Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[83] Keturunan ular tua (Part 01)


__ADS_3

 


 


Api unggun di tengah kegelapan malam, dikelilingi pepohonan dan udara dingin yang merembas masuk sampai ke dalam tulang. Suara gemeresak binatang terdengar dari balik semak-semak, tupai mengintip dari sarang mereka di lubang pohon. Pada petang yang sudah menyelimuti hutan, serangga beterbangan dan berkumpul di sekitar api yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di tempat tersebut.


 


 


Malam tanpa bulan, bahkan bintang pun tidak tampak dan hanya ada kegelapan pekat di langit. Sembari mematahkan kayu kering, Odo memasukkannya ke dalam kobaran api unggun kecil dan sejenak membunyikan lidah dengan kesal.


 


 


Tidak jauh dari tempat pemuda rambut hitam itu berjongkok, pada batang kayu yang melintang di tanah duduk orang-orang yang baru saja dirinya tolong. Canna duduk bersebelahan dengan Opium, sedangkan An Lian duduk bersebelahan dengan Huang Xian yang merupakan pengawalnya.


 


 


Sudah sekitar lima jam berlalu sejak Odo menyelamatkan mereka berempat dari sarang Ogre. Pada saat itu, ketika Odo ingin membawa mereka ke tempat yang lebih aman, di tengah jalan An Lian siuman dan sempat panik mengingat apa yang telah menimpa perempuan itu bersama rombongannya. Ia sempat meronta dari gendongan Canna dan turun, lalu membentak dan bahkan menyalahkan serta memaki semua orang yang dilihatnya pada saat itu.


 


 


Baik kedua penyihir Miquator maupun Odo, mereka hanya diam dan membiarkan perempuan itu sampai tenang. Mereka paham bahwa semua yang dialaminya sangatlah berat bagi seorang perempuan, apalagi untuknya yang merupakan orang yang hidup sebagai kalangan menengah atas dan jauh dari hal-hal mengerikan.


 


 


Sekitar lima menit setelah An mulai tenang, Canna menjelaskan beberapa hal terkait kondisi yang ada setelah rombongan mereka diserang. Beberapa saat kemudian pengawalnya pun siuman, lalu mendapatkan penjelasan yang sama. Meski memahami kondisi yang ada, kedua orang kekaisaran tersebut tidak bisa berkata apa-apa dan malah jatuh dalam keputusasaan.


 


 


Fakta bahwa hanya mereka saja yang selamat benar-benar membuat kedua orang kekaisaran tersebut terpukul, tidak bisa menerima kenyataan dan malah mencurigai orang-orang yang memberikan penjelasan.


 


 


Mereka berdua untuk beberapa menit terdiam, memperlihatkan ekspresi penuh ketakutan. Karena rasa tidak percaya yang memuncak bahkan sang pengawal, Huang Xian, sempat berlari ke arah sarang Ogre yang diberitahukan Canna untuk mencari kebenaran dari penjelasan yang didapat. An pun mengikuti pengawalnya tersebut, lalu saat sampai di sarang Ogre mereka pun tambah jatuh dalam keputusasaan melihat fakta yang ada. Itu persis seperti yang mereka dengar dari Canna, semua orang dalam rombongan mati dan hanya tersisa mereka berdua.


 


 


Benar-benar kehilangan harapan, mereka tampak seperti ingin mati dan pasrah akan keadaan. Setelah melihat mereka dalam kondisi seperti itu, Odo paham bahwa dirinya tidak bisa meninggalkan mereka berdua begitu saja. Ia mempertimbangkan kepribadian Opium dan Canna yang cenderung naif, merasa kalau kedua penyihir itu pasti tidak memiliki keberanian untuk menelantarkan orang yang telah memperlakukan mereka dengan baik selama perjalanan.


 


 


Pada akhirnya, Odo hanya bisa menemani mereka sampai ke tempat yang lebih aman. Namun, selama perjalanan kedua orang kekaisaran itu malah tidak lagi membuka mulut dan hanya terdiam dalam kesedihan.


 


 


Pada awalnya Odo mengira kalau kesedihan dan keputusasaan mereka muncul karena kehilangan sanak saudara dalam rombongan. Tetapi, setelah mendengar penjelas tentang mereka dari Opium pendapat itu berubah. Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mengetahui fakta lain yang cukup membuatnya bertanya-tanya.


