghilangkan jarak yang ada, lalu langsung mencengkeram pergelangan tangan perempuan itu.

__ADS_1


“Kau takkan bisa kabur,” ujar Odo seraya mengaktifkan Aitisal Almaelumat. Sirkuit sihir merah dengan cepat merambat ke tubuh Yue Ying, melalui lengan sampai ke dada sebelah kiri. Meresap melalui kulit, lalu langsung mengekang kemampuan sihirnya. Sembari menarik perempuan itu mendekat, pemuda rambut hitam tersebut lekas memperingatkan, “Jangan melawan ….”


“Lepaskan⸻!” Yue Ying mengeluarkan kertas talisman, berniat melancarkan sihir meriam api dari dekat. Namun, ia langsung terkejut saat tahu Mana tidak bisa dialirkan melalui sirkuit sihir. “Apa yang terjadi? Kenapa Inti Sihir saya tidak mau merespons?” ujarnya seraya meronta, memukul wajah Odo dengan tangan kosong.


“Diamlah sebentar!” Odo menghantam perut perempuan itu dengan gagang pedang.


“Ugh!” Yue Ying langsung berlutut kesakitan, menahan mual dan sedikit memuntahkan isi perutnya. Sihir barikade pun hilang sepenuhnya. Segera mengangkat wajah dan menatap kesal, perempuan rambut merah tersebut mulai mengerutkan kening sembari bertanya, “Apa … yang kamu lakukan padaku?”


“Korosi sirkuit sihir ….” Odo melepaskan tangannya. Ia perlahan mengangkat pedang hitam tinggi-tinggi, bersiap menebas perempuan itu sembari berkata, “Aku merusak kemampuan sihirmu. Dengan ini, kau akan binasa⸻!”


“Tunggu!” Mao Lie berteriak kencang, wajah pria gendut itu memucat dan napasnya pun mulai terengah-engah. Ia segera menyeret Ri’aima keluar dari bawah anak tangga dan menyanderanya, lalu dengan tubuh gemetaran langsung mengancam, “Turunkan senjatamu! Lepaskan Nona Ying sekarang juga! Jika tidak ….”


Mao Lie mengeluarkan belati dari dalam lengan Hanfu, lalu mengarahkannya ke leher sandera. Sembari melebarkan senyum kaku, pria gendut itu berusaha menyembunyikan ketakutan.


“Kau mengancam?” Odo memperlihatkan wajah tidak peduli. Meski ayunan pedangnya terhenti saat diteriaki, pemuda itu tidak menurunkan senjata. Tetap bersiap menebas, tidak tampak ragu ataupun takut. “Memang dia berarti apa bagiku?” tanyanya dengan tatapan dingin.


“Eh?” Mao Lie tercengang, kedua matanya pun terbuka lebar. Ia tahu Odo sedang tidak menggertak ataupun pura-pura dingin. Pemuda itu sepenuhnya tidak peduli, menganggap Ri’aima sebagai orang asing yang tidak penting. “Bukankah perempuan ini dekat dengan engkau?” tanyanya dengan bingung.


“Ah, apakah itu yang dikatakan intel kalian? Atau ….” Putra Tunggal Keluarga Luke melebarkan senyum tipis. Ia menurunkan pedangnya dan berbalik menghadap pria gendut tersebut, lalu dengan suara serak lanjut berkata, “An Lian memberitahu kalian soal itu?”


Mao Lie dan Yue Ying tersentak, mereka tertegun tanpa bisa mengatakan apa-apa. Merasa seperti sedang dipermainkan, lalu mulai mempertanyakan keaslian informasi yang mereka gunakan untuk rencana penyerbuan Rockfield.


“Kamu … memperalat Nona An Lian?” Yue Ying segera berdiri, melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding. Sembari bersandar lemas, perempuan rambut merah darah tersebut lanjut bertanya, “Kamu sudah merencanakan semua ini? Menjebak kami⸻?”


“Aku tidak menduga yang ini ….!” Odo menyela, lalu menunjuk perempuan itu sembari menambahkan, “Anda sangat sombong, Nona Ying! Seorang Jenderal masuk ke tengah wilayah musuh seperti ini?! Itu bukan tindakan berani, namun bodoh! Anda terlalu percaya diri!”


“Bodoh?” Yue Ying menatap tajam. Merasa terhina, perempuan rambut merah darah tersebut langsung membentak, “Siapa saja pasti akan mengambil keputusan ini setelah mendengar itu!!”


“Mendengar apa memangnya?” tanya Odo sembari melirik tajam.


“Kekuatan sihirmu telah hilang! Itu sebabnya dirimu bersembunyi di kota ini!” Yue Ying kembali mengeluarkan kertas talisman dari lengan pakaian, lalu berusaha menyalurkan Mana meski tahu itu percuma. “Mata-mata kami juga sudah memastikan itu! Kamu membiarkan orang lain untuk menyelesaikan duel di barak!” lanjutnya dengan tubuh gemetaran, merasa tidak berdaya karena tidak bisa menggunakan sihir.


“Kau tahu, Gadis Jenderal! Aku seorang Luke!” balas Odo dengan nada tegas. Ia berbalik menghadap perempuan itu, lalu dengan nada berat segera menegaskan, “Kemampuan yang aku miliki bukan hanya sihir. Kalian cukup sombong karena berpikir bisa mengungguli diriku!”


“Kami datang bukan untuk menumpahkan darah!” Yue Ying sama sekali tidak menunjukkan niat menyerah. Setelah membuang talisman dan tongkat Gohei, perempuan itu segera mengeluarkan belati dari lengan pakaian sembari membentak, “Mereka yang menyerang kami lebih dulu! Diriku hanya membalas!”


“Ya, itu karena kalian menyudutkan mereka dengan kebohongan!” Odo berbalik, lalu berjalan menuju prajurit yang terkapar di dekat Agathe dan Oma. Ia berjongkok, mulai menepuk-nepuk kepalanya sembari berkata, “Lihat orang ini! Dia masih tengkurap dan pura-pura pingsan, bahkan saat tahu bosnya dipecundangi!”


Perkataan itu membuat Yue Ying dan Mao Lie tersentak, saling melirik dengan keringat dingin bercucuran. Tidak membalas, hanya terdiam membisu dalam kecemasan yang menyelimuti. Tidak ingin memberikan penjelasan atau pembelaan, mulut mereka menganga tanpa mengeluarkan suara.


\=======================


Selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin!!!

__ADS_1



__ADS_2