 


 


Menurut penjelasan Canna, jika dilihat dari luar rombongan tempat dirinya dan Opium menumpang memang terlihat seperti pedagang pada umumnya. Namun, itu hanyalah kamuflase untuk menyelundupkan seorang anak dari Keluarga Qibo, sebuah Keluarga Bangsawan yang dulu kepala keluarganya menjabat sebagai Komandan Ular.


 


 


Namun setelah perubahan bentuk militer di Kekaisaran, gelar bangsawan diturunkan dan beberapa anggota keluarga mereka diasingkan ke beberapa tempat. Pengasingan tersebut dimaksud Kaisar untuk memecah pemusatan kekuatan serta mencegah pemberontakan.


 


 


Qibo An Lian sendiri adalah satu anggota Keluarga Qibo, cucu kandung mantan Zodiak Ular, Qibo Quon. Atas perintah Kaisar yang telah dijalankan sejak akhir musim semi lalu, semua keluarga Mantan Komandan Zodiak harus dikumpulkan dan dikembalikan kejayaan mereka demi membangun ulang kekuatan kekaisaran. Karena itulah, orang-orang dari pemerintah pusat diperintahkan untuk melacak dan menjemput mereka semua. Meskipun itu sampai ke negeri tetangga sekalipun.


 


 


Pada saat awal pengasingan, An Lian sendiri dikirimkan ke Sekte Dagang Teratai Danau dan tinggal di perkumpulan pedagang tersebut sebagai tamu terhormat selama beberapa tahun. Namun karena beberapa masalah finansial dan kondisi politik kekaisaran, pada akhirnya status tamu terhormat dicabut. Pada saat kehilangan status dirinya memiliki dua pilihan, antara menikah dengan pria di Sekte untuk mendapatkan tempat, atau bergabung dan memulai hidupnya dari awal sebagai pedagang di bawah naungan Sekte.


 


 


An Lian memilih yang kedua, memilih jalur sebagai dari nol selama bertahun-tahun dan terus tumbuh sampai pada akhirnya diberikan kepercayaan untuk melakukan perdagangan luar negeri bersama rekan-rekannya di Kota Mylta. Namun, setelah didatangi utusan dari pemerintah pusat kekaisaran ia seketika berubah pikiran.


 


 


Hidup mapan sebagai seorang pedagang tidak membuatnya tenang, rasa ingin bertemu dengan anggota keluarga membuat perempuan itu mengambil keputusan tanpa berpikir dua kali dan setuju untuk kembali ke Ibukota Kekaisaran. Ia bahkan sempat berkata kepada Canan bahwa panggilan dari Kaisar adalah sebuah kesempatan untuk kembali membangkitkan kejayaan Keluarga Qibo. Namun, sebenarnya An pun berharap bisa bertemu keluarganya lagi dan berkumpul bersama seperti dahulu saat dirinya masih remaja.


 


 


Tetapi, semua harapan tersebut kini malah menyeretnya ke dalam keputusasaan. Semua barang dagangan bernilai tinggi yang ingin digunakan sebagai modal perjalanan rusak, orang-orang kepercayaan yang telah lama melayani pun meninggal, dan bahkan utusan kaisar yang menjemputnya terbunuh.


 


 


Setelah melihat langsung mayat-mayat rekannya dan beranjak pergi dari sarang Ogre An sempat membawa beberapa barang dagang bersamanya, namun dalam langkah kaki perempuan itu menjatuhkannya satu persatu karena terlalu lemas. Pada akhirnya, ia hanya membawa gelang giok dan koin perak dalam kantong kecil.


 


 


Pikirannya terlalu kacau untuk memberikan pengawalnya perintah membawa barang yang bisa diselamatkan. Semua kerajinan, lukisan, serta buku sastra yang bernilai sangat tinggi pun ditinggalkan.


 


 


Pada saat sekarang ini, An Lian masih tampak kosong dan sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun sejak dirinya marah setelah siuman. Berbeda dengan Tuannya, pikiran Huang sudah sedikit mencerna keadaan dan bahkan bisa memberikan rasa cemas kepada perempuan yang dirinya hormati.


 


 


“Setelah ini kalian ingin bagaimana?” tanya Odo.


 


 


Pemuda rambut hitam itu berhenti memasukkan kayu ke dalam api unggun. Setelah berdiri tegak, ia menoleh ke arah Opium dan Canna. Sejenak terdiam, untuk sesaat Odo sempat merasa kalau mereka berdua cukup dekat dengan An Lian sampai-sampai cucu dari mantan Zodiak Ular tersebut mau menceritakan hal-hal penting kepada mereka.


 


 


“Kami tak ingin merepotkan Tuan Odo …. Namun, kalau Anda berkehendak, kami ingin diantar sampai ke Rockfield.”


 


 


Canna menjawab dengan begitu ragu, wajah cemas masih terlihat pada perempuan itu dan mencerminkan rasa bersalah yang mengisi hatinya. Opium pun memperlihatkan ekspresi yang tidak jauh berbeda, menundukkan kepala dan gemetar tanpa mengatakan apa-apa.


 


 

__ADS_1


Sudah memperkirakan permintaan tersebut sebelum memutuskan untuk menolong kedua penyihir itu, Odo tidak menolak dan hanya menghela napas ringan. Ia lekas melirik ke arah dua orang kekaisaran di tempat tersebut, lalu dengan nada yang sama bertanya, “Untuk kalian, setelah ini mau apa?”


 


 


Mereka berdua hanya terdiam, baik itu An Lian ataupun Huang yang berada di sebelah. Sedikit kesal dengan perilaku yang mereka berikan, Odo berjalan ke hadapan mereka sembari menarik keluar pedang dari dimensi penyimpanan.


 


 


Mereka sudah diam terus selama perjalanan, tidak memberikan penjelasan atau bahkan terima kasih setelah diselamatkan. Dengan kesabaran yang sudah habis, Odo langsung menjambak rambut An Lian dan memaksa perempuan itu menatap matanya.


 


 


“Kurang Ajar! Lepaskan Nona⸻!”


 


 


Odo dengan cepat langsung memukul kepala Huang dengan bagian tumpul pedang sampai tubuh besar Demi-human tersebut langsung terpental, lalu menghantam pohon dan terjatuh dengan beberapa gigi rontok. Ayunan tersebut sangat cepat dan kuat, bahkan untuk pengawal berpengalaman seperti Huang sama sekali tidak bisa bereaksi ataupun melihat datangnya serangan Putra Tunggal Keluarga Luke itu.


 


 


“Sialan, bajingan kau⸻!”


 


 


“Diamlah ….”


 


 


Odo melirik tajam, penuh nafsu membunuh dan membuat veteran perang tersebut bungkam. Nafsu membunuh, kekuatan, kecepatan, dan keahlian, pada momen itu Demi-human tersebut sadar bahwa ia tidak bisa mengungguli Putra Tunggal Keluarga Luke itu dalam semua hal.


 


 


Kembali menatap An Lian yang dijambak, Odo menariknya dan memaksa perempuan itu berdiri meski tubuhnya tampak lemas dan tidak memiliki semangat hidup. Perempuan rambut hitam itu tampak begitu lemah, rapuh dan bahkan tidak bisa berdiri sendiri dengan kedua kakinya.


 


 


Menatap tajam mata perempuan yang tampak mati tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun bertanya, “Jalang! Jawab pertanyaanku! Kau ingin hidup atau tidak?!”


 


 


An Lian terdiam, perempuan dengan wajah pucat itu memalingkan sedikit menggerakan bola matanya dan mulai menatap balik Odo. Bibirnya yang tipis mulai bergerak, lalu dengan suara sangat pelan berkata, “Tolong …, bunuh saja saya ….”


 


 


“Baiklah ….”


 


 


Odo tanpa ragu langsung menusuknya tepat di perut. Mata pedang tembus ke belakang, darah bercucuran ke tanah dan batang pohon. Dalam beberapa detik, perempuan itu pun mulai memperlihatkan ekspresi penuh rasa sakit dan membuka mulutnya seakan ingin berteriak.


 


 


 


 


Meski tubuhnya penuh luka dan bahkan tambah parah setelah dipukul Odo, Huang berusaha berdiri dan mulai meningkatkan kekuatan fisiknya dengan manipulasi Mana. Layaknya seekor serigala liar, matanya menyala merah dalam gelap dan langsung menerkam ke arah Odo.


 


 


Melihat Odo akan diserang, refleks dan insting dalam tubuh Canna membuatnya bertindak. Ia segera bangun dan menghadap ke arah Huang, lalu menyilangkan kedua tangannya ke bawah. Sembari mengumpulkan Mana, penyihir rambut putih itu dengan cepat merapalkan, “Wahai api! Berbaris dan lindungilah!” Percikan bara dari api unggun dengan cepat bergerak ke hadapan Odo, lalu seketika berkobar besar dan membentuk dinding api yang menghalangi Huang.


 


 


“Bedebah!”


 


 


Demi-human tipe serigala itu mengumpulkan Mana ke tangan kanan, lalu mengibaskannya ke depan dan menyingkirkan dinding api dengan hembusan angin yang kuat. Tidak berhenti dan terus menerjang, Huang langsung membuka mulutnya lebar-lebar dan menerkam leher Odo layaknya serigala liar. Itu tepat pada bagian kanan leher, mengincar otot dan nadi miliknya.


 


 


“Menyingkir dari Tuan Odo!!”


 


 


Canna kembali menyiapkan sihirnya, kali ini mengumpulkan Mana dalam jumlah yang lebih banyak dan mulai menyusun struktur sihir penyerangan. Namun saat ia mengarahkan lingkaran sihir ke depan dan hendak menyerang, Odo dengan santainya melirik untuk menghentikan penyihir itu lepas kendali.


 


 


Meski lehernya diterkam dan bisa dirobek kapan saja, pemuda rambut hitam tersebut sama sekali tidak kesakitan ataupun meronta. Bahkan tangannya tetap memegang pedang dan menjambak An Lian.


 


 


“Sampai kapan kau akan seperti itu, anjing hutan?”


 


 


Huang seketika gemetar mendengar perkataan tersebut, merasakan ada yang janggal dan segera berhenti menggigit Odo. Meloncat ke belakang untuk menjaga jarak, ia tampak bingung melihat pemuda itu masih baik-baik saja setelah diterkam pada bagian vital.


 


 


“Kenapa bisa? Seharusnya taringku sudah menancap ke nadi⸻?”


 


 


Huang baru menyadarinya, bahwa semua taringnya sudah rontok karena pukulan pertama Odo sebelumnya. Ia awalnya kesal dan langsung memancarkan nafsu membunuh yang kuat. Namun saat melihat Tuannya masih hidup dan bergerak meski sudah tertusuk sangat dalam, Huang kembali merasakan kejanggalan.


 


 


Pengawal yang bisa dikatakan memiliki insting yang tajam tersebut langsung berpikir keras, mengingat-ingat kepribadian Odo Luke yang menurut banyak kabar adalah tokoh di balik layar yang membuat perekonomian Mylta melonjak drastis. Ia pun seketika gemetar, merasa kalau pukulan pertama Putra Tunggal Keluarga Luke itu sudah terencana. Saat memikirkan hal tersebut, Huang seketika merasa jatuh dalam genggaman telapak tangan tanpa bisa melakukan apa-apa.


 


 

__ADS_1


Tidak memedulikan Demi-human itu, Odo kembali menatap lurus perempuan yang ditusuknya dan bertanya, “Aku tanya sekali lagi, kau ingin mati atau hidup?”


 


 


“To-Tolong …, bunuh saja⸻AKhhhh!!!!!! Sakit! Sakit!!”


 


 


Odo menggunakan Aitisal Almaelumat secara langsung dan meningkatkan kepekaan semua indra An Lian, lalu membuatnya merasakan sakit berkali-kali lipat dari tertusuk pedang. Air mata mengalir, mulut menganga serta mengeluarkan busa, dan kesadaran pun seakan melayang. Namun, Odo tidak memberikannya pingsan dan terus menanamkan ketakutan pada perempuan itu. Tangan kiri Odo yang mencengkeram erat rambut An memberikan perintah secara paksa kepada otak perempuan itu untuk terus sadar, lalu melalui pedang tertusuk ia terus meningkatkan sensitivitas rasa sakit perempuan tersebut secara bertahap.


 


 


“Aku tanya sekali lagi, kau ingin hidup atau mati?”


 


 


“Tolong …, biarkan saya mat⸻AKHHH!!!!!! Sakit! Sakit! Maaf!! Maafkan saya!!”


 


 


Odo menurunkan sensitivitas rasa sakit untuk sesaat, lalu dengan nada yang sama kembali bertanya, “Aku tanya sekali lagi, kau ingin hidup atau mati?”


 


 


“Maafkan saya …. Tolong ampuni saya ⸻UAKGHHH!!!!! Sakit!! Hentikan!! Tolong Hentikaaaaan!!!!”


 


 


Odo kembali menurunkan sensitivitas rasa sakit, lalu dengan nada yang sama bertanya, “Aku tanya sekali lagi, kau ingin hidup atau mati?”


 


 


“Sudah hentikan …. Maafkan saya …. Saya salah, tolong hentikan!”


 


 


Odo kembali melakukan hal serupa, menanyakan hal sama berkali-kali dan terus menyiksa perempuan itu tanpa henti. Melihat apa yang dilakukannya, Canna yang mengangkat tangannya untuk membantu Odo mulai memperlihatkan ekspresi takut. Huang pun hanya bisa terdiam ketakutan tanpa bisa menolong Tuannya, pada saat itu ia paham kalau Odo Luke bukanlah orang waras. Bahkan, Opium yang biasa acuh pun sampai gemetar dan terjatuh dari batang pohon tempatnya duduk.


 


 


Lebih dari lima belas menit Odo melakukan hal tersebut, lalu setelah diberi pertanyaan yang sama sebanyak ke-24 kali An Lian pada akhirnya menjawab, “Saya … ingin hidup. Maaf ..., maafkan saya. Saya ingin hidup ….” Perkataan itu terucap bukan dengan penuh harapan, namun sepenuhnya rasa takut atas teror yang diberikan Odo.


 


 


Mendengar hal tersebut, Odo menarik pedangnya dari perut An Lian. Pada detik itu juga luka yang seharusnya ada di perut perempuan itu dengan cepat tertutup, hanya meninggalkan pakaian yang berlubang dan bercak darah.


 


 


Melepaskan perempuan itu dan membuatnya jatuh berlutut, Odo sedikit membungkuk dan dengan lirih berbisik, “Ini kutukan, wahai cucu sang Ular Tua. Jika kau berani merengek seperti itu lagi nanti, akan aku jamin kau akan lebih menderita …. Mengerti, gadis kecil?”


 


 


“Hii ….” An langsung merangkak menjauh, berlutut dan menggigil ketakutan.


Saat melihat reaksi seperti itu Odo tampak puas, lalu ia pun kembali berdiri tegak dan segera berjalan ke arah api unggun. “Untuk kalian, setelah ini mau apa?” tanya Putra Keluarga Luke tersebut seraya menghentikan langkah dan menatap ke arah An Lian.


 


 


Perempuan itu seketika tersentak, menundukkan kepalanya dalam rasa takut dan dengan gemetar menjawab, “Sa-Sama seperti Nona Canna, ka-kami juga akan pergi ke Rockfield ….”


 


 


“Hmm, baiklah.” Odo memasang mimik wajah datar, lalu dengan nada tidak peduli kembali berkata, “Akan aku antar sampai ke sana, setelahnya terserah kalian semua.”


 


 


Mendengar percakapan tersebut, Canna segera paham bahwa apa yang telah Odo lakukan sebelumnya adalah untuk membuat An Lian menghadapi kenyataan dan keluar dari keputusasaan. Namun, metode yang digunakan pemuda itu memanglah sangat kejam dan sama sekali tidak memikirkan kondisi mental perempuan itu ke depannya.


 


 


Huang mendekati An dengan penuh rasa waspada, lalu membopong tubuh perempuan itu dan hendak membawanya pergi menjauh. Namun saat dirinya baru berbalik dan belum sempat kabur dari tempat tersebut, tubuhnya seketika lemas dan jatuh berlutut tanpa kuat berdiri lagi.


 


 


“Sialan, tubuhku ….”


 


 


“Kalau memang mau pergi aku tidak akan menghalangi. Tapi, dengan kondisi seperti itu pasti kau hanya akan menjadi makanan Goblin dan Tuanmu itu berakhir menjadi pabrik bayi mereka.” Odo mengambil dua botol Potion dari dimensi penyimpanan, lalu sembari melemparnya ke arah Canna memerintahkan, “Berikan itu kepada mereka berdua, lalu simpan dulu botolnya kalau sudah kosong.”


 


 


“Ba-Baik.” Canna menangkap Potion yang dilemparkan, segera berjalan menuju An Lian dan Huang untuk memberikan ramuan tersebut. Berlutut di hadapan kedua orang kekaisaran yang terluka itu, sang penyihir rambut putih tersebut berkata, “Tuan Huang, tolong biarkan saya mengobati Nona An dulu. Anda bisa minum ramuan ini untuk memulihkan luka.”


 


 


 


 


\===========


Catatan Kecil :


 


 


Perubahan cara update :


Untuk CH ini akan dibagi 4, lalu update dua hari sekali.


Supaya bisa memberi waktu buat penulis menyelesaikan kewajiban lain di dunia nyata


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2